Arsip Kategori: Merantau

Kue Keranjang

Kue Keranjang awalnya dibuat oleh suku Tionghoa dan punya nama asli Nian Gao atau Ti Kwe sebagai kue tahunan yg boleh dibilang wajib ada di Tahun Baru Imlek. Kue ini biasanya dimakan pada Cap Go Meh (malam ke-15 tahun baru imlek). Karenanya, kue ini punya makna tersendiri bagi orang-orang Tionghoa (Wikipedia).

“Kok mirip dodol, ya??” Ternyata, ini memang dodol, dodol cina.

“Kok namanya kue keranjang, ya?!” Diambil dari nama wadah pencetaknya yg menyerupai keranjang.

Gallery

Referensi

  • Wikipedia, diakses pada 12 Februari 2019.
Iklan

Bakso Lontong di Kampung Melayu

Buat pecinta bakso malang, kudu nyobain menu yang satu ini. Beda!!

Bakso malang versi ini tidak pake mie, tapi pake lontong. Makanya gerobak bakso ini dinamai dengan Bakso Lontong.

Seporsi lengkap terdiri dari bakso, tahu bakso, tahu rebus, sejenis pangsit rebus atau dimsum berisi aci, dan lontong; ditambah dengan toping pangsit goreng. (Ngeliat aja udah ngiller 😋👍👍)

Uniknya, ketika minta “nggak pake micin ya, bang”. Dengan ramah abang tukang bakso optimis ngejawab “emang enggak pake micin” Luar biasa!! Udah enak, harga ekonomis, sehat lagi 😁👍👍

Dengan merogoh kocek Rp 12.000,- saja, semangkok bakso lontong bisa dilahap, maknyus!! Pembelipun boleh request, mau kombinasi yang mana aja (harga berubah sesuai kombinasi yang diminta).

Bakso nan laris manis ini suka mangkal di depan Alfamart J810 Jatinegara Barat 2, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Bagi yang penasaran, kudu datang kesini pukul 1-an, karena abangnya cuma mangkal dari jam 1 s/d jam 2 doang.

Gallery

Kumpul Bareng Penikmat Kopi

Hari ini saya diajakin ngopi di warung kopi aceh yang ternyata tidak hanya menjual kopi gayo saja, tapi juga berbagai jenis kopi dan aneka makanan yang pastinya maknyus dengan menu yang selalu diperbaharui.

Warung kopi ini bernama Rumoeh Kupie yang diambil dari bahasa Aceh dan bila dibahasaindonesiakan tidak terlalu jauh berbeda: Rumah Kopi.

Karena namanya nan unik itu, saya sempat sulit menemukan lokasinya di GPS. Bahkan, ketika ingin memesan transportasi onlinepun, saya tidak bisa menemukan warung yang dimaksud. Padahal, menurut info yang saya dapat, warung ini berada di Perumahan Sentosa Blok EF Cikarang Selatan di sebelah Abyan Toys.

Titik terang mulai muncul ketika saya menelusuri pencarian via google map Abyan Toys. Ternyata, penulisan nama warungnyalah yang salah. Harusnya Rumoeh Kupie, bukan Roemah Kopie, haha..

Akses ke Rumoeh Kupie

Perjalanan dari Giant Jababeka menuju Rumoeh Kupie dengan transportasi online memakan waktu sekitar 20 menitan. Ongkos relatif.

Lokasi berada di samping Abyan Toys dan tidak mencantumkan merk Rumoeh Kupie didepannya, malah terlihat seperti restoran aneka kuliner. Disampingnya ada sekitar 4 saung yang memberi kesan tradisional tapi modern.

Fasilitas

Bagi yang muslim, ada mushalla minimalis yang bangunannya juga berbentuk saung lengkap dengan pakaian ibadah seperti mukena buat perempuan. Ada tempat makan biasa (meja & kursi), tempat makan di saung (gazebo) dan toilet.

Ngopi Hari Ini

Disini ada saya, orang indonesia yang saya panggil sensei, nihonjin (orang jepang) yang sedang belajar bahasa indonesia dan owner Rumoeh Kupie yang asli Aceh dan ramah banget.

Kami 50:50. Kebetulan saya dan sensei adalah orang yang sangat awam tentang kopi. Berbeda dengan nihonjin & owner yang super-duper kopi lovers!! Sampai ke rasa kopi yang beda tipispun bisa dibedain, luar biasa!

Berbagai Hal Tentang Kopi

Hari ini di Rumoeh Kupie, saya belajar banyak hal tentang kopi, terutama dari owner.

Saya tidak pernah membayangkan dari kopi yang saya pikir hanyalah sebuah minuman ternyata banyak sekali hal-hal yang membuatnya spesial dimata para pecintanya; mulai dari pengolahan, cita rasa, penyajian, bahkan sejarahnya!

Ternyata, semua kopi asalnya dari Afrika. Belandalah yang membawanya ke berbagai tempat, termasuk Indonesia.

Kopi itu banyak banget jenisnya. Bahkan untuk jenis yang samapun masih ada banyak hal yang membuatnya jadi berbeda. Contohnya saja Kopi Gayo, direkomendasiin owner yang premium. Sebaliknya, beliau tidak merekomendasikan Kopi Gayo yang robusta (katanya nih, kopi yang tumbuh di dekat pantai).

Untuk menyimpan kopi dalam waktu lama, sebaiknya disimpan dalam bentuk biji kopi. Karena kalau sudah digiling atau djadikan bubuk kopi, rasanya akan berkurang.

Untuk menjadi seorang ahli kopi, ada sebuah tes yang disebut coffee testing. Tes ini digunakan untuk mengidentifikasi aroma, cita rasa, keasaman & kepekatan kopi. 5 menit setelah diseduh langsung diminum. Mulai dari satu persatu sampai dicampur, harus bisa membedakan.

Saat meminum kopipun ada waktu penyeduhannya. Seperti tadi ketika nihonjin meminum Kopi Papua, ditunggu 4 menit, baru diseruput.

Sensei langsung berkomentar “diseruput ya?” Ternyata, owner bilang memang demikian seharusnya dan beliau menjelaskan dengan cukup rinci. Namun karena dasarnya saya dan sensei memang bukan penggemar kopi, kami hanya mendengar tapi sulit memahami.

Untuk Kopi Papua, menurut nihonjin nomiyasui (mudah diminum). Bisa diminum setiap pagi. Beda dengan Kopi Gayo yang mempunyai rasa agak manis (tanpa ditambahkan gula), yang sebaiknya dinikmati ketika santai sambil mendengarkan musik dan nyemil.

Ketika saya di Jepang, kopi indonesia yang paling terkenal dan paling sering ditemui adalah Kopi Toraja. Saking populernya disana, sampai dibuka kohiya (warung kopi) khusus Kopi Toraja dan bisa ditemui di beberapa tempat. Selain itu, ada Kopi Jawa, Kopi Sumatra, dll.

Kali ini untuk pertama kalinya, saya yang orang Indonesia akhirnya mencoba Kopi Gayo yang premium sesuai rekomendasi owner yang sebenarnya ditujukan pada nihonjin.

Setelah saya tekan tombol seduhan, kopi gayo premium saya tuang ke cangkir. Alih-alih penasaran dengan cerita owner yang bilang kopi ini sudah manis tanpa dikasih gula, saya langsung menyicipinya dengan sendok khusus.

Eng ing eng.. di luar ekspektasi! Manis dari mananya ya?! Yang ada hanya rasa kopi, hambar, pekat..

Saya menyerah, saya masukkan sebungkus gula sasetan. Buru-buru saya minum, berharap rasanya manis dan sesuai selera (pengen nyobain diseruput, tapi tetep aja nggak ada yang berbeda?!). Sebungkus gula yang diberikan nihonjinpun saya tambahkan, baru terasa pas manis & rasa kopinya.

Semua menertawakan saya. Katanya, kalau kopi sudah ditambahkan gula, udah bukan kopi lagi namanya, cita-rasanya sudah hilang..

Untuk kopi gayo, biasanya, ditambahkan dengan susu (bukan yang kental manis) atau fresh milk. Tapi menurut owner, bagi ibu-ibu yang sering mangkal disana suka sekali memesan kopi gayo dengan susu kental manis. (Balik lagi, berarti ibu-ibunya sama dengan saya, awam dengan kopi, hee).

Untuk menikmati kopi, setelah diseduh segera diminum habis. Karena jika kopi sudah dingin, cita-rasanya akan berbeda.

Dari nihonjin saya baru tau bahwa ternyata sebenarnya jepang juga punya produksi kopi, lho.. Hanya saja tidak terkenal seperti kopi lainnya. Karena cuaca jepang yang sejuk, sementara kopi sebaiknya tumbuh di daerah panas (tropis).

Hunting Kuliner

Bukan cuma kopi saja. Disini juga ada aneka menu kuliner maknyus, seperti nasi goreng, dim sum & martabak aceh.

Gallery

Catatan

Ini hanya sebagian kecil dari kopi, masih ada banyak hal yang kita orang awam hanya akan melongo mendengarnya, saking spesifiknya.

Dari sinilah wawasan saya semakin terbuka tentang kopi. Banyak sekali informasi yang saya dapat, hanya saja dalam waktu singkat untuk memahami kopi yang ternyata punya cakupan luas itu sangat sulit; saya harap pembaca bisa kasih saran & kritik yang positif yaa..😆

すだち (Sudachi)

Selain satsumaimo, Tokushima punya hasil pertanian andalan lainnya yang sangat familiar dengan sebutan sudachi. Dan, jeruk nipis khas tokushima ini tak hanya dikenal sebagai hasil tani belaka, tapi lebih terkenal sebagai icon-nya tokushima yang bernama sudachi-kun, icon manusia berkepala sudachi dengan pakaian awa odori laki-laki.

Bagi para pelancong, sudachi menjadi salah satu souvenir yang kudu diboyong sebagai omiyage dari tanah awa (tokushima).


Di musim panas ini, sudachi bakal banyak dijumpai di berbagai supermarket, mulai dari versi original (dalam bentuk buah) hingga produk olahan (jus, snack, permen, dll). Rata-rata dijual lebih murah dan sudah dipaket dalam jumlah yang cukup banyak.


