Category Archives: Tradisi

Osusowake (御裾分け)

Osusowake, istilah yang satu ini boleh dibilang baru, karena belum familiar. Di Indonesia, saat panen, biasanya ada kebiasaan berbagi, seperti memberikan sedikit hasil panen pada kerabat, tetangga, dan orang terdekat lainnya. Begitu pula di Jepang, masa tanam yang biasa dilakukan dimusim panas ini, hasilnya akan dikumpulkan pada yang punya lahan/kebun, lalu yang punya kebun membagikannya ala kadarnya (sedikit-sedikit) pada orang-orang tertentu. Nah, ini dikenal dengan istilah osusowake.

Kamus

  • 御裾分け 「おすそわけ」/osusowake/

Referensi

  • Tominaga san via sharing, Tokushima (6/2017).
Advertisements

ビッグひな祭り (Big Hinamatsuri)

Apa itu Hinamatsuri?

ひな祭り (Hinamatsuri) merupakan festival boneka terbesar di Jepang sebagai hari perayaan anak perempuan.

Biggu Hinamatsuri

ビッグ (biggu) berasal dari kata serapan bahasa inggris “big” yang berarti besar. Jadi, biggu hinamatsuri adalah perayaan besar untuk anak perempuan. Ini menjadi nama disebuah event lokal hinamatsuri di Katsura, Perfektur Tokushima.

Boneka sebanyak itu dapat dari mana? Sengaja dibeli atau dibuat sendiri?

Sewaktu anak perempuan lahir, si ibu membeli boneka untuk perayaan (oiwai). Ketika usia sang anak beranjak 20 tahun (dari sumber yang berbeda menyebutkan 18 tahun), boneka ini diserahkan ke jinja (kuil Shinto).

Nah, boneka inipun sangat variatif; ada yang lengkap dengan gotenbina (rumah boneka) bertingkat (tingkatan inipun bermacam-macam); ukuran besar, sedang dan kecil; bentuk tertentu seperti pakaian, ikatan rambut dan benda yang digenggam boneka, memiliki makna tersendiri yang berhubungan dengan kepercayaan orang Jepang; dll.

Butuh waktu berapa lama menyusun boneka itu hingga tertata dengan sangat apik?

Penyusunan boneka yang menggunung menyerupai piramid ini membutuhkan waktu sekitar 2 bulan sebelum hari H. Setelah kegiatan usai, boneka ditutupi permukaannya (dibungkus) dan disimpan didalam kotaknya masing-masing. Tahun berikutnya, di hari perayaan yang sama, boneka ini kembali disusun sekitar 2 bulan sebelum festival berlangsung.

Uniknya, meskipun seluruh boneka telah disimpan, piramid ini tidak dipindahkan alias masih tetap berada diposisi semula.

Lokasi

Acara ini dirayakan di berbagai tempat di Jepang. Khusus di Perfektur Tokushima, event ini diadakan di Katsura (勝浦), tepat di seberang halte bus 人形文化交流館前 (sisi kiri jalan). Tempat ini bukan kuil, tapi lebih menyerupai sebuah aula besar.

Akses

Dari 徳島駅 (Tokushima Station) menaiki 徳島バス (Bus Tokushima) yang berlabel 山成町, berwarna putih dengan perpaduan bis 2 garis biru dan 1 pink ditengahnya. Bus ditunggu di loket tunggu no. 3 (3 番のりば). Bus berangkat sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Lama perjalanan sekitar 1 jam dengan biaya 720.

Jika pengunjung tidak memiliki akses internet ataupun informasi yang relevan tentang jadwal bus, bisa langsung bertanya ke bagian informasi bus yang bertuliskan バス案内所, mereka akan menjelaskan secara rinci.

Kapan hinamatsuri diadakan?

Acara ini berlangsung dari tanggal 19 Februari s/d 2 April 2017, pukul 09.00-16.00 (waktu setempat). Namun, perayaan puncak adalah tanggal 3 Maret setiap tahun.

Insert

Biaya masuk biggu hinamatsuri:

  • Umum : 300 yen
  • Anak-anak usia 10 tahun ke atas : 200 yen
  • Anak SD: 100 yen

Pertunjukan boneka

Di perayaan ini, juga diadakan pertunjukan boneka. Pertunjukan ini mirip dengan wayang di Indonesia dan pertunjukan boneka dari Cina ataupun Korea. Hanya saja, tentunya terdapat banyak perbedaan, terutama latar belakang budaya masing-masing.

