Arsip Kategori: Cafe/Restoran

Udong Miyako Soba

Udong  Miyako Soba merupakan sebuah warung masakan tradisional jepang yang terletak di Abiko, warung keempat setelah plang bertuliskan あびこ dari alur sebelah kanan. Menu utamanya ada:

  • そば都スペシャル (Soba Miyako Spesial)
    • Berisi soba (mie biasa dengan warna agak keabu-abuan), tahu tipis yang lebar, tempura, telur, potongan daun bawang dan kuah yang bening.
    • ¥480 (480 yen)/porsi.
  • うどん都スタミナ (Udon Miyako Stamina)
    • Berisi udong (mie yang lebih besar), tempura, telur, potongan daun sup dan kuah yang bening.
    • ¥400 (400 yen)/porsi.

Boleh dibilang masakan ini halal, karena tidak terbuat dari buta (babi) ataupun shake (tuak). Selain ini, juga tersedia menu andalan lainnya, seperti: udon kare; namun, buat yang muslim ataupun advent, sebaiknya mengkonfirmasi dahulu sebelum memesannya.

Disini, untuk cara pemesanan, pilih menu, tunggu sampai masakan dihidangkan, ambil porsi dan langsung bayar sesuai harga. Tempat pemesanan dibuat terpisah dari tempat makan.

Sayangnya, buat penggemar makanan pedas, disini tidak tersedia menu pedas, bahkan jika direquest sekalipun. Tapi tersedia bubuk cabe yang telah dicampur dengan biji wijen.

Catatan
  • うどん都そば /Udong Miyako Soba/
  • あびこ /Abiko/.
  • 豚 /buta/ atau ポーク /poku/ = babi.
  • 酒 /sake/ = tuak.
Lain-lain
  • Recommended by Maria san.
Iklan

Kuliner Udon Enak Di Abiko

Udon merupakan sejenis mie dengan tekstur lebih tebal dan lebar dari biasanya. Makanan yang selalu disajikan dengan kuah berbumbu ini adalah salah satu makanan tradisional Jepang. Meskipun demikian, beda perfektur juga beda pengolahannya, begitupun rasanya.

Bagi peminat udon, tentunya tidak akan melewatkan tempat yang satu ini, namanya トクマサ (baca: tokumasa). Sebuah mise (kedai) udon yang paling digemari oleh para peminat udon. Mise ini terletak di dekat deguchi (pintu keluar) 3 Stasiun Abiko, tepatnya di bangunan ketiga dari 業務スーパー.

Berikut beberapa menu recommended (selain menu 豚肉 daging babi atau 酒 tuak):

  • 肉カレーうどん /niku karee udon/ Udon kare daging sapi ¥700.
  • 野菜カレーうどん /yasai karee udon/ Udon kare sayur ¥850.

Mise ini menawarkan rasa yang cukup pas dengan penikmat masakan nusantara. Dari bumbu kuahnya, sangat kental terasa, hampir mirip dengan rasa kuah sate bumbu (padang) di Indonesia, bedanya kuah ini sedikit lebih cair.

トクマサ selalu ramai pengunjung, jadi tidak heran jika terkadang Anda harus berbalik arah untuk keluar (karena tidak ada tempat duduk). Kalaupun Anda sudah duduk dan menghabiskan hidangan, juga bukan berarti Anda bisa duduk berlama-lama seperti “kopi darat” di Indonesia.

Sedikit mengulas budaya Jepang yang sering ditemui di mise ini; mungkin juga di berbagai mise/restoran Jepang lainnya, setelah menghabiskan makanan yang telah dipesan, segera membayar dan meninggalkan tempat. Jarang sekali ditemukan pengunjung yang ngerumpi ataupun sekedar kongkokongko.

Selain itu, jika di Indonesia makan bersuara sangat tidak sopan, di Jepang malah mempunyai kebiasaan menyeruput mie. Ini menandakan penghargaan pengunjung terhadap hidangan berkuah (seperti: udon) yang disajikan, memberi kesan oishii (enak).

Sesuatu yang perlu diperhatikan, mentang-mentang menyeruput mie sudah menjadi kebiasaan di Jepang, bukan berarti pendatang asing serta-merta langsung mempraktekkan menyeruput udon tanpa tahu caranya. Adakalanya, perlu memperhatikan bahwa kuah udon cukup panas saat disajikan. 

Bukan hanya itu, di Jepang juga tidak ada kebiasaan meniup makanan. Jadi, mungkin Anda butuh sedikit tekhnik khusus bagaimana menikmati udon selagi panas tanpa harus meniupnya.

Catatan

  • Recommended by Fatma san.

Restoran Bonanza 「レストランボナンザ」

Restoran Bonanza terletak di seberang NTT西日本大阪病院 (Osaka Hospital), Tennoji, Osaka-Jepang. Restoran dengan konsep rumahan ini menawarkan menu hamburger sebagai menu utama.

Bagi yang muslim ataupun advent, bisa mengonfirmasi terlebih dahulu makanan tanpa 豚肉/ポーク (babi) ataupun 酒 (tuak). Biasanya, akan direkomendasikan menu seperti:

  • Hamburger daging sapi 「牛ハンバーガ」/gyuu hambaaga/.
  • Ayam saus「チッキンかつ」/cikken katsu/
  • Kroket Kepiting「かにクリームクロッケト」/kani kuriimu krokketo/ ¥700
  • Goreng udang「フライえび」/furay ebi/ ¥900

Menu ini disajikam dalam bentuk 1 set bento (bekal), yang terdiri dari: menu pilihan, nasi, miso sup dan air mineral. Rasanya cukup pas dengan lidah Indonesia, tidak terlalu berbumbu/pedas/manis (recommended buat pecinta selera nusantara).