Panas-panas begini enaknya minum yang fresh. Tak mau ribet, bisa beli; tapi kalau mau berkreasi, bikin minuman yang gampang aja, kaya vitamin C dan maknyuss, apalagi kalau bukan es jeruk nipis 🍹😋👇


Es Jeruk Nipis

  • Bahan:
    • Jeruk nipis
    • Gula pasir
    • Air hangat
    • Es batu
  • Cara:
    • Peras jeruk nipis
    • Tuang air hangat
    • Tambahkan gula
    • Aduk
    • Tambahkan es batu

Gallery


Kamus

  • すだち /sudachi/ Jeruk nipis khas Tokushima
  • さつまいも /satsumaimo/ Ubi ungu yang bagian dalamnya kuning dengan rasa yang manis
  • 阿波踊り /awa odori/ Tarian khas Tokushima
  • お土産 /omiyage/ Oleh-oleh atau souvenir

Tokushima Station 🔜 Anan Station

Di Tokushima Station

  • Akses dengan kereta api ada 2 macam, 普通列車 dan 特急
  • Loket JR四国 ada di lantai 1 Clement
  • Dari 徳島駅 (Tokushima Station), JR menuju 阿南駅 (Anan Station) ini berlawanan arah dengan 倉本駅 (Kuramoto Station)
  • Informasi jam keberangkatan ada di layar mungil pojok atas tempat melewati pemeriksaan tiket.
  • Perlihatkan tiket ke petugas di loket untuk distempel.

普通列車 (Local Trains/Kereta biasa)

  • Tiket ¥550 beli di 自動販売機 (mesin penjualan otomatis)
  • Jalur: JR牟岐ライン (JR Mugi Line), Platform 4
  • 各停 (Berhenti di setiap stasiun)
  • Rute:
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station)
    • 二軒屋駅 (Niken-Ya Station)
    • 文化の森駅 (Bunkanomori Station)
    • 地蔵橋駅 (Jizoubashi Station)
    • 中田駅 (Chuden Station)
    • 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station)
    • 阿波赤石駅 (Awa-Akaishi Station)
    • 立江駅 (Tatsue Station)
    • 羽ノ浦駅 (Hanoura Station)
    • 西原駅 (Nishibara Station)
    • 阿波中島駅 (Awa-Nakashima Station)
    • 阿南駅 (Anan Station)
  • Waktu yang dibutuhkan sekitar 42 menit
    • 徳島駅 (Tokushima Station) 🔜 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) ⏱ 2 menit
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) 🔜 二軒屋駅 (Niken-Ya Station) ⏱ 3 menit
    • 二軒屋駅 (Niken-Ya Station 🔜 文化の森駅 (Bunkanomori Station) ⏱ 3 menit
    • 文化の森駅 (Bunkanomori Station) 🔜 地蔵橋駅 (Jizoubashi Station) ⏱ 4 menit
    • 地蔵橋駅 (Jizoubashi Station) 🔜 中田駅 (Chuden Station) ⏱ 4 menit
    • 中田駅 (Chuden Station) 🔜 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station) ⏱ 4 menit
    • 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station) 🔜 阿波赤石駅 (Awa-Akaishi Station) ⏱ 4 menit
    • 阿波赤石駅 (Awa-Akaishi Station) 🔜 立江駅 (Tatsue Station) ⏱ 3 menit
    • 立江駅 (Tatsue Station) 🔜 羽ノ浦駅 (Hanoura Station) ⏱ 3 menit
    • 羽ノ浦駅 (Hanoura Station) 🔜 西原駅 (Nishibara Station) ⏱ 4 menit
    • 西原駅 (Nishibara Station) 🔜 阿波中島駅 (Awa-Nakashima Station) ⏱ 3 menit
    • 阿波中島駅 (Awa-Nakashima Station) 🔜 阿南駅 (Anan Station) ⏱ 4 menit

特急 (Limited Express/Kereta Cepat)

  • Jalur: 剣山室戸 (Taurugisan-Muroto Line)
  • Tiket ¥1.400 beli langsung ke petugas di loket
  • 徳島駅 (Tokushima Station) – 阿南駅 (Anan Station) – 海部駅 (Kaifu Station)
  • Rute:
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station)
    • 南小松島駅 (Minami-Komatsushima Station)
    • 羽ノ浦駅 (Hanoura Station)
    • 阿南駅 (Anan Station)
  • Waktu yang dibutuhkan sekitar 27 meni
    • 徳島駅 (Tokushima Station) 🔜 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) ⏱ 2 menit
    • 阿波富田駅 (Awa-Tomida Station) 🔜 南小松島 (Minami-Komatsushima Station) ⏱ 10 menit
    • 南小松島 (Minami-Komatsushima Station) 🔜羽ノ浦 (Hanoura Station) ⏱ 8 menit
    • 羽ノ浦 (Hanoura Station) 🔜 阿南駅 (Anan Station) ⏱ 7 menit

Di Anan Station

  • Turun di Anan Station, naiki tangga, serahkan tiket ke petugas di loket, naik lif dan turun menuju pintu keluar

普通列車 vs 特急

  • Dari nama aja udah beda:
    • 普通列車 (Local Trains/Kereta biasa)
    • 特急 (Limited Express/Kereta Cepat)
  • Kalau mau cepat, pilih 特急. Memang sedikit merogoh kocek tapi lebih efisien dari segi waktu.
  • Kalau mau irit, pilih 普通列車. Murah meriah dan nyante, harganya ekonomis. Tapi cukup memakan waktu, karena kudu singgah sejenak di setiap stasiun.

Kamus

  • クレメント (Clement), nama bangunan di Tokushima Station yang memiliki fasilitas hotel, shopping center, aneka restoran, toko omiyage (oleh-oleh), loket & stasiun JR, dll.
  • 自動販売機 /jidouhanbaiki/ Mesin penjualan otomatis
  • 牟岐線 /mugi-sen/ Mugi Line
  • 阿波室戸シーサイドライン
  • 各停 /kakutei/ Berhenti setiap kali
  • 駅 /eki/ Station (Stasiun)
  • JR (Japan Rail) | Kerete api jepang
  • 窓口 /madoguchi/ Loket

Rekomendasi Link

  • Website resmi JR四国 dalam bahasa inggris, korea & cina.

Pulang Kampuang 2018 (Bagian 1)

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba 😇 Padahal, menjelang hari ini butuh perjuangan rada sengit! 😬 Yah, begitulah nikmatnya merantau, kita belajar menghadapi segala sesuatu yang sering tak terduga 😜

Ini penerbangan internasional mandiri perdana (ribet nyebutnya 😆) saya nih.. Sebelum hari-H, saya udah survey sana-sini, mulai dari tempat turun bus, cara masuk bandara jepang, tempat wrapping, gate, dll. Saya telah mencatatnya dengan sangat rinci, takut sewaktu-waktu nyasar dan malah ketinggalan pesawat 😜

“Cinta Produk Dalam Negeri” Saya Pilih GARUDA

Memang banyak pesawat yang bisa dipilih untuk penerbangan Indonesia-Jepang. Tapi, bagi saya hanya ada 2 rekomendasi terbaik yaitu GARUDA atau JAL (Japan Airlines, GARUDA-nya jepang).

Pertama kali terbang ke jepang, saya sudah menggunakan JAL. Dan, sekarang saya ingin naik GARUDA 🙂 (Sekalipun banyak rekomendasi penerbangan murah dari teman-teman mancanegara, bahkan ada yang benar-benar murah tapi bagasi bayar sendiri 😜).

Kenapa saya pilih GARUDA? Pertama, semboyan “Cinta Produk Dalam Negeri(Saya yakin, maskapai kita ga kalah bagus kok dengan maskapai penerbangan dari negeri sakura) 😁☝🏻Kedua, lebih praktis! GARUDA ada di seluruh indonesia, jadi mau saya sampai pindah-pindah provinsipun ga bakal ribet, karena udah 1 maskapai untuk semua. Udah gitu free bagasipun lumayan 46 kg (belum lagi bisa bawa aneka tentengan ke kabin 😜). Dan, agen tiket langganan perantau di jepang memang yang paling populer juga GARUDA, lho..

Yang paling praktis, untuk pemula seperti saya, bisa konsultasi via chat dengan agen. Mau itu pembayaran, penggunaan GarudaMiles, cara check-in online, pengambilan bagasi yang udah check-in online, dll.

Check-in Sendiri

Meskipun saya tergolong orang yang awam sedunia tentang segala seluk-beluk penerbangan (sampe-sampe, sewaktu agen tiket saya bilang tax free, saya malah dengernya ‘taxpi’, oneng.. oneng..); saya itu pengen nyobain sesuatu yang menurut saya baru (check-in online & GarudaMiles), walaupun ada yang bilang ribet bla bla bla 😬

Saya upload aplikasi Garuda, daftar GarudaMiles, sampe nawarin sendiri ke agen saya kalo saya udah punya GarudaMiles dan minta panduan untuk tiket saya. Saya coba check-in sendiri, pilih tempat duduk sesuai keinginan (bangku kosong cuma tinggal 10 doang euy!! subarashii..), dan.. setelah melewati proses, ternyata mudah dan menyenangkan! Jadi semakin PeDe nih..

Sewaktu check-in online, untuk penerbangan Osaka Kansai International 🔜 Denpasar-Bali Ngurah Rai, maskapai GA883, seats-nya 2-4-2, saya pilih di 38G. Padahal saya pengen duduk dekat jendela, tapi udah full 😬 Alih-alih mau liat Gunung Fuji (lewat aja kagak 😆). Lalu, untuk Denpasar-Jogja, maskapai GA255, saya ngikutin bangku yang udah direkomendasiin aja di seats 21A, samping jendela 😜 (udah cam anak-anak nak piknik ajee).

Persiapan Omiyage

Namanya juga mudik (sekali seabad 😜), pulang kampung tanpa buah tangan itu kok ya hambar ya rasanya (macem iyee aje 🤣). Saya udah titip nih dari 3 bulan sebelumnya sama Tanaka Sensei (beliau udah kayak mak nya kite ☺️). Kebetulan rumah beliau deket dengan Supermarket DIO yang harga produknya sedikit lebih miring dari supermarket terdekat dari shelter kami. Biasanya yang dibeli disini aneka coklat dan snack-snack. Tapi, buat macha milk, lebih murah saangin di Supermarket KYOEI.

👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇

Bukan endorse lo yee 😬☝🏻siapa tau aja ada teman-teman di Tokushima lagi nyari tempat rekomendasi oleh-oleh 😅

Tokushima 🔜 Osaka

Saking fokusnya dengan persiapan pulang, saya nyaris lupa beli tiket bus!! OMG.. Untungnya, masih punya waktu 2 minggu lagi.. giri-giri.. 😬

Saya mematahkan kegalauan antara cari aman ambil jam paling pagi atau yang bisa nyante ambil bus yang waktunya pas-pasan, akhirnya pilih yang aman (NANKAI BUS 04:45) 😁☝🏻

Di Tokushima, tiket bus bisa dibeli di Tokushima Station tepatnya di bangunan terbawah Daiwa Hotel, di loket bus yang ada di supermarket Takuto, atau di area Tokushima University (lebih murah buat yang ada kartu mahasiswanya). Untuk rute Tokushima Station 🔜 Kansai Airport Terminal 1, PP ¥7.400.

