Category Archives: My Journey

Awa Odori

Awa Odori is a traditional dance from Awa land, Tokushima. When you see the dance, that is look like simple form. But, it’s truly difficult. Everyone need exercise regularly.

Di Jepang, setiap お盆休み (libur musim panas) selalu diadakan 盆踊り(bon odori). Masing-masing daerah memiliki gerakan tarian masing-masing, termasuk Tokushima dengan awa odori-nya.

阿波踊り(awa odori) jika dibahasaindonesiakan berarti tarian awa yang merupakan tarian tradisional dari Tokushima, salah satu perfektur di Pulau Shikoku, Jepang.

Tarian ini menjadi icon-nya Tokushima, ditarikan dengan mengenakan kimono yang khas dan dengan gerakan yang teratur, sebuah kombinasi seni dan tradisi nan indah!

阿波踊り祭り (Awa Odori Event)

Buat yang berminat melihat langsung festival musim panas ala Tokushima ini bisa berkunjung ke Tokushima. Event tahunan ini diadakan setiap musim panas (natsu) pada hari libur obon, tanggal 12 s/d 15 Agustus.

Biasanya, lokasi yang digunakan adalah di sekitar kantor walikota (市町村|shichouson) dan sepanjang area tokushima station (徳島駅|tokushima eki). Dan, ada 2 stage/panggung berbayar, dimana para pengunjung bisa duduk menyaksikan seluruh rangkaian acara dengan sedikit merogoh kocek sebesar ¥1.100.

Pakaian

Awa odori ditarikan dengan mengenakan kimono yang khas. Untuk perempuan, ada beragam tekhnik pemakaian obi (ikat pinggang) dan yang menjadi ciri khasnya adalah kasa (topi yang terbuat dari jerami dilipat dua menyerupai belahan semangka dan dipasang condong ke depan) dan genta (sandal sejenis tangkelek di Indonesia, namun bagian tapaknya dibuat 2 topangan dari kayu. Penari berjalan dengan bertopang ke bagian depan).

Untuk laki-laki, dibagian kepalanya ada 2 versi, ada yang diikat biasa dengan kain batik-nya Tokushima dan ada pula yang diikat menutupi hampir sebagian kepala, terbuka di bagian mata dan diikatkan dibawah hidung. Lalu, mengenakan celana pendek dan kaos kaki yang khas (tanpa genta).

Untuk anak-anak, biasanya lebih sering dijumpai mengenakan pakaian versi laki-laki.

Gerakan Awa Odori

Meskipun terlihat sederhana, dibalik keelokannya, awa odori butuh latihan yang luar biasa tekun.

女の踊り

Untuk tarian perempuan, gerakan berpusat pada kedua lengan dengan jari telunjuk yang selalu mengarah ke atas.

Caranya, berdiri dengan posisi tegak, posisi kaki bertumpu pada genta bagian depan, lutut sedikit ditekuk, badan bagian pinggang ke atas agak dicondongkan ke depan, lengan mengarah ke atas.

Saat menggerakkan lengan yang diputar adalah bagian bahu dengan rileks. Ketika kaki kanan digerakkan, maka lengan kananlah yang ditekuk. Dan, jari telunjuk selalu mengarah ke atas, sementara jari lainnya menguncup dan mengembang seperti bunga tulip.

Salah satu kaki diangkat setinggi betis dan diacungkan lembut dengan posisi mengarah ke depan.

男の踊り

Jika tarian untuk perempuan berfokus pada lengan, sebaliknya tarian untuk laki-laki malah bertumpu pada lutut.

Caranya, berdiri tegak, kemudian kaki ditekuk, berjalan seperti dorobo (pencuri), tangan dilambaikan (sering ditampilkan dengan menggunakan kipas khas-nya Jepang).

Jika jemari tangan pada tarian wanita menyerupai kuncup dan mekarnya bunga tulip, pada pria sebaliknya. Jari mengembang seperti letupan kembang api (menggumpal dan meletup).

Alat Musik

Alat musik yang digunakan adalah samisen, drum/gendang, seruling dan kane.

Makna Lirik Awa Odori

Lirik yang sering diteriakkan adalah “yattosa..” yang berarti 皆さん、お元気ですか (hi, how are you? nice to meet you..).

Makna Awa Odori

Secara umum, dilihat dari gerakan, irama dan liriknya, tarian ini bermakna “ayo menari.. bergembira bersama-sama..”.

Namun, selain memiliki nilai seni yang tinggi, ternyata awa odori masih terhubung dengan kepercayaan orang jepang! Pada hari pertama festival, dilakukan upacara pemanggilan arwah para leluhur yang telah meninggal. Kemudian, tarian awa ditarikan sebagai penyambutan dan sebuah bentuk hiburan. Di hari terakhir perayaan, dilakukan pengantaran arwah para leluhur dengan menghanyutkan sesuatu semacam lampion di sepanjang aliran sungai.

Gallery

Kamus

  • 阿波踊り| awa odori | awa dance | tarian awa
  • 阿波踊り祭り| awa odori matsuri | awa dance event | perayaan tarian awa
  • お盆休み| obon yasumi | liburan musim panas
  • 盆踊り | bon odori | summer dance | tarian musim panas
  • 徳島駅| tokushima eki | tokushima station | stasiun tokushima
  • 帯 | obi | ikat pinggang
  • 笠 | かさ| kasa | topi yang terbuat dari jerami
  • げんた | genta | sandal yang terbuat dari kayu sejenis sandal tangkelek di Indonesia

Referensi

  • Beberapa informasi dishare oleh Tanaka Sensei, Atsumi Sensei dan Lisa san.
  • Featured image is taken by Fitri san.

Related Link

Advertisements

Liwetan

Liwetan is one of traditions from East Java, Indonesia. All of menu are served on top of banana leaves. Then, to eat it every one use their hand (without spoon, fork, etc.). You usually can find Indonesian traditional culinary such as fried chicken (ayam goreng), tempe, tofu, sausage (sambal), salat (lalapan), etc. That is truly wonderful tradition.

Liwetan adalah salah satu tradisi dari Jawa Timur, Indonesia. Semua menu disajikan di atas daun. Lalu, setiap orang makan dengan tangan. Kuliner tradisional Indonesia yang sering ditemukan adalah ayam goreng, tempe, tahu, sambal, lalapan, dll. Benar-benar tradisi yang indah!

リウェタンはインドネシアの東ジャワの食べ方です。全部メニューはバナナの葉っぱの上に置きます。それから、皆さんは一緒に手で食べます。様々なインドネシアの料理を食べます。例えば、フライチッキんというアヤムゴレンやテンペやタフというとふやサンバルというチリソースやララパンというサラダです。本当に美味しし、いい文化です。

Related Link

Gallery

Salju Pertama Di Tokushima

24 Januari 2017 menjadi hari yang bersejarah buat para penjejak setelah 2x gagal membuktikan kebenaran ramalan cuaca pada minggu lalu di Tokushima.

Salju… Yap, selain momiji dan sakura, sebagai pendatang yang berasal dari negara 2 musim, pastinya salju menjadi salah satu hal yang paling membuat excited untuk dilihat secara langsung. Ada kesan tersendiri yang sedikit berbeda.

Lucunya, pertama kali mendengar salju akan turun, kalimat “besok atau lusa katanya (info dari siini, siitu dan ramalan cuaca) salju akan turun”. Rata-rata mengatakan akan turun pada pukul 6 sore.

Setiap mendekati pukul 6 yang kebetulan jamnya kami mengakhiri rutinitas, mata kami mulai standbye menyidak segala penjuru menjelang sampai di shelter. Dan, hasilnya selalu zonk.

Nah, karenanya, kami tetap berharap melihat salju tapi sudah tidak terlalu seexcited seperti sebelumnya, hanya menunggu saja, toh itu salju kemungkinan besar juga pasti turun toh..

Nah, kemaren lusa, seorang tuthor kami mengatakan bahwa nanti malam salju akan turun. Kami kembali excited, tapi.. “Yah, malam.. Entah benar entah enggak..”

Kemaren pagi, ketika membuka jendela kamar shelter yang pemandangannya segera menyorot gunung kecil di seberang yang lebih mirip bukit barisan, putih.. Dan, hamparan sawah yang mulai mengering disisi shelterpun juga menunjukkan aura yang sama. Berwarna tapi cool..

Seperti kue-kuean yang dibubuhi tepung gula, saljunya tipis.. Tapi, itu salju!! Yah, akhirnya kami melihat salju. Jangan ditanya deh ekspresi lebay kami yang pastinya sedikit membuat orang ingin muntah saking berlenya, haha..

Tadi malam, para penjejak disini tidak mau kalah dengan penjejak lainnya yang tidak ketinggalan update untuk mengabadikan moment hujan salju. Yah, salju kembali turun dan kami melihatnya langsung. Senang.. Tapi, biasa saja.. (Mungkin karena sudah terlalu banyak lalu-lalang di beranda medsos cuplikan salju lengkap dengan kesan si pemilik foto ataupun video).

Salju.. Akhirnya, merasakan butirannya yang lebih mirip serutan es batu sebelum dibikin jadi es tebak. Padahal, ada yang bilang, salju itu selembut kapas, tapi mungkin di versi daerah yang berbeda ya, haha..

Menjejak Di Negeri Sakura (Part 2)

Sistem Antri

Negara yang tak hanya ternama dengan budaya disiplinnya ini, juga terkenal dengan kebiasaan antrinya.

Nah, lho… Ketika berbelanja di supermarket, departement store, atau sejenisnya; jangan coba-coba nyelonong ya.. Jadi, saat berbelanja,  bahkan ditoko kecil sekalipun, lihat tanda panah merah atau kuning, ikuti tanda tersebut hingga kasir mempersilahkan kita untuk maju. Jika tidak, tetap perhatikan barisan pembeli terakhir.

Saat menggunakan eskalator, salah satunya di stasiun kereta api, beda daerah memiliki cara antri yang berbeda. Contohnya, Osaka dan Tokyo.

