Arsip Kategori: Backpacking

Sometimes I become to Backpacker

Kereta Api Bandara Stasiun Sudirman Baru – Bandara Soetta

Pertama kali naik kereta bandara ☺️ Ternyata praktis dan nyaman banget! 😉👍👍

Harga Tiket

Tiket bisa dibeli seharga IDR 70.000 via vending machine atau online.

Cara Beli Tiket di Vending Machine

Masuk Stasiun Bandara Sudirman Baru. Beli tiket via Vending Machine. Buat yang perdana tak perlu kuatir, bakal dipandu oleh beberapa orang petugas yang standbye dan siap membantu dengan ramah.

    Sentuh logo kereta api yang bertuliskan TICKETS pada layar vending machine
    Di layar selanjutnya sentuh logo kereta api yang bertuliskan BUY TICKETS
    Lalu pilih logo tiket yang bertuliskan REGULAR TICKET
    Pilih rute yang ada logo pesawat bertuliskan Soekarno Hatta Airport (BST)
    Jika penumpang lebih dari 1, bisa mengurangi/menambah dengan menyentuh icon + (menambahkan) atau (mengurangi) di pojok kiri atas layar yang bertuliskan Number of Passenger(s). Selanjutnya, pilih waktu keberangkatan. Disini tercantum dengan rinci jenis & nama kereta, waktu keberangkatan dan kedatangan, serta harga (IDR 70.000). Setelah itu, sentuh layar yang ada kolom bertuliskan BOOKING
    Masukkan No. HP dan pilih NEXT
    Lakukan pembayaran dengan memilih metode yang tersedia di bagian bawah layar bertuliskan Choose Payment Method: DEBIT/CREDIT CARD, PREPAID CARD atau VOUCHER. Misalnya dengan cara DEBIT/CREDIT CARD, masukkan kartu ke mesin, tekan tombol angka untuk memasukkan PIN, tekan tombol hijau di sudut kanan terbawah.
    Ambil tiket kereta dan struk pembayaran.
    Selesai

Cara Beli Tiket Online

  • Download aplikasi Railink.
  • Sentuh Kolom Register dan lengkapi data.
  • Login sesuai email & password yang telah didaftarkan.
  • Sentuh Regular atau Reserve Seat.
  • Pilih stasiun keberangkatan di sebelah kiri, misal SUDIRMAN BARU (BNI CITY) (SDB). Pilih stasiun tujuan di kolom kanan, misal SHI BST untuk Bandara Internasional Sorkarno-Hatta.
  • Sentuh One Way untuk 1x perjalanan, pergi saja atau pulang saja. Pilih Round Trip untuk pulang-pergi.
  • Pilih tanggal keberangkatan di Depart Date
    Sentuh icon + (menambahkan) atau (mengurangi) di sebelah kanan layar yang bertuliskan Passenger(s) jika lebih dari 1 atau untuk mengurangi.
    Sentuh Search.
    Pilih jadwal keberangkatan sesuai keperluan.
    Di layar selanjutnya muncul rincian: kode boking, skedul kereta, info penumpang (nama, no. HP dan email), total harga, kode pembayaran dan hitungan mundur waktu boking.
    Sentuh kolom Continue.
    Muncul kode boking, hitung mundur waktu boking dan total harga. Pilih Use Voucher atau Payment.
    Untuk payment, pilih Online Payment, Indirect Payment, Virtual Account atau Cancel untuk pembatalan.
    Untuk online payment, tinggal pilih kartu debit atau kartu kredit yang digunakan. Dan, akan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 5.000,-.
    Klik Confirm
    Lengkapi data kartu debit/kredit.
    Sentuh kolom Finish Payment setelah selesai.
    Jika berhasil, informasi pembayaran bisa dilihat di email.
    Sampai di stasiun, tunjukkan kode pemesanan tiket yang diterima via email ke petugas. Tiket diprint di stasiun dan langsung bisa digunakan.

Fasilitas di Stasiun Kereta Api Bandara

Ada nursery room buat ibu menyusui, food center, toilet, ruang tunggu, vending machine, mesin check-in mandiri, gallery ATM, lapangan parkir, free wi-fi, dll.

Naik Kereta Api Bandara

Scan tiket di gerbang menuju kereta, turun eskalator dan naik kereta api. Letakkan suite case atau travel back atau koper di tempat yang telah disediakan. Duduk sesuai nomer (yang ada di atas harga yang tertera di tiket).

Gallery

  • Instagram: #jejaklangkaho @olha_chayo 👉 KA Bandara
    Youtube: Olha Chayo 👉 (soon)

Catatan

  • Lebih praktis beli tiket langsung di stasiun. Selain ada petugas yang standbye membantu, jadwal keberangkatan lebih lengkap dan tentunya tanpa biaya tambahan.
  • Di kereta tidak boleh makan-minum.
  • Hati-hati salah stasiun, Stasiun KA Bandara adalah Stasiun Sudirman Baru, bukan Stasiun Sudirman (Stasiun KRL Commuterline).
  • Stasiun KA Bandara Sudirman Baru sering juga disebut Stasiun KA Bandara BNI City. Jadi, jangan kaget ketika pemesanan transportasi online muncul nama salah satunya atau dikonfirmasi driver (pengemudi) untuk salah satu dari dua nama tersebut. Syukur-syukur bila langsung menemukan Stasiun KA Bandara Sudirman Baru (BNI City) di map.

Rekomendasi Link

Opini O

Sarana transportasi umum yang jempol dah..

Iklan

Pasar Malam ala Cifest Walk

Berbeda dengan pasar malam pada umumnya, di Pasar Malam ala Cifest Walk (Cikarang Selatan) ini nggak ada gondola-gondola-an, melainkan semaraknya aneka kuliner tradisional indonesia dari berbagai jenis, pakaian, aksesoris, permainan anak-anak, dll.

Akses ke lokasi bisa dijangkau dengan transportasi umum: angkot berwarna merah no. 17 tujuan Cibarusan/Turki. Ongkos sekitar Rp 5.000,-. Selain itu, pastinya juga mudah banget dijangkau dengan transportasi online dengan harga yang relatif.

Menurut informasi, lokasi ini sebenarnya bukanlah jantung kota Cikarang. Pasar ini dibuat untuk meramaikan area perumahan disekitarnya, ada setiap hari dan makin malam makin rame. Gerobak-gerobak kuliner yang mangkal di sepanjang tepi jalan, memenuhi area sekitar hingga ruko dan pusat perbelanjaan & hiburan yang lebih besar (Giant, Matador, Palazzo, dll.).

Pedagangpun punya cara yang unik demi melariskan dagangannya. Beberapa diantaranya menyediakan tikar/terpal sebagai tempat lesehan untuk para pembeli. Ada juga yang menawarkan paket makanan ekonomis, 3 bungkus Rp 5.000,- dan pembeli bebas memilih jajanan tradisional apapun sesuai keinginan.

Saking kreatifnya, para pedagang kaki lima juga membuat nama makanan yang sebenarnya sudah familiar menjadi singkatan-singkatan ala “jaman now”, seperti:

  • Jasuke (jagung susu keju)
  • Tansu (ketan susu)
  • Bihlor (bihun telor)
  • Sotel (sosis telor)
  • Cilok (aci dicolok)
  • Tabas (tahu bakso)

Jadi, jangan sampai kudet yaa..

Buat memanjakan si buah hati, pengunjung bisa memilih permainan apa saja sesuai dengan minat anak, seperti: boom boom car, mandi bola dan berbagai permainan tradisional lainnya yang bisa memancing kreatifitas anak. Murah, meriah dan anak-anak happy.

Gallery

Kumpul Bareng Penikmat Kopi

Hari ini saya diajakin ngopi di warung kopi aceh yang ternyata tidak hanya menjual kopi gayo saja, tapi juga berbagai jenis kopi dan aneka makanan yang pastinya maknyus dengan menu yang selalu diperbaharui.

Warung kopi ini bernama Rumoeh Kupie yang diambil dari bahasa Aceh dan bila dibahasaindonesiakan tidak terlalu jauh berbeda: Rumah Kopi.

Karena namanya nan unik itu, saya sempat sulit menemukan lokasinya di GPS. Bahkan, ketika ingin memesan transportasi onlinepun, saya tidak bisa menemukan warung yang dimaksud. Padahal, menurut info yang saya dapat, warung ini berada di Perumahan Sentosa Blok EF Cikarang Selatan di sebelah Abyan Toys.

Titik terang mulai muncul ketika saya menelusuri pencarian via google map Abyan Toys. Ternyata, penulisan nama warungnyalah yang salah. Harusnya Rumoeh Kupie, bukan Roemah Kopie, haha..

Akses ke Rumoeh Kupie

Perjalanan dari Giant Jababeka menuju Rumoeh Kupie dengan transportasi online memakan waktu sekitar 20 menitan. Ongkos relatif.

Lokasi berada di samping Abyan Toys dan tidak mencantumkan merk Rumoeh Kupie didepannya, malah terlihat seperti restoran aneka kuliner. Disampingnya ada sekitar 4 saung yang memberi kesan tradisional tapi modern.

Fasilitas

Bagi yang muslim, ada mushalla minimalis yang bangunannya juga berbentuk saung lengkap dengan pakaian ibadah seperti mukena buat perempuan. Ada tempat makan biasa (meja & kursi), tempat makan di saung (gazebo) dan toilet.

Ngopi Hari Ini

Disini ada saya, orang indonesia yang saya panggil sensei, nihonjin (orang jepang) yang sedang belajar bahasa indonesia dan owner Rumoeh Kupie yang asli Aceh dan ramah banget.

Kami 50:50. Kebetulan saya dan sensei adalah orang yang sangat awam tentang kopi. Berbeda dengan nihonjin & owner yang super-duper kopi lovers!! Sampai ke rasa kopi yang beda tipispun bisa dibedain, luar biasa!

Berbagai Hal Tentang Kopi

Hari ini di Rumoeh Kupie, saya belajar banyak hal tentang kopi, terutama dari owner.

Saya tidak pernah membayangkan dari kopi yang saya pikir hanyalah sebuah minuman ternyata banyak sekali hal-hal yang membuatnya spesial dimata para pecintanya; mulai dari pengolahan, cita rasa, penyajian, bahkan sejarahnya!

Ternyata, semua kopi asalnya dari Afrika. Belandalah yang membawanya ke berbagai tempat, termasuk Indonesia.

Kopi itu banyak banget jenisnya. Bahkan untuk jenis yang samapun masih ada banyak hal yang membuatnya jadi berbeda. Contohnya saja Kopi Gayo, direkomendasiin owner yang premium. Sebaliknya, beliau tidak merekomendasikan Kopi Gayo yang robusta (katanya nih, kopi yang tumbuh di dekat pantai).

Untuk menyimpan kopi dalam waktu lama, sebaiknya disimpan dalam bentuk biji kopi. Karena kalau sudah digiling atau djadikan bubuk kopi, rasanya akan berkurang.

Untuk menjadi seorang ahli kopi, ada sebuah tes yang disebut coffee testing. Tes ini digunakan untuk mengidentifikasi aroma, cita rasa, keasaman & kepekatan kopi. 5 menit setelah diseduh langsung diminum. Mulai dari satu persatu sampai dicampur, harus bisa membedakan.

Saat meminum kopipun ada waktu penyeduhannya. Seperti tadi ketika nihonjin meminum Kopi Papua, ditunggu 4 menit, baru diseruput.

Sensei langsung berkomentar “diseruput ya?” Ternyata, owner bilang memang demikian seharusnya dan beliau menjelaskan dengan cukup rinci. Namun karena dasarnya saya dan sensei memang bukan penggemar kopi, kami hanya mendengar tapi sulit memahami.

Untuk Kopi Papua, menurut nihonjin nomiyasui (mudah diminum). Bisa diminum setiap pagi. Beda dengan Kopi Gayo yang mempunyai rasa agak manis (tanpa ditambahkan gula), yang sebaiknya dinikmati ketika santai sambil mendengarkan musik dan nyemil.

Ketika saya di Jepang, kopi indonesia yang paling terkenal dan paling sering ditemui adalah Kopi Toraja. Saking populernya disana, sampai dibuka kohiya (warung kopi) khusus Kopi Toraja dan bisa ditemui di beberapa tempat. Selain itu, ada Kopi Jawa, Kopi Sumatra, dll.

Kali ini untuk pertama kalinya, saya yang orang Indonesia akhirnya mencoba Kopi Gayo yang premium sesuai rekomendasi owner yang sebenarnya ditujukan pada nihonjin.

Setelah saya tekan tombol seduhan, kopi gayo premium saya tuang ke cangkir. Alih-alih penasaran dengan cerita owner yang bilang kopi ini sudah manis tanpa dikasih gula, saya langsung menyicipinya dengan sendok khusus.

Eng ing eng.. di luar ekspektasi! Manis dari mananya ya?! Yang ada hanya rasa kopi, hambar, pekat..

Saya menyerah, saya masukkan sebungkus gula sasetan. Buru-buru saya minum, berharap rasanya manis dan sesuai selera (pengen nyobain diseruput, tapi tetep aja nggak ada yang berbeda?!). Sebungkus gula yang diberikan nihonjinpun saya tambahkan, baru terasa pas manis & rasa kopinya.

