Category Archives: Bukittinggi

Serabi Betawi (KUE APE)

Serabi Betawi dan Serabi Solo bentuknya mirip, bukan?! Sama-sama terbuat dari bahan dasar tepung beras. Bedanya, Serabi Betawi lebih kering dan pinggirannya lebih cruncy.

Buat yang di Bukittinggi, Sumatera Barat; makanan tradisional Betawi ini bisa dibeli di depan Mesjid Raya Bukittinggi. Harganya cukup ekonomis Rp 2.000,-/kue, tersedia dalam rasa pandan.

Es Campur

Bagi penikmat jajanan es, kudu nyobain minuman yang satu ini. Namanya es campur, bisa dibeli diberbagai tempat di Sumatera Barat. Rasanya maknyus dengan kombinasi cendol, potongan agar-agar, potongan pokat dan pepaya, tape, es serut, gula, roti, dan bahan lainnya; fresh dan tentunya ekonomis!

Minuman ini biasa ditemukan di tempat jualan sate ataupun bakso. Salah satunya, di Pasar Bawah, Kota Bukittinggi.

Sekilas jika dilihat dari bentuk dan kombinasinya, jenis es ini hampir mirip dengan es tebak. Namun, ada sedikit perbedaan rasa yang lumayan unik. Tidak hanya itu, cara pembuatan ataupun penyajiannya juga cukup berbeda.

Museum Rumah Kelahiran BUNG HATTA “Proklamator RI”

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Bapak Muhammad Hatta, atau yang lebih dikenal dengan Bung Hatta. Beliau merupakan seorang tokoh proklamator RI (Republik Indonesia) dan mendapat julukan the founding father (Abbas, 2010). Tidak hanya itu, Beliau juga menjadi Wakil Presiden pertama Bangsa Indonesia.

Bung Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat). Beliau wafat diusia 77 tahun pada 14 Maret 1980 di Jakarta. (Wikipedia).

Menelusuri tempat kelahiran Sang Proklamator, tapak tilasnya bisa ditemukan di Jl. Sukarno-Hatta No. 37 Bukittinggi, tepat di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta. Tempat bersejarah ini terbuka untuk umum pada Hari Senin s/d Minggu, pukul 08.00 WIB.

Catatan

Informasi Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta dan seluruh dokumentasi dishare oleh Geni pada 30 April 2016.

Referensi

Pisang Kapik

Siapa sih yang tidak kenal dengan jajanan yang satu ini.. Tapi, buat yang beneran belum tau, yuk cobain… Jajanan tradisional ini namanya Pisang Kapik, karena dibuat dengan cara dikapik yang merupakan bahasa Minang dari dijepit.
Pisang ini terdiri dari pisang (biasanya menggunakan pisang batu) yang kemudian dipanggang dengan bara (baro) seperti memanggang daging sate, lalu beberapa buah pisang yang sudah matang diletakkan di alat khusus yang terbuat dari kayu (mirip cetakan Kue Sapik), dijepit; hasilnya dipindahkan ke wadah terpisah dan dibubuhi parutan kelapa (karambia) yang telah diolah dengan gula tebu (saka tabu). Hasil akhirnya berbentuk gepeng tapi lunak dengan taburan kelapa parut berwarna coklat diatasnya. Hmm, melihat pembuatannya aja udah bikin ngiller alias pengen banget nyicipin.. 😀
Di Pasar Atas Bukittinggi, pisang kapik ini bisa di beli ditemui di depan Janjang Gudang, kawasan Jam Gadang Bukittinggi, Rp 5.000,-; atau di seberang Mesjid Raya Bukittinggi, yang juga berseberangan dengan Janjang 40. Sementara di Padang, biasanya di Jual di perempatan Jl. Ratulangi, tepatnya sebelum Toko Buku Sari Anggrek.

Es Cendol (Es Cindua)

