Arsip Kategori: Osaka

Korea Punya Cerita (Bagian 1)

30 Oktober 2018, Menggelandang di Bandara

Ceritanya, kami yang akan ke Korea ini ada 6 orang: Saya & Etikuchan dari Tokushima, Beta chan & Riza chan dari Tokyo, Riani chan dari Osaka dan Q chan dari Nara. Kami berlima menyusul Q chan yang sudah lebih dulu berangkat, lalu janjian kumpul di Kansai Airport.

Dari Tokushima

Sebenernya ada bus langsung Tokushima Station – Kansai Airport, tapi karena mengingat akses dan waktu, supaya efektif saya & Etikuchan sepakat ketemu di Herbis Osaka (Osaka Station).


  • 19:00 Bus jalan meninggalkan Tokushima Station
  • 21:21 Herbis Osaka. Gilaaa, cuaca pas turun bus dingin euy..

Herbis Osaka

Di ruang tunggu Herbis Osaka ini terbilang lengkap; ada telpon umum, toilet, koin loker, jidouhanbaiki, dll. Nyaman banget untuk sebuah ruang tunggu.

Loket Bus TUTUP?!

Setelah ketemuan, kami langsung menuju loket bus yang persis berada di samping ruang tunggu. Namun, di kaca jendela loket sudah tempampang dengan sangat jelas tulisan CLOSED

Kami kaget, antara pasrah tapi tak rela. Kami lihat jadwal bus berkali-kali, saling bergantian, dan barengan, masih ada jadwal di pukul sepuluh!! Tapi kenapa loketnya udah tutup aja yak?!

Kami saling berpandangan, seolah mengisyaratkan kami punya pikiran yang sama. Diam seketika dan mulai berpikir harus bagaimana. Di lain sisi, masih terbersit “nggak mungkin”. Berulang kali melirik semua tulisan yang ada di bagian dinding loket, hasilnya nol.

Untunglah.. muncul seorang staf dibalik sana dan kamipun sepakat untuk bertanya.

Staf tersebut keluar ngecek jadwal bus dan langsung memandu kami untuk membeli tiket via jidouhanbaiki ¥1.550/orang. (Ternyata & ternyata.. 🤣 beli tiket bus bandarapun udah via mesin otomatis, wkwk.. kudet.. kudet..🤣)

Setelah itu, kami diarahkan untuk menunggu di Halte 1. Disana sudah ada petugas yang standbye. Sementara kami kudu antri dengan teratur menunggu bus datang sesuai jadwal.

Jangan ditanya deh, cuaca saat ini lumayan dingiiiiin.. Berharap segera naik bus biar anget kena dambo 😬


  • 21:40 Datang bus, naik, serahkan tiket.
  • 21:43 Berangkat..
  • 22:00 Kansai Airport Terminal 1

Keliling Terminal 1 Kansai Airport

Disini ada adegan banyol yang super konyol!!

Sesampai di bandara, udah ada Riani chan yang standbye nungguin. Riani chan udah pesan ke kita ketemuan di Dai Ni.

Kami (saya & Etikuchan) nggak ngeh; udah turun-naik lift, baca papan penunjuk arah kesana-kemari, lihat bagian informasi, dan sebagainya; tapi kagak ketemu!! Jangankan kode penerbangan, konter penerbangan PEACHpun nggak ada!

Untuk kesekian kalinya, kami terus menghubungi Riani chan. Sayangnya, telpon atau video call pake acara ngadat, serba nggak jelas 😓

Ada capek.. Bingung.. Belom lagi, laperrr…🤤

Dan, setelah larut dalam kepuyengan yang tak jelas, muncullah pencerahan. Ternyata kami salah turun!! Pantesan nggak ketemu-ketemu sama Riani chan. 😆

Kami turun di Terminal 1, harusnya di Terminal 2 (yang dimaksud Riani chan Dai Ni itu Terminal 2), koplak.. koplak.. 🤣

Walhasil, energi kamipun semakin menipis (capek di jalan ples adegan mondar-mandir nggak jelas di Terminal 1). Lengkap sudah 😬 Laperr…  🤤 Ujung-ujungnya, sebelum melaju ke Terminal 2, kami sepakat untuk makan dulu, mengira-ngira makanan apa yang diperkirakan aman (halal food, bukan dari bahan babi/alkohol), sekaligus mau nanya-nanya akses ke Terminal 2 😄

Terminal 1 ke Terminal 2

“Nggak mau sesat, jangan malu bertanya” 😬

Kami nanya kesana-sini, mulai dari petugas bandara, bagian informasi sampai ke staf burgerking. Hasilnya T.O.P!