Dekorasi restoran inipun terbilang unik. Ada lukisan Lutfi One Peace (anime Jepang yang sangat populer di Indonesia); juga lampu hias yang simple tapi manarik.

Gallery

たこ焼き (Takoyaki)

Takoyaki merupakan makanan tradisional dari Osaka, Jepang. Cemilan berbentuk bola ini tergolong unik, terutama cara pembuatannya.

Bahan utama yang diperlukan untuk membuat takoyaki adalah tako alias gurita. Kemudian, tepung (ada yang dijual dalam kemasan khusus), telur kira-kira 3 butir (sesuaikan dengan petunjuk dibungkus tepung khusus takoyaki, atau sesuai selera), air matang, abon ikan (halus), bawang putih crispy, negi (daun bawang khas Jepang), asinan jahe dan minyak goreng.

Sementara, panci yang digunakan, khusus untuk pembuatan takoyaki yang memiliki bentuk setengah bulat. Jumlah diameter bulatan dalam setiap cetakan relatif, tergantung desain dari produk yang digunakan. Selain ini, ada pengait khusus yang nantinya dipakai untuk membolak-balikkan takoyaki yang setengah kering.

Awalnya, tuang tepung khusus takoyaki ke dalam wadah. Tambahkan telur dan air, aduk rata. Potong tako dengan dengan ukuran sedang. Berikut, potong negi, jangan terlalu halus.

Agar adonan tidak lengket dan mudah diangkat, taburkan minyak goreng seadanya ke dalam cetakan. Settingan api sedang. Lalu, tambahkan bawang goreng crispy, adonan tepung, tako, abon ikan, asinan jahe dan negi.

Ketika masakan setengah matang, gunakan pengait khusus untuk membolak-balikkan takoyaki hingga kering. Dalam hal ini, juga perlu keahlian khusus.

Setelah takoyaki sudah berbentuk bola dan warnanya berubah kecoklatan, angkat dan sajikan. Biasanya, makanan yang enak dikonsumsi selagi hangat ini, ditaburi dengan mayonaise (mayones) dan saus khusus takoyaki yang berwarna coklat. Tapi, di toko tertentu, atau orang tertentu, terkadang mengombinasikannya dengan saus tertentu sesuai keinginan.

Selain penyajian, sebagian besar cara pembuatanpun berbeda-beda. Umumnya, yang dijual di berbagai tempat, terbuat dari adonan tepung yang sudah dicampur dengan bahan-bahan tertentu (seperti: telur) dan tako. Setelah matang, ditambahkan saus khusus dan mayonaise, baru ditaburi negi dan abon ikan (kasar). Sementara asinan jahe, kadang dipisahkan dalam penyajiannya.

Di Indonesia, takoyakipun menjadi salah satu makanan yang cukup favorit, tentunya dengan versi yang beragam pula. Ada yang menambahkan sayur seperti potongan kol ke dalam adonannya. Tapi, soal rasa, tidak terlalu jauh berbeda, karena dibuat dengan bahan utama yang sama, yaitu tako.

Referensi
  • Resep ini diadopsi dari Resep Takoyaki ala ももよ先生。

Menjejak Di Negeri Sakura

Prolog

Yah, “waktu ibarat roaller coaster“.. Saking cepatnya, tak terasa telah memasuki bulan ke-5 di negeri sakura. Banyak hal yang ingin dishare, tapi.. tidak cukup waktu, semua cerita yang telah terkonsep dipikiranpun perlahan mulai blur ditimpa sekelumit aktifitas yang cukup menguras pikiran (hee.. ga segitunya juga keles..).

15 Juni 2016, ibarat kata ‘hari bersejarah’. Setelah beberapa kali gagal go international (ciileh), dan melalui hari-hari terberat sekontras warna-warni konflik didalamnya, akhirnya tanah samuraipun tersapa juga. Dan, jika ada yang bertanya “bagaimana kesan saya?”, ‘biasa saja’..

Jika saya harus flash back, melihat siapapun yang pernah ke luar negeri, dalam pikiran saya “mereka hebat!”, dan saya tidak pernah terpikir akan benar-benar merantau jauh dari Ranah Minang, meninggalkan zona nyaman terbaik sepanjang hayat.. Namun, support yang tak kalah besarnya menyeberangkan saya melintasi nasib yang tak terduga. Karenanya, sayapun punya slogan baru “saya orang bingung yang beruntung“.

16 Juni 2016
Welcome to Japan

Kala itu (15/06/2016), saya menggunakan jasa penerbangan JAL (Japan Air Line), Garuda-nya Jepang. Take off dari Bandara Soetta (Soekarno-Hatta) Jakarta sekitar pukul 10 malam dan landing sekitar pukul 5 subuh di Bandara Narita, Tokyo.

  • 05.00 Bandara Narita, Tokyo.
  • 08.15 Go to Tokyo, melewati Tokyo Tower, Sky Three, dll.
  • 09.09 Bandara Haneda.
  • 13.40 Osaka International Airport.
  • 14.19 Go to Osaka dengan bus.
  • 16. .. Asaka-shi, Osaka.

Penerbangan Jakarta-Tokyo memakan waktu sekitar 8 jam. Meskipun ini bukan kali pertama mengudara, entah kenapa, saat itu saya merasa nano-nano, perasaan menjadi campur-aduk.. Untungnya, cuaca saat itu cukup bersahabat. So, perjalanan yang melelahkan itu berlanjut hingga transit menuju Osaka.

