Category Archives: DI Yogyakarta

Menyapa Djogja 2016

Liburan kali ini tergolong nekad, dengan bajet pas-pasan akhirnya sampai juga di Djogjakarta, kota yang terkenal dengan wisata alam dan budayanya. Padahal, misi ini berawal dari niat silaturrahim, namun seiring perkembangannya malah berubah menjadi tour selama 3 hari berturut-turut.

Berikut ringkasan cerita perjalanan saya selama di Djogja, sepenggal kisah, menelisik kembali jejak di masa lalu, “Djogja, saya kembali…”

Rabu, 4 Mei 2016
Go to Djogja
  • 17.00 Standbye di Terminal Pasar Minggu.
  • 17.30 Berangkat (Jakarta-Djogja) dengan Bus Sumber Alam Super Excecutive, ongkos Rp 165.000,-. Fasilitas: Bangku 2-2, toilet dan AC.
  • 23.00 Berhenti di Indramayu, makan di tempat yang lebih mirip barak. Disini terhidang prasmanan yang langsung dibayar (harga standar Rp 20.000,- tanpa air mineral), lalu kita bisa memilih tempat duduk sesukanya. Disini juga tersedia toilet, mushalla, makanan-makanan, minuman, tempat mengecas HP, wedang jahe, dll.

Ada kejadian banyol juga nih. Sesaat setelah turun, saya langsung mendongakkan kepala ke arah belakang, menandai apa yang bisa ditandai dari bus yang kita naiki, saking banyaknya bus yang parkir disini udah ngalah-ngalahin terminal! 😀 Dan, saya fokus ke angka 072, yah, harus ingat!

Tadinya, dengan wajah oon, saya menelisik sekitar dan menyimpulkan “mungkin ini tempat razia bus-bus kali, ya.. Tapi kok aneh?!” Haha, sampai sekarang saya masih geli sendiri mengingat kalau itu adalah barak tempat pemberhentian bus sementara untuk makan, toilet, dan sebagainya 😀

Saya dan Nanad, teman seperjalanan saya, duduk santai di kursi yang ada sambil mengecas hp. Tidak ada satupun diantara kita yang tau busnya akan berangkat jam berapa.

Sementara itu, saya mulai tergiur dengan wedang jahe, penasaran mencicipi seperti apa rasanya, samakah dengan skoteng dan sejenisnya?! Mari dicoba.

Lama menanti, empunya jualan tak muncul-muncul. Tiba-tiba, pandangan saya langsung tertuju pada bus kami, dia beringsut ke arah belakang dan langsung berjalan meninggalkan barak; tidak, bukan hanya barak, tapi KAMI!!! Serangan panikpun mulai menyerang, saya memanggil-manggil Nanad buat mengejar bis itu. Seorang bapak-bapak membantu dengan menunjuki arah kemungkinan bus itu berlalu sebelum meninggalkan lokasi barak.

Ketika sedang sibuk-sibuknya, mencari arah. Tiba-tiba Nanad seperti membangunkan saya dari tidur. Ternyata saya salah menandai bus!! MasyaAllah… benar-benar.. antara mau ngakak dan lelah pasca panik, hahaha.. Beruntung tepat saya sadar sesaat bus yang sebenarnya akan benar-benar berangkat 😀

Kamis, 5 Mei 2016
Gunung Kidul
  • 06.30 Loket di Kebumen, berhenti untuk sarapan.
  • 07.15 Berangkat..
  • 09.50 Terminal Giwangan
  • 10.00 Misi ke pantai bareng trio eksis. Let’s go..

Bergerak menuju Gunung Kidul, melewati Bukit Bintang. Banyak hal jadi bahan omongan, dan, walhasil, muncullah gelar duta korea, duta sinetron dan raja batu akik 😀 (gila-gilaan).

Uniknya, sepanjang jalan banyak ditemukan penjual yang menjajakan walang goreng, atau belalang goreng, biasa dijual sekitar Rp 20.000,- berisi 5 belalang yang telah dikeringkan dan digoreng.