Di Osaka, pengguna yang dalam perjalanan santai mengambil posisi di sebelah kanan. Sementara sebelah kiri khusus untuk pengguna yang diburu waktu. Ini bertolak belakang dengan Tokyo, dimana pengguna sibuk bisa segera mengambil jalur kanan.

Hangko

Jika di Indonesia segala pendokumentasian butuh tanda tangan, di Jepang malah butuh cap saja. Cap ini dalam bahasa jepang disebut hangko.

Buat para pendatang asing, hangko dibuat dalam huruf katakana. Tempat pembuatan bisa dimana saja, biasanya biaya yang dikeluarkan disesuaikan dengan model cap dan seberapa banyak huruf yang digunakan.

Bajet yang dibutuhkan berkisar antara ¥850-¥1500. Fasilitas tambahanpun bisa didapat, seperti sarung hangko yang unik (tergantung tempat pembelian).

Selain digunakan secara manual, juga tersedia alat khusus, sehingga penggunaan hangko bisa dilakukan secara praktis. Alat ini bisa dibeli di supermarket dan sejenisnya.

Ribet vs Praktis

Di Jepang, pada tahap awal pengurusan segala bentuk dokumen cukup rumit. Namun, jika sudah fix,  boleh dibilang akan sangat praktis.

Tadinya, pertama kali berbelanja, saya bingung.. Kasir sering menanyakan apakah saya punya kartu yang dimaksud. Bahkan, jika saya ingin membuat kartu tersebutpun harus mengisi beberapa formulir dengan sangat detil. Dan, you know guys, semua kanji!!

Meskipun, apalah artinya sebuah kartu, toh cuma buat masukin poin belanja, kadang-kadang dapat diskon; tapi yaa lumayan, bukan? Tapi, faktanya, ada beberapa supermarket yang sangat ketat menyaring pemberian kartu poin belanja ini pada orang asing (pendatang). Kalau kamu nemuin ini, jangan heran, mesti nongkrongin pusat informasi sambil dikonfirmasi berkali-kali (Jika ketemu, saya ucapin selamat yua..).

Musim

Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki 4 musim, musim panas (natsu), musim gugur (aki), musim dingin (fuyu) dan musim semi (haru).

Pertama kali saya menjejak di Jepang adalah bulan Juni. Bulan ini merupakan peralihan haru ke natsu. Dalam masa ini, sering dijumpai hujan. Meskipun musim hujan tidak termasuk dalam daftar 4 musim di jepang, namun dikenal juga dengan sebutan tsuyu.

Nah, disini, pemakaian bajupun disesuaikan dengan musim. Biasanya, bajet yang dibutuhkan akan cukup mahal jika pakaian tersebut dibeli pada musimnya. Dan, diskon besar-besaran akan banjir diakhir musim tersebut.

Misalnya, sekarang akhir haru, baju-baju dengan bahan tebal akan dijual dengan harga miring. Karenanya, jangan sampe salah kostum ya, mentang-mentang murah, diborong, lalu dipake di awal natsu, gerah bok.. (Haha, pengalaman..).

Taktiknya, diborong boleh, tapi dipake ntar pas masuk aki, atau pas peralihan aki ke fuyu, atau di fuyu sekalian, itung-itung nambah lapisan coat..

Memasuki natsu akan banyak eventevent seperti tenjin matsuri, bon odori, hanabi (melihat kembang api), dan sebagainya. Yang menarik adalah pengunjung sebagian besar mengenakan yukata (pakaian tradisional jepang yang lebih tipis dari kimono).

Namun, di musim ini, waspada keracunan makanan, ya.. Beli dan simpan makanan seperlunya saja.

Biasanya, puncak natsu ada di pertengahan Agustus. Kemudian, memasuki September mulai aki. Hati-hati ya, di peralihan musim ini terjadi pertukaran cuaca yang cukup ekstrim, sering terjadi  angin topan (taifuu).

Namun, aki merupakan salah satu musim yang paling ditunggu. Apalagi kalau bukan momiji dan koyo yang menjadi icon untuk autumn.

Menjelang akhir tahun, peralihan cuaca kembali ekstrim. Suhu mulai turun mendekati angka 0. Disini, kita sudah harus ready dengan  coat, sarung tangan, sepatu boot dan perlengkapan fuyu lainnya.

Meskipun musim dingin, kita perlu waspada dengan kebakaran. Biasanya, sebagai preventif, di jepang akan sangat sering diadakan simulasi penanganan bencana secara gratis di berbagai tempat, salah satunya penanggulangan kebakaran.

Tahun ini, ada kejadian alam yang cukup fenomenal tentang salju. Di Tokyo, untuk pertama kalinya setelah 54 tahun yang lalu, salju turun di bulan November (24/11/2016), tepatnya 3 bulan lebih awal dan itupun hanya sehari.

Nah, selanjutnya sakura, melati-nya Jepang, bisa dilihat sekitar bulan April, di musim semi (haru). Disini ada kebiasaan melihat bunga yang dikenal dengan hanami.

Tranportasi

Negara yang terkenal dengan kemajuan teknologinya ini pastinya juga memiliki berbagai transportasi canggih nan praktis. Salah satunya subway, jika bepergian ke banyak tempat bisa menggunakan one day pass. Di hari kerja, tiket ini bisa dibeli seharga ¥800 di mesin penjualan otomatis. Sementara untuk weekend dan libur hanya ¥600.

Untuk pembelian tiketpun ada 2 cara, beli langsung atau dengan kartu isi ulang. Untuk via kartu, biasanya bisa dibikin di loket JR (Japan Rail), isi saldo di mesin otomatis dan penggunaannya tinggal scaning saja (seperti penggunaan kartu comuter line di Jakarta).

Saat menaiki bus,  jika punya kartu, scaning dulu saat naik. Tapi jika cash, biasanya dibayar saat akan turun. Pastikan untuk menyediakan uang pas. Jika tidak, pengemudi akan membantu penukaran uang via mesin otomatis lalu di bayar di mesin yang sama dengan tempat yang berbeda.

Bus ini memiliki sistem yang sama dengan busway di Indonesia, juga menyediakan tempat duduk khusus untuk kriteria tertentu, seperti: lansia, bumil atau penyandang cacat. Bedanya, penataan di dalam bus. Selain itu, setiap tempat duduk atau bahkan pegangan tangan memiliki tombol berwarna merah yang bisa ditekan saat akan mendekati tempat tujuan.

7th Year Anniversary ‘Jejak Langkah O’

Alhamdulillah.. ‘Jejak Langkah O’ telah menapaki tahun ke-7. Terimakasih untuk dukungan dari semua pihak, terutama keluarga. Kedepannya semoga lebih inovatif dan bermanfaat.

Alhamdulillah, today is 7th anniversary of “Jejak Langkah O”. Thanks to everyone that supports, especially my family. Hopefully this literary written will helpfull.

神様で今日は ‘Jejak Langkah O’ というブログは7歳です。色々なサポートは本当にどうもありがとうございました。これからも頑張らなければならないと思います。

大家好,今天是我的博客的生日(Jejak Langkah O),今年已经七年了。非常感谢你们都,看着看着就喜欢。我希望我的博客很有意思,谁看也就有好处,也希望你们就常常看我的博客。

Musafir Sehari

Prolog

Perjalanan panjang bukan hanya tentang kita dan berbagai destinasi indah yang ingin ditapaki. Adakalanya, setiap detilnya selalu terhubung pada Sang Khalik, sebuah perjalanan religi yang luar biasa berkah.

Minggu lalu, saya bersama sahabat, Q chan, berencana untuk mengunjungi Mesjid Osaka dan Mesjid Kobe. Kami bertekad, sebelum hijrah, kami harus mengunjungi kedua mesjid tersebut.

Agenda perjalanan kali ini:

  • Berangkat dari shelter pukul 13.00 (waktu Osaka).
  • Shalat Ashar di Mesjid Osaka.
  • Shalat Maghrib dan Isya di Mesjid Kobe.
  • Kobe Tower, kabarnya lebih indah pada malam hari.
  • Kobe Luminarie.
  • Harus kembali ke shelter sebelum pukul 00.00.

Hari ini adalah H-10 kami sebelum meninggalkan shelter. Tadinya, banyak penjejak yang mau ikut trip ini, karena padatnya aktifitas, akhirnya yang berangkat hanya saya, Q chan, Imam dan Nisa.

Menuju Mesjid Osaka
  • 14.00 Kami mulai bergerak menuju Abiko Station dan segera menaiki chikatetsu menuju Umeda Station. Beli tiket one day pass ¥600.
  • 14.24 Umeda Station.

Nah, seperti biasa, saya selalu menyelipkan kekonyolan disetiap perjalanan, tidak terkecuali untuk hari ini. Ketika keluar dari jalur Midosuji Line Umeda, one day pass saya ditolak. Karenanya, saya bertanya pada eki-in. Parahnya, saya men-charge kartu yang salah, tanggalnya beda!! OMG.. Saking banyaknya koleksi kartu subway!

Beralih ke Umeda Station. Bagi saya, stasiun ini menjadi stasiun terbesar yang pernah saya lewati di Jepang. Selain menjadi lintas dari berbagai jenis transportasi, di stasiun ini juga terbagi menjadi banyak unit. Jadi, harus punya petunjuk yang cukup; jika tidak, segera bertanya ke bagian informasi atau eki-in.

Nah, setelah linglung ga jelas, kami yang hanya mengandalkan internet map dan berbekal notes, menyerah dan lebih memilih option mencari info ke bagian informasi, dan ini sangat sangat efektif.

  • 15.00 Naik hankyu, tiket ¥290.
  • 15.06 Berangkat.. Gila, pemandangannya keren bo’.. Barisan pohon sisa-sisa koyo yang penuh warna.. Andai kami melewati tempat ini saat pertengahan aki..
  • 15.50 Yamada Station. Beli tiket osaka monorail ¥270. Kami segera mencari informasi melalui bagian informasi. Kami diberi peta lengkap dengan petunjuknya.
  • 15.53  Bampaku-kinen-koen Station.
  • 15.58 Norikae (transit) menuju Toyokawa Station.
  • 16.04 Toyokawa Station.