Semua menertawakan saya. Katanya, kalau kopi sudah ditambahkan gula, udah bukan kopi lagi namanya, cita-rasanya sudah hilang..

Untuk kopi gayo, biasanya, ditambahkan dengan susu (bukan yang kental manis) atau fresh milk. Tapi menurut owner, bagi ibu-ibu yang sering mangkal disana suka sekali memesan kopi gayo dengan susu kental manis. (Balik lagi, berarti ibu-ibunya sama dengan saya, awam dengan kopi, hee).

Untuk menikmati kopi, setelah diseduh segera diminum habis. Karena jika kopi sudah dingin, cita-rasanya akan berbeda.

Dari nihonjin saya baru tau bahwa ternyata sebenarnya jepang juga punya produksi kopi, lho.. Hanya saja tidak terkenal seperti kopi lainnya. Karena cuaca jepang yang sejuk, sementara kopi sebaiknya tumbuh di daerah panas (tropis).

Hunting Kuliner

Bukan cuma kopi saja. Disini juga ada aneka menu kuliner maknyus, seperti nasi goreng, dim sum & martabak aceh.

Gallery

Catatan

Ini hanya sebagian kecil dari kopi, masih ada banyak hal yang kita orang awam hanya akan melongo mendengarnya, saking spesifiknya.

Dari sinilah wawasan saya semakin terbuka tentang kopi. Banyak sekali informasi yang saya dapat, hanya saja dalam waktu singkat untuk memahami kopi yang ternyata punya cakupan luas itu sangat sulit; saya harap pembaca bisa kasih saran & kritik yang positif yaa..😆

Korea Punya Cerita (Bagian 1)

30 Oktober 2018, Menggelandang di Bandara

Ceritanya, kami yang akan ke Korea ini ada 6 orang: Saya & Etikuchan dari Tokushima, Beta chan & Riza chan dari Tokyo, Riani chan dari Osaka dan Q chan dari Nara. Kami berlima menyusul Q chan yang sudah lebih dulu berangkat, lalu janjian kumpul di Kansai Airport.

Dari Tokushima

Sebenernya ada bus langsung Tokushima Station – Kansai Airport, tapi karena mengingat akses dan waktu, supaya efektif saya & Etikuchan sepakat ketemu di Herbis Osaka (Osaka Station).


  • 19:00 Bus jalan meninggalkan Tokushima Station
  • 21:21 Herbis Osaka. Gilaaa, cuaca pas turun bus dingin euy..

Herbis Osaka

Di ruang tunggu Herbis Osaka ini terbilang lengkap; ada telpon umum, toilet, koin loker, jidouhanbaiki, dll. Nyaman banget untuk sebuah ruang tunggu.

Loket Bus TUTUP?!

Setelah ketemuan, kami langsung menuju loket bus yang persis berada di samping ruang tunggu. Namun, di kaca jendela loket sudah tempampang dengan sangat jelas tulisan CLOSED

Kami kaget, antara pasrah tapi tak rela. Kami lihat jadwal bus berkali-kali, saling bergantian, dan barengan, masih ada jadwal di pukul sepuluh!! Tapi kenapa loketnya udah tutup aja yak?!

Kami saling berpandangan, seolah mengisyaratkan kami punya pikiran yang sama. Diam seketika dan mulai berpikir harus bagaimana. Di lain sisi, masih terbersit “nggak mungkin”. Berulang kali melirik semua tulisan yang ada di bagian dinding loket, hasilnya nol.

Untunglah.. muncul seorang staf dibalik sana dan kamipun sepakat untuk bertanya.

Staf tersebut keluar ngecek jadwal bus dan langsung memandu kami untuk membeli tiket via jidouhanbaiki ¥1.550/orang. (Ternyata & ternyata.. 🤣 beli tiket bus bandarapun udah via mesin otomatis, wkwk.. kudet.. kudet..🤣)

Setelah itu, kami diarahkan untuk menunggu di Halte 1. Disana sudah ada petugas yang standbye. Sementara kami kudu antri dengan teratur menunggu bus datang sesuai jadwal.

Jangan ditanya deh, cuaca saat ini lumayan dingiiiiin.. Berharap segera naik bus biar anget kena dambo 😬


  • 21:40 Datang bus, naik, serahkan tiket.
  • 21:43 Berangkat..
  • 22:00 Kansai Airport Terminal 1

Keliling Terminal 1 Kansai Airport

Disini ada adegan banyol yang super konyol!!

Sesampai di bandara, udah ada Riani chan yang standbye nungguin. Riani chan udah pesan ke kita ketemuan di Dai Ni.

Kami (saya & Etikuchan) nggak ngeh; udah turun-naik lift, baca papan penunjuk arah kesana-kemari, lihat bagian informasi, dan sebagainya; tapi kagak ketemu!! Jangankan kode penerbangan, konter penerbangan PEACHpun nggak ada!

Untuk kesekian kalinya, kami terus menghubungi Riani chan. Sayangnya, telpon atau video call pake acara ngadat, serba nggak jelas 😓

Ada capek.. Bingung.. Belom lagi, laperrr…🤤

Dan, setelah larut dalam kepuyengan yang tak jelas, muncullah pencerahan. Ternyata kami salah turun!! Pantesan nggak ketemu-ketemu sama Riani chan. 😆

Kami turun di Terminal 1, harusnya di Terminal 2 (yang dimaksud Riani chan Dai Ni itu Terminal 2), koplak.. koplak.. 🤣

Walhasil, energi kamipun semakin menipis (capek di jalan ples adegan mondar-mandir nggak jelas di Terminal 1). Lengkap sudah 😬 Laperr…  🤤 Ujung-ujungnya, sebelum melaju ke Terminal 2, kami sepakat untuk makan dulu, mengira-ngira makanan apa yang diperkirakan aman (halal food, bukan dari bahan babi/alkohol), sekaligus mau nanya-nanya akses ke Terminal 2 😄

Terminal 1 ke Terminal 2

“Nggak mau sesat, jangan malu bertanya” 😬

Kami nanya kesana-sini, mulai dari petugas bandara, bagian informasi sampai ke staf burgerking. Hasilnya T.O.P!

“Pasti ada hasil untuk setiap usaha (sekecil apapun)”

Dari Terminal 1 (lantai 3) turun pake eskalator ke lantai 2, jalan lurus masuk hotel, belok kiri turun eskalator ke shuttle bus, tunggu.


  • 23:40 Suttle bus Terminal 1
  • 23:44 Bus datang & berangkat..

Terminal 2

Akhirnya sampai di Terminal 2, sempat nyasar ke Domestik, haha..

Di depan Terminal 2 International duduk Riani chan dengan muka kuyu, sepertinya perjalanan Riani chan yang meskipun terbilang dekat dari Osaka, cukup melelahkan.

Cukup jauh kami berjalan menuju ruang tunggu. Tapi tak mengapa, karena lingkungan bandaranya nyaman..

Di area tunggu, stanbye Beta chan & Riza chan.

Yap, disini praktis! Ada toilet, sofa, colokan listrik (ada area khusus lengkap dengan meja & kursi), jidouhanbaiki, pachinko, dll.

Diluar fasilitas yang kece itu, kami mulai menghadapi tantangan awal dari perjalanan yang baru sejengkal ini. Kami kedinginan!!🥶

Padahal, jauh-jauh hari teman saya sudah berpesan, kalau ke korea di bulan November itu bakal dingin banget, kudu bawa coat. Eh, ini belom nyampe korea lho 😜 Kami hanya berbekal yang paling lumayan pake jaket, selebihnya modal baju doang! 🤣

Niatnya nih, bawa pakaian seadanya biar nggak berat & irit bawaan, ntar coat beli di korea aja, biar lebih fashion dan praktis. 😜

Walhasil, sewaktu bermalam di bandara, mulai dari mukena, sajadah, syal, baju yang lebih tebel, semua dikeluarin buat dijadiin selimut 🤣  Parrrah!! Wkwkwk…

Kita berlima dan penumpang lainnya udah cup tempat duduk strategis buat tiduran. Berbagai pose tidur bisa dilihat disini. Mulai dari menggelung, separo duduk dengan bantalan tangan di atas meja, lurus sepanjang kursi dengan sedikit kelebihan kaki menggantung, dll. 🤣

Razia

Tiba-tiba ada 2 orang pak polisi datang menghampiri. Bahkan diantara kami, masih ada yang kaget, mungkin kali pertama kena razia polisi di jepang 😅 (Sebenarnya nggak perlu cemas ataupun panik; karena di jepang, razia-razia begini udah biasa, apalagi kalau udah ngeliat orang asing kumpul-kumpul, mereka suka tiba-tiba nimbrung.)

Pak polisi cuma ngambil data kok, minta diperlihatkan residence card dan nanya-nanya seputar identitas dan aktifitas di jepang (kalau kerja, yaa yang ditanya tempat kerja), jadi singkirkan pikiran-pikiran negatif yang tidak perlu yaa..😉

Setelah pak polisi klar nanya-nanya, mereka pergi melanjutkan tugasnya. Dan, suasana tidur yang tadinya sontak bak disengat listrik, mulai kembali tenang dan diwaktu harusnya bangun bawaannya malah ngantuk… males.. tapi kudu buru-buru ☺️

Kamus

  • 自動販売機 /jidouhanbaiki/ = Mesin penjualan otomatis
  • 在留カード /Zairyuukado/ = Residence Card (Kartu Identitas/KTP Jepang)
  • Pachinko = Permainan (judi) ala Jepang
  • 暖房 /dambou/ = Pengahangat ruangan (kalau AC alias Air Conditioner untuk mendinginkan, dambo sebaliknya, fungsinya persis seperti heater /hiter/)
  • Pergolakan di sumatera tengah = Istilah lain dari laper
  • 第2ターミナル /dai ni taminaru/ = Terminal 2

Bersambung…

Kebun Herbal Kobe

Selain Kobe Harborland, ada sebuah paket wisata komplit lainnya yang sangat menarik di Kobe, namanya Nunobiki Herb Gardens & Ropeway. Disini banyak sekali jenis tumbuhan herbal dari berbagai spesies.

Nunobiki Herb Gardens & Ropeway

Pastinya, ini bakal menjadi salah satu tempat liburan yang seru bagi para pelancong.

Tiket Masuk

Pembelian tiket masuk ada di lantai 4 gedung Herb Garden Bottom Station. Naik dari lantai 1 dengan menggunakan lift.

Harga tiket variatif tergantung pilihan pengunjung. Untuk round tickets bajetnya ¥1.500/orang. Dengan tiket ini, bisa naik ropeway pulang-pergi, masuk Rose Symphony Garden, Glass House, dan semua tempat wisata yang ada di dalam kawasan Nunobiki Herb Gardens.

Ropeway (Kereta Gantung)

Taman ataupun puncak diakses dengan ropeway yang memiliki 3 stasiun, yaitu: stasiun terbawah, stasiun tengah dan stasiun teratas.

Setelah membeli tiket, ikuti alur antri, perlihatkan tiket pada petugas untuk distempel, naik kereta gantung sesuai arahan petugas.

Hampir semua dinding ropeway terbuat dari kaca. Dan, saking panjang rutenya, bagi yang pertama kali naik kereta gantung mungkin akan sedikit gamang, tapi bakal berasa biasa saja kalau keretanya sudah jalan. Sebaiknya pilih tempat duduk yang searah dengan alur kereta.

Perjalanan hingga stasiun tengah menawarkan panorama kota kobe nan indah. Tempat duduk yang pas adalah berlawanan arah dengan alur kereta.

Melongok dari kaca sebelah kanan kereta terlihat dengan jelas Nunobiki Waterfall yang mempesona. Kabarnya air terjun ini salah satu dari 100 air terjun terbaik di jepang.

Begitu juga dengan sebelah kiri, ada bendungan air! Namanya Nunobiki Gohonmatsu Dam. Dari kejauhan bendungan tersebut lebih terlihat bak kaca. Bendungan dan air terjun ini digadang-gadang sebagai kualitas terbaik air Kobe.

Di stasiun tengah, jika tidak berhenti, kita tetap duduk di kereta. Hanya saja, petugas akan melakukan pengecekan. Kemudian, kereta melanjutkan rutenya hingga stasiun teratas.

Di stasiun teratas, tunggu aba-aba dari petugas baru keluar. Perlihatkan tiket ke petugas dan bisa memasuki kawasan paling puncak.

Papan Penunjuk Arah

Bagi yang bingung mau milih area mana yang mau dikunjungi, cukup dengan melihat papan penunjuk arah yang menunjukkan lokasi masing-masing wisata. Papan tersebut cukup mudah dipahami, karena selain bahasa jepang juga tertulis dalam bahasa inggris.

Panorama Alam & Kota Kobe dari Puncak

Pintu keluar kereta gantung terhubung dengan area restoran (View Plaza) dan panorama lepas kota kobe.

Sejauh mata memandang, luar biasa indah.. Apalagi saat cuaca cerah, bakal jelas terlihat padatnya pemukiman penduduk di kota kobe, gedung-gedung pencakar langit, hamparan laut luas, pelabuhan kobe, bukit barisan yang terlihat seperti garis pembatas antara laut dan langit biru.