Katanya nih, harga tiket bus selain tergantung waktu pemesanan (jauh-jauh hari lebih murah), juga tergantung berapa lama kita ninggalin jepang. Lebih dari 2 minggu harga tiket bus lebih mahal. Tapi, saya pribadi tidak mendapatkan info langsung dari loketnya.

Pake Taxi

Dari shelter saya menuju Tokushima Station, saya pesan taxi, makluuum.. jadwal bus di Tokushima itu mulai operasionalnya sekitar pukul 7 🙁 Beda banget dengan di Indonesia (tepatnya di Padang) yang bus kota atau angkot kerennya masih ready sampe jam 10-an atau jam 5 subuh udah berlalu-lalang ria 😁

Sebenernya di Tokushima ini taxi yang paling murah adalah Konpira Taxi, bajet buka pintu hanya ¥410; tapi, saya lebih senang dengan NTS (yang bermarkas di Kuramoto Station itu, lho..🤓), bajet awal ¥560, operator dan sopirnya lebih komunikatif 🙂👍

Selain ini, sebelumnya yang sering dipesen adalah Akuigawa Taxi, hanya saja terkadang untung-untungan, kalo dapet operator bapak-bapak yang ngomongnya kayak kumur-kumur, beuh.. ampun dah, semua kosakata bahasa jepang saia menguap seketika 🤣✌🏻

  • 4:00 (waktu Tokushima). Menuju Tokushima Station dengan NTS Taxi, sopirnya perempuan euy, sampe stasiun kena ¥1760.
  • 4:20 Tokushima Station. Hanya saya makhluk yang terdampar disini 😅 Padahal masih subuh, tapi cuacanya udah panas! Makluuum, cuaca di Tokushima belakangan ini lagi ekstrim, tiba-tiba dingin lalu hujan eh sekarang fuanazz!!

Saya tidak tau kalau bagasi kudu ditaruh di depan pintu masuk ruang tunggu (jam segini belum buka), saya malah gerek-gerek lagi sampe loket tunggu yang ada label Kansai Airport-nya 😬 Untung aja petugas datang ga cuma ngasih tau doang, tapi ikut ngebantuin 😁 Makluum, Saya bawa tiga koper dengan semua size M, L & XL 🤣

  • 4:30 Petugas ngantriin koper, ngasi kode bagasi. Penumpang kedua datang. Kode koper ada 2, yang satu ditempel di koper/bagasi dan yang satu lagi kita yang pegang.
  • 4:33 Bus datang, petugas yang masukin koper (bukan kita).
  • 4:45 Jalan
  • 5:02 Halte Matsushige 1 (松茂1)
  • 5:05 Go.. Bapak yang tadi ngurusin bagasi turun dan tinggal, mungkin udah ga ada yang naik 😬 Mirip dengan sistem bus antar-provinsi di Indonesia yaa.. 😁☝🏻
  • 5:15 (TS5) Highway Naruto
  • 5:16 Go
  • TS4
  • TS3 Sumoto
  • 5:53 …

Mulai ngaco nih catatan perjalanannya, sempat tepar! 😅 Capek buangedh soalnya, belum lagi semalaman begadang gegara paranoid bakal kebablasan 😆

  • 7:45 Nyampe bandara (Kansai Airport).

Bagasi bus diturunkan dan kita liatin ke petugas nomer bagasi. Ambil troli dan masuk bandara. Menurut informasi dari teman saya, gate Garuda itu kecil, belok kiri dan jalan lurus, terus liat yang muka-muka Indonesia.

Tapi sebelum menuju counter Garuda, yang pasti, hal pertama yang saya lakukan setelah turun bus dan ambil bagasi adalah wrapping. Nah, itulah perlunya informasi, saya udah siap-siap nih yang kata si teman wrapping itu harganya mahal sampe ¥5.000 lebih, eh faktanya ¥1.000 kok ☺️ Yokatta.. “Kenapa harus diwrapping?? Padahal koper saya udah bagus kok, ada cover-nya lagi?!” Wrapping bagasi itu biar aman.. Setelah diukur, 2 koper size XL & M saya, kena ¥2000.

  • Garuda GA883, antri di loket F20-F24.

Untuk hari ini saya antri di gate F22 awalnya, eh yang ngantri di depan saya pada bubar dan balik ke F21, saya ikutin.. Ternyata, mereka yang pindah ini penerbangan yang delayed dari kemaren (17/7). Sementara, F22 untuk tempat yang belum check-in & F23 yang udah check-in online (termasuk saya, di layar TV mungil depan konter tertulis Baggage Drop Mobile/Internet Check-in).

  • City Check-in.
  • 8:39 Selesai boarding

Naaah, disini saya memulai aksi.. cari wajah-wajah indo yang bisa diajakin bareng.. Mono soalnya kalo sendirian, masa iya ngomong sama angin?! 😆

Saya beraniin nyapa itu ibuk-ibuk. Eh, ternyata ‘urang awak’!! MasyaAllah.. dunia emang sempit yak 🤩👍👍 Udah beribuk-ibuk ria, mbok ya ga cocok akirnya tak panggil uni dah 😅 Si uni abis liburan bareng keluarga. Meskipun beliau orang padang, mereka sekeluarga udah menetap di Bandung.. Surprisenya lagi, ini uni tetangganya sensei saya semasa masih tinggal di Padang!! 🤓 subarashii..

  • 9:18 Naik train (kereta api).

Saya udah nggak ngandalin catatan mungil, tinggal ngekorin uni sekeluarga nih 😇 Paling enggak, sampe bali bareng terus.. Mulai berasa aman.. 😁

  • 9:23 Sampai.
  • Tunggu di ruang tunggu.
  • 10:31 Antri masuk pesawat.
  • 10:40 Di pesawat, di bangku 38G udah ada air mineral kemasan merk Indonesia!! 🤩 Kangeeen.. 🤣
  • 40.000 kaki di atas permukaan laut, berawan sedikit guncangan (macem pertama kali naik pesawat aja 😆☝🏻).
  • 11:15 Berangkat..
  • 11:30 Pembagian pouch yang didalamnya berisi penutup mata, penutup telinga & kaos kaki. Saya cuma butuh penutup mata buat tidur 😅
  • 13:20 Launch (makan siang)

Kebetulan banget nih, lapeeer!!! Menu perdana saya di Garuda, ada gulai (indonesia bangedh!!) dan shomen (mie dingin ala jepang).

  • 15:20 Pembagian es krim. Hmmm.. yummy.. Es krim merk “meiji” ini boleh nih dikonsumsi bagi para muslim di jepang.
  • Pengumuman sampai di Bali. “Halloo Indonesiaa..” 🙂👋🏻

Welcome to Indonesia

  • 16:20 Mendarat..
  • 16:40 Turun
  • 17:50 (masih waktu Osaka, lupa nyetel jam 😬). Periksa pasport.
  • 17:30 (waktu Bali) Periksa paspor.
  • 17:35 Periksa tiket.

Sempat ngotot sama si uni, saya mau buru-buru coz waktu kita kan cuma sedikit 😅 Padahal, si uni sekeluarga mau ngajakin makan dulu. Saya mbok ya ngeyel 🤣

By the way, kalo udah nyampe Bali, saya punya visi nih, eng ing eng.. MAKAN KFC!!! 🤣🤣 Ga tau nih, ngalah-ngalahin bumil yang lagi ngidam aja. Pokoknya nyampe indo harus makan KFC!! Saya mutusin buat misah dulu dari si uni, sempat ketemu dan kenalan juga dengan rombongan indo lainnya (nikmat-Mu mana lagi yang kan hamba dustakan.. ketemu orang indo yang sama sekali ga kenalpun udah macem ketemu kerabat jauh yang udah lama ga ketemu aja 😇).

Balik lagi, kok KFC sih?! Mungkin, berawal dari waktu itu, pas bulan-bulan pertama sampe di Tokushima. Saya sendirian nih muter-muter di mall. Ga ada yang salah sih, cumaa.. perut saya laper euy! Nemulah KFC.. Halal nggak nih?! Jawabannya pasti enggak dong, kayaknya (karena waktu itu saya dikasih tau sama yang jualan karage, ayam tepung versi jepang, kalo karage itu bikinnya pake sake, saya lihat KFC ala jepang kok kayaknya karage banget ya?!).

Walhasil, bismillah.. Saya ga ada pilihan. Kebetulan waktu itu saya sama sekali belum punya referensi makanan mana aja yang udah boleh buat muslim di food court. Jadi saya belilah itu KFC, berharap rasanya paling enggak mirip sedikitlah sama yang di indo. Beeeuh.. makan 1, saya langsung kenyang.. Ini mah karage bukan KFC 😢 Yaa.. mereka nyesuai-in lah ya di negara mana mereka buka 😬

Pas nungguin barang, kita pada ke TOILET dulu. Baru aja mau masuk gerbang TOILET, aroma khas-nya langsung menyapa diikuti oleh komentar orang jepang di belakang kami “kusai!” sambil menutupi hidungnya. OMG.. Selesai dari TOILET, saya hanya tertegun.. dengan berat hati kasih emoticon ☹️ sesuai sikon TOILET.

  • 18:53 Cek masuk pesawat.

Masih ada waktu! Tapi ga nemu KFC.. ga papa deh, orang masih kenyang juga abis makan di Garuda tadi. Ntar nyampe jogja baru daah, hajjarrr!! 😁☝🏻

  • 19:05 1b boarding.
  • 19:16 Di pesawat.

Perbedaan waktu Bali & Jogja adalah 1 jam lebih lambat di Jogja. Saat ini jam di Bali 07:11 sementara di Jogja 06:12 (lama perjalanan 01:12).

Waktu dapetin snack, ada roti dan saya minta teh hangat. Waaah, tau aja nih saya suka manis, teh hangat yang saya terima dikasih 2 bungkus gula, dan rasanya pas! Saya celupin roti sedikit demi sedikit ke teh manis hangat, makannya nikmatin banget.. gilaaaa… “saya memang udah di indonesia..😇” berasa mimpi!

