Category Archives: DKI Jakarta

Mesjid Di Mall Blok M Square Jakarta

Buat yang muslim, tidak perlu khawatir saat harus melaksanakan ibadah ketika shoping ataupun hanging out di Mall Blok M Square, Jakarta; karena di lantai 7 bisa ditemukan mesjid nan megah ini. Tempatnya bersih dan sangat nyaman. Uniknya, di perkarangan mesjid dibangun replika bangunan Ka’bah lengkap dengan hajar aswad-nya.

Catatan

  • Ka’bah merupakan bait suci umat muslim yang terletak di Masjidil Haram, Mekah.
  • Hajar aswad diyakini umat Islam sebagai batu yang berasal dari surga. Batu ini ditemukan oleh Nabi Ismail dan diletakkan oleh Nabi Ibrahim. Awalnya, batu ini bercahaya menerangi jazirah Arab. Seiring berjalannya waktu, cahayanya meredup dan bati tersebut berubah warna menjadi hitam, namun wanginya masih tetap alami (Hajar Aswad, diakses dari Wikipedia pada 18 September 2016).

Gallery

Advertisements

Serabi Betawi (KUE APE)

Serabi Betawi dan Serabi Solo bentuknya mirip, bukan?! Sama-sama terbuat dari bahan dasar tepung beras. Bedanya, Serabi Betawi lebih kering dan pinggirannya lebih cruncy.

Buat yang di Bukittinggi, Sumatera Barat; makanan tradisional Betawi ini bisa dibeli di depan Mesjid Raya Bukittinggi. Harganya cukup ekonomis Rp 2.000,-/kue, tersedia dalam rasa pandan.

Sepatu Butut Nan Cantik

Sepatu butut nan cantik ini adalah sahabat setia dalam perjalanan menuju Jepang. Banyak hal, suka & duka, telah kami lalui bersama. Sayangnya, karena kesibukan, mulai lupa nasib si cantik, dan.. lupa bahwa dia terbuat dari bahan baku kulit nan halus, tanpa sadar sang parasitpun mulai merenggutnya. 

Sepatu butut, maafkan.. dan, terima kasih untuk waktu yang pernah ada.. Tak mungkin membawamu kemana-mana, namun jasamu selalu terpatri dihati. Sepatu butut, salah satu sepatu terbaik yang pernah menjadi sahabat di momentmoment terbaik. 

Hutan Mangrove PIK

Di tengah riuhnya aktifitas di Kota Jakarta, masih tersisa panorama nan sangat indah dan masih terjaga dengan baik di beberapa bagiannya, salah satunya Hutan Mangrove PIK yang berlokasi di dalam kawasan PIK (Pantai Indah Kapuk), di dekat sekolah Buddha Tzu Chi, Jakarta Utara.

Hutan yang menjadi daerah Deklarasi Jakarta ini menyuguhkan sisi lain di balik maraknya pembangunan di daerah ibukota. Siapapun akan berdecak kagum dengan tatanan apiknya, aneka jenis tanaman bakau dibudidayakan disini. Tidak hanya itu, fasilitas pendukungpun cukup memadai, seperti kantin yang didesain unik, mushalla, outbond, cottage-cottage (pondok homestay), dll.

Insert (tiket masuk) Rp 25.000,-/orang, akan diminta oleh petugas ketika memasuki pintu gerbang yang bertuliskan “Taman Wisata Alam Angke Kapuk Jakarta Utara”.

Akses ke lokasi cukup kompleks, mulai dari kendaraan pribadi hingga transportasi umum. Agar lebih praktis, Anda bisa memanfaatkan kendaraan yang dipesan via online.

Namun, jika tidak, untuk akses dari daerah Lenteng Agung (Jakarta Selatan), bisa dengan menaiki Kereta Api: KRL Commuterline dengan bajet Rp 2.000,- untuk rute Stasiun Universitas Pancasila (UP) – Stasiun Cawang. Selanjutnya, menaiki Busway dengan tujuan Pluit. Kemudian dilanjutkan dengan kendaraan yang dipesan secara online, karena transportasi umum ke lokasi tujuan cukup sukar ditemukan.

Dari gerbang hingga tempat penitipan barang berjarak sekitar 18 meter. Kita tidak diperkenankan membawa makanan ataupun minuman kemasan dari luar, petugas akan memeriksa barang bawaan.