Kami menanyakan akses ke Mesjid Osaka pada eki-in. Tapi, tetap saja, bingung.. Karena, tempat ini melewati komplek perumahan yang cukup sepi. Selain itu, udara yang semakin dingin membuat kami harus berusaha lebih gigih agar cepat sampai ditujuan.

Dibalik kesulitan selalu ada kemudahan, kami bertemu dengan seorang warga yang bisa ditanya, akhirnya perjuangan yang tidak seberapa tadi terbayarkan, tadaa.. Mesjid Osaka!! Bak menang dari sebuah challenge, kami bersorak gembira. “Subhanallah, kami sekarang disini.. Di Mesjid Osaka!!!”

  • 16.15 Mesjid Osaka..

Berbeda dengan banyak mesjid di Indonesia, bahkan mesjid ini lebih mirip rumah bertingkat 2. Masuknya dari pintu samping. Ada tempat parkir yang bisa memuat sekitar 3-6 mobil. Di sebelah kiri bagian belakang ada toilet dan tempat berwudlu laki-laki.

Kami sempat nyaris kecewa, karena pintu mesjid tidak bisa dibuka dan sangat sepi. Mengingat waktu Ashar pukul 15.15, “apa mesjidnya tutup ya?! Mungkin bukanya pas waktu shalat saja untuk berjama’ah??”. Seketika saya sempat beropini demikian meskipun sangat tidak mungkin.

Lalu, tiba-tiba datang seorang laki-laki bertubuh tegap dan berkulit hitam menuju pintu mesjid. Sapaan orang itu “Assalaamu’alaikum” layaknya seorang mukmin, membuyarkan wajah kami yang saya rasa sempat bengong ga jelas saat pertama kali melihat orang itu  turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah kami. Kami menjawabnya dengan sumringah.

Selain lega dan bangga bertemu dengan muslim lain, dalam pikiran saya mulai terlintas “Alhamdulillah.. Mungkin dia penjaga mesjidnya, akhirnya kami bisa masuk mesjid ini, senangnya..”.

Bak kaca yang tiba-tiba retak, spekulasi tersebut membawa kami pada kenyataan bahwa mesjid itu sama sekali tidak terkunci, hanya saja kami yang tidak tau cara membuka pintunya 😀

Melihat mukmin tadi masuk ke dalam, kamipun bergegas mengikuti. Bak pertama kali memasuki sebuah tempat baru yang wah, saya menelisik setiap sisi, “oh, begini ya Mesjid Osaka.. Waah, saya disini, sekarang saya disini!!” (lebaynya kumat).

Dekorasi mesjidnya memang menyerupai rumahnya orang Jepang. Salah satunya, gengkang.

Dan, alhamdulillah.. Ketemu orang Indonesia!! Senangnya bukan main, serasa berada di Indonesia..

Di mesjid ini, tempat shalat laki-laki berada di lantai 1 dan perempuan di lantai 2, masing-masing ada toilet dan tempat berwudlunya. Hanya saja, tempat berwudlu di lantai 2 terbilang kecil, jadi hanya bisa satu-satu orang saja. Selain itu, tempat wudlu-nya juga hanya berupa wastafel. Jadi harus punya cara seefektif mungkin agar tidak membasahi sekitarnya.

Entah kenapa, rasanya ada yang berbeda. Niat, ucapan dan gerakan yang sama terasa berbeda setelah disini. Tempat yang terbilang sederhana ini terasa begitu damai, seolah beban yang sangat berat sekalipun terangkat dalam sekejap, terasa sangat ringan..

Tadinya, kami berniat hanya Shalat Ashar saja disini dan segera melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kobe. Namun, tiba-tiba Q chan punya ide “bagaimana kalau kami melewati rute yang berbeda dari agenda awal?!”

Ide yang briliant! mumpung hari ini harinya, tak ada salahnya mencoba hal-hal baru, tapi.. Saat ini kami memiliki banyak keterbatasan, terutama akses internet yang mulai memprihatinkan.

Kamipun menilik ulang setiap rute yang telah kami buat. Disaat kami berpikir alternatif mana yang paling efektif, seorang ibu-ibu muslim memasuki ruangan. Dan, alangkah surprise-nya kami, ternyata si ibu juga orang Indonesia, Sunda. Jadilah itu sebuah reunian antara Q chan, Nisa dan tentunya si ibu.

Dari sini, saya kembali menemukan point dari perjalanan ini. Menyimak percakapan 3 muslimah dari rumpun yang sama itu telah mengajarkan kepada saya tentang ‘uniknya bahasa’. Saya tidak tau arti percakapan mereka, namun saya mengerti inti pembicaraannya.

Tanpa sadar, diskusi ini telah menyita setidaknya sepenggal kecil perjalanan kami menuju Kobe. Namun, itu bukanlah hal besar, kalah besar dari moment yang kami dapatkan. Selanjutnya, karena waktu Maghrib telah datang (16.46), kami memutuskan untuk shalat dulu sebelum berangkat.

Setelah pamit dengan si ibu dan anaknya yang lucu, Taku kun; kami melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kobe. Yang jadi masalah, kami lupa menanyakan arah halte bus yang dimaksud. Walhasil, suhu yang semakin dingin membuat kami nyaris kembali ke rute awal.

Tiba-tiba, untuk kesekiankalinya ini menjadi sebuah kebetulan. Seorang wanita paruh baya, orang Jepang, bersepeda dengan arah yang berlawanan dari kami dan dengan antusiasnya mengucapkan “Assalaamu’alaikum..”. Kemudian, beliau memperlambat sepedanya dan menyapa kami dalam bahasa inggris.

Nah, ini bakal jadi hal unik lainnya dihari ini. Bahasa itu ibarat ‘bisa karena terbiasa’. Kami yang mulai terbiasa dengan bahasa jepang, kadang menanggapi si ibu dengan bahasa inggris, tapi terkadang malah spontanitas berbicara dalam bahasa jepang, yah meskipun dengan bahasa yang sangat sederhana. Tapi, si ibu malah konsekuen dengan bahasa inggrisnya yang sesekali kental dengan hyougen jepangnya.

Awalnya, kami merasa mendapat sedikit pencerahan. Ibu-nya sangat komunikatif, tapi.. Semakin kesini kami merasa percakapan dengan si ibu sedikit agak.. Ditambah dengan sikap si ibu yang terburu-buru mengayuh sepedanya tapi tetap berbicara seolah topik itu ditujukan pada kami.

Kamipun mulai berpandang-pandangan, seolah merasa memiliki pemikiran yang sama. Namun, Q chan yang dengan antusiasnya untuk melewati rute baru, tetap kekeh mengikuti si ibu. Kami yang mulai khawatir mengikuti petunjuk yang salah tetap menunggu Q chan kembali.

Karena khawatir, akhirnya kamipun menyusul Q chan. Kami mulai mengira jangan-jangan si ibu berpikir kami tidak tau jalan ke Mesjid Osaka padahal kami baru saja dari sana.

Saya mendampingi Q chan yang tetap terlibat percakapan dengan si ibu. Saya menargetkan, jika si ibu malah mengantar kami ke Mesjid Osaka lagi, tidak ada jalan lain, harus kembali ke rute awal. Dan, terkadang Tuhan menunjukkan jalan melalui cara-cara yang unik, yang tak pernah bisa kita tebak.

Si ibu mengatakan, rute menuju halte bus itu searah dengan rute yang akan dia lewati. Kami harus berjalan berlawanan arah dari rute sebelumnya. Lalu, beliaupun berhenti sejenak di lokasi sebelum mesjid dan menjelaskan rute setelah ini. Sebelum berpisah, si ibu mengatakan bahwa dia seorang perawat yang sudah pensiun, dulunya beliau seorang PhD. “Subhanallah..”

Kejadian ini benar-benar menepuk saya dengan sangat keras. Selama ini, saya selalu berprinsip “don’t judge peoples by their look“, tapi kali ini, saya sendiri yang melangkahinya. Dari lubuk hati yang terdalam, saya minta maaf dan sangat berterima kasih pada si ibu, juga bersyukur untuk moment ini.

Kamipun akhirnya sepakat, mungkin si ibu terburu-buru karena mengejar waktu Maghrib, makanya tidak sempat menjelaskan dengan gamblang.

  • 17.00 Berangkat..
Menuju Mesjid Kobe
  • 17.25 Basu noriba (halte). Kami berlarian seperti anak-anak yang enggan ketinggalan bus sekolah. Naik Bus Ibaraki.

Kali ini kali kedua saya menaiki bus. Bus ini mirip dengan busway di Indonesia. Bedanya, desainnya, cara pembayarannya, dsb. Dari pintu masuk, bagian kanan pintu, tepatnya dari tengah ke belakang bus, tempatnya lebih tinggi. Setiap tempat duduk bahkan bagian pegangan tangan diberi tombol yang bisa dipencet jika sampai di halte tujuan.

Pembayarannya, bagi yang memiliki kartu, ketika naik bus langsung menempelkannya ke alat khusus. Tapi jika membayar chase, penumpang membayarnya saat akan turun sesuai harga yang telah ditetapkan. Jika memiliki uang dengan nominal besar, minta bantuan pada sopir, nanti akan ditukar nilainya, dibayar sesuai harga dan diberikan kembalian. Semuanya menggunakan mesin otomatis.

Selama perjalanan, kami mendiskusikan banyak hal. Seandainya masih ada waktu, beberapa hal sebelum kami benar-benar meninggalkan shelter:

  • Sekali lagi ke Mesjid Kobe, berpose di Kobe Tower.
  • Mushalla di Stasiun Namba. Menurut info yang Q chan dengar, mushalla ini ada di basement.

Selama perjalanan, saya dan Q chan juga merancang planing buat tahun depan. Sesekali kami dan penjejak lainnya akan pergi ke tempat dan event-event, seperti:

  • MotoGP yang akan diadakan di Tokyo.
  • Korea.
  • Cina.
  • Menikmati momiji di Kyoto dengan mengenakan fashion ala wanita Jepang di zaman Edo.
  • Mesjid Kobe setiap ada waktu.
  • Air Terjun Mino saat momiji, pastinya lebih indah pergi disiang hari.

