Arsip Kategori: Oleh-oleh

Buah tangan dari suatu daerah

Tokushima Mosque Open Day

Tokushima Mosque Open Day diselenggarakan oleh Sentral Islam Tokushima dengan tema ‘Mengenal Budaya Islam’. Event ini terbuka untuk umum.

Bertempat di Tokushima Mosque, Jepang, 〒770-0052 Tokushima Prefecture, Tokushima, 中島田町2丁目8-1. Lokasi ini tidak terlalu jauh dari Takuto Plaza. Acara dimulai sebelum pukul 11 hingga pukul 3 sore (11.00 a.m – 03.00 p.m).

Disini tersedia masakan halal dari berbagai negara. Diantaranya: kebab, kare,  ramen tokushima (kuahnya terbuat dari kari iga rusa, ¥600), gorengan dan bakwan ala Bangladesh, kue khas Mesir, dll. Tidak hanya ini, juga ada cenderamata dan perlengkapan ibadah dari Timur Tengah.

Karena hari ini hari Jum’at, bagi para akhi melakukan Shalat Jum’at berjama’ah. Selain itu, juga ada fasilitas pemakaian hijab gratis yang dikreasikan oleh seorang muslimah kreatif sebagai pengenalan budaya Islam.

Gallery

    Catatan

    • Akhi = Panggilan untuk laki-laki muslim.
    Iklan

    Ginnan Festival 2016

    Ginnan Festival 2016 diadakan di Universitas Osaka (Osaka University), Osaka-Jepang. Ajang kemahasiswaan ini telah dimulai sejak tanggal 3 November 2016 dan berakhir pada hari ini (06/11/16).

    Berbagai kuliner khas Jepangpun dijajakan disini. Tidak hanya itu, ada juga pemilihan idol dan berbagai kreatifitas mahasiswa lainnya yang sangat patut diapresiasi. Mereka membuat sebuah kreasi (didominasi oleh kuliner) dan berusaha menarik minat pengunjung dengan atraksi dan kostum seunik mungkin.

    Jajanan yang dijualpun sangat ekonomis, mulai dari ¥100, tentunya dengan rasa yang yummy.. Tak heran jika festival ini dibanjiri oleh berbagai pengunjung dari berbagai kalangan.

    たこ焼き (Takoyaki)

    Takoyaki merupakan makanan tradisional dari Osaka, Jepang. Cemilan berbentuk bola ini tergolong unik, terutama cara pembuatannya.

    Bahan utama yang diperlukan untuk membuat takoyaki adalah tako alias gurita. Kemudian, tepung (ada yang dijual dalam kemasan khusus), telur kira-kira 3 butir (sesuaikan dengan petunjuk dibungkus tepung khusus takoyaki, atau sesuai selera), air matang, abon ikan (halus), bawang putih crispy, negi (daun bawang khas Jepang), asinan jahe dan minyak goreng.

    Sementara, panci yang digunakan, khusus untuk pembuatan takoyaki yang memiliki bentuk setengah bulat. Jumlah diameter bulatan dalam setiap cetakan relatif, tergantung desain dari produk yang digunakan. Selain ini, ada pengait khusus yang nantinya dipakai untuk membolak-balikkan takoyaki yang setengah kering.

    Awalnya, tuang tepung khusus takoyaki ke dalam wadah. Tambahkan telur dan air, aduk rata. Potong tako dengan dengan ukuran sedang. Berikut, potong negi, jangan terlalu halus.

    Agar adonan tidak lengket dan mudah diangkat, taburkan minyak goreng seadanya ke dalam cetakan. Settingan api sedang. Lalu, tambahkan bawang goreng crispy, adonan tepung, tako, abon ikan, asinan jahe dan negi.

    Ketika masakan setengah matang, gunakan pengait khusus untuk membolak-balikkan takoyaki hingga kering. Dalam hal ini, juga perlu keahlian khusus.