Trip pertama ke Pantai Indrayanti, melewati simpang Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Krakal (100m sebelumnya), Pantai Sadranan (tempat snorkling), dll. Disini kita sempat ragu dan berbalik arah karena plang Pantai Indrayanti yang tidak kunjung ditemukan dan koneksi internet yang kurang bagus. Tapi kita tidak menyerah dan akhirnya benar-benar sampai di Pantai Indrayanti.

Sebelum bergerak ke pantai, saya beli topi dulu (Rp 30.000,-), secara puanas buangettt… Lalu dengan semangat 45, kita menantang matahari menuju pantai. Berhubung energi masih full, kita memutuskan untuk mendaki bukit (di bibir pantai) terlebih dahulu. Menurut Ikbal, pemandangan dari atas mirip Bali! Mari kita buktikan..

Dengan membayar uang sukarela, kita lanjut mendaki melalui jalan setapak yang telah dibuat berundak sebagai jenjang, dan… luar biasa…. pemandangan yang sangat indah… Tak ayal kita langsung pasang gaya jepret sana-sini, hee.. biasa, kekinian.. 😀

Setelah puas berselfieria, kita menuju parkiran dengan trip selanjutnya Pantai Baron. Sekaligus makan siang disana. Sebelum berangkat, kita cuci mata dulu liat-liat koleksi makanan disini. Ada kripik rumput laut dan kripik undur-undur (hewan mungil yang biasa ditemukan di pasir pantai), 3 bungkus besar Rp 10.000,-; ekonomis, bukan?! Rasanya juga gurih, hm…

Pantai Baron berada sekitar 15 menit dari Pantai Indrayanti. Bedanya, untuk ke pantai ini kita mesti berjalan dulu sekitar 15 meter dari tempat parkir. Bukan cuma itu saja, pantai ini juga punya keunikan tersendiri, air lautnya ada rasa asin dan tawar. Air tawar ini berasal dari sungai mengalir dari bawah bebatuan menuju laut. Selain itu, menara suar juga menjadi daya tarik lainnya dalam menikmati pantai dan sekitarnya dengan pesona yang menakjubkan.

Untuk menuju menara suar, kita bayar Rp 2.000,-/orang, dibayar pada saat menaiki bukit. Di atas bukit, kita juga bisa sewa mobil golf. Insert masuk menara Rp 5.000,-/orang. Anda cukup mempersiapkan tenaga ekstra demi mendaki menara setinggi 40 meter dengan 9 lantai ini, tapi capek itu akan terbayarkan ketika Anda sampai di puncak menara; percaya deh…

Jum'at, 6 Mei 2016
Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, Malioboro,0km, Alkid

Kali ini saya bersama unjut bontot bergerak ke Candi Prambanan. Start pukul 08.30 WIB. Kita ambil paket Candi Prambanan + Kerato Ratu Boko, tiket Rp 50.000,-/orang. Setelah puas mengitari Candi Prambanan, kami mendaftarkan tiket ke Keraton Ratu Boko dan menunggu antrian sambil melepas lelah di bangku taman, tepat di sisi depan sebelah kanan suttle bus. Kita dapat nomor urut 07, beruntung ada kosong 2 bangku dan kita berangkat lebih awal dari nomer antrian sebenarnya.

Waduuuu… Djogja fuanaazzz, bok.. Badan kita sampai berkuah, hhaha… Padahal, masih banyak tempat yang mau dikunjungi, termasuk tempat pemandian Ratu Boko, yang menjadi tempat shooting AADC2 (Ada Apa Dengan Cinta 2), namun.. じかんが ないよ (waktu terbatas). So, kita segera balik, mengingat harus menunggu antrian bus buat kembali ke Candi Prambanan lagi.

Sehabis maghrib, saya bergerak menuju Malioboro. Sebelum ke Djogja, Lisa sudah memberitahu, keliling pake becak disini itu murah, hanya Rp 5.000,-. Tapi, unjut bontot sempat ngedumel, harus pandai-pandai nawar.

