Category Archives: Merantau

Sup Daging

Menu kreasi rumahan yang gampang dibikin.

Bahan

  • Daging sapi
  • Wortel
  • Kentang
  • Daun Bawang
  • Daun Sup
  • Bumbu Sup
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Bawang goreng

Persiapan

  • Rebus daging sampai matang, tambahkan garam
  • Rajang bawang merah, bawang putih, daun bawang, daun sup.
  • Giling merica

Cara

  • Tumis bawang merah, bawang putih dan daun bawang
  • Tambahkan rebusan daging beserta airnya
  • Aduk rata, tunggu sampai mendidih
  • Masukkan kentang dan wortel
  • Tambahkan daun sup dan bumbu sup
  • Tunggu sampai matang
  • Tambahkan bawang goreng
  • Angkat dan sajikan

Kue Rangi

Tau ngga sih kue rangi itu apa?! Secara, katanya kue ini udah langka.. (Pantes yak, nggak familiar..)

Kue rangi, kue jadul-nya betawi..

Terbuat dari adonan sagu, parutan kelapa muda dan garam. Adonan ini diaduk, lalu dibakar diatas cetakan seperti cetakan kue pancung; bedanya, lengkungan lebih dangkal dan tidak perlu dipisah/dipotong (setelah matang). Sebelum disajikan, diolesi toping gula merah yg juga dikombinasikan dengan tepung sagu.

Hmm.. biar kata orang ini kue jadul, kalau disantap selagi anget, enak!! Gurih.. renyah.. lembut.. rasanya juga pas (nggak terlalu manis).

Uniknya, ini dijajakan oleh pedagang kaki lima dengan tetep diolah secara tradisional (dimasak pake tungku!), hayyooo lho.. (Luar biasa, orang Indonesia memang kreatif!!)

Kue rangi memang tak sepopuler kue khas betawi lainnya seperti kerak telor, kue ape, dll; tapi ini bisa jadi salah satu kuliner alternatif buat kulinermania yang suka banget sama jajanan tradisional 👍👍


  • 🇲🇨 Jakarta | ジャカルタ
  • 📍 Jl. Otista 1A
  • 📌 Indonesian Street Food
  • 🏠 Depan Warteg Bunda Fatir
  • 📝 Kue Rangi | クエランギ
  • 💵 Rp 5.000,- (IDR 5k)


Gallery

Refreshing ke GOR Rawamangun

Di Jakarta, ada beberapa tempat yang recommended buat refreshing. Khususnya bagi pecinta olahraga, ada banyak fasilitas umum yang bisa digunakan secara gratis!

Salah satu destinasi yang dimaksud ada di GOR Rawamangun. Tempat ini dikenal juga dengan nama Gelora Rawamangun, GOR Pemuda, Gelanggang Olahraga Rawamangun, GOR Balap Sepeda Rawamangun atau GOR Velodrome.

Fasilitas

Di dalam kawasan ini ada GOR, taman bermain yang adem lengkap dengan kursi taman dan dekorasi nan unik, Jakarta International Velodrome a.k.a Gelanggang Olahraga Velodrome, Stasiun LRT Velodrome, Lapangan Basket, Gedung Squash, Kolam Renang, Lapangan Tenis Indoor & Outdoor, fasilitas olahraga outdoor, fasilitas pendukung olahraga, batu pijakan relaksasi, dll.

Masing-masing gedung menyediakan berbagai fasilitas lainnya yang tak kalah lengkap, seperti: TOILET pria & wanita, loker, lobby, tempat duduk penonton, lapangan olahraga, kantin, mushalla bagi yang muslim, dsb.

Jakarta International Velodrome

Jakarta International Velodrome a.k.a Gelanggang Olahraga Velodrome adalah salah satu gedung iconic yang paling disukai oleh para pengunjung.

Memang tidak boleh sembarang orang bisa masuk, tapi berada di berandanya saja sungguh mengagumkan, view-nya kece badai!! Kita bisa melihat taman yang apik, 20 lebih tiang bendera yang terpancang rapi, juga LRT yang sesekali melintas di Stasiun LRT Velodrome.

Walaupun tidak bisa masuk, kita bisa mengintip bagian dalam gelanggang balap sepeda ini dari pintu kaca, dinding di sisi pintu masuk masih menyisakan lukisan icon ASEAN Games 2018 yang masih colorful, ngangenin yaa.. Selain itu, deretan kursi tampak tersusun dengan sangat rapi di dalam Velodrome yang di tengahnya ada arena melengkung tempat balap sepeda.

Event

Kompleks fasilitas olahraga yang luas ini menjadi bagian dalam pesta olahraga ASEAN Games 2018. Tak heran, jika pengunjung masih banyak menemukan sisa-sisa icon ASEAN Games yang sukses digelar di tahun lalu itu.

Lain-lain

Antusiasme masyarakat di Jakarta untuk berolahraga juga patut diacungi jempol, terlihat dari ramainya GOR Rawamangun, terutama di akhir pekan. Bukan hal yang aneh, bila melihat ada yang rela ngantri untuk menggunakan fasilitas olahraga yang ada di sisi kanan pintu masuk. Jika ada senam, yang ikut sampai memenuhi jalan di depan GOR.

Tak hanya fasilitasnya yang luar biasa lengkap dan memadai, di GOR juga ada beberapa stand kuliner buat yang mungkin mau sarapan atau sekedar membeli air meneral untuk pelepas dahaga.

Akses

Akses ke lokasi sangat praktis, bisa ditempuh dengan Transjakarta (busway) berhenti di Halte Velodrome dan berjalan kaki menelusuri JPO beberapa menit. Budget yang dibutuhkan ekonomis, sekitar Rp 7.000,- PP.

Kamus

  • JPO = Jembatan Penyeberangan Orang
  • PP = Pulang-pergi
  • GOR = Gelanggang Olahraga

Gallery

  • Instagram: @olha_chayo #jejaklangkaho 👉 Pohon

Catatan

  • Mulai dari tanggal 21 Oktober 2019 s/d SELESAI, ada perbaikan di GOR. Jadi, arena lari ini tutup sementara waktu hingga perbaikan selesai.
  • Biasanya, mulai dari kaki JPO hingga depan pintu masuk ada beberapa pedagang kaki lima yang menjual aneka makanan, namun entah mulai ditertipkan atau bagaimana, mulai terlihat sepi. Beberapa mobil aparat terlihat standbye di sekitar pintu masuk GOR.

Rekomendasi Link

Tongseng Maknyuss di Area PGC

Tongseng adalah sejenis gulai dengan bumbu yang lebih komplit dan berasa manis, pedas dan gurih. Daging yang umum digunakan adalah daging kambing. Namun, cukup banyak juga yang menggunakan daging lain seperti daging sapi atau daging ayam.

Di jaman ‘now’, kuliner khas Jawa Tengah yang maknyus ini bisa dibeli di banyak tempat, mulai dari warung kaki lima hingga restoran mahal.

Di Jakarta, ada salah satu tempat yang paling direkomendasi oleh para penikmat kuliner, tepatnya di depan JPO Halte PGC1 arah Cawang. Warung kaki lima ini buka dari jam 10 malam hingga pukul 5 Subuh; itupun kalau pelanggan sepi banget, karena biasanya, ketika warung ini buka, langsung diserbu oleh para pecinta tongseng.

Tongseng sapi yang dijual disini terdiri dari kombinasi daging sapi berlemak cair yang empuk dan mlumer, sayur kol nan renyah, potongan cabe rawit yang memberikan percikan-percikan pedas yang bikin nagih di mulut, kuah santan berbumbu khas yang klop, dengan toping bawang goreng yang juga renyah. Benar-benar menggugah selera makan siapa saja.

Selain tongseng sapi, ada juga menu lainnya yang tak kalah enak, seperti: tongseng ayam, pecel lele dan pecel ayam. Minuman hangat atau dinginpun juga ada lho: air mineral, es jeruk, es teh manis dan jeruk panas.