Satu-satunya yang diperbolehkan untuk dibawa ke dalam lokasi adalah minuman yang memang dibawa di tempat khusus minum (bukan kemasan). [Mungkin kebijakan ini berguna untuk mengurangi pembuangan sampah di sekitar tempat wisata, sehingga zona hijau ini terjaga kebersihannya.]

Panorama nan apik ini tutup sekitar pukul 19.00 WIB. Jadi, buat Anda yang tidak memiliki kendaraan pribadi, bisa memesan kendaraan via online atau menggunakan satu-satunya transportasi umum yang parkir di depan gerbang utama, angkot berwarna merah; turun di Kota Tua, ongkos Rp 5.000,-. Lalu, sekitar 4 meter dari tempat pemberhentian angkot, terpampang dengan sangat jelas tulisan Stasiun Jakarta Kota, khusus buat Anda yang akan menggunakan KRL Commuterline.

Big Thanks
Trims buat Lisa yang dengan sangat detail telah memandu kita via peta transportasi.

Moment
Best moment with Kiki san, Intan san, Endang san, Nuru san, Wawan san, Nia san, Diah san & Topik san. Perjalanan penuh perjuangan tapi terbayarkan.

Catatan:
Semua dokumentasi dalam bentuk foto merupakan koleksi dari Nora san, Kiki san, Intan san, Endang san, Nuru san, Wawan san, Nia san, Diah san & Topik san.

Recomended
Ilalangbasah. 2015. Wisata Murah: Hutan Mangrove. Diakses pada 4 Mei 2016.

Kue Jaring Laba-laba & Kue Cubit

Kue cubit, makanan tradisional yang tentunya sudah tidak asing, bukan? Tapi, kue jaring laba-laba, langsung terbayang bentuknya yang seperti jaring laba-laba, namun rasanya..?!

Dalam versi kali ini, masih diambil dari seorang Bapak penjual kaki lima yang sering berjualan di Jl. Gardu, Serengseng Sawah, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Beliau mengkreasikan resep kue cubit menjadi bentuk kue jaring laba-laba. Meskipun adonannya sama, rasanya hampir serupa tapi sedikit berbeda.

  • Bahan:
    • Kue ini terbuat dari beberapa adonan yang dipisahkan dalam empat tempat (menyerupai tempat kecap/sambal).
      • Tepung terigu + gula pasir + air matang.
      • Tepung terigu + pasta rasa pandan (berwarna hijau)
      • Tepung terigu + pasta rasa strawberi (berwarna merah muda).
      • Tepung terigu + pasta rasa anggur (berwarna ungu).
    • Minyak goreng yang sudah dicampur dengan telur ayam/itik.
  • Alat:
    • Cetakan khusus.
    • Pengait khusus.
    • Kompor.
  • Cara:
    • Panaskan cetakan dengan api sedang.
      • Kue Cubit:
        • Tuang adonan terigu seukuran cetakan, jangan sampai melebihi batas atas cetakan.
        • Tambahkan pasta pandan.
        • Tunggu hingga matang.
        • Angkat dan sajikan.
      • Kue Jaring Laba-laba:
        • Tuang adonan terigu dari tengah dan kemudian melingkar dengan jarak sedang.
        • Berikutnya tuang pasta pandan, strawberi dan anggur; dengan cara yang sama dan bergantian.
        • Ketika sisi bawah telah matang, balikkan.
        • Tunggu beberapa saat, angkat dan hidangkan.

Hm, nyummy… Harganyapun ekonomis, kue cubit Rp 1.000,- dan kue jaring laba-laba Rp 2.000,-. Rasa manisnya pas dan gurih. Biasanya, Bapak ini sering mangkal di depan SD di sekitar sini (Serengseng Sawah).

Cilor & Maklor

Hm… yummmy.. Udah pada nyobain cilor dan maklor, belum?! Boro-boro ya, tau aja kagak.. Hayo lho… 😀

Cilor singkatan dari cilok telor. Cilok itu sendiri sepertinya terbuat dari tepung kanji dan telah berbentuk potongan kecil dengan tekstur kenyal. Sementara, maklor singkatan dari makaroni telor.

Cara bikinnya sama persis, bedanya terletak pada bahan dasar saja: cilok atau makaroni. Jajanan unik ini terbuat dari cilok/makaroni, tepung terigu, telur dan minyak goreng. Bumbunya ada 3 macam, cabe merah bubuk, keju bubuk dan BBQ.