Sebelum pergi, saya bertanya ke recepcionist tentang arah ke Malioboro, ternyata cukup jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Mau pesan ojek online juga ga ngerti lokasi detail ini hotel.. Wes, ke depan langsung ketemu becak, dan.. saya kaget dong, ke Malioboro kata Bapaknya Rp 40.000,-. Beliau sampai bilang-bilang “nol kilometer” lagi, saya mah kagak ngerti atuh…

Sepanjang jalan saya bertanya-tanya terus “nol kilometer itu apa??” Si Bapak sampe rada kesal, karena saya kagak ngerti mulu, padahal suara si Bapak yang sayup-sayup sampai ditelan keramaian, jadi sayapun makin bingung, yang kedengaran selalu “nol kilometer”, fuuh…

Teman saya, Nanad sudah sampai di Malioboro sedari tadi dan dia nungguin saya di depan Bringharjo. Anehnya, kok Malioboro yang katanya deket dari penginapan saya, malah belum sampai-sampai ya?! Dengan nyinyir saya bertanya pada si Bapak, eh… ternyata, dari tadi itu maksud si Bapak, jalan yang biasa macet, jadi kita keliling dulu sekalian ngeliat wisata lain, bah!

Untuk menyimpulkan pembicaraan dengan si Bapak aja saya harus memeras otak nih, banyak kosakata baru yang tidak saya mengerti dan ternyata itu nama tempat, seperti: 0 km (nol kilometer) dan Alkid (Alun-alun Kidul), hadeuuuh… Jangan-jangan dikira si Bapak, saya tau nama-nama yang beliau maksud, makanya sempat gimanaa gitu karena saya sering menanyakan nama yang sama.

Sepanjang jalan, saya diomeli unjut bontot dan Nanad, mereka sempat menyesalkan karena saya tidak pandai memilih becak, paling mahal dari Hotel Nidia ke Malioboro hanya Rp 10.000,-. Yah, apa boleh buat, jadi lucu sendiri.. 😀

Jalanan di Malioboro rame bangett.. Bahkan, untuk ketemu Nanad aja harus kesana-sini, saking butanya sama tempat. Setelah ketemu, kita jalan hingga 0 km. Tak lama kemudian, unjut bontot beserta sahabat muncul ikutan gabung.

Dengan dialog tingkat tinggi (wkwwk.. berle), walhasil kita putuskan ke Alkid. Apesnya, gegara macet, kita baru lengkap semua personil pada pukul 23.00 WIB. Kita batal naik mobil-mobil unik yang didesain dengan lampu warna-warni gegara macet panjang dan waktu yang mulai menunjukkan jam rehat. Kita cuma nongkrong makan jagung bakar dan teh es.

Disini, dapat cerita dari sang raja batu akik; ada mitos yang terkenal disini. Kalau mampu berjalan dengan menutup mata dari pohon beringin besar sampai pohon beringin kecil di tengah lapangan Alkid ini, artinya cita-cita kita bisa terwujud. Sekalipun kita berjalan didampingi seseorang (bisa teman, keluarga atau pacar), tetap mereka tidak boleh memberitahu kalau kita salah arah. Dan, memang, ada yang bisa salah arah, meskipun jaraknya hanya sekitar 5 meteran gitu, salah satunya si raja batu akik sendiri yang baru sukses untuk ketiga kalinya mencoba 😀

Sabtu, 7 Mei 2016
Good Bye Djogja..

Waaa… ga berasa liburan 3 hari di Djogja ini berasa singkat banget… Masih banyak tempat yang batal dikunjungi, seperti hari ini yang tadinya punya agenda ke Taman Sari, Benteng, Malioboro dan ke pabrik bakpia. Ujung-ujungngnya, cuma bisa merealisasikan 2 poin terakhir, ざんねんね。

Pukul 14.30-an, kita baru makan siang. Unjut bontot ngajakin ke Waroeng Steak yang jadi favoritnya mahasiswa, karena harganya yang miring, hee… Setelahnya kita go ke Terminal Giwang. Untungnya, Nanad sudah memesankan saya tiket, jadi tinggal nunggu bus.