Di Bukittinggi, kalau hari mau Jum’atan, shalat Jum’at berjamaah untuk para cowok ke mesjid, mayoritas toko tutup sementara, berkisar dari pukul 12.00-13.00 WIB, salah satunya di kawasan Pasar Atas Bukittinggi. Nah, kebetulan nih, buat Anda yang tidak punya tempat yang akan dituju, sementara masih banyak yang akan dibeli tapi toko tersebut sudah tutup (sementara); tak perlu kuatir, bersantai saja sejenak di depan Mesjid Raya Bukittinggi. Disini tersedia aneka jajanan, seperti: Goreng-gorengan, air tebu, roti bakar dan es cendol (es cindua).
Buat yang milih menu es cendol, langsung saja datang ke gerobak yang ada merek es cendolnya. Selain nyicip minuman segar, kita juga bisa melepas penat sejenak, karena disini disediain kursi buat pembeli. Tak hanya itu, kita bisa by request, ntar bakal ditanyain, mau pake es, buah duren/durian, ketan dan atau emping. Walhasil, 1 porsi penuh itu terdiri dari cendol sagu (cindua sagu), kuah santan yang kemudian ditambah gula tebu (saka), ketan, sebiji buah duren, emping dan es; disajikan di dalam gelas piala berukuran cukup besar. Hm, yummy…. segerrrr… Harganyapun cukup ekonomis, Rp 8.000,-/gelas.

Sate Di Jl. Minang Bukittinggi

Buat yang lagi walking out alias jalan-jalan di Bukittinggi, terus sampai di Jalan Minang malah bingung mau nyobain kuliner apa. Nah.. ada sate maknyus nih disini, siapa sih yang nggak kenal sama Sate Mak Aciak.. Hm, yummy…
Sate ini terdiri dari daging sate dengan potongan cukup besar (untuk ukuran daging sate yang biasanya), jenisnya daging yang berlemak (gomok), lalu diberi bumbu dan dibakar; ketupat (katupek) yang dipotong agak besar; kuahnya berwarna kuning (sepertinya ini termasuk jenis Sate Agam). Rasanya, jangan ditanya, klop banget!! Maknyus…!!
Buat yang lambungnya nggak punya cadangan, alias nggak bisa makan banyak, mending nyobain setengah porsi dulu seharga Rp 13.000,-. Disini juga disediain kerupuk ubi (ukuran kecil) dan yang unik adalah kerupuk kulit (karupuak jangek) ukuran jumbo. Hm, sedaaaap bener…
Nah, buat yang mau bungkus bawa pulang, tapi rumahnya jauh, takut basi; jangan kuatir, bisa by request juga kok. Ntar minta pisahin aja kuah sama daging dan ketupatnya. Selain sate bumbu, juga ada menu lainnya yang bisa dilihat di foto berikut ini.

Terapi Ikan Gurra Fura

Mungkin belum banyak yang mengenal ikan garra fura, bukan? Nah, ikan asal Turki ini mirip anak ikan lele, cuma warnanya lebih cerah dan ukuran yang paling besar hanya beberapa cm (centimeter) dari yang kecil.

Ikan ini memiliki efek terapi melalui sistem persyarafan. Gigitannya seperti gelombang vibra yang dapat melancarkan peredaran darah, mengobati asam urat, mengurangi tekanan darah tinggi, menghilangkan stres, menyembuhkan kesemutan pada kaki dan susah tidur. Tak hanya itu, gigitannya mampu mengikis toksin atau endapan toksin yang berada di telapak kaki jika dilakukan secara rutin 4x dalam seminggu. Sensasi relaksasi alaminya akan mestimulasi titik akupuntur sehingga membuat rasa nyaman dan rileks. Selain itu, ikan ini juga dapat menyembuhkan penyakit kulit dengan memakan sel-sel kulit mati atau kering, merangsang pertumbuhan sel kulit baru dan menghaluskan kulit.

Bagi yang tertarik memiliki ikan terapis ini sudah bisa memesannya di Indonesia, karena mulai dibiakkan di daerah Bogor. Kabarnya, minggu depan akan naik menjadi Rp 10.000,-/ekor, setengah harga dari minggu ini (Rp 5.000,-). Bahkan, Dunia Aquarium-pun berencana menambah koleksinya, karena saat ini ikan garra fura meraih banyak peminat.

Nah, pemilik aquarium mulai mengeluarkan kebijakan: Tidak boleh memasukkan tangan ke dalam aquarium. Kenapa begitu?? Ini ada latar belakangnya. Sebelumnya, pengunjung yang mulai banyak berdatangan, terutama anak-anak, dibiarkan leluasa berekspresi sesukanya, termasuk memasuk-masukkan tangan ke aquarium; namun, ternyata, ikan-ikan yang notabennya steril (bahkan air yang digunakanpun adalah air galon) ini mulai banyak yang mati, karena terkontaminasi oleh banyak kuman yang diserapnya. Ini membuat pemilik menyiasati cara melalui prosedur pengunjung.