Penerbangan Jepang-Osaka memakan waktu sekitar 2 jam. Akhirnya, dengan segala persinggahannya, sampailah di Asaka-shi pukul 4 sore, Osaka. Tidak hanya sekedar melepas penat, markas ini juga akan menjadi shelter bagi saya dan para penjejak lainnya hingga 6 bulan ke depan. Antara percaya dan tak percaya, ini Jepang! Dan, saya sudah sampai di Jepang! Banzai!!

Minggu Pertama

Jepang.. Yah, banyak hal positif yang sering banget didengar tentang negera ini; budayanya.. kreatifitasnya.. disiplinnya.. apalagi komik dan cartoon-nya.

Meskipun seharian rehat belum memulihkan kelelahan, saya dan para penjejak yang dasarnya punya darah “R”; darah spesial yang tidak termasuk dalam golongan darah secara teori, “R” singkatan dari raun-raun, bahasa Minang yang berarti suka bepergian; telah mengelana ke Abiko, pusat pertokoan terdekat dari shelter.

Anehnya, tidak ada yang wah. Tidak seperti yang dibayangkan sewaktu di Indonesia. Hanya saja sedikit merasa “terasing di negeri asing” (meminjam kutipan dari sahabat saya, Meichan).

Dimensi Lain

Tata kotanya memang lebih rapi dan bersih. Semua bangunan hampir memiliki pola dan warna yang mayoritas sama. Dimana-mana bertebaran tulisan kanji dengan beragam bentuk, membuat saya seolah-olah menyeberang ke dimensi lain, seperti tiba-tiba tersedot ke mesin waktunya si Doraemon!

Jet Lag

Kadang, saya tiba-tiba merasa pusing, tiba-tiba berasa gempa! Faktanya, ini hanya efek jet lag alias mabuk penerbangan, akibat perjalanan jauh.

Yen

Pertama kali menerima mata uang Jepang, yen; saya bingung.. Jumlahnya kecil 2 angka dari rupiah. Kalau di Indonesia uang Rp 50,- saja sudah tidak terpakai, disini ada nominal ¥1 (1 yen)!

Biasanya paling malas membawa duit receh kemana-mana, meskipun dengan massa yang sudah cukup ringan. Tapi, disini, koin-koin mungil itu sangatlah berarti. Mau belanja seharga berapapun, pasti lebih banyak dikembalikan dalam bentuk koin.

Walhasil, disini juga dijual kotak koin praktis yang didalamnya sudah ada sekat-sekat pembatas nominal yang bisa diatur penyimpanannya. Benda praktis ini bisa dibeli di berbagai toko, terutama di ¥100 shop (toko serba 100).

Kanji, kanji & kanji!

Berbeda dengan Indonesia yang hanya menggunakan huruf romaji, Jepang memiliki 4 jenis huruf: hiragana, katakana, kanji dan romaji. Jadi, buat yang ingin mengenal Jepang, harus kenal juga dong dengan tulisannya, terutama kanji!

Sedikit mengulas tentang kanji, huruf ini diadopsi dari Cina. Meskipun begitu, huruf yang sama dengan arti yang sama, memiliki cara baca yang sangat berbeda dengan negeri asalnya. Dan, diantaranya memiliki bentuk yang nyaris sama, belum lagi kombinasinya, siap-siap puyeng dah! Tapi, kalau sudah mengerti, memang lebih enak menggunakan kanji, lebih singkat, tepat dan praktis.

Ceritanya, pertama kali ke supermarket Jepang (kebetulan stok yang dibawa dari Indonesia sudah mulai menipis). Saat mencari kebutuhan sehari-hari, seperti shampo dan facial foam (sabun wajah), saya dan teman-teman butuh waktu berjam-jam hanya untuk membaca petunjuk pemakaian. Semua ditulis dalam kanji!!! Hanya beberapa kata yang menggunakan katakana dan hiragana, apalagi romaji?!

Beberapa merk ada yang mirip dengan produk-produk yang ada di Indonesia. Tapi.. itu untuk wajah, badan, rambut atau bagaimana?! Terus, kalaupun untuk wajah, itu krim, pelembab, foam, penyegar, atau apa??

Supermarket disini tidak sama dengan di Indonesia yang karyawannya bisa ketemu di setiap perbelokan, yang pasti standby hanya kasir saja. Nah, kalau sudah bertanya 1-2 kali, tapi yang dimaksud tidak juga ketemu, watak Indonesia-nya muncul “jadi segan..”.

So, ujung-ujungnya, semua dipotretin, biar nanti bisa dikonfirmasi ke sensei (tutor); maklum.. belum punya akses internet, jadi kalaupun punya aplikasi kanji tetap tidak bisa dipakai saat itu.

Lucunya itu saat mencari pasta gigi alias odol. Setelah mendapat rekomendasi dari sensei, dengan sumringahnya langsung bergerak ke supermarket terdekat. Tapi.. “yang mana ya?!” Tenang, saya sudah menanyakan odol yang persis sama dengan yang sensei pakai..

Bermodalkan foto screenshot, dalam waktu singkat, yang dicari langsung ketemu. Tapi.. ada jenis lainnya juga, lho.. “Hm, bagaimana kalau mengambil jenis yang berbeda?!”.

Dan, tahukah Anda, saya hampir membeli perekat gigi palsu!! OMG.. Mulai dari kemasan hingga kanji giginya sama, untung saja sempat mengamati gambar dibalik kemasannya yang disadari segera sebelum ke kasir! Bayangkan deh, ini lem kalau beneran saya jadikan odol?! haha..

Ngulik Kuliner Jepang

Hal pertama yang cukup mengkhawatirkan menjelang  tiba di negeri sakura, terutama bagi penganut muslim dan advent, tentunya makanan. Di seantro Jepang, otomatis didomonasi oleh pangan yang terbuat dari babi dan juga berbagai minuman jenis oshake (tuak).