Kereta gantung silih berganti berlalu-lalang diketinggian melewati kebun-kebun herbal 4 musim dibawahnya. Atap-atap rumah kacapun terlihat unik dan menarik untuk disinggahi. Sungguh sebuah karya & maha karya yang keren!

Panorama ini bisa dinikmati dengan teleskop berbayar ¥100. Bahkan, Kobe Port Tower pun yang lanmark-nya Kobe bisa terlihat dengan jelas!

Pict taken by Etikuchan
View dari puncak

View Plaza

Di puncak ropeway, ada View Plaza. Bangunan bergaya eropa ini terdiri dari restoran, cafe dan area pertokoan; menjadi tempat terluas disini dan memberi kesan romantis! Area ini didekorasi dengan berbagai jenis bunga dan meninggalkan wangi flora.

Pict taken by Etikuchan
View Plaza

Bagi yang mencari TOILET, ada di lantai dasar gedung yang ada jam dindingnya.

Rose Symphony Garden

Disini terdapat banyak sekali jenis bunga mawar. Di tengah kebun, ada patung anak kecil yang memegang ikan, mulut ikan tersebut menganga lebar mengeluarkan air mancur yang mengalir ke kolam mungil berbentuk gelas piala. Artistik!

Spot di Rose Symphony Garden

Di berbagai sisi taman banyak tempat duduk untuk bersantai-ria.

Mori no Hall

Bangunan ini berada di dalam kawasan Rose Symphony Garden. Di beranda depannya ada Garden Cafe yang menjual aneka minuman yang didominasi dari bahan herbal.

Masuk ke tempat ini gratis! Di sebelah kanan pintu terpajang dengan cantik miniatur rumah dan kehidupan bergaya eropa. Benar-benar kreatif!

Miniatur bergaya eropa

Di sisi seberangnya ada aneka aroma dan wewangian herbal. Aneka tanaman seperti salah satunya kayu manis ditaruh di dalam kotak kaca, kemudian disisinya ada botol kecil berisikan wewangian khas kayu manis.

Di sisi kiri ada ハーブガイドアロマと香り, yang mungkin bila dibahasaindonesiakan berarti panduan aroma dan wewangian herbal. Kita bisa melihat secara langsung alat-alat yang digunakan untuk mengekstrak herbal. Tempat yang lebih mirip area presentasi ini buka pukul 11:00-11:45.

Selanjutnya, ada ruangan yang sepertinya toko yang menjual aneka aroma & wewangian herbal.

Di lantai 2, ada Mori no Hall yang ditutup, mungkin khusus untuk acara-acara tertentu saja.

Pintu keluar lantai 2 terhubung ke bangunan coklat tertinggi yang ada jam dindingnya. Bangunan ini berada diantara View Plaza & Rose Symphony Garden. Menelusuri anak tangga bisa kembali turun ke lorong antara area restoran & kebun mawar.

Glass House

Pernah maen game FarmVille nggak?! Kalo pernah, pasti bakal familiar sama bangunan yang satu ini, namanya glass house (rumah kaca). Mulai dari dinding sampai ke atapnya memang didominasi oleh kaca.

Glass House

Di dalam rumah ini, ada beberapa bagian yang masing-masingnya didekorasi dengan sangat unik. Ada taman, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang santai; semua punya konsep herbal!

Dibagian belakang, ada monumen ibu & anak yang dilatari dengan air. Sesekali muncul gelembung air. Kejernihan airnya bikin adem..

Di beranda belakang mungkin bakal jadi tempat yang paling disukai para pelancong (selain area puncak). Pemandangan lepas laut dan kota kobe kembali menakjubkan mata. Dan lagi, sofa empuknya bebas digunakan pengunjung untuk bersantai-ria, penat setelah melanglang-buana berasa menguap!

Diantara pengunjung ada yang memilih berendam kaki di Herbal Footbath, buka dari pukul 10:00-16:30. Disediain handuk juga lho, ¥100/lembar.

Herbal Footbath

Disini juga ada cafe yang menjual teh, kopi dan es krim herbal. Harganya variatif berkisar dari ¥600.

Pembelian Oleh-oleh

Aneka souvenir banyak dijual di lokasi pembelian tiket, lantai 4 gedung Herb Garden Bottom Station.

Selain lokasi shopping dan beli tiket, disini juga tempat pengambilan souvenir gratis buat pengunjung yang nge-share foto ke sosmed pake hashtag Nunobiki Herb Gardens & Ropeway dengan memperlihatkannya pada staf. Biasanya bakal dapetin sebungkus herbal camomile buat garam mandi di bathtub.

Akses

Akses ke lokasi bisa dengan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi.

Kobe Cityloop Bus

Dengan kendaraan umum, bisa memanfaatkan subway khusus wisata yang dikenal dengan nama Kobe City Loop Bus.

Jika destinasinya hanya kebun herbal ini saja, bisa langsung naik bus di halte berlogo city loop. Bajet ¥260 (¥130 untuk anak-anak dibawah 12 tahun), bayar di mesin otomatis yang ada disamping kiri sopir.

Selama di bus, dilarang makan, minum, merokok ataupun bicara pake suara gede, termasuk menggunakan ponsel yang mengganggu (seperti: menerima telepon).

Jika punya destinasi lebih dari satu, recommended banget pake 1-Day Pass. Memang sedikit merogoh kocek tapi tentunya hemat dan praktis. Tiket dewasa ¥660 dan anak-anak ¥330, bisa dibeli di City Loop buses, Kobe Information Center di Stasiun Sannomiya dan di Tourist Information Offices di Shin-Kobe. Saat naik bus, perlihatkan tiket ke sopir/pemandu.

Bus Pariwisata

Tempat parkir kendaraan pribadi berbeda dengan bus wisata. Bus pariwisata dan kursi roda bisa langsung parkir di halaman pelataran yang ada di depan gedung yang bertuliskan Herb Gardens Bottom Station. Dari belakang gedung ANA Plaza, ikuti plang parkir yang ada disebelah kanan.

Mobil Pribadi

Tempat parkir untuk kendaraan pribadi ada di dalam gedung ANA Plaza. Dari belakang gedung ANA Plaza, plang parkir ada di sebelah kiri, ikuti jalan memasuki gedung, tempat parkir ada di lantai 6-8. Pembayaran parkir dengan kartu atau cash.

Turun dari tempat parkir (6F-8F) dengan lift menuju lantai 1. Jalan keluar gedung, masuki gerbang bertuliskan 布引ハーブ園/ロープウェイ, ikuti jalan khusus pejalan kaki sampai ketemu lift. Disamping lift tersedia map yang bisa digunakan sebagai panduan manual.

Untuk menaiki lift, antri dengan teratur, dahulukan pengunjung yang ada di dalam lift keluar dulu baru masuk dengan tertib. Kadang sesekali bakalan ketemu guide/volunteer di lift. Bobot lift hanya 11 orang.

Atau, pengunjung juga bisa menaiki anak tangga.

Catatan

  • Area Nunobiki Herb Gardens tutup pukul 16:30
  • Ropeway tutup pukul 17:15

Gallery

* Sebagian foto diambil dari koleksi foto Etikuchan, termasuk foto yang digunakan untuk judul

Kamus

  • 布引ハーブ園/ロープウェイ /nunobiki haabu-en roopuwei/ = Nunobiki Herb Gardens & Ropeway (Kebun Herbal Nunobiki & Kereta Gantung)
  • ロープウェイ /roopuwei/ = Ropeway (kereta gatung, gondola, lori
  • グラスハウス /gurasu hausu/ = Glass hause (rumah kaca)
  • 1-Day Pass/One Day Pass /wan dei pas/ = Tiket subway yang bisa digunakan seharian kemana saja sesuai aturan yang berlaku
  • 1F, 6F, 8F = Singkatan dari 1st Floor (lantai 1)
  • ハーブ園山麓駅 /haabu-en sanroku-eki/ = Herb Garden Bottom Station (Stasiun terbawah taman herbal)
  • 布引の滝 /nunobiki no taki/ = Nunobiki Waterfall (Air Terjun Nunobiki)
  • 布引五本松ダム /nunobiki gohonmatsu damu/ = Nunobiki Gohonmatsu Dam (Bendungan Gohonmatsu Nunobiki)
  • Budget = Kata serapan yang dibahasaindonesiakan menjadi bajet (anggaran)
  • ガーデンカフェ /gaaden kafe/ = Garden Cafe
  • ハーブガイドアロマと香り /haabu gaido aroma to kaori/ = Herb Guide Aroma & Fragrance (Panduan Aroma & Wewangian Herbal)
  • Cash = Bayar kontan
  • Guide = Pemandu
  • Volunteer = Sukarelawan

Related Link

Referensi

Opini O

Karena dikelola dengan sangat baik, kebun herbal ini luar biasa indah.. Wort it memang dengan harga tiket segitu.

*

Padahal, bunga yang dilihat juga banyak ditemui di Indonesia. Bedanya di Indonesia, mungkin karena saking banyaknya, bunga-bunga itu tampak tak berharga, bahkan ada yang mencapnya bunga kampung, contohnya: bunga tahi ayam; atau lebih memilih bunga yang lebih mahal (apalagi dengan iming-iming impor dari negara bla bla bla).

Di jepang, bunga-bunga yang biasa kita temui di negara kita jadi bernilai. Coba saja lihat di taman kota, taman bermain ataupun di beberapa tanaman hias; sebagian besar bunga-bunga itu cukup familiar. Tak heran bila di supermarketpun dijual dalam bentuk kemasan pot, benih atau bingkisan. Bahkan, menjadi salah satu spesies penghuni kebun herbal di kobe.

*

Tranpostasinya OK! Ada subway bus khusus wisata lengkap dengan buku panduan manual dalam bahasa jepang atau inggris. Tempat parkirpun terkoordinir dengan sangat baik. Pembayaran hanya sekali, jelas dan praktis; sesuai dengan waktu penggunaan. Sistemnya juga teratur, mobil pribadi tidak bisa parkir seenaknya di area bus sekalipun kosong. Bahkan, kursi rodapun memiliki area parkir khusus.

*

Sebagian besar orang Indonesia yang berkunjung kesini benar-benar memanfaatkan waktu untuk berlibur dan mengambil spot foto yang bagus. Pemandangan yang cukup kontras datang dari wisatawan barat, mereka tampak berlibur sekaligus belajar. Selain mengambil foto, mereka membaca penjelasan diberbagai spot yang mereka singgahi.

*

Mau ada atau tidak ada tong sampah, area ini selalu terjaga kebersihannya. Bahkan dengan banyaknya pepohonan dan tanam-tanaman dari segala jenis, sampah daun keringpun tak tampak menyemak di jalan setapak sekalipun.

*

Bagi teman-teman yang perutnya sensitif dengan minuman tertentu, mungkin sedikit memilah dalam pemilihan minuman ataupun kombinasinya. Jika terjadi mual, muntah, pusing dan/atau mencret, evaluasi dulu penyebabnya apa.

Salah satu kombinasi yang mungkin bisa bikin perut ga enak adalah krim cair berbungkus mungil transparan yang berasa asem, sepertinya. Bila ngalamin itu, segera minum banyak air putih atau susu cair, gejala lebih lanjut konsul ke pelayanan kesehatan terdekat.

Cara Mengurus VISA Korea dari Tokushima

Persiapan Sebelum Mengurus VISA Korea

  • Booking pesawat, tips:
    • Cari referensi: tanya ke teman yang pernah ke korea atau browsing.
    • Jika tidak punya kartu kredit, pilih pembayaran via combini/supermarket (harus dibayar dalam waktu 24 jam setelah boking).
    • Pilih booking sesuai kebutuhan.
      • Kalau misalkan sewaktu pergi tidak membawa barang banyak, pilih yang tidak menyediakan bagasi. (Untuk PEACH, boleh bawa 1 tas ke kabin dengan berat maksimal 7kg).
      • Sebaliknya, kalau dirasa bakal belanja banyak dan perlu bagasi, pilih yang sudah set dengan bagasi.
      • Jika mendadak butuh beli bagasi, bisa dibeli sewaktu check-in di bandara dengan metode pembayaran kartu kredit.
    • Buka email dan print. Jika mengalami kesulitan untuk print langsung, capture emailnya & print di combini/supermarket dengan kertas A4.
  • Booking hotel, tips:
    • Cari referensi:
      • Tanyakan ke teman yang sudah pernah ke korea
      • Lihat review hotel/hostel vis internet
    • Pilih didekat stasiun, rekomendasi banget di area sekitar Myeongdong Station (Lokasinya strategis, terlebih ada Myeongdong Street, surganya kuliner korea!).
    • Sebagian besar pelancong biasanya mengambil kamar yang lebih mirip hotel kapsul. Tapi, buat yang tidak terbiasa, bisa memilih kamar sesuai keinginan di penginapan yang sama.
    • Pilih hotel yang bisa dicancel/dibatalkan tanpa pembayaran.
    • Rata-rata meminta pembayaran dengan kartu kredit. Jika tidak punya kartu kredit, cari yang bisa bayar di tempat.
    • Buka email dan print. Jika mengalami kesulitan untuk print langsung, capture emailnya & print di combini/supermarket dengan kertas A4.