Sssst.. Soal harga, jangan ditanya, pastinya ekonomis!! Ini nih bocorannya:

  • Pecel lele atau pecel ayam Rp 19.000,-
  • Tongseng sapi atau tongseng ayam Rp 20.000,-

Gallery

  • Tongseng depan PGC (soon)

Catatan

  • Tongseng lebih nikmat disantap selagi hangat
  • Saat makan makanan yang hangat, sebaiknya jangan langsung minum minuman dingin, karena bisa mengakibatkan masalah pada gigi

Referensi

  • Lisa and the gang (Sayonara Party Lisa)

Review OYO Townhouse 1 Hotel Salemba (English)

Good Points

  • Location is strategic in central
    • Address: Jl. Salemba Raya No. 26, RT.4/RW.6, Kenari, Senen, Central Jakarta, Jakarta 10430, Indonesia
    • Google Maps: OYO Townhouse 1 Hotel Salemba
  • Practical
    • Can access with public transportations, ex: busway (Transjakarta)
  • Good Facilities
    • TV, AC, TOILET (doormats, soap/shampoo, lotion, towl, toothpaste, tooth brush, glass, mirrorr), telephone, Free Wi-Fi, wardrobe, sofa, table)
  • Clean
  • Amazing view from the window
  • The price is cheap, specially when you got a promo
  • Good decoration
  • Free breakfast

Bad Points

  • Old building
  • Difficult to open the primary door

Aplication

  • OYO

Score

  • 4/5

Gallery

Review OYO Townhouse 1 Hotel Salemba

Kelebihan

  • Terletak di pusat kota
    • Alamat: Jl. Salemba Raya No. 26, RT.4/RW.6, Kenari, Kec. Senen, Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10430, Indonesia
    • Google Maps: OYO Townhouse 1 Hotel Salemba
  • Praktis
    • Bisa diakses dengan transportasi umum (seperti: busway Transjakarta) dan transportasi online
  • Fasilitas OK
    • TV, AC, TOILET (keset kaki, sabun/shampo, lotion, odol & pasta gigi, handuk), telpon, Free Wi-Fi, lemari, kursi santai dan meja kerja
  • Bersih
  • Pemandangan dari jendela mantap!
  • Harga miring, tergantung ada/tidaknya promo
  • Dekorasi OK
  • Sarapan gratis

Kekurangan

  • Gedung lama
  • Pintu depan tertutup dan agak sulit dibuka (mungkin karena baru)

Aplikasi

  • OYO

Nilai

  • 4/5

Gallery

Mudik Lebaran 2019 (Bukittinggi-Jakarta)

Prolog

Tak terasa ramadhan begitu cepat berlalu, begitu juga lebaran..

H+1 lebaran udah mudik ituuu berat yaa.. Tapi, bagi kita perantau, membagi waktu itu penting. Waktu bersama keluarga memang utama, tapi ada kewajiban lain yang menanti diseberang: kerjaan, hee.. ☺️

Bus NPM

Sebenernya, selain tiket pesawat yang akhir-akhir ini harganya naik drastis, saya memang sudah sejak lama berangan-angan ingin mencoba perjalanan Sumatera-Jawa dengan Bus. Mungkin bagi kebanyakan orang, itu melelahkan dan tak lebih hanya sekedar alternatif terakhir. Tapi, bagi saya, sepertinya itu sebuah perjalanan yang seru dan menyenangkan!! Apalagi, bisa naik Bus NPM, bus favorit saya sedari kecil.

Dulu, dimasa jayanya, perjalanan antar Kota Padang-Bukittinggi, kami menggunakan bus seperti Bus NPM (Naikilah Perusahaan Minang), Bus ANS dan bus lainnya. Namun, sekitar 13-15 tahun yang lalu, masa itu telah digantikan oleh mobil-mobil travel dan bus mini.

Dari bulan Maret saya sudah pesan tiket Bus NPM untuk Jakarta-Padang di Loket Bus NPM Terminal Pulo Gebang; tapi karena suatu hal, tiket tersebut dibatalkan.

Sementara untuk kembali nanti, keluarga saya sudah memesankan tiket Bus NPM untuk Bukittinggi-Jakarta di Loket Bus NPM Bukittinggi. [Sengaja saya ambil tanggal 7 (Jum’at) untuk memperkirakan sampai di Jakarta tanggal 9 (Minggu), sehingga tanggal 10 (Senin) sudah bisa beraktifitas kembali di rantau.]


7 Juni 2019 (Palembayan-Bukittinggi)

Libur lebaran yang singkat membuat waktu begitu cepat dan berarti. Walhasil, nggak bisa silaturrahim ke seluruh keluarga & handai taulan. Belum lagi, packing, hadeeeuh.. Rasanya pengen cepat kelar hari ini tapi tak ingin melewatkan setiap moment-nya (gimana sih?!😅)

Onigiri ala O

Bangun Subuh langsung siap-siap bekal. Saya memutuskan untuk membuat onigiri (nasi kepal ala jepang yang didalamnya diisi dengan lauk tertentu) versi saya.

Lauk yang saya gunakan adalah Samba Pensi (mungkin lebih familiar dengan nama Pensi Balado yaa) dan Rendang yang sudah saya suir-suir diaduk dengan rabuak (bumbu)-nya.

Sebaiknya nasi yang digunakan adalah nasi yang baru matang, tapi karena mengingat waktu, nasi yang saya pakai adalah nasi yang sudah dimasak dari tadi malam di magic com.

Plastik 1/4 di belah 2. Taruh nasi di atas plastik secukupnya, ratakan tapi jangan terlalu tipis. Taruh lauk (yang tidak mudah basi) secukupnya di tengah nasi, tambahkan nasi baru diatasnya. Tutup plastik dengan hati-hati dan bulatkan sampai mengepal. Bagi yang punya cetakan onigiri juga bagus, tergantung kreasi masing-masing.

Kenapa serba secukupnya? Karena, bila nasi terlalu banyak, bakal susah dihabiskan dan ujung-ujungnya malah dibuang, sayang kan?! Taruh nasi sekiranya habis untuk 1x makan, kalaupun dirasa porsi makannya memang banyak, menurut saya tetap buat beberapa buah dengan ukuran kecil agar mudah dibawa dan lebih efektif. Dan juga, bila lauk berlebihan, minyaknya mudah meleber dan nasi sulit menyatu.

Persiapan Lainnya

  • Suit case a.k.a koper atau travel back yang sudah dipacking dari tadi malam berisi barang-barang yang jarang atau nggak bakal dipakai di perjalanan. Karena tas bawaan saya terbatas, tetap saya masukkan pakaian ganti ke dalam koper (berharap koper yang memang khusus kabin bisa masuk kabin bus nantinya).
  • Tas tenteng berisi:
    • Pocket travel besar (didalamnya ada mukena, plasmina lebar dan hangat yang nantinya bisa dijadikan selimut atau syal), kaos kaki dan pakaian dalam.
    • Pocket travel laundry yang kecil saya isi dengan sabun cuci muka, odol dan pasta gigi (kalau bisa sediakan yang khusus travelling; saya bawa yang biasa karena yang khusus tertinggal di Padang).
  • Tas yang dilapisi aluminium foil atau tas biasa aja untuk khusus tempat makanan. Berisi:
    • Lauk, kebetulan yang saya bawa adalah rendang.
    • Onigiri ala O 4 bungkus.
    • Kue lebaran dibagi 2 bungkus, yang versi mentega dan versi renyah.
    • Sendok dan garpu ditutupi dengan tisu.
    • Tisu beberapa lembar.
  •  Tas punggung (backpack) berisi:
    • Payung
    • Power bankheadphone atau headset, charger, kabel data dan colokan internasional (Usahakan dalam 1 tempat)
    • Jarum pentul dan pin buat yang berhijab (taruh dalam 1 tempat)
    • Tisu biasa dan tisu basah. Kenapa juga perlu bawa tisu basah? Untuk lap tangan bila kotor dan sulit mendapatkan air; buat ke TOILET bila air di TOILET yang disinggahi kurang bersih untuk cebok.
    • Buku catatan kecil untuk sekedar memo atau catatan perjalanan.
    • Dompet (pouch) rangkap (kalau bisa yang rangkap 3 atau beresleting 3. Gunanya?
      • Untuk duit. Masukkan uang dari yang kecil (koin) hingga yang besar (seratus ribuan), bawa sekedarnya saja, tak usah berlebihan.
      •  Untuk alat tulis dan kartu-kartu yang memang dirasa perlu saja: pena, kartu nama, foto copy KTP, kartu tertentu seperti e-money atau tap cashflashdisk, dll.
      • Untuk keperluan penting lainnya. Khusus perempuan: makeup (pelembab wajah, bila perlu sun block, benang gigi, lipstik, dll), pembalut/panty liner, ikat rambut dan masker.
    • Kaca mungil, jaga-jaga abis makan kadang suka ada tompelan cabe di gigi, atau abis cuci muka di setiap perhinggahan ada yang tidak menyediakan kaca sama sekali.
    • 1 pakaian dalam ganti di saku-saku tas (bila perlu).
    • Obat-obatan, terutama bagi yang sering alergian. Yang perlu obat alergi (kadang perubahan suhu atau tak sengaja makan makanan yang bikin alergi), obat anti demam/anti nyeri (biasa, kadang jalan jauh suka bikin kepala cenat-cenut), plester anti nyeri buat yang suka encok atau ngalamin LBP (Low Back Pain) buat jaga-jaga, obat radang tenggorokan (biasa, kadang kalau udah laper atau nemu kuliner enak suka lupa diri, dan juga kurang minum atau konsumsi makanan berminyak berlebihan), obat masuk angin (kadang perjalanan jauh bikin banyak orang mengeluhkan masuk angin), obat maag (buat yang punya riwayat maag).
    • Tiket di taruh di saku depan atau di tempat yang mudah diambil sewaktu-waktu bila diperlukan.
    • Air mineral kemasan 250 ml 2 gelas dan kemasan 600 ml 1 botol. Kemasan gelas bisa digunakan untuk menaruh teh atau minuman dan makanan berkuah lainnya di jalan nantinya. Kemasan botol bisa diisi ulang dari kemasan 1500 ml nantinya. *
    • Lainnya (mungkin saja perlu): bedak tabur, alas bedak, dompet kartu, tongsis, dll.
  • Plastik sampah bening seukuran kantong goni sedang dan plastik wrap, karena koper saya nggak punya cover (penutup), demi perawatan (ciileh), saya tadinya mau me-wrapping semua bagian koper. Tapi, karena ada baju ganti yang mau diambil, diakali dengan menggunakan plastik sampah tersebut, cukup tebal dan bisa diikat atau di plester agar mudah dibuka.
    • Plastik sampah tadi dilobangi sesuai ukuran roda dan mengikuti bentuk gagangan dan bagian jinjingan koper. Ujung-ujung plastik dirapikan dan diplester dengan plester yang cukup nempel atau diikat saja lebih praktis.
    • Plastik wrapping  digunakan jika sudah tidak ada lagi barang yang diambil (terinspirasi saat ngantri check-in di Bandara Kuala Lumpur, ada beberapa penumpang sibuk melilitkan plastik wrap ke kopernya masing-masing. Saat itu saya pikir, “ide cemerlang yaa” 😊👍👍).

