Category Archives: Walking Out

JJS alias Jalan-Jalan Sore, Jalan-Jalan Santai, de el el :D

Restoran Bubu ‘Tongkrongan Internasional Di Tokushima’

Takoyaki & Okonomiyaki

Masakan tradisional jepang seperti takoyaki dan okonomiyaki bukanlah sesuatu yang baru bagi perantau asal Indonesia. Boleh dibilang, di seantero kota besar hingga kecil di Indonesia bisa ditemukan dengan mudah!

Beda cerita kalau sudah berkunjung ke Jepang. Sebut saja takoyaki yang menjadi makanan khas dari Osaka, tidak hanya tersedia di Osaka saja, tapi juga di berbagai wilayah di Jepang, termasuk salah satunya di Tokushima, Pulau Shikoku.

Begitu juga dengan okonomiyaki. Masakan yang bisa disebut “bakwan ala Jepang” ini berdasarkan tempatnya terbagi menjadi 3 style: Kansai style, Hiroshima style dan Tokyo style. Perbedaan dari masing-masing style ini bisa dilihat dari jenis teppan (tempat penggorengan yang berbentuk datar) yang digunakan, kombinasi adonan dan proses pembuatannya.

Restoran Bubu

Di Tokushima, ada beberapa tempat yang recommended banget buat menyantap kuliner khas jepang. Namun, salah satu yang paling populer adalah 広島風お好み焼きとたこ焼きおやつshop Bubu (Hiroshima-fu Okonomiyaki & Takoyaki Oyatsu-shop Bubu).

Restoran ini merupakan usaha keluarga yang dirintis oleh Bubu san sebagai owner dan dibantu oleh sang istri yang akrab dipanggil Mama. Pengolahan hingga penyajian masakanpun dihandel oleh duo master of japanese food ini.

Selain menu utama yang perfekto lezatto, okonomiyaki dan takoyaki, Bubu san juga menyediakan aneka menu pilihan lainnya seperti yakisoba (mie goreng), yakiudon, kushikatu, bahkan ada juga nasi goreng!! Masakan ini dibandrol dengan harga yang cukup ekonomis, mulai dari ¥450 alias 450 yen saja!

Buat pengunjung yang muslim, meskipun dengan keterbatasan tempat pembuatan (masih dengan teppan yang sama), Bubu san menyediakan adonan yang boleh dikonsumsi oleh para muslim. Dalam pengolahannya, dipisah dengan yang non-halal.

Ceritanya, dulu Bubu san pernah tinggal lama dengan orang Indonesia yang menetap di Tokushima, kemudian beliau mempelajari budaya Islam. Dan, terinspirasi untuk membuat masakan yang bisa dikonsumsi oleh para muslim. Tidak tanggung-tanggung, beliau juga menyediakan tempat ibadah beserta perangkat shalat buat para muslimin yang hendak beribadah. Bahkan, ada penunjuk arah KIBLAT-nya juga!!

Tak kalah menarik, khususnya untuk pengunjung dari Indonesia, saus sambal yang digunakan didatangkan langsung dari Indonesia! Bener-bener T.O.P daah.. Maknyus!!

Buat pecinta manga, restoran minimalis ini juga menyediakan pustaka mini yang menjejerkan aneka komik. Pengunjung bisa memilih edisi sesukanya dan pastinya free alias gretong!

Tongkrongan Internasional

Di warung Bubu, pengunjung asing tidak perlu pusing harus memikirkan bagaimana cara memesan dalam bahasa jepang dan sebagainya, karena Bubu sendiri bisa berbahasa Inggris dengan sangat lancar. Tidak hanya itu, beliau juga bisa berbahasa Indonesia lho, walaupun dengan kalimat yang cukup sederhana.

Saking banyaknya pengunjung asing yang didominasi oleh pelajar dari berbagai negara, Bubu san sampai mendapatkan piagam penghargaan dari Tokushima. Keren!

Akses & Lokasi

Lokasi kuliner yang delicious ini terletak di depan Sako Station (佐古駅), tepatnya di Sako 2 Bancho 18-5, Tokushima. Akses ke lokasi dari Tokushima Station (徳島駅) bisa menggunakan kereta api JR (Japan Rail) dengan tiket seharga ¥210. Atau, dengan Tokushima City Bus (徳島市バース) turun di Halte 佐古一番町 (Sako Ichiban-chou) dengan ongkos ¥210 dan berjalan sekitar 10-15 menit dari halte.