Cilok/makaroni dituang ke wajan khusus yang telah dipanaskan dan dituangkan sedikit minyak goreng. Tambahkan tepung terigu yang telah dicairkan, telur yang telah dikocok dan sedikit minyak goreng. Tutup wajan, tunggu sampai matang dan balikkan letaknya agar semua sisi matang. Angkat dan taruh diwadah, kemudian diaduk dengan bumbu, sehingga bentuknya berubah menjadi separuh hancur.

Enak banget disantap disela waktu rehat. Nyantapnya khas banget dengan menggunakan tusuk gigi 😀 Buat yang bingung, bakal nggak bingung lagi deh kalau udah pernah nyicipin 😀

Saya kasih bocoran nih, salah satu tempat yang biasa ditongkrongin itu di depan SMA 109, Jl. Gardu, Serengseng Sawah, Jakarta Selatan. Biasanya, bapak empunya gerobak mangkal sore-sore disini. Dan, jangan heran kalau yang beli bakal banyak banget. Selain enak, bajetnya juga ekonomis, Rp 1.000,-/buah. Selamat mencoba, recommended dah.

Toge Goreng

Makanan khas Betawi yang satu ini terbilang unik. “Toge Goreng”, pasti semua orang berpikir “toge goreng? Seperti apa ya?”. Bukan toge goreng seperti yang kita pikirkan, bahan dasarnya tetap toge biasa yang telah direbus terlebih dahulu.

Menurut cerita dari empunya Makanan Khas Betawi ‘Bang Mali’, berdasarkan cerita yang beliau dapat dari kakeknya, dahulu toge itu dibikin dengan diasap, tapi sekarang sudah menggunakan kompor, makanya disebut toge goreng. Nah, unik, kan? 🙂

Kuliner tradisional ini selintas hampir mirip dengan pical/pecel, tapi bener-bener berbeda. Terbuat dari kombinasi bahan-bahan seperti toge rebus, lontong, kuah kacang yang diolah bersama rempah-rempah khusus ditambah tempe/tauco, kecap, sambal (cabe yang diulek), bawang goreng dan kerupuk. Rasanya, hmmm…. maknyus!

Penasaran?! Cus, dicobain.. Seporsi Rp 15.000,-. Bisa ditemukan di wahana kuliner yang terdapat di dalam kawasan Monas, atau mungkin di warung-warung yang menyediakan makanan khas Betawi lainnya.

Laksa

Makanan khas Betawi yang satu ini terdiri dari sayur toge yang telah direbus, mie laksa (mie putih yg lebih tipis, sering dipake untuk soto), sayur kemangi, kuah dengan bumbu rempah-rempah, kecap, cabe giling dan ditaburi kerupuk. Rasanya hampir mirip dengan soto, hanya saja sedikit lebih pekat dan agak manis.

Laksa bisa ditemukan ditempat-tempat yang menyediakan makanan khas Betawi, salah satunya di wahana kuliner yang tersedia di dalam kawasan Monumen Nasional (Monas). Satu porsi Rp 15.000,-.

Monumen Nasional (Monas)

Belum lengkap rasanya ke Jakarta jika belum pernah melihat Monas, setidaknya itulah selorohan kecil yang sering dilontarkan ketika seseorang pergi ke Jakarta, bukan?!

Tugu yang satu ini sangat terkenal dan lebih familiar, keberadaannya dikenal sebagai landmark-nya Indonesia yang terletak di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Tugu dengan ketinggian 132 meter ini tidak hanya sebagai objek wisata sejarah, namun juga menjadi salah satu tempat favorit untuk berolahraga seperti marathon atau joging atau jalan santai.

Monas merupakan tugu peninggalan bersejarah yang dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961 dibawah kepemimpinan Presiden Sukarno, mulai dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Monumen dengan ketinggian 433 kaki ini didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Mahkota lidah api berlapis emas yang terdapat di puncak Monas melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala (Wikipedia.org, diakses pada 25 Maret 2015).

Akses ke Monas bisa menggunakan transportasi umum, seperti: kereta api (KRL Commuterline) turun di Stasiun Gambir, Bus Trans Jakarta turun di Halte Monas atau Halte Harmoni, ojek, taksi, dll. Namun, bagi yang memiliki kendaraan pribadi bisa memarkirkan kendaraannya di tempat yang telah disediakan (masih dalam kawasan Monas).