Awalnya, kita dapat info berangkat dengan Bus Nan Tunggal jam 16.00 WIB, tiket Rp 170.000,- dengan fasilitas AC tanpa toilet. Eh, walhasil naik Bus Pariwisata jadinya. Ceritanya, ini bus cadangan kayaknya yang disiapin pihak terminal atau agen, karena bus yang berangkat pada waktu ini udah full semua.

Entah apa yang salah dengan busnya, kita jadi merasa seperti naik andong dengan fasilitas AC. Kebayang kan, gimana sikon kita didalamnya?! 😀

Jam 22.00 WIB kita berhenti makan dan rehat. Lucunya, saya dan Nanad sempat mampir ke prasmanan yang ada hiburan nyanyinya, eh salah masuk rumah makan, haha…

Nah, ketika masuk di rumah makan yang tepat, saya pesan sate Rp 14.000,-. Jangan kaget, sate disini tidak pakai ketupat, kalau mau karbohidrat, empunya resto punya nasi yang ditawarin. Sementara, Nanad pesan nasi goreng. Rasanya lumayan enak untuk ukuran lidah kita (orang Sumatera) yang notabennya terbiasa dengan makanan pedas dan berbumbu..

Minggu, 8 Mei 2016
Apes yang Berketulungan tapi Penuh Tantangan

Yah, apes yang tak berujung.. Kita yang awalnya akan turun di Terminal Lebak Bulus, eh malah mau diturunkan di jalanan dekat RS Fatmawati.. Setelah menuai protes pada sang sopir akhirnya kita diturunkan dipinggir jalan setelah mereka mendapatkan angkot merah menuju Terminal Kampung Rambutan.

Menurut perbincangan sesama penumpang, sepertinya bus itu rusak. Namun, sangat disayangkan perjalanannya malah jadi seperti ini, tapi yah.. apa boleh buat?! Kita turun di Terminal Kampung Rambutan dengan membayar sewa angkot Rp 5.000,-/orang.

Sebenarnya, untuk menuju Lenteng Agung, bisa menaiki angkot merah dengan kode 19; namun, karena barang bawaan kita banyak dan mulai lelah, akhirnya pesan ojek online. Sekitar pukul 11.00 WIB kita sampai di Lenteng Agung dalam perjalanan sekitar 20 menit.

Perjalanan panjang yang melelahkan tak pernah lengkap tanpa adanya tantangan. New friend, new family, new life. Kebahagiaan datang seiring eratnya jalinan silaturrahim.

Terima kasih Djogja.. 3 hari yang sangat menyenangkan. Beautiful moment with Iqbal, Herry, Ilham & Nadia (a.k.a Nanad).

Gallery

Keraton Ratu Boko

Taman wisata Ratu Boko merupakan situs purbakala berbentuk komplek sejumlah sisa bangunan yang berlokasi kira-kira 3 kilometer di sebelah selatan komplek Candi Prambanan, atau membutuhkan waktu sekitar setengah jam perjalanan dengan menggunakan bus yang telah disediakan dalam paket wisata Prambanan – Ratu Boko dari kawasan Candi Prambanan.

Keraton Ratu Boko berada di 18 kilometer sebelah timur Kota Yogyakarta, atau 50 kilometer barat daya Kota Surakarta. Luasnya secara keseluruhan sekitar 25 hektar.

Situs ini pertama kali dilaporkan oleh Van Boeckholzt pada tahun 1790. Ia menyatakan terdapat reruntuhan kepurbakalaan di atas Bukit Ratu Boko; dimana bukit ini merupakan cabang dari sistem Pegunungan Sewu yang membentang dari Selatan Yogyakarta hingga daerah Tulungagung. Seratus tahun setelahnya, dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch dan dilaporkan dalam Keraton van Ratu Boko; sehingga dapat disimpulkan bahwa komplek ini merupakan sisa-sisa keraton (istana raja) .