Next..

  • 18.00 Izumiya.
  • 18.05 Naik JR (Japan Rail) dari Ibaraki Station ke Kobe-Sannomiya Station (JR-Kobe Line). Pilih line 2. Go.. Saking ramainya, kami baru dapat tempat duduk setelah hampir setengah perjalanan. Dan, langsung meneparkan diri.
  • 18.56 Kobe-Sannomiya Station.

Kami segera mencari informasi melalui bagian informasi. Kami diberi peta lengkap dengan petunjuknya.

Sepanjang jalan terlihat berbagai tempat penginapan dan aneka restoran dengan aroma yang yummy.. Dan, kami baru sadar, perut kami mulai lapar..

  • 19.30 Akhirnya, Mesjid Kobe.. Alhamdulillah..

Mesjid ini terletak dibalik gedung NHK, TVRI-nya Jepang, tidak jauh dari bangunan Jinja.

Seperti halnya Mesjid Osaka, kejadian yang samapun terulang kembali. Kami bersorak gembira seolah baru saja diumumkan lulus dari TA (Tugas Akhir). Tapi.. Lagi-lagi pintu mesjidnya tertutup!!

Setelah melihat seorang muslim keluar dari pintu samping, akhirnya Imam berinisiatif untuk inspeksi. Kamipun mengikuti Imam, dan, ternyata, pintu masuknya dari sayap kanan mesjid sebelah belakang. Yokatta..

Melihat wajah bingung kami, para akhi di dalam segera membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. “Subhanallah.. Sekarang kami sudah di Mesjid Kobe!!”. Rasanya seperti mimpi! Benar-benar luar biasa.. Betapa bangunan ala timur tengah ini punya magnet yang bagi saya ‘ajaib’!

Akhi tersebut menanyakan apakah kami orang Indonesia dan segera memperkenalkan akhi lain yang juga dari Indonesia.

Seperti Mesjid Osaka, disinipun juga ada gengkang dan tempat shalat laki-laki di lantai 1 sementara perempuan di lantai 2. Segera setelah melepas sepatu, kami bertiga melewati anak tangga menuju lantai 2. Benar-benar tempat ibadah yang megah..

Disini, kami bertemu 2 orang muslimah yang berasal dari Sri Lanka. Mereka tenaga pengajar; mengenakan baju bernuansa gelap, sangat sederhana, tanpa make-up, tapi.. Siapapun bisa melihat inner beauty-nya. Dalam hati saya bertanya “kapan ya saya bisa seperti mereka??”.

Pertanyaan itu seolah memberi kesan saya benar-benar berniat ingin istiqamah seperti mereka atau malah mengejek diri sendiri. Saat berwudlupun saya jadi termangu melihat ke kaca. OK, deal! Suatu saat, entah kapan,  mungkin saya bisa seperti mereka.

Oh ya,  di mesjid ini tempat wudlu dan toilet dipisah dan lebih luas. Di ruang toilet, terdapat beberapa toilet yang dilengkapi dengan wastafel. Di ruang wudlu, terdapat banyak kran yang bisa diatur suhu airnya. Berdampingan dengan kaca rias dan fasilitas mukena.

Selesai Isya, saya dan Nisa mengenakan jilbab di tempat rias. Tiba-tiba, seorang muslimah menghampiri kami dan mengajak makan malam bersama, sudah disediakan hidangan untuk kami, karena sulit mencari tempat makan halal disekitar sini.

MasyaAllah.. Saya dan Nisa kaget, antara surprise dan sungkan, juga happy.. Semua yang terjadi di hari ini benar-benar sebuah kebetulan yang juga seolah sudah dipersiapkan untuk kami.

Sungguh, nikmat-Mu mana lagi yang kan kami dustakan?? Seolah Tuhan sengaja menjamu kami sedemikian rupa karena bertamu ke rumah-Nya, benar-benar tak terungkapkan, sangat bahagia.. Ini jauh dari ekspektasi awal yang notabennya kami hanya ingin menapaki jejak di rumah-Nya sebelum hijrah ke dunia kerja masing-masing.

Dan, lihat.. Tanpa kami beritahu pada siapapun kalau kami sedang lapar dan berniat mencari tempat makan dengan menu-menu baru, Dia sudah menggerakkan bala-bantuannya. Betapa beruntungnya kami, sangat sangat beruntung..

Kejutan ini belum usai. Dalam perjalanan menuju ruang makan, saya memberikan titipan buku dari seorang hamba Allah untuk mesjid. Kemudian, muslimah tersebut mengantarkan kami pada seseorang, orang Jepang yang fasih berbahasa Indonesia, subhanallah..

Kami dijamu dengan hidangan Pakistan. Nasi campur yang dibumbui dengan bumbu (seperti bumbu sup), kare ayam (mirip gulai ayam di Padang) dan roti Pakistan (mirip roti cane di Indonesia) menjadi menu utamanya.

Sebelumnya, kami sempat mencemaskan Imam. Dengan sungkan, kami tetap menyampaikan bahwa kami disini ada berempat dengan seorang teman laki-laki. Mereka mengerti apa kami pikirkan dan menyampaikan bahwa laki-laki juga dijamu di lantai 1, karena yang masak masakan inipun juga laki-laki. Kami bertiga sepertinya sepakat ‘WOW!’

Dalam nasi campur itu ada bumbu yang bentuknya mirip bumbu sup di Padang, namanya gardambumbu. Tapi, ini jelas berbeda, yang ini teksturnya mirip kacang mente dengan rasa seperti kacang tanah. Hayooo.. Unik, benar-benar unik! Selain itu, tekstur dan rasa nasinya juga berbeda. Selain ini juga ditambahkan kismis dan potongan daging dengan ukuran sedang.

Saking sungkannya, saya sampai lupa sudah berapakali mengucapkan terima kasih. Dan, watak Indonesia saya yang satu ini, saya rasa agak sedikit berlebihan. Jadi, bagi siapapun, jangan sampai melakukan hal yang sama ya, sungkan itu memang perlu tapi tidak berlebihan.

Setelah makan, datang seorang anak kecil yang imut banget mengantarkan desert yang mereka sebut sweet. MasyaAllah.. Ini benar-benar.. Dalam Bahasa Minang, makan lamak. Rasanya, wenak banget, benar-benar sesweet rasanya!! Ini seperti terbuat dari santan pekat yang diolah dengan bumbu rempah (seperti ada potongan jahe yang cukup halus tapi tidak terlalu khas).

Dalam percakapan kali ini, kami bercerita banyak hal. Dari sini kami tau bahwa muslimah Jepang tersebut bisa berbahasa Indonesia sefasih itu hanya dengan mendengar. Luar biasa.. 

Selain itu, ternyata, dihari biasa, disini dibuka kelas, seperti kelas Qur’an dan hadist untuk umum.  Dihari kerja, pukul 1 s/d 3 dan sabtu mulai pukul 3. Tapi, tetap harus konfirmasi dulu sebelumnya.

Saya begitu antusias dengan budaya makan bersama tadi, mengingatkan saya pada kampung halaman. Jika ada tamu atau acara tertentu, sering dihidangkan seperti ini.

Spontan saya bertanya, apakah selalu begini? Atau dihari tertentu saja? Dan, jawabannya seolah membuat saya bungkam. Acara makan-makan tadi adalah perdana, alias pertama kali dilakukan disini, alias sebelumnya tidak pernah. Dan, merekapun juga tidak tau siapa yang mengadakan dan kenapa bisa ada acara makan-makan tadi. Ok, I’ve got the answer.

  • 20.45 Go..
Kobe Luminarie

Agenda awal, setelah Mesjid Kobe, harusnya kami ke Kobe Tower. Namun, karena jaraknya yang jauh sekitar 1 jam lebih, akhirnya kami menundanya. Kemudian bergerak menuju Kobe Luminarie.

Untuk kesekian kalinya, kami yang buta arah dipertemukan dengan orang Indonesia disebuah persimpangan. Mereka memberi petunjuk arah yang paling efisien. Setelahnya, kami tetap mengonfirmasi pada polisi yang menjaga keamanan acara. Mereka standbye diberbagai tempat dan tetap welcome meskipun sedang sibuk mengatur masa.

  • 21.10 Menuju Kobe Luminarie.
  • 21.30 Kami bergerak cepat, mengingat info dari polisi tadi, acara ini hanya sampai pukul 10. Dan, Kobe Luminarie!! Wow,  festival lampu ini benar-benar kerreen!! Event ini diadakan dalam rangka HUT ke-150 Pelabuhan Kobe. Ada juga aneka jajanan kuliner jepang..

Lampu-lampu megah itu mengantarkan saya pada sebuah analogi. Mereka seperti mimpi dan harapan yang menjadi nyata dan menerangi ratusan masa yang membanjiri sekitarnya. Mereka hanyalah sebuah benda yang bisa dimodifikasi oleh manusia. Begitupun mimpi dan harapan, sebuah motivasi yang juga bisa dikendalikan oleh manusia.

  • 21.55 Setelah jauh mengelana, akhirnya kaki kamipun mulai terasa kram. Berarti, kami harus mengakhiri perjalanan luar biasa ini.

Lagi-lagi, untuk kesekiankalinya, tak terhitung lagi.. Disaat kami mulai mencari arah pulang, reflek perhatian tertuju pada Imam dan orang yang tidak kami kenal. Orang itu orang jepang yang fasih berbahasa Indonesia dan terlihat memberi petunjuk. Ternyata, dari Imam, orang itu tiba-tiba menyapa dan menanyakan tujuan kami lalu langsung menjelaskan rutenya. Alhamdulillah.. Ada saja bantuan tak terduga..

