Arsip Kategori: DKI Jakarta

Kue Keranjang

Kue Keranjang awalnya dibuat oleh suku Tionghoa dan punya nama asli Nian Gao atau Ti Kwe sebagai kue tahunan yg boleh dibilang wajib ada di Tahun Baru Imlek. Kue ini biasanya dimakan pada Cap Go Meh (malam ke-15 tahun baru imlek). Karenanya, kue ini punya makna tersendiri bagi orang-orang Tionghoa (Wikipedia).

โ€œKok mirip dodol, ya??โ€ Ternyata, ini memang dodol, dodol cina.

โ€œKok namanya kue keranjang, ya?!โ€ Diambil dari nama wadah pencetaknya yg menyerupai keranjang.

Gallery

Referensi

  • Wikipedia, diakses pada 12 Februari 2019.
Iklan

Bakso Lontong di Kampung Melayu

Buat pecinta bakso malang, kudu nyobain menu yang satu ini. Beda!!

Bakso malang versi ini tidak pake mie, tapi pake lontong. Makanya gerobak bakso ini dinamai dengan Bakso Lontong.

Seporsi lengkap terdiri dari bakso, tahu bakso, tahu rebus, sejenis pangsit rebus atau dimsum berisi aci, dan lontong; ditambah dengan toping pangsit goreng. (Ngeliat aja udah ngiller ๐Ÿ˜‹๐Ÿ‘๐Ÿ‘)

Uniknya, ketika minta โ€œnggak pake micin ya, bangโ€. Dengan ramah abang tukang bakso optimis ngejawab โ€œemang enggak pake micinโ€ Luar biasa!! Udah enak, harga ekonomis, sehat lagi ๐Ÿ˜๐Ÿ‘๐Ÿ‘

Dengan merogoh kocek Rp 12.000,- saja, semangkok bakso lontong bisa dilahap, maknyus!! Pembelipun boleh request, mau kombinasi yang mana aja (harga berubah sesuai kombinasi yang diminta).

Bakso nan laris manis ini suka mangkal di depan Alfamart J810 Jatinegara Barat 2, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Bagi yang penasaran, kudu datang kesini pukul 1-an, karena abangnya cuma mangkal dari jam 1 s/d jam 2 doang.

Gallery

  • Instagram: #jejaklangkaho @olha_chayo ๐Ÿ‘‰ย Bakso Lontong

Mesjid Di Mall Blok M Square Jakarta

Buat yang muslim, tidak perlu khawatir saat harus melaksanakan ibadah ketika shoping ataupun hanging out di Mall Blok M Square, Jakarta; karena di lantai 7 bisa ditemukan mesjid nan megah ini. Tempatnya bersih dan sangat nyaman. Uniknya, di perkarangan mesjid dibangun replika bangunan Ka’bah lengkap dengan hajar aswad-nya.

Catatan

  • Ka’bah merupakan bait suci umat muslim yang terletak di Masjidil Haram, Mekah.
  • Hajar aswad diyakini umat Islam sebagai batu yang berasal dari surga. Batu ini ditemukan oleh Nabi Ismail dan diletakkan oleh Nabi Ibrahim. Awalnya, batu ini bercahaya menerangi jazirah Arab. Seiring berjalannya waktu, cahayanya meredup dan bati tersebut berubah warna menjadi hitam, namun wanginya masih tetap alami (Hajar Aswad, diakses dari Wikipedia pada 18 September 2016).

Gallery

Serabi Betawi (KUE APE)

Serabi Betawi dan Serabi Solo bentuknya mirip, bukan?! Sama-sama terbuat dari bahan dasar tepung beras. Bedanya, Serabi Betawi lebih kering dan pinggirannya lebih cruncy.

Buat yang di Bukittinggi, Sumatera Barat; makanan tradisional Betawi ini bisa dibeli di depan Mesjid Raya Bukittinggi. Harganya cukup ekonomis Rp 2.000,-/kue, tersedia dalam rasa pandan.

Sepatu Butut Nan Cantik

Sepatu butut nan cantik ini adalah sahabat setia dalam perjalanan menuju Jepang. Banyak hal, suka & duka, telah kami lalui bersama. Sayangnya, karena kesibukan, mulai lupa nasib si cantik, dan.. lupa bahwa dia terbuat dari bahan baku kulit nan halus, tanpa sadar sang parasitpun mulai merenggutnya. 