    Setelah takoyaki sudah berbentuk bola dan warnanya berubah kecoklatan, angkat dan sajikan. Biasanya, makanan yang enak dikonsumsi selagi hangat ini, ditaburi dengan mayonaise (mayones) dan saus khusus takoyaki yang berwarna coklat. Tapi, di toko tertentu, atau orang tertentu, terkadang mengombinasikannya dengan saus tertentu sesuai keinginan.

    Selain penyajian, sebagian besar cara pembuatanpun berbeda-beda. Umumnya, yang dijual di berbagai tempat, terbuat dari adonan tepung yang sudah dicampur dengan bahan-bahan tertentu (seperti: telur) dan tako. Setelah matang, ditambahkan saus khusus dan mayonaise, baru ditaburi negi dan abon ikan (kasar). Sementara asinan jahe, kadang dipisahkan dalam penyajiannya.

    Di Indonesia, takoyakipun menjadi salah satu makanan yang cukup favorit, tentunya dengan versi yang beragam pula. Ada yang menambahkan sayur seperti potongan kol ke dalam adonannya. Tapi, soal rasa, tidak terlalu jauh berbeda, karena dibuat dengan bahan utama yang sama, yaitu tako.

    Referensi
    • Resep ini diadopsi dari Resep Takoyaki ala ももよ先生。

    Serabi Betawi (KUE APE)

    Serabi Betawi dan Serabi Solo bentuknya mirip, bukan?! Sama-sama terbuat dari bahan dasar tepung beras. Bedanya, Serabi Betawi lebih kering dan pinggirannya lebih cruncy.

    Buat yang di Bukittinggi, Sumatera Barat; makanan tradisional Betawi ini bisa dibeli di depan Mesjid Raya Bukittinggi. Harganya cukup ekonomis Rp 2.000,-/kue, tersedia dalam rasa pandan.

    Menyapa Djogja 2016

    Liburan kali ini tergolong nekad, dengan bajet pas-pasan akhirnya sampai juga di Djogjakarta, kota yang terkenal dengan wisata alam dan budayanya. Padahal, misi ini berawal dari niat silaturrahim, namun seiring perkembangannya malah berubah menjadi tour selama 3 hari berturut-turut.

    Berikut ringkasan cerita perjalanan saya selama di Djogja, sepenggal kisah, menelisik kembali jejak di masa lalu, “Djogja, saya kembali…”

    Rabu, 4 Mei 2016
    Go to Djogja
    • 17.00 Standbye di Terminal Pasar Minggu.
    • 17.30 Berangkat (Jakarta-Djogja) dengan Bus Sumber Alam Super Excecutive, ongkos Rp 165.000,-. Fasilitas: Bangku 2-2, toilet dan AC.
    • 23.00 Berhenti di Indramayu, makan di tempat yang lebih mirip barak. Disini terhidang prasmanan yang langsung dibayar (harga standar Rp 20.000,- tanpa air mineral), lalu kita bisa memilih tempat duduk sesukanya. Disini juga tersedia toilet, mushalla, makanan-makanan, minuman, tempat mengecas HP, wedang jahe, dll.

    Ada kejadian banyol juga nih. Sesaat setelah turun, saya langsung mendongakkan kepala ke arah belakang, menandai apa yang bisa ditandai dari bus yang kita naiki, saking banyaknya bus yang parkir disini udah ngalah-ngalahin terminal! 😀 Dan, saya fokus ke angka 072, yah, harus ingat!

    Tadinya, dengan wajah oon, saya menelisik sekitar dan menyimpulkan “mungkin ini tempat razia bus-bus kali, ya.. Tapi kok aneh?!” Haha, sampai sekarang saya masih geli sendiri mengingat kalau itu adalah barak tempat pemberhentian bus sementara untuk makan, toilet, dan sebagainya 😀

    Saya dan Nanad, teman seperjalanan saya, duduk santai di kursi yang ada sambil mengecas hp. Tidak ada satupun diantara kita yang tau busnya akan berangkat jam berapa.