Boneka yang berbentuk ibu dan anak perempuan ini masing-masingnya digerakkan oleh 3 orang dalang yang memakai pakaian serba hitam menutupi seluruh bagian tubuhnya. Sementara, di sisi kiri panggung, duduk dengan apik 2 orang wanita berpakaian tradisional jepang sebagai pembaca cerita dan pemain gitar khas jepang.

Pertunjukan dibuka oleh seorang protokol dengan prolog yang bercerita tentang sebuah keluarga. Kemudian, gitar dimainkan dan pencerita mulai membaca buku yang menyerupai kitab, layaknya seorang penyair yang menghayati karyanya dengan sangat mendalam. Pencerita ini terkadang berperan sebagai ibu dan terkadang sebagai anak perempuan. Alur cerita yang dibawakan tergambar dari aksi para dalang menggerakkan si boneka di panggung.

Sedikit mengulas tentang gitar khas jepang, alat musik ini memiliki 3 senar yang disebut sanmisen. Dipetik dengan menggunakan bacchi dan ada kain khusus yang digunakan sebagai pelindung jari saat memegang pengatur senar.

Selain gitar itu, juga ada alat musik tradisional jepang lainnya yang bernama koto. Bentuknya nyaris sama dengan kecapi.

Upacara minum teh

Menariknya biggu hinamatsuri di Katsura ini, ada tempat berukuran sekitar 2×3 meter yang menyuguhkan jamuan tradisional khas jepang, apalagi kalau bukan teh hijau (ocha) dan mochi sebagai okashi (kue).

Penyajian teh ini benar-benar sesuai dengan tradisinya. Teh ini sangat berbeda dengan teh hijau biasanya. Bentuk permukaannya berbuih dan rasanya sangat kental nuansa ocha. Tidak hanya itu, bentuk mochi yang disajikan juga unik menyerupai bunga dan tentunya nyummy.. Sajian ini bisa dinikmati seharga 400 yen.

Cuaca yang masih meniupkan sisa-sisa musim dingin, cocok banget buat nge-teh disini. Tempat duduknya yang menyerupai lesehan ini hangat dan nyaman.. Selain ocha, juga ada menu kopi dan aneka omiyage (oleh-oleh) lainnya yang terbuat dari kerajinan tangan dengan harga berkisar 400 yen.

Omiyage

Bicara tentang oleh-oleh, disini tersedia aneka pilihan, mulai dari mochi, senbe, arare, dll. Harga berkisar 300-400 yen-an/bungkus.

Ngomong-ngomong soal makanan, buat para muslim, tetap konfirm dulu sebelum membeli.

Fasilitas

Berbagai fasilitas lainpun tersedia disini, seperti: toilet yang bertuliskan お手洗 (baca: otearai), kantin yang lengkap dengan aneka jajanan kuliner, pertunjukan boneka gratis, dll. Tidak hanya ini, disini memang tidak tersedia fotografer khusus, namun ada seorang sukarelawan dari pihak penyelenggara yang mobile (keliling), beliau sering menawarkan diri pada pengunjung jika butuh bantuan pengambilan foto (tentunya dengan kamera masing-masing).

Statistik pengunjung

Berdasarkan informasi dari Hanabusa san, salah seorang penyelenggara, setiap harinya pengunjung mencapai tiga ribu orang lebih. Jika dilihat sekilas memang tidak bisa diduga, karena pengunjung datang silih berganti. Jam paling ramai adalah pagi dan sore hari.

Midaregami

Midaregami adalah hiburan khusus yang diadakan di lokasi sekitar event oleh penduduk setempat dengan menampilkan tarian tradisional jepang (bersifat lokal dan tarian yang dimaksud bukan Awa Odori yang menjadi tari daerah Tokushima). Kegiatan ini diadakan malam hari pada 4 Maret 2017.

Gallery

Referensi

  • Tanagami san via sharing pada Januari 2017. Tokushima City.
  • Hanabusa san & Sakata san via sharing pada 3 Maret 2017. Katsura.
  • Risa chan & Ien chan via sharing pada 3 Maret 2017. Tokushima City.

Catatan

Boneka ini terhubung dengan kepercayaan orang jepang, jadi tidak boleh asal terima meskipun sebagai omiyage. Bagi orang Jepang sekalipun, kalaupun boneka ini akan diberikan kepada orang lain, biasanya hanya kepada kerabat keluarga, itupun dengan beberapa catatan tersendiri. Selain itu, boneka ini hanya boleh dipajang selama 3 hari setelah dibawa pulang. Selanjutnya, disimpan ditempat tertutup.