  • 10.14 Kobe-Sinnomiya Station ¥320 naik hankyu di jalur 4.
  • 10.18 Menuju Umeda Station.
  • 10.53 Umeda Station.
  • 11.00 Chikatetsu menuju Abiko Station. Tanpa komentar apapun, setelah mendapat tempat duduk, kamipun rehat sejenak meninggalkan keremaian kereta.
  • 11.27 Abiko Station.
  • 11.45 Shelter.
Sepenggal Cerita tentang Stasiun Umeda

Sebulan yang lalu, tepat ditanggal yang sama, saya punya agenda dadakan yang mengantarkan saya ke Umeda Station. Tanpa akses internet dan informasi yang minim, saya bergerak menuju lokasi. Maklum, selama ini saya tidak punya akses ke stasiun  besar ini.

Bahkan dengan bekal notes ples nanya ke bagian informasi-pun terkadang tidak menjamin lokasi tersebut mudah ditemukan. Untungnya, seorang teman yang kebetulan punya destinasi ke Yodoyabashi, berbaik hati mengantarkan saya. Jika tidak, entahlah.. Hanya ada 2 kemungkinan, bakal menghabiskan banyak waktu atau batal.

Hikmah

Perjalanan kali ini memberikan pelajaran luar biasa:

  • Perjalanan panjang bukan hanya tentang diri sendiri, interaksi dengan sesama, keindahan tanpa batas, dsb; tapi juga tentang seorang umat dan Sang Khalik.
  • Mau travelling, nge-trip, walking out, dll; yang namanya pergi bareng itu memang harus punya management kekompakan alias kerja tim.
  • Jika Tuhan meridhai apa yang kita tuju, dalam setiap kesulitannya Tuhan selalu menyelipkan kemudahan.
  • Terkadang Tuhan menunjukkan jalan melalui cara-cara yang unik, yang tak pernah bisa kita tebak.
  • Segala sesuatu tergantung pilihan dan usaha. Usaha yang lebih so pasti dapat hasil yang lebih.
  • Sesuatu yang terlihat buruk bisa jadi memiliki banyak manfaat dibaliknya. Sebaliknya, sesuatu yang diyakini baik juga belum tentu baik pada akhirnya.
  • Jangan mudah menilai sesuatu, meremehkan hal kecil bisa jadi membuat kita kehilangan kesempatan besar yang belum tergali didalamnya. “Don’t judge peoples by their look”
  • Sesama muslim adalah saudara. Dimanapun dan kapanpun, dengan latar budaya apapun, kita semua sama. Hanya dengan seutas senyum atau dengan mengucapkan “Assalaamu’alaikum”, sebuah silaturrahim-pun begitu mudah terjalin.
  • Sebagai insan yang memiliki budaya timur, rasa sungkan itu memang perlu tapi tidak berlebihan.
  • Mimpi dan harapan itu seperti cahaya yang menerangi kegelapan dan menyinari sekelilingnya.
  • Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan tepat pada waktunya, bukan yang kita inginkan.
Moment to Remember
  • Best moment with Q chan, Imam dan Nisa. Para musafir sehari dengan segala berkah-Nya yang melimpah.
  • Ibu asal Sunda yang giat mencarikan kami informasi. Bersama si cilik Taku kun yang lucu.
  • Salah men-charge kartu.
  • Mengejar bus setelah salah paham pada si ibu bersepeda.
  • Aroma masakan nan yummy  sempat terlintas untuk makan dulu sebelum sampai Mesjid Kobe. Tapi, setelah meluruskan niat, akhirnya dijamu dengan masakan Pakistan yang enak banget..
  • Bertemu muslimah-muslimah inspiratif, seperti Aisyah, Aminah,  Hana dan muslimah lainnya.
  • Kembali ke Umeda Station, tapi kali ini tidak sendiri, bersama para musafir sehari.
Catatan
  • Chikatetsu = Kereta api bawah tanah.
  • One day pass = tiket yang berlaku kemana saja dengan chikatetsu, tetapi terbatas untuk subway saja, berlaku sampai pukul 12 malam, alias seharian.
  • Notes = Buku catatan (agenda perjalanan).
  • Option = Pilihan.
  • Hankyu = Kereta api cepat.
  • Koyo = Daun-daun yang berubah warna menjadi merah pada aki.
  • Aki = Autumn, musim gugur (peralihan musim panas ke musim dingin).
  • Hyougen = Logat.
  • Monorail = Transportasi darat yang lebih menyerupai satu gerbong kereta yang dijalankan oleh masinis, rel-nyapun memiliki bentuk yang  berbeda.
  • Norikae = Transit,  pindah jalur.
  • Eki-in = Penjaga stasiun.
  • Gengkang = Sedikit space antara pintu dan bagian depan ruangan rumah khas Jepang, tempat meletakkan alas kaki (sepatu, sandal, dll).
  • Yokatta = Lega.
  • Akhi = Panggilan untuk laki-laki muslim.

Menjejak Di Negeri Sakura

Prolog

Yah, “waktu ibarat roaller coaster“.. Saking cepatnya, tak terasa telah memasuki bulan ke-5 di negeri sakura. Banyak hal yang ingin dishare, tapi.. tidak cukup waktu, semua cerita yang telah terkonsep dipikiranpun perlahan mulai blur ditimpa sekelumit aktifitas yang cukup menguras pikiran (hee.. ga segitunya juga keles..).

15 Juni 2016, ibarat kata ‘hari bersejarah’. Setelah beberapa kali gagal go international (ciileh), dan melalui hari-hari terberat sekontras warna-warni konflik didalamnya, akhirnya tanah samuraipun tersapa juga. Dan, jika ada yang bertanya “bagaimana kesan saya?”, ‘biasa saja’..

Jika saya harus flash back, melihat siapapun yang pernah ke luar negeri, dalam pikiran saya “mereka hebat!”, dan saya tidak pernah terpikir akan benar-benar merantau jauh dari Ranah Minang, meninggalkan zona nyaman terbaik sepanjang hayat.. Namun, support yang tak kalah besarnya menyeberangkan saya melintasi nasib yang tak terduga. Karenanya, sayapun punya slogan baru “saya orang bingung yang beruntung“.

16 Juni 2016
Welcome to Japan

Kala itu (15/06/2016), saya menggunakan jasa penerbangan JAL (Japan Air Line), Garuda-nya Jepang. Take off dari Bandara Soetta (Soekarno-Hatta) Jakarta sekitar pukul 10 malam dan landing sekitar pukul 5 subuh di Bandara Narita, Tokyo.

  • 05.00 Bandara Narita, Tokyo.
  • 08.15 Go to Tokyo, melewati Tokyo Tower, Sky Three, dll.
  • 09.09 Bandara Haneda.
  • 13.40 Osaka International Airport.
  • 14.19 Go to Osaka dengan bus.
  • 16. .. Asaka-shi, Osaka.

Penerbangan Jakarta-Tokyo memakan waktu sekitar 8 jam. Meskipun ini bukan kali pertama mengudara, entah kenapa, saat itu saya merasa nano-nano, perasaan menjadi campur-aduk.. Untungnya, cuaca saat itu cukup bersahabat. So, perjalanan yang melelahkan itu berlanjut hingga transit menuju Osaka.

Penerbangan Jepang-Osaka memakan waktu sekitar 2 jam. Akhirnya, dengan segala persinggahannya, sampailah di Asaka-shi pukul 4 sore, Osaka. Tidak hanya sekedar melepas penat, markas ini juga akan menjadi shelter bagi saya dan para penjejak lainnya hingga 6 bulan ke depan. Antara percaya dan tak percaya, ini Jepang! Dan, saya sudah sampai di Jepang! Banzai!!

Minggu Pertama

Jepang.. Yah, banyak hal positif yang sering banget didengar tentang negera ini; budayanya.. kreatifitasnya.. disiplinnya.. apalagi komik dan cartoon-nya.

Meskipun seharian rehat belum memulihkan kelelahan, saya dan para penjejak yang dasarnya punya darah “R”; darah spesial yang tidak termasuk dalam golongan darah secara teori, “R” singkatan dari raun-raun, bahasa Minang yang berarti suka bepergian; telah mengelana ke Abiko, pusat pertokoan terdekat dari shelter.

Anehnya, tidak ada yang wah. Tidak seperti yang dibayangkan sewaktu di Indonesia. Hanya saja sedikit merasa “terasing di negeri asing” (meminjam kutipan dari sahabat saya, Meichan).

Dimensi Lain

Tata kotanya memang lebih rapi dan bersih. Semua bangunan hampir memiliki pola dan warna yang mayoritas sama. Dimana-mana bertebaran tulisan kanji dengan beragam bentuk, membuat saya seolah-olah menyeberang ke dimensi lain, seperti tiba-tiba tersedot ke mesin waktunya si Doraemon!

Jet Lag

Kadang, saya tiba-tiba merasa pusing, tiba-tiba berasa gempa! Faktanya, ini hanya efek jet lag alias mabuk penerbangan, akibat perjalanan jauh.

Yen

Pertama kali menerima mata uang Jepang, yen; saya bingung.. Jumlahnya kecil 2 angka dari rupiah. Kalau di Indonesia uang Rp 50,- saja sudah tidak terpakai, disini ada nominal ¥1 (1 yen)!

Biasanya paling malas membawa duit receh kemana-mana, meskipun dengan massa yang sudah cukup ringan. Tapi, disini, koin-koin mungil itu sangatlah berarti. Mau belanja seharga berapapun, pasti lebih banyak dikembalikan dalam bentuk koin.

Walhasil, disini juga dijual kotak koin praktis yang didalamnya sudah ada sekat-sekat pembatas nominal yang bisa diatur penyimpanannya. Benda praktis ini bisa dibeli di berbagai toko, terutama di ¥100 shop (toko serba 100).

Kanji, kanji & kanji!

Berbeda dengan Indonesia yang hanya menggunakan huruf romaji, Jepang memiliki 4 jenis huruf: hiragana, katakana, kanji dan romaji. Jadi, buat yang ingin mengenal Jepang, harus kenal juga dong dengan tulisannya, terutama kanji!

