Category Archives: Holliday

Yuhuuuu… Holliday….!! Refresh our mind.. ;)

Hello Kobe!

Advertisements

Awa Odori

Awa Odori is a traditional dance from Awa land, Tokushima. When you see the dance, that is look like simple form. But, it’s truly difficult. Everyone need exercise regularly.

Di Jepang, setiap お盆休み (libur musim panas) selalu diadakan 盆踊り(bon odori). Masing-masing daerah memiliki gerakan tarian masing-masing, termasuk Tokushima dengan awa odori-nya.

阿波踊り(awa odori) jika dibahasaindonesiakan berarti tarian awa yang merupakan tarian tradisional dari Tokushima, salah satu perfektur di Pulau Shikoku, Jepang.

Tarian ini menjadi icon-nya Tokushima, ditarikan dengan mengenakan kimono yang khas dan dengan gerakan yang teratur, sebuah kombinasi seni dan tradisi nan indah!

阿波踊り祭り (Awa Odori Event)

Buat yang berminat melihat langsung festival musim panas ala Tokushima ini bisa berkunjung ke Tokushima. Event tahunan ini diadakan setiap musim panas (natsu) pada hari libur obon, tanggal 12 s/d 15 Agustus.

Biasanya, lokasi yang digunakan adalah di sekitar kantor walikota (市町村|shichouson) dan sepanjang area tokushima station (徳島駅|tokushima eki). Dan, ada 2 stage/panggung berbayar, dimana para pengunjung bisa duduk menyaksikan seluruh rangkaian acara dengan sedikit merogoh kocek sebesar ¥1.100.

Pakaian

Awa odori ditarikan dengan mengenakan kimono yang khas. Untuk perempuan, ada beragam tekhnik pemakaian obi (ikat pinggang) dan yang menjadi ciri khasnya adalah kasa (topi yang terbuat dari jerami dilipat dua menyerupai belahan semangka dan dipasang condong ke depan) dan genta (sandal sejenis tangkelek di Indonesia, namun bagian tapaknya dibuat 2 topangan dari kayu. Penari berjalan dengan bertopang ke bagian depan).

Untuk laki-laki, dibagian kepalanya ada 2 versi, ada yang diikat biasa dengan kain batik-nya Tokushima dan ada pula yang diikat menutupi hampir sebagian kepala, terbuka di bagian mata dan diikatkan dibawah hidung. Lalu, mengenakan celana pendek dan kaos kaki yang khas (tanpa genta).

Untuk anak-anak, biasanya lebih sering dijumpai mengenakan pakaian versi laki-laki.

Gerakan Awa Odori

Meskipun terlihat sederhana, dibalik keelokannya, awa odori butuh latihan yang luar biasa tekun.

女の踊り

Untuk tarian perempuan, gerakan berpusat pada kedua lengan dengan jari telunjuk yang selalu mengarah ke atas.

Caranya, berdiri dengan posisi tegak, posisi kaki bertumpu pada genta bagian depan, lutut sedikit ditekuk, badan bagian pinggang ke atas agak dicondongkan ke depan, lengan mengarah ke atas.

Saat menggerakkan lengan yang diputar adalah bagian bahu dengan rileks. Ketika kaki kanan digerakkan, maka lengan kananlah yang ditekuk. Dan, jari telunjuk selalu mengarah ke atas, sementara jari lainnya menguncup dan mengembang seperti bunga tulip.

Salah satu kaki diangkat setinggi betis dan diacungkan lembut dengan posisi mengarah ke depan.

男の踊り

Jika tarian untuk perempuan berfokus pada lengan, sebaliknya tarian untuk laki-laki malah bertumpu pada lutut.

Caranya, berdiri tegak, kemudian kaki ditekuk, berjalan seperti dorobo (pencuri), tangan dilambaikan (sering ditampilkan dengan menggunakan kipas khas-nya Jepang).

Jika jemari tangan pada tarian wanita menyerupai kuncup dan mekarnya bunga tulip, pada pria sebaliknya. Jari mengembang seperti letupan kembang api (menggumpal dan meletup).

Alat Musik

Alat musik yang digunakan adalah samisen, drum/gendang, seruling dan kane.

Makna Lirik Awa Odori

Lirik yang sering diteriakkan adalah “yattosa..” yang berarti 皆さん、お元気ですか (hi, how are you? nice to meet you..).

Makna Awa Odori

Secara umum, dilihat dari gerakan, irama dan liriknya, tarian ini bermakna “ayo menari.. bergembira bersama-sama..”.

Namun, selain memiliki nilai seni yang tinggi, ternyata awa odori masih terhubung dengan kepercayaan orang jepang! Pada hari pertama festival, dilakukan upacara pemanggilan arwah para leluhur yang telah meninggal. Kemudian, tarian awa ditarikan sebagai penyambutan dan sebuah bentuk hiburan. Di hari terakhir perayaan, dilakukan pengantaran arwah para leluhur dengan menghanyutkan sesuatu semacam lampion di sepanjang aliran sungai.

Gallery

Kamus

  • 阿波踊り| awa odori | awa dance | tarian awa
  • 阿波踊り祭り| awa odori matsuri | awa dance event | perayaan tarian awa
  • お盆休み| obon yasumi | liburan musim panas
  • 盆踊り | bon odori | summer dance | tarian musim panas
  • 徳島駅| tokushima eki | tokushima station | stasiun tokushima
  • 帯 | obi | ikat pinggang
  • 笠 | かさ| kasa | topi yang terbuat dari jerami
  • げんた | genta | sandal yang terbuat dari kayu sejenis sandal tangkelek di Indonesia

Referensi

  • Beberapa informasi dishare oleh Tanaka Sensei, Atsumi Sensei dan Lisa san.
  • Featured image is taken by Fitri san.

Related Link

The Naruto German House

Buat pecinta sejarah, recommended banget buat berkunjung ke The Naruto German House yang jika diartikan dalam bahasa indonesia: Rumah Jerman di Naruto. Gedung megah dengan arsitektur bangunan ala jerman ini terletak di Naruto City (Kota Naruto), Perfektur Tokushima.

Sejarah

Berawal dari masa Perang Dunia I, dimana Jepang berpartisipasi sebagai Entente Powers yang berhasil merebut beberapa wilayah Asia dan Pasifik yang menjadi bagian kolonial Jerman, seperti tawanan perang. Sekitar seribu tentara jerman ditahan di Bando POWs Camp. Namun, mereka diberi kebebasan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal hingga terjalin sebuah persahabatan yang erat. Ini berlangsung selama 3 tahun (1917-1920).

Selama berada ditahanan, para tawanan melakukan berbagai kegiatan secara aktif, seperti: orkestra, paduan suara, teater, olahraga, kuliah, dll. Dari semua ini, Bethoven Symphony ke-9 lah yang pertama kali terkenal di Asia. Selain itu, karena keterbatasan keuangan jepang untuk memenuhi kebutuhan pangan tawanan, jepang membeli lahan dan para tawanan bekerja untuk menggarapnya.

Meskipun Perang Dunia I telah usai, hubungan persahabatan tersebut masih tetap terjalin. Oleh karenanya, pada tahun 1972 dibangun 鳴門市ドイツ館. Sejak itu, Naruto dan Lueneburg (Jerman) menjadi sister city.

Museum

Di lantai 2 Deutsches Haus Naruto ini terdapat museum yang mendiskripsikan kehidupan para tawanan tentara jerman selama berada di Bando POWs Camp. Tidak hanya dalam bentuk gambar saja, tetapi juga dalam bentuk miniatur yang dikombinasikan dengan video, sangat menarik! Di setiap bagian disediakan selebaran informasi  dalam 2 bahasa (Jerman & Jepang) yang bisa diambil secara gratis.