Siapkan Persyaratan

  • Passport (paspor)
  • Residence Card
  • Zaishoku shoumei sho (surat keterangan kerja)
  • Foto 4,5cm x 3,5cm
  • E-Ticket (diprint di kertas ukuran A4)
  • Bukti booking hotel (diprint di kertas ukuran A4)

Pengurusan VISA

  • Datang ke Kedutaan Korea di wilayah masing-masing. Untuk area Tokushima, pengurusan dilakukan di Konsulat Korea yang ada di Kobe.
  • Waktu pengajuan VISA pukul 9:00-11:30
    • Ikuti panduan dari security/satpam disana
    • Ambil nomor antrian
    • Isi formulir
    • Fotocopy paspor & Residence Card (di lokasi tersedia mesin fotocopy berbayar, dibantu oleh security yang ramah)
    • Beli tiket pembayaran pengurusan VISA di mesin otomatis ¥4.400
    • Semua persyaratan diserahkan ke petugas
  • Waktu pengambilan VISA
    • Ambil di tempat pada pukul 14:00-16:00, atau
    • Bisa pilih chakubarai, diproses 4 hari kerja & diterima dihari ke-5 atau ke-6. Kalau memilih chakubarai, otomatis paspornya ditinggal dulu. 

Kamus

  • 着払い /chakubarai/ = Pengiriman via pos yang dibayar ketika barang sampai
  • 自動販売機 /jidouhanbaiki/ = Mesin penjualan otomatis
  • 在留カード /Zairyuukado/ = Residence Card (Kartu Identitas/KTP Jepang)
  • 在職証明書 /zaishoku shoumei sho/ = Surat keterangan kerja dari institusi/lembaga tempat bekerja
  • コンビニ /combini/ = Toko yang buka 24 jam, seperti: 7eleven dan Family Mart

Catatan

  • Kalau datang telat, berkas tidak diproses dan kembali dihari lain.
  • Di jepang, Kedutaan Besar dan Konsulat Korea (Embassy & Consulate General of Korea in Japan) ada di 12 wilayah.
  • Yang belum punya foto, bisa membuatnya di photo box  yang biasanya ada di area supermarket/stasiun atau tempat tertentu lainnya.
  • Bagi yang sudah punya foto dalam bentuk soft copy, bisa mengeprint di combini.

 

Tokushima Station 🔜 Anan Station

Di Tokushima Station

  • Akses dengan kereta api ada 2 macam, 普通列車 dan 特急
  • Loket JR四国 ada di lantai 1 Clement
  • Dari 徳島駅 (Tokushima Station), JR menuju 阿南駅 (Anan Station) ini berlawanan arah dengan 倉本駅 (Kuramoto Station)
  • Informasi jam keberangkatan ada di layar mungil pojok atas tempat melewati pemeriksaan tiket.
  • Perlihatkan tiket ke petugas di loket untuk distempel.

普通列車 (Local Trains/Kereta biasa)

  • Tiket ¥550 beli di 自動販売機 (mesin penjualan otomatis)
  • Jalur: JR牟岐ライン (JR Mugi Line), Platform 4
  • 各停 (Berhenti di setiap stasiun)
  • Rute:
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station)
    • 二軒屋駅 (Niken-Ya Station)
    • 文化の森駅 (Bunkanomori Station)
    • 地蔵橋駅 (Jizoubashi Station)
    • 中田駅 (Chuden Station)
    • 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station)
    • 阿波赤石駅 (Awa-Akaishi Station)
    • 立江駅 (Tatsue Station)
    • 羽ノ浦駅 (Hanoura Station)
    • 西原駅 (Nishibara Station)
    • 阿波中島駅 (Awa-Nakashima Station)
    • 阿南駅 (Anan Station)
  • Waktu yang dibutuhkan sekitar 42 menit
    • 徳島駅 (Tokushima Station) 🔜 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) ⏱ 2 menit
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) 🔜 二軒屋駅 (Niken-Ya Station) ⏱ 3 menit
    • 二軒屋駅 (Niken-Ya Station 🔜 文化の森駅 (Bunkanomori Station) ⏱ 3 menit
    • 文化の森駅 (Bunkanomori Station) 🔜 地蔵橋駅 (Jizoubashi Station) ⏱ 4 menit
    • 地蔵橋駅 (Jizoubashi Station) 🔜 中田駅 (Chuden Station) ⏱ 4 menit
    • 中田駅 (Chuden Station) 🔜 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station) ⏱ 4 menit
    • 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station) 🔜 阿波赤石駅 (Awa-Akaishi Station) ⏱ 4 menit
    • 阿波赤石駅 (Awa-Akaishi Station) 🔜 立江駅 (Tatsue Station) ⏱ 3 menit
    • 立江駅 (Tatsue Station) 🔜 羽ノ浦駅 (Hanoura Station) ⏱ 3 menit
    • 羽ノ浦駅 (Hanoura Station) 🔜 西原駅 (Nishibara Station) ⏱ 4 menit
    • 西原駅 (Nishibara Station) 🔜 阿波中島駅 (Awa-Nakashima Station) ⏱ 3 menit
    • 阿波中島駅 (Awa-Nakashima Station) 🔜 阿南駅 (Anan Station) ⏱ 4 menit

特急 (Limited Express/Kereta Cepat)

  • Jalur: 剣山室戸 (Taurugisan-Muroto Line)
  • Tiket ¥1.400 beli langsung ke petugas di loket
  • 徳島駅 (Tokushima Station) – 阿南駅 (Anan Station) – 海部駅 (Kaifu Station)
  • Rute:
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station)
    • 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station)
    • 羽ノ浦駅 (Hanoura Station)
    • 阿南駅 (Anan Station)
  • Waktu yang dibutuhkan sekitar 27 meni
    • 徳島駅 (Tokushima Station) 🔜 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) ⏱ 2 menit
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) 🔜 南小松島 (Minami-Komatsushima Station) ⏱ 10 menit
    • 南小松島 (Minami-Komatsushima Station) 🔜羽ノ浦 (Hanoura Station) ⏱ 8 menit
    • 羽ノ浦 (Hanoura Station) 🔜 阿南駅 (Anan Station) ⏱ 7 menit

Di Anan Station

  • Turun di Anan Station, naiki tangga, serahkan tiket ke petugas di loket, naik lif dan turun menuju pintu keluar

普通列車 vs 特急

  • Dari nama aja udah beda:
    • 普通列車 (Local Trains/Kereta biasa)
    • 特急 (Limited Express/Kereta Cepat)
  • Kalau mau cepat, pilih 特急. Memang sedikit merogoh kocek tapi lebih efisien dari segi waktu.
  • Kalau mau irit, pilih 普通列車. Murah meriah dan nyante, harganya ekonomis. Tapi cukup memakan waktu, karena kudu singgah sejenak di setiap stasiun.

Kamus

  • クレメント (Clement), nama bangunan di Tokushima Station yang memiliki fasilitas hotel, shopping center, aneka restoran, toko omiyage (oleh-oleh), loket & stasiun JR, dll.
  • 自動販売機 /jidouhanbaiki/ Mesin penjualan otomatis
  • 牟岐線 /mugi-sen/ Mugi Line
  • 阿波室戸シーサイドライン
  • 各停 /kakutei/ Berhenti setiap kali
  • 駅 /eki/ Station (Stasiun)
  • JR (Japan Rail) | Kerete api jepang
  • 窓口 /madoguchi/ Loket

Rekomendasi Link

  • Website resmi JR四国 dalam bahasa inggris, korea & cina.

Ramen Halal Di Osaka

Bagi pecinta kuliner ala jepang, pastinya sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ramen. Mie rebus berkuah kaldu ini bisa ditemukan dengan mudah di kota-kota besar di Indonesia. Sehingga para muslim bisa leluasa menyantap hidangan yang sebagian besar sudah berlabel halal ini.

Berbeda jauh dengan ramen di jepang. Bak udon, warung hingga restoran ramen boleh dibilang menjamur, tapi hampir semua tidak bisa dikonsumsi dengan bebas oleh muslim, karena berbahan dasar babi dan turunannya.

Tapi, patah hati karena ga bisa nyicipin ramen halal bisa diobati oleh warung-warung ini 👇

帆のる (Halal Ramen Osaka HONOLU)

  • Alamat:
    • Namba, Osaka 👉 Ramen Honolu (copy via Google Map)
      • 2-5-27 Motomachi, Naniwa-ku, Ōsaka-shi, Ōsaka-fu 556-0016
    • Tokyo
  • Buka pukul:
    • 11:30-14:30
    • 17:30-21:30.
  • Ramen boleh dibawa pulang.
  • Selain ramen, ada menu unggulan lainnya, gyoza a.k.a pangsit.
  • Cara pemesanan
    • Pesan via mesin otomatis.
    • Serahkan struk pada ten-in (penjual).
    • Tunggu dan ambil pesanan.
  • Fasilitas: Toilet & tempat shalat.
  • Gallery:

鶏そばあやむや (Torisoba Ayam-YA)

  • Warung ramen yang satu ini cabang dari Ayam-YA Kyoto
  • Alamat: Namba, Osaka 👉 Ayam Ya Nanba, Osaka (copy via Google Map)
    • 1-10-7 Nipponbashihigashi, Naniwa-ku, Ōsaka-shi, Ōsaka-fu 556-0006
    • Kyoto
  • Buka pukul:
    • 11:30-15:00 (order terakhir pukul 14:30)
    • 17:30-22:00 (order terakhir pukul 21:30)
  • Ramen tidak bisa dibawa pulang.
  • Hanya menu kara age (ayam goreng tepung khas jepang) yang bisa dibawa pulang.
  • Cara pemesanan
    • Pesan via mesin otomatis.
      • Uang kertas yang digunakan hanya ¥1.000 yang bisa diproses di mesin ini. Uang pecahan ¥10.000 tidak bisa digunakan, ditukar terlebih dahulu secara manual.
      • Pilih menu, tekan tombol sesuai pesanan. Hanya bisa pesan 1/1.
      • Ambil struk.
      • Untuk pengambilan kembalian tekan tombol dipojok kiri atas.
    • Serahkan struk pada ten-in (penjual).
    • Tunggu dan ambil pesanan.
  • Fasilitas: Toilet & tempat shalat.
  • Semuanya enak, tapi ada beberapa yang recommended:
    • Rekomendasi dari Olha Chayo 👉 スパイシー塩 (spicy salt/pedas asin) ¥850
    • Rekomendasi dari pelanggan tetap 👉 チキンオーバーライス (Chiken Over Rice) ¥790
  • Gallery:
🏷 Tabligh Akbar Golden Week 2018 with Tokushima’s family

Ngebolang ke Shinmachigawamizugiwa Park

Shinmachigawamizugiwa Park terletak di jantung kota Tokushima, diantara Awa Odori Kaikan dan Tokushima Station.

Kombinasi alam bergaya modern ini cocok banget untuk tempat refreshing, sekedar melepas penat, atau bahkan piknik bareng keluarga.

Pengunjung disuguhkan pemandangan Sungai Shinmachi nan adem. Sentuhan alam makin kental dengan adanya merpati dan bebek-bebek yang ikut menikmati asrinya suasana taman.

Sesekali melambaikan tangan menyapa mereka yang sedang menikmati Hyotanjima Cruise melintasi Shinmachigawa. Atau, menonton mereka yang sedang berlatih olahraga air, tampak menyenangkan dari bangku taman.

Pada musim semi, meskipun pohon sakura tidak terlalu banyak, tapi tempat ini tetap memiliki daya tarik tersendiri untuk hanami-an.

Akses

Akses ke lokasi sangat praktis, hanya dengan berjalan kaki sekitar 5 menit dari Awa Odori Kaikan atau sekitar 10-15 menit dari Tokushima Station.

Event

Shinmachigawamizugiwa Park berdampingan dengan Shinmachi River yang bisa diseberangi dengan Shinmachi Bridge. Tiga area ini sering dijadikan lokasi event-event tertentu, salah satunya yang paling terkenal adalah Festival Awa Odori yang berlangsung setiap tahunnya di musim panas, biasanya pada tanggal 12 s/d 15 Agustus.

Di hari tertentu, terutama pada hari libur, ada event lain seperti bazar makanan, konser band, dll.

Fasilitas

Taman yang bersih dan sangat fungsional ini juga memiliki fasilitas umum, seperti: tempat duduk, toilet, panggung, dll.

Hyotanjima Cruise

Ini salah satu favorit pengunjung nih.. Sama seperti Tombori River Cruise yang menjadi wahana berlayar ala Sungai Tombori di Osaka.

Berlayar ala Shinmachigawa ini bakal dipandu pramuwisata yang tak hanya ramah tapi juga kocak! Tiket kapal ¥200 (dewasa) dan ¥100 (anak-anak). Lama perjalanan PP sekitar 30 menit melewati Tokushima University (kampus Josanjima), AEON Mall, kantor pemerintahan Tokushima, Tokushima Central Park (area hanami-an di musim sakura yang didalamnya ada museum Tokushima Castle).

