Go To Pariaman (Part 1)

28 Desember 2014

Tadinya, saya dan adik saya “Unjut” mau ngajakin temannya bernama Lia dari Tebo buat liburan ke Great Wall Bukittinggi. Namun, gegara renovasi rumah, kita mesti ke pasar dan masak-masak dulu sedari pagi.. Yaaah, kelarnya udah menjelang siang. Jadi, daripada nggak jadi, kebetulan saya sudah sejak lama pengen naik Kereta Api ke Pariaman (belum pernah soalnya), iseng-iseng unjuk opini. Eh, disambut semangat 45 walaupun sedikit galau. Kita-kita pada nggak tau jadwal kereta api itu kapan?? Tapi, masih ada cara toh, mending tanya dulu.. Kalau ga rejeki, naik Bus Pariaman yang always parkir di Simpang Tabing aja.. Yup, semua sepakat, berangkaaat… ๐Ÿ™‚

Ternyata bener, boro-boro nanyain ke petugasnya, stasiunnya aje kagak buka??! ๐Ÿ˜ฅ Sempat ragu juga ngiyain kenek yang udah nawarin buat naikin Busnya (Bus Alisma). Tapi…balik lagi, “jadi nggak nih ke Pariaman???” “YA!!” OK deal, kita naik Bus….!!! Lumayan lama juga nungguin penumpangnya sampe cukup penuh, akhirnya…gooooo…. ๐Ÿ˜‰