Sampe-sampe, snack kacang campurnya saya makan sedikit demi sedikit, takut rasa indo-nya hilang dalam sekejap 😂 Terakhir, ingat waktu jajan-jajan disekolahan, pas udah mau habis, sisa-sisa dibungkus plastiknya itu diangkat dan dituang ke mulut sampe ga ada sisa 😆

Karna bawaan saya cukup ribet, pas naik pesawat sampe turun lagi, dibantuin tau sama penumpang bangku belakang. Padahal kabinnya terjangkau dan saya nggak ngomong apa-apa, lho.. Saya terharu, guys.. saya bener-bener udah di indonesia!! Karena bagi saya, dimana-mana hanya orang indonesialah yang begitu, bantuin duluan sebelum diminta tolong. Makin bangga jadi Warga Indonesia 😇 (dimaklumin aja, berle-nya lagi kumat 😅).

Di ruang tunggu, pesawat saya berangkat duluan dari uni. Kita pisah.. Tapi insyaAllah silaturrahim tetap terjalin.. 🙂

  • 21:00 (waktu Jogja) Mendarat.. Dekorasi di Bandara Adisutjipto keren!! Berbagai rupa wayang berjejer di dinding sebelah kanan pintu keluar.
  • 21:08 Ambil bagasi.

Dijemput si bontot.. missed him so much!!😘😘 Gilak, perbandingan saya & unjut bontot ruarr bisah! Udah macem body guard aja nih dia 😆✌🏻

Transportasi Online

Kita menuju penginapan saya dengan transportasi online. Taxi di Bandara sini ga pake argo. Pas ditawar, kebetulan cukup mahal ke lokasi hotel saya.

Penginapan Murah di Jogja

Saya menginap di Hotel Desa Puri Syariah Jogja. Tempatnya nyaman.. 🙂 Recommended nih, bisa jadi referensi buat yang nyari penginapan murah di jogja.. Kamar saya twince dengan bajet Rp 140.000,-.

Fasilitas untuk twince ini ada 2 tempat tidur single, kamar mandi (shower) & TOILET duduk 1 set di dalam kamar (lengkap dengan sabun mandi), wastafel yang udah ready perlengkapan gosok gigi, 2 air mineral gratis (jadi yang kehausan bisa langsung minum 🤣), perlengkapan dan petunjuk shalat buat yang muslim.

Saya sengaja bawa baju pas-pasan, karena ngerasa bakal aman “kan di hotel ada baju ganti?!”. Gelo… gelo.. ngimpi!! 😅

Pesan Makanan Online

Karena udah kemaleman, kita pesan makanan via online aja. Kebetulan yang recommended hanya Aldan yang masih buka, gurame dan sambalnya mantep euy!!

Ini kelebihan indonesia.. kulinernya mantep bisa pesen online lagi.. 😇 Beda banget sama Tokushima yang delivery aja bisa dihitung dan itupun ga bisa kapanpun ☝🏻 Kalo di indonesia, salahsatunya aja di jogja ini, mau hujan badai sekalipun bisa tetep makan enak tinggal pesan online atau delivery. Tapi di jepang, khususnya tokushima, kalo hujan atau lewat waktu (jam bukapun tergantung masing-masing tempat) murii (mustahil), malah ga terima pesanan juga ada, lho..

Penyakit Musiman saat Traveling

Sayangnya.. tenggorokan saya mulai sakit nih.. biasa, kalo udah pindah-pindah tempat suka gitu.. Terancam ga bisa makan enak nih 😢

Uang Baru!!

Karena ada keperluan, saya bareng unjut bontot belanja di minimarket terdekat, tak jauh dari penginapan. Pas menerima kembalian, saya bingung.. 2 tahun ditinggal, uang udah baru semua!! Saya kudu kenalan dulu nih.. Suka cek nominal dulu sebelum bayar-bayar 😅

Kesan

  • Mau di Indonesia kek, Jepang kek, kampuang atau perantauan; tetep pasti ada plus-minus-nya. Mentang-mentang tinggal di negara yang lebih maju, jadi keder dengan negara sendiri, oh NO! Jangan sampai.. 🤓☝🏻

Kamus

  • Kampuang (bahasa minang) = Kampung
  • 徳島駅 /tokushima eki/ = Tokushima Station | Stasiun Tokushima.
  • よかった /yokatta/ = Syukurlah..
  • OMG = Oh My God..
  • Giri-giri berasal dari ぎりぎり時間 /giri-giri jikang/ = Udah mendekati waktunya.
  • お土産 /omiyage/ = Buah tangan/oleh-oleh.
  • Saangin (bahasa minang) = Sedikit.
  • Subarashii (bahasa jepang) = Luar biasa.
  • Mono = Bahasa slank-nya monoton.
  • Murii (bahasa jepang) = Mustahil, ga mungkin, berlebihan.

Ngebolang ke Shinmachigawamizugiwa Park

Shinmachigawamizugiwa Park terletak di jantung kota Tokushima, diantara Awa Odori Kaikan dan Tokushima Station.

Kombinasi alam bergaya modern ini cocok banget untuk tempat refreshing, sekedar melepas penat, atau bahkan piknik bareng keluarga.

Pengunjung disuguhkan pemandangan Sungai Shinmachi nan adem. Sentuhan alam makin kental dengan adanya merpati dan bebek-bebek yang ikut menikmati asrinya suasana taman.

Sesekali melambaikan tangan menyapa mereka yang sedang menikmati Hyotanjima Cruise melintasi Shinmachigawa. Atau, menonton mereka yang sedang berlatih olahraga air, tampak menyenangkan dari bangku taman.

Pada musim semi, meskipun pohon sakura tidak terlalu banyak, tapi tempat ini tetap memiliki daya tarik tersendiri untuk hanami-an.

Akses

Akses ke lokasi sangat praktis, hanya dengan berjalan kaki sekitar 5 menit dari Awa Odori Kaikan atau sekitar 10-15 menit dari Tokushima Station.

Event

Shinmachigawamizugiwa Park berdampingan dengan Shinmachi River yang bisa diseberangi dengan Shinmachi Bridge. Tiga area ini sering dijadikan lokasi event-event tertentu, salah satunya yang paling terkenal adalah Festival Awa Odori yang berlangsung setiap tahunnya di musim panas, biasanya pada tanggal 12 s/d 15 Agustus.

Di hari tertentu, terutama pada hari libur, ada event lain seperti bazar makanan, konser band, dll.

Fasilitas

Taman yang bersih dan sangat fungsional ini juga memiliki fasilitas umum, seperti: tempat duduk, toilet, panggung, dll.

Hyotanjima Cruise

Ini salah satu favorit pengunjung nih.. Sama seperti Tombori River Cruise yang menjadi wahana berlayar ala Sungai Tombori di Osaka.

Berlayar ala Shinmachigawa ini bakal dipandu pramuwisata yang tak hanya ramah tapi juga kocak! Tiket kapal ¥200 (dewasa) dan ¥100 (anak-anak). Lama perjalanan PP sekitar 30 menit melewati Tokushima University (kampus Josanjima), AEON Mall, kantor pemerintahan Tokushima, Tokushima Central Park (area hanami-an di musim sakura yang didalamnya ada museum Tokushima Castle).

Kamus

  • 新町川水際公園 /shinmachigawamizugiwa kouen/ = Shinmachigawamizugiwa Park (Taman Shinmachigawamizugiwa)
  • 徳島市 /tokushima-shi/ = Tokushima City (Kota Tokushima)
  • 新町川 /shinmachi gawa/ = Shinmachi River (Sungai Shinmachi) | Batang aia Shinmachi
  • 新町橋 /shinmachibashi/ = Shinmachi Bridge (Jembatan Shinmachi) | Jambatan Shinmachi
  • PP = Pulang-pergi

Rekomendasi Link

Gallery

Pangsit

Malam ini teman Vietnam saya menjamu kami dengan 餃子 (gyoza) versinya. Makanan yang berasal dari Cina ini bisa ditemukan diberbagai negara dengan aneka bentuk dan versinya masing-masing yang katanya lebih familiar dengan nama wandon.

Di jepang, dikenal dengan 餃子 (gyoza), cara makannya berbeda dengan negara asalnya. Begitupun dengan indonesia yang menjadi salah satu makanan favorit dan dikenal dengan nama pangsit yang biasa dikombinasikan dengan bakso, somai, dll.

Sebenarnya seperti yang sudah kita kenal, isi pangsit itu bermacam-macam, mulai dari daging, udang, sayur-sayuran, dll. Tapi, kali ini yang dibikin oleh teman saya adalah versi sayur-sayuran. Sehat dan enak banget!!!👍👍 Rekomendasi buat para vegetarian 🙂

Gallery

  • Instagram: #jejaklangkaho @olha_chayo 👉 Gyoza

Tabehodai

Bagi pecinta kuliner, pasti sudah tidak asing lagi dengan tabehodai. Istilah ini diadopsi dari bahasa jepang 食べ放題 /tabehoudai/ yang berarti all you can eat (makan sepuasnya).

Tapi, bagi yang belum pernah atau baru kali ini mendengar istilah tabehodai, jangan dikira bisa makan seenaknya, apalagi gratis. Maksudnya, kita makan sesuai dengan paket yang diambil dengan harga dan waktu yang sudah ditentukan.

Tabehodai paling umum digunakan untuk yakiniku (daging bakar) di berbagai restoran/cafe di jepang. Meskipun begitu, tabehodai juga sering dipakai untuk buah-buahan (seperti: stroberi) atau event kuliner lainnya (seperti: bazar makanan halal).

Gallery

Related Link

Bikin Udon Di Kotanya Udon

Buat pecinta kuliner, khususnya yang bercita rasa jepang, pastinya sudah tidak asing lagi dengan udon. Mie ukuran gede ini merupakan makanan tradisional jepang yang berasal dari Perfektur Kagawa.

Ngomong-ngomong tentang Kagawa-ken, jalan-jalan kesini tidak hanya bisa membeli oleh-oleh udon saja, tetapi juga bisa belajar langsung dari ahlinya. Ada sekolah tempat pembuatan udon yang terkenal di Takamatsu-shi, namanya Nakano Udon School.

Bajet

Untuk mengikuti kursus singkat ini, pendaftaran dilakukan dengan buat janji terlebih dahulu (pemesanan sebelum hari H), dari pukul 9:00-15:00 via telfon (lihat di website resmi).

  • 2-14 pendaftar ¥1.500/orang
  • 15-500 pendaftar ¥1.300/orang

Pembayaran bisa dilakukan langsung di kasir, termasuk pembuatan sertifikat (bisa request dalam bahasa jepang atau bahasa inggris). Lalu pengunjung diberikan lembaran informasi berikut tata cara pembuatan udon dalam bahasa jepang; buat pengunjung asing tersedia dalam bahasa inggris.

