Category Archives: Backpacking

Sometimes I become to Backpacker

Uzo-no-Michi

Jalan-jalan ke Tokushima, tak lengkap jika belum mampir ke Jembatan Onaruto (landmark-nya Tokushima) yang unik dan serba guna. Jembatan ini tidak hanya menghubungkan Kota Naruto di Perfektur Tokushima dan Awaji di Perfektur Hyogo, tapi juga menjadi salah satu objek wisata dengan fenomena alam yang luar biasa, siapa lagi kalau bukan si uzu (pusaran) nan kece badai.

Jembatan ini juga fungsional, lho.. Bagian atasnya dipakai untuk lalu lintas, sementara sisi bawahnya yang menyerupai terowongan (dengan panjang jalan 450 meter) dijadikan objek wisata, namanya uzu no mici.

Disini, bagian dindingnya yang lepas menghadap laut didominasi oleh kaca. Jadi, tak heran para pengunjung begitu takjub dimanjakan oleh pesona full laut! Dan, yang tak kalah menarik, bagian lantainya terbuat dari kaca di titik-titik tertentu yang disebut dengan observation room, tentunya tepat di atas lokasi pusaran air. So, kita bisa melihat si uzu dari ketinggian 45 meter dari permukaan laut!

Fasilitas

Di uzu no michi ini disediakan fasilitas seperti teropong jarak jauh (seperti yang ada di Tugu Monas, Jakarta), GRATIS! Lalu juga ada papan bergambar anime lucu yang bagian kepalanya dilobangi, apalagi kalau bukan sarana buat bereksis-ria pastinya, GRATIS!

Akses

Akses dari Tokushima Station (徳島駅) dengan menggunakan bus no. 27 di 1番のりば (halte no.1), di loket A (halte pertama di seberang 7eleven yang berada di samping Daiwa Hotel). Lama perjalanan sekitar satu setengah jam dengan bajet ¥720. Kemudian, turun di halte Naruto Park (鳴門公園).

Dari halte Naruto Park, bisa diakses dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan mendaki anak tangga yang ada disebelah toko omiyage. Sementara, dari pelabuhan mini tempat menaiki fune (kapal) yang digunakan untuk berinteraksi dengan si uzu, bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit. Menurut informasi dari beberapa sumber, jika tidak memiliki kendaraan, bisa menggunakan jasa taxi dengan menempuh waktu sekitar 15 menit.

Tiket (Insert)

  • Perorangan:
    • Umum ¥510
    • Pelajar (usia 13-18 th) ¥410
    • Anak-anak (6-12 th) ¥250
  • Grup (20 orang atau lebih)
    • Umum ¥410
    • Pelajar (13-18 th) ¥320
    • Anak-anak (6-12 th) ¥200

Waktu

Uzu-no-Michi buka pukul 09.00-18.00 (waktu se tempat). Pada 1 oktober hingga akhir februari, di musim dinginnya jepang, buka pukul 09.00-17.00. Dengan catatan, masih bisa masuk 30 menit sebelum tutup. Tempat ini libur pada hari senin kedua di bulan maret, juni, september dan desember. Selain itu, di hari golden week (3-5 May) atau hari libur musim panas (natsu yasumi), buka dari pukul 08.00-19.00.

Kuliner & Omiyage

Sekitar 5 menit berjalan kaki dari lokasi, ada warung aneka kuliner dan oleh-oleh. Salah satunya udon dengan harga berkisar ¥500. Dibagian belakang sebelah luar warung ini, tampak pemandangan lepas Jembatan Onaruto. Disini juga tersedia teropong jarak jauh berbayar.

Selain ini, sekitar 2 meter dari halte Naruto Park (鳴門公園) juga ada sebuah toko omiyage  yang juga menyediakan udon dengan harga yang cukup variatif. Tidak hanya itu, disini juga menyediakan tiket kapal (船) seharga ¥1.550/orang.

Pusat omiyage terbesar berada di seberang tempat parkir, bisa diakses dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan menaiki anak tangga dari halte Naruto Park. Disini tersedia aneka makanan khas Tokushima yang didominasi oleh imo (ubi berkulit ungu dengan isi putih kuning, hasil pertanian utama di Tokushima), seperti manju (kue mirip dorayaki, kue-nya  kartun doraemon, tapi dalam versi mini), osato (gula dengan pengolahan tradisional), dll.

Gallery

Kamus (Dictionary)

  • 辞書 /jisho/ = Kamus (dictionary)
  • 渦の道 /Uzu-no-Michi/ = Onaruto Bridge Floating Prominade
  • 渦 /uzu/ = Pusaran air (Whirlpools)
  • Observation room = Ruang observasi
  • 船 /fune/ = Kapal (Ship)
  • 夏休み /natsu yasumi/ = Libur musim panas (Summer holidays)
  • 冬 /fuyu/ = Musim dingin (Winter)
  • 乗り場 /noriba/ = Halte, tempat pemberhentian/penantian bus
  • 鳴門公園 /naruto kouen/ = Taman Naruto (Naruto Park)
  • アニメ /anime/ = Cartoon /kartun/
  • うどん /udon/ = Udong, mie gepeng dan lebar khas jepang
  • お鳴門橋 /onarutohashi/ = Jembatan Onaruto (Onaruto Bridge)
  • Insert = Masuk (biasanya berhubungan dengan admission)
  • Golden week = Hari libur berturut-turut di Jepang pada tanggal 3-5 May setiap tahun
  • Admission = Pendaftaran (biasanya bergubungan dengan pembelian tiket)
  • おみやげ /omiyage/ = Oleh-oleh

Kebun Raya Bogor

12.04 Dari Stasiun Bogor, kita naik angkot hijau ngejreng (hijau daun stabilo) 02 (Sukasari-Bubulak).

12.12 Karena suatu hal, kita sempat berhenti dijalan dan naik angkot sekali lagi. Akhirnya, kita sampai di pintu IV, tapi kok sepi?? Jangan-jangan tutup?! Ternyata, ada pengumumannya, cuma pintu I yang buka.

Kita bertanya pada mbak yang ada dikantoran dekat situ. Jadi kita mesti naik angkot 08 atau 05 menuju Pintu I.

Sampai di Pintu I, kita masuk dengan insert @ Rp 15.000,-. Tarif masuk berbeda-beda tergantung kriterianya. Ini dia:

Welcome to Kebun Raya Bogor 😉

Meican sempat meminta kita untuk tidak lanjut kesini, karena sepi.. Tapi, karena saya dan Weni memilih tetap lanjut, dia akhirnya ikut juga dengan enggan 😀

Kebetulan banget nih, kita liat plang Rafflesia Arnoldi.. Tapi sayang, Cuma plang doang, bunganya dicari-cari ga ketemu, huft..

Kita lanjutin perjalanan ke lorong unik yang terbentuk dari dahan pohon bambu yang menyatu, serasa berada di film-film seperti Narnia 😀

Kemudian, saya melihat sekumpulan tugu yang kesannya seperti.. patung-patung di kuburan tertentu! Hm, tidak mungkin.. Tapi memang sih suasana disini kental aura sunyi.. Saya sibuk jepret-jepret, sementara dua teman saya tampak berdiri cukup jauh dari saya dan terkesan mau cepat-cepat pergi dari sini, mereka bicara seperti berbisik dan tampak was-was memperhatikan sekitar. Hm, never mind, saya tetap mengambil beberapa foto dan mulai mendekati bagian informasi tertulisnya, ternyata.. ini.. Makam Belanda!! Tak ingin menyediakan ruang untuk panik, saya optimis tidak ada yang aneh dan tetap mengambil foto sejarah makam ini. Lalu lanjut bergabung bersama Meican dan Weni. Setelah cukup jauh kita berjalan, baru Meican buka suara kalau dia sempat searching dan dapat info bahwa Makam Belanda ini merupakan salah satu tempat yang terangker di Kebun Raya Bogor.. Tapi syukurlah, sejauh ini kita aman.. 🙂 Memang, sekarang saya baru sadar kalau foto-foto tugu yang saya ambil itu hasilnya blur semua, kecuali bagian infonya, hm.. mungkin saya kurang bagus tadi ngambilnya 😉

Ini arah selanjutnya:

Kita sempat mampir di pekarangan sebelah luar Istana Kepresidenan Bogor. Disini udah standby seorang bapak-bapak fotografer, jadi kalau kamu ga bawa kamera ataupun lagi lowbat, ga perlu pusing mendokumentasikannya 😉 Saya sempat bercanda sama si Bapak, nanyain, bisa nggak kita masuk kesana. Si Bapak bilang “Ga bisa atuh neng, kan bapak presiden lagi di kediaman ini sekarang”. 😀 Mungkin si Bapak malah mengira kalau kita-kita ini ngeyel kesini, haha..