Sepatu butut, maafkan.. dan, terima kasih untuk waktu yang pernah ada.. Tak mungkin membawamu kemana-mana, namun jasamu selalu terpatri dihati. Sepatu butut, salah satu sepatu terbaik yang pernah menjadi sahabat di momentmoment terbaik. 

Hutan Mangrove PIK

Di tengah riuhnya aktifitas di Kota Jakarta, masih tersisa panorama nan sangat indah dan masih terjaga dengan baik di beberapa bagiannya, salah satunya Hutan Mangrove PIK yang berlokasi di dalam kawasan PIK (Pantai Indah Kapuk), di dekat sekolah Buddha Tzu Chi, Jakarta Utara.

Hutan yang menjadi daerah Deklarasi Jakarta ini menyuguhkan sisi lain di balik maraknya pembangunan di daerah ibukota. Siapapun akan berdecak kagum dengan tatanan apiknya, aneka jenis tanaman bakau dibudidayakan disini. Tidak hanya itu, fasilitas pendukungpun cukup memadai, seperti kantin yang didesain unik, mushalla, outbond, cottage-cottage (pondok homestay), dll.

Insert (tiket masuk) Rp 25.000,-/orang, akan diminta oleh petugas ketika memasuki pintu gerbang yang bertuliskan “Taman Wisata Alam Angke Kapuk Jakarta Utara”.

Akses ke lokasi cukup kompleks, mulai dari kendaraan pribadi hingga transportasi umum. Agar lebih praktis, Anda bisa memanfaatkan kendaraan yang dipesan via online.

Namun, jika tidak, untuk akses dari daerah Lenteng Agung (Jakarta Selatan), bisa dengan menaiki Kereta Api: KRLย Commuterline dengan bajet Rp 2.000,- untuk rute Stasiun Universitas Pancasila (UP) – Stasiun Cawang. Selanjutnya, menaiki Busway dengan tujuan Pluit. Kemudian dilanjutkan dengan kendaraan yang dipesan secara online, karena transportasi umum ke lokasi tujuan cukup sukar ditemukan.

Dari gerbang hingga tempat penitipan barang berjarak sekitar 18 meter. Kita tidak diperkenankan membawa makanan ataupun minuman kemasan dari luar, petugas akan memeriksa barang bawaan.

Satu-satunya yang diperbolehkan untuk dibawa ke dalam lokasi adalah minuman yang memang dibawa di tempat khusus minum (bukan kemasan). [Mungkin kebijakan ini berguna untuk mengurangi pembuangan sampah di sekitar tempat wisata, sehingga zona hijau ini terjaga kebersihannya.]

Panorama nan apik ini tutup sekitar pukul 19.00 WIB. Jadi, buat Anda yang tidak memiliki kendaraan pribadi, bisa memesan kendaraan via online atau menggunakan satu-satunya transportasi umum yang parkir di depan gerbang utama, angkot berwarna merah; turun di Kota Tua, ongkos Rp 5.000,-. Lalu, sekitar 4 meter dari tempat pemberhentian angkot, terpampang dengan sangat jelas tulisan Stasiun Jakarta Kota, khusus buat Anda yang akan menggunakan KRL Commuterline.

Big Thanks
Trims buat Lisa yang dengan sangat detail telah memandu kita via peta transportasi.

Moment
Best moment with Kiki san, Intan san, Endang san, Nuru san, Wawan san, Nia san, Diah san & Topik san. Perjalanan penuh perjuangan tapi terbayarkan.

Catatan:
Semua dokumentasi dalam bentuk foto merupakan koleksi dari Nora san, Kiki san, Intan san, Endang san, Nuru san, Wawan san, Nia san, Diah san & Topik san.

Recomended
Ilalangbasah. 2015. Wisata Murah: Hutan Mangrove. Diakses pada 4 Mei 2016.

Kue Jaring Laba-laba & Kue Cubit

Kue cubit, makanan tradisional yang tentunya sudah tidak asing, bukan? Tapi, kue jaring laba-laba, langsung terbayang bentuknya yang seperti jaring laba-laba, namun rasanya..?!