Dan, tak kalah unik, ada panggung orkestra yang dimainkan oleh patung yang bisa bergerak (boleh dibilang robot), luar biasa! Penampilan ini bisa disaksikan pada waktu yang telah ditentukan.

Catatan: Di lantai 2 dilarang menggunakan kamera.

Tiket & Waktu

Insert untuk umum ¥400 anak-anak (SD-SMP) ¥100. Buka dari pukul 9.30-16.30 (waktu setempat). Tutup pada hari senin keempat dan 28-31 Desember di akhir tahun.

Akses

Akses ke lokasi dengan kendaraan pribadi, waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Tokushima. Akses via transportasi umumpun juga tersedia.

Event

Dalam rangka memperingati HUT ke-100 Pembukaan Bando POWs Camp, di hall lantai 1 museum ini diadakan konser musik klasik GRATIS! Event ini berlangsung pada hari minggu, 9 April 2017, pukul 13.00 (waktu lokal). Selain itu, juga gratis memasuki museum di lantai 2.

Pada event ini, tidak hanya orkestra, paduan suara ataupun seriosa saja, tapi juga ada presentasi menarik tentang sejarah The Naruto German House. Presentasi ini ditampilkan dalam bentuk gambar yang silih berganti diganti secara manual pada alat yang terbuat dari kayu dan sangat menarik!

Gallery

Kamus

  • 鳴門市ドイツ館 = The Naruto German House (Deutsches Haus Naruto)
  • Bando POWs Camp = Kamp tahanan Bando
  • POW = Prisoners of War (tawanan perang)
  • Sister city = Kota kembar
  • 開所100周年記念コンサート= Konser HUT ke-100 Pembukaan Bando POWs Camp
  • Entente Powers = Blok Sekutu

Musafir Sehari

Prolog

Perjalanan panjang bukan hanya tentang kita dan berbagai destinasi indah yang ingin ditapaki. Adakalanya, setiap detilnya selalu terhubung pada Sang Khalik, sebuah perjalanan religi yang luar biasa berkah.

Minggu lalu, saya bersama sahabat, Q chan, berencana untuk mengunjungi Mesjid Osaka dan Mesjid Kobe. Kami bertekad, sebelum hijrah, kami harus mengunjungi kedua mesjid tersebut.

Agenda perjalanan kali ini:

  • Berangkat dari shelter pukul 13.00 (waktu Osaka).
  • Shalat Ashar di Mesjid Osaka.
  • Shalat Maghrib dan Isya di Mesjid Kobe.
  • Kobe Tower, kabarnya lebih indah pada malam hari.
  • Kobe Luminarie.
  • Harus kembali ke shelter sebelum pukul 00.00.

Hari ini adalah H-10 kami sebelum meninggalkan shelter. Tadinya, banyak penjejak yang mau ikut trip ini, karena padatnya aktifitas, akhirnya yang berangkat hanya saya, Q chan, Imam dan Nisa.

Menuju Mesjid Osaka
  • 14.00 Kami mulai bergerak menuju Abiko Station dan segera menaiki chikatetsu menuju Umeda Station. Beli tiket one day pass ¥600.
  • 14.24 Umeda Station.

Nah, seperti biasa, saya selalu menyelipkan kekonyolan disetiap perjalanan, tidak terkecuali untuk hari ini. Ketika keluar dari jalur Midosuji Line Umeda, one day pass saya ditolak. Karenanya, saya bertanya pada eki-in. Parahnya, saya men-charge kartu yang salah, tanggalnya beda!! OMG.. Saking banyaknya koleksi kartu subway!

Beralih ke Umeda Station. Bagi saya, stasiun ini menjadi stasiun terbesar yang pernah saya lewati di Jepang. Selain menjadi lintas dari berbagai jenis transportasi, di stasiun ini juga terbagi menjadi banyak unit. Jadi, harus punya petunjuk yang cukup; jika tidak, segera bertanya ke bagian informasi atau eki-in.

Nah, setelah linglung ga jelas, kami yang hanya mengandalkan internet map dan berbekal notes, menyerah dan lebih memilih option mencari info ke bagian informasi, dan ini sangat sangat efektif.

  • 15.00 Naik hankyu, tiket ¥290.
  • 15.06 Berangkat.. Gila, pemandangannya keren bo’.. Barisan pohon sisa-sisa koyo yang penuh warna.. Andai kami melewati tempat ini saat pertengahan aki..
  • 15.50 Yamada Station. Beli tiket osaka monorail ¥270. Kami segera mencari informasi melalui bagian informasi. Kami diberi peta lengkap dengan petunjuknya.
  • 15.53  Bampaku-kinen-koen Station.
  • 15.58 Norikae (transit) menuju Toyokawa Station.
  • 16.04 Toyokawa Station.

Kami menanyakan akses ke Mesjid Osaka pada eki-in. Tapi, tetap saja, bingung.. Karena, tempat ini melewati komplek perumahan yang cukup sepi. Selain itu, udara yang semakin dingin membuat kami harus berusaha lebih gigih agar cepat sampai ditujuan.

Dibalik kesulitan selalu ada kemudahan, kami bertemu dengan seorang warga yang bisa ditanya, akhirnya perjuangan yang tidak seberapa tadi terbayarkan, tadaa.. Mesjid Osaka!! Bak menang dari sebuah challenge, kami bersorak gembira. “Subhanallah, kami sekarang disini.. Di Mesjid Osaka!!!”

  • 16.15 Mesjid Osaka..

Berbeda dengan banyak mesjid di Indonesia, bahkan mesjid ini lebih mirip rumah bertingkat 2. Masuknya dari pintu samping. Ada tempat parkir yang bisa memuat sekitar 3-6 mobil. Di sebelah kiri bagian belakang ada toilet dan tempat berwudlu laki-laki.

Kami sempat nyaris kecewa, karena pintu mesjid tidak bisa dibuka dan sangat sepi. Mengingat waktu Ashar pukul 15.15, “apa mesjidnya tutup ya?! Mungkin bukanya pas waktu shalat saja untuk berjama’ah??”. Seketika saya sempat beropini demikian meskipun sangat tidak mungkin.

Lalu, tiba-tiba datang seorang laki-laki bertubuh tegap dan berkulit hitam menuju pintu mesjid. Sapaan orang itu “Assalaamu’alaikum” layaknya seorang mukmin, membuyarkan wajah kami yang saya rasa sempat bengong ga jelas saat pertama kali melihat orang itu  turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah kami. Kami menjawabnya dengan sumringah.

Selain lega dan bangga bertemu dengan muslim lain, dalam pikiran saya mulai terlintas “Alhamdulillah.. Mungkin dia penjaga mesjidnya, akhirnya kami bisa masuk mesjid ini, senangnya..”.

Bak kaca yang tiba-tiba retak, spekulasi tersebut membawa kami pada kenyataan bahwa mesjid itu sama sekali tidak terkunci, hanya saja kami yang tidak tau cara membuka pintunya 😀

Melihat mukmin tadi masuk ke dalam, kamipun bergegas mengikuti. Bak pertama kali memasuki sebuah tempat baru yang wah, saya menelisik setiap sisi, “oh, begini ya Mesjid Osaka.. Waah, saya disini, sekarang saya disini!!” (lebaynya kumat).

Dekorasi mesjidnya memang menyerupai rumahnya orang Jepang. Salah satunya, gengkang.

Dan, alhamdulillah.. Ketemu orang Indonesia!! Senangnya bukan main, serasa berada di Indonesia..