Palembayan-Bukittinggi

Untuk mengejar waktu, kami berangkat dengan motor dari Palembayan. Harusnya pukul 6 teng sudah jalan, tapi biasalah jam karet emang susah dibenerin, walhasil sekitar 06:30 baru jalan.

Alhamdulillah.. Perjalanan hari ini lancar, walaupun sempat kena macet di beberapa tempat, kami tiba sekitar jam 8-an di Loket NPM Bukittinggi, sudah ada 2 bus yang stanbye yang kami kira bus sayalah salah satunya.


7 Juni 2019 (Bukittinggi)

Setelah melunasi tiket (sebelumnya baru bayar DP karena pada waktu itu harga angkutan umum lebaran belum ditentukan, tapi syukurnya nama saya sudah dimasukkan ke dalam sistim), saya diinfokan oleh agen bahwa bus yang akan saya naiki sedang on the way dari Payakumbuh, beliau juga mengingatkan plat bus yang akan saya naiki.

Menjelang Naik Bus

Karena masih ada waktu, kami beli oleh-oleh dulu, kali ini saya direkomendasiin di Sanjai Balado Ummi Ulfa Hakim yang katanya enak dan ada diskon 10% untuk pembelian banyak, haha.. (bukan iklan yaa..). Pas banget, disini disediain air mineral kemasan gelas gratis, lumayan buat di jalan ntar, hee..

Setelah itu saya beli air minum kemasan, yang isi 600 ml 1 botol dan kemasan 1500 ml 2 botol. Mungkin di jalan bakal ada yang jual air mineral kemasan, tapi selagi saya punya tempat untuk menaruh dan takutnya bakal lama di jalan hingga sampai di tempat persinggahan nantinya, tak ada salahnya bersiap-siap dulu.. Lagian, yang terpenting adalah untuk mencegah dehidrasi dalam perjalanan.*

Lamaa menunggu.. Menunggu kali ini bukannya membosankan, tapi deg-degan!! Tiap ada pengumuman saya langsung pasang kuping. Kami kasak-kusuk takut missed infomasi. Biar pasti, saya bertanya langsung ke agen, karena udah mau jam 9, tapi busnya tak kunjung datang.. Waaa, ternyata & ternyata bus yang akan saya naiki sedang terjebak macet!! Yah, nggak papa lah, namanya juga H+1 lebaran.. Yang penting udah tau infonya, tinggal menanti dengan sabar.

Walaupun pagi tak sempat makan dan di saat menunggu inipun serba belum jelas dan tak efektif untuk makan, saya tetap tenang, karena udah ada onigiri  yang tinggal dibuka 1/1 dikala lapar nanti.

Naik Armada Baru Bus NPM

Setengah sepuluhan, akhirnya bus dengan plat yang sesuai dengan yang ada di tiket saya datang, Alhamdulillah.. Busnya armada barrruuu euy, senengnyaaa… Eits, saya duduk di bangku no. 1 doong (pamer), hahaha.. Berasa gimanaa gitu, seneng bangeeet.. Semoga perjalanan nanti aman dan lancar, selamat sampai di tujuan, Aamiin ya Rhabb..

Awalnya saya sempat protes, “kok udah ada penumpangnya di bangku no. 1??” Ternyata, itu penumpang dari Payakumbuh yang bakal transit setelah ini. Saya memberitahukan ke crew  dan langsung dibantu.

Sayangnya, koper saya nggak muat di kabin bus. Udah gitu, dikasih tau penumpang lain kalo itu kabin cuma boleh dipake oleh crew bus. “Are?! Sejak kapan??” Saya mau konfirmasi langsung ke crew bus, tapi karena melihat mereka lagi sibuk banget, akhirnya saya memutuskan untuk menaruh koper di bagasi dan 2 tas lainnya di sisi kiri kaki saya ples oleh-oleh di bawah bangku.

Fasilitas Armada Baru Bus NPM

Tipe bus ini adalah AC Executive, jadi so pasti ada AC-nya dan juga dilengkapi dengan lampu baca. Seperti kebanyakan bus antar provinsi, di bagian paling belakang disediakan toilet.

Busnya nyaman banget.. Dekorasinya juga OK. Sekarang udah ada tempat kabel datanya yang kayaknya bisa dipake buat mengecas HP.. Jadi nggak perlu manyun lagi dah ngantri nungguin penumpang yang lebih dulu ngecas HP di tempat persinggahan nanti, asiik..

Karena saya paling depan, nggak bakal takut jatuh atau tergelincir, karena ada pembatasnya. Jarak antar kursi juga cukup lebar. Tak lupa pasang sabuk pengaman dulu..

“Bapisah Bukannyo Bacarai”

Keluarga adalah rumah.. Yah, kali inipun harus meninggalkan rumah, merantau.. Dalam derai tawa akhirnya berubah suasana menjadi haru-biru.. “Bapisah bukannyo bacarai“, pas banget di bus ada lagu ini jadi sountrack perpisahan saya dengan keluarga, dan mereka para penumpang lainnya dengan keluarganya.


7 Juni 2019 (Berangkat dari Loket Bus NPM Bukittinggi)

  • 09:46 Berangkat dari Loket Bus NPM Bukittinggi.
    • Diumumin oleh Sitokar (Kenek) “silahkan mengecas HP dengan kabel data di konektor masing-masing tempat duduk selagi nyala” (Saya kira, nyala maksudnya selagi mesin bus hidup. Dan, mati sepeti AC kalau mesin busnya mati).
  • ………. Di Padang Luar Macet bangett..
  • 11:02 Terminal Padang Panjang. Beli sala lauak, enak & ekonomis Rp 10.000,-/13pc.
  • 11:16 Berangkat..
  • 12:31 Masuk Solok setelah melewati Batu Sangkar
  • 13:27 Tepi Danau Singkarak. Rame banget yang berwisata-ria 🤩
  • 14:25 Terminal Solok
  • 15:03 Selamat Datang di Sawah Lunto
  • 15:42 DPRD Kab. Sijunjung, bangunannya keren yaa..
  • 17:31 Bus isi minyak di SPBU, sementara penumpang langsung makan di Rumah Makan Umega Gunung Medan.
    • Padahal ya, udah kali keberapa singgah disini, tapi pas ada yang bilang Rumah Makan Gunung Padang malah bingung, lupa-lupa inget gitu, yang diingat banget cuma Rumah Makan Umega doang, padahal dua-duanya satu tempat, mungkin beberapa orang sering menyebut penggalan-penggalannya.
    • Disini ada kamar mandi & TOILET yang sepertinya bayar Rp 2.000,-/orang.
    • Tadinya mau nunggu Maghrib dulu, eh sekitar 5 menitan lagi menjelang Maghrib, penumpang dengan plat bus yang saya naiki sudah dihimbau untuk naik bus karena akan berangkat.
  • 18:11 Berangkat.. Menunggu penumpang yang masih belum naik.
  • 18:18 Berangkat.. Sopirnya ganti Sopir 2
  • ……… Saya mencoba mengecas HP nggak masuk-masuk dayanya. Sore tadi juga demikian. Karena saya terlihat mengecas HP, Bapak disamping saya juga ikutan, samaaa… nggak masuk dayanya. Dengan bingung  saya bilang ke Kenek. Walhasil, saya malah diomelin, wkwkwk… Ternyata, siang tadi sopir bilang ngecas selagi nyala itu cuma berlaku di siang hari, malam memang nggak bisa ngecas…