Situs ini diperkirakan telah digunakan sejak abad ke-8, masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Hal ini dapat dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunannya.

Nama “Ratu Boko” diambil dari legenda masyarakat setempat. Secara harafiah, Ratu Boko berarti raja bangau; yang merupakan ayah dari Loro Jonggrang (nama yang kemudian diberikan pada salah satu candi utama dalam komplek Candi Prambanan).

Prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran (746-784 M) menyebutkan terdapat suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri Wihara (wihara di bukit yang damai). Kemudian komplek ini diubah menjadi keraton bagi Raja bawahan (vazal) yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni.

Di dalam komplek ini terdapat bekas gapura, ruang Paseban, kolam, Pendopo, Pringgitan, keputren, dan dua ceruk gua untuk bermeditasi. 

Akses ke lokasi tersedia dalam bentuk Paket Prambanan – Ratu Boko. Dengan membeli tiket umum Rp 50.000,-/orang atau anak-anak (3-6 th) Rp 20.000,-/orang akan mendapat fasilitas gratis shuttle service. Dalam rentang waktu tertentu dan melalui sistem antre, telah standbye kendaraan seperti bus dan atau mobil antar-jemput dari Candi Prambanan ke Ratu Boko, atau sebaliknya.

Antara pintu masuk dan gapura, terdapat beberapa pondokan tempat beristirahat pengunjung. Disini menyediakan pesanan minuman (seperti kelapa muda) dan beberapa jenis makanan dengan harga berkisar dari Rp 10.000,-.

Sebagian besar informasi didapat dari kawasan Taman Wisata Candi Prambanan. Rekomendasi: Dinas Pariwisata DIY.

Prambanan Temple

Prambanan Temple or so called Rara Jonggrang Temple is the largest Hindu temple complex in Indonesia which was built in 9th century. This temple complex has 240 temples. They are consist of 3 main temples, 3 wahana temples, 3 apit temples, 4 kelir temples and 224 perwara temples.

Three main temples are Siwa Temple, Brahma Temple and Wisnu Temple. The high of Siwa Temple that located in the centre of the complex is 47 meter, it is the highest temple in Indonesia.

Caution:

  • Keep clean.
  • No scratching.
  • No smoking.
  • No removing stone structure.
  • No climbing.
  • No food.

Map Of Prambanan Temple Compound:

  • Main Gate Prambanan
  • Archeological Park.
  • Motorcycle Parking Area.
  • Car and Bus Parking Area.
  • Ticket Box.
  • Information Centre.
  • Prambanan – Ratu Boko
  • Shuttle.
  • Prambanan Temple.
  • Play Ground.
  • Prambanan Museum.
  • Lumbung Temple.
  • Bubrah Temple.
  • Sewu Temple.
  • Manjusrigrha Restoration Studio & BPCB Central Java
  • Office.
  • Restaurant.
  • Deer Cage.
  • Cafetaria.
  • Souvenir Shop.
  • Prambanan Unit Office.
  • BPCB DIY Office.
  • Camping Ground.
  • Ramayana Open Theatre.
  • Rama Shinta Garden Resto.
  • Trimurti Theatre.
  • Teater & Pentas Unit Office.

Other Facilities:

  • Mini bus.
  • Bicycle rental:
    • Mini train: Rp 7.500,-
    • Electric train: Rp 5.000,-
    • ATV: Rp 15.000,-
    • Skelter: Rp 5.000,-
    • Single bike: Rp 15.000,-
    • Tandem bike: Rp 20.000,-
  • Baby care room.
  • Audio visual room.
  • Exhibition Center.
  • etc.

This information was taken from the complex of Prambanan Temple. Recommended: Dinas Parieisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta: Cagar Budaya: Candi Prambanan & Dinas Pariwisata DIY.