Di mesjid ini, tempat shalat laki-laki berada di lantai 1 dan perempuan di lantai 2, masing-masing ada toilet dan tempat berwudlunya. Hanya saja, tempat berwudlu di lantai 2 terbilang kecil, jadi hanya bisa satu-satu orang saja. Selain itu, tempat wudlu-nya juga hanya berupa wastafel. Jadi harus punya cara seefektif mungkin agar tidak membasahi sekitarnya.

Entah kenapa, rasanya ada yang berbeda. Niat, ucapan dan gerakan yang sama terasa berbeda setelah disini. Tempat yang terbilang sederhana ini terasa begitu damai, seolah beban yang sangat berat sekalipun terangkat dalam sekejap, terasa sangat ringan..

Tadinya, kami berniat hanya Shalat Ashar saja disini dan segera melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kobe. Namun, tiba-tiba Q chan punya ide “bagaimana kalau kami melewati rute yang berbeda dari agenda awal?!”

Ide yang briliant! mumpung hari ini harinya, tak ada salahnya mencoba hal-hal baru, tapi.. Saat ini kami memiliki banyak keterbatasan, terutama akses internet yang mulai memprihatinkan.

Kamipun menilik ulang setiap rute yang telah kami buat. Disaat kami berpikir alternatif mana yang paling efektif, seorang ibu-ibu muslim memasuki ruangan. Dan, alangkah surprise-nya kami, ternyata si ibu juga orang Indonesia, Sunda. Jadilah itu sebuah reunian antara Q chan, Nisa dan tentunya si ibu.

Dari sini, saya kembali menemukan point dari perjalanan ini. Menyimak percakapan 3 muslimah dari rumpun yang sama itu telah mengajarkan kepada saya tentang ‘uniknya bahasa’. Saya tidak tau arti percakapan mereka, namun saya mengerti inti pembicaraannya.

Tanpa sadar, diskusi ini telah menyita setidaknya sepenggal kecil perjalanan kami menuju Kobe. Namun, itu bukanlah hal besar, kalah besar dari moment yang kami dapatkan. Selanjutnya, karena waktu Maghrib telah datang (16.46), kami memutuskan untuk shalat dulu sebelum berangkat.

Setelah pamit dengan si ibu dan anaknya yang lucu, Taku kun; kami melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kobe. Yang jadi masalah, kami lupa menanyakan arah halte bus yang dimaksud. Walhasil, suhu yang semakin dingin membuat kami nyaris kembali ke rute awal.

Tiba-tiba, untuk kesekiankalinya ini menjadi sebuah kebetulan. Seorang wanita paruh baya, orang Jepang, bersepeda dengan arah yang berlawanan dari kami dan dengan antusiasnya mengucapkan “Assalaamu’alaikum..”. Kemudian, beliau memperlambat sepedanya dan menyapa kami dalam bahasa inggris.

Nah, ini bakal jadi hal unik lainnya dihari ini. Bahasa itu ibarat ‘bisa karena terbiasa’. Kami yang mulai terbiasa dengan bahasa jepang, kadang menanggapi si ibu dengan bahasa inggris, tapi terkadang malah spontanitas berbicara dalam bahasa jepang, yah meskipun dengan bahasa yang sangat sederhana. Tapi, si ibu malah konsekuen dengan bahasa inggrisnya yang sesekali kental dengan hyougen jepangnya.

Awalnya, kami merasa mendapat sedikit pencerahan. Ibu-nya sangat komunikatif, tapi.. Semakin kesini kami merasa percakapan dengan si ibu sedikit agak.. Ditambah dengan sikap si ibu yang terburu-buru mengayuh sepedanya tapi tetap berbicara seolah topik itu ditujukan pada kami.

Kamipun mulai berpandang-pandangan, seolah merasa memiliki pemikiran yang sama. Namun, Q chan yang dengan antusiasnya untuk melewati rute baru, tetap kekeh mengikuti si ibu. Kami yang mulai khawatir mengikuti petunjuk yang salah tetap menunggu Q chan kembali.

Karena khawatir, akhirnya kamipun menyusul Q chan. Kami mulai mengira jangan-jangan si ibu berpikir kami tidak tau jalan ke Mesjid Osaka padahal kami baru saja dari sana.

Saya mendampingi Q chan yang tetap terlibat percakapan dengan si ibu. Saya menargetkan, jika si ibu malah mengantar kami ke Mesjid Osaka lagi, tidak ada jalan lain, harus kembali ke rute awal. Dan, terkadang Tuhan menunjukkan jalan melalui cara-cara yang unik, yang tak pernah bisa kita tebak.

Si ibu mengatakan, rute menuju halte bus itu searah dengan rute yang akan dia lewati. Kami harus berjalan berlawanan arah dari rute sebelumnya. Lalu, beliaupun berhenti sejenak di lokasi sebelum mesjid dan menjelaskan rute setelah ini. Sebelum berpisah, si ibu mengatakan bahwa dia seorang perawat yang sudah pensiun, dulunya beliau seorang PhD. “Subhanallah..”

Kejadian ini benar-benar menepuk saya dengan sangat keras. Selama ini, saya selalu berprinsip “don’t judge peoples by their look“, tapi kali ini, saya sendiri yang melangkahinya. Dari lubuk hati yang terdalam, saya minta maaf dan sangat berterima kasih pada si ibu, juga bersyukur untuk moment ini.

Kamipun akhirnya sepakat, mungkin si ibu terburu-buru karena mengejar waktu Maghrib, makanya tidak sempat menjelaskan dengan gamblang.

  • 17.00 Berangkat..
Menuju Mesjid Kobe
  • 17.25 Basu noriba (halte). Kami berlarian seperti anak-anak yang enggan ketinggalan bus sekolah. Naik Bus Ibaraki.

Kali ini kali kedua saya menaiki bus. Bus ini mirip dengan busway di Indonesia. Bedanya, desainnya, cara pembayarannya, dsb. Dari pintu masuk, bagian kanan pintu, tepatnya dari tengah ke belakang bus, tempatnya lebih tinggi. Setiap tempat duduk bahkan bagian pegangan tangan diberi tombol yang bisa dipencet jika sampai di halte tujuan.

Pembayarannya, bagi yang memiliki kartu, ketika naik bus langsung menempelkannya ke alat khusus. Tapi jika membayar chase, penumpang membayarnya saat akan turun sesuai harga yang telah ditetapkan. Jika memiliki uang dengan nominal besar, minta bantuan pada sopir, nanti akan ditukar nilainya, dibayar sesuai harga dan diberikan kembalian. Semuanya menggunakan mesin otomatis.

Selama perjalanan, kami mendiskusikan banyak hal. Seandainya masih ada waktu, beberapa hal sebelum kami benar-benar meninggalkan shelter:

  • Sekali lagi ke Mesjid Kobe, berpose di Kobe Tower.
  • Mushalla di Stasiun Namba. Menurut info yang Q chan dengar, mushalla ini ada di basement.

Selama perjalanan, saya dan Q chan juga merancang planing buat tahun depan. Sesekali kami dan penjejak lainnya akan pergi ke tempat dan event-event, seperti:

  • MotoGP yang akan diadakan di Tokyo.
  • Korea.
  • Cina.
  • Menikmati momiji di Kyoto dengan mengenakan fashion ala wanita Jepang di zaman Edo.
  • Mesjid Kobe setiap ada waktu.
  • Air Terjun Mino saat momiji, pastinya lebih indah pergi disiang hari.

Next..

  • 18.00 Izumiya.
  • 18.05 Naik JR (Japan Rail) dari Ibaraki Station ke Kobe-Sannomiya Station (JR-Kobe Line). Pilih line 2. Go.. Saking ramainya, kami baru dapat tempat duduk setelah hampir setengah perjalanan. Dan, langsung meneparkan diri.
  • 18.56 Kobe-Sannomiya Station.