Gallery

Advertisements

Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway)

Ibarat Padang dengan Tari Piring-nya, Tokushima identik dengan Awa Odori (Tarian Awa). Biasanya, setiap tahun, awa odori bisa dinikmati festivalnya di musim panas (natsu), pada bulan Agustus di Perfektur Tokushima. Tapi, buat yang penasaran, ingin melihat langsung di waktu yang berbeda, bisa mengunjungi lantai 2 Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway) dengan insert ¥600. Lokasinya dekat dengan Tokushima Station (satu halte bus sebelum stasiun).

Disini diperkenalkan evolusi tarian awa. Buat yang tidak mengerti bahasa jepang, disediakan teks dalam bahasa inggris. Pengunjung juga diajak ikut serta, lho.. Pada akhir acara, diberikan perhargaan (sertifikat) layaknya wisudawan/wisudawati, namun ini hanya diserahkan pada 2 orang pengunjung yang beruntung saja. Jika Anda salah satu diantaranya, pasti akan menjadi pengalaman yang luar biasa!

Nah, yuk kita ngotrelin alias ‘ngobrol travelling’ objek wisata unik yang satu ini, check it out..

Lokasi Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway)

Terletak sekitar 700 meter dari Tokushima Station (jika menggunakan bus, satu halte sebelum stasiun). Akses dari Tokushima Station bisa ditempuh dengan berjalan kaki (sekitar 15 menit) lurus hingga menyeberangi sekitar 2 perempatan besar dan jembatan Shinmachibashi berikut jejeran pertokoan di gedung bertuliskan kanji新町橋(Shinmachibashi).

Gedung Awa Odori Kaikan ini cukup unik, dari kejauhan bisa dilihat ropeway berlalu-lalang dari bagian tertinggi gedung hingga puncak gunung. Tak kalah unik, di halaman depannya terdapat tempat duduk berbahan dasar kayu dan atapnya menyerupai topi penari perempuan awa odori yang menjadi salah satu maskot Tokushima. Wisata ini juga bersebelahan dengan jinja. Jadi, terbilang sangat mudah ditemukan.

Insert

Untuk masuk Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway), pengunjung bisa memilih paket sesuai keinginan. Berikut pilihannya:

  • Umum
    • Awa Odori Museum: ¥300
      • Buka pukul 09:00-17:00 dengan entrance sampai 16:50.
      • 28 Desember hingga 1 Januari bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
    • Awa Odori Hall
      • Afternoon dance (tarian sore): ¥600
        • Ditampilkan oleh tim tari khusus: AWANOKAZE.
        • Di akhir pekan (weekdays), tampil pukul 14:00, 15:00 & 16:00.
        • Sabtu, minggu dan hari libur, tampil pukul 11:00, 14:00, 15:00 & 16:00.
        • Lama penampilan: 40 menit.
        • Layanan khusus antara 11-15 Agutus selama penampilan awa odori.
        • Penampilan khusus pada 12-15 Agustus.
        • 28 Desember hingga 3 Januari (2-3 Januari ada penampilan khusus) bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
      • Evening dance (tarian malam): ¥800
        • Ditampilkan oleh tim tari terkenal (1 tim setiap malam).
        • Penampilan selama 50 menit dari pukul 20.00 hingga selesai.
        • Layanan khusus antara 11-15 Agutus selama penampilan awa odori.
        • 21 Desember hingga 10 Januari bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
    • Ropeway
      • Insert:
        • One-way (6 menit):¥610
        • Return:¥1.020
      • Buka setiap tahun.
        • April-Oktober: 09.00-21.00
        • November-Maret: 09.00-17.30
        • *12-15 Agustus: 09.00-22.00
        • *Selama event khusus: 09.00-21.00
  • Paket (great-deal unit price)
    • Set 3 pilihan (set of three options)
      • Museum + afternoon dance ropeway (return) = ¥1.620
    • Set 2 pilihan A (set of two options A)
      • Museum + ropeway (return) = ¥1.120
    • Set 2 pilihan B (set of two options B)
      • Museum + afternoon dance = ¥800

*Diskon lainnya tidak bisa digunakan bersamaan dengan set tiket.