Untungnya, di shelter saya, mereka sudah terbiasa menerima pendatang dari berbagai negara, jadi menu ataupun microwave di shokudou (kantin) sudah diberi label “halal” dan “no halal”. Tidak hanya itu, bagi vegetarianpun juga diberi pelayanan yang sama, menu dan microwave khusus vegetarian. Proud of my shelter’s shukudou so much dah!

Tadinya, sedikit mumet ketika mau mencicipi aneka makanan yang cukup bikin ngiller selama jalan-jalan paniang (bepergian untuk sekedar bersantai). Alon-alon kelakon, mulai berani bertanya dengan bahasa jepang seadanya, dan, sampai sekarang mulai banyak referensi tempat halal yang bisa disinggahi. Tidak hanya halal, tapi juga ekonomis! Mau tau?!

Takoyaki

Di sekitar abiko, ada toko kecil takoyaki di seberang supermarket gormet (gormeit). Disini yang jualan 2 orang ibu-ibu, saya memanggil mereka obasan. Bukan hanya punya masakan enak dan murah, mereka juga sangat ramah; serasa berada di Indonesia! Selain takoyaki, juga ada okonomiyaki (pizza ala Jepang) dan mie goreng, tapi sayangnya ada buta-nya, alias babi, no halal. Takoyaki dan 2 masakan ini dibuat dengan wadah terpisah, so, I think it’s OK.

Ayam Goreng

Masih di daerah Abiko, tepatnya di lantai 2 Plaza Abiko, ada restoran yang namanya Saizeriya. Disini ada menu ayam goreng murah, hanya ¥299 dapat 5 potong sayap dengan rasa yang cukup sesuai dengan lidah Indonesia. Selain itu, juga ada pizza, tentunya masih dengan harga ekonomis! Recommended by Fatma, a.k.a Lidi. Ternyata, restoran ini juga ada di Namba, lho..

Masakan Indonesia

Ada 2 cafe Indonesia yang populer dikalangan perantau, Balibong yang bernuansa Bali di Abiko dan Cafe Bintang yang bernuansa Jawa di Shinsaibashi (Namba). Selain itu, juga ada beberapa wirausaha tertentu yang menyediakan pemesanan makanan Indonesia online via delivery.

Wassalam..

Hm.. by the way, segitu dulu ya intermezo-nya.. To be continued..

Ayam Goreng Enak di Abiko

Di seberang Stasiun Abiko pintu 1, tepatnya di lantai 2 Plaza Abiko, ada restoran yang namanya Saizeriya. Disini ada menu ayam goreng murah, hanya ¥299 dapat 5 potong sayap dengan rasa yang cukup sesuai dengan lidah Indonesia. Recommended banget buat pendatang dari Indonesia yang lagi nyari menu murah tapi rasa Indonesia. Sayangnya, buat yang suka pedas, disini memang disediakan cabe bubuk yang sama sekali tidak pedas.

Selain itu, juga ada pizza, tentunya masih dengan harga ekonomis! Ternyata, restoran ini juga ada di Namba, lho..

Gallery
Lain-lain
  • Recommended by Fatma, a.k.a Lidi.

Osaka City Central Public Hall

Salah satu bangunan yang paling terkenal di sekitar Taman Nakanoshima (Nakanoshima Park) adalah gedung bercat merah dengan gaya klasik, gedung ini bernama Osaka City Central Public (Pusat Bisnis Kota Osaka). Gedung megah ini didirikan sejak tahun 1918, biasanya digunakan warga untuk acara seni dan budaya.

Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa sumber, dahulunya tempat ini merupakan gedung pustaka lama sebelum dipindahkan ke gedung dibelakangnya, tepat satu gedung setelah Osaka City Central Public. Pengunjung boleh memasuki gedung ini secara gratis.

Uniknya, gedung 3 lantai ini terbuka untuk umum, namun pengunjung hanya boleh menapaki area berwarna hijau dari denah yang telah disediakan. Selain itu, menjelang lantai 3, di tengah luangan tangganya dipasang jejaring dari untaian tali yang cukup kuat; sepertinya ini salah satu cara untuk meningkatkan keamanan pengunjung. Jika tidak ingin menggunakan tangga, pengunjung bisa menggunakan lift.

Di lantai dasar (basement) terdapat sebuah toko kecil tempat pembelian oleh-oleh (omiyage). Berbagai cenderamata, kue kering dan aneka permen dijual disini. Harganyapun relatif, berkisar antara 500¥ hingga 1.000¥. Toko ini buka dari pukul 10.00-18.00 (waktu Jepang).

Tidak jauh dari toko, terdapat museum mini yang menggambarkan sejarah berdirinya Osaka City Central Public. Tempat ini bernama Exhibition Room yang buka dari 09.30-20.00 (waktu Jepang). Beberapa leaflet (informasi) tentang Museum Osaka dan lainnya bisa diambil secara gratis disini; hanya saja, tersedia dalam Bahasa Jepang yang didominasi oleh kanji dan  beberapa diantaranya disajikan dalam Bahasa Korea dan Bahasa Inggris.

Tepat di depan Exhibition Room, ada restoran bergaya barat. Menu yang disuguhkan cukup variatif, seperti paket kare dengan seafood, kare dengan daging, desert dan aneka minuman. Untuk paket lunch (makan siang atau hiru gohang), harga berkisar 1.250¥. Sementara desert dan minuman mulai dari 500¥. Fasilitas yang didapat diantaranya gratis air mineral dan Wi-Fi.

Gallery

Menyapa Djogja 2016

Liburan kali ini tergolong nekad, dengan bajet pas-pasan akhirnya sampai juga di Djogjakarta, kota yang terkenal dengan wisata alam dan budayanya. Padahal, misi ini berawal dari niat silaturrahim, namun seiring perkembangannya malah berubah menjadi tour selama 3 hari berturut-turut.