Kami segera mencari informasi melalui bagian informasi. Kami diberi peta lengkap dengan petunjuknya.

Sepanjang jalan terlihat berbagai tempat penginapan dan aneka restoran dengan aroma yang yummy.. Dan, kami baru sadar, perut kami mulai lapar..

  • 19.30 Akhirnya, Mesjid Kobe.. Alhamdulillah..

Mesjid ini terletak dibalik gedung NHK, TVRI-nya Jepang, tidak jauh dari bangunan Jinja.

Seperti halnya Mesjid Osaka, kejadian yang samapun terulang kembali. Kami bersorak gembira seolah baru saja diumumkan lulus dari TA (Tugas Akhir). Tapi.. Lagi-lagi pintu mesjidnya tertutup!!

Setelah melihat seorang muslim keluar dari pintu samping, akhirnya Imam berinisiatif untuk inspeksi. Kamipun mengikuti Imam, dan, ternyata, pintu masuknya dari sayap kanan mesjid sebelah belakang. Yokatta..

Melihat wajah bingung kami, para akhi di dalam segera membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. “Subhanallah.. Sekarang kami sudah di Mesjid Kobe!!”. Rasanya seperti mimpi! Benar-benar luar biasa.. Betapa bangunan ala timur tengah ini punya magnet yang bagi saya ‘ajaib’!

Akhi tersebut menanyakan apakah kami orang Indonesia dan segera memperkenalkan akhi lain yang juga dari Indonesia.

Seperti Mesjid Osaka, disinipun juga ada gengkang dan tempat shalat laki-laki di lantai 1 sementara perempuan di lantai 2. Segera setelah melepas sepatu, kami bertiga melewati anak tangga menuju lantai 2. Benar-benar tempat ibadah yang megah..

Disini, kami bertemu 2 orang muslimah yang berasal dari Sri Lanka. Mereka tenaga pengajar; mengenakan baju bernuansa gelap, sangat sederhana, tanpa make-up, tapi.. Siapapun bisa melihat inner beauty-nya. Dalam hati saya bertanya “kapan ya saya bisa seperti mereka??”.

Pertanyaan itu seolah memberi kesan saya benar-benar berniat ingin istiqamah seperti mereka atau malah mengejek diri sendiri. Saat berwudlupun saya jadi termangu melihat ke kaca. OK, deal! Suatu saat, entah kapan,  mungkin saya bisa seperti mereka.

Oh ya,  di mesjid ini tempat wudlu dan toilet dipisah dan lebih luas. Di ruang toilet, terdapat beberapa toilet yang dilengkapi dengan wastafel. Di ruang wudlu, terdapat banyak kran yang bisa diatur suhu airnya. Berdampingan dengan kaca rias dan fasilitas mukena.

Selesai Isya, saya dan Nisa mengenakan jilbab di tempat rias. Tiba-tiba, seorang muslimah menghampiri kami dan mengajak makan malam bersama, sudah disediakan hidangan untuk kami, karena sulit mencari tempat makan halal disekitar sini.

MasyaAllah.. Saya dan Nisa kaget, antara surprise dan sungkan, juga happy.. Semua yang terjadi di hari ini benar-benar sebuah kebetulan yang juga seolah sudah dipersiapkan untuk kami.

Sungguh, nikmat-Mu mana lagi yang kan kami dustakan?? Seolah Tuhan sengaja menjamu kami sedemikian rupa karena bertamu ke rumah-Nya, benar-benar tak terungkapkan, sangat bahagia.. Ini jauh dari ekspektasi awal yang notabennya kami hanya ingin menapaki jejak di rumah-Nya sebelum hijrah ke dunia kerja masing-masing.

Dan, lihat.. Tanpa kami beritahu pada siapapun kalau kami sedang lapar dan berniat mencari tempat makan dengan menu-menu baru, Dia sudah menggerakkan bala-bantuannya. Betapa beruntungnya kami, sangat sangat beruntung..

Kejutan ini belum usai. Dalam perjalanan menuju ruang makan, saya memberikan titipan buku dari seorang hamba Allah untuk mesjid. Kemudian, muslimah tersebut mengantarkan kami pada seseorang, orang Jepang yang fasih berbahasa Indonesia, subhanallah..

Kami dijamu dengan hidangan Pakistan. Nasi campur yang dibumbui dengan bumbu (seperti bumbu sup), kare ayam (mirip gulai ayam di Padang) dan roti Pakistan (mirip roti cane di Indonesia) menjadi menu utamanya.

Sebelumnya, kami sempat mencemaskan Imam. Dengan sungkan, kami tetap menyampaikan bahwa kami disini ada berempat dengan seorang teman laki-laki. Mereka mengerti apa kami pikirkan dan menyampaikan bahwa laki-laki juga dijamu di lantai 1, karena yang masak masakan inipun juga laki-laki. Kami bertiga sepertinya sepakat ‘WOW!’

Dalam nasi campur itu ada bumbu yang bentuknya mirip bumbu sup di Padang, namanya gardambumbu. Tapi, ini jelas berbeda, yang ini teksturnya mirip kacang mente dengan rasa seperti kacang tanah. Hayooo.. Unik, benar-benar unik! Selain itu, tekstur dan rasa nasinya juga berbeda. Selain ini juga ditambahkan kismis dan potongan daging dengan ukuran sedang.

Saking sungkannya, saya sampai lupa sudah berapakali mengucapkan terima kasih. Dan, watak Indonesia saya yang satu ini, saya rasa agak sedikit berlebihan. Jadi, bagi siapapun, jangan sampai melakukan hal yang sama ya, sungkan itu memang perlu tapi tidak berlebihan.

Setelah makan, datang seorang anak kecil yang imut banget mengantarkan desert yang mereka sebut sweet. MasyaAllah.. Ini benar-benar.. Dalam Bahasa Minang, makan lamak. Rasanya, wenak banget, benar-benar sesweet rasanya!! Ini seperti terbuat dari santan pekat yang diolah dengan bumbu rempah (seperti ada potongan jahe yang cukup halus tapi tidak terlalu khas).

Dalam percakapan kali ini, kami bercerita banyak hal. Dari sini kami tau bahwa muslimah Jepang tersebut bisa berbahasa Indonesia sefasih itu hanya dengan mendengar. Luar biasa.. 

Selain itu, ternyata, dihari biasa, disini dibuka kelas, seperti kelas Qur’an dan hadist untuk umum.  Dihari kerja, pukul 1 s/d 3 dan sabtu mulai pukul 3. Tapi, tetap harus konfirmasi dulu sebelumnya.

Saya begitu antusias dengan budaya makan bersama tadi, mengingatkan saya pada kampung halaman. Jika ada tamu atau acara tertentu, sering dihidangkan seperti ini.

Spontan saya bertanya, apakah selalu begini? Atau dihari tertentu saja? Dan, jawabannya seolah membuat saya bungkam. Acara makan-makan tadi adalah perdana, alias pertama kali dilakukan disini, alias sebelumnya tidak pernah. Dan, merekapun juga tidak tau siapa yang mengadakan dan kenapa bisa ada acara makan-makan tadi. Ok, I’ve got the answer.

  • 20.45 Go..
Kobe Luminarie

Agenda awal, setelah Mesjid Kobe, harusnya kami ke Kobe Tower. Namun, karena jaraknya yang jauh sekitar 1 jam lebih, akhirnya kami menundanya. Kemudian bergerak menuju Kobe Luminarie.