“Pasti ada hasil untuk setiap usaha (sekecil apapun)”

Dari Terminal 1 (lantai 3) turun pake eskalator ke lantai 2, jalan lurus masuk hotel, belok kiri turun eskalator ke shuttle bus, tunggu.


  • 23:40 Suttle bus Terminal 1
  • 23:44 Bus datang & berangkat..

Terminal 2

Akhirnya sampai di Terminal 2, sempat nyasar ke Domestik, haha..

Di depan Terminal 2 International duduk Riani chan dengan muka kuyu, sepertinya perjalanan Riani chan yang meskipun terbilang dekat dari Osaka, cukup melelahkan.

Cukup jauh kami berjalan menuju ruang tunggu. Tapi tak mengapa, karena lingkungan bandaranya nyaman..

Di area tunggu, stanbye Beta chan & Riza chan.

Yap, disini praktis! Ada toilet, sofa, colokan listrik (ada area khusus lengkap dengan meja & kursi), jidouhanbaiki, pachinko, dll.

Diluar fasilitas yang kece itu, kami mulai menghadapi tantangan awal dari perjalanan yang baru sejengkal ini. Kami kedinginan!!🥶

Padahal, jauh-jauh hari teman saya sudah berpesan, kalau ke korea di bulan November itu bakal dingin banget, kudu bawa coat. Eh, ini belom nyampe korea lho 😜 Kami hanya berbekal yang paling lumayan pake jaket, selebihnya modal baju doang! 🤣

Niatnya nih, bawa pakaian seadanya biar nggak berat & irit bawaan, ntar coat beli di korea aja, biar lebih fashion dan praktis. 😜

Walhasil, sewaktu bermalam di bandara, mulai dari mukena, sajadah, syal, baju yang lebih tebel, semua dikeluarin buat dijadiin selimut 🤣  Parrrah!! Wkwkwk…

Kita berlima dan penumpang lainnya udah cup tempat duduk strategis buat tiduran. Berbagai pose tidur bisa dilihat disini. Mulai dari menggelung, separo duduk dengan bantalan tangan di atas meja, lurus sepanjang kursi dengan sedikit kelebihan kaki menggantung, dll. 🤣

Razia

Tiba-tiba ada 2 orang pak polisi datang menghampiri. Bahkan diantara kami, masih ada yang kaget, mungkin kali pertama kena razia polisi di jepang 😅 (Sebenarnya nggak perlu cemas ataupun panik; karena di jepang, razia-razia begini udah biasa, apalagi kalau udah ngeliat orang asing kumpul-kumpul, mereka suka tiba-tiba nimbrung.)

Pak polisi cuma ngambil data kok, minta diperlihatkan residence card dan nanya-nanya seputar identitas dan aktifitas di jepang (kalau kerja, yaa yang ditanya tempat kerja), jadi singkirkan pikiran-pikiran negatif yang tidak perlu yaa..😉

Setelah pak polisi klar nanya-nanya, mereka pergi melanjutkan tugasnya. Dan, suasana tidur yang tadinya sontak bak disengat listrik, mulai kembali tenang dan diwaktu harusnya bangun bawaannya malah ngantuk… males.. tapi kudu buru-buru ☺️

Kamus

  • 自動販売機 /jidouhanbaiki/ = Mesin penjualan otomatis
  • 在留カード /Zairyuukado/ = Residence Card (Kartu Identitas/KTP Jepang)
  • Pachinko = Permainan (judi) ala Jepang
  • 暖房 /dambou/ = Pengahangat ruangan (kalau AC alias Air Conditioner untuk mendinginkan, dambo sebaliknya, fungsinya persis seperti heater /hiter/)
  • Pergolakan di sumatera tengah = Istilah lain dari laper
  • 第2ターミナル /dai ni taminaru/ = Terminal 2