Berikut ringkasan cerita perjalanan saya selama di Djogja, sepenggal kisah, menelisik kembali jejak di masa lalu, “Djogja, saya kembali…”

Rabu, 4 Mei 2016
Go to Djogja
  • 17.00 Standbye di Terminal Pasar Minggu.
  • 17.30 Berangkat (Jakarta-Djogja) dengan Bus Sumber Alam Super Excecutive, ongkos Rp 165.000,-. Fasilitas: Bangku 2-2, toilet dan AC.
  • 23.00 Berhenti di Indramayu, makan di tempat yang lebih mirip barak. Disini terhidang prasmanan yang langsung dibayar (harga standar Rp 20.000,- tanpa air mineral), lalu kita bisa memilih tempat duduk sesukanya. Disini juga tersedia toilet, mushalla, makanan-makanan, minuman, tempat mengecas HP, wedang jahe, dll.

Ada kejadian banyol juga nih. Sesaat setelah turun, saya langsung mendongakkan kepala ke arah belakang, menandai apa yang bisa ditandai dari bus yang kita naiki, saking banyaknya bus yang parkir disini udah ngalah-ngalahin terminal! 😀 Dan, saya fokus ke angka 072, yah, harus ingat!

Tadinya, dengan wajah oon, saya menelisik sekitar dan menyimpulkan “mungkin ini tempat razia bus-bus kali, ya.. Tapi kok aneh?!” Haha, sampai sekarang saya masih geli sendiri mengingat kalau itu adalah barak tempat pemberhentian bus sementara untuk makan, toilet, dan sebagainya 😀

Saya dan Nanad, teman seperjalanan saya, duduk santai di kursi yang ada sambil mengecas hp. Tidak ada satupun diantara kita yang tau busnya akan berangkat jam berapa.

Sementara itu, saya mulai tergiur dengan wedang jahe, penasaran mencicipi seperti apa rasanya, samakah dengan skoteng dan sejenisnya?! Mari dicoba.

Lama menanti, empunya jualan tak muncul-muncul. Tiba-tiba, pandangan saya langsung tertuju pada bus kami, dia beringsut ke arah belakang dan langsung berjalan meninggalkan barak; tidak, bukan hanya barak, tapi KAMI!!! Serangan panikpun mulai menyerang, saya memanggil-manggil Nanad buat mengejar bis itu. Seorang bapak-bapak membantu dengan menunjuki arah kemungkinan bus itu berlalu sebelum meninggalkan lokasi barak.

Ketika sedang sibuk-sibuknya, mencari arah. Tiba-tiba Nanad seperti membangunkan saya dari tidur. Ternyata saya salah menandai bus!! MasyaAllah… benar-benar.. antara mau ngakak dan lelah pasca panik, hahaha.. Beruntung tepat saya sadar sesaat bus yang sebenarnya akan benar-benar berangkat 😀

Kamis, 5 Mei 2016
Gunung Kidul
  • 06.30 Loket di Kebumen, berhenti untuk sarapan.
  • 07.15 Berangkat..
  • 09.50 Terminal Giwangan
  • 10.00 Misi ke pantai bareng trio eksis. Let’s go..

Bergerak menuju Gunung Kidul, melewati Bukit Bintang. Banyak hal jadi bahan omongan, dan, walhasil, muncullah gelar duta korea, duta sinetron dan raja batu akik 😀 (gila-gilaan).

Uniknya, sepanjang jalan banyak ditemukan penjual yang menjajakan walang goreng, atau belalang goreng, biasa dijual sekitar Rp 20.000,- berisi 5 belalang yang telah dikeringkan dan digoreng.

Trip pertama ke Pantai Indrayanti, melewati simpang Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Krakal (100m sebelumnya), Pantai Sadranan (tempat snorkling), dll. Disini kita sempat ragu dan berbalik arah karena plang Pantai Indrayanti yang tidak kunjung ditemukan dan koneksi internet yang kurang bagus. Tapi kita tidak menyerah dan akhirnya benar-benar sampai di Pantai Indrayanti.

Sebelum bergerak ke pantai, saya beli topi dulu (Rp 30.000,-), secara puanas buangettt… Lalu dengan semangat 45, kita menantang matahari menuju pantai. Berhubung energi masih full, kita memutuskan untuk mendaki bukit (di bibir pantai) terlebih dahulu. Menurut Ikbal, pemandangan dari atas mirip Bali! Mari kita buktikan..

Dengan membayar uang sukarela, kita lanjut mendaki melalui jalan setapak yang telah dibuat berundak sebagai jenjang, dan… luar biasa…. pemandangan yang sangat indah… Tak ayal kita langsung pasang gaya jepret sana-sini, hee.. biasa, kekinian.. 😀

Setelah puas berselfieria, kita menuju parkiran dengan trip selanjutnya Pantai Baron. Sekaligus makan siang disana. Sebelum berangkat, kita cuci mata dulu liat-liat koleksi makanan disini. Ada kripik rumput laut dan kripik undur-undur (hewan mungil yang biasa ditemukan di pasir pantai), 3 bungkus besar Rp 10.000,-; ekonomis, bukan?! Rasanya juga gurih, hm…

Pantai Baron berada sekitar 15 menit dari Pantai Indrayanti. Bedanya, untuk ke pantai ini kita mesti berjalan dulu sekitar 15 meter dari tempat parkir. Bukan cuma itu saja, pantai ini juga punya keunikan tersendiri, air lautnya ada rasa asin dan tawar. Air tawar ini berasal dari sungai mengalir dari bawah bebatuan menuju laut. Selain itu, menara suar juga menjadi daya tarik lainnya dalam menikmati pantai dan sekitarnya dengan pesona yang menakjubkan.