Untuk kesekian kalinya, kami yang buta arah dipertemukan dengan orang Indonesia disebuah persimpangan. Mereka memberi petunjuk arah yang paling efisien. Setelahnya, kami tetap mengonfirmasi pada polisi yang menjaga keamanan acara. Mereka standbye diberbagai tempat dan tetap welcome meskipun sedang sibuk mengatur masa.

  • 21.10 Menuju Kobe Luminarie.
  • 21.30 Kami bergerak cepat, mengingat info dari polisi tadi, acara ini hanya sampai pukul 10. Dan, Kobe Luminarie!! Wow,  festival lampu ini benar-benar kerreen!! Event ini diadakan dalam rangka HUT ke-150 Pelabuhan Kobe. Ada juga aneka jajanan kuliner jepang..

Lampu-lampu megah itu mengantarkan saya pada sebuah analogi. Mereka seperti mimpi dan harapan yang menjadi nyata dan menerangi ratusan masa yang membanjiri sekitarnya. Mereka hanyalah sebuah benda yang bisa dimodifikasi oleh manusia. Begitupun mimpi dan harapan, sebuah motivasi yang juga bisa dikendalikan oleh manusia.

  • 21.55 Setelah jauh mengelana, akhirnya kaki kamipun mulai terasa kram. Berarti, kami harus mengakhiri perjalanan luar biasa ini.

Lagi-lagi, untuk kesekiankalinya, tak terhitung lagi.. Disaat kami mulai mencari arah pulang, reflek perhatian tertuju pada Imam dan orang yang tidak kami kenal. Orang itu orang jepang yang fasih berbahasa Indonesia dan terlihat memberi petunjuk. Ternyata, dari Imam, orang itu tiba-tiba menyapa dan menanyakan tujuan kami lalu langsung menjelaskan rutenya. Alhamdulillah.. Ada saja bantuan tak terduga..

  • 10.14 Kobe-Sinnomiya Station ¥320 naik hankyu di jalur 4.
  • 10.18 Menuju Umeda Station.
  • 10.53 Umeda Station.
  • 11.00 Chikatetsu menuju Abiko Station. Tanpa komentar apapun, setelah mendapat tempat duduk, kamipun rehat sejenak meninggalkan keremaian kereta.
  • 11.27 Abiko Station.
  • 11.45 Shelter.
Sepenggal Cerita tentang Stasiun Umeda

Sebulan yang lalu, tepat ditanggal yang sama, saya punya agenda dadakan yang mengantarkan saya ke Umeda Station. Tanpa akses internet dan informasi yang minim, saya bergerak menuju lokasi. Maklum, selama ini saya tidak punya akses ke stasiun  besar ini.

Bahkan dengan bekal notes ples nanya ke bagian informasi-pun terkadang tidak menjamin lokasi tersebut mudah ditemukan. Untungnya, seorang teman yang kebetulan punya destinasi ke Yodoyabashi, berbaik hati mengantarkan saya. Jika tidak, entahlah.. Hanya ada 2 kemungkinan, bakal menghabiskan banyak waktu atau batal.

Hikmah

Perjalanan kali ini memberikan pelajaran luar biasa:

  • Perjalanan panjang bukan hanya tentang diri sendiri, interaksi dengan sesama, keindahan tanpa batas, dsb; tapi juga tentang seorang umat dan Sang Khalik.
  • Mau travelling, nge-trip, walking out, dll; yang namanya pergi bareng itu memang harus punya management kekompakan alias kerja tim.
  • Jika Tuhan meridhai apa yang kita tuju, dalam setiap kesulitannya Tuhan selalu menyelipkan kemudahan.
  • Terkadang Tuhan menunjukkan jalan melalui cara-cara yang unik, yang tak pernah bisa kita tebak.
  • Segala sesuatu tergantung pilihan dan usaha. Usaha yang lebih so pasti dapat hasil yang lebih.
  • Sesuatu yang terlihat buruk bisa jadi memiliki banyak manfaat dibaliknya. Sebaliknya, sesuatu yang diyakini baik juga belum tentu baik pada akhirnya.
  • Jangan mudah menilai sesuatu, meremehkan hal kecil bisa jadi membuat kita kehilangan kesempatan besar yang belum tergali didalamnya. “Don’t judge peoples by their look”
  • Sesama muslim adalah saudara. Dimanapun dan kapanpun, dengan latar budaya apapun, kita semua sama. Hanya dengan seutas senyum atau dengan mengucapkan “Assalaamu’alaikum”, sebuah silaturrahim-pun begitu mudah terjalin.
  • Sebagai insan yang memiliki budaya timur, rasa sungkan itu memang perlu tapi tidak berlebihan.
  • Mimpi dan harapan itu seperti cahaya yang menerangi kegelapan dan menyinari sekelilingnya.
  • Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan tepat pada waktunya, bukan yang kita inginkan.
Moment to Remember
  • Best moment with Q chan, Imam dan Nisa. Para musafir sehari dengan segala berkah-Nya yang melimpah.
  • Ibu asal Sunda yang giat mencarikan kami informasi. Bersama si cilik Taku kun yang lucu.
  • Salah men-charge kartu.
  • Mengejar bus setelah salah paham pada si ibu bersepeda.
  • Aroma masakan nan yummy  sempat terlintas untuk makan dulu sebelum sampai Mesjid Kobe. Tapi, setelah meluruskan niat, akhirnya dijamu dengan masakan Pakistan yang enak banget..
  • Bertemu muslimah-muslimah inspiratif, seperti Aisyah, Aminah,  Hana dan muslimah lainnya.
  • Kembali ke Umeda Station, tapi kali ini tidak sendiri, bersama para musafir sehari.
Catatan
  • Chikatetsu = Kereta api bawah tanah.
  • One day pass = tiket yang berlaku kemana saja dengan chikatetsu, tetapi terbatas untuk subway saja, berlaku sampai pukul 12 malam, alias seharian.
  • Notes = Buku catatan (agenda perjalanan).
  • Option = Pilihan.
  • Hankyu = Kereta api cepat.
  • Koyo = Daun-daun yang berubah warna menjadi merah pada aki.
  • Aki = Autumn, musim gugur (peralihan musim panas ke musim dingin).
  • Hyougen = Logat.
  • Monorail = Transportasi darat yang lebih menyerupai satu gerbong kereta yang dijalankan oleh masinis, rel-nyapun memiliki bentuk yang  berbeda.
  • Norikae = Transit,  pindah jalur.
  • Eki-in = Penjaga stasiun.
  • Gengkang = Sedikit space antara pintu dan bagian depan ruangan rumah khas Jepang, tempat meletakkan alas kaki (sepatu, sandal, dll).
  • Yokatta = Lega.
  • Akhi = Panggilan untuk laki-laki muslim.

マーブルビーチ (Marble Beach)

Jepang terkenal dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologinya, bukan?! Nah, buat para traveller, mungkin sudah tidak asing lagi dengan Kansai International Airport. Tapi.. mungkin juga masih ada yang belum tahu bahwa Bandara Internasional Kansai ini dibangun di atas laut, keren bukan?!

Yap, cerita bandaranya memang keren, tapi tak kalah keren dengan pemandangan pantai diseberangnya yang bernama Marble Beach. Pantai dengan pesona elok ini menyuguhkan keindahan tersendiri saat memandangnya. Onggokan bebatuan putih unik yang tertata apik.. Panorama laut biru.. Nuansa hijau aneka tanaman tamannya.. dan potret kemegahan gedung juga jembatan di beberapa penjurunya. Kombinasi alam dan kemajuan IPTEK yang OK punya!

