Category Archives: Nara

Kebun Kesemek di Nara 「柿狩り」

Di Jepang, musim gugur menjadi musim yang cukup ditunggu-tunggu. Karena, selain momiji, diperalihan musim panas ke musim dingin ini bakal puas menikmati aneka buah-buahan, salah satunya kaki, di Indonesia dikenal dengan buah kesemek.

Biasanya, rasa yang enak didapat dari buah yang berwarna orange, karena jika terlalu matang (berwarna ke-pink-an), teksturnya menjadi lebih lembek dengan rasa yang sangat manis.

Perkebunan kesemek ini terletak di Yoshino, Nara. Biaya masuk ¥200 (dua ratus yen), bebas memetik buah dan memakan sesukanya. Tapi, kalau berminat membawa pulang, 1 kantong khusus ¥2.000 (dua ribu yen, isi sekitar 7 buah). Selain manis, buah ini juga bikin kenyang, lho..

Fasilitas yang didapat juga tak kalah bagus, jadi tidak perlu membawa banyak persiapan. Disini telah disediakan gunting buah, pisau, ember (tempat sampah) dan juga terdapat bangku-bangku di beberapa tempat (menyerupai meja berkaki 4).

 Catatan
  • 柿「かき」/kaki/ buah kesemek
  • 柿狩り「かきがり」/kakigari/
Lain-lain
  • Perjalanan kali ini disupport oleh HIDA.

Kuil Todaiji

Kuil Todaiji merupakan bangunan kayu yang paling luas di dunia yang didalamnya terdapat patung perunggu Budha berukuran raksasa. Tinggi patung ini mencapai 16,1 meter. (KKC, 2016).

Rumah ibadah umat Budha ini menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Nara, Jepang. Kuil ini terletak 0,9 km dari Taman Wisata Nara, atau membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan berjalan kaki.

Akses ke lokasi sangat praktis dengan menggunakan kereta api. Dari Subway-Stasiun Abiko, menaiki chikatetsu (kereta api bawah tanah) hingga Subway-Stasiun Namba, bajet ¥280 dengan 16 menit perjalanan. Setelah itu, transit ke Kintetsu-Stasiun Nara, tiket ¥560. Lama perjalanan sekitar 38 menit. Dari Stasiun Nara, cukup berjalan kaki sekitar 15 menit.

Menjelang gerbang utama dan pada sayap kiri kuil, banyak dijual aneka cenderamata. Contohnya, replika samurai, yukata, kipas-kipas, aneka mainan kunci dan pernak-pernik lainnya yang didominasi oleh bentuk rusa, kuil dan patung Budha. Beberapa jenis makanan dan minumanpun juga cukup banyak dijual disini, harga berkisar ¥290 atau lebih.

Seperti di Taman Wisata Nara, di sepanjang jalan sebelum tempat pembelian tiket, pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan para rusa. Pengunjung juga diperbolehkan memberi makanan berupa kue kering khusus yang dijual seharga ¥150 sebungkus.

Sebelah kanan perjalanan menuju gerbang kuil, terdapat Tugu Bersejarah  Nara Kuno yang masuk ke dalam daftar Warisan Dunia dibawah naungan UNESCO [Album 4]. Di sisi depan sebelah kanan kuil terdapat danau besar dengan sebuah kapal yang menepi [Album 8]. Sedangkan di sebelah kiri kuil, berdiri megah soorin [Album 14].

Kuil ini terbuka untuk umum dari pukul 07.30-17.30 (waktu Nara). Tiket dewasa seharga ¥500. Tradisi unik juga bisa diikuti oleh pengunjung di  dalam kuil ini, yaitu memasukkan badan ke lobang sebelah bawah tiang (terletak di sayap kiri bagian belakang dalam bangunan kuil).

Catatan

Yukata (baju tradisional Jepang, tapi lebih tipis dari kimono).

    Referensi

    Beberapa informasi didapat dari panduan wisata praktis dari KKC (Kansai Kenshu Center) dan beberapa diantaranya disadur dari kawasan kuil.

    Rekomendasi: TODAI-JI Temple.

    Taman Wisata Nara (Cagar Alam Rusa)

    Taman Wisata Nara (Nara Park) lebih terkenal sebagai Cagar Alam Rusa, karena hampir 1.200 (seribu dua ratus) rusa jinak berkeliaran bebas disini. Selain itu, disekitar taman ini juga banyak terdapat peninggalan sejarah Nara (KKC, 2016).

    Akses ke lokasi sangat praktis dengan menggunakan kereta api. Dari Subway-Stasiun Abiko, menaiki chikatetsu (kereta api bawah tanah) hingga Subway-Stasiun Namba, bajet ¥280 dengan 16 menit perjalanan. Setelah itu, transit ke Kintetsu-Stasiun Nara, tiket ¥560. Lama perjalanan sekitar 38 menit.