Tiket bisa dibeli di jidouhanbaiki (mesin penjual otomatis), sebelah kanan dari pintu masuk. Jika tidak mengerti, ada bagian informasi yang station-nya bersebelahan dengan jidouhanbaiki.

1F Arudeyo Tokushima (Lantai 2)

Memasuki gedung, pengunjung bisa membeli tiket di sebelah kanan melalui jidouhanbaiki. Jika segera lanjut ke lantai berikutnya, ada lift di sisi kiri. Namun, jika ingin cuci mata dengan aneka cenderamata dan omiyage (oleh-oleh) khas Tokushima, pengunjung bisa langsung ke sisi belakang. Makanan khas Tokushima seperti manju, osato, segala bentuk olahan imo (ubi berkulit ungu dengan isi kuning, hasil pertanian andalan di Tokushima). Cenderamata yang khas yaitu mainan HP (mobile phone) berbentuk sodachikun (boneka dengan dominasi warna hijau yang menjadi icon Tokushima) dan boneka penari awa odori.

Lantai dasar ini buka dari pukul 09.00-21.00 waktu setempat. Khusus tanggal 21 Desember sampai 10 Januari (termasuk hari libur), buka sampai pukul 18.00. Namun, pada 28 Desember hingga 1 Januari, tempat ini bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.

2F Awa Odori Hall (Lantai 2)

Nah, ini nih yang tadi sempat diulas di prolog.. Buat pengunjung yang ingin melihat langsung keelokan awa odori ataupun berminat untuk ikut merasakan bagaimana rasanya menarikan tarian awa, disinilah tempatnya. Disini diceritakan evolusi awa odori  berikut contoh gerakannya. Penyampaiannya mirip presentasi seminar dan buat pengunjung asing tersedia teks dalam bahasa inggris.

Kemudian, di akhir acara, buat yang beruntung bisa mendapatkan sertifikat, hanya untuk 2 orang pengunjung saja! Tidak hanya diserahkan layaknya wisudawan/ti, buat pengunjung yang ikut menari juga diberikan kain pengikat kepala unik dengan dominasi warna biru dan putih, khasnya tarian awa.

Dibagian luar, sebelum atau setelah teater, di sisi kanan lift, ada papan berdesain khusus yang bagian kepalanya dilobangi (salah satu media untuk bereksis-ria). Di bagian dindingnya tersusun dengan sangat apik lampion-lampion bertuliskan kanji. Selain itu, juga ada sofa, tempat ini ditata seperti lobi dalam bentuk minimalis tapi luas.

3F Awa Odori Museum (Lantai 3)

Di lantai ini, pengunjung disuguhkan penampilan tarian awa yang didesain menarik, kemudian dibawa menelusuri sejarah awa odori. Diantaranya, lukisan yang menceritakan kehidupan masa lalu masyarakat awa, miniatur-miniatur, alat musik dan pakaian awa odori, bioskop 3D /tridi/ bertemakan tarian awa, dll. Yang paling menarik, ada 2 robot yang menampilkan gerakan awa odori.

5F Bizan Bottom Ropeway Terminal (Lantai 5)

Lantai ini merupakan terminal awal ropeway yang nantinya akan mengantarkan pengunjung ke puncak gunung dengan view elok kota Tokushima. Di lantai ini juga terdapat sebuat restoran. Uniknya, tersedia makanan HALAL!! Ada tulisan حلال-nya! Kabar gembira nih buat yang muslim. Namun, restoran ini hanya buka hingga jam 5 sore saja.

Bizan Ropeway

Ropeway ini memiliki 2 jalur yang akan mengantarkan pengunjung menyisiri hamparan area pepohonan hingga puncak gunung. Semakin tinggi, semakin terlihat view lepas pemandangan kota Tokushima yang menyuguhkan indahnya kombinasi daratan dan lautan.

Di puncak gunung ini ada teropong khusus (seperti teropong yang ada di puncak Monas, Jakarta) yang bisa digunakan untuk menelisir pemandangan sekitar dalam jarak pandang yang cukup jauh hanya dengan memasukkan uang koin ¥100. Selain itu, disini juga terdapat jinja dan pagoda.