Marble Beach terletak di Izumisano City, Osaka-Jepang. Namun, masih termasuk dalam kawasan Rinku Park, sekitar setengah jam (berjalan kaki) dari Rinku Town Stasiun dengan melewati Rinkai, area bussiness dengan merkmerk ternama.

Biasanya, di musim panas, destinasi ini menjadi salah satu pilihan favorit untuk mengadakan perayaan musim panas, baik bagi para pelancong lokal maupun wisatawan asing. Kegiatan yang paling digemari adalah BBQ party (pesta Barbecue, baca: berbekyu). Selain itu, juga ada yang bermain volley pantai.

Menurut Sensei Sawada, dulunya pengunjung sering bermain air (mandi-mandi) di pantai ini. Namun, seiring berkembangnya dunia industri, semakin banyak pabrik dan sejenisnya, sehingga terjadi polusi laut. Karenanya, jarang terlihat aktifitas seperti di pantai pada umumnya, kecuali jet ski.

Gallery

Mengelana Ke Nara

Gayanya, kita para trio comal-camil pagi ini akan ke Abiko Kannon Temple pukul 7 pagi (waktu Jepang). Tapi, gegara libur, waktu rehatpun tak terelakkan. Walhasil, kita baru beringsut dari kediaman masing-masing sekitar pukul 9. Setelah itu lanjut ke receptionist demi mendapat sedikit pencerahan tentang destinasi yang akan kami tuju.

Berikut sepenggal agenda hari ini:

  • 10:56 Beli tiket Subway Chikatetsu Midosuji Line ¥280 di Stasiun Abiko dengan tujuan ke Stasiun Namba (stasiun ke-7 dari  Stasiun Abiko). Lama perjalanan sekitar 16 menit.
  • 11.17 Transit ke Kintetsu Railway, tiket JR ¥560.
  • 11.31 Lama perjalanan ke Nara sekitar 38 menit.
  • 12.11 Stasiun Kintetsu Nara.
  • 12.24 Go
  • 12.30 Taman Wisata NaraAmazing banget berinteraksi langsung dengan banyak rusa yang jinak, beli makanan khusus untuk rusa di  pinggiran jalan taman ¥150, seru!!!
  • 12.45 Mampir ke pusat oleh-oleh. Waaah, gilaaa… komplit banget!! Mulai dari yukata,  replika samurai, pungling (gantungan yang berbunyi saat ditiup angin), aneka kue, dll. Bikin lapar mata!
  • 13.15 Kuil Todaijhi.
  • 15.15 Stasiun Nara
  • 15.40 Go home..
  • 16.26 Stasiun Namba

Bagi saya pribadi, hal yang paling berkesan ketika berada di Kuil Todaiji, sahabat saya beropini “eh, setelah diperhatiin, kayaknya lu doang deh O yang pake jilbab”. Lalu kita spontan mengamati sekitar, and that is really true. Tapi ini sama sekali tidak merubah apapun, perjalanan kali ini sangat menyenangkan.

Padahal, jika dihubungkan dengan perjalanan awal, ada seorang bapak-bapak yang saat menaiki JR, matanya langsung tertuju pada saya yang kebetulan juga melihat kearah beliau. Bukan sorot pandang yang ramah, seperti seorang juri yang sedang menyortir peserta lomba, atau seseorang yang sedang berhipotesa di dalam pikirannya.

Karena respon yang demikian, yang tadinya saya harusnya bersikap welcome malah ikut berhipotesa, mencerna maksud dari biasan mata itu. “Karena saya berbedakah?! Kerudungkah yang jadi keyword-nya? So, why?? Toh, saya merasa tidak mengganggu siapapun”. 

Setelah diam mengamati saya sesaat, beliau langsung duduk sembari membuka lipatan koran dan membacanya. Beliau duduk di kursi nomor 2 dari kanan pintu JR (kursinya 2-2), sementara saya tepat di urutan kedua kursi sebelah jendala kiri JR.

Seandainya saya bisa mengutarakan, don’t judges people by the cover, please! Tapi yo wes, clue-nya “tidak semua orang berpikiran sama dengan apa yang kita pikirkan dan orang lain tidak bisa selalu sama dengan apa yang kita pikirkan”. Seperti alur mundur, saya teringat sahabat saya, MeatKalimat ini sering menjadi key topic setiap kali kami curcol alias cuhat colongan. 

Satu poin penting tentang perbedaan, “jadi beda itu tidaklah buruk selama kita bisa saling menghargai. I am proud be who I am, bisa menjadi diri sendiri itu luar biasa, karena tidak semua orang mampu mengapresiasi siapa dirinya.

Dan, persahabatan sangatlah indah, tak peduli seberapapun besarnya perbedaan selalu jadi warna tersendiri dalam keakraban. Beautiful moment with Risa chan & Ka Wi. Missed you, Meat..

Menyapa Djogja 2016

Liburan kali ini tergolong nekad, dengan bajet pas-pasan akhirnya sampai juga di Djogjakarta, kota yang terkenal dengan wisata alam dan budayanya. Padahal, misi ini berawal dari niat silaturrahim, namun seiring perkembangannya malah berubah menjadi tour selama 3 hari berturut-turut.

Berikut ringkasan cerita perjalanan saya selama di Djogja, sepenggal kisah, menelisik kembali jejak di masa lalu, “Djogja, saya kembali…”

Rabu, 4 Mei 2016
Go to Djogja
  • 17.00 Standbye di Terminal Pasar Minggu.
  • 17.30 Berangkat (Jakarta-Djogja) dengan Bus Sumber Alam Super Excecutive, ongkos Rp 165.000,-. Fasilitas: Bangku 2-2, toilet dan AC.
  • 23.00 Berhenti di Indramayu, makan di tempat yang lebih mirip barak. Disini terhidang prasmanan yang langsung dibayar (harga standar Rp 20.000,- tanpa air mineral), lalu kita bisa memilih tempat duduk sesukanya. Disini juga tersedia toilet, mushalla, makanan-makanan, minuman, tempat mengecas HP, wedang jahe, dll.

Ada kejadian banyol juga nih. Sesaat setelah turun, saya langsung mendongakkan kepala ke arah belakang, menandai apa yang bisa ditandai dari bus yang kita naiki, saking banyaknya bus yang parkir disini udah ngalah-ngalahin terminal! 😀 Dan, saya fokus ke angka 072, yah, harus ingat!

Tadinya, dengan wajah oon, saya menelisik sekitar dan menyimpulkan “mungkin ini tempat razia bus-bus kali, ya.. Tapi kok aneh?!” Haha, sampai sekarang saya masih geli sendiri mengingat kalau itu adalah barak tempat pemberhentian bus sementara untuk makan, toilet, dan sebagainya 😀

Saya dan Nanad, teman seperjalanan saya, duduk santai di kursi yang ada sambil mengecas hp. Tidak ada satupun diantara kita yang tau busnya akan berangkat jam berapa.

Sementara itu, saya mulai tergiur dengan wedang jahe, penasaran mencicipi seperti apa rasanya, samakah dengan skoteng dan sejenisnya?! Mari dicoba.

Lama menanti, empunya jualan tak muncul-muncul. Tiba-tiba, pandangan saya langsung tertuju pada bus kami, dia beringsut ke arah belakang dan langsung berjalan meninggalkan barak; tidak, bukan hanya barak, tapi KAMI!!! Serangan panikpun mulai menyerang, saya memanggil-manggil Nanad buat mengejar bis itu. Seorang bapak-bapak membantu dengan menunjuki arah kemungkinan bus itu berlalu sebelum meninggalkan lokasi barak.