Akses

Dari Tokushima Station dengan menggunakan mobil pribadi menempuh waktu sekitar 1 jam. (Bagi yang tidak membawa mobil tapi sudah punya SIM bisa rental mobil seperti di aplikasi Rakuten).

Sanuki-udon ala Nakano Udon School

  • Kursus berlangsung selama 40-60 menit
  • Pengunjung diminta memasuki kelas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
  • Saat memasuki kelas, pengunjung diminta menaruh barang (kecuali benda berharga atau yang dibutuhkan seperti HP, boleh dibawa) di tempat yang telah disediakan.
  • Mengikuti karyawan ke lokasi pembuatan (ada meja dan kursi memanjang, sepertinya dikondisikan sesuai jumlah peserta).
  • Di atas meja telah disediakan celemek (apron), papan persegi dengan bidang datar, pisau ukuran sedang, tepung dalam wadah tertutup khas jepang, satu set kemasan udon yang telah diberi nama peserta berisi adonan udon lengkap dengan bumbu dan juga oshibori, gilingan dari kayu.
  • Mengikuti arahan sensei.
  • Duduk berhadapan berpasangan.
  • Memakai celemek.
  • Sesi I:
    • Belajar menggiling adonan udon dengan tekhnik khusus.
    • Belajar memotong udon, menaburkan tepung agar tidak lengket selama penyimpanan.
    • Pengunjung diberi kesempatan berfoto-ria ataupun mengambil video (sampai-sampai tempat ini menyediakan label dalam bentuk rol kayu bertuliskan nama tempat kursus)
    • Hasil akhir ditaruh ke dalam set udon (yang diterima sebelumnya) dan diserahkan pada staf.
  • Sesi II:
    • Belajar membuat adonan udon.
    • Peserta dikasih sarung tangan plastik. Ditemani dengan alunan musik jepang nan ceria, peserta menyemangati pasangannya dengan giring-giring (seru!)
    • Diawali dengan pencampuran tepung gandum dengan air (bahkan pengaturan airpun disetiap musim beda-beda, lho..)
    • Nah, itu masih versi aduk-mengaduk di meja, saling bergantian. Siapa sangka, pada saat staf/sensei menyediakan tikar jerami (tatami), ternyata bikin udon itu diinjak-injak euy!! (Hayo lho buat pecinta udon 😆👍👍). Ini tak kalah seru dari sebelumnya. Peserta yang menginjak-injak udon disemangati oleh pasangannya/peserta lain dengan giring-giring sambil menikmati musik jepang nan kekinian.
  • Di akhir sesi, dilakukan penyerahan sertifikat pada 3 orang terpilih (mirip seperti penyerahan sertifikat di Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway).
  • Selesai kursus, peserta dikasih bingkisan berupa lukisan jepang yang bagian bingkainya bisa dilepas dan dijadikan gilingan, udon dan adonan udon yang telah dibikin sendiri. Lalu, peserta juga diberi kesempatan untuk berfoto-ria.

Fasilitas

Disini disediakan latar (background) cukup besar bertuliskan kaligrafi kanji Nakano Udon School dilengkapi dengan bangku ukuran sedang. Fasilitas lainnya yang sangat umum adalah toilet.

Lainnya

Di lokasi ini tidak hanya serba udon, tapi juga ada aneka omiyage khas Kagawa-ken dan daerah lainnya di Shikoku, mulai dari cemilan hingga cenderamata. Ada es krim enak seharga ¥300! Selain itu, juga ada penggilingan tepung, tradisional banget.. (sepertinya tidak hanya dipajang, tapi juga dijual..)

Kamus

  • うどん /udon/ = Mie tebal khas jepang
  • 中野うどん学校 /nakano udon gakkou/ = Nakano Udon Schoo | Sekolah Pembuatan Udon | Sakola Buek Udon
  • 香川県 /kagawa-ken/ = Kagawa Prefecture | Perfektur Kagawa
  • 高松市 /takamatsu-shi/ = Kota Takamatsu, bagian dari Perfektur Kagawa
  • おみやげ /omiyage/ = Oleh-oleh / Cenderamata
  • おしぼり /oshibori/ = Lap tangan ala jepang yang berbentuk handuk basah (hangat/dingin)
  • 畳 /tatami/ = Tikar jerami khas jepang
  • アプロン /apuron/ = Apron (celemek)
  • Giring-giring | Giriang-giriang = Salah satu alat musik yang kalau di Indonesia sering dipake di TK (Taman Kanak-kanak)

Related Link

Rekomendasi Link

Gallery

🏷 Reunion with Hiro san

Ekspedisi Panda

Perjalanan kali ini dalam rangka mengobati demam panda para hantu traveling kayak kite-kite 😆 Berangkat dari skedul yang udah dikemas sangat apik oleh Mba U, kami bertiga dengan Vit chan melancong ala backpacker ala-ala-an 😁👍

