Musafir Sehari

Prolog

Perjalanan panjang bukan hanya tentang kita dan berbagai destinasi indah yang ingin ditapaki. Adakalanya, setiap detilnya selalu terhubung pada Sang Khalik, sebuah perjalanan religi yang luar biasa berkah.

Minggu lalu, saya bersama sahabat, Q chan, berencana untuk mengunjungi Mesjid Osaka dan Mesjid Kobe. Kami bertekad, sebelum hijrah, kami harus mengunjungi kedua mesjid tersebut.

Agenda perjalanan kali ini:

  • Berangkat dari shelter pukul 13.00 (waktu Osaka).
  • Shalat Ashar di Mesjid Osaka.
  • Shalat Maghrib dan Isya di Mesjid Kobe.
  • Kobe Tower, kabarnya lebih indah pada malam hari.
  • Kobe Luminarie.
  • Harus kembali ke shelter sebelum pukul 00.00.

Hari ini adalah H-10 kami sebelum meninggalkan shelter. Tadinya, banyak penjejak yang mau ikut trip ini, karena padatnya aktifitas, akhirnya yang berangkat hanya saya, Q chan, Imam dan Nisa.

Menuju Mesjid Osaka
  • 14.00 Kami mulai bergerak menuju Abiko Station dan segera menaiki chikatetsu menuju Umeda Station. Beli tiket one day pass ¥600.
  • 14.24 Umeda Station.

Nah, seperti biasa, saya selalu menyelipkan kekonyolan disetiap perjalanan, tidak terkecuali untuk hari ini. Ketika keluar dari jalur Midosuji Line Umeda, one day pass saya ditolak. Karenanya, saya bertanya pada eki-in. Parahnya, saya men-charge kartu yang salah, tanggalnya beda!! OMG.. Saking banyaknya koleksi kartu subway!

Beralih ke Umeda Station. Bagi saya, stasiun ini menjadi stasiun terbesar yang pernah saya lewati di Jepang. Selain menjadi lintas dari berbagai jenis transportasi, di stasiun ini juga terbagi menjadi banyak unit. Jadi, harus punya petunjuk yang cukup; jika tidak, segera bertanya ke bagian informasi atau eki-in.

Nah, setelah linglung ga jelas, kami yang hanya mengandalkan internet map dan berbekal notes, menyerah dan lebih memilih option mencari info ke bagian informasi, dan ini sangat sangat efektif.

  • 15.00 Naik hankyu, tiket ¥290.
  • 15.06 Berangkat.. Gila, pemandangannya keren bo’.. Barisan pohon sisa-sisa koyo yang penuh warna.. Andai kami melewati tempat ini saat pertengahan aki..
  • 15.50 Yamada Station. Beli tiket osaka monorail ¥270. Kami segera mencari informasi melalui bagian informasi. Kami diberi peta lengkap dengan petunjuknya.
  • 15.53  Bampaku-kinen-koen Station.
  • 15.58 Norikae (transit) menuju Toyokawa Station.
  • 16.04 Toyokawa Station.

Kami menanyakan akses ke Mesjid Osaka pada eki-in. Tapi, tetap saja, bingung.. Karena, tempat ini melewati komplek perumahan yang cukup sepi. Selain itu, udara yang semakin dingin membuat kami harus berusaha lebih gigih agar cepat sampai ditujuan.

Dibalik kesulitan selalu ada kemudahan, kami bertemu dengan seorang warga yang bisa ditanya, akhirnya perjuangan yang tidak seberapa tadi terbayarkan, tadaa.. Mesjid Osaka!! Bak menang dari sebuah challenge, kami bersorak gembira. “Subhanallah, kami sekarang disini.. Di Mesjid Osaka!!!”

  • 16.15 Mesjid Osaka..

Berbeda dengan banyak mesjid di Indonesia, bahkan mesjid ini lebih mirip rumah bertingkat 2. Masuknya dari pintu samping. Ada tempat parkir yang bisa memuat sekitar 3-6 mobil. Di sebelah kiri bagian belakang ada toilet dan tempat berwudlu laki-laki.

