Category Archives: Sumatera Utara

Daun Ubi Tumbuk

  • Bahan
    • Daun ubi (Bahasa Minang: Pucuak ubi).
    • Rimbang.
    • Kincong.
    • Bumbu: Bawang merah, bawang putih dan cabe merah; secukupnya.
    • Udang kecepe’ (Udang kecil kering/udang bariang.
    • Santan kelapa: Cair 1 mangkuk dan kental/pekat 1 mangkuk.
    • Lengkuas (dikupas dan digebrek/dikeprok).
    • Garam secukupnya.
  • Cara
    • Tumbuk daun ubi, rimbang,kincong, bawang putih, bawang merah, cabe merah; jangan terlalu halus.
    • Panaskan santan cair dengan api sedang.
    • Cuci bersih udang dan tiriskan.
    • Masukkan daun ubi yang telah ditumbuk, aduk rata secara kontiniu (Jangan sampai pecah santan).
    • Tambahkan lengkuas + udang + garam.
    • Tambahkan santan kental, aduk rata.
    • Angkat dan sajikan.
  • Catatan
    • Sajikan di dalam mangkuk dan tambahkan daun serai/sere diatasnya..
Resep Intan | Shared by Intan san (14/04/2016) | Makanan Khas Batak | Sumatera Utara

Kuliner & Buah Tangan Khas Medan

Yang mau walking out atau travelling ke Medan mana suaranya?? 😀 Ini ada share aneka makanan khas Medan nih dari Tice, pemudi Medan.

  • Bika Ambon Zulaikha
    Biasanya banyak tersedia di daerah Jl. Brigjen Katamso.
  • Sambal Teri Medan
    Di berbagai tempat di Medan bisa didapatkan, pada umumnya dijual di warung-warung biasa.
  • Soto Medan
  • Dodol Bengkel
    Disini dijual aneka dodol, seperti: dodol durian dan dodol ketan di daerah Bengkel.
  • Wajir Seafood
    Terkenal banget di dekat PMI Medan.
  • Roti Tisu
    Makanan ini khas India, karena yang bikin orang India asli. Rotinya tipis dengan 1 m x 30 cm (panjang x lebar), rasanya manis dan guris, ada taburan keju dan coklatnya juga, berbentuk kerucut. Biasa ditemukan di Kampung India.
  • Mie Aceh Titi Bobrok
    Terkenal murah dan maknyus. Yang bikin orang asli Aceh, biasanya banyak diminati oleh anak kuliahan.
  • Bolu Meranti
  • Bolu Amanda
  • Ucok Duran
    Mulai dari harga 10-ribuan, buka sampai sekitar jam 10-an, di daerah Gajah Mada. Cocok banget nih buat para hunter durian 🙂
  • Jeruk Berastagi Medan
    Bisa petik langsung dari kebun sepuasnya, tapi eits, kalau bawa keluar kudu bayar. Berlokasi di daerah Berastagi.
  • Marquisa Medan
    Berlokasi di Berastagi.
  • Salak
    Salak yang terkenal berada di Padang Sidempuan dan Kotanopen. Walaupun demikian, kedua jenis salak ini memiliki sedikit perbedaan dari rasa dan teksturnya.

“RAHMAT” INTERNATIONAL WILDLIFE MUSEUM & GALLERY

Disini terdapat 5.000 koleksi binatang, mulai dari binatang langka hingga yang kita temukan sehari-hari; ada harimau putih, kucing emas, hingga nyamuk! Tidak hanya itu, di tempat ini juga tersimpan aneka penghargaan, foto-foto, dan aneka koleksi lainnya dari seorang Rahmat Shah (pemilik museum & gallery ini, juga orang tua laki-laki dari artist cantik Raline Shah).
Insert masuk untuk dewasa Rp 32.000,-. Ini sudah termasuk Night Safari Pass, gambaran hutan di malam hari lengkap dengan efek suara; kita bakal masuk ke sebuah ruangan yang dibuat menyerupai goa, di awal masuk ada suara-suara binatang buas menggaung ke seluruh ruangan, di dalamnya terdapat banyak satwa. Museum & Gallery ini buka pada hari Selasa s/d Minggu, pukul 09.00-17.00 WIB.