Dalam versi kali ini, masih diambil dari seorang Bapak penjual kaki lima yang sering berjualan di Jl. Gardu, Serengseng Sawah, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Beliau mengkreasikan resep kue cubit menjadi bentuk kue jaring laba-laba. Meskipun adonannya sama, rasanya hampir serupa tapi sedikit berbeda.

  • Bahan:
    • Kue ini terbuat dari beberapa adonan yang dipisahkan dalam empat tempat (menyerupai tempat kecap/sambal).
      • Tepung terigu + gula pasir + air matang.
      • Tepung terigu + pasta rasa pandan (berwarna hijau)
      • Tepung terigu + pasta rasa strawberi (berwarna merah muda).
      • Tepung terigu + pasta rasa anggur (berwarna ungu).
    • Minyak goreng yang sudah dicampur dengan telur ayam/itik.
  • Alat:
    • Cetakan khusus.
    • Pengait khusus.
    • Kompor.
  • Cara:
    • Panaskan cetakan dengan api sedang.
      • Kue Cubit:
        • Tuang adonan terigu seukuran cetakan, jangan sampai melebihi batas atas cetakan.
        • Tambahkan pasta pandan.
        • Tunggu hingga matang.
        • Angkat dan sajikan.
      • Kue Jaring Laba-laba:
        • Tuang adonan terigu dari tengah dan kemudian melingkar dengan jarak sedang.
        • Berikutnya tuang pasta pandan, strawberi dan anggur; dengan cara yang sama dan bergantian.
        • Ketika sisi bawah telah matang, balikkan.
        • Tunggu beberapa saat, angkat dan hidangkan.

Hm, nyummy… Harganyapun ekonomis, kue cubit Rp 1.000,- dan kue jaring laba-laba Rp 2.000,-. Rasa manisnya pas dan gurih. Biasanya, Bapak ini sering mangkal di depan SD di sekitar sini (Serengseng Sawah).

Cilor & Maklor

Hm… yummmy.. Udah pada nyobain cilor dan maklor, belum?! Boro-boro ya, tau aja kagak.. Hayo lho… ๐Ÿ˜€

Cilor singkatan dari cilok telor. Cilok itu sendiri sepertinya terbuat dari tepung kanji dan telah berbentuk potongan kecil dengan tekstur kenyal. Sementara, maklor singkatan dari makaroni telor.

Cara bikinnya sama persis, bedanya terletak pada bahan dasar saja: cilok atau makaroni. Jajanan unik ini terbuat dari cilok/makaroni, tepung terigu, telur dan minyak goreng. Bumbunya ada 3 macam, cabe merah bubuk, keju bubuk dan BBQ.

Cilok/makaroni dituang ke wajan khusus yang telah dipanaskan dan dituangkan sedikit minyak goreng. Tambahkan tepung terigu yang telah dicairkan, telur yang telah dikocok dan sedikit minyak goreng. Tutup wajan, tunggu sampai matang dan balikkan letaknya agar semua sisi matang. Angkat dan taruh diwadah, kemudian diaduk dengan bumbu, sehingga bentuknya berubah menjadi separuh hancur.

Enak banget disantap disela waktu rehat. Nyantapnya khas banget dengan menggunakan tusuk gigi ๐Ÿ˜€ Buat yang bingung, bakal nggak bingung lagi deh kalau udah pernah nyicipin ๐Ÿ˜€

Saya kasih bocoran nih, salah satu tempat yang biasa ditongkrongin itu di depan SMA 109, Jl. Gardu, Serengseng Sawah, Jakarta Selatan. Biasanya, bapak empunya gerobak mangkal sore-sore disini. Dan, jangan heran kalau yang beli bakal banyak banget. Selain enak, bajetnya juga ekonomis, Rp 1.000,-/buah. Selamat mencoba, recommended dah.

Toge Goreng

Makanan khas Betawi yang satu ini terbilang unik. “Toge Goreng”, pasti semua orang berpikir “toge goreng? Seperti apa ya?”. Bukan toge goreng seperti yang kita pikirkan, bahan dasarnya tetap toge biasa yang telah direbus terlebih dahulu.

