Menjejak Di Negeri Sakura

Prolog

Yah, “waktu ibarat roaller coaster“.. Saking cepatnya, tak terasa telah memasuki bulan ke-5 di negeri sakura. Banyak hal yang ingin dishare, tapi.. tidak cukup waktu, semua cerita yang telah terkonsep dipikiranpun perlahan mulai blur ditimpa sekelumit aktifitas yang cukup menguras pikiran (hee.. ga segitunya juga keles..).

15 Juni 2016, ibarat kata ‘hari bersejarah’. Setelah beberapa kali gagal go international (ciileh), dan melalui hari-hari terberat sekontras warna-warni konflik didalamnya, akhirnya tanah samuraipun tersapa juga. Dan, jika ada yang bertanya “bagaimana kesan saya?”, ‘biasa saja’..

Jika saya harus flash back, melihat siapapun yang pernah ke luar negeri, dalam pikiran saya “mereka hebat!”, dan saya tidak pernah terpikir akan benar-benar merantau jauh dari Ranah Minang, meninggalkan zona nyaman terbaik sepanjang hayat.. Namun, support yang tak kalah besarnya menyeberangkan saya melintasi nasib yang tak terduga. Karenanya, sayapun punya slogan baru “saya orang bingung yang beruntung“.

16 Juni 2016
Welcome to Japan

Kala itu (15/06/2016), saya menggunakan jasa penerbangan JAL (Japan Air Line), Garuda-nya Jepang. Take off dari Bandara Soetta (Soekarno-Hatta) Jakarta sekitar pukul 10 malam dan landing sekitar pukul 5 subuh di Bandara Narita, Tokyo.

  • 05.00 Bandara Narita, Tokyo.
  • 08.15 Go to Tokyo, melewati Tokyo Tower, Sky Three, dll.
  • 09.09 Bandara Haneda.
  • 13.40 Osaka International Airport.
  • 14.19 Go to Osaka dengan bus.
  • 16. .. Asaka-shi, Osaka.

Penerbangan Jakarta-Tokyo memakan waktu sekitar 8 jam. Meskipun ini bukan kali pertama mengudara, entah kenapa, saat itu saya merasa nano-nano, perasaan menjadi campur-aduk.. Untungnya, cuaca saat itu cukup bersahabat. So, perjalanan yang melelahkan itu berlanjut hingga transit menuju Osaka.

Penerbangan Jepang-Osaka memakan waktu sekitar 2 jam. Akhirnya, dengan segala persinggahannya, sampailah di Asaka-shi pukul 4 sore, Osaka. Tidak hanya sekedar melepas penat, markas ini juga akan menjadi shelter bagi saya dan para penjejak lainnya hingga 6 bulan ke depan. Antara percaya dan tak percaya, ini Jepang! Dan, saya sudah sampai di Jepang! Banzai!!

Minggu Pertama

Jepang.. Yah, banyak hal positif yang sering banget didengar tentang negera ini; budayanya.. kreatifitasnya.. disiplinnya.. apalagi komik dan cartoon-nya.

Meskipun seharian rehat belum memulihkan kelelahan, saya dan para penjejak yang dasarnya punya darah “R”; darah spesial yang tidak termasuk dalam golongan darah secara teori, “R” singkatan dari raun-raun, bahasa Minang yang berarti suka bepergian; telah mengelana ke Abiko, pusat pertokoan terdekat dari shelter.

Anehnya, tidak ada yang wah. Tidak seperti yang dibayangkan sewaktu di Indonesia. Hanya saja sedikit merasa “terasing di negeri asing” (meminjam kutipan dari sahabat saya, Meichan).

Dimensi Lain

Tata kotanya memang lebih rapi dan bersih. Semua bangunan hampir memiliki pola dan warna yang mayoritas sama. Dimana-mana bertebaran tulisan kanji dengan beragam bentuk, membuat saya seolah-olah menyeberang ke dimensi lain, seperti tiba-tiba tersedot ke mesin waktunya si Doraemon!

Jet Lag

Kadang, saya tiba-tiba merasa pusing, tiba-tiba berasa gempa! Faktanya, ini hanya efek jet lag alias mabuk penerbangan, akibat perjalanan jauh.

Yen

Pertama kali menerima mata uang Jepang, yen; saya bingung.. Jumlahnya kecil 2 angka dari rupiah. Kalau di Indonesia uang Rp 50,- saja sudah tidak terpakai, disini ada nominal ¥1 (1 yen)!

Biasanya paling malas membawa duit receh kemana-mana, meskipun dengan massa yang sudah cukup ringan. Tapi, disini, koin-koin mungil itu sangatlah berarti. Mau belanja seharga berapapun, pasti lebih banyak dikembalikan dalam bentuk koin.

Walhasil, disini juga dijual kotak koin praktis yang didalamnya sudah ada sekat-sekat pembatas nominal yang bisa diatur penyimpanannya. Benda praktis ini bisa dibeli di berbagai toko, terutama di ¥100 shop (toko serba 100).

Kanji, kanji & kanji!

Berbeda dengan Indonesia yang hanya menggunakan huruf romaji, Jepang memiliki 4 jenis huruf: hiragana, katakana, kanji dan romaji. Jadi, buat yang ingin mengenal Jepang, harus kenal juga dong dengan tulisannya, terutama kanji!