Nah, ini dia Danau Gunting.. Kenapa diberi nama demikian? Karena dia berbentuk gunting jika dilihat dari udara. Konon, lokasi ini menjadi salah satu tempat terangker di Kebun Raya Bogor. Katanya nih, danau ini tidak bisa dibersihkan, karena dahulu ada eskavator yang patah, konon ada makhluk halus disana. Ini didukung oleh pengakuan satpam dan petugas kebersihan yang sering melihat penampakan noni Belanda di tengah danau. Namun, saya pribadi juga teman2, merasa adem banget nih disini, suasananya tenang, sejuk dan damai =)

Next..

Capek berjalan, kita menunggu bus keliling yang difasilitasi oleh Kebun Raya Bogor ini. Tapi ditunggu-tunggu, tidak pernah kelihatan. Padahal, awalnya kita pikir mereka tidak beroperasi karena pengunjung sepi, tapi kita sempat melihat ada yang melintas sekitar 2 mobil dengan rentang yang cukup jauh saat kita berkeliling. Sudah cukup lama berdiri disimpang ini, akhirnya muncul satu, tapi mereka tidak mau berhenti, padahal masih banyak tempat yang kosong. Dengan kecewa kita meneruskan perjalanan dengan lunglai. Saking capeknya, saya lebih suka jalan ngeker (tanpa sepatu) dan walhasil kena tusuk duri sawit, bah..

Di sepanjang jalan yang tak jelas ujungnya, kita hanya terus melangkah gontai dan baru merasa diberi angin sorga ketika melihat ada seorang penjada toilet di sisi kiri jalan. Namun, bukannya pencerah, kita malah dapat kabar buruk, bus keliling itu cuma bisa dinaiki di gerbang aja dan tidak akan pernah berhenti di jalan.. “What???” Sempat merasa tak adil, wong tadi kita di gerbang ga liat tuh ada bus itu 😥 Apa boleh buat, kapan lagi marathon seharian begini, lumayan juga nurunin kolesterol 😀

Kita beristirahat cukup lama di bangku depan Pohon Kenari. Setelah saya perhatikan, pohonnya unik, guys.. Buahnya bertebaran di sekitar pohon, bahkan sampai ke sisi jalan dekat tempat kami duduk. Cuma memang, rata-rata yang ditemkan udah membusuk. Mau niatan ambil 1 buat ditanam di rumah, hee.. tapi ga jadi.. Ini dia..

Pernah dengar Jembatan Merah Bogor yang terkenal itu? Nah, ini dia..

Lanjut..

Oya, di mushalla itu, kita liat hari masih sekitar pukul setengah tigaan, jagi kita rehat dulu di beranda depan mesjid. Ada suara gemericik air, dikelilingi oleh pepohonan aneka warna, tenang.. adem.. waaah.. nyaman… Kontan kita guling-gulingan di tembok pelatarannya, waaah.. capek… Mulai ga peduli tuh sama yang lewat, kita mulai mirip tuna wisma deh kayaknya, hee.. Tapi, sesekali kita gemerubuk juga kala ada yang datang, ga enak kalau terlihat tidak sopan 😀 Bahkan, penjaga mesjidnya beberapa kali mondar-mandir ngeliatin kita, mungkin dia heran, gelis-gelis tapi nongkrongnya cak orang gelandangan, hahaa.. Tapi wajarlah dia begitu 😀 Tiap bentar kita liatin jam nungguin waktu Ashar, lama rasanya..

Abis shalat, sekitar jam 4-an, kita go buat beli oleh-oleh khas Bogor. Dari promo Weni nih, disini khasnya Roti Unyil dan Kue Lapis Bogor, abis itu baru deh nyari tempat berbuka, yang ada kuliner khas Bogor juga dong tentunya. Cus..

Beberapa foto memang agak gelap yah.. Ga cuma batrei nih yang low, memori juga full 😀 Kita lama disini rehat sekaligus narsisan juga..

Semangat 45 mau nyari oleh-oleh, rasa penat mulai tersingkir.. Eh, pas kita keluar, sekitar pukul 5-an, sampai di Gerbang I, udah tutup chuy… Pantes sepi banget.. Hallaaa… Kemungkinannya cuma 2, kita terkurung atau mesti lewat pintu lain?! Kalau terkurung mah enggak mungkin bangett.. Tapi kalau pintu keluarnya dialihkan mah bisa jadi.. Kita jalan kesana-kemari menduga-duga. Memang ada plang kluar, cuma disana dibilang untuk kendaraan?! Karena ga ada pilihan, kita ikutin aja jalur exit itu, dan.. kita sampai di Gerbang IV!!! Subhanallah.. perjuangan yang super!!

31 Tahun Bukittinggi Kota Wisata

Kronologis Backpacking

Sepulang dari Rontgen kaki Ayah yang terkilir, rencananya Aku mau menunggu expertisenya sampai sore di Bukittinggi. Hm,  Aku yakin nggak bakal pusing nyariin tempat nongkrong, secara setiap sudut di Bukittinggi berpotensi untuk rehat 😀 Aku tinggal jalan doang mau kemanapun, naik angkot kalau udah capek banget 😀 Yah, Bukittinggi… Kota kecil yang selalu Aku kagumi 🙂 tidak ada yang berubah, masih saja ramah dan bersahaja, sekalipun pembangunannya meningkat dengan pesat. Wisata… Kuliner… Penduduknya.. Semuanya!! ngangenin banget.. 🙂 beruntung Aku pernah mengecap nyamannya jadi warga Bukittinggi 🙂 Wkwkwk, kok makin lebay ya?! Haha… Sorry, sorry… Cus, kita lanjutin ceritanya 😀 Tapi ciyus lho, Bukittinggi itu memang nyaman bangett, semua ada 😀

Akhirnya, meskipun expertisenya batal diambil hari ini; Aku memutuskan untuk melancong sekilas di kota sejuk ini (tapi sekarang lumayan terik, bok..). Aku belum tau mau kemana, tapi hatiku memandu untuk ke Panorama, Aku mau mampir sebentar, sekedar foto-foto.. Sayang rasanya cepat-cepat balik ke Padang, karena nanti belum tentu Aku masih punya waktu seluang ini untuk menyapa Bukittinggi.. 🙂

Aku naik angkot No. 15. Nah, kalau di Bukittinggi, angkot itu pake nomor, guys… Beda sama di Padang.. No. 15 Untuk rute ke Blaba, Simpang Kangkung – Panorama – RSAM- Pasar Bawah – Jenjang Gudang – Hotel Jogja – Bank BNI pusat – Niagara swalayan (Simpang Kangkung) – Simpang YARSI – RSI Ibnu Sina Bukittinggi – Belakang Balok (Blaba) – Simpang STIKes YARSI Sumbar Bukittinggi – Simpang Universitas Muhammadiyah (belakang) – Akbid Poltekes Kemenkes RI – kantor-kantor pemerintah kota Bukittinggi – UNP – Birugo – SMAN 2 Bukittinggi – RSSN – Kodim – Simpang Universitas Muhammadiyah (depan) – Simpang STIKes YARSI Sumbar Bukittinggi – RSI Ibnu Sina Bukittinggi – Simpang YARSI – Simpang Kangkung. Angkot. No. 14 rute Jambu Air, Simpang Kangkung – Panorama – RSAM- Pasar Bawah – Jenjang Gudang – Hotel Jogja – Bank BNI pusat – Niagara swalayan (Simpang Kangkung) – Lapangan Kantin – RSSN – SMAN 2 Bukittinggi – Jambu Air. Angkot No. 03, 06 & 09 itu bedanya dia lewat ke Kampung Cina (lupa ding, udah lama soalnya…). Angkot No. 19 rute Terminal Aur Kuning. Selain itu memang ada angkot berwarna kuning dan hijau. Angkot Kuning itu rute dari dan ke Padang Luar, trus ntar muternya di Jenjang Gudang/BNI pusat/Hotel Jogja. Angkot hijau jurusan Koto Tuo, lewat Terminal Aur Kuning dan ambil belokan di Stasiun. Wadoooow, nggak tau itu apa bener semua atau ada rute yang salah, hihhi… Maklum, memorynya cuma sejam-sejam, jadi kalau udah lama mesti diinstal terus 😀