8 Juni 2019 (Perjalanan Panjang)

  • 00:~ Rumah Makan Budi Setia Lubuk Linggau, Sumatera Selatan
    • Ada kamar mandi & TOILET, sepertinya bayarnya sama dengan yang sebelumnya: Rp 2.000,-
    • Disini saya beli teh hangat Rp 5.000,-/bungkus. Kali ini saya pesan ke si Uda minta ditambahin air biasa. Alhamdulillah, memang anget, juga nggak terlalu manis. Karena saya trauma dulu sewaktu perjalanan ke Bengkulu, saya pernah pesan teh hangat dikasih teh panas, saya nggak cek dulu dan langsung minum aja sampe bikin lidah mati rasa..
  • 01:26 Berangkat.. Sopirnya ganti Sopir 1
    • Kalau dipikir-pikir pasti sulit ya jadi sopir bus antar provinsi gitu.. Kita aja naik bus, bisa langsung tepar, gimana mereka bisa nyala ya matanya selama itu dan pasti butuh konsentrasi yang sangat tinggi buat nyetir di tengah keheningan (makluuum, kalo udah tengah malam para penumpang pada tepar, termasuk yang tadinya teman ngobrol si sopir disampingnya, senyaaap..).
  • 05:11 Masjid Al Ikhlas Desa Ulak Lebar, Lahat
  • 05:45 Berangkat..
  • 06:21 Bus isi minyak di SPBU
  • 06:31 Ganti sopir 2. Berangkat..
  • 06:33 Rumah Makan Sumbar Jaya.
    • Kamar mandi & TOILET bayar Rp 2.000,-
    • Penumpang diminta turun semua oleh Kenek, karena bus akan dibersihkan.
  • 07:20 Berangkat..
    • Diingetin Kenek buat yang mau ngecas HP udah bisa dari sekarang, selagi dinyalakan, malam udah nggak bisa. Kami juga diminta membuka lebar AC biar nggak dimandiin oleh tetesan air AC-nya.
  • 07:36 Kab. Muara Enim
  • 09:00 Selamat datang di Desa Gunung Meraksa
  • 09:16 Selamat datang di Desa tn kurung
  • 10:32 Melewati Masjid Muslimin Baturaja, Kota OKU (Ogan Komering Ulu)
  • 11:24 Terminal M…. (saya lupa namanya)
  • ……… Onigiri terakir
  • 11:41 Melewati Tanjung Raja Giha
  • 12:41 RM Wisata Minang Way Kanan
    • Kamar mandi & TOILET Rp 2.000,-
    • Tadinya saya mau beli soto, tapi.. kayaknya nggak usah aja, masih kenyang.. Lagian, masih ada cemilan berat di dalam tas, jadi nggak pusing-pusing amatlah kalua nanti laper.
    • Rencana saya mau ambil koper, mau ganti baju.. Keneknya dengan ramah udah bilang siang ini bakal diambilkan dari bagasi. Tapi.. beliau lagi sibuk bersihin bus. Saya putuskan ntar sore aja deh..
    • Saya juga baru ngeh, kayaknya tiap berhenti di rumah makan, Keneknya selalu bersihin bus yaa?! Nggak sopir nggak kenek, luar biasa ya.. Disitu saya menyadari setiap orang profesional di profesinya masing-masing; Apapun itu, layak dihargai.
    • Sambil menunggu Kenek bersihin bus, saya duduk di beranda rumah makan bersama dengan penumpang bus yang lain. Saya bercerita dengan satu penumpang, kemudian datang penumpang lainnya, eh juga nimbrung sopir kami. Disitu saya dapat banyak informasi yang nggak disangka-sangka. Adaaa aja topik percakapan yang nggak bakal usai kalau kami belum dipanggil untuk segera naik bus. Begitulah, bangganya kita sebagai orang Indonesia, berbagai suku bangsa dan ras, tapi kalau udah ketemu udah seperti ketemu handai taulan; padahal nggak kenal sama sekali.
  • 13:20 Berangkat.. Ganti Sopir 1
  • 14:10 Bukit Kemuning Indah, Lampung
  • 15:08 Melewati Masjid Jami’ Ibnu Rusyd Kotabumi
  • 15:22 Selamat jalan dari Kotabumi
  • 16:15 Selamat jalan dari Kab. Lampung Utara
  • 16:30 Macet panjaaang karena ada kecelakaan di Jl. Lintas Tengah Sumatera
  • ……… Berpas-pasan dengan bus antar provinsi lainnya, sopirnya saling bersilaturrahim, lama tak liat moment begini.. 
  • 16:59 Melewati kecelakaan mobil, bagian depan kedua mobil bonyok, semoga nggak ada korban jiwa, Aamiin..
  • 17:14 Di simpang masuk tol, lancaaar…
  • 17:16 Di seberang gerbang tol
  • 17:37 Gerbang Tol Gunung Sugih
  • 18:05 Simpang Natar
  • 18:07 SPBU Natar, isi minyak
  • 18:19 Berangkat..
  • 18:48 Sopir nanyain ke penjaga tol, “kok tol bisa macet?”, masih ada pengemudi yang bayar cash (are?!)
  • 19:~ RM Wisata Minang
    • Nasi diambilkan, lauk ambil sendiri, nanti langsung dihitung harganya oleh karyawan rumah makan dan kita terima kertas bertuliskan harga makanan yang kita ambil.
    • Saya makan dengan gulai ampela & gulai kacang panjang, Rp 35.000,-
    • Kamar Mandi & TOILET Rp 2.000,-
  • 20:18 Ganti sopir 2. Berangkat..
  • 20:38 Gerbang Tol Bakauheni Utara. Sepii..
  • 20:43 Gerbang Tol Bakauheni Selatan. Antrian puanjaaaang… Mengular!
  • 21:45 Dermaga Reguler.
    • Diumumin oleh Kenek “15 menit sebelum kapal bersandar, penumpang harus cari bus sendiri dan langsung naik. Apalagi buat yang nonton dangdutan, karena keasyikan nyawer jadi lupa nyari bus” (emang di kapal ferry juga ada orgentnya?? Saya kaget, lho.. Maklum, ini Perdana naik kapal penyebrangan Sumatera-Jawa)
    • Saya sibuk men-searcing  nanti bakal di luar kapal atau ada ruangan khusus penumpang. Saya membayangkan, di bus yang ber-AC ini aja udah dingin, apalagi di kapal penyeberangan di malam hari, kalua di luar?! Modal saya kan cuma sweater  wol ini doang?! Kinchoushimasu…
  • 22:00 Gerbang Penyeberangan
    • A&B 5-7 meter 774.000
  • 22:22 Masuk ke dermaga kapal
  • 22:30 Antri siap-siap naik kapal
    • Setelah 1/1 mobil diatur masuk parkiran di dalam kapal, kami turun dan langsung ke lantai atas kapal.
    • Di lantai 1 ramee… Saya bareng Bapak yang duduk di sebelah saya. Saya bertanya ke beliau yang katanya dulu sekali pernah naik Bus Bukittinggi-Jakarta, “Pak, kita harus berdiri dimana aja nih?” Si Bapak bilang, “Terserah, boleh di mana aja di kapal ini”. Lalu kami ke lantai 2.
    • Di lantai 2 nggak kalah ramee.. Ada bangku-bangku di ruangan lepas yang mirip bangku nungguin obat di Rumah Sakit jaman dulu, pas pula ada loketnya di depan.
    • Sebelum naik tangga lagi ke lantai 3, kami melewati ruangan executive yang yang tertera nominal Rp 10.000,- di pintunya. Lanjut ke lantai 3.
    • Lantai 3 apalagi?! Ada yang tidur.. Ada yang piknik.. Saya hanya melongo, kaget, di luar ekspektasi.. Cuaca juga nggak dingin, biasa aja, yang ada malah berangin, kenceng.. Jalan kapalnya juga sellow..
    • Menurut info dari penumpang lain (maklum, saya nempel siapa aja kemana aja, takut ditinggal bus. Entah kapan itu 15 menit sebelum kapal merapat. Entah bagaimana cara saya mastiin kapan kapal ini merapat), perkiraan waktu penyeberangan sekitar 2 jam.
    • Di lantai 3 kapal ini, bagian paling atas yang terbuka. Disini ada beberapa kursi sekitar 2-4 gitu di beberapa titik. Kebanyakan penumpang tidur dialasi koran dan ada juga yang meleseh sambal piknik.
    • Si Bapak ketemu penumpang lainnya dan mempersilahkan saya (yang udah ketemu Ibu-ibu yang satu bus dengan kami) untuk pergi kemana aja sesukanya.
    • Karena kebaikan hati beberapa penumpang, saya dan si Ibu dikasih tempat duduk. Ketemu orang baru dapat informasi baru.
    • Ternyata, kapal ini tak hanya menyediakan ruangan executive saja tapi juga ada kamar, ada yang 3-4 orang dalam 1 kamar.. Dan, harganya juga ekonomis.
    • Saya pikir, tikar yang dipakai para penumpang itu disewa dan koran memang sengaja dibawa dari rumah; eh sebaliknya, koran itu dibeli seharga Rp 1.000,-/lembar di kapal, ada yang menjualnya, suka nawarin. Tikar sengaja dibawa penumpang dari rumah masing-masing. Luarrr biasah..
    • Sayangnya, saya sebenernya agak miris pas dikasih tau kalau koran itu dibiarin gitu aja diterbangin angin ke laut..
    • Saya kira udah lama kami berlayar, eh sejampun belum sampai. Mulai jenuh…
    • Saya tanya si Ibu “Buk, memang disini beneran ada saweran gitu?!” Beliau bilang ada di lantai 2. Kamipun bergerak kesana. Saking penuhnya, massih Alhamdulillah kami bida dapat bangku 1 berdua.
    • Saya celingak-celinguk ples nanya si Ibu, “musik orgen-nya doang ya Buk, penyanyinya nggak ada ya?!” Si Ibu langsung nunjuk “Tuuh”. Saya liat ke arah tunjuk si Ibu, oalaaah.. penyanyinya pindah-pindah ternyata dan ada beberapa orang.. Apresiasi, pakaiannya sopan kok, jauh dari image saweran yang pernah saya dengar. Sayangnya, penumpang kurang menjaga kebersihan, di dekat tempat saya duduk ada tumpahan minuman dan makanan lainnya; padahal fasilitasnya udah cukup bagus, harusnya bersama-sama memeliharanya.
    • Cuma beberapa menit kami duduk disitu, memutuskan untuk ke lantai 1 aja. Sebelum turun kami melewati TOILET, bersih..
    • Saya masih bingung, kapan kami harus naik bus? Kapan kapal bersandar? Gimana cara mengetahuinya?? Si Ibu yang udah sering bolak-balik Padang-Jakarta PP bilang, ntar kalo udah bunyi klakson kapalnya, kita baru turun.. (Setidaknya saya bareng orang yang udah berpengalaman, jadi sedikit merasa aman)
    • Tak lama, si Bapak bergabung dengan kami. Dan, bener! Setelah kapal membunyikan klaksonnya, kami turun bareng, rameee ternyata.. Alhamdulillah tertib dan terkendali..