Untuk menuju menara suar, kita bayar Rp 2.000,-/orang, dibayar pada saat menaiki bukit. Di atas bukit, kita juga bisa sewa mobil golf. Insert masuk menara Rp 5.000,-/orang. Anda cukup mempersiapkan tenaga ekstra demi mendaki menara setinggi 40 meter dengan 9 lantai ini, tapi capek itu akan terbayarkan ketika Anda sampai di puncak menara; percaya deh…

Jum'at, 6 Mei 2016
Candi PrambananKeraton Ratu Boko, Malioboro,0km, Alkid

Kali ini saya bersama unjut bontot bergerak ke Candi Prambanan. Start pukul 08.30 WIB. Kita ambil paket Candi Prambanan + Kerato Ratu Boko, tiket Rp 50.000,-/orang. Setelah puas mengitari Candi Prambanan, kami mendaftarkan tiket ke Keraton Ratu Boko dan menunggu antrian sambil melepas lelah di bangku taman, tepat di sisi depan sebelah kanan suttle bus. Kita dapat nomor urut 07, beruntung ada kosong 2 bangku dan kita berangkat lebih awal dari nomer antrian sebenarnya.

Waduuuu… Djogja fuanaazzz, bok.. Badan kita sampai berkuah, hhaha… Padahal, masih banyak tempat yang mau dikunjungi, termasuk tempat pemandian Ratu Boko, yang menjadi tempat shooting AADC2 (Ada Apa Dengan Cinta 2), namun.. じかんが ないよ (waktu terbatas). So, kita segera balik, mengingat harus menunggu antrian bus buat kembali ke Candi Prambanan lagi.

Sehabis maghrib, saya bergerak menuju Malioboro. Sebelum ke Djogja, Lisa sudah memberitahu, keliling pake becak disini itu murah, hanya Rp 5.000,-. Tapi, unjut bontot sempat ngedumel, harus pandai-pandai nawar.

Sebelum pergi, saya bertanya ke recepcionist tentang arah ke Malioboro, ternyata cukup jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Mau pesan ojek online juga ga ngerti lokasi detail ini hotel.. Wes, ke depan langsung ketemu becak, dan.. saya kaget dong, ke Malioboro kata Bapaknya Rp 40.000,-. Beliau sampai bilang-bilang “nol kilometer” lagi, saya mah kagak ngerti atuh…

Sepanjang jalan saya bertanya-tanya terus “nol kilometer itu apa??” Si Bapak sampe rada kesal, karena saya kagak ngerti mulu, padahal suara si Bapak yang sayup-sayup sampai ditelan keramaian, jadi sayapun makin bingung, yang kedengaran selalu “nol kilometer”, fuuh…

Teman saya, Nanad sudah sampai di Malioboro sedari tadi dan dia nungguin saya di depan Bringharjo. Anehnya, kok Malioboro yang katanya deket dari penginapan saya, malah belum sampai-sampai ya?! Dengan nyinyir saya bertanya pada si Bapak, eh… ternyata, dari tadi itu maksud si Bapak, jalan yang biasa macet, jadi kita keliling dulu sekalian ngeliat wisata lain, bah!

Untuk menyimpulkan pembicaraan dengan si Bapak aja saya harus memeras otak nih, banyak kosakata baru yang tidak saya mengerti dan ternyata itu nama tempat, seperti: 0 km (nol kilometer) dan Alkid (Alun-alun Kidul), hadeuuuh… Jangan-jangan dikira si Bapak, saya tau nama-nama yang beliau maksud, makanya sempat gimanaa gitu karena saya sering menanyakan nama yang sama.

Sepanjang jalan, saya diomeli unjut bontot dan Nanad, mereka sempat menyesalkan karena saya tidak pandai memilih becak, paling mahal dari Hotel Nidia ke Malioboro hanya Rp 10.000,-. Yah, apa boleh buat, jadi lucu sendiri.. 😀

Jalanan di Malioboro rame bangett.. Bahkan, untuk ketemu Nanad aja harus kesana-sini, saking butanya sama tempat. Setelah ketemu, kita jalan hingga 0 km. Tak lama kemudian, unjut bontot beserta sahabat muncul ikutan gabung.

Dengan dialog tingkat tinggi (wkwwk.. berle), walhasil kita putuskan ke Alkid. Apesnya, gegara macet, kita baru lengkap semua personil pada pukul 23.00 WIB. Kita batal naik mobil-mobil unik yang didesain dengan lampu warna-warni gegara macet panjang dan waktu yang mulai menunjukkan jam rehat. Kita cuma nongkrong makan jagung bakar dan teh es.

Disini, dapat cerita dari sang raja batu akik; ada mitos yang terkenal disini. Kalau mampu berjalan dengan menutup mata dari pohon beringin besar sampai pohon beringin kecil di tengah lapangan Alkid ini, artinya cita-cita kita bisa terwujud. Sekalipun kita berjalan didampingi seseorang (bisa teman, keluarga atau pacar), tetap mereka tidak boleh memberitahu kalau kita salah arah. Dan, memang, ada yang bisa salah arah, meskipun jaraknya hanya sekitar 5 meteran gitu, salah satunya si raja batu akik sendiri yang baru sukses untuk ketiga kalinya mencoba 😀

Sabtu, 7 Mei 2016
Good Bye Djogja..