Taman Panorama & Lobang Jepang

“Kiri, Pak…” ungkapku menyetop angkot yang kutumpangi. Aku serasa nggak percaya kalau Aku beneran udah disini, guys… Sudah lama sekali… 🙂 Dengan mantap Aku melangkah untuk membeli karcis, tapi kok… Jendela pembelian karcisnya tutup semua?? Aku sempat mikir, jangan-jangan udah ditutup lagi gegara over capacity?! Liat aja, wisatawannya rame nian euy… Iseng-iseng Aku bertanya pada bapak-bapak yang duduk-duduk di samping kanan depan gerbangnya, nanyain beli tiketnya gimana. Sayup-sayup nggak jelas Aku dengar GRATIS!!!! “Ah, masa sih???”. Mau nanya lagi mah Aku kagak sreg sama bapak-bapaknya, segan… ntar dibilang tuwir lagi?! Beeeh… Ya udah, Aku jalan-jalan aja pelan masuk ke dalam, coz ada salah satu bapaknya bilang selembar kertas, entah itu balesin omongan Aku atau malah komentar lain dari pembicaraannya sebelumnya; Aku jaga-jaga aja, ntar kalau disodorin kertas, Aku tinggal bayar, Aku rasa tiketnya nggak bakal lebih dari Rp 10.000,- 😀 Tapi… udah pasang tampang oonpun, udah mondar-mandir sana-sini kayak nyariin kenalan (padahal kagak ada yang kenal), eeh… Ya udah, rejekinya Aku nih, hihi… Senangnya… Tapi, serius ini GRATIS?! Jangan-jangan ntar pas Aku mau keluar, malah kena tegur?? Malu dong… Mending Aku bayar dari sekarang.. Tapi, ya sudahlah… Aku jalan-jalan aja, keliling-keliling, foto-foto; kalaupun bayar, Aku tinggal ngasi duitnya 😉

Hm, bingung juga nih, mau kemana ya?! Udah masuk, GRATIS, pake bingung lagi… ntar rejekinya malah ilang?! Aku nikmatiin aja foto-fotonya, secara pemandangan disini bagus banget, adem, tenang (padahal rame, lho..), sejuk mata memandang (padahal rada panas, lho..), T.O.P dah pokoknya…

Aku fotoin ngarai yang di depan ahh… Tapi ogah, itu orang lagi numpuk disana, jadi keder… 😀 Hm, kemana ya?? Ahaaa.. Lobang Jepang!!! Aku fotoin Lobang Jepang aja ahh… Hm, abis ini Aku minta tolong fotoin sama adek-adek ini, hihi.. Kebetulan banget, mereka lagi duduk-duduk nggak jelas disini.. 😀 Eh, belum jadi Aku minta tolong, mereka keburu bubar.. 😦 Emang nasibku kali ini apes dah, ya sudahlah.. yang penting Aku udah ambil sendiri foto asli objeknya 🙂

Tiba-tiba, datang seorang bapak-bapak nawarin diri buat membantu ngambilin fotoku berlatarkan Lobang Jepang. Aku sempat negative thinking, lho.. Jangan-jangan.. Jangan-jangan..?! Aku was-was, guys.. Tapi, “udah”, kata bapaknya. “Udah, pak” jawabku tanpa melihat hasilnya. “Lihatlah dulu, bagus nggak?!” kata bapaknya ramah. Aku jadi nggak enak gitu, Ku buka dah itu foto, ternyata cukup bagus, tanpa Aku sadari si bapak juga ikutan liat dan bertanya kembali untuk meyakinkanku “udah?”. Aku tersenyum yakin “udah, udah, makasi ya, pak..” Jawabku mengapresiasi si bapak. Kemudian beliau berlalu diikuti seseorang yang lebih muda darinya dan sepertinya masuk ke Lobang Jepang itu (Aku tidak memperhatikan). Ohh, betapa suuzonnya Aku tadi, bener-bener minta maaf sama si bapak, coz jarang-jarang ketemu orang yang memiliki inisitif tinggi seperti itu 🙂

OK deh, jadi… Aku keliling-keliling lagi ahh.. Tapi, Aku sedikit was-was dan menjaga jarak dari kera-kera yang berkeliaran dimana-mana. Aku yakin mereka nggak bakal gangguin Aku, toh kalau mereka udah gangguin wisatawan so pasti udah diusir sama petugas-petugasnya. Wong mereka enjoy aja tuh jalan kesana-kemari sesukanya. Syukurlah.. Beberapa kali aku lewati dan mereka melewatiku, sampe yang gede sekalipun, aman-aman aja… Aku mulai ga enak, sedari tadi bawaannya suuzon terus.. So, Aku beliin mereka makanan dah entar, kasian mondar-mandir doang, mungkin mereka ngarep juga tuh wisatawannya ngasi cemilan 😀 Tapi… boleh nggak ya?? Ntar malah bikin ribut lagi?! Parahnya, Akulah sang tersangka 😦 Aku ingat, di Jepang sebuah taman yang banyak monyetnya, pengunjung nggak boleh ngasi makanan, Aku nonton beberapa hari yang lalu di sebuah stasiun TV swasta.. Disini gimana ya?! Aku lupa ding, yang Aku ingat, di kebun binatang mah boleh.. Sewatu kecil, Ayah sama Ibu selalu beliin semilan (biasanya kacang goreng) buat ngasi binatangnya makanan 😀 Masa kecil yang terlalu bahagia untuk dikenang 😀 Tapi ntar Aku liat sikon aja deh, apesnya belum ada tuh yang keliatan ngasi sikeranya makanan?? Dengan berat hati, Aku memilih untuk sekedar lalu lalang dan ngambil foto mereka aja. Walhasil, Aku jadi bahan ledekan ABG-ABG yang usil karenanya 😀

Dingarai seberang sana, tampak Great Wall mengular singkat. Aku mau kesana, tapi… jauh… Unjut bilang, pake motor aja capek, apalagi jalan?! Huft, sayang banget.. Ah, Aku terusin aja langkahku hingga mentok di ujung, sekalian cuci mata liatin cendera mata yang bagus-bagus, hee.. Bener aja, Aku kecentol sama sebuah lukisan yang harganya ekonomis, mulai dari Rp 5.000,- lho… Cantik-cantik..!!! Liat deh kalau enggak percaya 😉

Sesampainya di penghabisan toko-toko yang menjual aneka cendera mata, Aku mengambil banyak foto; secara pemandangan disini lebih menarik dari sayap sebelumnya. Tapi, ada yang kurang rasanya.. Apa ya?? Hmm… Foto-foto yang kuambil pasti akan jauh lebih bagus jika kuambil dari ketinggian. Aku melihat sebuah menara 2 lantai tertancap kokoh disana dan Aku mengenalinya (Jangan-jangan, umurku kalah tua darinya?). Kutatap menara itu, berusaha nego dengan diriku sendiri, “berani nggak ya??” bisikku dalam hati. Apa boleh buat, Aku mulai terobsesi ke atas sana, penasaran apa rasanya berada disana, karena selama ini yang bisa kulakukan hanyalah melihat, sekarang waktunya “action” 😉 Hm, disekitar menara malah berkeliaran beberapa ekor kera yang seolah menyiratkan bahwa “kami menjaga menara ini, lho..”. Seketika nyaliku berangsur ciut, bisa mampus tuh Aku dikeroyokin sama mereka ntar?? Ah, ogah ah… Tapi… Aku ingin mencobanya.. 🙂

Kebetulan, di dekat menara itu ada sebuah toko, satu-satunya toko terakhir yang berdekatan dengan menara. Aku menyapa pemilik toko dan bertanya “Da, boleh nggak naik ke atas menara ini?”. Dia melirikku antara aneh dan heran, “Ngga apa-apa” jawabnya ringan. “Tapi… kera-kera itu…” tanyaku khawatir. “Ga masalah, mereka nggak ngganggu kok, bla bla bla….” tutur si Uda menjelaskan.

Kutarik napas dalam dan go…. Kuseret langkahku pelan tapi pasti, satu tangga… dua tangga… tap tap tap, akhirnya sampai di lantai 1
(Horrraaayy…. I got it!!!). Bagus banget pemandangan dari sini… Hm, Aku harus naik lagi nih ke lantai paling atas. Kali ini energiku mulai full kembali, nyalikupun demikian.. Memang benar kata si Uda, para kera sama sekali tidak menggangguku.. Mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing 😀 Dengan tetap berhati-hati, kulangkahkan kaki langkah demi langkah, dan… I’m the winner.. Aku sampai….!!!! Tiba-tiba, Aku mulai merasakan aura gamang.. Entah sejak kapan Aku mulai mabuk ketinggian, guys… Kurasakan tubuhku seolah-olah akan jatuh kala Aku berada di pinggiran pembatas menara, seperti ada magnet besar yang menarikku dan Aku tak kuasa melawannya. Aku menyadari kalau Aku mulai khawatir. Kusandarkan punggungku ke pinggiran tengah menara, namun tetap berhati-hati, jangan sampai Aku bersandar di mulut tangga, itu mah sama parahnya, hahaa..