Menurut cerita dari empunya Makanan Khas Betawi ‘Bang Mali’, berdasarkan cerita yang beliau dapat dari kakeknya, dahulu toge itu dibikin dengan diasap, tapi sekarang sudah menggunakan kompor, makanya disebut toge goreng. Nah, unik, kan? ๐Ÿ™‚

Kuliner tradisional ini selintas hampir mirip dengan pical/pecel, tapi bener-bener berbeda. Terbuat dari kombinasi bahan-bahan seperti toge rebus, lontong, kuah kacang yang diolah bersama rempah-rempah khusus ditambah tempe/tauco, kecap, sambal (cabe yang diulek), bawang goreng dan kerupuk. Rasanya, hmmm…. maknyus!

Penasaran?! Cus, dicobain.. Seporsi Rp 15.000,-. Bisa ditemukan di wahana kuliner yang terdapat di dalam kawasan Monas, atau mungkin di warung-warung yang menyediakan makanan khas Betawi lainnya.

Laksa

Makanan khas Betawi yang satu ini terdiri dari sayur toge yang telah direbus, mie laksa (mie putih yg lebih tipis, sering dipake untuk soto), sayur kemangi, kuah dengan bumbu rempah-rempah, kecap, cabe giling dan ditaburi kerupuk. Rasanya hampir mirip dengan soto, hanya saja sedikit lebih pekat dan agak manis.

Laksa bisa ditemukan ditempat-tempat yang menyediakan makanan khas Betawi, salah satunya di wahana kuliner yang tersedia di dalam kawasanย Monumen Nasional (Monas). Satu porsi Rp 15.000,-.

Monumen Nasional (Monas)

Belum lengkap rasanya ke Jakarta jika belum pernah melihat Monas, setidaknya itulah selorohan kecil yang sering dilontarkan ketika seseorang pergi ke Jakarta, bukan?!

Tugu yang satu ini sangat terkenal dan lebih familiar, keberadaannya dikenal sebagai landmark-nya Indonesia yang terletak di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Tugu dengan ketinggian 132 meter ini tidak hanya sebagai objek wisata sejarah, namun juga menjadi salah satu tempat favorit untuk berolahraga seperti marathon atau joging atau jalan santai.

Monas merupakan tugu peninggalan bersejarah yang dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961 dibawah kepemimpinan Presiden Sukarno, mulai dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Monumen dengan ketinggian 433 kaki ini didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Mahkota lidah api berlapis emas yang terdapat di puncak Monas melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala (Wikipedia.org, diakses pada 25 Maret 2015).

Akses ke Monas bisa menggunakan transportasi umum, seperti: kereta api (KRL Commuterline) turun di Stasiun Gambir, Bus Trans Jakarta turun di Halte Monas atau Halte Harmoni, ojek, taksi, dll. Namun, bagi yang memiliki kendaraan pribadi bisa memarkirkan kendaraannya di tempat yang telah disediakan (masih dalam kawasan Monas).

Di seberang Monas, terdapat tulisan TUGU MONUMEN NASIONAL, dimana di sisi kanannya merupakan pintu masuk menuju lorong Monas. Nanti di lantai bawah ini (sebelum masuk lorong), ada loket pembelian karcis dan kita cukup antri dengan tertib.

Harga tiket terbilang variatif, tergantung status akademis dan lokasi tujuan (Cawan atau Puncak).ย Berikut rinciannya:

  • Anak-anak/Pelajar
    • Cawan Rp 2.000,-
    • Puncak Rp 2.000,-
  • Mahasiswa
    • Cawan Rp 3.000,-
    • Puncak Rp 5.000,
  • Dewasa/Umum
    • Cawan Rp 5.000,-
    • Puncak Rp 10.000,-

Monas terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga Minggu (Senin TUTUP), pukul 08.00-15.00 WIB.

Setelah membeli tiket, kita berjalan melewati lorong hingga ada petugas yang mengecek tiket. Setelah itu, kita bisa meneruskan perjalanan hingga Museum Sejarah Nasional. Disini tersedia aneka galeri, mulai dari miniatur Monas, galeri manusia purba, zaman kerajaan (salah satunya pembangunan Borobudur, perdagangan masa dahulu), perjuangan, dll. Galeri ini dibuat unik seperti aslinya, lengkap dengan informasi detail-nya.

Biasanya, pengunjung lebih sering memilih ke Puncak terlebih dulu kemudian terakhir berkeliling di Museum Sejarah Nasional sekaligus beristirahat (melepas penat). Untuk meneruskan perjalanan hingga Puncak, kita menaiki tangga hingga pelataran Monas. Disini terdapat ukiran relief perjuangan dengan cat perak yang sangat indah.