Sedikit mengulas tentang kanji, huruf ini diadopsi dari Cina. Meskipun begitu, huruf yang sama dengan arti yang sama, memiliki cara baca yang sangat berbeda dengan negeri asalnya. Dan, diantaranya memiliki bentuk yang nyaris sama, belum lagi kombinasinya, siap-siap puyeng dah! Tapi, kalau sudah mengerti, memang lebih enak menggunakan kanji, lebih singkat, tepat dan praktis.

Ceritanya, pertama kali ke supermarket Jepang (kebetulan stok yang dibawa dari Indonesia sudah mulai menipis). Saat mencari kebutuhan sehari-hari, seperti shampo dan facial foam (sabun wajah), saya dan teman-teman butuh waktu berjam-jam hanya untuk membaca petunjuk pemakaian. Semua ditulis dalam kanji!!! Hanya beberapa kata yang menggunakan katakana dan hiragana, apalagi romaji?!

Beberapa merk ada yang mirip dengan produk-produk yang ada di Indonesia. Tapi.. itu untuk wajah, badan, rambut atau bagaimana?! Terus, kalaupun untuk wajah, itu krim, pelembab, foam, penyegar, atau apa??

Supermarket disini tidak sama dengan di Indonesia yang karyawannya bisa ketemu di setiap perbelokan, yang pasti standby hanya kasir saja. Nah, kalau sudah bertanya 1-2 kali, tapi yang dimaksud tidak juga ketemu, watak Indonesia-nya muncul “jadi segan..”.

So, ujung-ujungnya, semua dipotretin, biar nanti bisa dikonfirmasi ke sensei (tutor); maklum.. belum punya akses internet, jadi kalaupun punya aplikasi kanji tetap tidak bisa dipakai saat itu.

Lucunya itu saat mencari pasta gigi alias odol. Setelah mendapat rekomendasi dari sensei, dengan sumringahnya langsung bergerak ke supermarket terdekat. Tapi.. “yang mana ya?!” Tenang, saya sudah menanyakan odol yang persis sama dengan yang sensei pakai..

Bermodalkan foto screenshot, dalam waktu singkat, yang dicari langsung ketemu. Tapi.. ada jenis lainnya juga, lho.. “Hm, bagaimana kalau mengambil jenis yang berbeda?!”.

Dan, tahukah Anda, saya hampir membeli perekat gigi palsu!! OMG.. Mulai dari kemasan hingga kanji giginya sama, untung saja sempat mengamati gambar dibalik kemasannya yang disadari segera sebelum ke kasir! Bayangkan deh, ini lem kalau beneran saya jadikan odol?! haha..

Ngulik Kuliner Jepang

Hal pertama yang cukup mengkhawatirkan menjelang  tiba di negeri sakura, terutama bagi penganut muslim dan advent, tentunya makanan. Di seantro Jepang, otomatis didomonasi oleh pangan yang terbuat dari babi dan juga berbagai minuman jenis oshake (tuak).

Untungnya, di shelter saya, mereka sudah terbiasa menerima pendatang dari berbagai negara, jadi menu ataupun microwave di shokudou (kantin) sudah diberi label “halal” dan “no halal”. Tidak hanya itu, bagi vegetarianpun juga diberi pelayanan yang sama, menu dan microwave khusus vegetarian. Proud of my shelter’s shukudou so much dah!

Tadinya, sedikit mumet ketika mau mencicipi aneka makanan yang cukup bikin ngiller selama jalan-jalan paniang (bepergian untuk sekedar bersantai). Alon-alon kelakon, mulai berani bertanya dengan bahasa jepang seadanya, dan, sampai sekarang mulai banyak referensi tempat halal yang bisa disinggahi. Tidak hanya halal, tapi juga ekonomis! Mau tau?!

Takoyaki

Di sekitar abiko, ada toko kecil takoyaki di seberang supermarket gormet (gormeit). Disini yang jualan 2 orang ibu-ibu, saya memanggil mereka obasan. Bukan hanya punya masakan enak dan murah, mereka juga sangat ramah; serasa berada di Indonesia! Selain takoyaki, juga ada okonomiyaki (pizza ala Jepang) dan mie goreng, tapi sayangnya ada buta-nya, alias babi, no halal. Takoyaki dan 2 masakan ini dibuat dengan wadah terpisah, so, I think it’s OK.

Ayam Goreng

Masih di daerah Abiko, tepatnya di lantai 2 Plaza Abiko, ada restoran yang namanya Saizeriya. Disini ada menu ayam goreng murah, hanya ¥299 dapat 5 potong sayap dengan rasa yang cukup sesuai dengan lidah Indonesia. Selain itu, juga ada pizza, tentunya masih dengan harga ekonomis! Recommended by Fatma, a.k.a Lidi. Ternyata, restoran ini juga ada di Namba, lho..

Masakan Indonesia

Ada 2 cafe Indonesia yang populer dikalangan perantau, Balibong yang bernuansa Bali di Abiko dan Cafe Bintang yang bernuansa Jawa di Shinsaibashi (Namba). Selain itu, juga ada beberapa wirausaha tertentu yang menyediakan pemesanan makanan Indonesia online via delivery.

Wassalam..

Hm.. by the way, segitu dulu ya intermezo-nya.. To be continued..

Mengelana Ke Nara

Gayanya, kita para trio comal-camil pagi ini akan ke Abiko Kannon Temple pukul 7 pagi (waktu Jepang). Tapi, gegara libur, waktu rehatpun tak terelakkan. Walhasil, kita baru beringsut dari kediaman masing-masing sekitar pukul 9. Setelah itu lanjut ke receptionist demi mendapat sedikit pencerahan tentang destinasi yang akan kami tuju.

Berikut sepenggal agenda hari ini:

  • 10:56 Beli tiket Subway Chikatetsu Midosuji Line ¥280 di Stasiun Abiko dengan tujuan ke Stasiun Namba (stasiun ke-7 dari  Stasiun Abiko). Lama perjalanan sekitar 16 menit.
  • 11.17 Transit ke Kintetsu Railway, tiket JR ¥560.
  • 11.31 Lama perjalanan ke Nara sekitar 38 menit.
  • 12.11 Stasiun Kintetsu Nara.
  • 12.24 Go
  • 12.30 Taman Wisata NaraAmazing banget berinteraksi langsung dengan banyak rusa yang jinak, beli makanan khusus untuk rusa di  pinggiran jalan taman ¥150, seru!!!
  • 12.45 Mampir ke pusat oleh-oleh. Waaah, gilaaa… komplit banget!! Mulai dari yukata,  replika samurai, pungling (gantungan yang berbunyi saat ditiup angin), aneka kue, dll. Bikin lapar mata!
  • 13.15 Kuil Todaijhi.
  • 15.15 Stasiun Nara
  • 15.40 Go home..
  • 16.26 Stasiun Namba

Bagi saya pribadi, hal yang paling berkesan ketika berada di Kuil Todaiji, sahabat saya beropini “eh, setelah diperhatiin, kayaknya lu doang deh O yang pake jilbab”. Lalu kita spontan mengamati sekitar, and that is really true. Tapi ini sama sekali tidak merubah apapun, perjalanan kali ini sangat menyenangkan.

Padahal, jika dihubungkan dengan perjalanan awal, ada seorang bapak-bapak yang saat menaiki JR, matanya langsung tertuju pada saya yang kebetulan juga melihat kearah beliau. Bukan sorot pandang yang ramah, seperti seorang juri yang sedang menyortir peserta lomba, atau seseorang yang sedang berhipotesa di dalam pikirannya.

Karena respon yang demikian, yang tadinya saya harusnya bersikap welcome malah ikut berhipotesa, mencerna maksud dari biasan mata itu. “Karena saya berbedakah?! Kerudungkah yang jadi keyword-nya? So, why?? Toh, saya merasa tidak mengganggu siapapun”. 

Setelah diam mengamati saya sesaat, beliau langsung duduk sembari membuka lipatan koran dan membacanya. Beliau duduk di kursi nomor 2 dari kanan pintu JR (kursinya 2-2), sementara saya tepat di urutan kedua kursi sebelah jendala kiri JR.

Seandainya saya bisa mengutarakan, don’t judges people by the cover, please! Tapi yo wes, clue-nya “tidak semua orang berpikiran sama dengan apa yang kita pikirkan dan orang lain tidak bisa selalu sama dengan apa yang kita pikirkan”. Seperti alur mundur, saya teringat sahabat saya, MeatKalimat ini sering menjadi key topic setiap kali kami curcol alias cuhat colongan. 

Satu poin penting tentang perbedaan, “jadi beda itu tidaklah buruk selama kita bisa saling menghargai. I am proud be who I am, bisa menjadi diri sendiri itu luar biasa, karena tidak semua orang mampu mengapresiasi siapa dirinya.

Dan, persahabatan sangatlah indah, tak peduli seberapapun besarnya perbedaan selalu jadi warna tersendiri dalam keakraban. Beautiful moment with Risa chan & Ka Wi. Missed you, Meat..

Menyapa Djogja 2016

Liburan kali ini tergolong nekad, dengan bajet pas-pasan akhirnya sampai juga di Djogjakarta, kota yang terkenal dengan wisata alam dan budayanya. Padahal, misi ini berawal dari niat silaturrahim, namun seiring perkembangannya malah berubah menjadi tour selama 3 hari berturut-turut.

Berikut ringkasan cerita perjalanan saya selama di Djogja, sepenggal kisah, menelisik kembali jejak di masa lalu, “Djogja, saya kembali…”

Rabu, 4 Mei 2016
Go to Djogja
  • 17.00 Standbye di Terminal Pasar Minggu.
  • 17.30 Berangkat (Jakarta-Djogja) dengan Bus Sumber Alam Super Excecutive, ongkos Rp 165.000,-. Fasilitas: Bangku 2-2, toilet dan AC.
  • 23.00 Berhenti di Indramayu, makan di tempat yang lebih mirip barak. Disini terhidang prasmanan yang langsung dibayar (harga standar Rp 20.000,- tanpa air mineral), lalu kita bisa memilih tempat duduk sesukanya. Disini juga tersedia toilet, mushalla, makanan-makanan, minuman, tempat mengecas HP, wedang jahe, dll.