9 Juni 2019 (Akhir dari Perjalanan, Awal Baru Perantauan)

  • 00:40 Naik bus
  • 01:~   Berangkat.. Masih Sopir 2
  • 01:12 Rumah Makan Rajawali. Singgah sebentar menurunkan penumpang.
  • 01:23 Gerbang Tol Merak
  • 02:10 Gerbang Tol Cikupa
  • 02:42 Kali Deres
  • 03:30 Terminal Pulo Gebang

Perpisahan demi Perpisahan

Setelah mengambil bagasi, saya bersama penumpang lainnya dan juga crew bus saling mengucapkan salam perpisahan, tak sedikit guyonan-guyonan konyol mewarnai perpisahan kami. Bagi saya, ini adalah salah satu perjalanan terbaik saya selama ini. New friend, new family, new life. Ada yang ke transit ke Bogor, ada yang menuju Bekasi dan wilayah lainnya.

Pilihan Terbaik

Saya menuju lantai dasar tempat akses transportasi umum (becak, ojek), taxi, transportasi online. Saya memilih menggunakan transportasi online dan pas saya cek harganyaaa… WOW!! (Yah, maklum sih, dini hari soalnya).

Dengan beberapa pertimbangan, saya memilih nongkrong di mushalla dulu yang masih di lantai dasar dan tidak jauh dari pintu keluar. Dan, Alhamdulillah, ini adalah pilihan terbaik.

Mushalla di Terminal Pulo Gebang

Kebetulan, di sisi kiri pintu masuk mushalla, ada penjaga tempat penitipan barangnya. Saya bingung nyari TOILET. Dengan ramah, dia menunjukkan jalan dan menawari saya untuk menitipkan barang; dengan senang hati, saya merasa sangat terbantu. Saya mengambil nomer penitipan dan segera berlalu.

Di TOILET, saya bingung, kok nggak ada tempat wudlunya ya?! Ternyata, di dalam mushalla, terpisah dari TOILET. Mushallanya cukup nyaman..

Entah karena masuk mushalla, atau memang karena kecapek-an, gilaaa saya ngantuk berrraatttt… Dilihat jam, Subuh masih 1 jam-an lagi… Galau, antara pulang sekarang atau nunggu abis Subuh aja. Dan, pilihannya abis Subuh aja.

Keluar dari mushalla, saya mengambil barang di penitipan. Petugasnya udah beda, tapi sama-sama ramah.. Saya menanyakan apakah penitipannya bayar dan berapa nominalnya, ternyata gratis!! Cukup dengan mengembalikan nomer yang diterima tadi. Petugas hanya menyampaikan kalau pengunjung mau silahkan bersedekah sambil menunjuk tempat khusus Infaq yang tersedia dan kalau tidak, tidak apa-apa.

Sesi Akhir Perjalanan Bukittinggi-Jakarta

Saya pesan transportasi online dan Alhamdulillah dengan lancar melaju sampai tujuan.


Hikmah

  • Persiapan. Memang ribet diawal, tapi nyaman banget kalau udah dijalan. Mungkin masing-masing kita punya versi persiapan masing-masing. Tapi, dari beberapa perjalanan saya selama ini dengan menggunakan Bus (ada yang ke Padang-Bengkulu, Bukittinggi-Bengkulu, Padang-Medan, atau Jakarta-Jogja), inilah perjalanan paling panjang (Bukittinggi-Jakarta) dan paling praktis, karena jaraknya yang jauh tapi memiliki persiapan yang OK.
    • Terus terang, persiapan kali ini juga banyak yang bantu, kalau sendirian kadang memang seadanya apalagi dengan waktu yang udah mepet; tapi, kalau lagi banyak waktu luang, persiapan seabrek itu bisa real juga kok, tinggal dibikin list aja.
  • Riasan. Selama perjalanan tidak perlu menggunakan riasan berlebihan. Yang penting, cuci muka dipersinggahan dan gunakan pelembab wajah agar tidak kering. 
  • Kontrol Diri.  Namanya juga perjalanan jauh ketemu banyak orang. Ada yang berpendidikan tinggi, ada juga yang preman; ada yang ngomongnya tertata, ada juga yang asal omong. Jangan mudah terbawa emosi ketika mendengar celetukan-celetukan ‘bahasa tarzan’, senyumin aja dan nikmati perjalanan dengan positive thinking, let it flow, calm down. Orang akan melihat dengan siapa dia berkomunikasi dan pada akhirnya akan menghargai yang memang patut dihargai. Bebaskan diri untuk berinteraksi dalam batasnya dan berkomunikasilah dengan baik dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan.
  • Jaga Makan. Hanya karena mau jalan jauh bukan berarti harus makan berlebihan atau sama sekali nggak makan. Makan saja secukupnya.
  • Enjoy. Berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya yang full camera, sana-sini jepret. Tanpa ketergantungan terhadap kamera dan sosmed, ternyata perjalanan lebih dinikmati.

Nongkrong Seru di Perpusnas

Hayo looo.. Siapa yang belum pernah mampir kesini? Nggak ada salahnya ngeluangin waktu dan nyobain mampir barang sekali-kali, dijamin nagih!! Gimana enggak, tempatnya nyaman bangett..

Biasanya, kalau udah ngedenger kosakata ‘pustaka’ pasti bakal ngebayangin tempat yang monoton dengan segudang buku yang bikin para non-kutu buku uring-uringan dan lebih memilih bersantai-ria ditemanin gadget. Tapi NO buat Perpusnas.

Apa bedanya??

Dari gedungnya aja udah unik, di pelataran perpusnas didesain santai, masuk ke lobi suasananya adem dan menarik pengunjung untuk melihat lantai demi lantai, ada loker penyimpanan barang, ada cafe, daaaan… banyak lagi yang pokoknya sangat menarik!

*

Jangan bilang masih ada yang belum tau apa itu Perpusnas. Tapi kalau belum taupun juga nggak masalah, bakal dikasih tau kok.

Perpusnas itu singkatan dari Perpustakaan Nasional. Pustaka yang dimaksud adalah Perpustakaan Nasional RI.

Untuk lokasi, mungkin banyak yang lebih familiar dengan Perpusnas yang lama di Salemba. Tapi, akhir tahun 2018 lalu sudah dibangun ulang gedung Perpusnas yang baru dan ada hingga saat ini di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11, RT.11/RW.2, Gambir, Senen, Jakarta.

Akses

Lokasi bisa diakses dengan Busway (Trans Jakarta). Ambil rute Monas dan turun di depan Balai Kota. Bajet sangat ekonomis Rp 3.500,- saja.

Dari halte sudah tampak gedungnya yang khas. Nyeberang. Bila lampu lalu lintas belum menunjukkan gambar pejalan kaki berwarna hijau, tekan tombol yang ada di tiang lampu merah, tunggu sampai icon pejalan kaki muncul.

Cara Masuk

Sampai di seberang, ada gedung bertuliskan PERPUSTAKAAN NASIONAL RI. Masuk ke gedung bergaya Belanda, ikuti pemeriksaan dari security di pintu masuk. Biasanya, petugas bakal minta pengunjung untuk membuka tas bawaan buat diperiksa, kemudian masuk dengan melewati mesin pendeteksi (mirip screening sewaktu check-in di bandara).

Di gedung ala tempoe doeloe ini, ada foto-foto Presiden Jokowi beserta berbagai koleksi foto kunjungan resmi, ada miniatur digital dan modern, dll. Ini menarik dan pastinya gratis!