Kamus

  • 新町川水際公園 /shinmachigawamizugiwa kouen/ = Shinmachigawamizugiwa Park (Taman Shinmachigawamizugiwa)
  • 徳島市 /tokushima-shi/ = Tokushima City (Kota Tokushima)
  • 新町川 /shinmachi gawa/ = Shinmachi River (Sungai Shinmachi) | Batang aia Shinmachi
  • 新町橋 /shinmachibashi/ = Shinmachi Bridge (Jembatan Shinmachi) | Jambatan Shinmachi
  • PP = Pulang-pergi

Rekomendasi Link

Gallery

Ekspedisi Panda

Perjalanan kali ini dalam rangka mengobati demam panda para hantu traveling kayak kite-kite 😆 Berangkat dari skedul yang udah dikemas sangat apik oleh Mba U, kami bertiga dengan Vit chan melancong ala backpacker ala-ala-an 😁👍

Agenda

  • 04:15 Berangkat via taxi (bajet sekitar ¥2.900 bertiga) , karena jam operasional bus di Tokushima itu sekitar pukul 7:00.
  • 04:45 Sudah di Tokushima Ferry Nankai. Beli tiket kapal feri 2 way (pulang-pergi) ¥3.800 langsung di loketnya.
  • 04:47 Menuju ruang tunggu penumpang. Disini ada tempat duduk, berbagai jenis informasi mulai dari poster hingga skedul transportasi dan fasilitas toilet.
  • 05:20
    • Menuju kapal, kayak mau masuk pesawat euy.. Gilaa, keren ya.. Excited bangett!! Perdana, choy.. Tadinya saya kira kapal feri itu didalamnya mirip dengan kapal feri yang pernah saya naiki sewaktu berangkat ke Pulau Bintan dari Pekanbaru (2009), ternyata jauh berbeda. Pastinya, ini kapal besar dan didalamnya terbagi menjadi beberapa area sesuai fungsinya, dekorasinya juga keren!
    • Ada lesehannya juga, tempat istirahat tidur-tiduran lengkap dengan lemari terbuka untuk menaruh barang bawaan, dilengkapi dengan sofa mungil yang sepertinya bisa digunakan untuk bantal tidur ramean 😁👍
    • Ada kursi mirip di kapal feri kecil yang ada di Indonesia, sandaran tangannya bisa diangkat kayak kursi bus.
    • Ada fasilitas wi-fi lengkap dengan area personalnya mirip warnet di indonesia dan juga tempat duduk seperti di cafe atau resto tempat kumpul keluarga.
    • Pokoknya mantep dah
  • 05:35 Berangkat.. Ini banyak cerita seru nih disinih..
    • Sempat nggak nyadar lho kalau kapalnya udah jalan.. Berasanya itu kayak pesawat mau landing atau seperti ketubruk sesuatu hanya seketika, eh tau-tau pas nongol ke jendela udah laut aja semua, alamaak.. Beda banget yak naik kapal feri gede sama yang kecil, apalagi perahu?!
    • Bikin vlog bareng Vit chan.
    • Saya sama Vit chan sempat penasaran sewaktu nemu pintu di ujung sayap kiri, sepertinya pintu keluar?! Tapi boleh nggak ya keluar?? Kita coba buka pintunya, ternyata boleh!! Cuma cuacanya aja wes dingin tenan..
    • Tadinya, kita bertiga saling bergantian ke lantai 2 menunggu matahari terbit a.k.a sunrise. Tapi, karena kelamaan, Mba U memutuskan untuk memilih istirahat. Sementara saya dan Vit chan malah kayak fans lagi jumpa artis, excited abiss!!
    • Demi mengabadikan indahnya karya Sang Pencipta, saya rela berlama-lama menantang si angin sembriwing. Indah banget.. Serasa dihipnotis mau berlama-lama aja disinih; tapi apa daya suhunya ga cuma bikin meler tapi juga bikin tangan sampai bebal! Walhasil balik ke area yang ada wi-fi-nya.
    • Niatnya sih mau rehat (tadinya), tapi pas tengok keluar jendela, sumpah keren!! Saya akhirnya kembali, kali ini tanpa Vit chan yang nyerah karena suhu dingin.
    • Waaah.. saya lagi hoky nih, tangga menuju lantai 3 udah kebuka! Jadi bisa ke lantai paling atas dah.. Sayangnya beneran cuma ambil dokumentasi doang, dingin buangedh…
  • 08:00 南海和歌山港駅 (Nankai Wakayamako Station)
  • 08:11
    • Naik Wakayama Bus no. 160 di 和歌山港駅バス乗り場 (Halte Bus Wakayamako Station), bajet ¥240.
  • 08:27 和歌山駅 /Wakayama eki/ (Wakayama Station)
    • Beli tiket JR ke 御坊駅 /Gobou eki/ (Gobo Station) ¥970. Untungnya saya punya kartu ICOCA (bisa dibeli di loket JR), jadi tinggal cas deh.. Tidak perlu berkali-kali membeli tiket secara manual.
  • 8:40
    • Berangkat menuju 御坊駅 /Gobou eki/ (Gobo Station) dengan JR Takarazuka Line.
  • 9:33 湯浅駅 /Yuasa eki/ dari 乗り場 3 transit ke 乗り場 2
    • Lagi-lagi kejadian lucu kembali menunjukkan leluconnya. Sampai di stasiun ini, semua orang turun. Dalam hati saya, kok auranya sepi yak, tapi ga kepikiran sama sekali bakal transit atau segala macam. Mungkin, akses kami yang kejauhan makanya pada turun semua.
    • Cukup lama keretanya berhenti, dan keanehan mulai kentara. Namun, dari kita bertiga, sepertinya cuma Mba U yang beneran sadar, dia mengonfirmasi arah kereta pada kami setelah melihat plang rute kereta dari jendela JR. Kami berdua sepakat dan meyakinkan Mba U kalau itu nggak mungkin, karena kereta kita menuju Gobo Station..
    • Makin lama makin sepi, dan kereta pun tak kunjung jalan. Ucluk-ucluk, datanglah petugasnya yang dengan ramah mengatakan kalau kereta ini bakal kembali ke Wakayama Station.. Gubrak!! Kami hanya bisa tersenyum sumringah dan mulai bergegas turun.. Hadeeeuh..
    • Pada mau ke toilet, eh ga ada toilet sama sekali euy.. Mulai berasa terhampar dimanaa gitu.. Mana masih harus menunggu 20 menitan lagi, coba..
  • 9:59 Naik JR menuju Gobo Station.
  • 10:17 御坊駅 /Gobou eki/ (Gobo Station)
    • Kita bingung nih sama jadwalnya. Untung aja bisa nanya sama masinisnya yang baru turun dari JR.
    • JR selanjutnya 10:59, belum lagi transit dan segala macam. Akhirnya kami memilih 東急 /toukyuu/ kereta cepat (di skedul ditulis berwarna merah), berangkat pukul 10.46. Katanya nanti bakal nambah seribu yen-an, ga papalah.. Langsung sampe di Shirahama Station soalnya, hemat waktu, ga pake ribet transit dengan kita-kita yang notabennya buta rute..
  • 10:46
    • Berangkat dengan 東急 /toukyuu/ kereta cepat. Bentuknya panda.. Didalamnyapun didekor panda. Lucu banget!!
  • 11:29 白浜駅 /Shirahama eki/, akhirnya..
    • Udah pede-pede nanyain cara bayar 東急 /toukyuu/ kereta cepat pada eki-in (petugas stasiun)-nya, eh kartu ICOCA kece saya malah raib tak berjejak.. Apes.. Apes..
    • Kartu cantik itu sengaja saya taruh di dompet HP, biar praktis. Awalnya sempat nggak sreg gitu, coz tempat kartu di dompet HP ini sepertinya longgar, tapi yo wes lah, arahnya juga ke dalam toh.. Yang namanya malang yaah bak kate pepatah minanglah “untuang ndak dapek diraiah, malang ndak dapek ditolak“, nggak rejeki..
    • Tapi, saya tidak menyerah! Kali aja kececer?! Abis bilang ke petugas, saya langsung bergegas nyari sampe ke tempat awal turun dan balik lagi ke depan petugas yang sama, nihil..
    • Saya makin ga enak diliatin petugasnya macem mau lariin diri aja. Ternyata bener, setelah keluar, teman saya cerita, petugasnya sampe nyariin saya sewaktu saya pergi nyariin kartu, hadeeeuh..
    • Walhasil, saya yang tadinya bisa nambah sekitar ¥900-an, sekarang kudu bayar full dah, hu hu hu hu..
    • Jadi ingat sama teman saya sewaktu masih di Osaka. Waktu itu kita janjian ketemu di Stasiun Umeda, tapi saya udah celinga/uk kemana-mana, tak kunjung nemu. Mana ga punya akses internet lagi.. Dan, ternyata, dia lagi ngurusin kartu kereta-nya yang hilang. Didalamnya ada nominal sekitar ¥1.000. Ekspresi wajahnya seperti kehilangan banget.. Saya turut prihatin, tapi namanya juga hilang ya ga rejeki (pikir saya waktu itu). Sekarang, di kondisi yang berbeda saya mengalami hal yang serupa, dan ternyata.. kecewa juga yah.. Masih untung saya ngisi ¥2.000, udah dipake pula buat bayar JR, padahal sebelumnya sempat mau ngisi lebih biar nggak ribet, alhamdulillah antara masih rejeki & nggak rejeki tapi tetep aja apes.. hikmahnya kudu ati-ati nih..
    • Walhasil, saya beli kartu yang sama sekali lagi dan saya simpan di saku tas paling depan, nggak mau ceroboh lagi..
    • Keluar stasiun, kita beli tiket bus pp ¥600 (@¥300) dan tiket Wakayama Adventure World ¥4.500 (dewasa) di loket bus, sebelah kiri dari pintu keluar stasiun.
    • Nyari ATM, ada di seberang jalan yang searah dengan loket bus agak ke kiri.
  • 12:10 Naik bus
  • 12:45 Sampe.. Wakayama Adventure World, yuhuu…
    • Ngasih tiket ke petugas di pintu masuk.
    • Baru aja masuk, udah ketemu sama pinguin yang lagi mandi-mandi.. Kok berasa nggak mirip pinguin yak, seolah penguin itu identik dengan es & kutup.
    • Langsung cari tempat makan. Bekal yang dibawa Mba U udah mau ludes, hee.. Kita-kita juga kudu nyari yang ada nasinya dan yang dirasa aman (Ga bakal nemu label HALAL disini).
    • Menu makanannya, mulai dari bento, es krim, dll di bentuk PANDA!! Lucuuu….
    • Saking banyaknya resto dan cafe, kita yang awalnya milih tempura malah bingung. Sampe akhirnya memutuskan makan di sebuah restoran seharga ¥1680, paket tempura, tapi bukan tempura yang kita maksud sebelumnya. Saya merasa sulit menghabiskannya karena rasanya diluar ekspektasi.
    • Ada roller coaster-nya juga!! Asiik.. Gondola yang jauh disana juga mantep!!
    • Komitmen waktu sampe jam 3, biar bisa cepat balik..
    • Ada bangau pink..
    • Yang pastinya, tempat awal yang kita tuju adalah PANDA!! Di no. 3 & no. 6 berdasarkan map-nya. Lucu bangett.. ngegemesiin.. Lagi-lagi, kurang sesuai ekspektasi awal saya yang mengira panda-nya banyak disana-sini, ternyata masing-masing ditaruh di satu area masing-masing.
    • Info yang didapat Mba U, disini ada atraksi-atraksi juga, lho.. hanya saja ada skedulnya. Nah, ini nih yang nggak kita perhatiin.. Lagian, karena akses yang jauh ini, kita juga ga bisa berlama-lama nih.. Yang penting tujuan utama PANDA, so everything about PANDA dah..
    • Kita-kita ketagihan sama pop corn-nya ¥500, se cup guede & enak!!
    • Sempat saling nyari juga pas nyari-nyari souvenir, untung ketemu dan langsung naik bus balik. Udah tutup juga wisatanya, sampe jam 4 doang kayaknya yak.
  • 16:50 Cus, bus balik
  • 17:00 白浜駅 /Shirahama eki/
  • 17:28 東急 /toukyuu/ kereta cepat ¥1400
  • 18:45 和歌山駅 /Wakayama eki/ (Wakayama Station) +¥889
    • Karena masih banyak waktu, kita keliling-keliling. Sempat makan malam juga, laper euy.. Hidangan teranyar malam ini tahu & seafood.
  • 21:10 Bus 161, berangkat.. Lelah hayati..
  • 21:50 Berangkat dengan kapal feri. Tepar euy.. Batrei HP pada lowbatt, ga cuma itu, sampe power bank juga!!
  • 23:58 Sampe kembali di 和歌山フェリー南海 (Wakayama Ferry Nankai), alhamdulillah.. Gilaak, capek nian…
  • Pulangnya kudu pake taxi lagi, nasib.. nasib.. Tapi alhamdulillah.. perjalanan yang melelahkan ini luar biasah!! (Udah ga ada transportasi umum euy jam seginih).