Nah, lho… Ini hanya sebagian kecil dari koleksi yang ada disini. Tidak hanya sekedar tempat rekreasi, menurut saya, disini juga ladang ilmu.. Ini semakin meyakinkan ketika Dewi (yang ngajakin saya kesini) mengatakan bahwa rata-rata pengunjung tempat ini adalah anak sekolahan 🙂

Somai Medan

Pengen nyobain somai dengan versi beda?? Di Kampung Baru tempatnya.. 🙂 Terletak di dekat Serba 5000, deretan Suzuya Medan, persis di seberang Jl. B. Katamso no. 720-an.

Somai ini dikembangkan oleh urang awak (orang Minangkabau) yang lahir dan besar di Aceh kemudian merantau ke Medan. Disini dijual somai seharga Rp 9.000,- dengan komposisi:

  • Potongan kol yang telah direbus
  • Miehun (mie putih yang telah direbus dan ditiriskan)
  • Potongan kentang yang telah dikukus
  • Bakso
  • Potongan daging dan lemak sapi
  • Potongan tahu sumedang yang telah dikukus (ada juga yang digoreng)
  • Kuah kacang dengan bumbu khas
  • Kuah miesop (atau mie ayam, tergantung pesanan)
  • Seledri potong kecil
  • Telur rebus yang telah dibelah

Selain cabe ijo giling halus (diblender), kecap manis (atau asin), ada lagi pelengkap lainnya yang sangat unik, yaitu acar cabe.. Sejenis acar yang isinya cabe merah yang dirajang (dipotong) kecil.

Referensi

Ni Upik & Dewi, informasi verbal pada 26 Agustus 2015.

Medan (Part 2)

Kamis, 20 Agustus 2015
Fly to Medan

Untuk keduakalinya saya berangkat ke Medan. Kali ini planingnya lebih terstruktur dan saya pergi bersama Rio kun. Kita ada misi interview kesana 🙂
Demi keefisienan, kami sepakat berangkat ke Medan dengan pesawat dan nanti kita akan take in jam 11.00 WIB. Namun, karena pesawatnya telat datang dari Jakarta, kita akhirnya baru berangkat sekitar pukul 12.
Oya, rata-rata harga tiket pesawat Padang-Medan Rp 450.000,-an s/d jutaan, ada rute langsung dan ada yang transit. Nah, masing-masing kita beli tiket yang paling ekonomis, sekitar 460 ribu.

Cuaca cerah berawan, sebuah pemandangan yang menakjubkan, bahkan kita sempat terbang di dalam awan! 😀 Antara excited dan gamang, karena tiba-tiba saya teringat peristiwa awan cumulonimbus yang sempat menjadi penyebab jatuhnya pesawat.

12.32 Memasuki awan tebal, mirip kabut… Pandangan di luar jendela jadi putih berkabut..
14.34 Cuaca masih cerah berawan, 2 menit lagi akan meninggalkan ketinggian 32.000 kaki. Broadcast.
12.38 Memasuki awan..
12.50 Hampir take off, mendarat..

Alhamdulillah.. akhirnya saya sempat melihat keelokan Bandara Kuala Namu. Sebelumnya saya begitu penasaran, bagaimana tidak, saya pernah diceritakan bahwa bandara ini merupakan salah satu bandara dengan arsitektur terbaik di Indonesia. Ternyata memang luar biasa! Bangunan kokoh yang didominasi kaca tersebut terlihat megah.. Tatanan di bagian dalamnya sangat apik.. Kemudian, di bagian depannya lebih didominasi oleh logam, rancak!

Uniknya, di dalam bandara ini terdapat stasiun kereta api yang akan menghubungkan kita ke Stasiun Medan pusat, bajetnya Rp 100.000,-.

Tadinya, kita berencana untuk naik kereta api. Eh, ternyata Da Un sudah stay di lobi, so kita naik mobil jadinya 🙂
Malamnya, kita keliling mencari lokasi interview. Sekalian searching penginapan buat Rio kun. Kita interview di Santika Premier Hotel, terletak di seberang Lapangan Benteng, tidak jauh dari JW Mariot Hotel. Sekitar sini hotelnya rata-rata high class, jadi kita cari yang lebih ekonomis, sekitar 1 km dari lokasi, Rio kun fix dengan penginapan seharga Rp 170.000,-/kamar. Fasilitasnya cukup bagus, tempat tidur besar, meja rias, lemari dan kamar mandi.

Medan di malam hari..