Bersambung…

Iklan

Pulang Kampuang 2018 (Bagian 1)

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba 😇 Padahal, menjelang hari ini butuh perjuangan rada sengit! 😬 Yah, begitulah nikmatnya merantau, kita belajar menghadapi segala sesuatu yang sering tak terduga 😜

Ini penerbangan internasional mandiri perdana (ribet nyebutnya 😆) saya nih.. Sebelum hari-H, saya udah survey sana-sini, mulai dari tempat turun bus, cara masuk bandara jepang, tempat wrapping, gate, dll. Saya telah mencatatnya dengan sangat rinci, takut sewaktu-waktu nyasar dan malah ketinggalan pesawat 😜

“Cinta Produk Dalam Negeri” Saya Pilih GARUDA

Memang banyak pesawat yang bisa dipilih untuk penerbangan Indonesia-Jepang. Tapi, bagi saya hanya ada 2 rekomendasi terbaik yaitu GARUDA atau JAL (Japan Airlines, GARUDA-nya jepang).

Pertama kali terbang ke jepang, saya sudah menggunakan JAL. Dan, sekarang saya ingin naik GARUDA 🙂 (Sekalipun banyak rekomendasi penerbangan murah dari teman-teman mancanegara, bahkan ada yang benar-benar murah tapi bagasi bayar sendiri 😜).

Kenapa saya pilih GARUDA? Pertama, semboyan “Cinta Produk Dalam Negeri(Saya yakin, maskapai kita ga kalah bagus kok dengan maskapai penerbangan dari negeri sakura) 😁☝🏻Kedua, lebih praktis! GARUDA ada di seluruh indonesia, jadi mau saya sampai pindah-pindah provinsipun ga bakal ribet, karena udah 1 maskapai untuk semua. Udah gitu free bagasipun lumayan 46 kg (belum lagi bisa bawa aneka tentengan ke kabin 😜). Dan, agen tiket langganan perantau di jepang memang yang paling populer juga GARUDA, lho..

Yang paling praktis, untuk pemula seperti saya, bisa konsultasi via chat dengan agen. Mau itu pembayaran, penggunaan GarudaMiles, cara check-in online, pengambilan bagasi yang udah check-in online, dll.

Check-in Sendiri

Meskipun saya tergolong orang yang awam sedunia tentang segala seluk-beluk penerbangan (sampe-sampe, sewaktu agen tiket saya bilang tax free, saya malah dengernya ‘taxpi’, oneng.. oneng..); saya itu pengen nyobain sesuatu yang menurut saya baru (check-in online & GarudaMiles), walaupun ada yang bilang ribet bla bla bla 😬

Saya upload aplikasi Garuda, daftar GarudaMiles, sampe nawarin sendiri ke agen saya kalo saya udah punya GarudaMiles dan minta panduan untuk tiket saya. Saya coba check-in sendiri, pilih tempat duduk sesuai keinginan (bangku kosong cuma tinggal 10 doang euy!! subarashii..), dan.. setelah melewati proses, ternyata mudah dan menyenangkan! Jadi semakin PeDe nih..

Sewaktu check-in online, untuk penerbangan Osaka Kansai International 🔜 Denpasar-Bali Ngurah Rai, maskapai GA883, seats-nya 2-4-2, saya pilih di 38G. Padahal saya pengen duduk dekat jendela, tapi udah full 😬 Alih-alih mau liat Gunung Fuji (lewat aja kagak 😆). Lalu, untuk Denpasar-Jogja, maskapai GA255, saya ngikutin bangku yang udah direkomendasiin aja di seats 21A, samping jendela 😜 (udah cam anak-anak nak piknik ajee).

Persiapan Omiyage

Namanya juga mudik (sekali seabad 😜), pulang kampung tanpa buah tangan itu kok ya hambar ya rasanya (macem iyee aje 🤣). Saya udah titip nih dari 3 bulan sebelumnya sama Tanaka Sensei (beliau udah kayak mak nya kite ☺️). Kebetulan rumah beliau deket dengan Supermarket DIO yang harga produknya sedikit lebih miring dari supermarket terdekat dari shelter kami. Biasanya yang dibeli disini aneka coklat dan snack-snack. Tapi, buat macha milk, lebih murah saangin di Supermarket KYOEI.

👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇

Bukan endorse lo yee 😬☝🏻siapa tau aja ada teman-teman di Tokushima lagi nyari tempat rekomendasi oleh-oleh 😅

Tokushima 🔜 Osaka

Saking fokusnya dengan persiapan pulang, saya nyaris lupa beli tiket bus!! OMG.. Untungnya, masih punya waktu 2 minggu lagi.. giri-giri.. 😬

Saya mematahkan kegalauan antara cari aman ambil jam paling pagi atau yang bisa nyante ambil bus yang waktunya pas-pasan, akhirnya pilih yang aman (NANKAI BUS 04:45) 😁☝🏻

Di Tokushima, tiket bus bisa dibeli di Tokushima Station tepatnya di bangunan terbawah Daiwa Hotel, di loket bus yang ada di supermarket Takuto, atau di area Tokushima University (lebih murah buat yang ada kartu mahasiswanya). Untuk rute Tokushima Station 🔜 Kansai Airport Terminal 1, PP ¥7.400.

Katanya nih, harga tiket bus selain tergantung waktu pemesanan (jauh-jauh hari lebih murah), juga tergantung berapa lama kita ninggalin jepang. Lebih dari 2 minggu harga tiket bus lebih mahal. Tapi, saya pribadi tidak mendapatkan info langsung dari loketnya.

Pake Taxi

Dari shelter saya menuju Tokushima Station, saya pesan taxi, makluuum.. jadwal bus di Tokushima itu mulai operasionalnya sekitar pukul 7 🙁 Beda banget dengan di Indonesia (tepatnya di Padang) yang bus kota atau angkot kerennya masih ready sampe jam 10-an atau jam 5 subuh udah berlalu-lalang ria 😁

Sebenernya di Tokushima ini taxi yang paling murah adalah Konpira Taxi, bajet buka pintu hanya ¥410; tapi, saya lebih senang dengan NTS (yang bermarkas di Kuramoto Station itu, lho..🤓), bajet awal ¥560, operator dan sopirnya lebih komunikatif 🙂👍

Selain ini, sebelumnya yang sering dipesen adalah Akuigawa Taxi, hanya saja terkadang untung-untungan, kalo dapet operator bapak-bapak yang ngomongnya kayak kumur-kumur, beuh.. ampun dah, semua kosakata bahasa jepang saia menguap seketika 🤣✌🏻

  • 4:00 (waktu Tokushima). Menuju Tokushima Station dengan NTS Taxi, sopirnya perempuan euy, sampe stasiun kena ¥1760.
  • 4:20 Tokushima Station. Hanya saya makhluk yang terdampar disini 😅 Padahal masih subuh, tapi cuacanya udah panas! Makluuum, cuaca di Tokushima belakangan ini lagi ekstrim, tiba-tiba dingin lalu hujan eh sekarang fuanazz!!

Saya tidak tau kalau bagasi kudu ditaruh di depan pintu masuk ruang tunggu (jam segini belum buka), saya malah gerek-gerek lagi sampe loket tunggu yang ada label Kansai Airport-nya 😬 Untung aja petugas datang ga cuma ngasih tau doang, tapi ikut ngebantuin 😁 Makluum, Saya bawa tiga koper dengan semua size M, L & XL 🤣

  • 4:30 Petugas ngantriin koper, ngasi kode bagasi. Penumpang kedua datang. Kode koper ada 2, yang satu ditempel di koper/bagasi dan yang satu lagi kita yang pegang.
  • 4:33 Bus datang, petugas yang masukin koper (bukan kita).
  • 4:45 Jalan
  • 5:02 Halte Matsushige 1 (松茂1)
  • 5:05 Go.. Bapak yang tadi ngurusin bagasi turun dan tinggal, mungkin udah ga ada yang naik 😬 Mirip dengan sistem bus antar-provinsi di Indonesia yaa.. 😁☝🏻
  • 5:15 (TS5) Highway Naruto
  • 5:16 Go
  • TS4
  • TS3 Sumoto
  • 5:53 …

Mulai ngaco nih catatan perjalanannya, sempat tepar! 😅 Capek buangedh soalnya, belum lagi semalaman begadang gegara paranoid bakal kebablasan 😆

  • 7:45 Nyampe bandara (Kansai Airport).