Ketika sedang sibuk-sibuknya, mencari arah. Tiba-tiba Nanad seperti membangunkan saya dari tidur. Ternyata saya salah menandai bus!! MasyaAllah… benar-benar.. antara mau ngakak dan lelah pasca panik, hahaha.. Beruntung tepat saya sadar sesaat bus yang sebenarnya akan benar-benar berangkat 😀

Kamis, 5 Mei 2016
Gunung Kidul
  • 06.30 Loket di Kebumen, berhenti untuk sarapan.
  • 07.15 Berangkat..
  • 09.50 Terminal Giwangan
  • 10.00 Misi ke pantai bareng trio eksis. Let’s go..

Bergerak menuju Gunung Kidul, melewati Bukit Bintang. Banyak hal jadi bahan omongan, dan, walhasil, muncullah gelar duta korea, duta sinetron dan raja batu akik 😀 (gila-gilaan).

Uniknya, sepanjang jalan banyak ditemukan penjual yang menjajakan walang goreng, atau belalang goreng, biasa dijual sekitar Rp 20.000,- berisi 5 belalang yang telah dikeringkan dan digoreng.

Trip pertama ke Pantai Indrayanti, melewati simpang Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Krakal (100m sebelumnya), Pantai Sadranan (tempat snorkling), dll. Disini kita sempat ragu dan berbalik arah karena plang Pantai Indrayanti yang tidak kunjung ditemukan dan koneksi internet yang kurang bagus. Tapi kita tidak menyerah dan akhirnya benar-benar sampai di Pantai Indrayanti.

Sebelum bergerak ke pantai, saya beli topi dulu (Rp 30.000,-), secara puanas buangettt… Lalu dengan semangat 45, kita menantang matahari menuju pantai. Berhubung energi masih full, kita memutuskan untuk mendaki bukit (di bibir pantai) terlebih dahulu. Menurut Ikbal, pemandangan dari atas mirip Bali! Mari kita buktikan..

Dengan membayar uang sukarela, kita lanjut mendaki melalui jalan setapak yang telah dibuat berundak sebagai jenjang, dan… luar biasa…. pemandangan yang sangat indah… Tak ayal kita langsung pasang gaya jepret sana-sini, hee.. biasa, kekinian.. 😀

Setelah puas berselfieria, kita menuju parkiran dengan trip selanjutnya Pantai Baron. Sekaligus makan siang disana. Sebelum berangkat, kita cuci mata dulu liat-liat koleksi makanan disini. Ada kripik rumput laut dan kripik undur-undur (hewan mungil yang biasa ditemukan di pasir pantai), 3 bungkus besar Rp 10.000,-; ekonomis, bukan?! Rasanya juga gurih, hm…

Pantai Baron berada sekitar 15 menit dari Pantai Indrayanti. Bedanya, untuk ke pantai ini kita mesti berjalan dulu sekitar 15 meter dari tempat parkir. Bukan cuma itu saja, pantai ini juga punya keunikan tersendiri, air lautnya ada rasa asin dan tawar. Air tawar ini berasal dari sungai mengalir dari bawah bebatuan menuju laut. Selain itu, menara suar juga menjadi daya tarik lainnya dalam menikmati pantai dan sekitarnya dengan pesona yang menakjubkan.

Untuk menuju menara suar, kita bayar Rp 2.000,-/orang, dibayar pada saat menaiki bukit. Di atas bukit, kita juga bisa sewa mobil golf. Insert masuk menara Rp 5.000,-/orang. Anda cukup mempersiapkan tenaga ekstra demi mendaki menara setinggi 40 meter dengan 9 lantai ini, tapi capek itu akan terbayarkan ketika Anda sampai di puncak menara; percaya deh…

Jum'at, 6 Mei 2016
Candi PrambananKeraton Ratu Boko, Malioboro,0km, Alkid

Kali ini saya bersama unjut bontot bergerak ke Candi Prambanan. Start pukul 08.30 WIB. Kita ambil paket Candi Prambanan + Kerato Ratu Boko, tiket Rp 50.000,-/orang. Setelah puas mengitari Candi Prambanan, kami mendaftarkan tiket ke Keraton Ratu Boko dan menunggu antrian sambil melepas lelah di bangku taman, tepat di sisi depan sebelah kanan suttle bus. Kita dapat nomor urut 07, beruntung ada kosong 2 bangku dan kita berangkat lebih awal dari nomer antrian sebenarnya.

Waduuuu… Djogja fuanaazzz, bok.. Badan kita sampai berkuah, hhaha… Padahal, masih banyak tempat yang mau dikunjungi, termasuk tempat pemandian Ratu Boko, yang menjadi tempat shooting AADC2 (Ada Apa Dengan Cinta 2), namun.. じかんが ないよ (waktu terbatas). So, kita segera balik, mengingat harus menunggu antrian bus buat kembali ke Candi Prambanan lagi.

Sehabis maghrib, saya bergerak menuju Malioboro. Sebelum ke Djogja, Lisa sudah memberitahu, keliling pake becak disini itu murah, hanya Rp 5.000,-. Tapi, unjut bontot sempat ngedumel, harus pandai-pandai nawar.

Sebelum pergi, saya bertanya ke recepcionist tentang arah ke Malioboro, ternyata cukup jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Mau pesan ojek online juga ga ngerti lokasi detail ini hotel.. Wes, ke depan langsung ketemu becak, dan.. saya kaget dong, ke Malioboro kata Bapaknya Rp 40.000,-. Beliau sampai bilang-bilang “nol kilometer” lagi, saya mah kagak ngerti atuh…

Sepanjang jalan saya bertanya-tanya terus “nol kilometer itu apa??” Si Bapak sampe rada kesal, karena saya kagak ngerti mulu, padahal suara si Bapak yang sayup-sayup sampai ditelan keramaian, jadi sayapun makin bingung, yang kedengaran selalu “nol kilometer”, fuuh…

Teman saya, Nanad sudah sampai di Malioboro sedari tadi dan dia nungguin saya di depan Bringharjo. Anehnya, kok Malioboro yang katanya deket dari penginapan saya, malah belum sampai-sampai ya?! Dengan nyinyir saya bertanya pada si Bapak, eh… ternyata, dari tadi itu maksud si Bapak, jalan yang biasa macet, jadi kita keliling dulu sekalian ngeliat wisata lain, bah!

Untuk menyimpulkan pembicaraan dengan si Bapak aja saya harus memeras otak nih, banyak kosakata baru yang tidak saya mengerti dan ternyata itu nama tempat, seperti: 0 km (nol kilometer) dan Alkid (Alun-alun Kidul), hadeuuuh… Jangan-jangan dikira si Bapak, saya tau nama-nama yang beliau maksud, makanya sempat gimanaa gitu karena saya sering menanyakan nama yang sama.

Sepanjang jalan, saya diomeli unjut bontot dan Nanad, mereka sempat menyesalkan karena saya tidak pandai memilih becak, paling mahal dari Hotel Nidia ke Malioboro hanya Rp 10.000,-. Yah, apa boleh buat, jadi lucu sendiri.. 😀

Jalanan di Malioboro rame bangett.. Bahkan, untuk ketemu Nanad aja harus kesana-sini, saking butanya sama tempat. Setelah ketemu, kita jalan hingga 0 km. Tak lama kemudian, unjut bontot beserta sahabat muncul ikutan gabung.

Dengan dialog tingkat tinggi (wkwwk.. berle), walhasil kita putuskan ke Alkid. Apesnya, gegara macet, kita baru lengkap semua personil pada pukul 23.00 WIB. Kita batal naik mobil-mobil unik yang didesain dengan lampu warna-warni gegara macet panjang dan waktu yang mulai menunjukkan jam rehat. Kita cuma nongkrong makan jagung bakar dan teh es.

