Budaya Lebaran di Palembayan

Masakan Serba Daging

Budaya di Palembayan, khususnya Pasar Palembayan, beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri (ari rayo), warga punya tradisi membeli daging sapi (dagiang bantiang) yang telah dionggok dengan harga yang telah disepakati. Nanti daging ini akan diolah menjadi rendang (randang), gulai bukek, gulai putih (gulai putiah), sup, asam pedas (sampadeh), kalio daging (kalio dagiang), dan masakan tradisional lainnya yang lumrah ada disetiap lebaran.

Kue Lebaran (Kue Rayo)

Kue lebaran ini biasanya disajikan di dalam botol-botol kaca khusus dengan bentuk beraneka ragam. Rata-rata kue tersebut dibuat dengan bahan dasar mentega. Kue-kue yang biasanya selalu ada ketika kita berkunjung ke setiap rumah, yaitu: kacang tujin, kue bawang, kue sagun bakar, kue sumprit (kue mentega, sumprit itu nama cetakannya dalam versi lama), kue sapik, kue bolu, dll.

Minuman

Minuman yang sering disuguhkan untuk anak-anak, remaja hingga dewasa; adalah sirup dengan rasa bervariasi, tergantung request yang bersilaturrahim atau stok yang dipunyai oleh pemilik rumah. Berbeda dengan niniak/mamak, kakek-kakek (inyiak-inyiak), bapak-bapak; yang biasanya lebih memilih minuman kopi, atau beberapa diantaranya juga ada yang memilih teh.

Shalat I'ed

Pagi-pagi sekitar pukul 07.30 WIB, mulai banyak warga sekitar memadati mesjid lokasi pelaksanaan Shalat I’d. Jalanan mulai diramaikan oleh kendaraan dan orang-orang yang berjalan menuju mesjid. Tidak heran jika kadang warga sering merasa melihat orang yang belum dikenal, karena sudah lama tidak berjumpa atau memang baru kali ini bertemu. Terminal Pasar Palembayan yang tepat berada di depan Masjid Jami’ Pasar Palembayan, seketika mulai ramai oleh kendaraan dan warga yang beramah-tamah sebelum memasuki mesjid.

Di depan mesjid, tampak berjejer para pengurus yang memfasilitasi zakat dan infaq. Mesjid itupun mulai penuh dalam hitungan menit, kadang ada yang tidak mendapatkan syaf di dalam mesjid dan harus berlapang dada untuk membentang tikar di pelataran mesjid, biasanya ini sering terjadi pada warga yang datang lebih lambat.

Tidak hanya diluar, di dalam juga akan berdiri beberapa orang untuk memfasilitasi shadaqah dan infaq. Kemudian, recalled tata cara Shalat I’ed, shalat dan khutbah.

Selesai shalat, warga memanfaatkan moment ini untuk saling bermaaf-maafan atau sekedar bersilaturrahim secara singkat. Ini terus berlanjut hingga halaman mesjid, terminal dan sekitarnya. Tempat-tempat inipun dibanjiri warga dan baru reda setelah mereka pulang ke rumah masing-masing. Nuansa yang kental dengan kekeluargaan dan benar-benar harmoni yang indah.. 🙂

Mando'a

Sepulang Shalat I’ed, telah menjadi kebiasaan di Pasar Palembayan, sekelompok bapak-bapak atau niniak-mamak dengan teratur berkunjung dari rumah ke rumah untuk mando’a (berdo’a bersama) sambil bersilaturrahim.

Manambang

Lebaran tidak hanya sebagai wadah penyempurnaan ibadah dan ajang bersilaturrahim dengan sanak-saudara, tetapi juga kesempatan untuk manambang, khususnya bagi anak-anak. Manambang ini tradisi mengunjungi rumah ke rumah dan kemudian sesaat sebelum pergi akan diberi salam tempel (dapat angpao), isinya relative, tergantung berapa anggaran pemilik rumah dan sejauh mana hubungan kekerabatan dengan pengunjung.

Makan

Sesuatu yang sangat khas ketika berlebaran ke Palembayan, kita wajib makan di setiap rumah yang kita kunjungi, terutama pada hari raya pertama. Kita akan menjumpai samprah (kain panjang alas hidangan) terbentang di setiap rumah lengkap dengan hidangan nasi dan aneka masakan dari daging sapi.

Di hari kedua dan seterusnya, nasi dan lauk-pauk memang tidak dihidangkan seperti hari pertama lebaran, namun biasanya sekitar seminggu perayaan lebaran ini, masih berlangsung tradisi makan yang terkadang terkesan wajib setiap berkunjung ke rumah tetangga, handai-taulan atau warga sekitar. Jadi, buat Anda yang belum pernah ke Palembayan, jangan kaget ya.. 😀

Di beberapa daerah, seperti Bateh Tangah, lebih memilih makan bajamba. Ibu-ibu membawa nasi dan lauk-pauk dengan menggunakan rantang ke mesjid, kemudian selesai Shalat I’ed, semua warga makan bersama. Ini juga salah satu cara untuk mensiasati agar kebersamaan tetap terjalin sekalipun tidak sempat berkunjung ke setiap rumah disekitarnya. Selain itu, ini juga dinilai lebih efisien waktu dan tenaga.

Lebaran Idul Adha (Ari Rayo Kurban/Gadang)

Saat yang ditunggu-tunggu untuk berkumpul dan bersilaturrahim dengan karib kerabat, handai taulan dan para tetangga; setelah menyempurnakan ibadah puasa sebulan penuh. Nah, itu untuk lebaran Idul Fitri ya, tradisi yang nyaris sama dengan Idul Adha. Bedanya, selesai Shalat I’ed, diadakan kegiatan marantam (menyembelih hewan kurban). Kemudian para bapak bergotong-royong membagi daging kurban berdasarkan kupon yang telah dibagikan beberapa hari sebelumnya. Sementara para warga yang terdiri dari anak-anak atau remaja biasanya menjemput daging kurban dengan menukarkan kupon. Sebagian besar ibu-ibu akan memasak di rumah masing-masing; namun beberapa ada yang standbye di mesjid untuk persiapan memasak gulai bukek.

Setelah gulai bukek masak, siapapun boleh ke mesjid untuk makan gulai bukek bersama dengan membawa peralatan makan masing-masing dari rumah. Kemudian gulai bukek juga dibagikan secara gratis dan warga boleh membawanya pulang. Ini menjadi salah satu tradisi Palembayan yang masih terjaga hingga saat ini. Konon, tradisi ini merupakan kesepakatan niniak-mamak terdahulu karena dulunya daging kurban tidaklah seberapa, mungkin dikarenakan belum banyak orang yang mampu untuk berkurban, lalu diambil keputusan untuk masak di mesjid/mushalla sehingga semua orang mendapat bagian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s