    Sementara itu, saya mulai tergiur dengan wedang jahe, penasaran mencicipi seperti apa rasanya, samakah dengan skoteng dan sejenisnya?! Mari dicoba.

    Lama menanti, empunya jualan tak muncul-muncul. Tiba-tiba, pandangan saya langsung tertuju pada bus kami, dia beringsut ke arah belakang dan langsung berjalan meninggalkan barak; tidak, bukan hanya barak, tapi KAMI!!! Serangan panikpun mulai menyerang, saya memanggil-manggil Nanad buat mengejar bis itu. Seorang bapak-bapak membantu dengan menunjuki arah kemungkinan bus itu berlalu sebelum meninggalkan lokasi barak.

    Ketika sedang sibuk-sibuknya, mencari arah. Tiba-tiba Nanad seperti membangunkan saya dari tidur. Ternyata saya salah menandai bus!! MasyaAllah… benar-benar.. antara mau ngakak dan lelah pasca panik, hahaha.. Beruntung tepat saya sadar sesaat bus yang sebenarnya akan benar-benar berangkat 😀

    Kamis, 5 Mei 2016
    Gunung Kidul
    • 06.30 Loket di Kebumen, berhenti untuk sarapan.
    • 07.15 Berangkat..
    • 09.50 Terminal Giwangan
    • 10.00 Misi ke pantai bareng trio eksis. Let’s go..

    Bergerak menuju Gunung Kidul, melewati Bukit Bintang. Banyak hal jadi bahan omongan, dan, walhasil, muncullah gelar duta korea, duta sinetron dan raja batu akik 😀 (gila-gilaan).

    Uniknya, sepanjang jalan banyak ditemukan penjual yang menjajakan walang goreng, atau belalang goreng, biasa dijual sekitar Rp 20.000,- berisi 5 belalang yang telah dikeringkan dan digoreng.

    Trip pertama ke Pantai Indrayanti, melewati simpang Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Krakal (100m sebelumnya), Pantai Sadranan (tempat snorkling), dll. Disini kita sempat ragu dan berbalik arah karena plang Pantai Indrayanti yang tidak kunjung ditemukan dan koneksi internet yang kurang bagus. Tapi kita tidak menyerah dan akhirnya benar-benar sampai di Pantai Indrayanti.

    Sebelum bergerak ke pantai, saya beli topi dulu (Rp 30.000,-), secara puanas buangettt… Lalu dengan semangat 45, kita menantang matahari menuju pantai. Berhubung energi masih full, kita memutuskan untuk mendaki bukit (di bibir pantai) terlebih dahulu. Menurut Ikbal, pemandangan dari atas mirip Bali! Mari kita buktikan..

    Dengan membayar uang sukarela, kita lanjut mendaki melalui jalan setapak yang telah dibuat berundak sebagai jenjang, dan… luar biasa…. pemandangan yang sangat indah… Tak ayal kita langsung pasang gaya jepret sana-sini, hee.. biasa, kekinian.. 😀

    Setelah puas berselfieria, kita menuju parkiran dengan trip selanjutnya Pantai Baron. Sekaligus makan siang disana. Sebelum berangkat, kita cuci mata dulu liat-liat koleksi makanan disini. Ada kripik rumput laut dan kripik undur-undur (hewan mungil yang biasa ditemukan di pasir pantai), 3 bungkus besar Rp 10.000,-; ekonomis, bukan?! Rasanya juga gurih, hm…

    Pantai Baron berada sekitar 15 menit dari Pantai Indrayanti. Bedanya, untuk ke pantai ini kita mesti berjalan dulu sekitar 15 meter dari tempat parkir. Bukan cuma itu saja, pantai ini juga punya keunikan tersendiri, air lautnya ada rasa asin dan tawar. Air tawar ini berasal dari sungai mengalir dari bawah bebatuan menuju laut. Selain itu, menara suar juga menjadi daya tarik lainnya dalam menikmati pantai dan sekitarnya dengan pesona yang menakjubkan.