Bagasi bus diturunkan dan kita liatin ke petugas nomer bagasi. Ambil troli dan masuk bandara. Menurut informasi dari teman saya, gate Garuda itu kecil, belok kiri dan jalan lurus, terus liat yang muka-muka Indonesia.

Tapi sebelum menuju counter Garuda, yang pasti, hal pertama yang saya lakukan setelah turun bus dan ambil bagasi adalah wrapping. Nah, itulah perlunya informasi, saya udah siap-siap nih yang kata si teman wrapping itu harganya mahal sampe ¥5.000 lebih, eh faktanya ¥1.000 kok ☺️ Yokatta.. “Kenapa harus diwrapping?? Padahal koper saya udah bagus kok, ada cover-nya lagi?!” Wrapping bagasi itu biar aman.. Setelah diukur, 2 koper size XL & M saya, kena ¥2000.

  • Garuda GA883, antri di loket F20-F24.

Untuk hari ini saya antri di gate F22 awalnya, eh yang ngantri di depan saya pada bubar dan balik ke F21, saya ikutin.. Ternyata, mereka yang pindah ini penerbangan yang delayed dari kemaren (17/7). Sementara, F22 untuk tempat yang belum check-in & F23 yang udah check-in online (termasuk saya, di layar TV mungil depan konter tertulis Baggage Drop Mobile/Internet Check-in).

  • City Check-in.
  • 8:39 Selesai boarding

Naaah, disini saya memulai aksi.. cari wajah-wajah indo yang bisa diajakin bareng.. Mono soalnya kalo sendirian, masa iya ngomong sama angin?! 😆

Saya beraniin nyapa itu ibuk-ibuk. Eh, ternyata ‘urang awak’!! MasyaAllah.. dunia emang sempit yak 🤩👍👍 Udah beribuk-ibuk ria, mbok ya ga cocok akirnya tak panggil uni dah 😅 Si uni abis liburan bareng keluarga. Meskipun beliau orang padang, mereka sekeluarga udah menetap di Bandung.. Surprisenya lagi, ini uni tetangganya sensei saya semasa masih tinggal di Padang!! 🤓 subarashii..

  • 9:18 Naik train (kereta api).

Saya udah nggak ngandalin catatan mungil, tinggal ngekorin uni sekeluarga nih 😇 Paling enggak, sampe bali bareng terus.. Mulai berasa aman.. 😁

  • 9:23 Sampai.
  • Tunggu di ruang tunggu.
  • 10:31 Antri masuk pesawat.
  • 10:40 Di pesawat, di bangku 38G udah ada air mineral kemasan merk Indonesia!! 🤩 Kangeeen.. 🤣
  • 40.000 kaki di atas permukaan laut, berawan sedikit guncangan (macem pertama kali naik pesawat aja 😆☝🏻).
  • 11:15 Berangkat..
  • 11:30 Pembagian pouch yang didalamnya berisi penutup mata, penutup telinga & kaos kaki. Saya cuma butuh penutup mata buat tidur 😅
  • 13:20 Launch (makan siang)

Kebetulan banget nih, lapeeer!!! Menu perdana saya di Garuda, ada gulai (indonesia bangedh!!) dan shomen (mie dingin ala jepang).

  • 15:20 Pembagian es krim. Hmmm.. yummy.. Es krim merk “meiji” ini boleh nih dikonsumsi bagi para muslim di jepang.
  • Pengumuman sampai di Bali. “Halloo Indonesiaa..” 🙂👋🏻

Welcome to Indonesia

  • 16:20 Mendarat..
  • 16:40 Turun
  • 17:50 (masih waktu Osaka, lupa nyetel jam 😬). Periksa pasport.
  • 17:30 (waktu Bali) Periksa paspor.
  • 17:35 Periksa tiket.

Sempat ngotot sama si uni, saya mau buru-buru coz waktu kita kan cuma sedikit 😅 Padahal, si uni sekeluarga mau ngajakin makan dulu. Saya mbok ya ngeyel 🤣

By the way, kalo udah nyampe Bali, saya punya visi nih, eng ing eng.. MAKAN KFC!!! 🤣🤣 Ga tau nih, ngalah-ngalahin bumil yang lagi ngidam aja. Pokoknya nyampe indo harus makan KFC!! Saya mutusin buat misah dulu dari si uni, sempat ketemu dan kenalan juga dengan rombongan indo lainnya (nikmat-Mu mana lagi yang kan hamba dustakan.. ketemu orang indo yang sama sekali ga kenalpun udah macem ketemu kerabat jauh yang udah lama ga ketemu aja 😇).