Boneka ini juga tidak boleh diletakkan di sembarang tempat ataupun dibuang. Beberapa sumber menyebutkan, boneka ini memiliki aura mistis dan harus dikembalikan ke tempat asalnya (lokasi awal omiyage diterima). Namun, beberapa sumber lainnya menyatakan bahwa boneka itu harus dikembalikan ke Otera (tempat beribadah kepercayaan Hotokesama, penganut Budha di Jepang), itupun tidak sembarang otera bisa diserahkan, harus dikonfirmasi pada tempat yang benar-benar bisa menyucikan benda tersebut.

Jadi, catatan tersendiri buat pengunjung asing, menerima omiyage memang menyenangkan, apalagi dengan bentuk yang indah dan bernilai seni tinggi. Namun, kita juga perlu tau sejarah dari omiyage tersebut.

12 Shio Di Jepang

12 Binatang pada Shio Jepang

Seperti penanggalan dalam tradisi Cina, 12 nama binatang berikut ini juga menjadi lambang pergantian tahun di Jepang yang disesuaikan dengan urutannya.

  1. 子「ねずみ」= mouse (tikus).
  2. 丑「うし」= cow (kerbau).
  3. 寅「とら」= tiger (macan).
  4. 卯「うさぎ」= rabbit (kelinci).
  5. 辰「ドラゴン」=dragon (naga).
  6. 巳「ヘビ」 = snake (ular).
  7. 午「うま」 = horse (kuda).
  8. 羊「ひつじ」= sheep (kambing).
  9. 申「さる」=monkey (monyet).
  10. 酉「とり」= rooster (ayam jago).
  11. 戌「いぬ」= dog (anjing).
  12. 亥「イノシシ」= wild boar (babi hutan).

12 shio ini berbeda dengan shio yang ada di Vietnam. Jika di jepang shio ke-4 adalah shio kelinci, di Vietnam malah ditempati oleh shio kucing.

Asal Mula 12 Shio Di Jepang

12 shio ini diawali dengan shio tikus yang biasanya disusun melingkar mengikuti arah jarum jam dan berakhir di shio babi hutan. Pertanyaannya, tikus adalah yang paling kecil dan paling lemah, tapi kenapa bisa berada di posisi pertama? Jawabannya adalah karakter tikus yang licik.

Ceritanya, dahulu kala, dewa mengadakan pemilihan 12 binatang yang akan dijadikan wakil dari masing-masing tahun berdasarkan yang tercepat menghadapnya. Nah, karena akal bulusnya, tikus mampu menipu kucing yang menyebabkan kucing gagal menempati 12 urutan tersebut, kucing marah besar, makanya sampai sekarang masih mengejar-ngejar tikus. Tidak hanya itu, tikus juga berhasil diam-diam naik ke punggung kerbau dan dengan lihainya meloncat dan segera mengambil posisi kerbau yang harusnya menjadi the winner.

Pembagian Shio Menurut Arah Mata Angin

Shio ini akan terlihat dengan sangat jelas pembagiannya jika disusun melingkar mengikuti arah jarum jam yang diawali oleh shio tikus.

  • North (Utara)
    1. 子「ねずみ」= mouse (tikus).
    2. 丑「うし」= cow (kerbau).
    3. 寅「とら」= tiger (macan).
  • East (Timur)
    1. 卯「うさぎ」= rabbit (kelinci).
    2. 辰「ドラゴン」=dragon (naga).
    3. 巳「ヘビ」 = snake (ular).
  • South (Selatan)
    1. 午「うま」 = horse (kuda).
    2. 羊「ひつじ」= sheep (kambing).
    3. 申「さる」=monkey (monyet).
  • 西 West (Barat)
    1. 酉「とり」= rooster (ayam jago).
    2. 戌「いぬ」= dog (anjing).
    3. 亥「イノシシ」= wild boar (babi hutan).

Referensi

  • Sano san via sharing pada 28 Januari 2017. Tokushima.

 

Setsubung 節分

Musim Di Jepang 

Jepang merupakan negara yang memiliki 4 musim, yaitu musim panas (natsu), musim gugur (aki), musim dingin (fuyu) dan musim semi (haru).

Apa itu Setsubung?

Setsubung (節分) dalam bahasa jepang berasal dari pemisahan 2 huruf kanji dengan yomikata (cara baca) yang berbeda, 節 (setsu) yang berarti musim (season) dan 分 (wakeru) yang berarti pembagian. Jadi, setsubung memiliki makna 季節が分かれる (pembagian musim).