Kita kembali antri untuk menaiki lift yang berkapasitas maksimal 11 orang (sudah termasuk seorang petugas yang standbye didalamnya). Saat lift menunjukkan angka 3, kita sudah sampai di Puncak Monas. Pemandangan Kota Jakarta terlihat sangat menakjubkan dari sini, apalagi dengan menggunakan teropong unik yang tersedia disetiap pojoknya, bisa terlihat jelas bangunan seperti Mahkamah Agung.

Selanjutnya, kita kembali menaiki lift atau menuruni tangga menuju Cawan. Disini terdapat pelataran yang cukup luas dan tentunya sejuk. Di Cawan ini, kawasan sekitar terlihat indah dengan tatanan yang apik.

Turun ke lantai 1 (lantai dasar), terdapat Museum Kemerdekaan. Kita cukup menaiki tangga di bagian sebelah kanan lift.

Setelah ini, kita kembali melewati Museum Sejarah Nasional, pelataran Monas yang ada reliefnya dan terowongan Monas. Sejenak kita kembali berada di seberang Tugu Monas.

Di sekitar tugu bersejarah ini tak ada satupun pedagang yang berjualan. Jadi, sebaiknya Anda menyediakan air mineral (paling tidak), agar tidak kehausan. Namun, untuk makan, jangan kuatir.. Nanti ada tempat khusus yang disediakan berdekatan dengan tempat parkir.

Jika Anda kelelahan untuk berjalan menuju pintu gerbang, cukup menunggu bus keliling yang telah difasilitasi GRATIS, kemudian turun di wahana kuliner. Disini tersedia aneka makanan dan jajanan yang variatif, seperti: toge goreng, laksa, bakso, goreng-gorengan, kelapa muda, aneka minuman, dll. Tidak hanya itu, ada juga pakaian berlogo Monas yang ekonomis, rata-rata tertera tulisan “7 baju Rp 100.000,- semua ukuran”; dan cenderamata lainnya. ๐Ÿ™‚

Tidak jauh dari tempat kuliner ini, terdapat aneka costume player, mulai dari costume perjuangan yang berdandan seperti pejuang sungguhan dan mematung hingga hantu-hantuan. Mereka menuliskan sumbangsi yang mau berfoto seharga Rp 5.000,-.

Tidak terlalu jauh dari tempat parkir, ditemukan pintu keluar. Bagi Anda yang menggunakan Bus Trans, jalan beberapa langkah ke arah kiri dari gerbang akan menemukan halte terdekat.

Beberapa informasi ini didapat dari hasil wawancara dengan petugas tiket dan Wikipedia.org.

Sehari Minggu Di Jakarta “Demi Seonggok Durian”

Minggu siang (28/02/2016), sehabis mencari pencerahan, kita 6 personil Durian hunter segera beranjak menuju Blok M Square. Kita menaiki busway, sekilas memang tidak ada yang spesial, tapi lapernya luar biasa! Maklum.. udah lewat jam makan siang (malahan masuk jam makan sore) ๐Ÿ˜€ Demi seonggok durian kita bertahan (pura-pura apatis mendengar lantunan suara keroncongan dalam perut).. ๐Ÿ˜€

Aduh, sumpah, perjalanan yang memakan waktu lebih dari sejam itu, bukan cuma gegara jarak doang, tapi maceeeeett… Alamak, sikon berdiri di bus juga kagak kondusif chuy, kita udah kayak layang-layang ditiup angin! sampai akhirnya lega setelah menemukan tempat yang pas buat bergelantung :D.

Nah, sampai di Terminal Blok M, kita tetap semangat 45, terbayang aneka durian dengan berbagai rasa yang hmm.. yummy… Berasa mau panggil Om Jin aja biar langsung ngecring di tempat (bah, ngimpi!). Next, terus berjalan dengan Zir San sebagai guide. Jadi ceritanya, yang solid kali ini ada saya, Tice san, Adonan san, Zir san, Popy san dan Ida san. Dari wajahnya, so pasti ada aura kuyunya, karena udah kelaperan; tapi, dari semangatnya, tak nampak kalau kita ini cukup layak jadi hantu durian, hahaa..