Balik lagi, kok KFC sih?! Mungkin, berawal dari waktu itu, pas bulan-bulan pertama sampe di Tokushima. Saya sendirian nih muter-muter di mall. Ga ada yang salah sih, cumaa.. perut saya laper euy! Nemulah KFC.. Halal nggak nih?! Jawabannya pasti enggak dong, kayaknya (karena waktu itu saya dikasih tau sama yang jualan karage, ayam tepung versi jepang, kalo karage itu bikinnya pake sake, saya lihat KFC ala jepang kok kayaknya karage banget ya?!).

Walhasil, bismillah.. Saya ga ada pilihan. Kebetulan waktu itu saya sama sekali belum punya referensi makanan mana aja yang udah boleh buat muslim di food court. Jadi saya belilah itu KFC, berharap rasanya paling enggak mirip sedikitlah sama yang di indo. Beeeuh.. makan 1, saya langsung kenyang.. Ini mah karage bukan KFC 😢 Yaa.. mereka nyesuai-in lah ya di negara mana mereka buka 😬

Pas nungguin barang, kita pada ke TOILET dulu. Baru aja mau masuk gerbang TOILET, aroma khas-nya langsung menyapa diikuti oleh komentar orang jepang di belakang kami “kusai!” sambil menutupi hidungnya. OMG.. Selesai dari TOILET, saya hanya tertegun.. dengan berat hati kasih emoticon ☹️ sesuai sikon TOILET.

  • 18:53 Cek masuk pesawat.

Masih ada waktu! Tapi ga nemu KFC.. ga papa deh, orang masih kenyang juga abis makan di Garuda tadi. Ntar nyampe jogja baru daah, hajjarrr!! 😁☝🏻

  • 19:05 1b boarding.
  • 19:16 Di pesawat.

Perbedaan waktu Bali & Jogja adalah 1 jam lebih lambat di Jogja. Saat ini jam di Bali 07:11 sementara di Jogja 06:12 (lama perjalanan 01:12).

Waktu dapetin snack, ada roti dan saya minta teh hangat. Waaah, tau aja nih saya suka manis, teh hangat yang saya terima dikasih 2 bungkus gula, dan rasanya pas! Saya celupin roti sedikit demi sedikit ke teh manis hangat, makannya nikmatin banget.. gilaaaa… “saya memang udah di indonesia..😇” berasa mimpi!

Sampe-sampe, snack kacang campurnya saya makan sedikit demi sedikit, takut rasa indo-nya hilang dalam sekejap 😂 Terakhir, ingat waktu jajan-jajan disekolahan, pas udah mau habis, sisa-sisa dibungkus plastiknya itu diangkat dan dituang ke mulut sampe ga ada sisa 😆

Karna bawaan saya cukup ribet, pas naik pesawat sampe turun lagi, dibantuin tau sama penumpang bangku belakang. Padahal kabinnya terjangkau dan saya nggak ngomong apa-apa, lho.. Saya terharu, guys.. saya bener-bener udah di indonesia!! Karena bagi saya, dimana-mana hanya orang indonesialah yang begitu, bantuin duluan sebelum diminta tolong. Makin bangga jadi Warga Indonesia 😇 (dimaklumin aja, berle-nya lagi kumat 😅).

Di ruang tunggu, pesawat saya berangkat duluan dari uni. Kita pisah.. Tapi insyaAllah silaturrahim tetap terjalin.. 🙂

  • 21:00 (waktu Jogja) Mendarat.. Dekorasi di Bandara Adisutjipto keren!! Berbagai rupa wayang berjejer di dinding sebelah kanan pintu keluar.
  • 21:08 Ambil bagasi.

Dijemput si bontot.. missed him so much!!😘😘 Gilak, perbandingan saya & unjut bontot ruarr bisah! Udah macem body guard aja nih dia 😆✌🏻

Transportasi Online

Kita menuju penginapan saya dengan transportasi online. Taxi di Bandara sini ga pake argo. Pas ditawar, kebetulan cukup mahal ke lokasi hotel saya.