Museum Prambanan

Museum Prambanan berada di dalam komplek Candi Prambanan, Yogyakarta. Disini terdapat berbagai peninggalan sejarah seperti peninggalan masa megalithikum, arca-arca kuno, lukisan, bentuk-bentuk pemugaran candi dari tahun ke tahun, dan lain sebagainya. Masuk ke area museum ini GRATIS, alias tidak mengeluarkan biaya. Di alun-alunnya disuguhkan musik tradisional Yogyakarta yang menambah apik suasana khas keraton.

Taman Wisata Candi Prambanan

Candi Prambanan (Prambanan Temple) dikenal juga dengan nama Candi Rara Jonggrang. Candi yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan komplek Candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 Masehi.

Taman wisata Candi Prambanan diresmikan oleh Presiden kedua Republik Indonesia, Bapak Soeharto, pada 6 Juli 1989 di Prambanan. Disini terdapat 240 bangunan yang terdiri dari 3 bangunan candi utama, 3 candi wahana, 2 candi apit, 4 candi kelir, 4 candi patok dan 224 candi perwara.

Purna pugar Candi Wahana diresmikan pada 20 Februari 1993 oleh Presiden Soeharto di Prambanan. Sementara, purna pugar Candi Angsa dan Candi Apit diresmikan oleh Bapak Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 16 Desember 2011 di Prambanan.

Candi utama yaitu Candi Siwa, Candi Brahma dan Candi Wisnu. Purna pugar 3 bangunan ini diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republiik Indonesia, Ir. Jero Wacik, SE., pada 4 Januari 2010 di Yogyakarta. Candi Siwa merupakan bangunan candi tertinggi di Indonesia dengan tinggi 47 meter dan terletak di bagian paling tengah di komplek Candi Prambanan.

Pembelian tiket dapat dilakukan di Loket Prambanan yang buka dari pukul 06.00-17.15 WIB. Tiket bisa dibeli tergantung minat pengunjung, ada tiket yang hanya wisata ke area Candi Prambanan saja dan tersedia juga dalam bentuk Paket Prambanan – Ratu Boko. Berikut rincian harga tiket bagi wisatawan domestik:

  • Prambanan:
    • Umum: Rp 30.000,-/orang.
    • Anak (3-6 th): Rp 12.500,-/orang.
  • Paket Prambanan – Ratu Boko:
    • Umum: Rp 50.000,-/orang.
    • Anak (3-6 th): Rp 20.000,-/orang.
    • Gratis shuttle service (kendaraan seperti bus dan atau mobil yang antar-jemput gratis dalam rentang waktu tertentu dari Candi Prambanan ke Ratu Boko, atau sebaliknya).

Bagian dari komplek Taman Wisata Candi Prambanan:

  1. Pintu Utama Taman Wisata Candi Prambanan.
  2. Parkir Motor.
  3. Parkir Mobil dan Parkir Bus.
  4. Loket.
  5. Pusat Informasi.
  6. Stasiun Shuttle Prambanan – Ratu Boko.
  7. Candi Prambanan.
  8. Area Taman Bermain.
  9. Museum Prambanan.
  10. Candi Lumbung.
  11. Candi Bubrah.
  12. Candi Sewu.
  13. Studio Pemugaran Manjusrigrha dan Kantor Unit BPCB JATENG.
  14. Prambanan Resto.
  15. Kandang Rusa.
  16. Kios Makan.
  17. Kios Souvenir.
  18. Kantor Unit Prambanan.
  19. Kantor Unit BPCB DIY.
  20. Bumi Perkemahan.
  21. Panggung Terbuka Ramayana.
  22. Rama Shinta Garden Resto.
  23. Gedung Trimurti.
  24. Kantor Unit Teater dan Pentas.

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika memasuki komplek Candi Prambanan:

  • Pengunjung dilarang membawa tas masuk ke area Taman Wisata Candi Prambanan.
  • Pengunjung agar menitipkan tas di tempat penitipan barang.
  • Menjaga kebersihan.
  • Dilarang corat-coret.
  • Dilarang merokok.
  • Dilarang memindahkan susunan batu.
  • Dilarang memanjat.
  • Dilarang membawa makanan.