    Untuk menuju menara suar, kita bayar Rp 2.000,-/orang, dibayar pada saat menaiki bukit. Di atas bukit, kita juga bisa sewa mobil golf. Insert masuk menara Rp 5.000,-/orang. Anda cukup mempersiapkan tenaga ekstra demi mendaki menara setinggi 40 meter dengan 9 lantai ini, tapi capek itu akan terbayarkan ketika Anda sampai di puncak menara; percaya deh…

    Jum'at, 6 Mei 2016
    Candi PrambananKeraton Ratu Boko, Malioboro,0km, Alkid

    Kali ini saya bersama unjut bontot bergerak ke Candi Prambanan. Start pukul 08.30 WIB. Kita ambil paket Candi Prambanan + Kerato Ratu Boko, tiket Rp 50.000,-/orang. Setelah puas mengitari Candi Prambanan, kami mendaftarkan tiket ke Keraton Ratu Boko dan menunggu antrian sambil melepas lelah di bangku taman, tepat di sisi depan sebelah kanan suttle bus. Kita dapat nomor urut 07, beruntung ada kosong 2 bangku dan kita berangkat lebih awal dari nomer antrian sebenarnya.

    Waduuuu… Djogja fuanaazzz, bok.. Badan kita sampai berkuah, hhaha… Padahal, masih banyak tempat yang mau dikunjungi, termasuk tempat pemandian Ratu Boko, yang menjadi tempat shooting AADC2 (Ada Apa Dengan Cinta 2), namun.. じかんが ないよ (waktu terbatas). So, kita segera balik, mengingat harus menunggu antrian bus buat kembali ke Candi Prambanan lagi.

    Sehabis maghrib, saya bergerak menuju Malioboro. Sebelum ke Djogja, Lisa sudah memberitahu, keliling pake becak disini itu murah, hanya Rp 5.000,-. Tapi, unjut bontot sempat ngedumel, harus pandai-pandai nawar.

    Sebelum pergi, saya bertanya ke recepcionist tentang arah ke Malioboro, ternyata cukup jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Mau pesan ojek online juga ga ngerti lokasi detail ini hotel.. Wes, ke depan langsung ketemu becak, dan.. saya kaget dong, ke Malioboro kata Bapaknya Rp 40.000,-. Beliau sampai bilang-bilang “nol kilometer” lagi, saya mah kagak ngerti atuh…

    Sepanjang jalan saya bertanya-tanya terus “nol kilometer itu apa??” Si Bapak sampe rada kesal, karena saya kagak ngerti mulu, padahal suara si Bapak yang sayup-sayup sampai ditelan keramaian, jadi sayapun makin bingung, yang kedengaran selalu “nol kilometer”, fuuh…

    Teman saya, Nanad sudah sampai di Malioboro sedari tadi dan dia nungguin saya di depan Bringharjo. Anehnya, kok Malioboro yang katanya deket dari penginapan saya, malah belum sampai-sampai ya?! Dengan nyinyir saya bertanya pada si Bapak, eh… ternyata, dari tadi itu maksud si Bapak, jalan yang biasa macet, jadi kita keliling dulu sekalian ngeliat wisata lain, bah!

    Untuk menyimpulkan pembicaraan dengan si Bapak aja saya harus memeras otak nih, banyak kosakata baru yang tidak saya mengerti dan ternyata itu nama tempat, seperti: 0 km (nol kilometer) dan Alkid (Alun-alun Kidul), hadeuuuh… Jangan-jangan dikira si Bapak, saya tau nama-nama yang beliau maksud, makanya sempat gimanaa gitu karena saya sering menanyakan nama yang sama.

    Sepanjang jalan, saya diomeli unjut bontot dan Nanad, mereka sempat menyesalkan karena saya tidak pandai memilih becak, paling mahal dari Hotel Nidia ke Malioboro hanya Rp 10.000,-. Yah, apa boleh buat, jadi lucu sendiri.. 😀

    Jalanan di Malioboro rame bangett.. Bahkan, untuk ketemu Nanad aja harus kesana-sini, saking butanya sama tempat. Setelah ketemu, kita jalan hingga 0 km. Tak lama kemudian, unjut bontot beserta sahabat muncul ikutan gabung.