Pagoda

Khusus pagoda, ada acara tahunan (annual events):

  • Waktu:
    • 21 Maret
    • 15 Agustus
    • 26 September
  • Insert:
    • Dewasa: ¥200
    • Anak-anak: ¥100

Hanami (花見)

Tak ada yang tak kenal bunga sakura (cherry blossom), bukan?! Nah, alih-alih mau masuk bulan April, alias waktunya musim semi (springharu 春), di gunung ini bakal terlihat nuansa pinky-pinky-nya. Dan, ini menjadi waktu yang tepat buat para pengunjung yang tak ingin melewatkan kesempatan buat hanami-an.

*Hanami (花見) dalam bahasa jepang berarti melihat bunga, ini merupakan tradisi jepang dalam menikmati keindahan bunga, terutama sakura.

Gallery

Referensi

  • Semua informasi disadur dari Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway).

Recommended Link

Sehari Minggu Di Jakarta “Demi Seonggok Durian”

Minggu siang (28/02/2016), sehabis mencari pencerahan, kita 6 personil Durian hunter segera beranjak menuju Blok M Square. Kita menaiki busway, sekilas memang tidak ada yang spesial, tapi lapernya luar biasa! Maklum.. udah lewat jam makan siang (malahan masuk jam makan sore) 😀 Demi seonggok durian kita bertahan (pura-pura apatis mendengar lantunan suara keroncongan dalam perut).. 😀

Aduh, sumpah, perjalanan yang memakan waktu lebih dari sejam itu, bukan cuma gegara jarak doang, tapi maceeeeett… Alamak, sikon berdiri di bus juga kagak kondusif chuy, kita udah kayak layang-layang ditiup angin! sampai akhirnya lega setelah menemukan tempat yang pas buat bergelantung :D.

Nah, sampai di Terminal Blok M, kita tetap semangat 45, terbayang aneka durian dengan berbagai rasa yang hmm.. yummy… Berasa mau panggil Om Jin aja biar langsung ngecring di tempat (bah, ngimpi!). Next, terus berjalan dengan Zir San sebagai guide. Jadi ceritanya, yang solid kali ini ada saya, Tice san, Adonan san, Zir san, Popy san dan Ida san. Dari wajahnya, so pasti ada aura kuyunya, karena udah kelaperan; tapi, dari semangatnya, tak nampak kalau kita ini cukup layak jadi hantu durian, hahaa..

Btw (by the way), perut tak bisa diajak kompromi.. Kebetulan nih, ketemu tempat makanan langganan saya semasa ‘geng gaje’ dulu, asiik.. Disitu dijual makanan siap saji, yg paling unggul burgernya yang wenak and ekonomis tentunya 😀 (Ketahuan nih watak fast to free).

Bisa ditebak kan apa yang terjadi?! Sehabis dapet menu yang dipesan, kita langsung goo tanpa syarat, sibuk berkompromi dengan makanan yang terhidang. Gila, beneran, lapar nian.. Tapi, eiiits.. ada yang すばらしい (amazing) nih, dikala kita begitu garang menyantap sepaket bento, eh Ida san dengan kalem bilang vegetarian.. Gubrak!! Semua langsung gagal fokus dan menyerang Ida san dengan aneka pertanyaan yang.. percuma.. (wong vegetarian ditanyain kok ga makan ayam, kan lucu.. ) 😀

Perjalanan tidak terhenti sampai di paket makan ekonomis, so chus.. DURIAN!! Yang sulit itu bukan nemuin lokasinya doang, tapi juga kalap mata liatin makanan ini, baju itu, diskon gede, waduu… ngemall emang bikin laper mata.. Harusnya bawa kacamata versi MIB (Man In Black) nih tadi, tapi apa boleh buat..

Walhasil, tadaaaa… Durian!!! Hm.. tapi, kok.. Rame doang ya?! Duriannya kok ditumpuk doang di bagian belakang hampir setengah dari standnya?! Usut punya usut, ternyata pada belom matang, jadi mesti disortir dulu pas belinya. Apesnya, yang gede-gede pada belom matang.. Dengan wajah kecewa kita berjalan terus menyelipi bejibun pengunjung di Durian Fair itu. Satu-persatu stand kita tongkrongin, mulai dari melihat-lihat doang sampai cuma nyempil buat selfie (biasa, kekinian..).