Agenda

  • 04:15 Berangkat via taxi (bajet sekitar ¥2.900 bertiga) , karena jam operasional bus di Tokushima itu sekitar pukul 7:00.
  • 04:45 Sudah di Tokushima Ferry Nankai. Beli tiket kapal feri 2 way (pulang-pergi) ¥3.800 langsung di loketnya.
  • 04:47 Menuju ruang tunggu penumpang. Disini ada tempat duduk, berbagai jenis informasi mulai dari poster hingga skedul transportasi dan fasilitas toilet.
  • 05:20
    • Menuju kapal, kayak mau masuk pesawat euy.. Gilaa, keren ya.. Excited bangett!! Perdana, choy.. Tadinya saya kira kapal feri itu didalamnya mirip dengan kapal feri yang pernah saya naiki sewaktu berangkat ke Pulau Bintan dari Pekanbaru (2009), ternyata jauh berbeda. Pastinya, ini kapal besar dan didalamnya terbagi menjadi beberapa area sesuai fungsinya, dekorasinya juga keren!
    • Ada lesehannya juga, tempat istirahat tidur-tiduran lengkap dengan lemari terbuka untuk menaruh barang bawaan, dilengkapi dengan sofa mungil yang sepertinya bisa digunakan untuk bantal tidur ramean 😁👍
    • Ada kursi mirip di kapal feri kecil yang ada di Indonesia, sandaran tangannya bisa diangkat kayak kursi bus.
    • Ada fasilitas wi-fi lengkap dengan area personalnya mirip warnet di indonesia dan juga tempat duduk seperti di cafe atau resto tempat kumpul keluarga.
    • Pokoknya mantep dah
  • 05:35 Berangkat.. Ini banyak cerita seru nih disinih..
    • Sempat nggak nyadar lho kalau kapalnya udah jalan.. Berasanya itu kayak pesawat mau landing atau seperti ketubruk sesuatu hanya seketika, eh tau-tau pas nongol ke jendela udah laut aja semua, alamaak.. Beda banget yak naik kapal feri gede sama yang kecil, apalagi perahu?!
    • Bikin vlog bareng Vit chan.
    • Saya sama Vit chan sempat penasaran sewaktu nemu pintu di ujung sayap kiri, sepertinya pintu keluar?! Tapi boleh nggak ya keluar?? Kita coba buka pintunya, ternyata boleh!! Cuma cuacanya aja wes dingin tenan..
    • Tadinya, kita bertiga saling bergantian ke lantai 2 menunggu matahari terbit a.k.a sunrise. Tapi, karena kelamaan, Mba U memutuskan untuk memilih istirahat. Sementara saya dan Vit chan malah kayak fans lagi jumpa artis, excited abiss!!
    • Demi mengabadikan indahnya karya Sang Pencipta, saya rela berlama-lama menantang si angin sembriwing. Indah banget.. Serasa dihipnotis mau berlama-lama aja disinih; tapi apa daya suhunya ga cuma bikin meler tapi juga bikin tangan sampai bebal! Walhasil balik ke area yang ada wi-fi-nya.
    • Niatnya sih mau rehat (tadinya), tapi pas tengok keluar jendela, sumpah keren!! Saya akhirnya kembali, kali ini tanpa Vit chan yang nyerah karena suhu dingin.
    • Waaah.. saya lagi hoky nih, tangga menuju lantai 3 udah kebuka! Jadi bisa ke lantai paling atas dah.. Sayangnya beneran cuma ambil dokumentasi doang, dingin buangedh…
  • 08:00 南海和歌山港駅 (Nankai Wakayamako Station)
  • 08:11
    • Naik Wakayama Bus no. 160 di 和歌山港駅バス乗り場 (Halte Bus Wakayamako Station), bajet ¥240.
  • 08:27 和歌山駅 /Wakayama eki/ (Wakayama Station)
    • Beli tiket JR ke 御坊駅 /Gobou eki/ (Gobo Station) ¥970. Untungnya saya punya kartu ICOCA (bisa dibeli di loket JR), jadi tinggal cas deh.. Tidak perlu berkali-kali membeli tiket secara manual.
  • 8:40
    • Berangkat menuju 御坊駅 /Gobou eki/ (Gobo Station) dengan JR Takarazuka Line.
  • 9:33 湯浅駅 /Yuasa eki/ dari 乗り場 3 transit ke 乗り場 2
    • Lagi-lagi kejadian lucu kembali menunjukkan leluconnya. Sampai di stasiun ini, semua orang turun. Dalam hati saya, kok auranya sepi yak, tapi ga kepikiran sama sekali bakal transit atau segala macam. Mungkin, akses kami yang kejauhan makanya pada turun semua.
    • Cukup lama keretanya berhenti, dan keanehan mulai kentara. Namun, dari kita bertiga, sepertinya cuma Mba U yang beneran sadar, dia mengonfirmasi arah kereta pada kami setelah melihat plang rute kereta dari jendela JR. Kami berdua sepakat dan meyakinkan Mba U kalau itu nggak mungkin, karena kereta kita menuju Gobo Station..
    • Makin lama makin sepi, dan kereta pun tak kunjung jalan. Ucluk-ucluk, datanglah petugasnya yang dengan ramah mengatakan kalau kereta ini bakal kembali ke Wakayama Station.. Gubrak!! Kami hanya bisa tersenyum sumringah dan mulai bergegas turun.. Hadeeeuh..
    • Pada mau ke toilet, eh ga ada toilet sama sekali euy.. Mulai berasa terhampar dimanaa gitu.. Mana masih harus menunggu 20 menitan lagi, coba..
  • 9:59 Naik JR menuju Gobo Station.
  • 10:17 御坊駅 /Gobou eki/ (Gobo Station)
    • Kita bingung nih sama jadwalnya. Untung aja bisa nanya sama masinisnya yang baru turun dari JR.
    • JR selanjutnya 10:59, belum lagi transit dan segala macam. Akhirnya kami memilih 東急 /toukyuu/ kereta cepat (di skedul ditulis berwarna merah), berangkat pukul 10.46. Katanya nanti bakal nambah seribu yen-an, ga papalah.. Langsung sampe di Shirahama Station soalnya, hemat waktu, ga pake ribet transit dengan kita-kita yang notabennya buta rute..
  • 10:46
    • Berangkat dengan 東急 /toukyuu/ kereta cepat. Bentuknya panda.. Didalamnyapun didekor panda. Lucu banget!!
  • 11:29 白浜駅 /Shirahama eki/, akhirnya..
    • Udah pede-pede nanyain cara bayar 東急 /toukyuu/ kereta cepat pada eki-in (petugas stasiun)-nya, eh kartu ICOCA kece saya malah raib tak berjejak.. Apes.. Apes..
    • Kartu cantik itu sengaja saya taruh di dompet HP, biar praktis. Awalnya sempat nggak sreg gitu, coz tempat kartu di dompet HP ini sepertinya longgar, tapi yo wes lah, arahnya juga ke dalam toh.. Yang namanya malang yaah bak kate pepatah minanglah “untuang ndak dapek diraiah, malang ndak dapek ditolak“, nggak rejeki..
    • Tapi, saya tidak menyerah! Kali aja kececer?! Abis bilang ke petugas, saya langsung bergegas nyari sampe ke tempat awal turun dan balik lagi ke depan petugas yang sama, nihil..
    • Saya makin ga enak diliatin petugasnya macem mau lariin diri aja. Ternyata bener, setelah keluar, teman saya cerita, petugasnya sampe nyariin saya sewaktu saya pergi nyariin kartu, hadeeeuh..
    • Walhasil, saya yang tadinya bisa nambah sekitar ¥900-an, sekarang kudu bayar full dah, hu hu hu hu..
    • Jadi ingat sama teman saya sewaktu masih di Osaka. Waktu itu kita janjian ketemu di Stasiun Umeda, tapi saya udah celinga/uk kemana-mana, tak kunjung nemu. Mana ga punya akses internet lagi.. Dan, ternyata, dia lagi ngurusin kartu kereta-nya yang hilang. Didalamnya ada nominal sekitar ¥1.000. Ekspresi wajahnya seperti kehilangan banget.. Saya turut prihatin, tapi namanya juga hilang ya ga rejeki (pikir saya waktu itu). Sekarang, di kondisi yang berbeda saya mengalami hal yang serupa, dan ternyata.. kecewa juga yah.. Masih untung saya ngisi ¥2.000, udah dipake pula buat bayar JR, padahal sebelumnya sempat mau ngisi lebih biar nggak ribet, alhamdulillah antara masih rejeki & nggak rejeki tapi tetep aja apes.. hikmahnya kudu ati-ati nih..
    • Walhasil, saya beli kartu yang sama sekali lagi dan saya simpan di saku tas paling depan, nggak mau ceroboh lagi..
    • Keluar stasiun, kita beli tiket bus pp ¥600 (@¥300) dan tiket Wakayama Adventure World ¥4.500 (dewasa) di loket bus, sebelah kiri dari pintu keluar stasiun.
    • Nyari ATM, ada di seberang jalan yang searah dengan loket bus agak ke kiri.
  • 12:10 Naik bus
  • 12:45 Sampe.. Wakayama Adventure World, yuhuu…
    • Ngasih tiket ke petugas di pintu masuk.
    • Baru aja masuk, udah ketemu sama pinguin yang lagi mandi-mandi.. Kok berasa nggak mirip pinguin yak, seolah penguin itu identik dengan es & kutup.
    • Langsung cari tempat makan. Bekal yang dibawa Mba U udah mau ludes, hee.. Kita-kita juga kudu nyari yang ada nasinya dan yang dirasa aman (Ga bakal nemu label HALAL disini).
    • Menu makanannya, mulai dari bento, es krim, dll di bentuk PANDA!! Lucuuu….
    • Saking banyaknya resto dan cafe, kita yang awalnya milih tempura malah bingung. Sampe akhirnya memutuskan makan di sebuah restoran seharga ¥1680, paket tempura, tapi bukan tempura yang kita maksud sebelumnya. Saya merasa sulit menghabiskannya karena rasanya diluar ekspektasi.
    • Ada roller coaster-nya juga!! Asiik.. Gondola yang jauh disana juga mantep!!
    • Komitmen waktu sampe jam 3, biar bisa cepat balik..
    • Ada bangau pink..
    • Yang pastinya, tempat awal yang kita tuju adalah PANDA!! Di no. 3 & no. 6 berdasarkan map-nya. Lucu bangett.. ngegemesiin.. Lagi-lagi, kurang sesuai ekspektasi awal saya yang mengira panda-nya banyak disana-sini, ternyata masing-masing ditaruh di satu area masing-masing.
    • Info yang didapat Mba U, disini ada atraksi-atraksi juga, lho.. hanya saja ada skedulnya. Nah, ini nih yang nggak kita perhatiin.. Lagian, karena akses yang jauh ini, kita juga ga bisa berlama-lama nih.. Yang penting tujuan utama PANDA, so everything about PANDA dah..
    • Kita-kita ketagihan sama pop corn-nya ¥500, se cup guede & enak!!
    • Sempat saling nyari juga pas nyari-nyari souvenir, untung ketemu dan langsung naik bus balik. Udah tutup juga wisatanya, sampe jam 4 doang kayaknya yak.
  • 16:50 Cus, bus balik
  • 17:00 白浜駅 /Shirahama eki/
  • 17:28 東急 /toukyuu/ kereta cepat ¥1400
  • 18:45 和歌山駅 /Wakayama eki/ (Wakayama Station) +¥889
    • Karena masih banyak waktu, kita keliling-keliling. Sempat makan malam juga, laper euy.. Hidangan teranyar malam ini tahu & seafood.
  • 21:10 Bus 161, berangkat.. Lelah hayati..
  • 21:50 Berangkat dengan kapal feri. Tepar euy.. Batrei HP pada lowbatt, ga cuma itu, sampe power bank juga!!
  • 23:58 Sampe kembali di 和歌山フェリー南海 (Wakayama Ferry Nankai), alhamdulillah.. Gilaak, capek nian…
  • Pulangnya kudu pake taxi lagi, nasib.. nasib.. Tapi alhamdulillah.. perjalanan yang melelahkan ini luar biasah!! (Udah ga ada transportasi umum euy jam seginih).

Kesan

  • Tadinya saya kira perjalanan ke Kyoto-lah yang paling tidak praktis karena transportasinya, ternyata sekarang digantikan oleh Wakayama. Mungkin, karena lokasinya jauh dari pusat kota. Karenanya, boleh dibilang perjalanan paling mahal bagi saya selama di Jepang, bajet kasar di luar makan dan belanja sekitar ¥16.000 (transpotasi kapal feri, bus, JR, kereta cepat, dan tiket Wakayama Adventure World) terhitung pulang-pergi dari dan ke- 徳島フェリー南海 (Tokushima Ferry Nankai).
  • Seandainya di Wakayama ada City Loop kayak di Kobe atau chikatetsu kayak di Osaka, pasti bisa berlama-lama di Wakayama Adventure World-nya.
  • Waktunya nggak efektif nih.. Perjalanan Tokushima-Wakayama dengan kapal feri 2-2,5 jam. Kemudian menuju lokasi dengan bus & kereta api dengan transit berkali-kali memakan waktu hampir 5 jam. Total perjalanan secara umum terhitung dari rumah mungkin sekitar 9 jam, dari 和歌山フェリー南海  saja sekitar 7,5 jam.
  • Di perjalanan sering kesulitan, karena kanji semua!! Boro-boro mikirin bahasa inggrisnya, furigana-nyapun tak de.
  • Terlepas dari kerumitan transportasi, saya kagum dengan pariwisata di Jepang. Mereka konsisten dengan icon masing-masing daerah yang bisa menjadi income. Contohnya, Wakayama yang terkenal dengan PANDA, mulai dari desain transportasi hingga makanan, semua menggunakan icon panda. Selain itu, juga bersih dan tertata.
  • Everything about PANDA, ekspedisi selesai. Terimakasih, Mba U & Vit chan.. Perjalanan kita benar-benar luar biasa..

Kamus

  • 徳島フェリー南海 =  Tokushima Ferry Nankai
  • Ferry = Kapal feri
  • 和歌山港駅 /Wakayamakoeeki/ = Wakayamako Station (Stasiun Wakayama)
  • 和歌山港駅バス乗り場 /Wakayamakoe eki basu noriba/ = Halte Bus Wakayamako Station (Halte Bus Stasiun Wakayamako)
  • 和歌山駅 /Wakayama eki/ (Wakayama Station)
  • 乗り場 /Noriba/ = Tempat naik/halte
  • 2 way /chu wei/ = Pulang-pergi
  • Kayak = Seperti
  • Tengok = Lihat

Related Link

Gallery

Awa Odori

Awa Odori is a traditional dance from Awa land, Tokushima. When you see the dance, that is look like simple form. But, it’s truly difficult. Everyone need exercise regularly.

Di Jepang, setiap お盆休み (libur musim panas) selalu diadakan 盆踊り(bon odori). Masing-masing daerah memiliki gerakan tarian masing-masing, termasuk Tokushima dengan awa odori-nya.

阿波踊り(awa odori) jika dibahasaindonesiakan berarti tarian awa yang merupakan tarian tradisional dari Tokushima, salah satu perfektur di Pulau Shikoku, Jepang.

Tarian ini menjadi icon-nya Tokushima, ditarikan dengan mengenakan kimono yang khas dan dengan gerakan yang teratur, sebuah kombinasi seni dan tradisi nan indah!

阿波踊り祭り (Awa Odori Event)

Buat yang berminat melihat langsung festival musim panas ala Tokushima ini bisa berkunjung ke Tokushima. Event tahunan ini diadakan setiap musim panas (natsu) pada hari libur obon, tanggal 12 s/d 15 Agustus.

Biasanya, lokasi yang digunakan adalah di sekitar kantor walikota (市町村|shichouson) dan sepanjang area tokushima station (徳島駅|tokushima eki). Dan, ada 2 stage/panggung berbayar, dimana para pengunjung bisa duduk menyaksikan seluruh rangkaian acara dengan sedikit merogoh kocek sebesar ¥1.100.