Waaa… ga berasa liburan 3 hari di Djogja ini berasa singkat banget… Masih banyak tempat yang batal dikunjungi, seperti hari ini yang tadinya punya agenda ke Taman Sari, Benteng, Malioboro dan ke pabrik bakpia. Ujung-ujungngnya, cuma bisa merealisasikan 2 poin terakhir, ざんねんね。

Pukul 14.30-an, kita baru makan siang. Unjut bontot ngajakin ke Waroeng Steak yang jadi favoritnya mahasiswa, karena harganya yang miring, hee… Setelahnya kita go ke Terminal Giwang. Untungnya, Nanad sudah memesankan saya tiket, jadi tinggal nunggu bus.

Awalnya, kita dapat info berangkat dengan Bus Nan Tunggal jam 16.00 WIB, tiket Rp 170.000,- dengan fasilitas AC tanpa toilet. Eh, walhasil naik Bus Pariwisata jadinya. Ceritanya, ini bus cadangan kayaknya yang disiapin pihak terminal atau agen, karena bus yang berangkat pada waktu ini udah full semua.

Entah apa yang salah dengan busnya, kita jadi merasa seperti naik andong dengan fasilitas AC. Kebayang kan, gimana sikon kita didalamnya?! 😀

Jam 22.00 WIB kita berhenti makan dan rehat. Lucunya, saya dan Nanad sempat mampir ke prasmanan yang ada hiburan nyanyinya, eh salah masuk rumah makan, haha…

Nah, ketika masuk di rumah makan yang tepat, saya pesan sate Rp 14.000,-. Jangan kaget, sate disini tidak pakai ketupat, kalau mau karbohidrat, empunya resto punya nasi yang ditawarin. Sementara, Nanad pesan nasi goreng. Rasanya lumayan enak untuk ukuran lidah kita (orang Sumatera) yang notabennya terbiasa dengan makanan pedas dan berbumbu..

Minggu, 8 Mei 2016
Apes yang Berketulungan tapi Penuh Tantangan

Yah, apes yang tak berujung.. Kita yang awalnya akan turun di Terminal Lebak Bulus, eh malah mau diturunkan di jalanan dekat RS Fatmawati.. Setelah menuai protes pada sang sopir akhirnya kita diturunkan dipinggir jalan setelah mereka mendapatkan angkot merah menuju Terminal Kampung Rambutan.

Menurut perbincangan sesama penumpang, sepertinya bus itu rusak. Namun, sangat disayangkan perjalanannya malah jadi seperti ini, tapi yah.. apa boleh buat?! Kita turun di Terminal Kampung Rambutan dengan membayar sewa angkot Rp 5.000,-/orang.

Sebenarnya, untuk menuju Lenteng Agung, bisa menaiki angkot merah dengan kode 19; namun, karena barang bawaan kita banyak dan mulai lelah, akhirnya pesan ojek online. Sekitar pukul 11.00 WIB kita sampai di Lenteng Agung dalam perjalanan sekitar 20 menit.

Perjalanan panjang yang melelahkan tak pernah lengkap tanpa adanya tantangan. New friend, new family, new life. Kebahagiaan datang seiring eratnya jalinan silaturrahim.

Terima kasih Djogja.. 3 hari yang sangat menyenangkan. Beautiful moment with Iqbal, Herry, Ilham & Nadia (a.k.a Nanad).

Gallery

Bakso Setan

“Bakso Setan”??? Mendengar namanya saja udah seram ya, tapi tidak untuk rasanya yang hmmm… super!! Berlokasi di depan RST (Rumah Sakit Tentara) Gantiang (Kota Padang),  di antara rumah makan dan agen tour dekat bundaran RST. Cukup merogoh kocek sebesar Rp 18.000,- kita bisa mengecap maknyusnya semangkok Bakso Setan atau Bakso Super ini. Buat yang mau ditambah mie, harganya menjadi Rp 19.000,-.

Dishare oleh Geni pada 4 Maret 2016.

Karambia Cafe & Hang out

Cafe baru ini terletak di Jl. Batang Arau (Daerah Jembatan Siti Nurbaya), tepatnya di sebelah SPBU. Ciri khasnya, cafe yang baru buka pada tanggal 17 Februari ini menggunakan logo cikal kelapa (seperti lambang pramuka), terlihat jelas dari display merk cafenya.

Sesuai namanya, dekorasi cafe ini berasal dari karambia (bahasa Minang dari kelapa), batang pohon kelapa hingga tampuruang (batok kelapa). Bahkan, tempat duduk di beranda cafenyapun menggunakan bahan dasar pohon kelapa. Selain itu, dekorasi dindingnya terbuat dari kulit pohon. Ada juga gantungan lampu dengan cup-cup dari batok kelapa.

Yang tak kalah unik, menurut cerita dari salah seorang tukang parkir, dahulunya bangunan Karambia Cafe ini adalah gudang lama yang disulap menjadi cafe nan kece badai.

Penyajian makanannya khas banget dengan batok kelapa yang masih seperti setengah buahnya, keren!! Menunya variatif dengan harga yang relatif, seperti: milkshake Rp 22.000,- dan bihun seafood Rp 26.000,-.

Info kece ini dishare oleh Geni. Begitu juga dokumentasinya, diambil dari album koleksi Geni.

Nasi Goreng Nyam-nyam Gardu

Hayo lhooo…. yang baru stay di Lenteng Agung.. ada nasi goreng favorit nih disini, khususnya yang tinggal di asrama atau kosan, kece banget.. OK rasanya juga OK kantongnya, yang nggak OK itu antreannya.. 😀

Makanan khas Indonesia yang satu ini dijual di tempat yang sederhana berupa emperan di tepi jalan. Tepatnya, berlokasi di simpang Jl. Gardu, Serengseng Sawah, di antara KFC Lenteng Agung dan Roti Bakar 88, sekitar 15 meter dari Stasiun Lenteng Agung (Jakarta Selatan).