Kami sempat nyaris kecewa, karena pintu mesjid tidak bisa dibuka dan sangat sepi. Mengingat waktu Ashar pukul 15.15, “apa mesjidnya tutup ya?! Mungkin bukanya pas waktu shalat saja untuk berjama’ah??”. Seketika saya sempat beropini demikian meskipun sangat tidak mungkin.

Lalu, tiba-tiba datang seorang laki-laki bertubuh tegap dan berkulit hitam menuju pintu mesjid. Sapaan orang itu “Assalaamu’alaikum” layaknya seorang mukmin, membuyarkan wajah kami yang saya rasa sempat bengong ga jelas saat pertama kali melihat orang itu  turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah kami. Kami menjawabnya dengan sumringah.

Selain lega dan bangga bertemu dengan muslim lain, dalam pikiran saya mulai terlintas “Alhamdulillah.. Mungkin dia penjaga mesjidnya, akhirnya kami bisa masuk mesjid ini, senangnya..”.

Bak kaca yang tiba-tiba retak, spekulasi tersebut membawa kami pada kenyataan bahwa mesjid itu sama sekali tidak terkunci, hanya saja kami yang tidak tau cara membuka pintunya 😀

Melihat mukmin tadi masuk ke dalam, kamipun bergegas mengikuti. Bak pertama kali memasuki sebuah tempat baru yang wah, saya menelisik setiap sisi, “oh, begini ya Mesjid Osaka.. Waah, saya disini, sekarang saya disini!!” (lebaynya kumat).

Dekorasi mesjidnya memang menyerupai rumahnya orang Jepang. Salah satunya, gengkang.

Dan, alhamdulillah.. Ketemu orang Indonesia!! Senangnya bukan main, serasa berada di Indonesia..

Di mesjid ini, tempat shalat laki-laki berada di lantai 1 dan perempuan di lantai 2, masing-masing ada toilet dan tempat berwudlunya. Hanya saja, tempat berwudlu di lantai 2 terbilang kecil, jadi hanya bisa satu-satu orang saja. Selain itu, tempat wudlu-nya juga hanya berupa wastafel. Jadi harus punya cara seefektif mungkin agar tidak membasahi sekitarnya.

Entah kenapa, rasanya ada yang berbeda. Niat, ucapan dan gerakan yang sama terasa berbeda setelah disini. Tempat yang terbilang sederhana ini terasa begitu damai, seolah beban yang sangat berat sekalipun terangkat dalam sekejap, terasa sangat ringan..

Tadinya, kami berniat hanya Shalat Ashar saja disini dan segera melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kobe. Namun, tiba-tiba Q chan punya ide “bagaimana kalau kami melewati rute yang berbeda dari agenda awal?!”

Ide yang briliant! mumpung hari ini harinya, tak ada salahnya mencoba hal-hal baru, tapi.. Saat ini kami memiliki banyak keterbatasan, terutama akses internet yang mulai memprihatinkan.

Kamipun menilik ulang setiap rute yang telah kami buat. Disaat kami berpikir alternatif mana yang paling efektif, seorang ibu-ibu muslim memasuki ruangan. Dan, alangkah surprise-nya kami, ternyata si ibu juga orang Indonesia, Sunda. Jadilah itu sebuah reunian antara Q chan, Nisa dan tentunya si ibu.

Dari sini, saya kembali menemukan point dari perjalanan ini. Menyimak percakapan 3 muslimah dari rumpun yang sama itu telah mengajarkan kepada saya tentang ‘uniknya bahasa’. Saya tidak tau arti percakapan mereka, namun saya mengerti inti pembicaraannya.

Tanpa sadar, diskusi ini telah menyita setidaknya sepenggal kecil perjalanan kami menuju Kobe. Namun, itu bukanlah hal besar, kalah besar dari moment yang kami dapatkan. Selanjutnya, karena waktu Maghrib telah datang (16.46), kami memutuskan untuk shalat dulu sebelum berangkat.