Sejaman kita inspeksi bak supervisor mencari cek yang kececer, tapi.. nothing.. Tak ada yang matching, ada aja yang kurang.. Mulai dari kurang matang, kurang gedek, kurang kuning, terlalu tipis, sampai kurang dibajet, hee.. Yah, biasalah.. namanya juga beli, kalau bisa duriannya dapat gede, kuningnya bagus, dagingnya tebal dan tentunya yummy; tapi dengan harga miring 😀 (ngimpi!).

Sampe-sampe, Adonan san yang maju sebagai juru sortir, berpindah dengan sigap dari stand yang satu ke stand yang lainnya, sesekali kita pada ngiller liatin dia yang dengan leluasanya ikut nyicipin itu durian buat uji kelayakan rasanya enak apa kagak.

Dengan beberapa pertimbangan, walhasil kita memutuskan membeli satu durian saja, sebagai tanda kita mampir lho di Durian Fair.. 😉 Tak lupa kekinian dulu alias selfie 😀 Yah, lumayanlah.. akhirnya misi tercapai, judulnya “Demi Seonggok Durian”, bukan seonggok per orang, tapi dibagi enam, hahaa.. Super dah pokoknya..

Pulang-pulang, kita mampir dulu nih nemanin Popy san beli batik. Tadinya sih niatnya memang gitu, tapi.. ujung-ujungnya, pada ngebawa kantong belanja batik semua, kecuali Zir san dan Adonan san. Abis itu, yang tadinya kontrak waktunya cuma bentar, berubah jadi berjam-jam, wkwk.. kebayang ga sih yang nungguin itu gondoknya gimana 😀 Untungnya, no comment, kecuali ultimatum berkali-kali nanyain sortir bajunya udah kelar apa belum 😀

Sekembalinya, kita beli aneka snack dulu, mumpung banyak yang yummy nih.. Ada takoyaki, creps, dll. Tiba-tiba, efek samping misi baru terasa, seperti: badan pegal-pegal, kaki kesemutan, kulit melepuh gegara sepatu, de el el, komplit!

Semua pasrah sama sang komando, Zir san. Kita pesan mobil via aplikasi, べんり/benri/ alias praktis! Hanya saja… yang misinya mencari durian malah ketiban batang durian runtuh.. Matinya HP Zir san, bikin petualangan baru nih dalam kamus kita hari ini. Kita kayak main petak umpet, kitanya kesini, yang empunya mobil kesana. Eh, pas ketemu, setelah muter-muter Blok M, mobilnya ketemu tapi kagak ada orangnya. Pie toh?! Padahal, sementara Adonan san dan Zir san searching itu mobil kayak nyari orang ilang, kita udah sempat beli nasi bungkus, terkapar di depan toko orang (di pinggiran jalan), duduk manis ga jelas, waaaa luarrr biasa…

Maghribpun menyapa, dan.. kitapun tak ada pilihan lain selain.. Taksi!! Dengan kesepakatan dibulat-bulatin, kita stop taksi. Tanpa kompromi kita siap bersusun sarden dengan sukarela. Mobilpun meluncur dan kitapun sampai di simpang markas dengan selamat. Banyak hal kocak selama perjalanan, ibarat kata tetua nih, biar bersempit-sempit asal hati berlapang-lapang, that’s right!

Gila-gilaan yang memang bikin sehari itu cukup gila! Apalagi kalau bukan demi seonggok durian di durian fair 2016. Satu dari beberapa moment yang cukup fenomenal dalam 3 bulan ini. Thanks, guys.. 🙂