Btw (by the way), perut tak bisa diajak kompromi.. Kebetulan nih, ketemu tempat makanan langganan saya semasa ‘geng gaje’ dulu, asiik.. Disitu dijual makanan siap saji, yg paling unggul burgernya yang wenak and ekonomis tentunya ๐Ÿ˜€ (Ketahuan nih watak fast to free).

Bisa ditebak kan apa yang terjadi?! Sehabis dapet menu yang dipesan, kita langsung goo tanpa syarat, sibuk berkompromi dengan makanan yang terhidang. Gila, beneran, lapar nian.. Tapi, eiiits.. ada yang ใ™ใฐใ‚‰ใ—ใ„ (amazing) nih, dikala kita begitu garang menyantap sepaket bento, eh Ida san dengan kalem bilang vegetarian.. Gubrak!! Semua langsung gagal fokus dan menyerang Ida san dengan aneka pertanyaan yang.. percuma.. (wong vegetarian ditanyain kok ga makan ayam, kan lucu.. ) ๐Ÿ˜€

Perjalanan tidak terhenti sampai di paket makan ekonomis, so chus.. DURIAN!! Yang sulit itu bukan nemuin lokasinya doang, tapi juga kalap mata liatin makanan ini, baju itu, diskon gede, waduu… ngemall emang bikin laper mata.. Harusnya bawa kacamata versi MIB (Man In Black) nih tadi, tapi apa boleh buat..

Walhasil, tadaaaa… Durian!!! Hm.. tapi, kok.. Rame doang ya?! Duriannya kok ditumpuk doang di bagian belakang hampir setengah dari standnya?! Usut punya usut, ternyata pada belom matang, jadi mesti disortir dulu pas belinya. Apesnya, yang gede-gede pada belom matang.. Dengan wajah kecewa kita berjalan terus menyelipi bejibun pengunjung di Durian Fair itu. Satu-persatu stand kita tongkrongin, mulai dari melihat-lihat doang sampai cuma nyempil buat selfie (biasa, kekinian..).

Sejaman kita inspeksi bak supervisor mencari cek yang kececer, tapi.. nothing.. Tak ada yang matching, ada aja yang kurang.. Mulai dari kurang matang, kurang gedek, kurang kuning, terlalu tipis, sampai kurang dibajet, hee.. Yah, biasalah.. namanya juga beli, kalau bisa duriannya dapat gede, kuningnya bagus, dagingnya tebal dan tentunya yummy; tapi dengan harga miring ๐Ÿ˜€ (ngimpi!).

Sampe-sampe, Adonan san yang maju sebagai juru sortir, berpindah dengan sigap dari stand yang satu ke stand yang lainnya, sesekali kita pada ngiller liatin dia yang dengan leluasanya ikut nyicipin itu durian buat uji kelayakan rasanya enak apa kagak.

Dengan beberapa pertimbangan, walhasil kita memutuskan membeli satu durian saja, sebagai tanda kita mampir lho di Durian Fair.. ๐Ÿ˜‰ Tak lupa kekinian dulu alias selfie ๐Ÿ˜€ Yah, lumayanlah.. akhirnya misi tercapai, judulnya “Demi Seonggok Durian”, bukan seonggok per orang, tapi dibagi enam, hahaa.. Super dah pokoknya..

Pulang-pulang, kita mampir dulu nih nemanin Popy san beli batik. Tadinya sih niatnya memang gitu, tapi.. ujung-ujungnya, pada ngebawa kantong belanja batik semua, kecuali Zir san dan Adonan san. Abis itu, yang tadinya kontrak waktunya cuma bentar, berubah jadi berjam-jam, wkwk.. kebayang ga sih yang nungguin itu gondoknya gimana ๐Ÿ˜€ Untungnya, no comment, kecuali ultimatum berkali-kali nanyain sortir bajunya udah kelar apa belum ๐Ÿ˜€

Sekembalinya, kita beli aneka snack dulu, mumpung banyak yang yummy nih.. Ada takoyaki, creps, dll. Tiba-tiba, efek samping misi baru terasa, seperti: badan pegal-pegal, kaki kesemutan, kulit melepuh gegara sepatu, de el el, komplit!