Tempat ini buka pukul 7 malam, setelah waktu Maghrib. Jadi, jika  tidak ingin menunggu lama, datang saja lebih awal supaya tidak berurusan dengan antrean panjang. Karena, biasanya lewat dari pukul 7, yang beli tak terhitung banyaknya, sampai berdiri di depan gerobak empunya nasgor!

Menu disini variatif, mulai dari nasi goreng dengan berbagai pilihan, hingga kwetiau dan aneka mie. Harga relatif ekonomis, berkisar antara Rp 10.000,- hingga Rp 20.000,-.

Penasaran?! Jangan lupa mampir ya.. Selain Nasi Goreng Nyam-nyam Gardu ini, disekitarnya juga ada martabak yang lezat, pecel ayam nan maknyus, roti bakar dan juga kentucky; mantap dah.. Tapi, jangan makan berlebihan ya, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, terutama buat tubuh kita sendiri 😉

Tabiang Takuruang

Buat teman-teman penggemar cartoon pasti tidak asing dengan serial Avatar. Nah, salah satu gambar(backround)nya mirip dengan bukit yang ada di panorama ini, berada di kawasan Ngarai Sianok, Kabupaten Agam. Oleh karenanya, bukit nan unik ini juga disebut sebagai Bukit Avatar oleh sebagian kecil orang yang pernah melihatnya, terutama penggemar cartoon Avatar.

Tempat ini dinamakan Tabiang Takuruang, satu-satunya tebing yang dikelilingi oleh banyak tebing yang agak jauh di sisi lainnya. Jalurnya melewati jalan kecil yang belum diaspal, masih berkerikil, namun bisa dilewati oleh kendaraan seperti mobil. Akses ke lokasi menggunakan angkot (angkutan kota) berwarna  merah jurusan Jambak (Koto Baru)-Bukittinggi.

Sekitar 400 meter dari simpang kecil akan ditemukan papan penanda “Taruko Cafe”. Cafe ini dikelola oleh anak-anak muda yang saangat kreatif. Nuansa natural khas alam pedesaan-pun siap memanjakan pengunjungnya. Duduk di cafe ini menawarkan ketenangan, sejuk, pemandangan nan elok (tebing yang unik, ngarai dan sungai dengan air jernih yang mengalir konstan, bangunan menyerupai rangkiang, ada kolam dan angsa). Perfect!! Sungguh mahakarya Sang Pencipta yang wajib dikagumi dan disyukuri.

Kita tidak perlu repot-repot membawa bekal, karena di cafe ini tersedia menu dengan harga relatif. Untuk makanan, kita bisa merogoh kocek mulai dari Rp 18.000,-an dan minuman mulai dari Rp 10.000,-an.

Info destinasi yang mulai menjadi primadona ini dishare oleh Geni, berikut dokumentasinya.

Waroeng SS

Hayo lho… yang berada di Depok dan sekitarnya kudu nyobain gih kuliner maknyus yang satu ini. Disini terdapat aneka sambal dan menu dengan rasa mantap dan harga yang cukup ekonomis.

Untuk sambal mulai dari Rp 2.500,- dan aneka lauk (ayam, ikan, seafood, dll) rata-rata Rp 7.500,-. Selain itu, juga tersedia aneka minuman.

Waroeng SS memakan waktu sekitar 10 menit dengan menaiki angkutan kota (angkot) setelah lampu merah dari lokasi Margo City. Tatanan tempatnya juga nyaman, cocok banget buat sekedar ngedate atau makan bareng, terutama buat yang lagi ulang tahun dan berniat mentraktir teman (bajet ekonomis!) 😀

Tempat ini recommended by Lisa & Otan.

Mie Udon

Yang doyan kuliner, kudu nyobain nih menu kece yang satu ini, namanya mie udon (baca: udong). Mie ini makanan khas dari salah satu daerah di Jepang, bentuknya lebih besar dari ukuran mie biasanya. Nah, buat yang lagi di Jakarta, bisa nemuin menu ini di Margo City atau Gandaria. Porsinya gede!! So, sebaiknya siapin lambung cadangan ya sebelum kesini 😀 Harganya sekitar lima puluh ribuan sesuai porsi dan rasanya yang perfecto lezatto. Nggak cuma itu, ada banyak pilihan menu lainnya juga lho.. tentunya ada juga yang ekonomis 🙂

Sate Di Jl. Minang Bukittinggi

Buat yang lagi walking out alias jalan-jalan di Bukittinggi, terus sampai di Jalan Minang malah bingung mau nyobain kuliner apa. Nah.. ada sate maknyus nih disini, siapa sih yang nggak kenal sama Sate Mak Aciak.. Hm, yummy…
Sate ini terdiri dari daging sate dengan potongan cukup besar (untuk ukuran daging sate yang biasanya), jenisnya daging yang berlemak (gomok), lalu diberi bumbu dan dibakar; ketupat (katupek) yang dipotong agak besar; kuahnya berwarna kuning (sepertinya ini termasuk jenis Sate Agam). Rasanya, jangan ditanya, klop banget!! Maknyus…!!
Buat yang lambungnya nggak punya cadangan, alias nggak bisa makan banyak, mending nyobain setengah porsi dulu seharga Rp 13.000,-. Disini juga disediain kerupuk ubi (ukuran kecil) dan yang unik adalah kerupuk kulit (karupuak jangek) ukuran jumbo. Hm, sedaaaap bener…
Nah, buat yang mau bungkus bawa pulang, tapi rumahnya jauh, takut basi; jangan kuatir, bisa by request juga kok. Ntar minta pisahin aja kuah sama daging dan ketupatnya. Selain sate bumbu, juga ada menu lainnya yang bisa dilihat di foto berikut ini.