Tanpa sengaja, kudengar percakapan 3 orang cowok yang bergerak ke arah menara ini. Topiknya tidak lain dan tidak bukan memang si Menara.. Aku tidak memperhatikan, entah mereka bapak-bapak, pemuda-pemuda, para ABG, atau beberapa diantaranya?! Hanya saja, Aku sempat ketawa geli saat salah satu dari mereka mengungkapkan ketakutannya untuk mendaki menara ini. Aku merasa lucu aja guys, masa sekelas cowok yang beginian aja takut?? Haha, ups, Aku ngga bermaksud ngejek, lho.. Tapi memang seharusnya mereka lebih berani, wong Aku aja cewek, sendiri, berani ke atas sini.. 🙂 Songooong.. 😀 Tapi akhirnya mereka bertiga nyusul Aku kok ke puncak menara. Segera setelah mereka sampai, Aku memutuskan untuk turun.

Cukup lama Aku berkeliling, tiba waktunya untuk pulang.. Ku lumat-lumat langkahku memperhatikan sekitar, sepertinya ini memang rejekiku, alias GRATIS!! Mimpi apa Aku semalam, jalan-jalan iseng, eh malah GRATIS?! 😀

Aku keluar dari gerbang Taman Panorama & Lobang Jepang, kemudian berdiri ditrotoar menunggu angkot. Tak jelas angkot yang aku tunggu itu apakah yang no. 15 atau no. 14, silih berganti mereka lalu-lalang di depanku, atau… angkot no.19 aja biar langsung ke Terminal Aur Kuning?! Entah kenapa, Aku merasa waktuku masih panjang, masih cukup untuk kesana-kemari.. Tapi, mengingat belum makan siang, Aku memutuskan untuk langsung pulang aja. Tapi eits, tunggu… pesawat itu..!! diseberang..!! Kala kecil Ayah dan Ibuku sering menunjukinya padaku dan Unjut.. Aku ingin memfotonya, ditunda dulu dah sortir angkotnya… Hmm, ternyata itu Museum???? Halllooooowwww, kemana aja Aku selama ini??? Memang bener-bener nih Aku, kebangetan..!!!!

DSC_9339
Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma

Nah, kebetulan nih, itu kan Museum.. Aku ingat sewaktu di Curup dulu, rumah adatnya yang terkesan dijaga ketat ternyata terbuka untuk umum.. Aku coba tanya ahh… Tapi bapak yang menjaganya tentara??! Apa ini khusus untuk angkatan aja ya?? Hm, coba ditanya dulu dah..

Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma

Aku udah kayak orang bengong nyari alamat aja.. 😀 Untung aja bapak-bapaknya ramah, jadi nggak keliatan banget oonnya 😀 Trus bapaknya malah nanya, “berapa orang?” Waduuuu… tuh, kan…?! Aku bilang sendiri.. Hm, responnya diluar periraanku, aman-aman aja.. Yah, begitulah ramahnya Bukittinggi… 🙂

Aku masuk ke dalam, tanpa karcis lho, guys… Nggak ngerti juga nih, entah biasanya bayar atau memang kali ini Aku beruntung (bangett)?! Hm, entahlah… yang jelas, kali ini beda pesonanya.. Aku berasa terlempar jauh ke jaman kemerdekaan, aroma sejarahnya sangat kental….

 

Awalnya cuma Aku doang pengunjungnya, lama-lama datang sekelompok anak sekolahan dan para guru. Aku salut sama mereka, masih sempat menyisakan waktu untuk mengunjungi museum.. Suatu hal yang boleh dikatakan tidak pernah Aku lakukan, karena tidak terpapar dengannya. Aku sempat tertawa geli kala anak-anak itu mengomentari berbagai jenis mata uang dari beberapa negara yang terpajang disana dan mereka berkomentar “wah, mata uang Indonesia yang paling banyak jenisnya ya?!” seru mereka kompak antara kagum dan heran 😀 Aku ikutan berebut melihat apa yang mereka lihat, takut ngga cukup waktu… 😀 (Alasan doang, seru aja nimbrung sama anak-anak cerdas seperti mereka, haha..).

Selesai berkeliling, saatnya Aku pulang, kali ini beneran… 😉 Tapi… masa jauh-jauh, ups udah sejauh ini, cuma liat-liat doang?? Aku mau foto di pesawat itu…!!! Sebenernyaa sih segan, tapi apa boleh buat, Aku minta tolong sama bapak yang jaga. Mereka ada berdua, yang satu mengenakan seragam dan satu lagi baju bebas. Bapak yang berseragam terlihat keberatan, mungkin karena tuntutan peraturannya atau gimana, Aku memaklumi itu. Untunglah bapak yang baju bebas maju dengan suka rela, hee… Setelah beberapa kali klik, si Bapak menawarkan untuk berfoto di relief, dinding sebelah kanan museum. Karena keberat segan, Aku menolaknya. Namun si Bapak meyakinkan apa Aku tidak ingin berfoto di relief itu, padahal pengunjung biasanya banyak yang berfoto disitu.. Akhirnya Aku dengan senang hati membuang basa basi basiku, xixi.. Aku berdiri disamping relief 🙂

Tau nggak, guys? Aku baru sadar kalau disini ada relief..?? Baah…. Kayaknya Aku lewat tadi, Aku pake kacamata pembias dari kanan deh, sehingga Aku nggak liat reliefnya terpahat dengan indah dan sangat jelas disitu 😀 Lain kali harus lebih perhatian nih 😀

Bendi

Aku menyeberang untuk menyetop angkot no. 19. Tapi, di seberang… Ada yang menarik diriku untuk kembali menyeberang.. Bendi!!!! Aku mau naik bendi!!!! Tapi, setauku maHHHal, lho… Hm, kita mana tau sebelum ditanya.. Aku menyeberang dengan ragu-ragu, kuyakinkan diri untuk paling enggak mengambil foto aja. Ketika inilah Aku baru melihat jelas plang Museum Perjuangan yang kupotret-potret doang tanpa memperhatikan objeknya. Beeeeh, disana terpahat rapi “Museum Perjuangan, Tri Daya Eka Dharma, terbuka untuk umum”. Gubrakkk….!!! Layaknya orang yang kena timbuk batu gede, itulah malunya Aku saat ini. Betapa tidak, udah ada tulisannya terbuka untuk umum, tapi aku malah menanyakan pertanyaan yang udah ada jawabannya itu dengan tampang oon, walaaaah… Udah bangun belum sih Aku ini?? Jangan sampai nanti kejadian lagi nih yang kayak begini… 😀

Sebelum naik tanpa aba-aba, Aku mastiin dulu coast bendinya berapa… Pas bapaknya nanya “mau kemana, nak?” Aku malah asal jawab, “kalau ke pasar bawah berapa, pak?”. “Kasih aja Rp 20.000,-“ kata bapaknya ringan. Aku menelan ludah, “mahalnya pak? Nggak bisa kurang, pak?” responku sedikit memelas.. tapi si bapak bilang “memang segitu”. Aku pasrah… “kalau ke RSAM, pak?” tanyaku lagi.. “Kasih aja Rp 15.000,- atau Rp 10.000,-anlah..” jawab bapaknya. Aku jadi lesu, “5 ribulah ya, pak…” tanyaku lagi mencoba untuk nego. Akhirnya si bapak nyerah & mengiyakan 😀

Sebelum berngkat, nggak lupa Aku minta tolong bapaknya fotoin dulu Aku sama bendinya (kesempatan langka!! hee..). Tapi bapaknya menolak, beliau mau saja, tapi kudanya bisa lari ntar.. Hm, bener juga.. sudah seharusnya aku memaklumi itu.

Tiba-tiba ketika Aku menaiki bendi, si bapak keceplosan.. “Semua wisata di Bukittinggi gratis karena HUT kota wisata”. Aku terperangah, dalam waktu bersamaan dengan bendi berkelok, aku melihat spanduk besar tergantung tepat dipintu masuk Taman Panorama dan Lobang Jepang “31 th pencanangan Bukittinggi sebagai Kota Wisata”.

Dari sekian waktu yang kuhabiskan tadi, ternyata banyak hal penting yang Aku abaikan, masyaAllah… Merasa tidak mendapatkan promosinya, Aku langsung berkomentar pada si bapak, “Lah, kok nggak diumumkan ya, pak?? Kan jadi banyak yang nggak tau??”. Ternyata si bapak urang tau juga, tapi sepertinya kata beliau mungkin ada disiarkan lewat radio-radio..