節分の日 (setsubung no hi)

Dalam bahasa indonesia, 節分の日 berarti hari pergantian musim yang biasanya selalu dirayakan sehari sebelum memasuki musim yang baru. Event ini menjadi bagian dari festival musim semi (haru matsuri).

Di jepang, tanggal 4 Februari adalah awal dari musim semi. Karenanya, setsubung biasa diadakan setiap tanggal 3 Februari dan diikuti dengan ritual mamemaki.

Mamemaki

Mamemaki (豆まき) berarti menebar kacang buncis. Ritual ini dilakukan untuk mengusir hal-hal buruk dengan cara melempar kacang kedelai pada sosok yang memakai topeng oni (iblis). Kacang ini dilempar di pintu masuk rumah (entrance) sambil mengucapkan “oni wa soto! fuku wa uchi!“. Ucapan ini berarti “pergilah kesialan! datanglah kebaikan!”.

Oni pada Mamemaki

Di Jepang, oni menjadi simbol dari segala keburukan. Sosok oni pada mamemaki adalah hantu yang menyerupai manusia, memiliki taring dan tanduk, kemudian mengenakan rok dari kulit harimau. Kenapa bisa begitu? Nah, ini ada ceritanya..

Oni itu datang diantara arah utara (kita) dan timur (higashi), sehingga dalam 12 shio jepang, berada diantara shio kerbau dan shio harimau. Tanduk oni diambil dari rupa kerbau. Sementara taring dan rok diambil dari rupa harimau.

Iwashi

Menurut kepercayaan orang jepang, oni tidak menyukai ikan (鰯), karena kusai (bau). Jadi, di setsubung, iwashi menjadi salah satu menu andalan selain mame.

Makizushi

Meskipun makanan ini biasa dijumpai di hari biasa, namun khusus di 節分の日, jenis sushi ini menjadi salah satu menu utama, namanya makizushi.

Seperti sushi pada umumnya, makanan tradisional jepang ini terdiri dari nasi sushi yang khas dengan rasanya yang asam, ikan (sakana), mentimun (kyuri), telur (tamago), dan netazushi (isi sushi) lainnya. Uniknya, sushi ini dibuat dalam berbagai bentuk yang lucu, lho.. Salah satunya adalah bentuk oni yang menjadi icon di mamemaki.

Catatan

  • Pada ritual mamemaki, ada juga versi yang menyebutkan mengusir hal-hal buruk dengan cara melempar kacang kedelai sebanyak umur kita pada sosok yang memakai topeng oni.
  • 節分 (せつぶん) dibaca juga dengan setsubun, karena ん dalam aksara jepang bisa dibaca dengan akhiran n, m, atau ng.

Kamus

  • 節 (setsu) = Musim (season).
  • 夏 (natsu) = Musim panas.
  • 秋 (aki) = Musim gugur.
  • 冬 (fuyu) = Musim dingin.
  • 春 (haru) = Musim semi.
  • 日(hi) = Hari.
  • 節分の日 (setsubung no hi) = Hari pergantian musim.
  • 春祭り(haru matsuri) = Festival musim semi.
  • 東 (higashi) = Timur.
  • 北 (kita)  = Utara.
  • Oni = Iblis.
  • Netazushi = Isi sushi.

Referensi

  • Setsubun, Festival Musim Semi. Diakses pada 28 Januari 2017.
  • Sano san  via sharing pada 28 Januari 2017. Tokushima.
  • Atsumi Sensei via sharing pada 27 Januari2017. 給食委員会 (節分プレート). Tokushima.
  • Tanagami san via sharing pada 24 Januari 2017 dan 3 Februari 2017. Tokushima.
  • Aimatsuri. 1 Februari 2015. Taman Budaya Padang. Padang.

Imochitsuki

Mochi merupakan salah satu kue tradisional Jepang yang terbuat dari beras pulut (ketan) yang dibentuk menjadi bulat. Kue ini menjadi icon pada event imochitsuki (perayaan tahun baru jepang). 

Di imochitsuki ini, biasanya orang jepang membuat mochi bersama-sama dan kemudian juga memakannya bersama-sama. Bahkan, terkadang event ini diperlombakan dengan nama mochitsukikai. Meskipun demikian, mochi juga bisa dinikmati di hari-hari biasa yang dijual di toko-toko ataupun di supermarket.