Setelah pamit dengan si ibu dan anaknya yang lucu, Taku kun; kami melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kobe. Yang jadi masalah, kami lupa menanyakan arah halte bus yang dimaksud. Walhasil, suhu yang semakin dingin membuat kami nyaris kembali ke rute awal.

Tiba-tiba, untuk kesekiankalinya ini menjadi sebuah kebetulan. Seorang wanita paruh baya, orang Jepang, bersepeda dengan arah yang berlawanan dari kami dan dengan antusiasnya mengucapkan “Assalaamu’alaikum..”. Kemudian, beliau memperlambat sepedanya dan menyapa kami dalam bahasa inggris.

Nah, ini bakal jadi hal unik lainnya dihari ini. Bahasa itu ibarat ‘bisa karena terbiasa’. Kami yang mulai terbiasa dengan bahasa jepang, kadang menanggapi si ibu dengan bahasa inggris, tapi terkadang malah spontanitas berbicara dalam bahasa jepang, yah meskipun dengan bahasa yang sangat sederhana. Tapi, si ibu malah konsekuen dengan bahasa inggrisnya yang sesekali kental dengan hyougen jepangnya.

Awalnya, kami merasa mendapat sedikit pencerahan. Ibu-nya sangat komunikatif, tapi.. Semakin kesini kami merasa percakapan dengan si ibu sedikit agak.. Ditambah dengan sikap si ibu yang terburu-buru mengayuh sepedanya tapi tetap berbicara seolah topik itu ditujukan pada kami.

Kamipun mulai berpandang-pandangan, seolah merasa memiliki pemikiran yang sama. Namun, Q chan yang dengan antusiasnya untuk melewati rute baru, tetap kekeh mengikuti si ibu. Kami yang mulai khawatir mengikuti petunjuk yang salah tetap menunggu Q chan kembali.

Karena khawatir, akhirnya kamipun menyusul Q chan. Kami mulai mengira jangan-jangan si ibu berpikir kami tidak tau jalan ke Mesjid Osaka padahal kami baru saja dari sana.

Saya mendampingi Q chan yang tetap terlibat percakapan dengan si ibu. Saya menargetkan, jika si ibu malah mengantar kami ke Mesjid Osaka lagi, tidak ada jalan lain, harus kembali ke rute awal. Dan, terkadang Tuhan menunjukkan jalan melalui cara-cara yang unik, yang tak pernah bisa kita tebak.

Si ibu mengatakan, rute menuju halte bus itu searah dengan rute yang akan dia lewati. Kami harus berjalan berlawanan arah dari rute sebelumnya. Lalu, beliaupun berhenti sejenak di lokasi sebelum mesjid dan menjelaskan rute setelah ini. Sebelum berpisah, si ibu mengatakan bahwa dia seorang perawat yang sudah pensiun, dulunya beliau seorang PhD. “Subhanallah..”

Kejadian ini benar-benar menepuk saya dengan sangat keras. Selama ini, saya selalu berprinsip “don’t judge peoples by their look“, tapi kali ini, saya sendiri yang melangkahinya. Dari lubuk hati yang terdalam, saya minta maaf dan sangat berterima kasih pada si ibu, juga bersyukur untuk moment ini.

Kamipun akhirnya sepakat, mungkin si ibu terburu-buru karena mengejar waktu Maghrib, makanya tidak sempat menjelaskan dengan gamblang.

  • 17.00 Berangkat..
Menuju Mesjid Kobe
  • 17.25 Basu noriba (halte). Kami berlarian seperti anak-anak yang enggan ketinggalan bus sekolah. Naik Bus Ibaraki.

Kali ini kali kedua saya menaiki bus. Bus ini mirip dengan busway di Indonesia. Bedanya, desainnya, cara pembayarannya, dsb. Dari pintu masuk, bagian kanan pintu, tepatnya dari tengah ke belakang bus, tempatnya lebih tinggi. Setiap tempat duduk bahkan bagian pegangan tangan diberi tombol yang bisa dipencet jika sampai di halte tujuan.