Prosedur tersebut berawal dari ketika kita memasuki Dunia Aquarium, kita diminta mencuci kaki terlebih dahulu, tersedia air di depan pintu masuk. Lalu, kaki di lap dengan handuk yang telah disediakan. Kemudian, baru disilahkan menuju kolam yang terbuat dari kaca dan diberi bangku tanpa sandaran yang saling berhadapan. Disana terlihat banyak ikan garra fura bermain kian kemari, desain kolam ini sangat mirip dengan aquarium yang biasa dipajang di rumah-rumah, hanya saja ukurannya seperti kolam. Selanjutnya, masukkan kaki ke kolam dan nikmati efek terapinya selama 20 menit 😉 Enak banget… awalnya memang sedikit geli tapi lama kelamaan mulai terbiasa dan rasanya nyaman..

Di kota-kota besar, terapi ini dilakukan pada seluruh tubuh dengan sebelumnya pengunjung diminta mandi terlebih dahulu. Namun, karena keterbatasan fasilitas, Dunia Aquarium memilih hanya kaki saja yang bisa diterapi; berhubung di kaki, terutama telapak kaki, memiliki sistem persyarafan yang kompleks.

Seluruh informasi ini didapat dari Dunia Aquarium Bukittinggi. Berminat?! Silahkan berkunjung… 😉

Putu

Putu terbagi 2, ada putu putih dan ada juga putu hijau. Untuk jenis yang putih, terbuat dari ubi kayu parut, kelapa parut dan gula pasir; yang kemudian dibubuhi dengan potongan daun pandan membentuk huruf V. Bentuknya seperti panekuk (pinukuik) dengan alas daun pisang. Berbeda dengan putu hijau, yang berwarna hijau (sepertinya olahan ubi kayu parut yang dicampur dengan pandan) dengan isi kelapa parut dicampur gula tebu (saka tabu) atau gula aren (saka anau). Sementara putu hijau berbentuk silindris.
Di Kota Padang, putu putih bisa dibeli (salah satunya) di Pasar Lubuk Buaya, di lorong gedung kedua bangunan di tengah pasar tersebut. 1 putu Rp 1.000,-. Kita bisa melihat cara pembuatannya langsung, karena ibu penjual membuatnya di tempat. Tapi, ini cuma dijual pada hari pasar saja, yaitu Rabu dan Minggu. Hm, aromanya wangiii….. Ekonomis dan wenak!!

Di Kota Bukittinggi, bisa ditemukan jenis putu putih yang berbeda. Bahan dasarnya hampir sama. Bedanya, putu jenis ini terbuat dari beras ketan (pulut) yang dikombinasi dengan kelapa parut, gula tebu atau gula aren dan potongan daun pandan. Bentuknya menyerupai kue putu ayu dengan cetakan penuh. Kue unik ini dijual di Janjang Gudang Bukittinggi (di tempat penjualan pergedel) seharga Rp 5.000,-/kotak.

Putu hijau, biasanya tempat penjual tidak menetap dan sering dijual oleh bapak-bapak dengan menggunakan sepeda keliling komplek. Ada yang unik dengan putu yang satu ini, kita langsung tahu kalau yang lewat itu adalah jajanan putu dari bunyinya yang mendenging. Bunyi ini berasal dari cerobong uap dari tempat pembuatan putu hijau. Biasanya, 1 potong Rp 500,-; tergantung ukuran putu dan lokasi penjualan. Hmm, wangi dan mantap rasanya.. 😉

Kerupuk Kuah (Karupuak Kuah)

Kerupuk kuah dalam bahasa Minang dikenal dengan karupuak kuah. Kombinasi dari kerupuk dan kuah sate (atau kuah gulai bukek) ini merupakan salah satu jajanan yang sangat digemari oleh masyarakat.

Jenis kerupuk yang digunakanpun bervariasi, tergantung penjual atau peminatnya; ada yang menggunakan kerupuk ubi biasa yang berwarna putih, kerupuk uap (karupuak uok) yang berwarna putih tapai agak kusam, atau juga kerupuk nasi.

Biasanya, kerupuk kuah ini dijual dengan menambahkan miehun diatasnya. Harganya ekonomis, mulai dari Rp 3.000,- hingga Rp 5.000,- sesuai lokasi pembelian.

Di penghujung Janjang Gadang Koto Gadang (The Great Wall Of Koto Gadang), kerupuk ini dijual seharga Rp 3.000,-. Jajanan ini tidak hanya enak, tapi juga mengenyangkan 🙂

Berbeda dengan kerupuk kuah yang dijual di landmark-nya Kota Bukittinggi. Disini kerupuk kuah dijual seharga Rp 5.000,-. Cocok banget buat suasana santai sembari menikmati nuansa nan elok di sekitar Jam Gadang.