Jum'at, 21 Agustus 2015
H-1 Interview

Stay di Medan Johor, prepare untuk besok 🙂 Hm, pagi ini Ni Upik beliin kita lontong buat sarapan, lontong Medan emang beda! Kuahnya lebih manis dan kombinasinya juga sedikit berbeda dengan lontong yang sebelumnya sering saya cicipi 🙂

Sabtu, 22 Agustus 2015
Interview di Santika Premier Hotel plus Acara Kekahan

Interview hingga Maghrib. Grogi, chuy.. Tapi alhamdulillah, yang penting sudah berusaha 🙂

Setelahnya, saya menghadiri acara kekahan anak dari iparnya Da Un. Ada yang unik disini, acara kekahannya ada orgen juga!! Acaranya mirip pesta kenduri.. 🙂

Minggu, 23 Agustus 2015
Searching Lokasi MCU & Hot News Menplaz Terbakar

Dapat berita dari Ni Upik kalau semalam Medan Plaza (Menplaz) terbakar. Dari Dewi saya tahu bahwa Menplaz ini merupakan satu dari tiga bangunan lama selain Mega Mall dan Tamrin Plaza.
Saya dan Dewi pergi searching lokasi MCU. Banyak hal banyol yang kita jalani hari ini, mulai dari mondar-mandir mencari lokasi yang ternyata memang tempat yang kita lewati sedari tadi, cuma karena nomor jalannya tidak teratur dan merknya yang terletak di pojok atas membuat kita sekilas ga bakalan tau kalau itulah tempatnya; sampai hunting makanan murah meriah kenyang, haha..

Senin, 24 Agustus 2015
MCU di Klinik Anugerah Ibu

Disela waktu free lesnya, Dewi mengantarkan saya ke Klinik Anugerah Ibu, salut banget.. Disini saya belajar, betapa mempererat hubungan silaturrahim dengan handai taulan itu penting! Kalaulah tidak ada mereka disini, mungkin saya akan tergopoh-gopoh sendiri :’) Alhamdulillah..

Sedari pagi kita udah ready, step by step akhirnya kelar. Namun, Vina, salah satu teman kami sempat menerima kendala, dan kami (saya, Bang Fitra dan Kak Henny) merasa perlu untuk ready disini hingga ada titik terang. Belum lagi berita dari Bang Fitra, Masnun belum datang karena kehilangan dompet dan tabnya sepulang interview kemaren, MasyaAllah.. Benar-benar ujian yang luar biasa dan semoga mereka atau kami mampu melewatinya.

Tiba masanya perut kami menggerutu karena telah puasa sedari malam. Walhasil, kami naik bentor alias becak motor (Rp 10.000,-) ke Transmart Carefour hunting lunch 😀 Kebetulan, kemaren Dewi udah ngasih tau paket ekonomis, jadi kita nongkrong di KFC melahap paket WOW dengan seketika 😀

Syukurlah.. Vina ataupun Masnun akhirnya fix bisa menyelesaikan MCU tanpa kendala lain.. Namun, setelah semua teman pamit, dan saya menunggu Dewi, barulah teringat kalau saya tadinya membawa helm!!! Apes… helmnya hilang!!!! Saya mencari kesana-kemari, tidak ketemu.. Yah.. 😦

Selasa, 25 Agustus 2015
Mission: Impossible - Rogue Nation

Sorenya, sepulang Dewi dan Musin dinas, kami bertiga ngemovie ke Paladium, nonton Mission: Impossible – Rogue Nation, weez… kerrren bangeeettt…!!! Film yang dibintangi oleh Tom Cruise ini bercerita tentang IM yang akan ditutup dan akhirnya dibatalkan 🙂

Oya, dalam perjalanan kesini tadi, ada kebakaran di Lapangan Asrama Haji, sepertinya angkot.

Beberapa gambar yang sempat saya abadikan selama perjalanan:

Rabu, 26 Agustus 2015
"Rahmat" Museum & Gallery" & Istana Maimun

Pagi menjelang siang, Ni Upik menemani saya ke loket untuk beli tiket bus Medan-Padang. Saya sengaja memilih jalur darat untuk menekan biaya yang belakangan cukup overload 😀

Simpang Meteriologi-simpang lampu merah Titi Kuning, @ Rp 2.000,- angkot kuning 17 sekitar 10 menit.