Seru-seruan Bareng Mican

Pagi sekali, saya dan Mican udah kasak-kusuk, siap-siap mau berangkat ke UNAND dengan misi utama ikut kuliah dengan Bapak SBY. Denger-denger nih, Covention Hall kan tidak terlalu besar, mengingat bakal banyak yang dateng dengan kuota terbatas, kita kudu berangkat pagi sekali.. Kalah pagi dengan planing Mican sebelumnya, mau nongkrongin Convention Hall Subuh-subuh biar bisa masuk dan ikut kuliah umum itu, ehh… boro-boro, mbok ya ngisi perut dulu di Pasar Baru, antisipasi, jangan-jangan acaranya sampe siang…
Dan, ketika kita sampe di Covention Hall UNAND, waduuuu… rame nian, chuy.. Udah gitu, kita mesti muter nyari tempat parkir yang udah bejibun duluan.. Walhasil dapet di Mushalla 😀
Dateng-dateng, kita planga-plongo di trotoar, nyariin tempat strategis. Eits, itu!! Kok ada bagian pendaftarannya?! Dengan harapan yang diarep-arepin, kita jalan kesana dengan semangat 45, dan..?! Sesuai dugaan, kuota penuh!! Tak ada cara lain, mau ga mau, nungguin tamu istimewa aja dengan rapi jali di pintu utama. Bahkan, kita sempat menyusup hingga barisan paling depan, tak lupa saling senyum sumringah 🙂
Tiba-tiba, saking tafakurnya menunggu, kita-kita sempat ga ngeh, eh itu ngapain sih orang malah rame-rame, kayak ngejar apaa gitu, berbondong-bondong ke sayap samping!! Onde mande… ternyata Bapak SBY beserta rombongan telah datang dan akan masuk dari pintu samping. Menyadari itu, kita langsung ambil langkah seribu, sampai entah dimana-mana, pokoknya bisa ke barisan depan, ketemu Bapak SBY.. 🙂
Yah, semua orang mau ke depan juga dooong.. Hasilnya, cuma kepala beliau yang terlihat. Beliau tersenyum hangat dan melambaikan tangan pada kami, sontak sambutan hangat dan nyaris histeris bergaung di lapangan luas itu. HP dengan berbagai merek dan mode diajukan oleh para mahasiswa, tertuju pada Bapak SBY beserta rombongan, bak penggemar ketemu idola. Masa tetap tertib mendekati beliau hingga pintu benar-benar ditutup.
Acara ini sekitar 2 jam.. Yah, misi utama walaupun tak terbilang sukses, berhasil!! Sekarang, kita duduk gontai di bangku-bangku tepat di halaman mushalla, capek… Energi sarapan tadi serasa menguap begitu saja, keringatpun mulai bercucuran.. Dan, kita tertawa renyah, mengingat apa yang terjadi hari ini, serru!!
Nah, rute selanjutnya, maunya ke mushalla batu yang berada di pendakian Politeknik. Saking pengennya, kita nanya sama bapak-bapak yang sibuk ngurusin pembangunan, kayaknya lagi ada renovasi, terus sempat juga nanyain sama mahasiswa yang lagi merawat tanaman di lahan kebun pertanian. Walhasil, mengingat dan menimbang, medannya super bok.. Wong kita cewek aja berdua, jalannya cukup sepi.. Yah, batal deh..
Kita jalanin motor keliling UNAND, sampai akhirnya, kita memutuskan buat nongkrong di Pasar Baru, biasa.. beli capcin.. alias cappucino cincau!
Setelah itu, rancana ngehumz.. Eh, tiba-tiba jadi ingat Racy Gerai Cokelat.. Maunya ke Jati dulu sebelum pulang, eh.. ternyata.. tempatnya udah pindah ke Ketaping, abis jalan dari Bypass simpang ke UNAND. Ucluk-ucluk, kita mampir, selain promoin menu sana ke Mican juga mau nanyain hadiah promo foto kemaren. Rupanya, belum diumumkan pemenangnya, so.. saya dan Mican beli coklat aja buat cemilan, eh dikasih gratisan sama pemilik usahanya, alhamdulillah.. 🙂

Abis ini, kita mampir ke Museum Adityawarman, sepi… Ada yang unik nih, kita ketemu sepasang lansia (lanjut usia) lagi melihat-lihat koleksi museum ini. So sweet.. kakek itu bawa kamera buat foto-foto dan sesekali terlihat mereka berdiskusi. Dari bahasanya, sepertinya mereka kebangsaan Cina atau Jepang gitu.. Waaah, so sweet banget pokoknya..
Abis ini, kita cus ke Museum Gempa.. Oalaaah… makin sepi lagi… kayak tutup gitu.. Dalam hati, saya miris, kok ga banyak ya peminatnya?! Padahal, gratis lho… Sayang sekali, bapak pemandunya masih saja ramah. Kita berkeliling, berziarah ke masa lalu..
Setelah ini kita ngehumz, capeek.. Weew, hidung saya mulai meler nih.. gegara kabut asap, akhirnya saya kena dampaknya juga 😦
Saat melewati taplau, Mican promoin lambang PADANG yang baru dibikin di sisi taplau, keren!!! Tapi karna suatu hal, kita kagak mampir.. Btw, hari ini luarr biasa!! 😉