Penginapan Murah di Jogja

Saya menginap di Hotel Desa Puri Syariah Jogja. Tempatnya nyaman.. 🙂 Recommended nih, bisa jadi referensi buat yang nyari penginapan murah di jogja.. Kamar saya twince dengan bajet Rp 140.000,-.

Fasilitas untuk twince ini ada 2 tempat tidur single, kamar mandi (shower) & TOILET duduk 1 set di dalam kamar (lengkap dengan sabun mandi), wastafel yang udah ready perlengkapan gosok gigi, 2 air mineral gratis (jadi yang kehausan bisa langsung minum 🤣), perlengkapan dan petunjuk shalat buat yang muslim.

Saya sengaja bawa baju pas-pasan, karena ngerasa bakal aman “kan di hotel ada baju ganti?!”. Gelo… gelo.. ngimpi!! 😅

Pesan Makanan Online

Karena udah kemaleman, kita pesan makanan via online aja. Kebetulan yang recommended hanya Aldan yang masih buka, gurame dan sambalnya mantep euy!!

Ini kelebihan indonesia.. kulinernya mantep bisa pesen online lagi.. 😇 Beda banget sama Tokushima yang delivery aja bisa dihitung dan itupun ga bisa kapanpun ☝🏻 Kalo di indonesia, salahsatunya aja di jogja ini, mau hujan badai sekalipun bisa tetep makan enak tinggal pesan online atau delivery. Tapi di jepang, khususnya tokushima, kalo hujan atau lewat waktu (jam bukapun tergantung masing-masing tempat) murii (mustahil), malah ga terima pesanan juga ada, lho..

Penyakit Musiman saat Traveling

Sayangnya.. tenggorokan saya mulai sakit nih.. biasa, kalo udah pindah-pindah tempat suka gitu.. Terancam ga bisa makan enak nih 😢

Uang Baru!!

Karena ada keperluan, saya bareng unjut bontot belanja di minimarket terdekat, tak jauh dari penginapan. Pas menerima kembalian, saya bingung.. 2 tahun ditinggal, uang udah baru semua!! Saya kudu kenalan dulu nih.. Suka cek nominal dulu sebelum bayar-bayar 😅

Kesan

  • Mau di Indonesia kek, Jepang kek, kampuang atau perantauan; tetep pasti ada plus-minus-nya. Mentang-mentang tinggal di negara yang lebih maju, jadi keder dengan negara sendiri, oh NO! Jangan sampai.. 🤓☝🏻

Kamus

  • Kampuang (bahasa minang) = Kampung
  • 徳島駅 /tokushima eki/ = Tokushima Station | Stasiun Tokushima.
  • よかった /yokatta/ = Syukurlah..
  • OMG = Oh My God..
  • Giri-giri berasal dari ぎりぎり時間 /giri-giri jikang/ = Udah mendekati waktunya.
  • お土産 /omiyage/ = Buah tangan/oleh-oleh.
  • Saangin (bahasa minang) = Sedikit.
  • Subarashii (bahasa jepang) = Luar biasa.
  • Mono = Bahasa slank-nya monoton.
  • Murii (bahasa jepang) = Mustahil, ga mungkin, berlebihan.

Ramen Halal Di Osaka

Bagi pecinta kuliner ala jepang, pastinya sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ramen. Mie rebus berkuah kaldu ini bisa ditemukan dengan mudah di kota-kota besar di Indonesia. Sehingga para muslim bisa leluasa menyantap hidangan yang sebagian besar sudah berlabel halal ini.

Berbeda jauh dengan ramen di jepang. Bak udon, warung hingga restoran ramen boleh dibilang menjamur, tapi hampir semua tidak bisa dikonsumsi dengan bebas oleh muslim, karena berbahan dasar babi dan turunannya.