  • 11.18 Naik angkot biru 135 @ Rp 4.000,-
  • 11.29 Loket NPM di Jl. Sisingamangaraja. Di sekitar sini banyak loket bus seperti: ANS, Anugerah, ALS, dll. Akhirnya saya memutuskan untuk naik ALS dengan bajet Rp 220.000,- (pengen liat Danau Toba lagi…).
  • 11.42 Naik angkot kuning A 15 ke Kampung Baru
  • 11.54 Kampung Baru, saya dikenalkan dengan saudara-saudara Ni Upik. Setelahnya, kami makan somai, unik.. Baru kali ini nyicipin somai yang beginian! 😀 Terletak di deretan serba 5000, seberang Jl. B. Katamso no. 720-an, seporsi Rp 9.000,- (ekonomis!!!).
  • 12.42 Naik angkot kuning 17 @ Rp 4.000,-
  • 13.05 Simpang Metereologi

Sekitar pukul 3, kita berangkat ke “RAHMAT” INTERNATIONAL WILDLIFE MUSEUM & GALLERY, demi mengejar melihat koleksi museum tersebut. Setelahnya, kita go menuju Istana Maimun, eh keburu tutup!!! Yaaah, ga kesampaian deh saya foto dengan memakai baju adat melayu di dalam istana itu.. Maybe someday.. 🙂

Then, kita makan siang plus malam dulu di steak langganan Dewi. Dilanjutin dengan hunting oleh-oleh. Tadinya kita mau ke Zulaikha buat beli Bika Ambon, namun batal karena arahnya berlawanan, lagian kalau sore biasanya sudah habis semua. Kita beli Kue Bolu aja ke Miranti dan Brownies Cokelat Pandan ke Amanda. Ini beberapa tempat yang direkomendasikan oleh Dewi, tapi selain ini juga banyak kok dijual di tempat lainnya 🙂

Kamis, 27 Agustus 2015
Go to Padang

Jam 11.30 WIB saya diantar Ni Upik dan Da Un ke loket ALS, sedih rasanya.. :’) Semoga kapan-kapan saya masih diberi kesempatan untuk kesini, berkumpul dengan mereka 🙂

  • 12.24 Berangkaat… good bye Medan… good bye Awi.. Da Un.. Ni Upik.. all.. :’)
  • 13.10 Terminal Lubuk Pakam
  • 13.13 Berangkat..
  • 13.14 Bundaran Lubuk Pakam
  • 13.34 Perbaungan
  • 14.14 Sudah sekitar 30 menit berhenti, ternyata per mobilnya rusak.. Saya mulai was-was, jangan sampai kayak kemaren lagi kejadiannya 😦
  • 14.18 Jalan… Alhamdulillah..
  • 14.31 Mesjid At-Toyyibah Kab. Serdang
  • 14.59 Terminal Tebing Tinggi
  • 15.02 Loket ALS Tebing Tinggi
  • 15.27 Sektor Padang Hulu
  • 15.34 Kec. Dolok Merawang
  • 15.41 Berhenti sejenak..
  • 16.02 Pematang Siantar
  • 16.17 Resort Martoba
  • 16.22 Loket ALS Pematang Siantar
  • 18.05 Terminal Bus Sosorsaba Prapat
  • 18.30 Rumah Makan Family Raya. Makan malam, shalat Maghrib dan istirahat.
  • 19.17 Berangkat..
Jum'at, 28 Agustus 2015
Welcome to Padang
  • 00.25 Terminal P. Sipirok, Tapsel. Saya dan Nia (teman yang ketemu dalam perjalanan) pesan teh hangat Rp 5.000,-. Disamping rumah makannya ada yang menjual salak, 1 renteng Rp 25.000,-
  • 01. 55 Go…
  • 04.40 Masjid Mandailing Natal
  • 05.21 Go…
  • 06.08 Loket ALS Kampung Rao.
  • 07.09 Loket ALS Lubuk Sikaping, Pasaman. Sarapan pagi.. ketemu Nina seorang backpacker yang tadinya kami (saya, Nia & Melda) pikir dia seorang Vegetarian karena cuma pesan nasi dan kuah saja Rp 10.000,-. Eh, ternyata karena duitnya terbatas, dia bilang duitnya ada di ATM. Yah, wajar sih, di Indonesia, apalagi perjalanan di jalan trans begini memang susah menemukan ATM. Sayang banget, kalau kami tau itu alasannya sedari tadi mah bisa dibantuin si Nina-nya..
  • 09.47 SMP 2 Tilatang Kamang
  • 09.56 Loket ALS Bukittinggi
  • 10.10 Go…
  • 11.04 Malibo Anai
  • 11.19 Masjid Jami’ Muhammadiyah Sicincin
  • 11.38 Lubuk Alung
  • 12.20 Humz sweet humz… 🙂