Kesan

  • Tadinya saya kira perjalanan ke Kyoto-lah yang paling tidak praktis karena transportasinya, ternyata sekarang digantikan oleh Wakayama. Mungkin, karena lokasinya jauh dari pusat kota. Karenanya, boleh dibilang perjalanan paling mahal bagi saya selama di Jepang, bajet kasar di luar makan dan belanja sekitar ¥16.000 (transpotasi kapal feri, bus, JR, kereta cepat, dan tiket Wakayama Adventure World) terhitung pulang-pergi dari dan ke- 徳島フェリー南海 (Tokushima Ferry Nankai).
  • Seandainya di Wakayama ada City Loop kayak di Kobe atau chikatetsu kayak di Osaka, pasti bisa berlama-lama di Wakayama Adventure World-nya.
  • Waktunya nggak efektif nih.. Perjalanan Tokushima-Wakayama dengan kapal feri 2-2,5 jam. Kemudian menuju lokasi dengan bus & kereta api dengan transit berkali-kali memakan waktu hampir 5 jam. Total perjalanan secara umum terhitung dari rumah mungkin sekitar 9 jam, dari 和歌山フェリー南海  saja sekitar 7,5 jam.
  • Di perjalanan sering kesulitan, karena kanji semua!! Boro-boro mikirin bahasa inggrisnya, furigana-nyapun tak de.
  • Terlepas dari kerumitan transportasi, saya kagum dengan pariwisata di Jepang. Mereka konsisten dengan icon masing-masing daerah yang bisa menjadi income. Contohnya, Wakayama yang terkenal dengan PANDA, mulai dari desain transportasi hingga makanan, semua menggunakan icon panda. Selain itu, juga bersih dan tertata.
  • Everything about PANDA, ekspedisi selesai. Terimakasih, Mba U & Vit chan.. Perjalanan kita benar-benar luar biasa..

Kamus

  • 徳島フェリー南海 =  Tokushima Ferry Nankai
  • Ferry = Kapal feri
  • 和歌山港駅 /Wakayamakoeeki/ = Wakayamako Station (Stasiun Wakayama)
  • 和歌山港駅バス乗り場 /Wakayamakoe eki basu noriba/ = Halte Bus Wakayamako Station (Halte Bus Stasiun Wakayamako)
  • 和歌山駅 /Wakayama eki/ (Wakayama Station)
  • 乗り場 /Noriba/ = Tempat naik/halte
  • 2 way /chu wei/ = Pulang-pergi
  • Kayak = Seperti
  • Tengok = Lihat

Related Link

Gallery

Hello Kobe!

Gallery

Toiyamachi ‘Pasar Minggu-nya Tokushima’

Gallery

Uzo-no-Michi

Jalan-jalan ke Tokushima, tak lengkap jika belum mampir ke Jembatan Onaruto (landmark-nya Tokushima) yang unik dan serba guna. Jembatan ini tidak hanya menghubungkan Kota Naruto di Perfektur Tokushima dan Awaji di Perfektur Hyogo, tapi juga menjadi salah satu objek wisata dengan fenomena alam yang luar biasa, siapa lagi kalau bukan si uzu (pusaran) nan kece badai.

Jembatan ini juga fungsional, lho.. Bagian atasnya dipakai untuk lalu lintas, sementara sisi bawahnya yang menyerupai terowongan (dengan panjang jalan 450 meter) dijadikan objek wisata, namanya uzu no mici.

Disini, bagian dindingnya yang lepas menghadap laut didominasi oleh kaca. Jadi, tak heran para pengunjung begitu takjub dimanjakan oleh pesona full laut! Dan, yang tak kalah menarik, bagian lantainya terbuat dari kaca di titik-titik tertentu yang disebut dengan observation room, tentunya tepat di atas lokasi pusaran air. So, kita bisa melihat si uzu dari ketinggian 45 meter dari permukaan laut!

Fasilitas

Di uzu no michi ini disediakan fasilitas seperti teropong jarak jauh (seperti yang ada di Tugu Monas, Jakarta), GRATIS! Lalu juga ada papan bergambar anime lucu yang bagian kepalanya dilobangi, apalagi kalau bukan sarana buat bereksis-ria pastinya, GRATIS!

Akses

Akses dari Tokushima Station (徳島駅) dengan menggunakan bus no. 27 di 1番のりば (halte no.1), di loket A (halte pertama di seberang 7eleven yang berada di samping Daiwa Hotel). Lama perjalanan sekitar satu setengah jam dengan bajet ¥720. Kemudian, turun di halte Naruto Park (鳴門公園).

Dari halte Naruto Park, bisa diakses dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan mendaki anak tangga yang ada disebelah toko omiyage. Sementara, dari pelabuhan mini tempat menaiki fune (kapal) yang digunakan untuk berinteraksi dengan si uzu, bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit. Menurut informasi dari beberapa sumber, jika tidak memiliki kendaraan, bisa menggunakan jasa taxi dengan menempuh waktu sekitar 15 menit.

Tiket (Insert)

  • Perorangan:
    • Umum ¥510
    • Pelajar (usia 13-18 th) ¥410
    • Anak-anak (6-12 th) ¥250
  • Grup (20 orang atau lebih)
    • Umum ¥410
    • Pelajar (13-18 th) ¥320
    • Anak-anak (6-12 th) ¥200

Waktu

Uzu-no-Michi buka pukul 09.00-18.00 (waktu se tempat). Pada 1 oktober hingga akhir februari, di musim dinginnya jepang, buka pukul 09.00-17.00. Dengan catatan, masih bisa masuk 30 menit sebelum tutup. Tempat ini libur pada hari senin kedua di bulan maret, juni, september dan desember. Selain itu, di hari golden week (3-5 May) atau hari libur musim panas (natsu yasumi), buka dari pukul 08.00-19.00.

Kuliner & Omiyage

Sekitar 5 menit berjalan kaki dari lokasi, ada warung aneka kuliner dan oleh-oleh. Salah satunya udon dengan harga berkisar ¥500. Dibagian belakang sebelah luar warung ini, tampak pemandangan lepas Jembatan Onaruto. Disini juga tersedia teropong jarak jauh berbayar.

Selain ini, sekitar 2 meter dari halte Naruto Park (鳴門公園) juga ada sebuah toko omiyage  yang juga menyediakan udon dengan harga yang cukup variatif. Tidak hanya itu, disini juga menyediakan tiket kapal (船) seharga ¥1.550/orang.

Pusat omiyage terbesar berada di seberang tempat parkir, bisa diakses dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan menaiki anak tangga dari halte Naruto Park. Disini tersedia aneka makanan khas Tokushima yang didominasi oleh imo (ubi berkulit ungu dengan isi putih kuning, hasil pertanian utama di Tokushima), seperti manju (kue mirip dorayaki, kue-nya  kartun doraemon, tapi dalam versi mini), osato (gula dengan pengolahan tradisional), dll.

Gallery

Kamus (Dictionary)

  • 辞書 /jisho/ = Kamus (dictionary)
  • 渦の道 /Uzu-no-Michi/ = Onaruto Bridge Floating Prominade
  • 渦 /uzu/ = Pusaran air (Whirlpools)
  • Observation room = Ruang observasi
  • 船 /fune/ = Kapal (Ship)
  • 夏休み /natsu yasumi/ = Libur musim panas (Summer holidays)
  • 冬 /fuyu/ = Musim dingin (Winter)
  • 乗り場 /noriba/ = Halte, tempat pemberhentian/penantian bus
  • 鳴門公園 /naruto kouen/ = Taman Naruto (Naruto Park)
  • アニメ /anime/ = Cartoon /kartun/
  • うどん /udon/ = Udong, mie gepeng dan lebar khas jepang
  • お鳴門橋 /onarutohashi/ = Jembatan Onaruto (Onaruto Bridge)
  • Insert = Masuk (biasanya berhubungan dengan admission)
  • Golden week = Hari libur berturut-turut di Jepang pada tanggal 3-5 May setiap tahun
  • Admission = Pendaftaran (biasanya bergubungan dengan pembelian tiket)
  • おみやげ /omiyage/ = Oleh-oleh

Kebun Raya Bogor

12.04 Dari Stasiun Bogor, kita naik angkot hijau ngejreng (hijau daun stabilo) 02 (Sukasari-Bubulak).

12.12 Karena suatu hal, kita sempat berhenti dijalan dan naik angkot sekali lagi. Akhirnya, kita sampai di pintu IV, tapi kok sepi?? Jangan-jangan tutup?! Ternyata, ada pengumumannya, cuma pintu I yang buka.

Kita bertanya pada mbak yang ada dikantoran dekat situ. Jadi kita mesti naik angkot 08 atau 05 menuju Pintu I.

Sampai di Pintu I, kita masuk dengan insert @ Rp 15.000,-. Tarif masuk berbeda-beda tergantung kriterianya. Ini dia:

Welcome to Kebun Raya Bogor 😉

Meican sempat meminta kita untuk tidak lanjut kesini, karena sepi.. Tapi, karena saya dan Weni memilih tetap lanjut, dia akhirnya ikut juga dengan enggan 😀

Kebetulan banget nih, kita liat plang Rafflesia Arnoldi.. Tapi sayang, Cuma plang doang, bunganya dicari-cari ga ketemu, huft..

Kita lanjutin perjalanan ke lorong unik yang terbentuk dari dahan pohon bambu yang menyatu, serasa berada di film-film seperti Narnia 😀

Kemudian, saya melihat sekumpulan tugu yang kesannya seperti.. patung-patung di kuburan tertentu! Hm, tidak mungkin.. Tapi memang sih suasana disini kental aura sunyi.. Saya sibuk jepret-jepret, sementara dua teman saya tampak berdiri cukup jauh dari saya dan terkesan mau cepat-cepat pergi dari sini, mereka bicara seperti berbisik dan tampak was-was memperhatikan sekitar. Hm, never mind, saya tetap mengambil beberapa foto dan mulai mendekati bagian informasi tertulisnya, ternyata.. ini.. Makam Belanda!! Tak ingin menyediakan ruang untuk panik, saya optimis tidak ada yang aneh dan tetap mengambil foto sejarah makam ini. Lalu lanjut bergabung bersama Meican dan Weni. Setelah cukup jauh kita berjalan, baru Meican buka suara kalau dia sempat searching dan dapat info bahwa Makam Belanda ini merupakan salah satu tempat yang terangker di Kebun Raya Bogor.. Tapi syukurlah, sejauh ini kita aman.. 🙂 Memang, sekarang saya baru sadar kalau foto-foto tugu yang saya ambil itu hasilnya blur semua, kecuali bagian infonya, hm.. mungkin saya kurang bagus tadi ngambilnya 😉

Ini arah selanjutnya:

Kita sempat mampir di pekarangan sebelah luar Istana Kepresidenan Bogor. Disini udah standby seorang bapak-bapak fotografer, jadi kalau kamu ga bawa kamera ataupun lagi lowbat, ga perlu pusing mendokumentasikannya 😉 Saya sempat bercanda sama si Bapak, nanyain, bisa nggak kita masuk kesana. Si Bapak bilang “Ga bisa atuh neng, kan bapak presiden lagi di kediaman ini sekarang”. 😀 Mungkin si Bapak malah mengira kalau kita-kita ini ngeyel kesini, haha..

Nah, ini dia Danau Gunting.. Kenapa diberi nama demikian? Karena dia berbentuk gunting jika dilihat dari udara. Konon, lokasi ini menjadi salah satu tempat terangker di Kebun Raya Bogor. Katanya nih, danau ini tidak bisa dibersihkan, karena dahulu ada eskavator yang patah, konon ada makhluk halus disana. Ini didukung oleh pengakuan satpam dan petugas kebersihan yang sering melihat penampakan noni Belanda di tengah danau. Namun, saya pribadi juga teman2, merasa adem banget nih disini, suasananya tenang, sejuk dan damai =)

Next..

Capek berjalan, kita menunggu bus keliling yang difasilitasi oleh Kebun Raya Bogor ini. Tapi ditunggu-tunggu, tidak pernah kelihatan. Padahal, awalnya kita pikir mereka tidak beroperasi karena pengunjung sepi, tapi kita sempat melihat ada yang melintas sekitar 2 mobil dengan rentang yang cukup jauh saat kita berkeliling. Sudah cukup lama berdiri disimpang ini, akhirnya muncul satu, tapi mereka tidak mau berhenti, padahal masih banyak tempat yang kosong. Dengan kecewa kita meneruskan perjalanan dengan lunglai. Saking capeknya, saya lebih suka jalan ngeker (tanpa sepatu) dan walhasil kena tusuk duri sawit, bah..

Di sepanjang jalan yang tak jelas ujungnya, kita hanya terus melangkah gontai dan baru merasa diberi angin sorga ketika melihat ada seorang penjada toilet di sisi kiri jalan. Namun, bukannya pencerah, kita malah dapat kabar buruk, bus keliling itu cuma bisa dinaiki di gerbang aja dan tidak akan pernah berhenti di jalan.. “What???” Sempat merasa tak adil, wong tadi kita di gerbang ga liat tuh ada bus itu 😥 Apa boleh buat, kapan lagi marathon seharian begini, lumayan juga nurunin kolesterol 😀

Kita beristirahat cukup lama di bangku depan Pohon Kenari. Setelah saya perhatikan, pohonnya unik, guys.. Buahnya bertebaran di sekitar pohon, bahkan sampai ke sisi jalan dekat tempat kami duduk. Cuma memang, rata-rata yang ditemkan udah membusuk. Mau niatan ambil 1 buat ditanam di rumah, hee.. tapi ga jadi.. Ini dia..