Dalam perjalanan, Aku bercerita kalau naik bendi ini karena kangen aja, dulu sekali semasa kecil Aku pernah menumpanginya. Eh, ternyata si bapak juga bercerita tentang anaknya yang sedang kuliah. Aku salut sama sibapak, jadi ingat ayahku.. 🙂

Plang megah RSAM sudah mengintip dari sayap kiri, Aku bersiap-siap turun dari bendi. Ada sedikit rasa bersalah terselip mau bayar bendinya Rp 5.000,-. Tapi, apa boleh buat, untuk saat ini keuanganku benar-benar dalam kondisi memprihatinkan, jadi mau tak mau Aku betul-betul harus mempertimbangkan apa saja yang penting untuk dibayar. Udah gitu, Aku rasa, Aku belum terlalu ketegaan menawar dengan harga segitu, masih masuk akal..

Kuperhatikan sibapak sampai berbelok dengan sempurna hingga seberang, tak henti mataku memandang hingga kejauhan, sampai-sampai Aku lupa memperhatikan angkot-angkot yang silih berganti berhenti menanyakan ruteku. Hup, tunggu dulu… Alhamdulillah… Ada seorang bapak-bapak yang menyetop bendi si bapak, syukurlah… Angkot no. 19-pun menghampiri dan Aku langsung naik setelah memastikannya benar-benar ke Terminal Aur Kuning.

Simpang Raya

Sesampai di Terminal, Aku singgah dulu di Simpang Raya, rumah makan langgananku sekeluarga 😀 Aku belum sempat makan siang, sekalipun ntar ada lauk, ternyata Unjut nggak masak nasi?! hm.. Sekali-sekali beli nasi bungkuslah, kangen sama dendeng lamboknya.. Dendeng lambok apa ayam pop medan, ya?? Hm…??? Atau… cancang?? ini beberapa menu unggulanku sih disana.. Hm.. dendeng aja deh.. Lagian ntar di Padang udah ada pensi balado yang dibikin Ibu dan dibawa Unjut dari kampung. Perutku udah menari kegirangan, tapi kudu sabbar… 😀

Back to Padang

Kali ini Aku naik Bus Tranex, ongkos Rp 20.000,-. Dalam perjalanan, Ibuku menghubungiku. Beliau heran, kenapa Aku masih belum sampai di Padang?? Aku menceritakan alasannya, termasuk betapa oonnya Aku bengong-bengong nyariin tukang karcis, haha… Bah, begonya lagi, Ibu dan Ayahku tau kok kalau hari ini tuh semua wisata di Bukittinggi GRATIS seharian.. Waduuuu…. Berarti memang Aku nih yang kudet (kurang update) 😀

Bacpacking To Curup (Part 3)

Ini kali terakhir saya bacpacking ke Curup demi CPNSD. Saya ga lulus, guys.. 😦 Kecewa so pasti ada, tapi ya ga sampai yang depresi gitu 😀

Jadi ingat aja support dari keluarga yang udah super luar biasa banget. Ga bisa diungkapin, mereka selalu hadir sebagai motivator sepanjang hidup saya..

Sampai-sampai keajaibanpun terjadi ketika Ibuni dengan semangat 45 mau pergi bareng ke Curup hanya demi memberikan saya support; ini hal luar biasa (andai kamu tau guys, saya seneng bangettt!!!) Tapi.. Beberapa pertimbangan akhirnya mengantarkan saya untuk tetap pergi sendiri.

Yah, yang namanya rejeki ga bisa kita tebak toh, yang penting saya sudah berusaha, setidaknya perjuangan saya ga sia-sia lho, keberuntungan aja yang belum berpihak pada saya, buktinya saya berada di chart ke-8 kok, bangga dong… (menghibur diri sendiri) 😀

Hm, mari go ke planing selanjutnya, pasti banyak surprise terbaik dan paling baik yang udah Dia siapkan buat saya, tinggal usaha.. do’a.. dapet deh kejutannya, ya nggak seh.. 😀 (So pasti iya dong.. masa ada yang bilang enggak, haha…)

♠ ♠ ♠

Planing utama gagal, planing kedua dan bla-blanya malah ngalir tanpa saya skeduli 😀 Banyak hikmah dan saya belajar banyak dari perjalanan ini. Hop, stop!!! Ga pake acara dramatis, hee… Cus, kali ini saya akan nginep di sebuah tempat recommended dari handai taulan.

13 November 2014

Seperti biasa, saya ngaret… Busnya udah mau berangkat, tinggal nungguin saya doang 😀