Pembayarannya, bagi yang memiliki kartu, ketika naik bus langsung menempelkannya ke alat khusus. Tapi jika membayar chase, penumpang membayarnya saat akan turun sesuai harga yang telah ditetapkan. Jika memiliki uang dengan nominal besar, minta bantuan pada sopir, nanti akan ditukar nilainya, dibayar sesuai harga dan diberikan kembalian. Semuanya menggunakan mesin otomatis.

Selama perjalanan, kami mendiskusikan banyak hal. Seandainya masih ada waktu, beberapa hal sebelum kami benar-benar meninggalkan shelter:

  • Sekali lagi ke Mesjid Kobe, berpose di Kobe Tower.
  • Mushalla di Stasiun Namba. Menurut info yang Q chan dengar, mushalla ini ada di basement.

Selama perjalanan, saya dan Q chan juga merancang planing buat tahun depan. Sesekali kami dan penjejak lainnya akan pergi ke tempat dan event-event, seperti:

  • MotoGP yang akan diadakan di Tokyo.
  • Korea.
  • Cina.
  • Menikmati momiji di Kyoto dengan mengenakan fashion ala wanita Jepang di zaman Edo.
  • Mesjid Kobe setiap ada waktu.
  • Air Terjun Mino saat momiji, pastinya lebih indah pergi disiang hari.

Next..

  • 18.00 Izumiya.
  • 18.05 Naik JR (Japan Rail) dari Ibaraki Station ke Kobe-Sannomiya Station (JR-Kobe Line). Pilih line 2. Go.. Saking ramainya, kami baru dapat tempat duduk setelah hampir setengah perjalanan. Dan, langsung meneparkan diri.
  • 18.56 Kobe-Sannomiya Station.

Kami segera mencari informasi melalui bagian informasi. Kami diberi peta lengkap dengan petunjuknya.

Sepanjang jalan terlihat berbagai tempat penginapan dan aneka restoran dengan aroma yang yummy.. Dan, kami baru sadar, perut kami mulai lapar..

  • 19.30 Akhirnya, Mesjid Kobe.. Alhamdulillah..

Mesjid ini terletak dibalik gedung NHK, TVRI-nya Jepang, tidak jauh dari bangunan Jinja.

Seperti halnya Mesjid Osaka, kejadian yang samapun terulang kembali. Kami bersorak gembira seolah baru saja diumumkan lulus dari TA (Tugas Akhir). Tapi.. Lagi-lagi pintu mesjidnya tertutup!!

Setelah melihat seorang muslim keluar dari pintu samping, akhirnya Imam berinisiatif untuk inspeksi. Kamipun mengikuti Imam, dan, ternyata, pintu masuknya dari sayap kanan mesjid sebelah belakang. Yokatta..

Melihat wajah bingung kami, para akhi di dalam segera membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. “Subhanallah.. Sekarang kami sudah di Mesjid Kobe!!”. Rasanya seperti mimpi! Benar-benar luar biasa.. Betapa bangunan ala timur tengah ini punya magnet yang bagi saya ‘ajaib’!

Akhi tersebut menanyakan apakah kami orang Indonesia dan segera memperkenalkan akhi lain yang juga dari Indonesia.

Seperti Mesjid Osaka, disinipun juga ada gengkang dan tempat shalat laki-laki di lantai 1 sementara perempuan di lantai 2. Segera setelah melepas sepatu, kami bertiga melewati anak tangga menuju lantai 2. Benar-benar tempat ibadah yang megah..

Disini, kami bertemu 2 orang muslimah yang berasal dari Sri Lanka. Mereka tenaga pengajar; mengenakan baju bernuansa gelap, sangat sederhana, tanpa make-up, tapi.. Siapapun bisa melihat inner beauty-nya. Dalam hati saya bertanya “kapan ya saya bisa seperti mereka??”.

Pertanyaan itu seolah memberi kesan saya benar-benar berniat ingin istiqamah seperti mereka atau malah mengejek diri sendiri. Saat berwudlupun saya jadi termangu melihat ke kaca. OK, deal! Suatu saat, entah kapan,  mungkin saya bisa seperti mereka.