Fasilitas lainnya yang bisa ditemukan di Taman Wisata Candi Prambanan:

    • Rental Mobil Golf, berada di tempat yang sama dengan Tempat Pengembalian Sarung.
      • Senin-Jum’at:
        • Reguler: Rp 20.000,-.
        • VIP: Rp 200.000,-/Jam.
      • Sabtu, Minggu, Libur:
        • Reguler: Rp 20.000,-.
        • VIP: Rp 250.000,-.
    • Sewa Sepeda:
      • Kereta Mini: Rp 7.500,-.
      • Kereta Listrik: Rp 5.000,-.
      • ATV: Rp 15.000,-.
      • Skelter: Rp 5.000,-.
      • Sepeda Tunggal: Rp 10.000,-.
      • Sepeda Tandem: Rp 20.000,-.
    • Ruang Ibu Menyusui.
    • Merapi Farma Herbal: Jamu Godhog khas Jogjakarta untuk kolesterol, asam urat, kencing manis, pegel linu, masuk angin, dan lain-lain; bisa diminum di lokasi.
    • Ruang Audio Visual.

Seluruh informasi didapat dari kawasan Taman Wisata Candi Prambanan. Rekomendasi: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta: Cagar Budaya: Candi Prambanan & Dinas Pariwisata DIY

Pantai Baron

Pantai Baron terletak di Gunung Kidul  menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Yogyakarta. Akses ke lokasi menggunakan kendaraan pribadi. Disini tersedia fasilitas seperti tempat parkir yang cukup luas, toilet dan tempat ganti pakaian.

Pantai Baron berada sekitar 15 menit dari Pantai Indrayanti. Bedanya, untuk ke Pantai Baron, pengunjung mesti berjalan kaki sekitar 15 meter dari tempat parkir.

Sepanjang jalan menuju pantai, banyak dijual aneka makanan, seafood, kuliner, hingga pernak-pernik unik. Seperti, kripik rumput laut dan kripik undur-undur (hewan mungil yang biasa ditemukan di pasir pantai), 3 bungkus besar hanya dijual Rp 10.000,-; ekonomis, bukan?! Rasanya juga gurih, cruncy!

Pantai Baron terkenal dengan air dan menaranya. Di pantai ini terdapat 2 jenis air, asin dan tawar. Air asin berada dihamparan laut luas seperti kebanyakan air laut. Sedangkan air tawar yang berasal dari sungai yang mengalir dari bawah bebatuan menuju laut, menggenang dan membentuk telaga di sisi kanan pantai.

Menurut beberapa sumber, dahulunya sebelum reklamasi, paduan 2 jenis air ini membentuk kombinasi alam nan elok seperti ada sungai sebelum laut. Namun, pasca reklamasi, tentunya menjadi sedikit berbeda.

Ombak di pantai ini cukup besar. Namun, pengunjung diperbolehkan mandi-mandi di pantai ataupun di telaga dengan pengawasan petugas pantai. Biasanya, sekitar pukul 4 sore, atau saat gelombang pasang, para pengunjung dihimbau untuk berhenti berenang. Begitupun di telaga, ada peringatan sejauh mana pengunjung boleh berenang, dikarenakan kedalaman airnya.

Pantai Baron berada diantara 2 bukit dengan bebatuan magnit nan unik dan indah. Selain itu, menara suar juga menjadi daya tarik tersendiri dalam menikmati Pantai Baron dan sekitarnya dengan pesona yang menakjubkan. 

Untuk menuju menara suar, merogoh kocek sebesar Rp 2.000,-/orang, dibayar pada saat menaiki bukit. Di atas bukit, ada beberapa fasilitas yang bisa digunakan, seperti sewa mobil golf. Insert menara Rp 5.000,-/orang.

