Category Archives: Piladang

Ampiang (Emping)

  • Bahan
    • Pulut yang masih berkulit.
    • Air.
  • Cara
    • Pulut direndam 3 hari 3 malam.
    • Tiriskan airnya.
    • Sangrai/randang di balango sampai mambatiah/malatuih-latuih dengan api sedang.
    • Angkat.
    • Tumbuk dengan lambat sekaligus dikacau (diaduk-aduk) hingga dingin dan mengeras, kemudian ditampi.
    • Dijemurkan di tempat kering, tidak langsung terpapar panas terik matahari.
    • Biasanya, 1/2 liter pulut bisa menghasilkan 1 liter emping.
  • Catatan
    • Setidaknya dibutuhkan 2-3 orang dalam proses ini, ada yang menumbuk, mengacau dan menampi.
    • Emping biasa disajikan sebagai pelengkap cendol, es cendol, dan makanan lainnya.
Resep Nek Mariani | Piladang | Makanan Tradisional Palembayan | Minangkabau
Advertisements

Cendol Beras (Cindua Bareh)

  • Bahan
    • Tepung beras secangkir kecil.
    • Sadah sedikit (untuk pengeras).
    • Garam secukupnya.
    • Air pandan.
    • Santan.
    • Gula tebu (saka tabu).
    • Air matang.
  • Cara
    • Tepung beras + sedikit sadah + garam + air pandan dimasak hingga matang (bisa dibentuk).
    • Sediakan cetakan khusus cendol, taruh di atas wadah yang berisi air matang.
    • Tuang adonan ke dalam cetakan khusus sembari menyapu permukaan dalam cetakan dengan sendok nasi, sementara hasil cetakan ditampung oleh wadah berisi air.
    • Lakukan hingga adonan habis.
    • Tiriskan cendol dan tuang ke dalam wadah.
    • Kuah:
      • Santan + gula tebu + garam secukupnya dimasak hingga matang.
      • Angkat dan tuangkan ke dalam wadah berisi cendol.
  • Catatan
    • Pastikan air penampung bersuhu sedang-dingin, jangan meletakkan air yang suhunya hangat-panas.
    • Terkadang, cendol disajikan tanpa kuah, tetapi ditambahkan ke dalam es sebagai bahan utama atau pelengkap.
    • Atau, ada juga yang menikmatinya dengan menambahkah emping (ampiang) ke dalam cendol yang telah dikuahi; seperti yang sering dijual dalam bentuk es cendol.
Resep Nek Mariani | Piladang | Makanan Tradisional Palembayan | Minangkabau

Kalamai Sagu

  • Bahan
    • Sagu secangkir kecil.
    • Kelapa yang telah diparut..
    • Gula tebu (saka tabu) 3 buah.
    • Garam secukupnya.
    • Air matang.
  • Cara
    • Aduk (pacah) sagu + garam secukupnya + 3 cangkir kecil air matang.
    • Cairkan gula tebu dengan air hingga mendidih.
    • Tambahkan adonan sagu.
    • Aduk hingga matang (seperti adonan agar-agar).
    • Angkat dan tuang ke dalam wadah.
    • Diamkan beberapa saat hingga suhu sedang, kemudian potong.
    • Di wadah terpisah, tambahkan garam secukupnya ke dalam parutan kelapa, aduk rata.
    • Sajikan.
    • Kalamai sagu dinikmati bersama atau dicocol dengan parutan kelapa.
Resep Nek Mariani | Piladang | Makanan Tradisional Palembayan | Minangkabau

Kalamai Minyak

  • Bahan
    • Beras pulut 1 liter.
    • Kelapa 3 buah.
    • Gula tebu (saka tabu) 1 kg.
    • Garam secukupnya.
    • Bumbu:
      • Jahe sebesar jempol kaki (Sipadeh saampu kaki).
      • Bawang putih 3 siung.
      • Kunyit (kunyik) sedikit.
  • Cara
    • Tumbuk beras pulut + bumbu.
    • Panaskan gula tebu + santan hingga mendidih (manggalagak).
    • Masukkan seluruh tepung.
    • Aduk (aru) hingga matang, sampai bisa dibulatkan.
    • Tuang ke dalam wadah atau pelepah aren (palapah niro).
    • Diamkan beberapa saat hingga suhu sedang.
    • Potong dan hidangkan.
  • Catatan
    • Kalamai minyak ini sering dihidangkan diacara adat seperti baralek atau mando’a. Biasanya disajikan sepaket dengan lemang, goreng pisang batu dan pinyaram; atau dengan nasi lamak.
Resep Nek Mariani | Piladang | Makanan Tradisional Palembayan | Minangkabau

Apam

Banyak orang lebih mengenal bika ketimbang apam. Padahal, kedua makanan tradisional Minangkabau ini serupa tapi tidak sama. Pembuatan bika dilakukan dengan di bakar, sedangkan apam dengan direbus.