Oh ya,  di mesjid ini tempat wudlu dan toilet dipisah dan lebih luas. Di ruang toilet, terdapat beberapa toilet yang dilengkapi dengan wastafel. Di ruang wudlu, terdapat banyak kran yang bisa diatur suhu airnya. Berdampingan dengan kaca rias dan fasilitas mukena.

Selesai Isya, saya dan Nisa mengenakan jilbab di tempat rias. Tiba-tiba, seorang muslimah menghampiri kami dan mengajak makan malam bersama, sudah disediakan hidangan untuk kami, karena sulit mencari tempat makan halal disekitar sini.

MasyaAllah.. Saya dan Nisa kaget, antara surprise dan sungkan, juga happy.. Semua yang terjadi di hari ini benar-benar sebuah kebetulan yang juga seolah sudah dipersiapkan untuk kami.

Sungguh, nikmat-Mu mana lagi yang kan kami dustakan?? Seolah Tuhan sengaja menjamu kami sedemikian rupa karena bertamu ke rumah-Nya, benar-benar tak terungkapkan, sangat bahagia.. Ini jauh dari ekspektasi awal yang notabennya kami hanya ingin menapaki jejak di rumah-Nya sebelum hijrah ke dunia kerja masing-masing.

Dan, lihat.. Tanpa kami beritahu pada siapapun kalau kami sedang lapar dan berniat mencari tempat makan dengan menu-menu baru, Dia sudah menggerakkan bala-bantuannya. Betapa beruntungnya kami, sangat sangat beruntung..

Kejutan ini belum usai. Dalam perjalanan menuju ruang makan, saya memberikan titipan buku dari seorang hamba Allah untuk mesjid. Kemudian, muslimah tersebut mengantarkan kami pada seseorang, orang Jepang yang fasih berbahasa Indonesia, subhanallah..

Kami dijamu dengan hidangan Pakistan. Nasi campur yang dibumbui dengan bumbu (seperti bumbu sup), kare ayam (mirip gulai ayam di Padang) dan roti Pakistan (mirip roti cane di Indonesia) menjadi menu utamanya.

Sebelumnya, kami sempat mencemaskan Imam. Dengan sungkan, kami tetap menyampaikan bahwa kami disini ada berempat dengan seorang teman laki-laki. Mereka mengerti apa kami pikirkan dan menyampaikan bahwa laki-laki juga dijamu di lantai 1, karena yang masak masakan inipun juga laki-laki. Kami bertiga sepertinya sepakat ‘WOW!’

Dalam nasi campur itu ada bumbu yang bentuknya mirip bumbu sup di Padang, namanya gardambumbu. Tapi, ini jelas berbeda, yang ini teksturnya mirip kacang mente dengan rasa seperti kacang tanah. Hayooo.. Unik, benar-benar unik! Selain itu, tekstur dan rasa nasinya juga berbeda. Selain ini juga ditambahkan kismis dan potongan daging dengan ukuran sedang.

Saking sungkannya, saya sampai lupa sudah berapakali mengucapkan terima kasih. Dan, watak Indonesia saya yang satu ini, saya rasa agak sedikit berlebihan. Jadi, bagi siapapun, jangan sampai melakukan hal yang sama ya, sungkan itu memang perlu tapi tidak berlebihan.

Setelah makan, datang seorang anak kecil yang imut banget mengantarkan desert yang mereka sebut sweet. MasyaAllah.. Ini benar-benar.. Dalam Bahasa Minang, makan lamak. Rasanya, wenak banget, benar-benar sesweet rasanya!! Ini seperti terbuat dari santan pekat yang diolah dengan bumbu rempah (seperti ada potongan jahe yang cukup halus tapi tidak terlalu khas).

Dalam percakapan kali ini, kami bercerita banyak hal. Dari sini kami tau bahwa muslimah Jepang tersebut bisa berbahasa Indonesia sefasih itu hanya dengan mendengar. Luar biasa.. 