Pernah dengar Jembatan Merah Bogor yang terkenal itu? Nah, ini dia..

Lanjut..

Oya, di mushalla itu, kita liat hari masih sekitar pukul setengah tigaan, jagi kita rehat dulu di beranda depan mesjid. Ada suara gemericik air, dikelilingi oleh pepohonan aneka warna, tenang.. adem.. waaah.. nyaman… Kontan kita guling-gulingan di tembok pelatarannya, waaah.. capek… Mulai ga peduli tuh sama yang lewat, kita mulai mirip tuna wisma deh kayaknya, hee.. Tapi, sesekali kita gemerubuk juga kala ada yang datang, ga enak kalau terlihat tidak sopan 😀 Bahkan, penjaga mesjidnya beberapa kali mondar-mandir ngeliatin kita, mungkin dia heran, gelis-gelis tapi nongkrongnya cak orang gelandangan, hahaa.. Tapi wajarlah dia begitu 😀 Tiap bentar kita liatin jam nungguin waktu Ashar, lama rasanya..

Abis shalat, sekitar jam 4-an, kita go buat beli oleh-oleh khas Bogor. Dari promo Weni nih, disini khasnya Roti Unyil dan Kue Lapis Bogor, abis itu baru deh nyari tempat berbuka, yang ada kuliner khas Bogor juga dong tentunya. Cus..

Beberapa foto memang agak gelap yah.. Ga cuma batrei nih yang low, memori juga full 😀 Kita lama disini rehat sekaligus narsisan juga..

Semangat 45 mau nyari oleh-oleh, rasa penat mulai tersingkir.. Eh, pas kita keluar, sekitar pukul 5-an, sampai di Gerbang I, udah tutup chuy… Pantes sepi banget.. Hallaaa… Kemungkinannya cuma 2, kita terkurung atau mesti lewat pintu lain?! Kalau terkurung mah enggak mungkin bangett.. Tapi kalau pintu keluarnya dialihkan mah bisa jadi.. Kita jalan kesana-kemari menduga-duga. Memang ada plang kluar, cuma disana dibilang untuk kendaraan?! Karena ga ada pilihan, kita ikutin aja jalur exit itu, dan.. kita sampai di Gerbang IV!!! Subhanallah.. perjuangan yang super!!

31 Tahun Bukittinggi Kota Wisata

Kronologis Backpacking

Sepulang dari Rontgen kaki Ayah yang terkilir, rencananya Aku mau menunggu expertisenya sampai sore di Bukittinggi. Hm,  Aku yakin nggak bakal pusing nyariin tempat nongkrong, secara setiap sudut di Bukittinggi berpotensi untuk rehat 😀 Aku tinggal jalan doang mau kemanapun, naik angkot kalau udah capek banget 😀 Yah, Bukittinggi… Kota kecil yang selalu Aku kagumi 🙂 tidak ada yang berubah, masih saja ramah dan bersahaja, sekalipun pembangunannya meningkat dengan pesat. Wisata… Kuliner… Penduduknya.. Semuanya!! ngangenin banget.. 🙂 beruntung Aku pernah mengecap nyamannya jadi warga Bukittinggi 🙂 Wkwkwk, kok makin lebay ya?! Haha… Sorry, sorry… Cus, kita lanjutin ceritanya 😀 Tapi ciyus lho, Bukittinggi itu memang nyaman bangett, semua ada 😀

Akhirnya, meskipun expertisenya batal diambil hari ini; Aku memutuskan untuk melancong sekilas di kota sejuk ini (tapi sekarang lumayan terik, bok..). Aku belum tau mau kemana, tapi hatiku memandu untuk ke Panorama, Aku mau mampir sebentar, sekedar foto-foto.. Sayang rasanya cepat-cepat balik ke Padang, karena nanti belum tentu Aku masih punya waktu seluang ini untuk menyapa Bukittinggi.. 🙂

Aku naik angkot No. 15. Nah, kalau di Bukittinggi, angkot itu pake nomor, guys… Beda sama di Padang.. No. 15 Untuk rute ke Blaba, Simpang Kangkung – Panorama – RSAM- Pasar Bawah – Jenjang Gudang – Hotel Jogja – Bank BNI pusat – Niagara swalayan (Simpang Kangkung) – Simpang YARSI – RSI Ibnu Sina Bukittinggi – Belakang Balok (Blaba) – Simpang STIKes YARSI Sumbar Bukittinggi – Simpang Universitas Muhammadiyah (belakang) – Akbid Poltekes Kemenkes RI – kantor-kantor pemerintah kota Bukittinggi – UNP – Birugo – SMAN 2 Bukittinggi – RSSN – Kodim – Simpang Universitas Muhammadiyah (depan) – Simpang STIKes YARSI Sumbar Bukittinggi – RSI Ibnu Sina Bukittinggi – Simpang YARSI – Simpang Kangkung. Angkot. No. 14 rute Jambu Air, Simpang Kangkung – Panorama – RSAM- Pasar Bawah – Jenjang Gudang – Hotel Jogja – Bank BNI pusat – Niagara swalayan (Simpang Kangkung) – Lapangan Kantin – RSSN – SMAN 2 Bukittinggi – Jambu Air. Angkot No. 03, 06 & 09 itu bedanya dia lewat ke Kampung Cina (lupa ding, udah lama soalnya…). Angkot No. 19 rute Terminal Aur Kuning. Selain itu memang ada angkot berwarna kuning dan hijau. Angkot Kuning itu rute dari dan ke Padang Luar, trus ntar muternya di Jenjang Gudang/BNI pusat/Hotel Jogja. Angkot hijau jurusan Koto Tuo, lewat Terminal Aur Kuning dan ambil belokan di Stasiun. Wadoooow, nggak tau itu apa bener semua atau ada rute yang salah, hihhi… Maklum, memorynya cuma sejam-sejam, jadi kalau udah lama mesti diinstal terus 😀

Taman Panorama & Lobang Jepang

“Kiri, Pak…” ungkapku menyetop angkot yang kutumpangi. Aku serasa nggak percaya kalau Aku beneran udah disini, guys… Sudah lama sekali… 🙂 Dengan mantap Aku melangkah untuk membeli karcis, tapi kok… Jendela pembelian karcisnya tutup semua?? Aku sempat mikir, jangan-jangan udah ditutup lagi gegara over capacity?! Liat aja, wisatawannya rame nian euy… Iseng-iseng Aku bertanya pada bapak-bapak yang duduk-duduk di samping kanan depan gerbangnya, nanyain beli tiketnya gimana. Sayup-sayup nggak jelas Aku dengar GRATIS!!!! “Ah, masa sih???”. Mau nanya lagi mah Aku kagak sreg sama bapak-bapaknya, segan… ntar dibilang tuwir lagi?! Beeeh… Ya udah, Aku jalan-jalan aja pelan masuk ke dalam, coz ada salah satu bapaknya bilang selembar kertas, entah itu balesin omongan Aku atau malah komentar lain dari pembicaraannya sebelumnya; Aku jaga-jaga aja, ntar kalau disodorin kertas, Aku tinggal bayar, Aku rasa tiketnya nggak bakal lebih dari Rp 10.000,- 😀 Tapi… udah pasang tampang oonpun, udah mondar-mandir sana-sini kayak nyariin kenalan (padahal kagak ada yang kenal), eeh… Ya udah, rejekinya Aku nih, hihi… Senangnya… Tapi, serius ini GRATIS?! Jangan-jangan ntar pas Aku mau keluar, malah kena tegur?? Malu dong… Mending Aku bayar dari sekarang.. Tapi, ya sudahlah… Aku jalan-jalan aja, keliling-keliling, foto-foto; kalaupun bayar, Aku tinggal ngasi duitnya 😉

Hm, bingung juga nih, mau kemana ya?! Udah masuk, GRATIS, pake bingung lagi… ntar rejekinya malah ilang?! Aku nikmatiin aja foto-fotonya, secara pemandangan disini bagus banget, adem, tenang (padahal rame, lho..), sejuk mata memandang (padahal rada panas, lho..), T.O.P dah pokoknya…

Aku fotoin ngarai yang di depan ahh… Tapi ogah, itu orang lagi numpuk disana, jadi keder… 😀 Hm, kemana ya?? Ahaaa.. Lobang Jepang!!! Aku fotoin Lobang Jepang aja ahh… Hm, abis ini Aku minta tolong fotoin sama adek-adek ini, hihi.. Kebetulan banget, mereka lagi duduk-duduk nggak jelas disini.. 😀 Eh, belum jadi Aku minta tolong, mereka keburu bubar.. 😦 Emang nasibku kali ini apes dah, ya sudahlah.. yang penting Aku udah ambil sendiri foto asli objeknya 🙂

Tiba-tiba, datang seorang bapak-bapak nawarin diri buat membantu ngambilin fotoku berlatarkan Lobang Jepang. Aku sempat negative thinking, lho.. Jangan-jangan.. Jangan-jangan..?! Aku was-was, guys.. Tapi, “udah”, kata bapaknya. “Udah, pak” jawabku tanpa melihat hasilnya. “Lihatlah dulu, bagus nggak?!” kata bapaknya ramah. Aku jadi nggak enak gitu, Ku buka dah itu foto, ternyata cukup bagus, tanpa Aku sadari si bapak juga ikutan liat dan bertanya kembali untuk meyakinkanku “udah?”. Aku tersenyum yakin “udah, udah, makasi ya, pak..” Jawabku mengapresiasi si bapak. Kemudian beliau berlalu diikuti seseorang yang lebih muda darinya dan sepertinya masuk ke Lobang Jepang itu (Aku tidak memperhatikan). Ohh, betapa suuzonnya Aku tadi, bener-bener minta maaf sama si bapak, coz jarang-jarang ketemu orang yang memiliki inisitif tinggi seperti itu 🙂

OK deh, jadi… Aku keliling-keliling lagi ahh.. Tapi, Aku sedikit was-was dan menjaga jarak dari kera-kera yang berkeliaran dimana-mana. Aku yakin mereka nggak bakal gangguin Aku, toh kalau mereka udah gangguin wisatawan so pasti udah diusir sama petugas-petugasnya. Wong mereka enjoy aja tuh jalan kesana-kemari sesukanya. Syukurlah.. Beberapa kali aku lewati dan mereka melewatiku, sampe yang gede sekalipun, aman-aman aja… Aku mulai ga enak, sedari tadi bawaannya suuzon terus.. So, Aku beliin mereka makanan dah entar, kasian mondar-mandir doang, mungkin mereka ngarep juga tuh wisatawannya ngasi cemilan 😀 Tapi… boleh nggak ya?? Ntar malah bikin ribut lagi?! Parahnya, Akulah sang tersangka 😦 Aku ingat, di Jepang sebuah taman yang banyak monyetnya, pengunjung nggak boleh ngasi makanan, Aku nonton beberapa hari yang lalu di sebuah stasiun TV swasta.. Disini gimana ya?! Aku lupa ding, yang Aku ingat, di kebun binatang mah boleh.. Sewatu kecil, Ayah sama Ibu selalu beliin semilan (biasanya kacang goreng) buat ngasi binatangnya makanan 😀 Masa kecil yang terlalu bahagia untuk dikenang 😀 Tapi ntar Aku liat sikon aja deh, apesnya belum ada tuh yang keliatan ngasi sikeranya makanan?? Dengan berat hati, Aku memilih untuk sekedar lalu lalang dan ngambil foto mereka aja. Walhasil, Aku jadi bahan ledekan ABG-ABG yang usil karenanya 😀

Dingarai seberang sana, tampak Great Wall mengular singkat. Aku mau kesana, tapi… jauh… Unjut bilang, pake motor aja capek, apalagi jalan?! Huft, sayang banget.. Ah, Aku terusin aja langkahku hingga mentok di ujung, sekalian cuci mata liatin cendera mata yang bagus-bagus, hee.. Bener aja, Aku kecentol sama sebuah lukisan yang harganya ekonomis, mulai dari Rp 5.000,- lho… Cantik-cantik..!!! Liat deh kalau enggak percaya 😉

Sesampainya di penghabisan toko-toko yang menjual aneka cendera mata, Aku mengambil banyak foto; secara pemandangan disini lebih menarik dari sayap sebelumnya. Tapi, ada yang kurang rasanya.. Apa ya?? Hmm… Foto-foto yang kuambil pasti akan jauh lebih bagus jika kuambil dari ketinggian. Aku melihat sebuah menara 2 lantai tertancap kokoh disana dan Aku mengenalinya (Jangan-jangan, umurku kalah tua darinya?). Kutatap menara itu, berusaha nego dengan diriku sendiri, “berani nggak ya??” bisikku dalam hati. Apa boleh buat, Aku mulai terobsesi ke atas sana, penasaran apa rasanya berada disana, karena selama ini yang bisa kulakukan hanyalah melihat, sekarang waktunya “action” 😉 Hm, disekitar menara malah berkeliaran beberapa ekor kera yang seolah menyiratkan bahwa “kami menjaga menara ini, lho..”. Seketika nyaliku berangsur ciut, bisa mampus tuh Aku dikeroyokin sama mereka ntar?? Ah, ogah ah… Tapi… Aku ingin mencobanya.. 🙂

Kebetulan, di dekat menara itu ada sebuah toko, satu-satunya toko terakhir yang berdekatan dengan menara. Aku menyapa pemilik toko dan bertanya “Da, boleh nggak naik ke atas menara ini?”. Dia melirikku antara aneh dan heran, “Ngga apa-apa” jawabnya ringan. “Tapi… kera-kera itu…” tanyaku khawatir. “Ga masalah, mereka nggak ngganggu kok, bla bla bla….” tutur si Uda menjelaskan.