Pakaian

Awa odori ditarikan dengan mengenakan kimono yang khas. Untuk perempuan, ada beragam tekhnik pemakaian obi (ikat pinggang) dan yang menjadi ciri khasnya adalah kasa (topi yang terbuat dari jerami dilipat dua menyerupai belahan semangka dan dipasang condong ke depan) dan genta (sandal sejenis tangkelek di Indonesia, namun bagian tapaknya dibuat 2 topangan dari kayu. Penari berjalan dengan bertopang ke bagian depan).

Untuk laki-laki, dibagian kepalanya ada 2 versi, ada yang diikat biasa dengan kain batik-nya Tokushima dan ada pula yang diikat menutupi hampir sebagian kepala, terbuka di bagian mata dan diikatkan dibawah hidung. Lalu, mengenakan celana pendek dan kaos kaki yang khas (tanpa genta).

Untuk anak-anak, biasanya lebih sering dijumpai mengenakan pakaian versi laki-laki.

Gerakan Awa Odori

Meskipun terlihat sederhana, dibalik keelokannya, awa odori butuh latihan yang luar biasa tekun.

女の踊り

Untuk tarian perempuan, gerakan berpusat pada kedua lengan dengan jari telunjuk yang selalu mengarah ke atas.

Caranya, berdiri dengan posisi tegak, posisi kaki bertumpu pada genta bagian depan, lutut sedikit ditekuk, badan bagian pinggang ke atas agak dicondongkan ke depan, lengan mengarah ke atas.

Saat menggerakkan lengan yang diputar adalah bagian bahu dengan rileks. Ketika kaki kanan digerakkan, maka lengan kananlah yang ditekuk. Dan, jari telunjuk selalu mengarah ke atas, sementara jari lainnya menguncup dan mengembang seperti bunga tulip.

Salah satu kaki diangkat setinggi betis dan diacungkan lembut dengan posisi mengarah ke depan.

男の踊り

Jika tarian untuk perempuan berfokus pada lengan, sebaliknya tarian untuk laki-laki malah bertumpu pada lutut.

Caranya, berdiri tegak, kemudian kaki ditekuk, berjalan seperti dorobo (pencuri), tangan dilambaikan (sering ditampilkan dengan menggunakan kipas khas-nya Jepang).

Jika jemari tangan pada tarian wanita menyerupai kuncup dan mekarnya bunga tulip, pada pria sebaliknya. Jari mengembang seperti letupan kembang api (menggumpal dan meletup).

Alat Musik

Alat musik yang digunakan adalah samisen, drum/gendang, seruling dan kane.

Makna Lirik Awa Odori

Lirik yang sering diteriakkan adalah “yattosa..” yang berarti 皆さん、お元気ですか (hi, how are you? nice to meet you..).

Makna Awa Odori

Secara umum, dilihat dari gerakan, irama dan liriknya, tarian ini bermakna “ayo menari.. bergembira bersama-sama..”.

Namun, selain memiliki nilai seni yang tinggi, ternyata awa odori masih terhubung dengan kepercayaan orang jepang! Pada hari pertama festival, dilakukan upacara pemanggilan arwah para leluhur yang telah meninggal. Kemudian, tarian awa ditarikan sebagai penyambutan dan sebuah bentuk hiburan. Di hari terakhir perayaan, dilakukan pengantaran arwah para leluhur dengan menghanyutkan sesuatu semacam lampion di sepanjang aliran sungai.

Gallery

Kamus

  • 阿波踊り| awa odori | awa dance | tarian awa
  • 阿波踊り祭り| awa odori matsuri | awa dance event | perayaan tarian awa
  • お盆休み| obon yasumi | liburan musim panas
  • 盆踊り | bon odori | summer dance | tarian musim panas
  • 徳島駅| tokushima eki | tokushima station | stasiun tokushima
  • 帯 | obi | ikat pinggang
  • 笠 | かさ| kasa | topi yang terbuat dari jerami
  • げんた | genta | sandal yang terbuat dari kayu sejenis sandal tangkelek di Indonesia

Referensi

  • Beberapa informasi dishare oleh Tanaka Sensei, Atsumi Sensei dan Lisa san.
  • Featured image is taken by Fitri san.

Related Link

Restoran Bubu ‘Tongkrongan Internasional Di Tokushima’

Takoyaki & Okonomiyaki

Masakan tradisional jepang seperti takoyaki dan okonomiyaki bukanlah sesuatu yang baru bagi perantau asal Indonesia. Boleh dibilang, di seantero kota besar hingga kecil di Indonesia bisa ditemukan dengan mudah!

Beda cerita kalau sudah berkunjung ke Jepang. Sebut saja takoyaki yang menjadi makanan khas dari Osaka, tidak hanya tersedia di Osaka saja, tapi juga di berbagai wilayah di Jepang, termasuk salah satunya di Tokushima, Pulau Shikoku.

Begitu juga dengan okonomiyaki. Masakan yang bisa disebut “bakwan ala Jepang” ini berdasarkan tempatnya terbagi menjadi 3 style: Kansai style, Hiroshima style dan Tokyo style. Perbedaan dari masing-masing style ini bisa dilihat dari jenis teppan (tempat penggorengan yang berbentuk datar) yang digunakan, kombinasi adonan dan proses pembuatannya.

Restoran Bubu

Di Tokushima, ada beberapa tempat yang recommended banget buat menyantap kuliner khas jepang. Namun, salah satu yang paling populer adalah 広島風お好み焼きとたこ焼きおやつshop Bubu (Hiroshima-fu Okonomiyaki & Takoyaki Oyatsu-shop Bubu).

Restoran ini merupakan usaha keluarga yang dirintis oleh Bubu san sebagai owner dan dibantu oleh sang istri yang akrab dipanggil Mama. Pengolahan hingga penyajian masakanpun dihandel oleh duo master of japanese food ini.

Selain menu utama yang perfekto lezatto, okonomiyaki dan takoyaki, Bubu san juga menyediakan aneka menu pilihan lainnya seperti yakisoba (mie goreng), yakiudon, kushikatu, bahkan ada juga nasi goreng!! Masakan ini dibandrol dengan harga yang cukup ekonomis, mulai dari ¥450 alias 450 yen saja!

Buat pengunjung yang muslim, meskipun dengan keterbatasan tempat pembuatan (masih dengan teppan yang sama), Bubu san menyediakan adonan yang boleh dikonsumsi oleh para muslim. Dalam pengolahannya, dipisah dengan yang non-halal.

Ceritanya, dulu Bubu san pernah tinggal lama dengan orang Indonesia yang menetap di Tokushima, kemudian beliau mempelajari budaya Islam. Dan, terinspirasi untuk membuat masakan yang bisa dikonsumsi oleh para muslim. Tidak tanggung-tanggung, beliau juga menyediakan tempat ibadah beserta perangkat shalat buat para muslimin yang hendak beribadah. Bahkan, ada penunjuk arah KIBLAT-nya juga!!

Tak kalah menarik, khususnya untuk pengunjung dari Indonesia, saus sambal yang digunakan didatangkan langsung dari Indonesia! Bener-bener T.O.P daah.. Maknyus!!

Buat pecinta manga, restoran minimalis ini juga menyediakan pustaka mini yang menjejerkan aneka komik. Pengunjung bisa memilih edisi sesukanya dan pastinya free alias gretong!

Tongkrongan Internasional

Di warung Bubu, pengunjung asing tidak perlu pusing harus memikirkan bagaimana cara memesan dalam bahasa jepang dan sebagainya, karena Bubu sendiri bisa berbahasa Inggris dengan sangat lancar. Tidak hanya itu, beliau juga bisa berbahasa Indonesia lho, walaupun dengan kalimat yang cukup sederhana.

Saking banyaknya pengunjung asing yang didominasi oleh pelajar dari berbagai negara, Bubu san sampai mendapatkan piagam penghargaan dari Tokushima. Keren!

Akses & Lokasi

Lokasi kuliner yang delicious ini terletak di depan Sako Station (佐古駅), tepatnya di Sako 2 Bancho 18-5, Tokushima. Akses ke lokasi dari Tokushima Station (徳島駅) bisa menggunakan kereta api JR (Japan Rail) dengan tiket seharga ¥210. Atau, dengan Tokushima City Bus (徳島市バース) turun di Halte 佐古一番町 (Sako Ichiban-chou) dengan ongkos ¥210 dan berjalan sekitar 10-15 menit dari halte.

Gallery

Semarak Ramadhan 1438H Di Mesjid Tokushima

Buat para muslim, tak terasa tinggal 6 hari lagi menjelang Idul Fitri, bukan? Nah, selama bulan Ramadhan, bagi yang pertama kali akan mengunjungi Mesjid Tokushima, perlu tau nih hal-hal unik berikut ini.

Buka Bareng

Setiap hari minggu, selalu ada buka bareng (a.k.a bubar/bukbar/bukber/buber/open together) dengan menu tradisional mancanegara. Jadi, buat yang lagi ngirit, anak kontrakan, atau yang hobby hunting kuliner sekalian, tak perlu repot-repot merogoh kocek, cukup datang saja untuk berbuka puasa di Mesjid Tokushima.

Tak hanya lezatnya masakan yang dihidangkan, tapi ada yang lebih utama: nikmatnya kebersamaan. Disini kita akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara, beragam status dan budaya, luar biasa indah!!

Menu mancanegara yang dimaksud bukan berarti tiap minggu dihidangkan, bukan. Tapi, selalu ada negara yang menjadi penanggungjawabnya setiap minggu yang akan menyajikan masakan khas dari negara masing-masing.

Untuk minggu depan, karena sudah mendekati lebaran, buka bareng skala international ini akan diadakan pada hari Sabtu (24 Juni 2017). Don’t missed it! 

Tarwihan

Ada yang spesial di bulan nan juga spesial ini. Setiap malam, selalu ada shalat berjama’ah yang diimami oleh seorang yang hafidz al-qur’an. Urutannya, shalat Isya, shalat tarwih 2+2 rakat (2 raka’at lalu salam, dilanjutkan dengan 2 raka’at yang juga ditutup dengan salam), kultum/ceramah (dalam bahasa inggris), shalat tarwih 2+2 raka’at dan shalat withir (raka’atnya tergantung mashab yang diikuti oleh sang imam, ada yang 2 raka’at salam lanjut dengan 1 raka’at; begitu juga dengan pembacaan do’a qunut, ada yang sebelum/sesudah rukuk; dsb.).