Ada kejadian banyol juga nih. Sesaat setelah turun, saya langsung mendongakkan kepala ke arah belakang, menandai apa yang bisa ditandai dari bus yang kita naiki, saking banyaknya bus yang parkir disini udah ngalah-ngalahin terminal! 😀 Dan, saya fokus ke angka 072, yah, harus ingat!

Tadinya, dengan wajah oon, saya menelisik sekitar dan menyimpulkan “mungkin ini tempat razia bus-bus kali, ya.. Tapi kok aneh?!” Haha, sampai sekarang saya masih geli sendiri mengingat kalau itu adalah barak tempat pemberhentian bus sementara untuk makan, toilet, dan sebagainya 😀

Saya dan Nanad, teman seperjalanan saya, duduk santai di kursi yang ada sambil mengecas hp. Tidak ada satupun diantara kita yang tau busnya akan berangkat jam berapa.

Sementara itu, saya mulai tergiur dengan wedang jahe, penasaran mencicipi seperti apa rasanya, samakah dengan skoteng dan sejenisnya?! Mari dicoba.

Lama menanti, empunya jualan tak muncul-muncul. Tiba-tiba, pandangan saya langsung tertuju pada bus kami, dia beringsut ke arah belakang dan langsung berjalan meninggalkan barak; tidak, bukan hanya barak, tapi KAMI!!! Serangan panikpun mulai menyerang, saya memanggil-manggil Nanad buat mengejar bis itu. Seorang bapak-bapak membantu dengan menunjuki arah kemungkinan bus itu berlalu sebelum meninggalkan lokasi barak.

Ketika sedang sibuk-sibuknya, mencari arah. Tiba-tiba Nanad seperti membangunkan saya dari tidur. Ternyata saya salah menandai bus!! MasyaAllah… benar-benar.. antara mau ngakak dan lelah pasca panik, hahaha.. Beruntung tepat saya sadar sesaat bus yang sebenarnya akan benar-benar berangkat 😀

Kamis, 5 Mei 2016
Gunung Kidul
  • 06.30 Loket di Kebumen, berhenti untuk sarapan.
  • 07.15 Berangkat..
  • 09.50 Terminal Giwangan
  • 10.00 Misi ke pantai bareng trio eksis. Let’s go..

Bergerak menuju Gunung Kidul, melewati Bukit Bintang. Banyak hal jadi bahan omongan, dan, walhasil, muncullah gelar duta korea, duta sinetron dan raja batu akik 😀 (gila-gilaan).

Uniknya, sepanjang jalan banyak ditemukan penjual yang menjajakan walang goreng, atau belalang goreng, biasa dijual sekitar Rp 20.000,- berisi 5 belalang yang telah dikeringkan dan digoreng.

Trip pertama ke Pantai Indrayanti, melewati simpang Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Krakal (100m sebelumnya), Pantai Sadranan (tempat snorkling), dll. Disini kita sempat ragu dan berbalik arah karena plang Pantai Indrayanti yang tidak kunjung ditemukan dan koneksi internet yang kurang bagus. Tapi kita tidak menyerah dan akhirnya benar-benar sampai di Pantai Indrayanti.

Sebelum bergerak ke pantai, saya beli topi dulu (Rp 30.000,-), secara puanas buangettt… Lalu dengan semangat 45, kita menantang matahari menuju pantai. Berhubung energi masih full, kita memutuskan untuk mendaki bukit (di bibir pantai) terlebih dahulu. Menurut Ikbal, pemandangan dari atas mirip Bali! Mari kita buktikan..

Dengan membayar uang sukarela, kita lanjut mendaki melalui jalan setapak yang telah dibuat berundak sebagai jenjang, dan… luar biasa…. pemandangan yang sangat indah… Tak ayal kita langsung pasang gaya jepret sana-sini, hee.. biasa, kekinian.. 😀

Setelah puas berselfieria, kita menuju parkiran dengan trip selanjutnya Pantai Baron. Sekaligus makan siang disana. Sebelum berangkat, kita cuci mata dulu liat-liat koleksi makanan disini. Ada kripik rumput laut dan kripik undur-undur (hewan mungil yang biasa ditemukan di pasir pantai), 3 bungkus besar Rp 10.000,-; ekonomis, bukan?! Rasanya juga gurih, hm…

Pantai Baron berada sekitar 15 menit dari Pantai Indrayanti. Bedanya, untuk ke pantai ini kita mesti berjalan dulu sekitar 15 meter dari tempat parkir. Bukan cuma itu saja, pantai ini juga punya keunikan tersendiri, air lautnya ada rasa asin dan tawar. Air tawar ini berasal dari sungai mengalir dari bawah bebatuan menuju laut. Selain itu, menara suar juga menjadi daya tarik lainnya dalam menikmati pantai dan sekitarnya dengan pesona yang menakjubkan.

Untuk menuju menara suar, kita bayar Rp 2.000,-/orang, dibayar pada saat menaiki bukit. Di atas bukit, kita juga bisa sewa mobil golf. Insert masuk menara Rp 5.000,-/orang. Anda cukup mempersiapkan tenaga ekstra demi mendaki menara setinggi 40 meter dengan 9 lantai ini, tapi capek itu akan terbayarkan ketika Anda sampai di puncak menara; percaya deh…

Jum'at, 6 Mei 2016
Candi PrambananKeraton Ratu Boko, Malioboro,0km, Alkid

Kali ini saya bersama unjut bontot bergerak ke Candi Prambanan. Start pukul 08.30 WIB. Kita ambil paket Candi Prambanan + Kerato Ratu Boko, tiket Rp 50.000,-/orang. Setelah puas mengitari Candi Prambanan, kami mendaftarkan tiket ke Keraton Ratu Boko dan menunggu antrian sambil melepas lelah di bangku taman, tepat di sisi depan sebelah kanan suttle bus. Kita dapat nomor urut 07, beruntung ada kosong 2 bangku dan kita berangkat lebih awal dari nomer antrian sebenarnya.

Waduuuu… Djogja fuanaazzz, bok.. Badan kita sampai berkuah, hhaha… Padahal, masih banyak tempat yang mau dikunjungi, termasuk tempat pemandian Ratu Boko, yang menjadi tempat shooting AADC2 (Ada Apa Dengan Cinta 2), namun.. じかんが ないよ (waktu terbatas). So, kita segera balik, mengingat harus menunggu antrian bus buat kembali ke Candi Prambanan lagi.

Sehabis maghrib, saya bergerak menuju Malioboro. Sebelum ke Djogja, Lisa sudah memberitahu, keliling pake becak disini itu murah, hanya Rp 5.000,-. Tapi, unjut bontot sempat ngedumel, harus pandai-pandai nawar.

Sebelum pergi, saya bertanya ke recepcionist tentang arah ke Malioboro, ternyata cukup jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Mau pesan ojek online juga ga ngerti lokasi detail ini hotel.. Wes, ke depan langsung ketemu becak, dan.. saya kaget dong, ke Malioboro kata Bapaknya Rp 40.000,-. Beliau sampai bilang-bilang “nol kilometer” lagi, saya mah kagak ngerti atuh…

Sepanjang jalan saya bertanya-tanya terus “nol kilometer itu apa??” Si Bapak sampe rada kesal, karena saya kagak ngerti mulu, padahal suara si Bapak yang sayup-sayup sampai ditelan keramaian, jadi sayapun makin bingung, yang kedengaran selalu “nol kilometer”, fuuh…

Teman saya, Nanad sudah sampai di Malioboro sedari tadi dan dia nungguin saya di depan Bringharjo. Anehnya, kok Malioboro yang katanya deket dari penginapan saya, malah belum sampai-sampai ya?! Dengan nyinyir saya bertanya pada si Bapak, eh… ternyata, dari tadi itu maksud si Bapak, jalan yang biasa macet, jadi kita keliling dulu sekalian ngeliat wisata lain, bah!

Untuk menyimpulkan pembicaraan dengan si Bapak aja saya harus memeras otak nih, banyak kosakata baru yang tidak saya mengerti dan ternyata itu nama tempat, seperti: 0 km (nol kilometer) dan Alkid (Alun-alun Kidul), hadeuuuh… Jangan-jangan dikira si Bapak, saya tau nama-nama yang beliau maksud, makanya sempat gimanaa gitu karena saya sering menanyakan nama yang sama.

Sepanjang jalan, saya diomeli unjut bontot dan Nanad, mereka sempat menyesalkan karena saya tidak pandai memilih becak, paling mahal dari Hotel Nidia ke Malioboro hanya Rp 10.000,-. Yah, apa boleh buat, jadi lucu sendiri.. 😀

Jalanan di Malioboro rame bangett.. Bahkan, untuk ketemu Nanad aja harus kesana-sini, saking butanya sama tempat. Setelah ketemu, kita jalan hingga 0 km. Tak lama kemudian, unjut bontot beserta sahabat muncul ikutan gabung.

Dengan dialog tingkat tinggi (wkwwk.. berle), walhasil kita putuskan ke Alkid. Apesnya, gegara macet, kita baru lengkap semua personil pada pukul 23.00 WIB. Kita batal naik mobil-mobil unik yang didesain dengan lampu warna-warni gegara macet panjang dan waktu yang mulai menunjukkan jam rehat. Kita cuma nongkrong makan jagung bakar dan teh es.

Disini, dapat cerita dari sang raja batu akik; ada mitos yang terkenal disini. Kalau mampu berjalan dengan menutup mata dari pohon beringin besar sampai pohon beringin kecil di tengah lapangan Alkid ini, artinya cita-cita kita bisa terwujud. Sekalipun kita berjalan didampingi seseorang (bisa teman, keluarga atau pacar), tetap mereka tidak boleh memberitahu kalau kita salah arah. Dan, memang, ada yang bisa salah arah, meskipun jaraknya hanya sekitar 5 meteran gitu, salah satunya si raja batu akik sendiri yang baru sukses untuk ketiga kalinya mencoba 😀

Sabtu, 7 Mei 2016
Good Bye Djogja..