Di Indonesia, mochi yang menjadi oleh-oleh khas Sukabumi berbentuk kue-kuean saja, bukan?! Nah, di Jepang, mochi ini terbagi menjadi 2, versi kue yang biasanya memiliki rasa manis dan versi mentah yang biasanya berwarna putih (bisa diolah dengan cara digoreng, dipanaskan begitu saja di microwave, atau direbus).

Seperti halnya di Indonesia, yang versi kue terbuat dari adonan utama  tepung beras pulut yang diisi dengan berbagai adonan tambahan lainnya, seperti kacang merah, dll. 

Berbeda dengan yang versi mentah yang bentuknya padat dan keras, ada yang setengah lingkaran dan ada yang persegi dengan atau tanpa dilumuri tepung. Saat direbus, mochi ini akan berbentuk seperti salah satu adonan tekwan Palembang yang terbuat dari sagu. Jika digoreng atau dipanaskan, bentuk dan rasanya mirip dengan salah satu pempek dari Jambi. Menarik, bukan?

Gallery

Lainnya

  • いもちつき (imochitsuki) juga biasa dikenal dengan もちつき (mochitsuki) saja.

Haru No Nana Kusa

Hari ini adalah hari ke-7 di Tahun Baru Masehi. Di Jepang, hari ini dirayakan sebagai hari 春の七草 (baca: haru no nana kusa) yang berarti 7 tumbuhan (herbal) musim semi (the seven herbs of spring).

Menurut sejarah, budaya ini diadopsi dari Cina yang mengawali kalendernya dari awal musim semi. Inilah alasan mengapa Jepang menamakan awal tahun dengan 新春 (kanji yang berarti awal musim semi atau new spring).

Di hari ini, masyarakat jepang mempunyai menu khusus, yaitu bubur tujuh herbal (seven perbs porridge). Bubur ini terbuat dari kombinasi beras, air panas, garam dan 7 jenis herbal yang dipotong kecil-kecil; mirip dengan nasi tim yang ada di Indonesia. Maknanya, orang yang memakan bubur ini akan menjadi kuat (semakin sehat).

Catatan

  • Biasanya, tumbuhan yang digunakan untuk bubur 7 herbal ini adalah:
    • せり (peterseli / water dropwart)
    • ナズナ (capsella bursa-pastoris / sheppard’s purse)
    • オギョウ (cudweed)
    • ハコベラ (chickweed)
    • ホトケノザ (nipplewort)
    • スズナ (sejenis lobak atau turnip, mirip bawang dengan kombinasi warna ungu tua dan putih)
    • スズシロ (sejenis lobak atau daikon, bentuknya mirip wortel tapi berwarna putih)
    • Jika herbal tersebut sulit didapat, bisa diganti dengan tumbuhan lainnya sesuai selera.

    Referensi

    • Informasi verbal dari Sensei Atsumi via Wendi san pada 6 Januari 2017.
    • Tokyo Five. 2009. 春の七草. Diakses pada 7 Januari 2017. 

    Tahun Baru Masehi ala Jepang

    Biasanya, sebagian besar negara di dunia merayakan tahun baru masehi dengan pesta kembang api, tiup terompet, atau hal lainnya yang identik dengan suasana meriah, bukan? Nah, ini sangat berbeda dengan Jepang. Di negeri sakura ini, tahun baru masehi dilewati dalam suasana yang tenang dan sangat lekat dengan tradisi dan nuansa spiritual.

    Ornamen

    Ornamen berikut menjadi media perayaan tahun baru masehi ala jepang. Setiap wilayah di jepang memiliki kreasinya sendiri, tergantung kekhasan daerah masing-masing.

    Kadomatsu

    Ornamen ini terbuat dari kombinasi bambu, jerami, tumbuhan pakis, pinus, bunga, tali jerami, dan lainnya. Bambu tersebut dipotong menyerong dibagian atasnya sehingga membentuk rupa ruas melengkung yang mirip senyum (berarti welcome, penyambutan dengan ramah).

    Kadomatsu dibuat dan dipajang secara berpasangan dan diletakkan di pintu masuk rumah atau bangunan lainnya. Kadomatsu laki-laki di sebelah kiri dan perempuan di sebelah kanan. Benda ini sebagai penyambutan kedatangan leluhur dan Kamisama (Tuhannya orang Jepang).

    Kagamimochi

    Kagamimochi biasanya diletakkan di atas meja sebagai persembahan terhadap sang dewa. Bentuknya variatif, ada yang terdiri dari jeruk manis (mikan), mochi, dan benda lainnya yang disusun meninggi.