Kutarik napas dalam dan go…. Kuseret langkahku pelan tapi pasti, satu tangga… dua tangga… tap tap tap, akhirnya sampai di lantai 1
(Horrraaayy…. I got it!!!). Bagus banget pemandangan dari sini… Hm, Aku harus naik lagi nih ke lantai paling atas. Kali ini energiku mulai full kembali, nyalikupun demikian.. Memang benar kata si Uda, para kera sama sekali tidak menggangguku.. Mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing 😀 Dengan tetap berhati-hati, kulangkahkan kaki langkah demi langkah, dan… I’m the winner.. Aku sampai….!!!! Tiba-tiba, Aku mulai merasakan aura gamang.. Entah sejak kapan Aku mulai mabuk ketinggian, guys… Kurasakan tubuhku seolah-olah akan jatuh kala Aku berada di pinggiran pembatas menara, seperti ada magnet besar yang menarikku dan Aku tak kuasa melawannya. Aku menyadari kalau Aku mulai khawatir. Kusandarkan punggungku ke pinggiran tengah menara, namun tetap berhati-hati, jangan sampai Aku bersandar di mulut tangga, itu mah sama parahnya, hahaa..

Tanpa sengaja, kudengar percakapan 3 orang cowok yang bergerak ke arah menara ini. Topiknya tidak lain dan tidak bukan memang si Menara.. Aku tidak memperhatikan, entah mereka bapak-bapak, pemuda-pemuda, para ABG, atau beberapa diantaranya?! Hanya saja, Aku sempat ketawa geli saat salah satu dari mereka mengungkapkan ketakutannya untuk mendaki menara ini. Aku merasa lucu aja guys, masa sekelas cowok yang beginian aja takut?? Haha, ups, Aku ngga bermaksud ngejek, lho.. Tapi memang seharusnya mereka lebih berani, wong Aku aja cewek, sendiri, berani ke atas sini.. 🙂 Songooong.. 😀 Tapi akhirnya mereka bertiga nyusul Aku kok ke puncak menara. Segera setelah mereka sampai, Aku memutuskan untuk turun.

Cukup lama Aku berkeliling, tiba waktunya untuk pulang.. Ku lumat-lumat langkahku memperhatikan sekitar, sepertinya ini memang rejekiku, alias GRATIS!! Mimpi apa Aku semalam, jalan-jalan iseng, eh malah GRATIS?! 😀

Aku keluar dari gerbang Taman Panorama & Lobang Jepang, kemudian berdiri ditrotoar menunggu angkot. Tak jelas angkot yang aku tunggu itu apakah yang no. 15 atau no. 14, silih berganti mereka lalu-lalang di depanku, atau… angkot no.19 aja biar langsung ke Terminal Aur Kuning?! Entah kenapa, Aku merasa waktuku masih panjang, masih cukup untuk kesana-kemari.. Tapi, mengingat belum makan siang, Aku memutuskan untuk langsung pulang aja. Tapi eits, tunggu… pesawat itu..!! diseberang..!! Kala kecil Ayah dan Ibuku sering menunjukinya padaku dan Unjut.. Aku ingin memfotonya, ditunda dulu dah sortir angkotnya… Hmm, ternyata itu Museum???? Halllooooowwww, kemana aja Aku selama ini??? Memang bener-bener nih Aku, kebangetan..!!!!

DSC_9339
Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma

Nah, kebetulan nih, itu kan Museum.. Aku ingat sewaktu di Curup dulu, rumah adatnya yang terkesan dijaga ketat ternyata terbuka untuk umum.. Aku coba tanya ahh… Tapi bapak yang menjaganya tentara??! Apa ini khusus untuk angkatan aja ya?? Hm, coba ditanya dulu dah..

Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma

Aku udah kayak orang bengong nyari alamat aja.. 😀 Untung aja bapak-bapaknya ramah, jadi nggak keliatan banget oonnya 😀 Trus bapaknya malah nanya, “berapa orang?” Waduuuu… tuh, kan…?! Aku bilang sendiri.. Hm, responnya diluar periraanku, aman-aman aja.. Yah, begitulah ramahnya Bukittinggi… 🙂

Aku masuk ke dalam, tanpa karcis lho, guys… Nggak ngerti juga nih, entah biasanya bayar atau memang kali ini Aku beruntung (bangett)?! Hm, entahlah… yang jelas, kali ini beda pesonanya.. Aku berasa terlempar jauh ke jaman kemerdekaan, aroma sejarahnya sangat kental….

 

Awalnya cuma Aku doang pengunjungnya, lama-lama datang sekelompok anak sekolahan dan para guru. Aku salut sama mereka, masih sempat menyisakan waktu untuk mengunjungi museum.. Suatu hal yang boleh dikatakan tidak pernah Aku lakukan, karena tidak terpapar dengannya. Aku sempat tertawa geli kala anak-anak itu mengomentari berbagai jenis mata uang dari beberapa negara yang terpajang disana dan mereka berkomentar “wah, mata uang Indonesia yang paling banyak jenisnya ya?!” seru mereka kompak antara kagum dan heran 😀 Aku ikutan berebut melihat apa yang mereka lihat, takut ngga cukup waktu… 😀 (Alasan doang, seru aja nimbrung sama anak-anak cerdas seperti mereka, haha..).

Selesai berkeliling, saatnya Aku pulang, kali ini beneran… 😉 Tapi… masa jauh-jauh, ups udah sejauh ini, cuma liat-liat doang?? Aku mau foto di pesawat itu…!!! Sebenernyaa sih segan, tapi apa boleh buat, Aku minta tolong sama bapak yang jaga. Mereka ada berdua, yang satu mengenakan seragam dan satu lagi baju bebas. Bapak yang berseragam terlihat keberatan, mungkin karena tuntutan peraturannya atau gimana, Aku memaklumi itu. Untunglah bapak yang baju bebas maju dengan suka rela, hee… Setelah beberapa kali klik, si Bapak menawarkan untuk berfoto di relief, dinding sebelah kanan museum. Karena keberat segan, Aku menolaknya. Namun si Bapak meyakinkan apa Aku tidak ingin berfoto di relief itu, padahal pengunjung biasanya banyak yang berfoto disitu.. Akhirnya Aku dengan senang hati membuang basa basi basiku, xixi.. Aku berdiri disamping relief 🙂

Tau nggak, guys? Aku baru sadar kalau disini ada relief..?? Baah…. Kayaknya Aku lewat tadi, Aku pake kacamata pembias dari kanan deh, sehingga Aku nggak liat reliefnya terpahat dengan indah dan sangat jelas disitu 😀 Lain kali harus lebih perhatian nih 😀

Bendi

Aku menyeberang untuk menyetop angkot no. 19. Tapi, di seberang… Ada yang menarik diriku untuk kembali menyeberang.. Bendi!!!! Aku mau naik bendi!!!! Tapi, setauku maHHHal, lho… Hm, kita mana tau sebelum ditanya.. Aku menyeberang dengan ragu-ragu, kuyakinkan diri untuk paling enggak mengambil foto aja. Ketika inilah Aku baru melihat jelas plang Museum Perjuangan yang kupotret-potret doang tanpa memperhatikan objeknya. Beeeeh, disana terpahat rapi “Museum Perjuangan, Tri Daya Eka Dharma, terbuka untuk umum”. Gubrakkk….!!! Layaknya orang yang kena timbuk batu gede, itulah malunya Aku saat ini. Betapa tidak, udah ada tulisannya terbuka untuk umum, tapi aku malah menanyakan pertanyaan yang udah ada jawabannya itu dengan tampang oon, walaaaah… Udah bangun belum sih Aku ini?? Jangan sampai nanti kejadian lagi nih yang kayak begini… 😀

Sebelum naik tanpa aba-aba, Aku mastiin dulu coast bendinya berapa… Pas bapaknya nanya “mau kemana, nak?” Aku malah asal jawab, “kalau ke pasar bawah berapa, pak?”. “Kasih aja Rp 20.000,-“ kata bapaknya ringan. Aku menelan ludah, “mahalnya pak? Nggak bisa kurang, pak?” responku sedikit memelas.. tapi si bapak bilang “memang segitu”. Aku pasrah… “kalau ke RSAM, pak?” tanyaku lagi.. “Kasih aja Rp 15.000,- atau Rp 10.000,-anlah..” jawab bapaknya. Aku jadi lesu, “5 ribulah ya, pak…” tanyaku lagi mencoba untuk nego. Akhirnya si bapak nyerah & mengiyakan 😀

Sebelum berngkat, nggak lupa Aku minta tolong bapaknya fotoin dulu Aku sama bendinya (kesempatan langka!! hee..). Tapi bapaknya menolak, beliau mau saja, tapi kudanya bisa lari ntar.. Hm, bener juga.. sudah seharusnya aku memaklumi itu.

Tiba-tiba ketika Aku menaiki bendi, si bapak keceplosan.. “Semua wisata di Bukittinggi gratis karena HUT kota wisata”. Aku terperangah, dalam waktu bersamaan dengan bendi berkelok, aku melihat spanduk besar tergantung tepat dipintu masuk Taman Panorama dan Lobang Jepang “31 th pencanangan Bukittinggi sebagai Kota Wisata”.

Dari sekian waktu yang kuhabiskan tadi, ternyata banyak hal penting yang Aku abaikan, masyaAllah… Merasa tidak mendapatkan promosinya, Aku langsung berkomentar pada si bapak, “Lah, kok nggak diumumkan ya, pak?? Kan jadi banyak yang nggak tau??”. Ternyata si bapak urang tau juga, tapi sepertinya kata beliau mungkin ada disiarkan lewat radio-radio..

Dalam perjalanan, Aku bercerita kalau naik bendi ini karena kangen aja, dulu sekali semasa kecil Aku pernah menumpanginya. Eh, ternyata si bapak juga bercerita tentang anaknya yang sedang kuliah. Aku salut sama sibapak, jadi ingat ayahku.. 🙂

Plang megah RSAM sudah mengintip dari sayap kiri, Aku bersiap-siap turun dari bendi. Ada sedikit rasa bersalah terselip mau bayar bendinya Rp 5.000,-. Tapi, apa boleh buat, untuk saat ini keuanganku benar-benar dalam kondisi memprihatinkan, jadi mau tak mau Aku betul-betul harus mempertimbangkan apa saja yang penting untuk dibayar. Udah gitu, Aku rasa, Aku belum terlalu ketegaan menawar dengan harga segitu, masih masuk akal..

Kuperhatikan sibapak sampai berbelok dengan sempurna hingga seberang, tak henti mataku memandang hingga kejauhan, sampai-sampai Aku lupa memperhatikan angkot-angkot yang silih berganti berhenti menanyakan ruteku. Hup, tunggu dulu… Alhamdulillah… Ada seorang bapak-bapak yang menyetop bendi si bapak, syukurlah… Angkot no. 19-pun menghampiri dan Aku langsung naik setelah memastikannya benar-benar ke Terminal Aur Kuning.

Simpang Raya

Sesampai di Terminal, Aku singgah dulu di Simpang Raya, rumah makan langgananku sekeluarga 😀 Aku belum sempat makan siang, sekalipun ntar ada lauk, ternyata Unjut nggak masak nasi?! hm.. Sekali-sekali beli nasi bungkuslah, kangen sama dendeng lamboknya.. Dendeng lambok apa ayam pop medan, ya?? Hm…??? Atau… cancang?? ini beberapa menu unggulanku sih disana.. Hm.. dendeng aja deh.. Lagian ntar di Padang udah ada pensi balado yang dibikin Ibu dan dibawa Unjut dari kampung. Perutku udah menari kegirangan, tapi kudu sabbar… 😀

Back to Padang

Kali ini Aku naik Bus Tranex, ongkos Rp 20.000,-. Dalam perjalanan, Ibuku menghubungiku. Beliau heran, kenapa Aku masih belum sampai di Padang?? Aku menceritakan alasannya, termasuk betapa oonnya Aku bengong-bengong nyariin tukang karcis, haha… Bah, begonya lagi, Ibu dan Ayahku tau kok kalau hari ini tuh semua wisata di Bukittinggi GRATIS seharian.. Waduuuu…. Berarti memang Aku nih yang kudet (kurang update) 😀