Pengunjung cukup mempersiapkan tenaga ekstra demi mendaki menara setinggi 40 meter dengan 9 lantai ini. Namun, rasa capek akan terbayarkan ketika sampai di puncak menara. Hamparan laut luas, berikut perbukitan yang terbentang luas… Tak terlukiskan dengan kata-kata..

Gallery: Pantai Baron

Bukit Bintang

Bukit Bintang terletak di Gunung Kidul, sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Yogyakarta dengan menggunakan kendaraan pribadi. Tempat wisata yang satu ini serupa dengan Bukit Nobita di Kota Padang, Sumatera Barat.

Namun, bukit ini akan terlihat keindahannya pada malam hari. Pengunjung bisa menikmati gemerlap lampu Kota Djogja dari sisi jalan. Tidak hanya itu, berbagai cafe atau resto pun tersedia dengan tempat hanging out yang pastinya telah didesain sedemikian rupa, sehingga dari sini bisa dinikmati kemilau Kota Djogja dengan sangat apik.

Bukit Bintang terletak tidak jauh dari gerbang Gunung Kidul dan disini merupakan jalur utama bagi pengunjung yang hendak berwisata ke Pantai IndrayantiPantai Baron dan ratusan pantai lainnya. Selain itu, jalan ini juga memiliki banyak tikungan, sehingga jika ada hari libur panjang atau hari libur tertentu, lokasi ini akan sangat padat oleh kendaraan, sehingga banyak pengunjung tidak dapat menikmati secara langsung pemandangan indah tersebut.

Gunung Kidul (Mount Kidul)

Gunung Kidul terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta dan memakan waktu sekitar 1 jam dari pusat kota dengan menggunakan kendaraan pribadi. Lokasi ini terkenal dengan wisata Bukit Bintang dan ratusan pantai indah yang saling menyambung, seperti: Pantai IndrayantiPantai Baron, Pantai Sepanjang, dan lainnya.

Sayangnya, lokasi yang syarat dengan keindahan ini belum dikelola dengan maksimal, sehingga akses ke lokasipun terbatas. Seperti halnya transportasi, untuk sampai ke destinasi yang satu ini hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi atau carteran. Selain itu, papan penanda atau plang nama pantai juga tidak semuanya tersedia.

Berikut beberapa tempat wisata ternama di Gunung Kidul.

cover1c
Foto dishare dari wwww.griyowono.com

Pantai Indrayanti (Indrayanti Beach)

Pantai Indrayanti terletak di Gunung Kidul  menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Yogyakarta. Akses ke lokasi menggunakan kendaraan pribadi, melewati simpang Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Krakal, Pantai Sadranan (tempat snorkling), dll. Disini tersedia fasilitas seperti tempat parkir yang cukup luas, toilet dan tempat ganti pakaian.

Pantai Indrayanti berada di pinggir jalan. Disekitarnya berjejer aneka produk jajanan, cenderamata dan oleh-oleh lainnya. Salah satunya, keripik rumput laut dan keripik undur-undur yang 3 bungkus kecilnya (plastik 1/2 kg) dijual seharga Rp 10.000,-. Ekonomis, bukan?! Selain itu rasanya, hmm.. gurih dan enak! Tidak hanya itu, topi pantai nan cantikpun dengan bidang pinggiran cukup lebar hanya Rp 30.000,-.

Memasuki pantai ini tidak dipungut biaya, hanya saja jika ingin menikmati pemandangan dari puncak bukitnya, pengunjung bisa membayar uang sukarela di kotak yang telah disediakan. Dengan mendaki jalan setapak yang dibuat berundak sebagai jenjang, bisa dinikmati pemandangan alam nan luar biasa indah yang sekilas menyerupai Bali.

Di bibir pantai terdapat beberapa batu karang. Khususnya di bawah bukit terdapat beberapa batu karang kecil. Pantai ini juga mempunyai ombak cukup besar, namun tidak terlihat aktifitas seperti surfing ataupun watersports lainnya.

Attention
Baru-baru ini, plang penanda jalan ataupun spanduk bertuliskan Pantai Indrayanti sulit ditemukan.