Keluar dari gedung, jalan beberapa langkah memasuki pelataran gedung Perpusnas. Masuk ke lobi.

Loker Penyimpanan

Di lobi, titipkan bawaan di sebelah kanan pintu masuk. Penitipan terbagi 2, jadi kalau di depan penuh, jangan kuatir, masih ada satu lagi di sayap kanan sebelah belakang.

Terima kunci loker dari staf di meja penitipan. Khusus bagi pengunjung yang membawa laptop atau notebook, dipinjamkan tas transparan. Bawa barang-barang berharga dan seperlunya, kemudian sisanya masukin loker.

Masing-masing loker ada nomornya. Dan, pengunjung makin dipermudah dengan adanya informasi pengelompokan nomor loker yang ditempel di loker yang terdekat dengan pintu masuk. Misal, nomor kita 53, tinggal lihat di deretan 1-100.

Setelah selesai, ambil barang, kunci loker dan tas transparan laptop tinggal dikembalikan pada staf di meja penitipan.

Layanan

Gedung Perpusnas terdiri dari 24 lantai yang memiliki fungsi masing-masing di setiap lantainya. Berikut layanan yang dimaksud.

  • Lantai 1 Lobi Hall & Display
  • Lantai 2 Layanan Keanggotaan & Penelusuran Informasi
  • Lantai 3 Zona Promosi Budaya Gemar Membaca
  • Lantai 4 Area Pameran & Kantin
  • Lantai 5 Perkantoran
  • Lantai 6
    • Data Center
    • Mushalla
  • Lantai 7 Layanan Koleksi Anak, Lansia & Disabilitas
  • Lantai 8 Layanan Koleksi Audiovisual
  • Lantai 9 Layanan Koleksi Naskah Nusantara
  • Lantai 10 Penyimpanan Koleksi Deposit
  • Lantai 11 Penyimpanan Koleksi Monograf Tertutup
  • Lantai 12 Ruang Baca Koleksi Deposit.
  • Lantai 12A Ruang Baca Koleksi Monograf Tertutup.
  • Lantai 14 Layanan Koleksi Buku Langka
  • Lantai 15 Layanan Koleksi Referens
  • Lantai 16 Layanan Koleksi Foto, Peta & Lukisan
  • Lantai 17 AIPI
  • Lantai 18 AIPI
  • Lantai 19 Layanan Multimedia
  • Lantai 20
    • Layanan Koleksi Berkala Mutakhir
    • Layanan Koleksi Manca Negara dan Ilmu Perpustakaan
  • Lantai 21 Layanan Koleksi Monograf Terbuka [KLAS 000 – 499]
  • Lantai 22 Layanan Kokeksi Monograf Terbuka [KLAS 500 – 999]
  • Lantai 23 Layanan Koleksi Majalah Terjilid
  • Lantai 24 Layanan Koleksi Budaya Nusantara & Eksekutif Lounge

Pendaftaran & Kartu Keanggotaan

Pengunjung bisa mendaftar menjadi anggota Perpusnas di lantai 2. Disini tersedia beberapa komputer yang cukup banyak untuk pendaftaran mandiri dan gratis.

  • Tempat pendaftaran ini ada di sebelah kiri keluar dari area lift. Langsung saja menuju komputer. Yang perlu disediakan adalah KTP.
  • Isi biodata, terutama yang dikasih bintang: *(Wajib diisi).
  • Setelah selesai, klik DAFTAR.
  • Ambil nomer antrian yang dicetak otomatis disamping komputer.
  • Antri dan tunggu dipanggil sesuai nomer antrian (mirip dengan antrean di Bank).
  • Apabila sudah dipanggil, duduk sesuai konter yang telah ditentukan (nomor antri dan posisi konter ada di layar TV ukuran sedang di bagian atas konter).
    • Catatan: tidak boleh memindahkan kursi dari tempat awal, walaupun hanya bergeser sedikit saja.
  • Di konter, bakal ditanya nama ibu kandung, dilakukan pengambilan foto dan cetak kartu.
  • Kartu bisa langsung jadi dan pengunjung sudah menjadi anggota Perpusnas.

Mudah, kan?! Akan lebih mudah lagi buat pengunjung yang sebelumnya sudah pernah menjadi anggota perpusnas (di gedung lama). Tinggal konfirmasi ke meja informasi, dengan ramah staf akan memandu menuju konter untuk cetak ulang kartu, tapi tetep kudu ngantri yaa..

Sementara, walaupun sudah memiliki kartu keanggotaan di Perpusnas ini, sayang sekali layanan peminjaman buku memang belum tersedia, pengunjung masih belum bisa meminjam buku untuk dibawa pulang.

“Apa gunanya dong punya kartu anggota?” Menurut salah satu staf, gunanya untuk penggunaan layanan multi media dan masuk ke beberapa layanan koleksi lainnya.

Ruang Baca Umum

Ruang baca umum ada di lantai 21 & 22. Disini koleksi buku-buku buanyaak..

Buat para non-kutu buku, silahkan dicoba. Tempat ini beda jauh dari pustaka yang selama ini sering kita datangi.

Udah gitu, suasananya nyamaaan bangett seolah membius pengunjung untuk berlama-lama nongkrong sampai lupa waktu.

Saking betahnya, kan biasanya di 30 menit sebelum jam kunjungan berakhir suka diumumkan kalau perpus akan tutup di jam bla bla bla, bahkan di detik-detik terakhirpun pengunjung masih saja nempel di posisinya dan mulai bergegas ngantri di lift setelah staf beres-beres.

Nonton Bareng

Bagi penikmat film, jangan sampai lewatin yang satu ini. Jadi ceritanya ke Perpusnas itu nggak melulu soal baca buku, tapi juga NOBAR alias Nonton Bareng.

Untuk jadwal film bisa dilihat di lobi, sebelah kiri sebelum masuk area lift. Kita bisa nonton film yang telah disediakan sesuai waktu yang telah ditentukan.

Fasilitas

Tak hanya aneka koleksinya yang luar biasa menarik, Perpusnas juga memanjakan pengunjungnya dengan akses free wi-fi yang cepat. Bagi yang belum tau pasword-nya bisa ditanyakan ke bagian informasi yang ada di lantai tersebut (biasanya ada di depan area lift).

Bagi yang muslim, bisa shalat di lantai 6. Mushallanya bersih dan nyaman… TOILETnya ada di luar, tapi untuk berwudlu ada tempat khusus disediakan di dalam mushalla. Mushalla dipisah dengan pembatas antara perempuan dan laki-laki. Di luar mushalla ada kursi yang dibagian bawahnya bisa menaruh sepatu. Ada beberapa sofa juga untuk duduk-duduk.

Masing banyak lagi fasilitas lainnya yang tak bisa disebutkan 1/1. Mungkin bisa teman-teman lihat sendiri saat berkunjung nanti.

Jadwal Operasional

Perpusnas buka setiap hari, kecuali hari libur nasional (termasuk hari besar) dan cuti bersama.

  • Senin-Kamis 08.30-18.00 WIB
  • Jum’at 09.00-18.00 WIB
    • Kuota antrian layanan keanggotaan 500
  • Sabtu-Minggu 09.00-16.00 WIB
    • Kuota antrian layanan keanggotaan 400

Gallery

Catatan

Di Bulan Ramadhan 1440H/2019, Perpusnas memiliki jadwal berbeda. Terhitung dari tanggal 26 April 2019:

  • Senin-Kamis 07.30-14.30 WIB
    • Jam istirahat 12.00-12.30 WIB
  • Jum’at 07.30-15.00 WIB
    • Jam istirahat 11.30-12.30 WIB
  • Sabtu-Minggu 08.30-14.00 WIB
    • Jam istirahat 12.00-12.30 WIB

Adanya cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1440H/2019 ini, Perpusnas tutup dari tanggal 1-9 Juni dan buka kembali pada tanggal 10 Juni.

Related Link

Gado-gado ala Buk Mar

Membayangkan gado-gado pastinya membawa kita pada aneka sayuran yang telah direbus dan dikuahi dengan kuah kacang yang khas. Dikombinasikan dengan tahu dan tempe, kemudian ditaburi dengan bawang goreng nan gurih dan dengan toping kerupuk nan krispi.

Buat yang sedang berada di area sekitar Terminal Kampung Melayu, bisa membeli gado-gado yang saya maksud di Jl. Otista 1A RT.6/RW.1 no. 12. Gado-gado ini tidak memiliki merk, jadi saya sebut saja sebagai gado-gado ala Buk Mar, sesuai dengan nama penjualnya.

Para pendatang banyak yang tak mengira kalau tempat yang pernah dilewatinya ternyata gado-gado Buk Mar. Lokasinya ada di samping rumah beliau, yang juga di pinggir jalan perumahan setempat, menepi sebuah meja ukuran sedang dengan sebuah lemari kaca kecil dan ulekan diatasnya.

Rumah Buk Mar hanya berjarak sekitar satu rumah dari Masjid Muhammadiyah Al-Ishlah. Jadi jangan heran, gado-gado ini, bahkan juga kredok; bakal laris-manis, terutama di hari jum’at.