  • Bahan
    • Tepung beras (jenis bareh carai usang nan masiak) secangkir kecil.
    • Pisang gadang 1 buah.
    • Gula tebu (saka tabu) 1 buah.
    • Kelapa yang telah diparut sesuai selera.
    • Garam secukupnya.
  • Cara
    • Semua bahan dicampur dan diaduk rata di.
    • Biarkan selama semalam.
    • Rebus di dalam dandang; seperti merebus lapat (lapek); hingga matang.
    • Angkat, potong dan sajikan.
  • Catatan
    • Rasanya hampir mirip limpiang pisang.
Resep Nek Mariani | Piladang | Makanan Tradisional Palembayan | Minangkabau

Sagun-sagun

  • Bahan
    • Tepung beras pulut.
    • Kelapa yang telah diparut.
    • Garam halus.
    • Gula pasir.
  • Cara
    • Tepung beras pulut, parutan kelapa dan garam secukupnya; dicampur dan disangrai (dirandang/diunyai) dengan api sedang.
    • Aduk dengan teratur hingga menguning.
    • Angkat dan sajikan.
    • Dimakan dengan mencampurkan gula pasir sesuai selera.
Resep Nek Mariani | Piladang | Makanan Tradisional Palembayan | Minangkabau

Cara Membuat Bedak Beras

  • Bahan
    • Beras (Bareh) 1/2 cangkir kecil.
    • Air secangkir kecil.
    • Daun bunga sedap malam yang muda.
    • Daun bunga melati yang muda.
    • Daun kemiri (dama atau cegek, jenis dama kareh) yang kering/tua.
    • Daun nangka (cubadak) yang kering/tua.
    • Bunga ros.
    • Bunga melati.
    • Daun pandan.
  • Cara
    • Rendam beras di dalam air.
    • Air diganti sekali sehari, selama seminggu.
    • Tambahkan daun bunga sedap malam, daun bunga melati, daun kemiri dan daun nangka.
    • Tiriskan dengan kain (yang strukturnya lebih renggang, tapi bukan perban), lalu diperas.
    • Hasil tirisan diendapkan selama 2 malam.
    • Pisahkan air dengan tepung beras.
    • Bulatkan tepung, ukuran sesuai keinginan.
    • Letakkan/jemur dengan menambahkan bunga ros, bunga melati dan daun pandan; dicahaya hangat sampai kering (tidak langsung ke matahari terik).
  • Catatan
    • Air pisahan jangan dibuang, digunakan sebagai tambahan pada saat membulatkan jika tepung mengering.
    • Cara memakai bedak beras:
      • Ambil beberapa buah bedak beras, letakkan di telapak tangan atau wadah kecil.
      • Tambahkan sedikit air, aduk sampai mengental.
      • Oleskan ke wajah hingga leher, seperti menggunakan masker.
      • Diamkan beberapa saat hingga mengering.
      • Cuci muka dengan air bersih dan keringkan. Wajah akan terasa lebih segar dan lembut.
    • Menurut Nek Mariani, berdasarkan pengalaman beliau, pemakaian bedak beras bisa membuat wajah bersih,  bebas dari bacata (kulit menghitam, biasanya karena faktor usia atau mengonsumsi obat tertentu seperti pil KB).
Resep Nek Mariani | Piladang | Kosmetik Tradisional Palembayan | Minangkabau

Mata Air Limundak

Mata air nan jernih ini dinamakan Mata Air Limundak (Mato Aia Limundak) karena terletak di daerah Limundak, Jorong Piladang, Nagari IV Koto Palembayan. Lokasi ini berjarak sekitar 1,5 km dari Pasar Palembayan. Akses ke Limundak bisa menggunakan kendaraan ataupun dengan berjalan kaki saja. Dari jalan raya memakan waktu sekitar 5 menit ke lokasi dengan melewati jalan setapak yang sedikit mendaki diawalnya. Pemandangan sekitar penuh dengan hamparan sawah yang indah.

Menurut cerita Nek Marini, tetua di kampung Piladang, kemungkinan mata air ini sudah ada sejak dahulu kala, bahkan sebelum masa penjajahan Belanda. Awal kemunculannya, mata air ini cukup kecil. Namun, setelah pancarannya membesar, ibaratnya jika ada orang yang masuk kesana takkan kembali,  akhirnya ditutup dengan kancah (kuali) besar oleh masyarakat sekitar pada masa penjajahan Belanda atas panduan dari para Kiai (karena dahulu banyak masyarakat yang alim ulama). Selain itu, untuk mencegah limpahan air terlalu banyak, dibuatkanlah kolam dengan pintu air yang terbuat dari papan besar, sehingga air tersebut menggenang dan bisa mengalir dengan konstan, seperti yang terlihat sekarang ini. Selang waktu yang cukup lama, karena mata air ini terletak di dalam hutan, konon warga pernah menemukan ular bidai (ular yang sangat besar seukuran bidai, tikar tempat menjemur padi) yang melingkar disekitar kancah.

Dahulunya, tidak banyak yang berani mendatangi lokasi ini sebagai tempat pemandian alam, sebab akses yang cukup rumit dan pertimbangan keamanan (seperti: takut disengat lebah yang bersarang di puncak pohon besar di dekat kolam, atau tatameh: ditegur oleh alam gaib). Namun, sekarang tidak lagi, Mata Air Limundak mulai berpotensi sebagai objek wisata; destinasi yang masih asri ini mulai ramai, terutama di sore hari. Banyak warga berdatangan untuk sekedar berenang atau sekaligus mandi sore. Karenanya, kolam ini menjadi lebih jernih, banyaknya pengunjung yang berenang membuat lumut-lumut tinggi yang tumbuh di dasar kolam menjadi berkurang. Bahkan, ada juga yang menjadikannya sebagai ajang piknik, membawa bekal dan makan di pinggir kolam.

Layaknya mata air pegunungan, air ini tak hanya jernih dilihat tetapi juga segar untuk dikonsumsi. Air ini dikelola dan dialirkan ke berbagai daerah disekitarnya demi mencukupi kebutuhan air masyarakat di Jorong Piladang.