Semua pasrah sama sang komando, Zir san. Kita pesan mobil via aplikasi, ในใ‚“ใ‚Š/benri/ alias praktis! Hanya saja… yang misinya mencari durian malah ketiban batang durian runtuh.. Matinya HP Zir san, bikin petualangan baru nih dalam kamus kita hari ini. Kita kayak main petak umpet, kitanya kesini, yang empunya mobil kesana. Eh, pas ketemu, setelah muter-muter Blok M, mobilnya ketemu tapi kagak ada orangnya. Pie toh?! Padahal, sementara Adonan san dan Zir san searching itu mobil kayak nyari orang ilang, kita udah sempat beli nasi bungkus, terkapar di depan toko orang (di pinggiran jalan), duduk manis ga jelas, waaaa luarrr biasa…

Maghribpun menyapa, dan.. kitapun tak ada pilihan lain selain.. Taksi!! Dengan kesepakatan dibulat-bulatin, kita stop taksi. Tanpa kompromi kita siap bersusun sarden dengan sukarela. Mobilpun meluncur dan kitapun sampai di simpang markas dengan selamat. Banyak hal kocak selama perjalanan, ibarat kata tetua nih, biar bersempit-sempit asal hati berlapang-lapang, that’s right!

Gila-gilaan yang memang bikin sehari itu cukup gila! Apalagi kalau bukan demi seonggok durian di durian fair 2016. Satu dari beberapa moment yang cukup fenomenal dalam 3 bulan ini. Thanks, guys.. ๐Ÿ™‚

Nasi Goreng Nyam-nyam Gardu

Hayo lhooo…. yang baru stay di Lenteng Agung.. ada nasi goreng favorit nih disini, khususnya yang tinggal di asrama atau kosan, kece banget.. OK rasanya juga OK kantongnya, yang nggak OK itu antreannya.. ๐Ÿ˜€

Makanan khas Indonesia yang satu ini dijual di tempat yang sederhana berupa emperan di tepi jalan. Tepatnya, berlokasi di simpang Jl. Gardu, Serengseng Sawah, di antara KFC Lenteng Agung dan Roti Bakar 88, sekitar 15 meter dari Stasiun Lenteng Agung (Jakarta Selatan).

Tempat ini buka pukul 7 malam, setelah waktu Maghrib. Jadi, jikaย  tidak ingin menunggu lama, datang saja lebih awal supaya tidak berurusan dengan antrean panjang. Karena, biasanya lewat dari pukul 7, yang beli tak terhitung banyaknya, sampai berdiri di depan gerobak empunya nasgor!

Menu disini variatif, mulai dari nasi goreng dengan berbagai pilihan, hingga kwetiau dan aneka mie. Harga relatif ekonomis, berkisar antara Rp 10.000,- hingga Rp 20.000,-.

Penasaran?! Jangan lupa mampir ya.. Selain Nasi Goreng Nyam-nyam Gardu ini, disekitarnya juga ada martabak yang lezat, pecel ayam nan maknyus, roti bakar dan juga kentucky; mantap dah.. Tapi, jangan makan berlebihan ya, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, terutama buat tubuh kita sendiri ๐Ÿ˜‰

Kota Tua

Kota Tua, dahulunya bernama Batavia Lama, merupakan wisata bersejarah dengan arsitektur bangunan-bangunan tempoe doeloe, terletak sekitar 15 meter dari Stasiun Jakarta Kota. Bangunan-bangunan tersebut diantaranya Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum POS Indonesia, Museum Seni Rupa & Keramik, dll. Kumpulan bangunan bergaya lama ini membentuk persegi dengan lapangan yang cukup luas ditengahnya.

Lokasi ini akan sangat ramai saat weekend atau tanggal merah. Rata-rata pengunjungnya bervariasi mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Banyak hal menarik bisa dijumpai disini, tidak hanya segudang pengetahuan dari aneka museum tersebut, tetapi juga pertunjukan-pertunjukan seperti: pantomim dan akrobat. Bahkan, ada juga yang menggunakan lokasi ini untuk shooting. Selain itu, ada beragam coplay alias costum player juga, seperti: transformer, anime naruto, kostum karnaval, dsb. Kita bebas berselfieria dan bisa mengapresiasi kreatifitas tersebut dengan menaruh uang seikhlasnya ke kotak yang telah disediakan disekitar mereka.

Masuk ke lokasi ini gratis, kecuali memasuki museum. Akses kesini bisa menggunakan KRL Commuterline, angkot, ojek, dll. Nah, di malam hari biasanya dijual aneka jajanan tradisional nan yummy..