    Dengan dialog tingkat tinggi (wkwwk.. berle), walhasil kita putuskan ke Alkid. Apesnya, gegara macet, kita baru lengkap semua personil pada pukul 23.00 WIB. Kita batal naik mobil-mobil unik yang didesain dengan lampu warna-warni gegara macet panjang dan waktu yang mulai menunjukkan jam rehat. Kita cuma nongkrong makan jagung bakar dan teh es.

    Disini, dapat cerita dari sang raja batu akik; ada mitos yang terkenal disini. Kalau mampu berjalan dengan menutup mata dari pohon beringin besar sampai pohon beringin kecil di tengah lapangan Alkid ini, artinya cita-cita kita bisa terwujud. Sekalipun kita berjalan didampingi seseorang (bisa teman, keluarga atau pacar), tetap mereka tidak boleh memberitahu kalau kita salah arah. Dan, memang, ada yang bisa salah arah, meskipun jaraknya hanya sekitar 5 meteran gitu, salah satunya si raja batu akik sendiri yang baru sukses untuk ketiga kalinya mencoba 😀

    Sabtu, 7 Mei 2016
    Good Bye Djogja..

    Waaa… ga berasa liburan 3 hari di Djogja ini berasa singkat banget… Masih banyak tempat yang batal dikunjungi, seperti hari ini yang tadinya punya agenda ke Taman Sari, Benteng, Malioboro dan ke pabrik bakpia. Ujung-ujungngnya, cuma bisa merealisasikan 2 poin terakhir, ざんねんね。

    Pukul 14.30-an, kita baru makan siang. Unjut bontot ngajakin ke Waroeng Steak yang jadi favoritnya mahasiswa, karena harganya yang miring, hee… Setelahnya kita go ke Terminal Giwang. Untungnya, Nanad sudah memesankan saya tiket, jadi tinggal nunggu bus.

    Awalnya, kita dapat info berangkat dengan Bus Nan Tunggal jam 16.00 WIB, tiket Rp 170.000,- dengan fasilitas AC tanpa toilet. Eh, walhasil naik Bus Pariwisata jadinya. Ceritanya, ini bus cadangan kayaknya yang disiapin pihak terminal atau agen, karena bus yang berangkat pada waktu ini udah full semua.

    Entah apa yang salah dengan busnya, kita jadi merasa seperti naik andong dengan fasilitas AC. Kebayang kan, gimana sikon kita didalamnya?! 😀

    Jam 22.00 WIB kita berhenti makan dan rehat. Lucunya, saya dan Nanad sempat mampir ke prasmanan yang ada hiburan nyanyinya, eh salah masuk rumah makan, haha…

    Nah, ketika masuk di rumah makan yang tepat, saya pesan sate Rp 14.000,-. Jangan kaget, sate disini tidak pakai ketupat, kalau mau karbohidrat, empunya resto punya nasi yang ditawarin. Sementara, Nanad pesan nasi goreng. Rasanya lumayan enak untuk ukuran lidah kita (orang Sumatera) yang notabennya terbiasa dengan makanan pedas dan berbumbu..

    Minggu, 8 Mei 2016
    Apes yang Berketulungan tapi Penuh Tantangan

    Yah, apes yang tak berujung.. Kita yang awalnya akan turun di Terminal Lebak Bulus, eh malah mau diturunkan di jalanan dekat RS Fatmawati.. Setelah menuai protes pada sang sopir akhirnya kita diturunkan dipinggir jalan setelah mereka mendapatkan angkot merah menuju Terminal Kampung Rambutan.

    Menurut perbincangan sesama penumpang, sepertinya bus itu rusak. Namun, sangat disayangkan perjalanannya malah jadi seperti ini, tapi yah.. apa boleh buat?! Kita turun di Terminal Kampung Rambutan dengan membayar sewa angkot Rp 5.000,-/orang.