Di seberang Monas, terdapat tulisan TUGU MONUMEN NASIONAL, dimana di sisi kanannya merupakan pintu masuk menuju lorong Monas. Nanti di lantai bawah ini (sebelum masuk lorong), ada loket pembelian karcis dan kita cukup antri dengan tertib.

Harga tiket terbilang variatif, tergantung status akademis dan lokasi tujuan (Cawan atau Puncak). Berikut rinciannya:

  • Anak-anak/Pelajar
    • Cawan Rp 2.000,-
    • Puncak Rp 2.000,-
  • Mahasiswa
    • Cawan Rp 3.000,-
    • Puncak Rp 5.000,
  • Dewasa/Umum
    • Cawan Rp 5.000,-
    • Puncak Rp 10.000,-

Monas terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga Minggu (Senin TUTUP), pukul 08.00-15.00 WIB.

Setelah membeli tiket, kita berjalan melewati lorong hingga ada petugas yang mengecek tiket. Setelah itu, kita bisa meneruskan perjalanan hingga Museum Sejarah Nasional. Disini tersedia aneka galeri, mulai dari miniatur Monas, galeri manusia purba, zaman kerajaan (salah satunya pembangunan Borobudur, perdagangan masa dahulu), perjuangan, dll. Galeri ini dibuat unik seperti aslinya, lengkap dengan informasi detail-nya.

Biasanya, pengunjung lebih sering memilih ke Puncak terlebih dulu kemudian terakhir berkeliling di Museum Sejarah Nasional sekaligus beristirahat (melepas penat). Untuk meneruskan perjalanan hingga Puncak, kita menaiki tangga hingga pelataran Monas. Disini terdapat ukiran relief perjuangan dengan cat perak yang sangat indah.

Kita kembali antri untuk menaiki lift yang berkapasitas maksimal 11 orang (sudah termasuk seorang petugas yang standbye didalamnya). Saat lift menunjukkan angka 3, kita sudah sampai di Puncak Monas. Pemandangan Kota Jakarta terlihat sangat menakjubkan dari sini, apalagi dengan menggunakan teropong unik yang tersedia disetiap pojoknya, bisa terlihat jelas bangunan seperti Mahkamah Agung.

Selanjutnya, kita kembali menaiki lift atau menuruni tangga menuju Cawan. Disini terdapat pelataran yang cukup luas dan tentunya sejuk. Di Cawan ini, kawasan sekitar terlihat indah dengan tatanan yang apik.

Turun ke lantai 1 (lantai dasar), terdapat Museum Kemerdekaan. Kita cukup menaiki tangga di bagian sebelah kanan lift.

Setelah ini, kita kembali melewati Museum Sejarah Nasional, pelataran Monas yang ada reliefnya dan terowongan Monas. Sejenak kita kembali berada di seberang Tugu Monas.

Di sekitar tugu bersejarah ini tak ada satupun pedagang yang berjualan. Jadi, sebaiknya Anda menyediakan air mineral (paling tidak), agar tidak kehausan. Namun, untuk makan, jangan kuatir.. Nanti ada tempat khusus yang disediakan berdekatan dengan tempat parkir.

Jika Anda kelelahan untuk berjalan menuju pintu gerbang, cukup menunggu bus keliling yang telah difasilitasi GRATIS, kemudian turun di wahana kuliner. Disini tersedia aneka makanan dan jajanan yang variatif, seperti: toge goreng, laksa, bakso, goreng-gorengan, kelapa muda, aneka minuman, dll. Tidak hanya itu, ada juga pakaian berlogo Monas yang ekonomis, rata-rata tertera tulisan “7 baju Rp 100.000,- semua ukuran”; dan cenderamata lainnya. 🙂

Tidak jauh dari tempat kuliner ini, terdapat aneka costume player, mulai dari costume perjuangan yang berdandan seperti pejuang sungguhan dan mematung hingga hantu-hantuan. Mereka menuliskan sumbangsi yang mau berfoto seharga Rp 5.000,-.

Tidak terlalu jauh dari tempat parkir, ditemukan pintu keluar. Bagi Anda yang menggunakan Bus Trans, jalan beberapa langkah ke arah kiri dari gerbang akan menemukan halte terdekat.

Beberapa informasi ini didapat dari hasil wawancara dengan petugas tiket dan Wikipedia.org.