Buk Mar membuka warung mungilnya setiap hari, mulai dari pukul 07:30 WIB sampai dagangannya habis.

Porsi gado-gado yang beliau jual menurut saya cukup gede, bisa untuk makan 2 orang. Bisa request level pedas. Dan, harganya ekonomis! Rp 8.000,-/porsi.

Resep Gado-gado ala Buk Mar

Mau tau resep gado-gado ala Buk Mar? Ini dia:

Bahan

  • Cabe keriting & rawit
  • Garam
  • Terasi
  • Air jeruk
  • Kacang yang telah digiling halus
  • Gula aren
  • Tempe goreng
  • Tahu goreng
  • Sayur rebus: Kol, kangkung, toge, kacang panjang, labu siam (sayur japan)
  • Bawang goreng
  • Kerupuk

Alat

  • Set ulekan/cobek/batu giling cabe rawit, cabe keriting, garam dan terasi secukupnya sampai halus.
  • Tambahkan kacang giling, gula aren dan air jeruk sesuai selera.
  • Ulek/giling hingga halus dan aduk rata.
  • Potong tempe dan tahu. Tambahkan sayur rebus.
  • Aduk rata.
  • Pindahkan ke wadah.
  • Taburi dengan bawang goreng.
  • Tambahkan kerupuk.
  • Sajikan.

Cara

  • Ulek/giling cabe
  • Spatula
  • Wadah

Kamus

  • Gado-gado = Sayur rebus yang dikuahi dengan saus kacang.
  • Kredok = Mirip dengan gado-gado, hanya saja bahannya adalah sayur mentah.

Gallery

  • Instagram: #jejaklangkaho @olha_chayo 👉 Gado-gado ala Buk Mar (soon)
  • Youtube: Olha Chayo 👉 Gado-gado ala Buk Mar

Kue Keranjang

Kue Keranjang awalnya dibuat oleh suku Tionghoa dan punya nama asli Nian Gao atau Ti Kwe sebagai kue tahunan yg boleh dibilang wajib ada di Tahun Baru Imlek. Kue ini biasanya dimakan pada Cap Go Meh (malam ke-15 tahun baru imlek). Karenanya, kue ini punya makna tersendiri bagi orang-orang Tionghoa (Wikipedia).

“Kok mirip dodol, ya??” Ternyata, ini memang dodol, dodol cina.

“Kok namanya kue keranjang, ya?!” Diambil dari nama wadah pencetaknya yg menyerupai keranjang.

Gallery

Referensi

  • Wikipedia, diakses pada 12 Februari 2019.

Bakso Lontong di Kampung Melayu

Buat pecinta bakso malang, kudu nyobain menu yang satu ini. Beda!!

Bakso malang versi ini tidak pake mie, tapi pake lontong. Makanya gerobak bakso ini dinamai dengan Bakso Lontong.

Seporsi lengkap terdiri dari bakso, tahu bakso, tahu rebus, sejenis pangsit rebus atau dimsum berisi aci, dan lontong; ditambah dengan toping pangsit goreng. (Ngeliat aja udah ngiller 😋👍👍)

Uniknya, ketika minta “nggak pake micin ya, bang”. Dengan ramah abang tukang bakso optimis ngejawab “emang enggak pake micin” Luar biasa!! Udah enak, harga ekonomis, sehat lagi 😁👍👍

Dengan merogoh kocek Rp 12.000,- saja, semangkok bakso lontong bisa dilahap, maknyus!! Pembelipun boleh request, mau kombinasi yang mana aja (harga berubah sesuai kombinasi yang diminta).

Bakso nan laris manis ini suka mangkal di depan Alfamart J810 Jatinegara Barat 2, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Bagi yang penasaran, kudu datang kesini pukul 1-an, karena abangnya cuma mangkal dari jam 1 s/d jam 2 doang.

Gallery

  • Instagram: #jejaklangkaho @olha_chayo 👉 Bakso Lontong

Kumpul Bareng Penikmat Kopi

Hari ini saya diajakin ngopi di warung kopi aceh yang ternyata tidak hanya menjual kopi gayo saja, tapi juga berbagai jenis kopi dan aneka makanan yang pastinya maknyus dengan menu yang selalu diperbaharui.

Warung kopi ini bernama Rumoeh Kupie yang diambil dari bahasa Aceh dan bila dibahasaindonesiakan tidak terlalu jauh berbeda: Rumah Kopi.

Karena namanya nan unik itu, saya sempat sulit menemukan lokasinya di GPS. Bahkan, ketika ingin memesan transportasi onlinepun, saya tidak bisa menemukan warung yang dimaksud. Padahal, menurut info yang saya dapat, warung ini berada di Perumahan Sentosa Blok EF Cikarang Selatan di sebelah Abyan Toys.

Titik terang mulai muncul ketika saya menelusuri pencarian via google map Abyan Toys. Ternyata, penulisan nama warungnyalah yang salah. Harusnya Rumoeh Kupie, bukan Roemah Kopie, haha..

Akses ke Rumoeh Kupie

Perjalanan dari Giant Jababeka menuju Rumoeh Kupie dengan transportasi online memakan waktu sekitar 20 menitan. Ongkos relatif.

Lokasi berada di samping Abyan Toys dan tidak mencantumkan merk Rumoeh Kupie didepannya, malah terlihat seperti restoran aneka kuliner. Disampingnya ada sekitar 4 saung yang memberi kesan tradisional tapi modern.

Fasilitas

Bagi yang muslim, ada mushalla minimalis yang bangunannya juga berbentuk saung lengkap dengan pakaian ibadah seperti mukena buat perempuan. Ada tempat makan biasa (meja & kursi), tempat makan di saung (gazebo) dan toilet.

Ngopi Hari Ini

Disini ada saya, orang indonesia yang saya panggil sensei, nihonjin (orang jepang) yang sedang belajar bahasa indonesia dan owner Rumoeh Kupie yang asli Aceh dan ramah banget.

Kami 50:50. Kebetulan saya dan sensei adalah orang yang sangat awam tentang kopi. Berbeda dengan nihonjin & owner yang super-duper kopi lovers!! Sampai ke rasa kopi yang beda tipispun bisa dibedain, luar biasa!

Berbagai Hal Tentang Kopi

Hari ini di Rumoeh Kupie, saya belajar banyak hal tentang kopi, terutama dari owner.

Saya tidak pernah membayangkan dari kopi yang saya pikir hanyalah sebuah minuman ternyata banyak sekali hal-hal yang membuatnya spesial dimata para pecintanya; mulai dari pengolahan, cita rasa, penyajian, bahkan sejarahnya!

Ternyata, semua kopi asalnya dari Afrika. Belandalah yang membawanya ke berbagai tempat, termasuk Indonesia.

Kopi itu banyak banget jenisnya. Bahkan untuk jenis yang samapun masih ada banyak hal yang membuatnya jadi berbeda. Contohnya saja Kopi Gayo, direkomendasiin owner yang premium. Sebaliknya, beliau tidak merekomendasikan Kopi Gayo yang robusta (katanya nih, kopi yang tumbuh di dekat pantai).

Untuk menyimpan kopi dalam waktu lama, sebaiknya disimpan dalam bentuk biji kopi. Karena kalau sudah digiling atau djadikan bubuk kopi, rasanya akan berkurang.

Untuk menjadi seorang ahli kopi, ada sebuah tes yang disebut coffee testing. Tes ini digunakan untuk mengidentifikasi aroma, cita rasa, keasaman & kepekatan kopi. 5 menit setelah diseduh langsung diminum. Mulai dari satu persatu sampai dicampur, harus bisa membedakan.

Saat meminum kopipun ada waktu penyeduhannya. Seperti tadi ketika nihonjin meminum Kopi Papua, ditunggu 4 menit, baru diseruput.

Sensei langsung berkomentar “diseruput ya?” Ternyata, owner bilang memang demikian seharusnya dan beliau menjelaskan dengan cukup rinci. Namun karena dasarnya saya dan sensei memang bukan penggemar kopi, kami hanya mendengar tapi sulit memahami.

Untuk Kopi Papua, menurut nihonjin nomiyasui (mudah diminum). Bisa diminum setiap pagi. Beda dengan Kopi Gayo yang mempunyai rasa agak manis (tanpa ditambahkan gula), yang sebaiknya dinikmati ketika santai sambil mendengarkan musik dan nyemil.

Ketika saya di Jepang, kopi indonesia yang paling terkenal dan paling sering ditemui adalah Kopi Toraja. Saking populernya disana, sampai dibuka kohiya (warung kopi) khusus Kopi Toraja dan bisa ditemui di beberapa tempat. Selain itu, ada Kopi Jawa, Kopi Sumatra, dll.

Kali ini untuk pertama kalinya, saya yang orang Indonesia akhirnya mencoba Kopi Gayo yang premium sesuai rekomendasi owner yang sebenarnya ditujukan pada nihonjin.

Setelah saya tekan tombol seduhan, kopi gayo premium saya tuang ke cangkir. Alih-alih penasaran dengan cerita owner yang bilang kopi ini sudah manis tanpa dikasih gula, saya langsung menyicipinya dengan sendok khusus.