Kelas Bahasa

Seperti hari biasanya, di mesjid tetap diadakan kelas bahasa jepang, bahasa arab, dll. Tidak hanya dewasa, untuk anak-anakpun juga ada. Bagi yang berminat, silahkan bergabung, free alias gretong!

Gallery

Menjejak Di Negeri Sakura

Prolog

Yah, “waktu ibarat roaller coaster“.. Saking cepatnya, tak terasa telah memasuki bulan ke-5 di negeri sakura. Banyak hal yang ingin dishare, tapi.. tidak cukup waktu, semua cerita yang telah terkonsep dipikiranpun perlahan mulai blur ditimpa sekelumit aktifitas yang cukup menguras pikiran (hee.. ga segitunya juga keles..).

15 Juni 2016, ibarat kata ‘hari bersejarah’. Setelah beberapa kali gagal go international (ciileh), dan melalui hari-hari terberat sekontras warna-warni konflik didalamnya, akhirnya tanah samuraipun tersapa juga. Dan, jika ada yang bertanya “bagaimana kesan saya?”, ‘biasa saja’..

Jika saya harus flash back, melihat siapapun yang pernah ke luar negeri, dalam pikiran saya “mereka hebat!”, dan saya tidak pernah terpikir akan benar-benar merantau jauh dari Ranah Minang, meninggalkan zona nyaman terbaik sepanjang hayat.. Namun, support yang tak kalah besarnya menyeberangkan saya melintasi nasib yang tak terduga. Karenanya, sayapun punya slogan baru “saya orang bingung yang beruntung“.

16 Juni 2016
Welcome to Japan

Kala itu (15/06/2016), saya menggunakan jasa penerbangan JAL (Japan Air Line), Garuda-nya Jepang. Take off dari Bandara Soetta (Soekarno-Hatta) Jakarta sekitar pukul 10 malam dan landing sekitar pukul 5 subuh di Bandara Narita, Tokyo.

  • 05.00 Bandara Narita, Tokyo.
  • 08.15 Go to Tokyo, melewati Tokyo Tower, Sky Three, dll.
  • 09.09 Bandara Haneda.
  • 13.40 Osaka International Airport.
  • 14.19 Go to Osaka dengan bus.
  • 16. .. Asaka-shi, Osaka.

Penerbangan Jakarta-Tokyo memakan waktu sekitar 8 jam. Meskipun ini bukan kali pertama mengudara, entah kenapa, saat itu saya merasa nano-nano, perasaan menjadi campur-aduk.. Untungnya, cuaca saat itu cukup bersahabat. So, perjalanan yang melelahkan itu berlanjut hingga transit menuju Osaka.

Penerbangan Jepang-Osaka memakan waktu sekitar 2 jam. Akhirnya, dengan segala persinggahannya, sampailah di Asaka-shi pukul 4 sore, Osaka. Tidak hanya sekedar melepas penat, markas ini juga akan menjadi shelter bagi saya dan para penjejak lainnya hingga 6 bulan ke depan. Antara percaya dan tak percaya, ini Jepang! Dan, saya sudah sampai di Jepang! Banzai!!

Minggu Pertama

Jepang.. Yah, banyak hal positif yang sering banget didengar tentang negera ini; budayanya.. kreatifitasnya.. disiplinnya.. apalagi komik dan cartoon-nya.

Meskipun seharian rehat belum memulihkan kelelahan, saya dan para penjejak yang dasarnya punya darah “R”; darah spesial yang tidak termasuk dalam golongan darah secara teori, “R” singkatan dari raun-raun, bahasa Minang yang berarti suka bepergian; telah mengelana ke Abiko, pusat pertokoan terdekat dari shelter.

Anehnya, tidak ada yang wah. Tidak seperti yang dibayangkan sewaktu di Indonesia. Hanya saja sedikit merasa “terasing di negeri asing” (meminjam kutipan dari sahabat saya, Meichan).

Dimensi Lain

Tata kotanya memang lebih rapi dan bersih. Semua bangunan hampir memiliki pola dan warna yang mayoritas sama. Dimana-mana bertebaran tulisan kanji dengan beragam bentuk, membuat saya seolah-olah menyeberang ke dimensi lain, seperti tiba-tiba tersedot ke mesin waktunya si Doraemon!

Jet Lag

Kadang, saya tiba-tiba merasa pusing, tiba-tiba berasa gempa! Faktanya, ini hanya efek jet lag alias mabuk penerbangan, akibat perjalanan jauh.

Yen

Pertama kali menerima mata uang Jepang, yen; saya bingung.. Jumlahnya kecil 2 angka dari rupiah. Kalau di Indonesia uang Rp 50,- saja sudah tidak terpakai, disini ada nominal ¥1 (1 yen)!

Biasanya paling malas membawa duit receh kemana-mana, meskipun dengan massa yang sudah cukup ringan. Tapi, disini, koin-koin mungil itu sangatlah berarti. Mau belanja seharga berapapun, pasti lebih banyak dikembalikan dalam bentuk koin.

Walhasil, disini juga dijual kotak koin praktis yang didalamnya sudah ada sekat-sekat pembatas nominal yang bisa diatur penyimpanannya. Benda praktis ini bisa dibeli di berbagai toko, terutama di ¥100 shop (toko serba 100).

Kanji, kanji & kanji!

Berbeda dengan Indonesia yang hanya menggunakan huruf romaji, Jepang memiliki 4 jenis huruf: hiragana, katakana, kanji dan romaji. Jadi, buat yang ingin mengenal Jepang, harus kenal juga dong dengan tulisannya, terutama kanji!

Sedikit mengulas tentang kanji, huruf ini diadopsi dari Cina. Meskipun begitu, huruf yang sama dengan arti yang sama, memiliki cara baca yang sangat berbeda dengan negeri asalnya. Dan, diantaranya memiliki bentuk yang nyaris sama, belum lagi kombinasinya, siap-siap puyeng dah! Tapi, kalau sudah mengerti, memang lebih enak menggunakan kanji, lebih singkat, tepat dan praktis.

Ceritanya, pertama kali ke supermarket Jepang (kebetulan stok yang dibawa dari Indonesia sudah mulai menipis). Saat mencari kebutuhan sehari-hari, seperti shampo dan facial foam (sabun wajah), saya dan teman-teman butuh waktu berjam-jam hanya untuk membaca petunjuk pemakaian. Semua ditulis dalam kanji!!! Hanya beberapa kata yang menggunakan katakana dan hiragana, apalagi romaji?!

Beberapa merk ada yang mirip dengan produk-produk yang ada di Indonesia. Tapi.. itu untuk wajah, badan, rambut atau bagaimana?! Terus, kalaupun untuk wajah, itu krim, pelembab, foam, penyegar, atau apa??

Supermarket disini tidak sama dengan di Indonesia yang karyawannya bisa ketemu di setiap perbelokan, yang pasti standby hanya kasir saja. Nah, kalau sudah bertanya 1-2 kali, tapi yang dimaksud tidak juga ketemu, watak Indonesia-nya muncul “jadi segan..”.

So, ujung-ujungnya, semua dipotretin, biar nanti bisa dikonfirmasi ke sensei (tutor); maklum.. belum punya akses internet, jadi kalaupun punya aplikasi kanji tetap tidak bisa dipakai saat itu.

Lucunya itu saat mencari pasta gigi alias odol. Setelah mendapat rekomendasi dari sensei, dengan sumringahnya langsung bergerak ke supermarket terdekat. Tapi.. “yang mana ya?!” Tenang, saya sudah menanyakan odol yang persis sama dengan yang sensei pakai..

Bermodalkan foto screenshot, dalam waktu singkat, yang dicari langsung ketemu. Tapi.. ada jenis lainnya juga, lho.. “Hm, bagaimana kalau mengambil jenis yang berbeda?!”.

Dan, tahukah Anda, saya hampir membeli perekat gigi palsu!! OMG.. Mulai dari kemasan hingga kanji giginya sama, untung saja sempat mengamati gambar dibalik kemasannya yang disadari segera sebelum ke kasir! Bayangkan deh, ini lem kalau beneran saya jadikan odol?! haha..

Ngulik Kuliner Jepang

Hal pertama yang cukup mengkhawatirkan menjelang  tiba di negeri sakura, terutama bagi penganut muslim dan advent, tentunya makanan. Di seantro Jepang, otomatis didomonasi oleh pangan yang terbuat dari babi dan juga berbagai minuman jenis oshake (tuak).

Untungnya, di shelter saya, mereka sudah terbiasa menerima pendatang dari berbagai negara, jadi menu ataupun microwave di shokudou (kantin) sudah diberi label “halal” dan “no halal”. Tidak hanya itu, bagi vegetarianpun juga diberi pelayanan yang sama, menu dan microwave khusus vegetarian. Proud of my shelter’s shukudou so much dah!

Tadinya, sedikit mumet ketika mau mencicipi aneka makanan yang cukup bikin ngiller selama jalan-jalan paniang (bepergian untuk sekedar bersantai). Alon-alon kelakon, mulai berani bertanya dengan bahasa jepang seadanya, dan, sampai sekarang mulai banyak referensi tempat halal yang bisa disinggahi. Tidak hanya halal, tapi juga ekonomis! Mau tau?!

Takoyaki

Di sekitar abiko, ada toko kecil takoyaki di seberang supermarket gormet (gormeit). Disini yang jualan 2 orang ibu-ibu, saya memanggil mereka obasan. Bukan hanya punya masakan enak dan murah, mereka juga sangat ramah; serasa berada di Indonesia! Selain takoyaki, juga ada okonomiyaki (pizza ala Jepang) dan mie goreng, tapi sayangnya ada buta-nya, alias babi, no halal. Takoyaki dan 2 masakan ini dibuat dengan wadah terpisah, so, I think it’s OK.

Ayam Goreng

Masih di daerah Abiko, tepatnya di lantai 2 Plaza Abiko, ada restoran yang namanya Saizeriya. Disini ada menu ayam goreng murah, hanya ¥299 dapat 5 potong sayap dengan rasa yang cukup sesuai dengan lidah Indonesia. Selain itu, juga ada pizza, tentunya masih dengan harga ekonomis! Recommended by Fatma, a.k.a Lidi. Ternyata, restoran ini juga ada di Namba, lho..

Masakan Indonesia

Ada 2 cafe Indonesia yang populer dikalangan perantau, Balibong yang bernuansa Bali di Abiko dan Cafe Bintang yang bernuansa Jawa di Shinsaibashi (Namba). Selain itu, juga ada beberapa wirausaha tertentu yang menyediakan pemesanan makanan Indonesia online via delivery.

Wassalam..

Hm.. by the way, segitu dulu ya intermezo-nya.. To be continued..