  • 13.00 Berangkat dari Padang
  • 13.15 Simpang Haru
  • …….. Di daerah Indarung, ada orang yang naik, ibu-ibu, gegara disamping saya kosong, dia disuruh duduk aja sama sopirnya.
  • 14.04 Sitinjau Lauik. Ada mobil Fuso merah terperosot ke pinggir jalan (tak sempat saya foto), kabarnya udah dari kemaren.
  • 14.09 Berkabut… kabarnya nih, ini kabut kiriman dari Pekanbaru gegara kebakaran hutan
  • 14.14 Plang keluar Padang
  • 14.19 Ripha, bangunan tinggal, karena tidak dapat izin limbah, ini dapet cerita si ibu-ibu yang duduk disamping saya dan saya memanggilnya dengan sebutan uni (panggilan untuk perempuan yang lebih tua di Minangkabau)
  • 14.30 Simpang Lubuk Selasih, 97 km menuju Muara Labuh, kiri arah Pondok Bambu
  • 14.32 Kayu Aro
  • 14.33 Gunung Talang (sebelah kanan). Hm, dalam beberapa menit, saya udah solid sama si Uni, saya tahu banyak nama tempat dari si Uni yang ternyata orang asli Solok (saya lupa nama kampungnya, yang saya ingat namanya Simpang Jawi-jawi di Solok Selatan, deket RSUD. Ga nyangka, ternyata si Uni istrinya Brimob, lho… pantes ya pesonanya rada jenggo 😄✌ Uni ini mau ke Bengkulu, tadinya dari Muaro Labuh, tapi ke Padang singgah tempat saudaranya dulu sebelum go ke rute selanjutnya. Salah satu sopir Bus ini paman si Uni, lho.. Saya sempat heran, ngapain si Uni ngosong-ngosong kresek item ya, padahal mau bepergian jauh?! Huahahaha.. ngakak dah saya pas diceritain alasannya kenapa, tas si Uni putus!! Tapi ceritanya unik banget, bukannya kasian kita malah geli ngedengernya 😂 Swear dah, siapapun sepintas lalu ngeliatin si Uni, ga bakal nyangka status sebenernya dia itu gimana, saluuut.. Pelajaran nih, jangan liat orang dari penampilannya, inilah buktinya 😀
  • 14.34 DPRD, Kantor Bupati Solok, tugu Ayam Jago
  • 14.35 Sukarami
  • 14.40 SMP Negeri 3 Gunung Talang, Sari Manggis
  • 15.13 Terminal Bareh Solok. Nah, disini ada yang unik lagi, nih.. Si Uni beli pergedel jagung yang dijojoin sama pedagang sana, saya liat cukup banyak; trus saya juga beli tapi cuma 2, biar ga ngiller aja ntar ngeliatin si Uni ngemil dengan lahapnya 😄 Saya kira si Uni lapar, makanya beli segitu banyak; eeeh.. taunya… itu pergedel udah dilebihin buat saya!!! Alamak.. 😄 Si Uni ngomentarin kalau itu pergedel pake bumbu penyedap, saya mah no comment, bodo amat, kalau enak cepet habisnya, tapi kalau engga ya abis juga (wong cuma beli 2, laper mah ludes juga ntar, haha). Waaah, usut punya usut, si Uni punya cathering yang OK punya di kampungnya..!!! We.Ow.We!!! Beneran ga nyangka… Si Uni juga beruntung punya suami & anak tunggal yang fair, so dia tetep bisa melalang buana kemana-mana tanpa harus mikir panjang. Sekarang tuh suaminya lagi dinas di Aceh dan anaknya sekolah disana, dalam waktu dekat ini mereka bakal pindah ke Padang; hm…. keluarga yang solid.. Jarang nih saya ketemu yang beginian..
  • 15.56 Sawahlunto Sijunjung
  • 16.01 Plang Sijunjung 90 km
  • 16.20 RSUD Sijunjung
  • 17.06 Ga tau dimana…?! nyaris tabrakan sama mobil Fuso.. 😦
  • 17.15 SMK 3 Sungai Lansek
  • 17.21 Pertamina Kab. Sijunjung
  • 17.26 Jembatan Muaro Tajung
  • 17.43 Pulau Punjung, Dharmasraya
  • 17.48 Sungai Dareh
  • 18.15 Umega Gunung Medan. Disini saya mesti pisah dari si Uni, coz abis shalat si Uni udah keluar Mushalla duluan yang ternyata gabung sama mamaknya, kita ga ketemu..
  • 18.49 Goo…
  • 18.55 RS Amanah Damaseya
  • 19.21 Sungai Rumbai, Dharmasraya
  • 19.28 Hotel Bilqis. Kata si Uni nih, 4 jam lagi sebelah kanannya terus ke dalam Muaro Labuh melewati Abai, Lubuk Malako, Lubuk Gadang, Padang Aro, Liki, Sungai Rambai.
  • 19.51 Rimbo Bujang
  • 20.00 Desa Tanah Periuk
  • 20.09 Polsek Tanah Sepenggal
  • 20.21 Terminal penumpang type A “Kota Lintas”
14 November 2014
  • 00.00 Lubuk Linggau
  • 01.25 Kapalo Curup, istirahat.
  • 02.00 Goo.. Konfoi sama Bus SAN dari Bukittinggi
  • 02.25 …. (ga tau dimana?!).. Sepi.. mobil ada bunyi-bunyi kayak kipas angin terhalang gitu.. berhenti sejenak.
  • 02.35 Ngungsi ke mobil belakang (Bus SAN dari Bukittinggi), ternyata bus yang kami tumpangi itu rusak.. 😥 So, alhamdulillah… kita tetep dapet tempat duduk, paliiing belakang, tapi deket jendela (tempat favorit saya dulu ketika masih pulang-pergi Padang-Bukittinggi pake NPM/ANS, my favo bus, hee). Cuma ya… AC-nya udah ganti sama AJ alias AC Jendela (ala Bang Budi, agen Bus SAN yang di Curup), tapi ga ngaruh kok, wong disini dini hari dingin bangeeet… 😨
  • Sekitar jam 03.00 WIB, akhirnya saya sampai di Pos Polisi Curup, Pasar Bang Mego. Sepi nian euy.. Kebayang aja nih saya gelandangan sendirian jam segini disana, waaaa… :3 Sebelum turun bus, si Uni berkali-kali berpesan “hati-hati ya, La..”, kami juga sempat bertukar nomer HP, si Uni minta saya segera menghubunginya kalau udah ketemu sama Ibuk (istri pemilik rumah tempat saya menginap nanti, cikal bakal keluarga baru saya). Bahkan, saat bus mulai melajupun, masih terdengar suara si Uni berceloteh dengan sangat jelas, “kalau ke Solok, jangan lupa mampir ke rumah uni yo…” 😀 Saya sangat senang, setiap jalan menemukan keluarga baru 🙂
  • ………. Saya melangak-melongok ke Pos Polisi. Syukurlah.. saya lihat di layar kaca yang tidak terlalu transparan ada siaran TV di dalam ruangan itu. Namun, meskipun berkali-kali saya panggil, ga ada satupun orang yang muncul. Tadinya saya bermaksud mau ngomong numpang gitu sama yang lagi jaga, tapi… Yah, sudahlah.. Yang penting saya aman, kan lagi di Pos Polisi 😀 Untung aja saya make baju yang lumayan tebel, ciyus dingin banget.. Saya langsung nyalain HP yang tadinya sempat dimatiin sejenak demi menghemat batrei. Kemudian mengabari Ayah dan Ibu kalau sekarang saya udah nyampe Pos Polisi Curup, mau ngubungi Ibuk. Terdengar suara di seberang sana meyakinkan saya buat nyoba ngubungin Ibuk dan tetap di Pos Polisi saja jika tidak jawaban 🙂 Entah kenapa, harapan itu cukup membuat saya tenang, seperti terlindungi di negeri antah berantah ini. OK, I’ll do it 😉
  • ……….. Saya hubungi nomer Ibuk, beliau berpesan agar saya menunggu sebentar disini karena beliau segera berangkat. Beberapa kali saya dengar ada motor berhenti, saya langsung melirik, ternyata bukan beliau. Saya juga tidak bertanya, Ibuk pake kendaraan apa jemput saya kesini, sejauh apa rumahnya, berapa lama saya akan menunggu; Yah, seukuran orang yang numpang saya memang kudu tau diri 😀 Setiap menit rasanya lamaa… Saya bener-bener ga tau harus gimana, adanya saya malah duduk macam orang nungguin pelajaran selanjutnya dari sang guru di kelas; duduk dengan rapi 😀 Kok Ibuknya belum nyampe juga ya?! Apa rumahnya jauh ya dari sini? Atau saya naik ojek aja kesana biar ga ngerepotin?? Aaarrggh, serba salah jadinya 😦 Tapi, tunggu, ini ada telfon!! Alhamdulillah.. Dari Ibuk!! Beliau bilang udah di simpang!!! Saya langsung melongok keluar, tapi…. yang mana orangnya??? Yang ada sekali-sekali ojek nanyain saya mau kemana dari seberang jalan.. Saya yang tadinya sabar, entah kenapa mendadak resah, ada rasa sungkan, was-was, whateverlah… Hanya berharap segera bertemu dengan Ibuk. Oh, mungkin itu dia!! Saya melihat mobil kapsul lama parkir di simpang, sebelah kanan Pos Polisi, tapi…. kok mobilnya diam doang ya disana, ga bergerak-gerak?? Benarkah itu mobilnya?? Lalu saya memilih buat kembali ke dalam, diam menunggu lebih irit energi ketimbang kasak kusuk 😀
  • ……….. Ga lama, muncul suara memanggil nama saya dan.. itu dia, Ibuk!!! Wanita paruh baya, perawakannya ramah dan teduh. Tanpa basa-basi, beliau langsung mengajak saya buat mengikutinya. Kami berjalan menusuri Pasar Bang Mego yang masih rame, tampak para pedagang kali lima entah berkemas atau udah mulai berdagang sedini hari gini, saya juga ga ngerti.. Eh, tiba-tiba Ibuk menjelaskan tanpa saya tanya, itu pedagang-pedagang sini lagi beres-beres, disini selain pasar yang pagi, ada lagi pasar malam, jadi selalu rame. Saya hanya menggangguk penuh arti.