Sedikit mengulas tentang kanji, huruf ini diadopsi dari Cina. Meskipun begitu, huruf yang sama dengan arti yang sama, memiliki cara baca yang sangat berbeda dengan negeri asalnya. Dan, diantaranya memiliki bentuk yang nyaris sama, belum lagi kombinasinya, siap-siap puyeng dah! Tapi, kalau sudah mengerti, memang lebih enak menggunakan kanji, lebih singkat, tepat dan praktis.

Ceritanya, pertama kali ke supermarket Jepang (kebetulan stok yang dibawa dari Indonesia sudah mulai menipis). Saat mencari kebutuhan sehari-hari, seperti shampo dan facial foam (sabun wajah), saya dan teman-teman butuh waktu berjam-jam hanya untuk membaca petunjuk pemakaian. Semua ditulis dalam kanji!!! Hanya beberapa kata yang menggunakan katakana dan hiragana, apalagi romaji?!

Beberapa merk ada yang mirip dengan produk-produk yang ada di Indonesia. Tapi.. itu untuk wajah, badan, rambut atau bagaimana?! Terus, kalaupun untuk wajah, itu krim, pelembab, foam, penyegar, atau apa??

Supermarket disini tidak sama dengan di Indonesia yang karyawannya bisa ketemu di setiap perbelokan, yang pasti standby hanya kasir saja. Nah, kalau sudah bertanya 1-2 kali, tapi yang dimaksud tidak juga ketemu, watak Indonesia-nya muncul “jadi segan..”.

So, ujung-ujungnya, semua dipotretin, biar nanti bisa dikonfirmasi ke sensei (tutor); maklum.. belum punya akses internet, jadi kalaupun punya aplikasi kanji tetap tidak bisa dipakai saat itu.

Lucunya itu saat mencari pasta gigi alias odol. Setelah mendapat rekomendasi dari sensei, dengan sumringahnya langsung bergerak ke supermarket terdekat. Tapi.. “yang mana ya?!” Tenang, saya sudah menanyakan odol yang persis sama dengan yang sensei pakai..

Bermodalkan foto screenshot, dalam waktu singkat, yang dicari langsung ketemu. Tapi.. ada jenis lainnya juga, lho.. “Hm, bagaimana kalau mengambil jenis yang berbeda?!”.

Dan, tahukah Anda, saya hampir membeli perekat gigi palsu!! OMG.. Mulai dari kemasan hingga kanji giginya sama, untung saja sempat mengamati gambar dibalik kemasannya yang disadari segera sebelum ke kasir! Bayangkan deh, ini lem kalau beneran saya jadikan odol?! haha..

Ngulik Kuliner Jepang

Hal pertama yang cukup mengkhawatirkan menjelang  tiba di negeri sakura, terutama bagi penganut muslim dan advent, tentunya makanan. Di seantro Jepang, otomatis didomonasi oleh pangan yang terbuat dari babi dan juga berbagai minuman jenis oshake (tuak).

Untungnya, di shelter saya, mereka sudah terbiasa menerima pendatang dari berbagai negara, jadi menu ataupun microwave di shokudou (kantin) sudah diberi label “halal” dan “no halal”. Tidak hanya itu, bagi vegetarianpun juga diberi pelayanan yang sama, menu dan microwave khusus vegetarian. Proud of my shelter’s shukudou so much dah!

Tadinya, sedikit mumet ketika mau mencicipi aneka makanan yang cukup bikin ngiller selama jalan-jalan paniang (bepergian untuk sekedar bersantai). Alon-alon kelakon, mulai berani bertanya dengan bahasa jepang seadanya, dan, sampai sekarang mulai banyak referensi tempat halal yang bisa disinggahi. Tidak hanya halal, tapi juga ekonomis! Mau tau?!

Takoyaki

Di sekitar abiko, ada toko kecil takoyaki di seberang supermarket gormet (gormeit). Disini yang jualan 2 orang ibu-ibu, saya memanggil mereka obasan. Bukan hanya punya masakan enak dan murah, mereka juga sangat ramah; serasa berada di Indonesia! Selain takoyaki, juga ada okonomiyaki (pizza ala Jepang) dan mie goreng, tapi sayangnya ada buta-nya, alias babi, no halal. Takoyaki dan 2 masakan ini dibuat dengan wadah terpisah, so, I think it’s OK.

Ayam Goreng

Masih di daerah Abiko, tepatnya di lantai 2 Plaza Abiko, ada restoran yang namanya Saizeriya. Disini ada menu ayam goreng murah, hanya ¥299 dapat 5 potong sayap dengan rasa yang cukup sesuai dengan lidah Indonesia. Selain itu, juga ada pizza, tentunya masih dengan harga ekonomis! Recommended by Fatma, a.k.a Lidi. Ternyata, restoran ini juga ada di Namba, lho..

Masakan Indonesia

Ada 2 cafe Indonesia yang populer dikalangan perantau, Balibong yang bernuansa Bali di Abiko dan Cafe Bintang yang bernuansa Jawa di Shinsaibashi (Namba). Selain itu, juga ada beberapa wirausaha tertentu yang menyediakan pemesanan makanan Indonesia online via delivery.

Wassalam..

Hm.. by the way, segitu dulu ya intermezo-nya.. To be continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s