    Sebenarnya, untuk menuju Lenteng Agung, bisa menaiki angkot merah dengan kode 19; namun, karena barang bawaan kita banyak dan mulai lelah, akhirnya pesan ojek online. Sekitar pukul 11.00 WIB kita sampai di Lenteng Agung dalam perjalanan sekitar 20 menit.

    Perjalanan panjang yang melelahkan tak pernah lengkap tanpa adanya tantangan. New friend, new family, new life. Kebahagiaan datang seiring eratnya jalinan silaturrahim.

    Terima kasih Djogja.. 3 hari yang sangat menyenangkan. Beautiful moment with Iqbal, Herry, Ilham & Nadia (a.k.a Nanad).

    Gallery

    Pantai Baron

    Pantai Baron terletak di Gunung Kidul  menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Yogyakarta. Akses ke lokasi menggunakan kendaraan pribadi. Disini tersedia fasilitas seperti tempat parkir yang cukup luas, toilet dan tempat ganti pakaian.

    Pantai Baron berada sekitar 15 menit dari Pantai Indrayanti. Bedanya, untuk ke Pantai Baron, pengunjung mesti berjalan kaki sekitar 15 meter dari tempat parkir.

    Sepanjang jalan menuju pantai, banyak dijual aneka makanan, seafood, kuliner, hingga pernak-pernik unik. Seperti, kripik rumput laut dan kripik undur-undur (hewan mungil yang biasa ditemukan di pasir pantai), 3 bungkus besar hanya dijual Rp 10.000,-; ekonomis, bukan?! Rasanya juga gurih, cruncy!

    Pantai Baron terkenal dengan air dan menaranya. Di pantai ini terdapat 2 jenis air, asin dan tawar. Air asin berada dihamparan laut luas seperti kebanyakan air laut. Sedangkan air tawar yang berasal dari sungai yang mengalir dari bawah bebatuan menuju laut, menggenang dan membentuk telaga di sisi kanan pantai.

    Menurut beberapa sumber, dahulunya sebelum reklamasi, paduan 2 jenis air ini membentuk kombinasi alam nan elok seperti ada sungai sebelum laut. Namun, pasca reklamasi, tentunya menjadi sedikit berbeda.

    Ombak di pantai ini cukup besar. Namun, pengunjung diperbolehkan mandi-mandi di pantai ataupun di telaga dengan pengawasan petugas pantai. Biasanya, sekitar pukul 4 sore, atau saat gelombang pasang, para pengunjung dihimbau untuk berhenti berenang. Begitupun di telaga, ada peringatan sejauh mana pengunjung boleh berenang, dikarenakan kedalaman airnya.

    Pantai Baron berada diantara 2 bukit dengan bebatuan magnit nan unik dan indah. Selain itu, menara suar juga menjadi daya tarik tersendiri dalam menikmati Pantai Baron dan sekitarnya dengan pesona yang menakjubkan. 

    Untuk menuju menara suar, merogoh kocek sebesar Rp 2.000,-/orang, dibayar pada saat menaiki bukit. Di atas bukit, ada beberapa fasilitas yang bisa digunakan, seperti sewa mobil golf. Insert menara Rp 5.000,-/orang.

    Pengunjung cukup mempersiapkan tenaga ekstra demi mendaki menara setinggi 40 meter dengan 9 lantai ini. Namun, rasa capek akan terbayarkan ketika sampai di puncak menara. Hamparan laut luas, berikut perbukitan yang terbentang luas… Tak terlukiskan dengan kata-kata..

    Gallery: Pantai Baron

    Pantai Indrayanti (Indrayanti Beach)

    Pantai Indrayanti terletak di Gunung Kidul  menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Yogyakarta. Akses ke lokasi menggunakan kendaraan pribadi, melewati simpang Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Krakal, Pantai Sadranan (tempat snorkling), dll. Disini tersedia fasilitas seperti tempat parkir yang cukup luas, toilet dan tempat ganti pakaian.