  • ……… Sampe di rumah Ibuk, disana udah ada Bapak menunggu. Perawakannya tinggi, sedang, tentunya juga ramah; bener-bener serasi sama Ibuk 🙂
  • ……… Waduuuuuh, saya beneran sungkan nih… Ibuk udah kasak-kusuk sibuk nyiapin hidangan buat saya.. Beliau bikin kopi yang dikasih gula enau (gula aren) dan meletakkan sebungkus roti gabin. Ini masih mending guys, sebelum ini beliau udah buru-buru ke dapur mau ngidangin nasi, untung aja saya bisa ngeyakinin beliau kalau saya udah makan di jalan tengah malam tadi, Subhanallah…
  • ……… Ibuk mengantarkan saya ke kamar untuk beristirahat. Saya malah jadi enggan tuk tidur, keberat sungkan… Entah cak mana saya nak merespon kebaikan keluarga ini 😀 Saya hanya bisa bersyukur tiada henti, “sungguh, nikmat-Mu mana lagi yang kan ku dustakan??”
  • ………. Saya beneran ga bisa tidur lho, guys.. Cuma melepas penat sejenak.. Tiba-tiba, sehabis Subuh, Ibuk masuk ke kamar dan pamit pada saya, beliau bilang akan shalat ke mesjid dekat sini bareng Bapak. Saya hanya melongo, “lah, gimana bisa Ibuk dan Bapak langsung percaya gitu aja ninggalin saya, orang baru yang ga mereka kenal, di rumah mereka sendirian??” Setelahnya malah bikin saya kaget lagi, abis Subuh Ibuk dan Bapak udah siap-siap, Ibuk bilang mereka punya toko di Pasar Atas Curup dan saya disuruh istirahat aja, nanti jam 10-an Bapak datang jemput saya buat liat-liat pasar :O Mereka juga mengingatkan tempat kunci ditarok.
  • Jam 9-an, saya beneran ga bisa istirahat, guys.. Sepeninggal Ibuk dan Bapak, saya nonton TV aja di ruang tamu. Kebetulan disekitar sini udah pada rame, mungkin semua orang pada mulai aktifitas. Trus, ngeliat sapu, udah klar pula nyapu rumah. Trus, bolak-balik ke kamar ga jelas. Ayah dan Ibu udah saya hubungi tadi buat ngasihtau saya udah aman di tempat Ibuk. Hm, saya ngecas HP dah kalau gitu, ntar pas perlu malah low bat?! Tiba-tiba, ada orang gedor-gedor pintu, ternyata Ibuk!! Gile aje, saya kaget banget.. Ternyata kunci Ibuk tinggal di toko, karena sebelumnya kan yang mau jemput saya rencananya Bapak, tapi Ibuk ingat saya belum makan, jadi beliau bela-belain pulang cuma buat masakin saya lauk doang. Abis itu, secepat kilat, semua hidangan udah tersaji dengan apik. Swear deh, sungkan abiiiis sama Ibuk…!!! Eh, beliau nak bikinin saya kopi/teh pake gula enau lagi?! Walaaaah…
  • …….. Saya udah siap ke pasar bareng Ibuk. Beliau membawa 2 tas, satunya perlengkapan shalat dan lainnya; satunya lagi buat termos, bekal makan siang, segepok kopi (haha, Ibuk pecinta kopi ternyata) dan roti gabin. Lucunya, kami sempat berebut ngebawain tas-tas itu. Akhirnya Ibuk ngalah, saya boleh bawa satu, tapi yang paling ringan, huft… Ibuk.. Ibuk.. Ngeliat Ibuk, saya jadi ingat Enek (nenek, Ibu dari Ayah) di kampung, beliaulah yang selalu begitu, “oh.. Enek… missed you, Nek…”.
  • …….. Kami berjalan menelusuri gang setapak, jalan yang beda dengan yang tadi pagi kami lewati. Jika Pos Polisi itu bagian depan Pasar Bang Mego, kali ini saya berada di bagian belakangnya. Ibuk menyetop angkot dan kami melaju ke Pasar Atas, mungkin sekitar 1 km dari rumah Ibuk 🙂
  • …….. Pas turun angkot, saya udah mau ngasih ongkosnya, eh Ibuk buru-buru ngeloncatin duit ke sopirnya, haha… antara sungkan dan lucu jadinya 😀
  • ……… Ibuk dan Bapak berjualan di toko sementara, karena toko-toko seantero Pasar Atas memang lagi direnovasi. Hmm… kamu ga bakal tau guys, ternyata berdagang itu seru!!! Waaah, saya mulai excited nih.. Tapi, tetep aja, sewaktu ditinggal shalat dzuhur oleh Ibuk, saya kelabakan ngelayanin pembeli, untung aja mayoritas langganannya Ibuk, jadi mereka memilih kembali lagi setelah Ibuk selesai shalat. Kadang terbersit kesal juga guys, beberapa pembeli cuma bongkar-bongkar barang eh taunya cuma nanya doang, huft… Yah, saya jadi maklum, ternyata gitulah rasanya perasaan pedagang saat saya dan teman-teman liat-liat barang yang mau dibeli tapi ga jadi beli 😀 Ini hikmahnya, lain kali kalaupun saya ga beli abis liat-liat, paling engga bantuin empunya nata kembali barang dagangannya.
  • ………. Dagang itu ada enak dan enggaknya.. Enaknya, pas lagi rame, sembriwing… sampe ga bisa duduk!! Kita gerak terus.. 😀 Nggak enaknya, sepiiiii…… bikin ngantuk.. bosan… jenuh… mau kelewer-kelewer aja ke tempat lain.. Yah, saya mulai ngerti, gini nih rasanya berdagang itu.. Untung aja Ibuk tipikal yang suka bercerita, jadi ga bikin canggung.. Entahlah guys, jika kamu denger langsung cerita Ibuk, pasti kamu bakal berdecak kagum. Saya hanya berharap, beliau selalu diberi kemudahan dimanapun dan kapanpun, semoga Ibuk dan Bapak segera naik haji bareng…
  • …….. Sekitar jam 17-an, kami siap-siap nutup toko, mesti masukin lagi aneka tas yang di gantung diatap luar, karpet-karpet dan barang-barang lainnya. Luar biasa… padahal saya cuma menemani Ibuk disana, bukan yang diTJ-in juga jaga toko, tapi.. capeeeeek…. Energi saya serasa kesedot, chuy…
  • ……… Malamnya, Ibuk ngajakin saya buat beli nasi goreng langganannya ke Pasar Atas, beliau tampak antusias banget 😀 karena Ibuk bilang Bapak ga terlalu suka, jadi adanya saya disana seolah Ibuk punya teman yang bisa diajak. Saya pikir bakal naik angkot, taunya jalan euy.. Saya jadi sering waspada, coz jalanannya sepiiiii… Tapi ngeliat Ibuk yang santai aja, saya jadi ngerasa aman 🙂 Ibuk memang tampak santai, tapi jalannya cepet ih… Saya yang pernah dijulukin kaki seribu aja ngerasa keteteran ngikutin Ibuk 😀
  • ………. Saya mulai merasa Pasar Atas Curup mirip dengan Pasar Atas Bukittinggi yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dan selalu banjir dengan makanan enak nan ekonomis. Tepat di depan gedung yang bertuliskan Pasar Atas Curup, Ibuk membeli nasi goreng. Awalnya, saya sempat mengernyitkan dahi ngeliat nasi gorengnya, lebih seperti nasi doang yang digoreng. Trus Ibuk juga nawarin saya buat beli pempek, beliau promo dengan sangat bersemangat kalo pempek disini beda, lebih lembut… 😀 Haha.. Ibuk.. Ibuk.. Sikap Ibuk yang begini benar-benar Enek banget.. 🙂
  • ……… Ternyata nasi goreng itu ga sehambar kelihatannya, cukup enak, tapi sedikit manis. Cuma saya suka sama pempeknya, memang bener-bener lembut teksturnya, enak.. 😀 Kami (Bapak, Ibuk dan saya) menghabiskan waktu nonton TV sambil ngobrol. Banyak hal yang membuat mata dan pikiran saya lebih terbuka. Siapa yang menyangka kalau Bapak yang rutinitas sehari-harinya cuma ke mesjid dan bantuin Ibuk dagang, ternyata awal mulanya merantau ke Curup hanya dibekali oleh GUNTING dan METERAN JAHIT pemberian ayahnya. Beliau jadi tulang punggung adik-adiknya, andai kamu tau guys, adiknya Bapak semuanya jadi orang hebat yang berpengaruh lho.. Meskipun Bapak ga sekolah setinggi pendidikan adik-adiknya, Beliau pernah dapat penghargaan lho dari Menteri Koperasi.. Beliau juga bilang kalau tak terhitung entah sudah berapa banyaknya anak-anak asuhnya saat lagi booming-boomingnya pertukaran pemuda, banyak diantaranya ga mau kembali ke daerahnya dan memilih merantau. Bapak dulunya penjahit guys, banyak banget pesanan sampe ga terhandel. Lama-lama Beliau berpikir kalau menjahit terus takkan bisa selamanya, Beliau butuh usaha yang masih bisa diterusin sampe tua, itulah dia, berdagang 🙂 Bapak  salah satu orang yang berpengaruh lho di Curup. Selain itu, Beliau juga seorang aktifis koperasi.
  • ……… Saya baru ngeh, sehari ini ga ingat liat-liat HP. Saya telpon Ayah dan Ibu, kemudian menggilirkannya pada Bapak dan Ibuk. Mereka saling memulai silaturrahmi.. Sungguh, saya tidak lagi merasa orang asing disini, seolah sudah kenal lama sama Bapak dan Ibuk 🙂
  • ……… Tadinya, saya mau langsung pulang ke Padang besok sehabis ujian. Tapi, saya belum tentu masih diberi kesempatan untuk ke Curup nantinya. So, saya memutuskan untuk pulang keesokan lusanya. Besok saya mau nemanin Ibuk dulu deh jualan di pasar 😀
15 November 2014