Janjang Gadang Koto Gadang (The Great Wall Of Koto Gadang)

Janjang Gadang Koto Gadang yang lebih dulu terkenal sebagai Janjang Saribu (Jenjang Seribu) ini didirikan pada tahun 2013 dan menghubungkan daerah Koto Gadang (Kabupaten Agam) dengan Kota Bukittinggi. Karenanya, akses ke lokasi ini bisa melalui 2 gerbang, dari Koto Gadang atau Bukittinggi. Antara gerbang yang satu ke gerbang yang satunya lagi memiliki jarak + 2 km.

Buat yang ingin mengunjungi objek wisata yang satu ini, sebaiknya mengambil akses dari jalur Koto Gadang, karena alurnya menurun. Jadi masih bisa irit tenaga saat menyusuri jenjang yang panjangnya sekitar 1 km ini. Jika tidak memiliki kendaraan, bisa menaiki angkot (angkutan kota) berwarna hijau toska dengan kode 06 (Baca Transportasi Di Bukittinggi) untuk ke lokasi. Jika menggunakan mobil atau kedaraan lainnya, memakan waktu sekitar 5 menit menuju gerbang dari simpang empat (yang ada mesjid dan rumah adatnya). Kendaraan tersebut bisa diparkir di tempat yang telah disediakan, tepat di sebelah kanan gerbang.

Namun, buat yang ingin memilih akses dari Bukittinggi, gerbangnya berada sekitar 15 meter dari Pintu III Lobang Jepang. Buat yang tidak memiliki kendaraan, disini ada angkot berwarna merah melintas. Nah, jika ingin langsung sampai ke jembatan gantung, bisa menggunakan jasa ojek dengan tarif relatif. Selanjutnya, tinggal menyeberang jembatan gantung dan melewati alur yang mendaki.

Masuk ke Janjang Gadang Koto Gadang, tidak dipungut bayaran, alias GRATIS!! Hanya saja, nanti ada 2 kotak sumbangan yang diletakkan di gerbang (Koto Gadang) dan hampir di pertengahan lokasi, kotak tersebut bisa diisi seikhlas pengunjung.

Pemandangan disini akan sangat luar biasa indah jika cuaca cerah, berbeda dengan sekarang (berkabut). Waktu yang efektif menyusuri tempat ini adalah pagi menjelang siang. Dari sini bisa dinikmati nuansa alam nan elok dari Ngarai Sianok, gunung dan sawah.

Kita bisa menggunakan jembatan gantung untuk menyeberangi Ngarai tersebut. Tapi, ada warning-nya, kapasitas maksimal jembatan ini hanya 10 orang dan sebaiknya dilewati satu per satu. Selain itu, jembatan ini juga mudah goyang, jadi perlu mental yang cukup ekstra nih buat yang suka phobia ketinggian 😀

Disekitarnya terdapat beberapa titik penjualan makanan (seperti: kerupuk kuah), minuman dan cendera mata. Buat yang membawa bekal, jangan kuatir, disini juga disediakan tempat untuk bersantai. Namun, jangan lupa sampahnya dibuang ke tempat sampah yang telah disediakan. Sayangnya, masih ada yang membuang sampah sembarangan di sekitar lokasi; padahal selain GRATIS, banyak hal lain yang telah difasilitasi dengan sangat baik, seperti: ada beberapa tempat sampah dipinggir jalan lengkap dengan petugas kebersihan yang selalu standbye.

Sesekali, dipinggir jalan akan ada beberapa kera yang mendekat. Tapi, tak perlu cemas, mereka tidak pernah mengganggu pengunjung.

Berwisata ke Janjang Gadang Koto Gadang, tak hanya membuat kita merasa berada di Tembok Cina, tetapi sekaligus berolahraga sambil menikmati keelokan alam. Eits, jangan lupa sedia air mineral ya, karena berjalan cukup jauh lumayan memeras keringat.. Setelah itu, sekalian wisata kuliner juga, itiak lado ijau (sambal itik cabe hijau) di kawasan Ngarai Sianok ini terkenal maknyus! Terus, mampir ke Koto Gadang dulu buat membeli cendera mata, karena daerah ini terkenal sebagai nagari pengrajin perak; selain itu, ini juga tanah kelahiran sang pejuang kemerdekaan RI, H. Agoes Salim 🙂