Selain itu, ternyata, dihari biasa, disini dibuka kelas, seperti kelas Qur’an dan hadist untuk umum.  Dihari kerja, pukul 1 s/d 3 dan sabtu mulai pukul 3. Tapi, tetap harus konfirmasi dulu sebelumnya.

Saya begitu antusias dengan budaya makan bersama tadi, mengingatkan saya pada kampung halaman. Jika ada tamu atau acara tertentu, sering dihidangkan seperti ini.

Spontan saya bertanya, apakah selalu begini? Atau dihari tertentu saja? Dan, jawabannya seolah membuat saya bungkam. Acara makan-makan tadi adalah perdana, alias pertama kali dilakukan disini, alias sebelumnya tidak pernah. Dan, merekapun juga tidak tau siapa yang mengadakan dan kenapa bisa ada acara makan-makan tadi. Ok, I’ve got the answer.

  • 20.45 Go..
Kobe Luminarie

Agenda awal, setelah Mesjid Kobe, harusnya kami ke Kobe Tower. Namun, karena jaraknya yang jauh sekitar 1 jam lebih, akhirnya kami menundanya. Kemudian bergerak menuju Kobe Luminarie.

Untuk kesekian kalinya, kami yang buta arah dipertemukan dengan orang Indonesia disebuah persimpangan. Mereka memberi petunjuk arah yang paling efisien. Setelahnya, kami tetap mengonfirmasi pada polisi yang menjaga keamanan acara. Mereka standbye diberbagai tempat dan tetap welcome meskipun sedang sibuk mengatur masa.

  • 21.10 Menuju Kobe Luminarie.
  • 21.30 Kami bergerak cepat, mengingat info dari polisi tadi, acara ini hanya sampai pukul 10. Dan, Kobe Luminarie!! Wow,  festival lampu ini benar-benar kerreen!! Event ini diadakan dalam rangka HUT ke-150 Pelabuhan Kobe. Ada juga aneka jajanan kuliner jepang..

Lampu-lampu megah itu mengantarkan saya pada sebuah analogi. Mereka seperti mimpi dan harapan yang menjadi nyata dan menerangi ratusan masa yang membanjiri sekitarnya. Mereka hanyalah sebuah benda yang bisa dimodifikasi oleh manusia. Begitupun mimpi dan harapan, sebuah motivasi yang juga bisa dikendalikan oleh manusia.

  • 21.55 Setelah jauh mengelana, akhirnya kaki kamipun mulai terasa kram. Berarti, kami harus mengakhiri perjalanan luar biasa ini.

Lagi-lagi, untuk kesekiankalinya, tak terhitung lagi.. Disaat kami mulai mencari arah pulang, reflek perhatian tertuju pada Imam dan orang yang tidak kami kenal. Orang itu orang jepang yang fasih berbahasa Indonesia dan terlihat memberi petunjuk. Ternyata, dari Imam, orang itu tiba-tiba menyapa dan menanyakan tujuan kami lalu langsung menjelaskan rutenya. Alhamdulillah.. Ada saja bantuan tak terduga..

  • 10.14 Kobe-Sinnomiya Station ¥320 naik hankyu di jalur 4.
  • 10.18 Menuju Umeda Station.
  • 10.53 Umeda Station.
  • 11.00 Chikatetsu menuju Abiko Station. Tanpa komentar apapun, setelah mendapat tempat duduk, kamipun rehat sejenak meninggalkan keremaian kereta.
  • 11.27 Abiko Station.
  • 11.45 Shelter.
Sepenggal Cerita tentang Stasiun Umeda

Sebulan yang lalu, tepat ditanggal yang sama, saya punya agenda dadakan yang mengantarkan saya ke Umeda Station. Tanpa akses internet dan informasi yang minim, saya bergerak menuju lokasi. Maklum, selama ini saya tidak punya akses ke stasiun  besar ini.