    Menjelang 00:00

    Tradisi Makan Soba

    Masyarakat jepang memiliki tradisi makan soba. Meskipun soba ini sama saja dengan soba yang biasa ditemukan di hari biasa, namun untuk tahun baru namanya menjadi toshikoshi soba. Maknanya, dengan memakan mie yang berwarna keabu-abuan ini akan diberikan umur panjang sebagai analogi dari bentuk mie ini yang panjang.

    Mie khas jepang ini seperti terbuat dari tepung beras, padahal sebenarnya bukan (meskipun rasanya hampir mirip dengan makanan sejenisnya yang terbuat dari tepung beras).

    Menurut sejarahnya, dahulu kala di Jepang, emas merupakan benda yang sangat mahal. Jadi, ketika menemukan koin emas, semua dikumpulkan dan sebagai perayaannya dibuatlah soba yang dimakan bersama-sama.

    Berdo’a Ke Kuil & Gong 108x

    Kemudian, sekitar pukul 23.45 (waktu setempat), warga pergi ke kuil untuk berdo’a. Selanjutnya, gong kuil dibunyikan sebanyak 108 kali. Disini, setiap individu melakukan perbaikan diri dan memulai tahun baru dengan pribadi yang baru.

    1 Januari Di Tahun Baru Masehi

    Osechi

    Makanan ini terbuat dari aneka seafood dan sayur-sayuran dengan berbagai variasi, seperti: sushi, sashimi,  asinan sayur, dll.

    Ucapan

    • 今年はありがとうございました。来年もよろしくお願いします。/kotosyiwa arigatoo gozaimas. rainengmo yorosyiku onegaisyimas/. (Terima kasih untuk tahun ini. Tahun depanpun mohon petunjuknya).
    • おめでとうございます。明日開けます。よろしくお願いします。/omedetoo gozaimas. asyita akemas. yorosyiku onegaisyimas/. (Selamat ya, besok hari baru. Mohon petunjuknya).
    • 開けまして、おめでとうございます。今年も元気で楽しみながら、お仕事や勉強を頑張りましょう。/akemasyite, omedetoo gozaimas. Kotoshi mo gengki de tanosyiminagara, osyigoto ya benkyoo ya wo gambarimasyoo/ (Selamat tahun baru. Tahun inipun dengan senang hati bekerja, belajar dan lainnya. Ayo semangat!).

    Gallery

    Nasi Liwet & Tradisi ‘Ngeliwet’

    Ngeliwet yuk…

    Ceritanya nih, ketika ngumpul bareng keluarga, ada tradisi unik dari Sukabumi, orang-orangnya suka ngeliwet! 😉 Hayooo lo yang di Sukabumi.. pada kenal nggak sih sama tradisi yang satu ini?! Jangan sampe ada yang bilang nggak tau ya, ntar saya kasih tau lo.. 😀

    Nah, ngeliwet identik dengan nasi liwet. Kuliner tradisional nan unik ini terbuat dari kombinasi beras, bawang merah dan bawang putih yang telah diiris, daun salam, serei/serai yang dikeprok, teri, minyak goreng sekitar 2 sendok makan dan daun pisang.

    Caranya, daun salam dan serai ditaruh diatas beras. Tanak nasi seperti biasa, tambahkan minyak goreng, ketika air hampir mengering, aduk rata, timpa permukaan nasi dengan daun pisang, kemudian letakkan teri (jenis teri nasi) diatasnya. Atau, kalau mau, teri tersebut juga bisa dicampur langsung dengan nasi (dimasak bersamaan).

    Ketika air nasi hampir mengering, api dikecilkan, nanti bakal mengerak, nah enaknya nasi liwet itu tuh disini karena aroma keraknya itu 🙂 Biasanya, tradisi akan makin lengkap jika makan bareng-bareng di pelepah pisang.

    Kalau nggak mau langsung pake teri, dibikin oseng-oseng, teri digoreng dan ditambahkan kacang tanah. Teri yang digunakan juga nggak selalu jenis teri nasi. Selain itu, sebagai pelengkap, bisa menambahkan menu lauk (seperti: tahu/tempe goreng, ampela, ayam goreng, dll), sayur (lalapan) dan sambal (yang digoreng atau mentah ditaruh diatas nasi liwet yang mau kering).

    Gimana, mau ikut ngeliwet?! Hayuk… Mantap dah.. 😉

    Shared by: Kiki san