    Pantai Indrayanti berada di pinggir jalan. Disekitarnya berjejer aneka produk jajanan, cenderamata dan oleh-oleh lainnya. Salah satunya, keripik rumput laut dan keripik undur-undur yang 3 bungkus kecilnya (plastik 1/2 kg) dijual seharga Rp 10.000,-. Ekonomis, bukan?! Selain itu rasanya, hmm.. gurih dan enak! Tidak hanya itu, topi pantai nan cantikpun dengan bidang pinggiran cukup lebar hanya Rp 30.000,-.

    Memasuki pantai ini tidak dipungut biaya, hanya saja jika ingin menikmati pemandangan dari puncak bukitnya, pengunjung bisa membayar uang sukarela di kotak yang telah disediakan. Dengan mendaki jalan setapak yang dibuat berundak sebagai jenjang, bisa dinikmati pemandangan alam nan luar biasa indah yang sekilas menyerupai Bali.

    Di bibir pantai terdapat beberapa batu karang. Khususnya di bawah bukit terdapat beberapa batu karang kecil. Pantai ini juga mempunyai ombak cukup besar, namun tidak terlihat aktifitas seperti surfing ataupun watersports lainnya.

    Attention
    Baru-baru ini, plang penanda jalan ataupun spanduk bertuliskan Pantai Indrayanti sulit ditemukan.

    Moci-moci

    Di Indonesia, makanan ini terkenal sebagai salah satu oleh-oleh unggulan dari Sukabumi. Makanan yang aslinya berasal dari Jepang ini diolah dengan resep khas Sukabumi. Bentuknya mirip makanan onde-onde dari Padang, sama-sama terbuat dari tepung beras ketan, namun intinya diisi dengan kacang yang telah dicampur dengan gula tebu/aren; kemudian bagian luarnya dilumuri dengan tepung. Tersedia dalam rasa strowberi, blueberry, vanila, dll.
    Selain di Sukabumi, moci-moci juga banyak ditemukan di beberapa tempat di Bogor. Begitu juga dengan citarasanya, semakin variatif.

    Recommended by: Kiki san

    Klappertart

    Makanan khas Manado yang satu ini terbuat dari campuran kelapa, susu, air kelapa muda, tepung, telur, gula, dan bahan lainnya. Untuk topingnya, biasanya ditaburi kismis atau keju; tapi sekarang sudah variatif, ada toping coklat, <em>cinamon </em>alias kayu manis atau jelly. Cara pembuatannya ada 2, dipanggang (pake oven) atau tanpa dipanggang. Rasanya itu lho, hm.. yummy!!

    Recomended by Lisa

    Kuliner & Buah Tangan Khas Medan

    Yang mau walking out atau travelling ke Medan mana suaranya?? 😀 Ini ada share aneka makanan khas Medan nih dari Tice, pemudi Medan.

    • Bika Ambon Zulaikha
      Biasanya banyak tersedia di daerah Jl. Brigjen Katamso.
    • Sambal Teri Medan
      Di berbagai tempat di Medan bisa didapatkan, pada umumnya dijual di warung-warung biasa.
    • Soto Medan
    • Dodol Bengkel
      Disini dijual aneka dodol, seperti: dodol durian dan dodol ketan di daerah Bengkel.
    • Wajir Seafood
      Terkenal banget di dekat PMI Medan.
    • Roti Tisu
      Makanan ini khas India, karena yang bikin orang India asli. Rotinya tipis dengan 1 m x 30 cm (panjang x lebar), rasanya manis dan guris, ada taburan keju dan coklatnya juga, berbentuk kerucut. Biasa ditemukan di Kampung India.
    • Mie Aceh Titi Bobrok
      Terkenal murah dan maknyus. Yang bikin orang asli Aceh, biasanya banyak diminati oleh anak kuliahan.
    • Bolu Meranti
    • Bolu Amanda
    • Ucok Duran
      Mulai dari harga 10-ribuan, buka sampai sekitar jam 10-an, di daerah Gajah Mada. Cocok banget nih buat para hunter durian 🙂
    • Jeruk Berastagi Medan
      Bisa petik langsung dari kebun sepuasnya, tapi eits, kalau bawa keluar kudu bayar. Berlokasi di daerah Berastagi.
    • Marquisa Medan
      Berlokasi di Berastagi.
    • Salak
      Salak yang terkenal berada di Padang Sidempuan dan Kotanopen. Walaupun demikian, kedua jenis salak ini memiliki sedikit perbedaan dari rasa dan teksturnya.