    Dari Stasiun Nara, cukup berjalan kaki sekitar 5 menit. Di sepanjang jalan pengunjung bisa berinteraksi dengan banyak rusa. Dan, pengunjung juga diperbolehkan memberi makanan. Di sisi jalan terdapat beberapa pedagang yang menjual makanan khusus untuk si rusa. Makanan yang lebih tepatnya disebut kue kering itu dijual seharga ¥150.

    Disamping taman, di jalan menuju ke Kuil Todaiji, berjejer aneka food court. Uniknya, juga terdapat becak antik di pinggir jalan area taman.

    Sebagian informasi didapat dari panduan wisata praktis dari KKC (Kansai Kenshu Center).

    Gallery

    Mengelana Ke Nara

    Gayanya, kita para trio comal-camil pagi ini akan ke Abiko Kannon Temple pukul 7 pagi (waktu Jepang). Tapi, gegara libur, waktu rehatpun tak terelakkan. Walhasil, kita baru beringsut dari kediaman masing-masing sekitar pukul 9. Setelah itu lanjut ke receptionist demi mendapat sedikit pencerahan tentang destinasi yang akan kami tuju.

    Berikut sepenggal agenda hari ini:

    • 10:56 Beli tiket Subway Chikatetsu Midosuji Line ¥280 di Stasiun Abiko dengan tujuan ke Stasiun Namba (stasiun ke-7 dari  Stasiun Abiko). Lama perjalanan sekitar 16 menit.
    • 11.17 Transit ke Kintetsu Railway, tiket JR ¥560.
    • 11.31 Lama perjalanan ke Nara sekitar 38 menit.
    • 12.11 Stasiun Kintetsu Nara.
    • 12.24 Go
    • 12.30 Taman Wisata NaraAmazing banget berinteraksi langsung dengan banyak rusa yang jinak, beli makanan khusus untuk rusa di  pinggiran jalan taman ¥150, seru!!!
    • 12.45 Mampir ke pusat oleh-oleh. Waaah, gilaaa… komplit banget!! Mulai dari yukata,  replika samurai, pungling (gantungan yang berbunyi saat ditiup angin), aneka kue, dll. Bikin lapar mata!
    • 13.15 Kuil Todaijhi.
    • 15.15 Stasiun Nara
    • 15.40 Go home..
    • 16.26 Stasiun Namba

    Bagi saya pribadi, hal yang paling berkesan ketika berada di Kuil Todaiji, sahabat saya beropini “eh, setelah diperhatiin, kayaknya lu doang deh O yang pake jilbab”. Lalu kita spontan mengamati sekitar, and that is really true. Tapi ini sama sekali tidak merubah apapun, perjalanan kali ini sangat menyenangkan.

    Padahal, jika dihubungkan dengan perjalanan awal, ada seorang bapak-bapak yang saat menaiki JR, matanya langsung tertuju pada saya yang kebetulan juga melihat kearah beliau. Bukan sorot pandang yang ramah, seperti seorang juri yang sedang menyortir peserta lomba, atau seseorang yang sedang berhipotesa di dalam pikirannya.

    Karena respon yang demikian, yang tadinya saya harusnya bersikap welcome malah ikut berhipotesa, mencerna maksud dari biasan mata itu. “Karena saya berbedakah?! Kerudungkah yang jadi keyword-nya? So, why?? Toh, saya merasa tidak mengganggu siapapun”. 

    Setelah diam mengamati saya sesaat, beliau langsung duduk sembari membuka lipatan koran dan membacanya. Beliau duduk di kursi nomor 2 dari kanan pintu JR (kursinya 2-2), sementara saya tepat di urutan kedua kursi sebelah jendala kiri JR.

    Seandainya saya bisa mengutarakan, don’t judges people by the cover, please! Tapi yo wes, clue-nya “tidak semua orang berpikiran sama dengan apa yang kita pikirkan dan orang lain tidak bisa selalu sama dengan apa yang kita pikirkan”. Seperti alur mundur, saya teringat sahabat saya, MeatKalimat ini sering menjadi key topic setiap kali kami curcol alias cuhat colongan. 

    Satu poin penting tentang perbedaan, “jadi beda itu tidaklah buruk selama kita bisa saling menghargai. I am proud be who I am, bisa menjadi diri sendiri itu luar biasa, karena tidak semua orang mampu mengapresiasi siapa dirinya.

    Dan, persahabatan sangatlah indah, tak peduli seberapapun besarnya perbedaan selalu jadi warna tersendiri dalam keakraban. Beautiful moment with Risa chan & Ka Wi. Missed you, Meat..