Eng ing eng.. di luar ekspektasi! Manis dari mananya ya?! Yang ada hanya rasa kopi, hambar, pekat..

Saya menyerah, saya masukkan sebungkus gula sasetan. Buru-buru saya minum, berharap rasanya manis dan sesuai selera (pengen nyobain diseruput, tapi tetep aja nggak ada yang berbeda?!). Sebungkus gula yang diberikan nihonjinpun saya tambahkan, baru terasa pas manis & rasa kopinya.

Semua menertawakan saya. Katanya, kalau kopi sudah ditambahkan gula, udah bukan kopi lagi namanya, cita-rasanya sudah hilang..

Untuk kopi gayo, biasanya, ditambahkan dengan susu (bukan yang kental manis) atau fresh milk. Tapi menurut owner, bagi ibu-ibu yang sering mangkal disana suka sekali memesan kopi gayo dengan susu kental manis. (Balik lagi, berarti ibu-ibunya sama dengan saya, awam dengan kopi, hee).

Untuk menikmati kopi, setelah diseduh segera diminum habis. Karena jika kopi sudah dingin, cita-rasanya akan berbeda.

Dari nihonjin saya baru tau bahwa ternyata sebenarnya jepang juga punya produksi kopi, lho.. Hanya saja tidak terkenal seperti kopi lainnya. Karena cuaca jepang yang sejuk, sementara kopi sebaiknya tumbuh di daerah panas (tropis).

Hunting Kuliner

Bukan cuma kopi saja. Disini juga ada aneka menu kuliner maknyus, seperti nasi goreng, dim sum & martabak aceh.

Gallery

Catatan

Ini hanya sebagian kecil dari kopi, masih ada banyak hal yang kita orang awam hanya akan melongo mendengarnya, saking spesifiknya.

Dari sinilah wawasan saya semakin terbuka tentang kopi. Banyak sekali informasi yang saya dapat, hanya saja dalam waktu singkat untuk memahami kopi yang ternyata punya cakupan luas itu sangat sulit; saya harap pembaca bisa kasih saran & kritik yang positif yaa..😆

すだち (Sudachi)

Selain satsumaimo, Tokushima punya hasil pertanian andalan lainnya yang sangat familiar dengan sebutan sudachi. Dan, jeruk nipis khas tokushima ini tak hanya dikenal sebagai hasil tani belaka, tapi lebih terkenal sebagai icon-nya tokushima yang bernama sudachi-kun, icon manusia berkepala sudachi dengan pakaian awa odori laki-laki.

Bagi para pelancong, sudachi menjadi salah satu souvenir yang kudu diboyong sebagai omiyage dari tanah awa (tokushima).


Di musim panas ini, sudachi bakal banyak dijumpai di berbagai supermarket, mulai dari versi original (dalam bentuk buah) hingga produk olahan (jus, snack, permen, dll). Rata-rata dijual lebih murah dan sudah dipaket dalam jumlah yang cukup banyak.


Panas-panas begini enaknya minum yang fresh. Tak mau ribet, bisa beli; tapi kalau mau berkreasi, bikin minuman yang gampang aja, kaya vitamin C dan maknyuss, apalagi kalau bukan es jeruk nipis 🍹😋👇


Es Jeruk Nipis

  • Bahan:
    • Jeruk nipis
    • Gula pasir
    • Air hangat
    • Es batu
  • Cara:
    • Peras jeruk nipis
    • Tuang air hangat
    • Tambahkan gula
    • Aduk
    • Tambahkan es batu

Gallery


Kamus

  • すだち /sudachi/ Jeruk nipis khas Tokushima
  • さつまいも /satsumaimo/ Ubi ungu yang bagian dalamnya kuning dengan rasa yang manis
  • 阿波踊り /awa odori/ Tarian khas Tokushima
  • お土産 /omiyage/ Oleh-oleh atau souvenir

Tokushima Station 🔜 Anan Station

Di Tokushima Station

  • Akses dengan kereta api ada 2 macam, 普通列車 dan 特急
  • Loket JR四国 ada di lantai 1 Clement
  • Dari 徳島駅 (Tokushima Station), JR menuju 阿南駅 (Anan Station) ini berlawanan arah dengan 倉本駅 (Kuramoto Station)
  • Informasi jam keberangkatan ada di layar mungil pojok atas tempat melewati pemeriksaan tiket.
  • Perlihatkan tiket ke petugas di loket untuk distempel.

普通列車 (Local Trains/Kereta biasa)

  • Tiket Â¥550 beli di 自動販売機 (mesin penjualan otomatis)
  • Jalur: JR牟岐ライン (JR Mugi Line), Platform 4
  • 各停 (Berhenti di setiap stasiun)
  • Rute:
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station)
    • 二軒屋駅 (Niken-Ya Station)
    • 文化の森駅 (Bunkanomori Station)
    • 地蔵橋駅 (Jizoubashi Station)
    • 中田駅 (Chuden Station)
    • 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station)
    • 阿波赤石駅 (Awa-Akaishi Station)
    • 立江駅 (Tatsue Station)
    • 羽ノ浦駅 (Hanoura Station)
    • 西原駅 (Nishibara Station)
    • 阿波中島駅 (Awa-Nakashima Station)
    • 阿南駅 (Anan Station)
  • Waktu yang dibutuhkan sekitar 42 menit
    • 徳島駅 (Tokushima Station) 🔜 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) ⏱ 2 menit
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) 🔜 二軒屋駅 (Niken-Ya Station) ⏱ 3 menit
    • 二軒屋駅 (Niken-Ya Station 🔜 文化の森駅 (Bunkanomori Station) ⏱ 3 menit
    • 文化の森駅 (Bunkanomori Station) 🔜 地蔵橋駅 (Jizoubashi Station) ⏱ 4 menit
    • 地蔵橋駅 (Jizoubashi Station) 🔜 中田駅 (Chuden Station) ⏱ 4 menit
    • 中田駅 (Chuden Station) 🔜 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station) ⏱ 4 menit
    • 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station) 🔜 阿波赤石駅 (Awa-Akaishi Station) ⏱ 4 menit
    • 阿波赤石駅 (Awa-Akaishi Station) 🔜 立江駅 (Tatsue Station) ⏱ 3 menit
    • 立江駅 (Tatsue Station) 🔜 羽ノ浦駅 (Hanoura Station) ⏱ 3 menit
    • 羽ノ浦駅 (Hanoura Station) 🔜 西原駅 (Nishibara Station) ⏱ 4 menit
    • 西原駅 (Nishibara Station) 🔜 阿波中島駅 (Awa-Nakashima Station) ⏱ 3 menit
    • 阿波中島駅 (Awa-Nakashima Station) 🔜 阿南駅 (Anan Station) ⏱ 4 menit

特急 (Limited Express/Kereta Cepat)

  • Jalur: 剣山室戸 (Taurugisan-Muroto Line)
  • Tiket Â¥1.400 beli langsung ke petugas di loket
  • 徳島駅 (Tokushima Station) – 阿南駅 (Anan Station) – 海部駅 (Kaifu Station)
  • Rute:
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station)
    • 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station)
    • 羽ノ浦駅 (Hanoura Station)
    • 阿南駅 (Anan Station)
  • Waktu yang dibutuhkan sekitar 27 meni
    • 徳島駅 (Tokushima Station) 🔜 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) ⏱ 2 menit
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) 🔜 南小松島 (Minami-Komatsushima Station) ⏱ 10 menit
    • 南小松島 (Minami-Komatsushima Station) 🔜羽ノ浦 (Hanoura Station) ⏱ 8 menit
    • 羽ノ浦 (Hanoura Station) 🔜 阿南駅 (Anan Station) ⏱ 7 menit

Di Anan Station

  • Turun di Anan Station, naiki tangga, serahkan tiket ke petugas di loket, naik lif dan turun menuju pintu keluar

普通列車 vs 特急

  • Dari nama aja udah beda:
    • 普通列車 (Local Trains/Kereta biasa)
    • 特急 (Limited Express/Kereta Cepat)
  • Kalau mau cepat, pilih 特急. Memang sedikit merogoh kocek tapi lebih efisien dari segi waktu.
  • Kalau mau irit, pilih 普通列車. Murah meriah dan nyante, harganya ekonomis. Tapi cukup memakan waktu, karena kudu singgah sejenak di setiap stasiun.

Kamus

  • クレメント (Clement), nama bangunan di Tokushima Station yang memiliki fasilitas hotel, shopping center, aneka restoran, toko omiyage (oleh-oleh), loket & stasiun JR, dll.
  • 自動販売機 /jidouhanbaiki/ Mesin penjualan otomatis
  • 牟岐線 /mugi-sen/ Mugi Line
  • 阿波室戸シーサイドライン
  • 各停 /kakutei/ Berhenti setiap kali
  • 駅 /eki/ Station (Stasiun)
  • JR (Japan Rail) | Kerete api jepang
  • 窓口 /madoguchi/ Loket

Rekomendasi Link