  • 11.30 Stasiun Tabing Padang
  • 12.05 Simpang Bypass
  • 13.26 Tugu ikan pedang (kata siUnjut siyh, itu namanya ikan sala, ga tau mana yang bener, saya kasi nama dewek_an deh, hahaa).
  • 13.30 Simpang Masjid Tawakal Balibi Nagari Punggung Kasiak, berhenti untuk menurunkan penumpang, keneknya mintain ongkos ke kita-kita (Rp 13.000,-)
  • 13.33 Goooo…
  • ………Ga ketemu nih catatan selanjutnya; yang jelas, kita diturunin di suatu tempat (entah dimana, entah apa nama daerahnya, yang jelas kita percaya sama Pak Sopir setelah menghujani si Bapak dengan cukup banyak pertanyaan, hihi). Kita awalnya udah wanti-wanti, “turunkan kami di Pantai Gandoriah ya, Pak…”; Syukurlah si Bapak ngerti kalau kita-kita buta arah ๐Ÿ˜€ Trus kita diminta turun setelah beliau mengkode sebuah angkot putih (mirip angkot Tabing/Labor). Kita nurut aja, sampai akhirnya siabang sopir angkot nyeruin kalau yang mau ke Pantai Gandoriah turunnya disini. Kami plangak-plongok, “mana nih pantainya???!”, nyaris suuzon. Saya tanya deh, walaaaah…ember bener, manusia emang mudah berprasangka nih, xixi.. Kita emang diturunkan dekat Pasar, lalu jalan sampai stasiun, dibalik stasiun… tadaaaaa….Pantai Gandoriah, yuhuuuuuuu……..Akhirnya kita sampai……!!!!!!!
  • ………Udah ke Pariaman, ga afdhal rasanya kalau nggak nyicipin Nasi Sek (cerita punya cerita nih, sebenernya itu Nasi Set, yang udah diset dalam bentuk kecil nan unik, dibungkus sama daun pisang). Udah gitu, yang lebih khas lagi, yang saya cari-cari kalau kesana, Sala Cumi-cumi. Kami survey tempat yang bikin PW /pewe/. Dapet deh, eh giliran menu datang, ayam goreng/gulai/bumbu, gulai ikan, samba lado, gulai jengki (bahasa keren kita buat jengkol), udang (walaaah…dirumah sambalnya juga udang, pie toh??), telur bulat goreng cabe merah. Sontak kita protes sama si Uniang (panggilan khas Pariaman buat perempuan, kalau yang laki-laki dipanggil Ajo). Malang tidak bisa ditolak, ternyata beberapa hari belakangan ini badai, baru kali ini cerah, jadi tangkapan yang dapat itu ga banyak… Huft, jadi berasa makan di rumah deh jadinya… Eits, gulai jengki merubah suasana, enak ternyata, sampai kuah-kuahnya ludes!!! ๐Ÿ˜€ Trus kita beli Sala Lauak (Rp 500,-) yang dijojoin ibu-ibu sekitar sana. Ga lupa saya ambil Sala Kepiting (Rp 5.000,-), meskipun saya jaga-jaga makanan, ketemu mereka saya tutup mata deh, ntar pulang biar tau rasa gegara asam urat naik ๐Ÿ˜€
  • …..Kenyaaaang….Unjut dan Lia udah sibuk sama rutinitas baru, nyari dan ngumpulin kerang dan karang.. Sementara, sebelumnya kami sempat ngobrol-ngobrol tentang Pulau Angso Duo yang tampak memikat di seberang sana. Ga tau deh, pengen nekat aja mau kesana, tapi… “kok sepi ya???” Basinglah, namanya juga penasaran. Saya berani ngambil resiko soal omongan adik saya yang bilang kalau ga ada yang pergi, Boatnya kita bayar Rp 200.000,-/ 3 orang (Unjut dapet kabar burung gitu katanya), beeeeh… Antara ragu dan pengen, berat pengennya ๐Ÿ˜€ , kita tanyain sama yang punya Boat, ternyata sewanya Rp 35.000,- PP alias pulang-pergi (Dianter, ntar dijemput lagi sorenya). Dari sanalah saya sempat bikin kehebohan kecil sama Unjut yang bilang insert boatnya sampe 200 rebeng ๐Ÿ˜€ OK fix, kita menyebraaaaang…..Pulau Angso Duoooo, kami dataaaang…
  • ……. Ga bisa diungkapkan lewat kata-kata deh ngerinya kami ketika Boatnya oleng-oleng terus, serasa itu laut siap melahap 8 penumpang Boat yang udah kehilangan nyali.. ๐Ÿ˜ฅ Fiuuuuuh…. alangkah luarrrr biasa leganya kami sewaktu Boat akhirnya menepi, beda jauh dari pantai seberang yang ombaknya menari dengan arogan, di pulau nan exotic ini, ombaknya tenang…suasananya ademmm…. Nyali kami direfresh ke tahap awal ๐Ÿ˜€ Habiiis, mau naik Boat aja perjuangannya minta ampuuun, udah dinaikin celana sampe lutut, eh malah basah sampe paha atas; udah gitu, pasirnya seperti mencengkram dan memaksa kami tuk mengikutinya… Fiuh, lagi-lagi lega….
  • ……. Kami terpana… Waaah, Pulau yang cantiiiik…. Pasir putih… Batu-batu karang yang unik-unik… Umang-umang… Bebatuan kecil yang terdampar… Serasa berada di tujuan travelling kategori MAHhhAL ๐Ÿ˜€ (Ah, lebay ah…). Disana tampak pekerja lagi merenovasi tulisan Pulau Angso Duo yang beberapa hurufnya udah hilang, hihi.. Tiba-tiba si Lia bilang kalau misi kita kali ini “keliling Pulau Angso Duo”, saya hanya bisa tertawa dan sedikit berpikir “mana mungkin”
  • ……..Ternyata Lia benar, saya salah duga, tanpa sadar misi mengelilingi pulau itu sukses lho… ๐Ÿ™‚ dengan tertatih-tatih kami membawa karang-karang, kerang-kerang dan umang-umang yang kami masukkan ke dalam kantong asoi dan botol air mineral (berat nih perjuangan nyari kantongnya, nyari sana-sini, ujung-ujungnya dikasih sama bapak-bapak pekerja disana yang ditemukan dekat sebuah kedai satu-satunya yang jualan disana, kebetulan kami beruntung nemuin botol air mineral tanpa usaha lebih ๐Ÿ˜€ ). Eits, kita juga bawa pasirnya lho…. Yang halus mirip tepung dan yang kasar mirip butiran gula, bersiiiih…. Wonderfull dah pokoke.. ๐Ÿ˜€
  • Dibalik tulisan Pulau Angso Duo, berdiri kokoh Surau Katik Sangko. Ga jauh disebelahnya ada makam yang dihormati masyarakat sekitar, saya ga sempat nanya-nanya juga sejarah pulau itu ke penghuni sekitar, soale udah kecapek_an happy fun seharian ๐Ÿ˜€
  • Sekitar jam 3-an, kami dijemput boat. Sebelumnya ada cerita lucu juga nih, ibu-ibu yang satu boat dengan kami tadi sempat khawatir takut ketinggalan boat, jadi kami bertukar nomer HP buat saling kontak ๐Ÿ˜€ Eh, boatnya datang pas emang kami lagi PW mulihin energi ๐Ÿ˜€ Kali ini ga semenakutkan seperti awal berangkat, tapi….tiba-tiba jantung kami nyaris copot ketika boatnya berbelok dengan sangaaaat miring, antara pasrah dan ga rela buat berakhir disana ๐Ÿ˜€ Syukurlah, aman sampai kembali ke tujuan. Expresi lebay bukan cuma gegara karakter, tapi karena perdana berhadapan dengan tantangan ini ๐Ÿ˜€
  • ……Kita keliling, foto-foto di Tabuik, beli Sala Lauak dan Sala Udang buat oleh-oleh.
  • Jam 4-an kami naik angkot lagi (setelah tanya sana-sini, dijelasin kalau kami ntar turun angkot di Simpang Alay, disana banyak bus ke Padang parkir nyari penumpang).
  • 18.08 Naik bus.
  • 19.15 Gerbang Padang, akhirnya… kami sampai humz sweet humz dengan kucel ๐Ÿ˜€
  • Cerita punya cerita, kami ga juga dapet tiket kereta api yang ternyata udah habis sejak 3 hari yang lalu.. Maklum, kan liburan Natal dan Tahun Baru, makanya rame.. Dan, Pulau Angso Duo tak seperti yang terlihat dari seberang (Pantai Gandoriah) yang tampak sepi, rame kok disana, pulaunya cantik lagi ๐Ÿ™‚
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s