Waaa… ga berasa liburan 3 hari di Djogja ini berasa singkat banget… Masih banyak tempat yang batal dikunjungi, seperti hari ini yang tadinya punya agenda ke Taman Sari, Benteng, Malioboro dan ke pabrik bakpia. Ujung-ujungngnya, cuma bisa merealisasikan 2 poin terakhir, ざんねんね。

Pukul 14.30-an, kita baru makan siang. Unjut bontot ngajakin ke Waroeng Steak yang jadi favoritnya mahasiswa, karena harganya yang miring, hee… Setelahnya kita go ke Terminal Giwang. Untungnya, Nanad sudah memesankan saya tiket, jadi tinggal nunggu bus.

Awalnya, kita dapat info berangkat dengan Bus Nan Tunggal jam 16.00 WIB, tiket Rp 170.000,- dengan fasilitas AC tanpa toilet. Eh, walhasil naik Bus Pariwisata jadinya. Ceritanya, ini bus cadangan kayaknya yang disiapin pihak terminal atau agen, karena bus yang berangkat pada waktu ini udah full semua.

Entah apa yang salah dengan busnya, kita jadi merasa seperti naik andong dengan fasilitas AC. Kebayang kan, gimana sikon kita didalamnya?! 😀

Jam 22.00 WIB kita berhenti makan dan rehat. Lucunya, saya dan Nanad sempat mampir ke prasmanan yang ada hiburan nyanyinya, eh salah masuk rumah makan, haha…

Nah, ketika masuk di rumah makan yang tepat, saya pesan sate Rp 14.000,-. Jangan kaget, sate disini tidak pakai ketupat, kalau mau karbohidrat, empunya resto punya nasi yang ditawarin. Sementara, Nanad pesan nasi goreng. Rasanya lumayan enak untuk ukuran lidah kita (orang Sumatera) yang notabennya terbiasa dengan makanan pedas dan berbumbu..

Minggu, 8 Mei 2016
Apes yang Berketulungan tapi Penuh Tantangan

Yah, apes yang tak berujung.. Kita yang awalnya akan turun di Terminal Lebak Bulus, eh malah mau diturunkan di jalanan dekat RS Fatmawati.. Setelah menuai protes pada sang sopir akhirnya kita diturunkan dipinggir jalan setelah mereka mendapatkan angkot merah menuju Terminal Kampung Rambutan.

Menurut perbincangan sesama penumpang, sepertinya bus itu rusak. Namun, sangat disayangkan perjalanannya malah jadi seperti ini, tapi yah.. apa boleh buat?! Kita turun di Terminal Kampung Rambutan dengan membayar sewa angkot Rp 5.000,-/orang.

Sebenarnya, untuk menuju Lenteng Agung, bisa menaiki angkot merah dengan kode 19; namun, karena barang bawaan kita banyak dan mulai lelah, akhirnya pesan ojek online. Sekitar pukul 11.00 WIB kita sampai di Lenteng Agung dalam perjalanan sekitar 20 menit.

Perjalanan panjang yang melelahkan tak pernah lengkap tanpa adanya tantangan. New friend, new family, new life. Kebahagiaan datang seiring eratnya jalinan silaturrahim.

Terima kasih Djogja.. 3 hari yang sangat menyenangkan. Beautiful moment with Iqbal, Herry, Ilham & Nadia (a.k.a Nanad).

Gallery

Sehari Minggu Di Jakarta “Demi Seonggok Durian”

Minggu siang (28/02/2016), sehabis mencari pencerahan, kita 6 personil Durian hunter segera beranjak menuju Blok M Square. Kita menaiki busway, sekilas memang tidak ada yang spesial, tapi lapernya luar biasa! Maklum.. udah lewat jam makan siang (malahan masuk jam makan sore) 😀 Demi seonggok durian kita bertahan (pura-pura apatis mendengar lantunan suara keroncongan dalam perut).. 😀

Aduh, sumpah, perjalanan yang memakan waktu lebih dari sejam itu, bukan cuma gegara jarak doang, tapi maceeeeett… Alamak, sikon berdiri di bus juga kagak kondusif chuy, kita udah kayak layang-layang ditiup angin! sampai akhirnya lega setelah menemukan tempat yang pas buat bergelantung :D.

Nah, sampai di Terminal Blok M, kita tetap semangat 45, terbayang aneka durian dengan berbagai rasa yang hmm.. yummy… Berasa mau panggil Om Jin aja biar langsung ngecring di tempat (bah, ngimpi!). Next, terus berjalan dengan Zir San sebagai guide. Jadi ceritanya, yang solid kali ini ada saya, Tice san, Adonan san, Zir san, Popy san dan Ida san. Dari wajahnya, so pasti ada aura kuyunya, karena udah kelaperan; tapi, dari semangatnya, tak nampak kalau kita ini cukup layak jadi hantu durian, hahaa..

Btw (by the way), perut tak bisa diajak kompromi.. Kebetulan nih, ketemu tempat makanan langganan saya semasa ‘geng gaje’ dulu, asiik.. Disitu dijual makanan siap saji, yg paling unggul burgernya yang wenak and ekonomis tentunya 😀 (Ketahuan nih watak fast to free).

Bisa ditebak kan apa yang terjadi?! Sehabis dapet menu yang dipesan, kita langsung goo tanpa syarat, sibuk berkompromi dengan makanan yang terhidang. Gila, beneran, lapar nian.. Tapi, eiiits.. ada yang すばらしい (amazing) nih, dikala kita begitu garang menyantap sepaket bento, eh Ida san dengan kalem bilang vegetarian.. Gubrak!! Semua langsung gagal fokus dan menyerang Ida san dengan aneka pertanyaan yang.. percuma.. (wong vegetarian ditanyain kok ga makan ayam, kan lucu.. ) 😀

Perjalanan tidak terhenti sampai di paket makan ekonomis, so chus.. DURIAN!! Yang sulit itu bukan nemuin lokasinya doang, tapi juga kalap mata liatin makanan ini, baju itu, diskon gede, waduu… ngemall emang bikin laper mata.. Harusnya bawa kacamata versi MIB (Man In Black) nih tadi, tapi apa boleh buat..

Walhasil, tadaaaa… Durian!!! Hm.. tapi, kok.. Rame doang ya?! Duriannya kok ditumpuk doang di bagian belakang hampir setengah dari standnya?! Usut punya usut, ternyata pada belom matang, jadi mesti disortir dulu pas belinya. Apesnya, yang gede-gede pada belom matang.. Dengan wajah kecewa kita berjalan terus menyelipi bejibun pengunjung di Durian Fair itu. Satu-persatu stand kita tongkrongin, mulai dari melihat-lihat doang sampai cuma nyempil buat selfie (biasa, kekinian..).

Sejaman kita inspeksi bak supervisor mencari cek yang kececer, tapi.. nothing.. Tak ada yang matching, ada aja yang kurang.. Mulai dari kurang matang, kurang gedek, kurang kuning, terlalu tipis, sampai kurang dibajet, hee.. Yah, biasalah.. namanya juga beli, kalau bisa duriannya dapat gede, kuningnya bagus, dagingnya tebal dan tentunya yummy; tapi dengan harga miring 😀 (ngimpi!).

Sampe-sampe, Adonan san yang maju sebagai juru sortir, berpindah dengan sigap dari stand yang satu ke stand yang lainnya, sesekali kita pada ngiller liatin dia yang dengan leluasanya ikut nyicipin itu durian buat uji kelayakan rasanya enak apa kagak.

Dengan beberapa pertimbangan, walhasil kita memutuskan membeli satu durian saja, sebagai tanda kita mampir lho di Durian Fair.. 😉 Tak lupa kekinian dulu alias selfie 😀 Yah, lumayanlah.. akhirnya misi tercapai, judulnya “Demi Seonggok Durian”, bukan seonggok per orang, tapi dibagi enam, hahaa.. Super dah pokoknya..

Pulang-pulang, kita mampir dulu nih nemanin Popy san beli batik. Tadinya sih niatnya memang gitu, tapi.. ujung-ujungnya, pada ngebawa kantong belanja batik semua, kecuali Zir san dan Adonan san. Abis itu, yang tadinya kontrak waktunya cuma bentar, berubah jadi berjam-jam, wkwk.. kebayang ga sih yang nungguin itu gondoknya gimana 😀 Untungnya, no comment, kecuali ultimatum berkali-kali nanyain sortir bajunya udah kelar apa belum 😀

Sekembalinya, kita beli aneka snack dulu, mumpung banyak yang yummy nih.. Ada takoyaki, creps, dll. Tiba-tiba, efek samping misi baru terasa, seperti: badan pegal-pegal, kaki kesemutan, kulit melepuh gegara sepatu, de el el, komplit!

Semua pasrah sama sang komando, Zir san. Kita pesan mobil via aplikasi, べんり/benri/ alias praktis! Hanya saja… yang misinya mencari durian malah ketiban batang durian runtuh.. Matinya HP Zir san, bikin petualangan baru nih dalam kamus kita hari ini. Kita kayak main petak umpet, kitanya kesini, yang empunya mobil kesana. Eh, pas ketemu, setelah muter-muter Blok M, mobilnya ketemu tapi kagak ada orangnya. Pie toh?! Padahal, sementara Adonan san dan Zir san searching itu mobil kayak nyari orang ilang, kita udah sempat beli nasi bungkus, terkapar di depan toko orang (di pinggiran jalan), duduk manis ga jelas, waaaa luarrr biasa…

Maghribpun menyapa, dan.. kitapun tak ada pilihan lain selain.. Taksi!! Dengan kesepakatan dibulat-bulatin, kita stop taksi. Tanpa kompromi kita siap bersusun sarden dengan sukarela. Mobilpun meluncur dan kitapun sampai di simpang markas dengan selamat. Banyak hal kocak selama perjalanan, ibarat kata tetua nih, biar bersempit-sempit asal hati berlapang-lapang, that’s right!

Gila-gilaan yang memang bikin sehari itu cukup gila! Apalagi kalau bukan demi seonggok durian di durian fair 2016. Satu dari beberapa moment yang cukup fenomenal dalam 3 bulan ini. Thanks, guys.. 🙂