Palembayan Berkabut

Cuaca yang begitu dingin dirasakan sedari pagi di Palembayan, bahkan ada fenomena luar biasa di luar rumah, kabut tebal! Banyak yang berasumsi kalau kabut itu masih bagian dari asap akibat kebakaran hutan yang belakangan ini terjadi di beberapa wilayah di Sumatera (Pekanbaru, Jambi, Bengkulu).

Mungkin itu benar atau mungkin saja salah. Faktanya, saat beraktifitas di luar rumah, semisal bepergian ke daerah sekitarnya, kita seperti memasuki awan.. Bedanya, kita malah seperti berada di ruangan AC alami, dingin.. Ada butiran-butiran halus, menyerupai percikan air terjun, menghujani kita dengan hawa yang sangat sejuk. Yah, ternyata ini embun.. embun yang sangat tebal.. Karenanya, salah seorang warga yang berkendara dengan sumbringah mengungkapkan rambutnya sampai memutih oleh embun.

Beberapa orang warga mulai unjuk opini, kemungkinan ini memang embun yang telah bercampur dengan asap. Entah apa kebenarannya.. Yang pasti, semua warga tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Bahkan, di Jorong Piladang, saya menemukan warga goro (gotong royong) membersihkan jalan. Bukan hanya karena besok hari rayo gadang (Idul Adha), tapi kegiatan ini memang rutin dilakukan setiap hari rabu dan telah terkoordinir dengan sangat apik. Tak lama selang waktu setelah hujan lebat sekalipun, bapak-bapak tersebut telah bergerak menebas semak hingga pendakian menuju Simpang Piladang.

Fenomena kabut ini mulai berakhir sekitar pukul 11.00 WIB, tepat saat hujan lebat mengguyur Palembayan. Seketika, seperti sebuah trik dalam sulap, pemandangan sekitar langsung menampakkan wajahnya secara ajaib! Setengah jam setelahnya, kita bisa melihat kembali area sekitar dengan sangat jelas, meskipun cuaca masih lembab dan dingin. Hingga saat ini, pukul 12.57 WIB, matahari masih enggan menampakkan dirinya dan udara masih tetap dingin..

Gong Xi Fa Cai 2566 di Klenteng

Suatu hari, saya lagi iseng liat-liat koleksi foto seorang teman, terus… “nah, lho… ini dimana nih?? Cantik banget tempatnya…” Ternyata itu di Padang juga kok, di Klenteng namanya, terletak di kawasan Pondok yang sebagian besar orang Padang menyebutnya Kampung Cina. Saya pengen banget kesana.. Secara saya termasuk pengagum budaya Cina, apalagi setelah Unjut bontot (adik saya paling kecil) melalang buana ke negara Panda itu, saya jadi excited berat… 😀

Kebetulan, Unjut bontot lagi liburan dan Ibu juga lagi disini, sekalian dah ngajakin jalan-jalan. Kita berempat sama Unjut pergi kesana sekitar jam 5-an. Gegara kendaraan cuma 1, motor, kita jadi bagi-bagi transport, Unjut bareng Unjut bontot pake motor sementara saya dan Ibu naik Bus Trans 🙂 Sampe di Imam Bonjol, kita gantian dijemput sama Unjut yang seketika beralih profesi sebagai jekri 😀 (Ssttt… Ntar saya diomelin sama suara 7 oktaf!) 😀

Akirnya, kita sampe di Kelenteng.. Saya jadi terpukau (kepo deh, haha)… Aneka lampion merah khas Cina mengular rapi di langit-langit kuil, indahnya… 🙂 Akhirnya, saya di Kelenteng…!!! Kebetulan banget nih ada nuansa Gong Xi Fa Cai 2566 🙂

Ini dia potret Klenteng di tengah perayaan Gong Xi Fa Cai 2566, cus..