Nah, tibalah masanya, ujian!!! Sekitar jam 6 pagi, saya udah kasak-kusuk buat berangkat ke STAIN Curup. Ibuk bantuin nyariin ojek, biar saya ga telat. Fiuh.. nervous abiiis niih….

Sampe di lokasi, teman saya yang berangkat dari Bengkulu udah duluan nyampe, terus saya juga kenalan dengan urang awak dan beberapa teman lainnya. Karena ujiannya CAT dan fasilitasnya terbatas, jumlah yang cukup banyak, jadi kita dibagi beberapa sesi ujian.

Akhirnya, tak terasa waktu mengalir begitu saja dan saya udah kelar ujiannya, guys.. Lega rasanya.. Walaupun masih ada rasa penasaran soal hasilnya, tapi yaaah.. kalau rejeki saya disini pasti akan balik lagi kesini.. 🙂 saya pasrah, guys.. Yang terpikir sekarang adalah.. LAPEERRR!!!! Aduh, gatau lagi deh.. Koneksi satu-satunya dari otak saya menuju bakso bakar dan sate yang tepat berada di seberang STAIN ini.

Saya nongkrong bertiga bareng Ayu dan Ruli.. Kita mesan menu yang sama, dan.. kali ini unik banget.. coz dulunya, pas ke Curup sebelum ini, saya cuma nyobain bakso bakar doang, sekarang ada bakso bakar ples sate, maknyuuus abiiis… saya udah ga kepedesan kayak pertama kali nyoba, coz udah request sama si bapak 😀

Abis ini, kita membubarkan diri dengan versi masing-masing. Sementara, saya sendiri mulai sibuk kesana-kemari nyariin oleh-oleh khas Curup, dan.. ternyata.. deket!!! Wong tepat di samping STAIN ini kok 😀 Manisan Terong!!! Cus, kesana…

Abis ini, saya pulang ke rumah ibuk. Tak lama, saya menyusul ke Pasar Atas, nemani ibuk jualan.

Hm, skor saya tadi lumayan, lho..TWK 90, TIU 75 dan TKP 153; total 318; alhamdulillah.. Ga bodo-bodo amat 😀

16 November 2014
  • ………. Fiuuuh… tak terasa, ini hari terakhir saya di Curup, guys.. Soal lulus enggaknya, saya mulai merasa kalau inilah kali terakhir saya menapaki Curup, sedih banget… Tapi tak pa, inilah warnanya, saya senang bisa mengenal begitu banyak pribadi seperti mereka.. :’) Perjalanan saya mesti tetap lanjut dan saya akan memanfaatkan waktu yang sedikit ini dengan sangat maksimal.. Saya harus ikut ke pasar ntar sekedar menemani ibuk jualan 🙂
  • ………. Tadinya bapak yang akan mengantar saya ke Terminal Nangko, namun.. tiba-tiba mereka saling berembuk, saya mulai merasa terharu, sebab mereka sama-sama ingin mengantar, dan.. akhirnya ibuk finishnya 🙂
  • ………. Sebelum berangkat, ibuk mengajak saya pergi pesta tetangga. Saya senang banget…
  • ………. Ke Terminal Nangko.. Kita selfie dulu..
  • ……… Ibuk ngotot nungguin busnya berangkat dulu baru pergi, masyaAllah… Padahal, saya ga tega lo, guys.. Memanglah, ibuk memang baik banget… :’)
  • 16.00 Goo… Goodbye Curup
  • 17.19 Terminal Klimantan, Lubuk Linggau
  • 17.30 Rumah Makan Pagi-Sore
  • 18.00 Goo
17 November 2014

Sekitar pukul 3 dini hari, saya sampai di Ulak Karang.. Oooooough… capek banget… Alhamdulillah… Teman Unjut udah standbye menjemput dan go humz sweet humz… Teparr…

Bacpacking To Payakumbuh

13 Desember 2014
Pai Baralek & Warung Sea Food "Pak Cik"

It’s time to going to wedding party… Yuhuuu….. 😀 Niat awalnya siy abis baralek (kenduri) ini, saya langsung balik ke Padang, eh teman saya malah nawarin buat nginap di tempatnya dulu dengan seabrek iming-iming travelling ples kuliner, saya jadi 50:50, berasa ogahan… Hm, yang namanya perjalanan jauh ga pernah bisa kita prediksi, walhasil saya nyerah, teman saya menang, saya nebeng dah tempat dia 😀 Untung aja udah prepare juga sedari humz, jadi ga repot deh mau nginap apa engga 😀 (Belajar dari pengalaman, sedia payung sebelum hujan, dari pada ntar merogoh kocek pula nak beli serba baru, mending dialokasikan buat keperluan lain, ya nggak?! 😀 ). Cus, kebetulan saya naik Bus Sarah nih yang katanya deket dari rumah teman saya itu. 🙂 Ongkos Rp 25.000,- (dua puluh lima rebeng) sejak BBM naik 😀 .

  • 09.46 SGO Lubuk Buaya
  • 12.10 Terminal Aur Bukittinggi
  • 12.25 Biaro
  • 12.41 Gerbang Kabupaten Lima Puluh Kota
  • 12.48 Kota Payakumbuh
  • 12.51 Ngalau Indah
  • 13.10 Simpang Labuah Silang
  • 13.20 Akirnya sampai di rumah mertua teman saya. Ini nih mak dan anak yang kompak 😀
  • 14.15 SMK 2 Payakumbuh

     

  • Rumah Adat Bakewi
  • …. Payakumbuh dapet penghargaan Piagam Adipura lho, guys..
14 Desember 2014
Harau Resort & Otw Padang
  • …. Sekitar jam 9-an, kita cus ke Harau Resort, aseek…Nah, sebelum berangkat nih, saya dibekali dulu sarapan nasi goreng sama teman, kemasannya itu lho…ekonomis, mungil dan lucu…tapi jangan salah…enak lho, kenyang lagi 😀 Jadi iri nih sama si Ojik (panggilan keren ini teman), semua serba ekonomis, enak dan bikin kenyang… Pantes aja ya teman-teman yang ngampung di Payakumbuh pada rajin pulkam, wong surganya makanan dimana-mana.. 😀
  • ….Yuk, let’s go… Seberapa jauh sih ini?! Muter kemana-mana, saya pasrah mau dibawa kemana nih sama si Ojik sekeluarga.. Tapi serius dah, pemandangannya OK punya tau… Gila, kenapa baru sekarang bisa mampir jalan-jalan ke Payakumbuh ya??! Selama ini kemana aja?! Rugi nih yang di Payakumbuh kalau belum pernah ke Harau, belum lagi Warung Sea Food Pak Cik, waduuuu…. jadi keingat terruuuss….yummy…
  • 09.34 Tau nih si Ojik sekeluarga malah mampir di rumah makan??? Bukannya udah kenyang abis makan nasgor tuh tadi sebelum pergi???! Hm…??? Ternyata, itu buat bekal ntar abis mandi pasti pada kelaperan, haaa..tau aja… 😀 Lupa juga nih nanya nama rumah makannya apa, kayaknya Mis Munin itu deh.. Mana pemandangan diseberangnya keren lagi, ckck…
  • 09. 38 Yuhuuu…. Welcome to Harau Resort 😉

Kirain udah sampe, eeeh…ternyata masih panjang perjalanan pemirsah… :3 Tapi terbayarlah sama pemandangan sekitar yang beneran T.O.P, guys.. Maap ya, ga bisa upload semua ini foto, ntar bikin semak saking banyaknya malah banyak pula yang kecantol ntar kesana, hahaa…ember..

  • Kalau ga salah (thrue), ini dinas perikanan deh…Lupa ding.. 😀
  • 09.44 Kirain…udah beneran nyampe, ternyata…ga tau inih dimana ini sebetulnya yang Harau, dari tadi udah 2x nih “Selamat Datang”nya???
  • 09.46 Subhanallah…cantiknya… 🙂 Megah…Sayang banget ya wisata sebagus ini belum familiar (atau saya keles yang ga update?? xixi…ssst…)
  • 09.47 Horraaaay….gerbang ketiga…!!!! 😀

Akirnya, ini nih Harau yang sebenarnya… Waaaah…amazing… Grand Canyon_nya Payakumbuh, nih.. Luarrr biasa…. cantik bangeeeet… Suasananya juga masih asri, lho… Subhanallah….

  • Air Terjun 1 (Satu)
  • Air Terjun 2 (Dua)
  • Air Terjun 3 (Tiga)

Out Bond yg dikelola Pak Bustami ini siap menguji nyali, hayyooo..siapa yg mau ikut?! Seru abisss…cucunya Pak Bustami ini aja yg bernama Neva, 3 tahun, bolak-balik tanpa takut lho…Bener2 luar biasa. Insert Rp 50.000,-

  • Tanaman Khas Harau Resort
  • 15.39 Go to Padang naik Bus Sarah (lagi) langsung nih ke loketnya, sempat ketinggalan Bus juga, untung aja ini Bus selalu ada 😀
  • 15.49 Bye… Payakumbuh… (Gerbang akhir)
  • 15.51 Bye… Tanah Datar… (Gerbang akhir)
  • 17.30 Bakso Rudal Panyalaian, maceeeeeeeeeeet…………Tapi Alhamdulillah, akhirnya bebas juga dari macet panjang, gara2 toronton mati mendadak & penyelesaian kecelakaan kemarin (Padang Panjang: fuso rem blom, kecelakaan 4 mobil + 9 motor, 3 orang meninggal).
  • 17.48 Gooo….
  • 20.38 Padang, alhamdulillah, misi selesai… hari yang indah… 🙂