Lontong Medan

Lontong adalah satu dari beberapa makanan yang umum ditemukan di Indonesia, termasuk di Medan. Nah, bedanya, kombinasi bahan yang digunakan lebih komplit.
Lontongnya berbentuk kemasan dari daun. Dikuahi dengan gulai yang berisi sayur japan (bahasa Medannya labu jipang),  buncis dan wortel; yang dipotong kecil. Kemudian dibubuhi oleh miehun goreng yang dicampur dengan sayur toge. Khasnya nih, ada taucho dan kentang sambal, kentang yang di raut agak tebal menyerupai keripik singkong, digoreng dan dicabein (cabe merah goreng). Lalu, seperti biasa, ditambahkan kerupuk merah sebagai pelengkap.
Kadang, ada juga yang menambahkan telur sambal sebagai tambahan, telur rebus yang digoreng selayang dan dicampur dengan cabe goreng. Selain itu, karena kuah dari lontong Medan manis, sebagian orang suka menambahkan cabe goreng ke dalam kuahnya.
Sarapan pagi dengan lontong, cukup mengganjal perut hingga siang nanti. Yang tidak berselera makanpun bisa menggunakan lontong lho sebagai menu.. Buat yang mampir ke Medan, cobain gih menu yang satu ini 😉

Timun Aceh

Sewaktu di Medan, saya sempat menemani Ni Upik ke Pajak (bahasa Medan untuk pasar) Simpang Limun. Disini Ni Upik sibuk memilah-milah sesuatu yang mirip timun, tapi dengan ukuran lebih besar?! Ternyata, ini namanya Timun Aceh. Ni Upik berencana bikin takjil dari ini ntar. Jadi penasaran?!..

Sayangnya, timun yang Ni Upik beli masih muda, jadi belum berlemak, masih keras.

Walhasil, beliau menunda bikin takjil ini untuk besoknya. 1 timun ini dibeli dengan harga Rp 10.000,-.

  •  Bahan:
    • Timun aceh yang sudah merekah (matang)
    • Santan
    • Gula aren
    • Garam secukupnya
    • Sirup aceh
  • Cara:
    • Masak santan bersama gula aren hingga matang.
    • Tambahkan garam secukupnya.
    • Tuangkan ke dalam mangkok.
    • Belah timun aceh, kerok dagingnya dan tambahkan ke dalam mangkok yg telah diisi dengan kuah santan.
    • Siap disajikan.
  • Catatan:
    • Untuk menambah manis, bisa ditambahkan sirup aceh.
    • Timun aceh yang muda masih keras, itu sebabnya pilih yang merekah. Ni Upik bilang, berlemak timunnya 🙂
    • Rasanya mirip kolak labu, tapi lebih khas.

Timun Aceh, Masakan Ni Upik, Makanan/Takjil Medan, Sumatera Utara

Gulai Daun Ubi Tumbuk

Saya heran, ketika mampir di sebuah rumah makan di Prapat, dalam perjalanan Medan-Padang, ada sayur yang cukup unik.. Ternyata, Ibu yang satu tempat duduk dengan saya di Bus (saya lupa nanya nama Ibunya, orang asli Mentawai yang merantau ke Medan), ini namanya gulai daun ubi tumbuk.. Masakan tradisional Medan khas Batak. Gini cara bikinnya.

  • Bahan:
    • Daun ubi
    • Rimbang
    • Cabe rawit
    • Kincuang
    • Bawang merah
    • Bawang putih
    • Bumbu gulai (digiling)
    • Santan
    • Gula
  • Cara:
    • Daun ubi + rimbang + cabe rawit + kincuang + bawang merah + putih ditumbuk
    • Semua bahan dicampur seperti membuat gulai

Saya lupa detail cara bikinnya gimana, karena sikon, waktu itu cuma sekadar bertanya saja. Ibu itu bilang, ada bahan yg ditumbuk terpisah dan ada yang dirajang (diiris), tapi saya lupa. Ditunggu ya masukannya.. 😉