    Oleh-oleh Khas Manado

    Nah, lho… yang weekend ke Manado, ini ada beberapa referensi oleh-oleh nih..

    • Klappertart
      Makanan khas Manado yang satu ini terbuat dari campuran kelapa, susu, air kelapa muda, tepung, telur, gula, dan bahan lainnya. Untuk topingnya, biasanya ditaburi kismis atau keju; tapi sekarang sudah variatif, ada toping coklat, cinamon alias kayu manis atau jelly. Cara pembuatannya ada 2, dipanggang (pake oven) atau tanpa dipanggang. Rasanya maknyus!!
    • Bubur Manado
      Makanan khas Sulawesi Utara yang ini wajib dicoba. Terbuat dari bubur yang dicampur dengan sayur-sayuran dan ditambahkan rempah-rempah, ikan cakalang, dan dapat dinikmati dengan tambahan pergedel jagung, tahu goreng/rebus dan pergedel ikan nike.
    • Mie Cakalang
      Pada umumnya sama dengan mie-mie lainnya; bedanya, mie yang satu ini lebih khas, karena ada campuran ikan cakalangnya. Rasa mie ini juga berbeda karena dibuat sendiri oleh penjualnya. Mie ini biasa disajikan dalam bentuk berkuah.
    • Kue Gelang
      Kue yang berbentuk gelang ini terbuat dari gula merah, kacang, tepung, dan bahan lainnya. Rasanya padat dan gurih..
    • Kripik Pisang Goroho
      Kalau ke Manado, pasti tidak asing lagi mendengar pisang goroho, kripiknya gurih, cruncy.. Cocok banget buat penderita diabetes karena snack yang satu ini tidak terlalu manis jadi tidak akan menaikkan gula darah.
    • Stick Keladi
      Kripik sejenis talas ini dibuat berbentuk stick dengan rasa yang gurih..
    • Bagea Kenari
      Makanan unik ini terbuat dari bahan sagu, rasanya mirip dengan kue sagun bakar di Sumatera Barat.

    Info ini dishare oleh Lisa pada 9 Desember 2015

    Abon Ikan Cakalang

    Abon ikan ini terbuat dari ikan cakalang, sejenis ikan tuna dengan ukuran besar. Nah, buat yang lagi travelling atau sekedar walking out ke Manado, belum lengkap rasanya jika belum mencicipi abon ikan cakalang ini 😉 Enaaak tenan…!! Bisa dicemil ataupun dijadikan lauk-pauk untuk makan nasi 🙂
    Abon ini terbuat dari ikan cakalang yang dibumbui dengan rempah-rempah khusus, lalu dimasak hingga kering. Setelah itu dilakukan beberapa kali pengeringan dengan teknik tradisional, sehingga makanan khas Manado ini bisa tahan lama dan tidak berminyak seperti makanan (yang digoreng) lainnya. Biasanya, abon ini dibikin dengan pedas yang masih standar. By the way, buat pecinta pedas bisa menambahkannya saja dengan sambal.
    Kuliner ini bisa ditemukan hampir diseluruh restoran, tempat makan atau bahkan warung makanan kecil yang ada di depan rumah warga 🙂 Kebetulan nih dibawain yang pedas, hm… delicious.. Rasanya itu lho, pedas tapi tetap maknyuss!! Menggigit banget.. 😉

    Info menu kece ini dishare oleh Lisa pada 6 Desember 2015.