Bahkan dengan bekal notes ples nanya ke bagian informasi-pun terkadang tidak menjamin lokasi tersebut mudah ditemukan. Untungnya, seorang teman yang kebetulan punya destinasi ke Yodoyabashi, berbaik hati mengantarkan saya. Jika tidak, entahlah.. Hanya ada 2 kemungkinan, bakal menghabiskan banyak waktu atau batal.

Hikmah

Perjalanan kali ini memberikan pelajaran luar biasa:

  • Perjalanan panjang bukan hanya tentang diri sendiri, interaksi dengan sesama, keindahan tanpa batas, dsb; tapi juga tentang seorang umat dan Sang Khalik.
  • Mau travelling, nge-trip, walking out, dll; yang namanya pergi bareng itu memang harus punya management kekompakan alias kerja tim.
  • Jika Tuhan meridhai apa yang kita tuju, dalam setiap kesulitannya Tuhan selalu menyelipkan kemudahan.
  • Terkadang Tuhan menunjukkan jalan melalui cara-cara yang unik, yang tak pernah bisa kita tebak.
  • Segala sesuatu tergantung pilihan dan usaha. Usaha yang lebih so pasti dapat hasil yang lebih.
  • Sesuatu yang terlihat buruk bisa jadi memiliki banyak manfaat dibaliknya. Sebaliknya, sesuatu yang diyakini baik juga belum tentu baik pada akhirnya.
  • Jangan mudah menilai sesuatu, meremehkan hal kecil bisa jadi membuat kita kehilangan kesempatan besar yang belum tergali didalamnya. “Don’t judge peoples by their look”
  • Sesama muslim adalah saudara. Dimanapun dan kapanpun, dengan latar budaya apapun, kita semua sama. Hanya dengan seutas senyum atau dengan mengucapkan “Assalaamu’alaikum”, sebuah silaturrahim-pun begitu mudah terjalin.
  • Sebagai insan yang memiliki budaya timur, rasa sungkan itu memang perlu tapi tidak berlebihan.
  • Mimpi dan harapan itu seperti cahaya yang menerangi kegelapan dan menyinari sekelilingnya.
  • Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan tepat pada waktunya, bukan yang kita inginkan.
Moment to Remember
  • Best moment with Q chan, Imam dan Nisa. Para musafir sehari dengan segala berkah-Nya yang melimpah.
  • Ibu asal Sunda yang giat mencarikan kami informasi. Bersama si cilik Taku kun yang lucu.
  • Salah men-charge kartu.
  • Mengejar bus setelah salah paham pada si ibu bersepeda.
  • Aroma masakan nan yummy  sempat terlintas untuk makan dulu sebelum sampai Mesjid Kobe. Tapi, setelah meluruskan niat, akhirnya dijamu dengan masakan Pakistan yang enak banget..
  • Bertemu muslimah-muslimah inspiratif, seperti Aisyah, Aminah,  Hana dan muslimah lainnya.
  • Kembali ke Umeda Station, tapi kali ini tidak sendiri, bersama para musafir sehari.
Catatan
  • Chikatetsu = Kereta api bawah tanah.
  • One day pass = tiket yang berlaku kemana saja dengan chikatetsu, tetapi terbatas untuk subway saja, berlaku sampai pukul 12 malam, alias seharian.
  • Notes = Buku catatan (agenda perjalanan).
  • Option = Pilihan.
  • Hankyu = Kereta api cepat.
  • Koyo = Daun-daun yang berubah warna menjadi merah pada aki.
  • Aki = Autumn, musim gugur (peralihan musim panas ke musim dingin).
  • Hyougen = Logat.
  • Monorail = Transportasi darat yang lebih menyerupai satu gerbong kereta yang dijalankan oleh masinis, rel-nyapun memiliki bentuk yang  berbeda.
  • Norikae = Transit,  pindah jalur.
  • Eki-in = Penjaga stasiun.
  • Gengkang = Sedikit space antara pintu dan bagian depan ruangan rumah khas Jepang, tempat meletakkan alas kaki (sepatu, sandal, dll).
  • Yokatta = Lega.
  • Akhi = Panggilan untuk laki-laki muslim.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s