Disini, dapat cerita dari sang raja batu akik; ada mitos yang terkenal disini. Kalau mampu berjalan dengan menutup mata dari pohon beringin besar sampai pohon beringin kecil di tengah lapangan Alkid ini, artinya cita-cita kita bisa terwujud. Sekalipun kita berjalan didampingi seseorang (bisa teman, keluarga atau pacar), tetap mereka tidak boleh memberitahu kalau kita salah arah. Dan, memang, ada yang bisa salah arah, meskipun jaraknya hanya sekitar 5 meteran gitu, salah satunya si raja batu akik sendiri yang baru sukses untuk ketiga kalinya mencoba 😀

Sabtu, 7 Mei 2016
Good Bye Djogja..

Waaa… ga berasa liburan 3 hari di Djogja ini berasa singkat banget… Masih banyak tempat yang batal dikunjungi, seperti hari ini yang tadinya punya agenda ke Taman Sari, Benteng, Malioboro dan ke pabrik bakpia. Ujung-ujungngnya, cuma bisa merealisasikan 2 poin terakhir, ざんねんね。

Pukul 14.30-an, kita baru makan siang. Unjut bontot ngajakin ke Waroeng Steak yang jadi favoritnya mahasiswa, karena harganya yang miring, hee… Setelahnya kita go ke Terminal Giwang. Untungnya, Nanad sudah memesankan saya tiket, jadi tinggal nunggu bus.

Awalnya, kita dapat info berangkat dengan Bus Nan Tunggal jam 16.00 WIB, tiket Rp 170.000,- dengan fasilitas AC tanpa toilet. Eh, walhasil naik Bus Pariwisata jadinya. Ceritanya, ini bus cadangan kayaknya yang disiapin pihak terminal atau agen, karena bus yang berangkat pada waktu ini udah full semua.

Entah apa yang salah dengan busnya, kita jadi merasa seperti naik andong dengan fasilitas AC. Kebayang kan, gimana sikon kita didalamnya?! 😀

Jam 22.00 WIB kita berhenti makan dan rehat. Lucunya, saya dan Nanad sempat mampir ke prasmanan yang ada hiburan nyanyinya, eh salah masuk rumah makan, haha…

Nah, ketika masuk di rumah makan yang tepat, saya pesan sate Rp 14.000,-. Jangan kaget, sate disini tidak pakai ketupat, kalau mau karbohidrat, empunya resto punya nasi yang ditawarin. Sementara, Nanad pesan nasi goreng. Rasanya lumayan enak untuk ukuran lidah kita (orang Sumatera) yang notabennya terbiasa dengan makanan pedas dan berbumbu..

Minggu, 8 Mei 2016
Apes yang Berketulungan tapi Penuh Tantangan

Yah, apes yang tak berujung.. Kita yang awalnya akan turun di Terminal Lebak Bulus, eh malah mau diturunkan di jalanan dekat RS Fatmawati.. Setelah menuai protes pada sang sopir akhirnya kita diturunkan dipinggir jalan setelah mereka mendapatkan angkot merah menuju Terminal Kampung Rambutan.

Menurut perbincangan sesama penumpang, sepertinya bus itu rusak. Namun, sangat disayangkan perjalanannya malah jadi seperti ini, tapi yah.. apa boleh buat?! Kita turun di Terminal Kampung Rambutan dengan membayar sewa angkot Rp 5.000,-/orang.

Sebenarnya, untuk menuju Lenteng Agung, bisa menaiki angkot merah dengan kode 19; namun, karena barang bawaan kita banyak dan mulai lelah, akhirnya pesan ojek online. Sekitar pukul 11.00 WIB kita sampai di Lenteng Agung dalam perjalanan sekitar 20 menit.

Perjalanan panjang yang melelahkan tak pernah lengkap tanpa adanya tantangan. New friend, new family, new life. Kebahagiaan datang seiring eratnya jalinan silaturrahim.

Terima kasih Djogja.. 3 hari yang sangat menyenangkan. Beautiful moment with Iqbal, Herry, Ilham & Nadia (a.k.a Nanad).

Gallery

Pantai Baron

Pantai Baron terletak di Gunung Kidul  menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Yogyakarta. Akses ke lokasi menggunakan kendaraan pribadi. Disini tersedia fasilitas seperti tempat parkir yang cukup luas, toilet dan tempat ganti pakaian.

Pantai Baron berada sekitar 15 menit dari Pantai Indrayanti. Bedanya, untuk ke Pantai Baron, pengunjung mesti berjalan kaki sekitar 15 meter dari tempat parkir.

Sepanjang jalan menuju pantai, banyak dijual aneka makanan, seafood, kuliner, hingga pernak-pernik unik. Seperti, kripik rumput laut dan kripik undur-undur (hewan mungil yang biasa ditemukan di pasir pantai), 3 bungkus besar hanya dijual Rp 10.000,-; ekonomis, bukan?! Rasanya juga gurih, cruncy!

Pantai Baron terkenal dengan air dan menaranya. Di pantai ini terdapat 2 jenis air, asin dan tawar. Air asin berada dihamparan laut luas seperti kebanyakan air laut. Sedangkan air tawar yang berasal dari sungai yang mengalir dari bawah bebatuan menuju laut, menggenang dan membentuk telaga di sisi kanan pantai.

Menurut beberapa sumber, dahulunya sebelum reklamasi, paduan 2 jenis air ini membentuk kombinasi alam nan elok seperti ada sungai sebelum laut. Namun, pasca reklamasi, tentunya menjadi sedikit berbeda.

Ombak di pantai ini cukup besar. Namun, pengunjung diperbolehkan mandi-mandi di pantai ataupun di telaga dengan pengawasan petugas pantai. Biasanya, sekitar pukul 4 sore, atau saat gelombang pasang, para pengunjung dihimbau untuk berhenti berenang. Begitupun di telaga, ada peringatan sejauh mana pengunjung boleh berenang, dikarenakan kedalaman airnya.

Pantai Baron berada diantara 2 bukit dengan bebatuan magnit nan unik dan indah. Selain itu, menara suar juga menjadi daya tarik tersendiri dalam menikmati Pantai Baron dan sekitarnya dengan pesona yang menakjubkan. 

Untuk menuju menara suar, merogoh kocek sebesar Rp 2.000,-/orang, dibayar pada saat menaiki bukit. Di atas bukit, ada beberapa fasilitas yang bisa digunakan, seperti sewa mobil golf. Insert menara Rp 5.000,-/orang.

Pengunjung cukup mempersiapkan tenaga ekstra demi mendaki menara setinggi 40 meter dengan 9 lantai ini. Namun, rasa capek akan terbayarkan ketika sampai di puncak menara. Hamparan laut luas, berikut perbukitan yang terbentang luas… Tak terlukiskan dengan kata-kata..

Gallery: Pantai Baron

Gunung Kidul (Mount Kidul)

Gunung Kidul terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta dan memakan waktu sekitar 1 jam dari pusat kota dengan menggunakan kendaraan pribadi. Lokasi ini terkenal dengan wisata Bukit Bintang dan ratusan pantai indah yang saling menyambung, seperti: Pantai IndrayantiPantai Baron, Pantai Sepanjang, dan lainnya.

Sayangnya, lokasi yang syarat dengan keindahan ini belum dikelola dengan maksimal, sehingga akses ke lokasipun terbatas. Seperti halnya transportasi, untuk sampai ke destinasi yang satu ini hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi atau carteran. Selain itu, papan penanda atau plang nama pantai juga tidak semuanya tersedia.

Berikut beberapa tempat wisata ternama di Gunung Kidul.

cover1c
Foto dishare dari wwww.griyowono.com