Tapi, patah hati karena ga bisa nyicipin ramen halal bisa diobati oleh warung-warung ini 👇

帆のる (Halal Ramen Osaka HONOLU)

  • Alamat:
    • Namba, Osaka 👉 Ramen Honolu (copy via Google Map)
      • 2-5-27 Motomachi, Naniwa-ku, Ōsaka-shi, Ōsaka-fu 556-0016
    • Tokyo
  • Buka pukul:
    • 11:30-14:30
    • 17:30-21:30.
  • Ramen boleh dibawa pulang.
  • Selain ramen, ada menu unggulan lainnya, gyoza a.k.a pangsit.
  • Cara pemesanan
    • Pesan via mesin otomatis.
    • Serahkan struk pada ten-in (penjual).
    • Tunggu dan ambil pesanan.
  • Fasilitas: Toilet & tempat shalat.
  • Gallery:

鶏そばあやむや (Torisoba Ayam-YA)

  • Warung ramen yang satu ini cabang dari Ayam-YA Kyoto
  • Alamat: Namba, Osaka 👉 Ayam Ya Nanba, Osaka (copy via Google Map)
    • 1-10-7 Nipponbashihigashi, Naniwa-ku, Ōsaka-shi, Ōsaka-fu 556-0006
    • Kyoto
  • Buka pukul:
    • 11:30-15:00 (order terakhir pukul 14:30)
    • 17:30-22:00 (order terakhir pukul 21:30)
  • Ramen tidak bisa dibawa pulang.
  • Hanya menu kara age (ayam goreng tepung khas jepang) yang bisa dibawa pulang.
  • Cara pemesanan
    • Pesan via mesin otomatis.
      • Uang kertas yang digunakan hanya ¥1.000 yang bisa diproses di mesin ini. Uang pecahan ¥10.000 tidak bisa digunakan, ditukar terlebih dahulu secara manual.
      • Pilih menu, tekan tombol sesuai pesanan. Hanya bisa pesan 1/1.
      • Ambil struk.
      • Untuk pengambilan kembalian tekan tombol dipojok kiri atas.
    • Serahkan struk pada ten-in (penjual).
    • Tunggu dan ambil pesanan.
  • Fasilitas: Toilet & tempat shalat.
  • Semuanya enak, tapi ada beberapa yang recommended:
    • Rekomendasi dari Olha Chayo 👉 スパイシー塩 (spicy salt/pedas asin) ¥850
    • Rekomendasi dari pelanggan tetap 👉 チキンオーバーライス (Chiken Over Rice) ¥790
  • Gallery:
🏷 Tabligh Akbar Golden Week 2018 with Tokushima’s family

Tabligh Akbar IPMI 2017

Di penghujung 2017, telah berlangsung Tabligh Akbar IPMI Safari Dakwah Ustadz Hanan Attaki, Lc. Agenda keagamaan terbesar ini dipersembahkan oleh Ikatan Perawat Muslim Indonesia (IPMI) Jepang dengan di dukung oleh Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) Jepang.

Tabligh Akbar IPMI yang pertama ini diadakan di tiga kota besar yaitu di TOKYO – TOKUSHIMA – OSAKA dengan rangkaian tema sebagai berikut.

  • TOKYO :
    • Waktu: 5 November 2017
    • Lokasi: Komplek Masjid Indonesia Tokyo-SRIT
    • Tema: Dimanapun berada cukup bagi kita Allah SWT.
  • TOKUSHIMA
    • Waktu: 6 November 2017
    • Lokasi: Tokushima Mosque
    • Tema: Merawat cinta seorang Hamba kepada Allah SWT
  • OSAKA
    • Waktu: 8 November 2017
    • Lokasi: オスカードリーム
    • Tema: Pengen sih Hijrah tapi gengsi

Kegiatan ini berjalan dengan tertib, aman dan lancar. Berbagai kegiatan selain acara utama juga mendapatkan sambutan sangat baik dari para peserta. Antusiasme itu juga terlihat pada program lainnya, seperti: bazar, photo boot dan city tour.

Gallery Tabligh Akbar di Mesjid Tokushima

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imron: 110).

Menjejak Di Negeri Sakura (Part 2)

Sistem Antri

Negara yang tak hanya ternama dengan budaya disiplinnya ini, juga terkenal dengan kebiasaan antrinya.

Nah, lho… Ketika berbelanja di supermarket, departement store, atau sejenisnya; jangan coba-coba nyelonong ya.. Jadi, saat berbelanja,  bahkan ditoko kecil sekalipun, lihat tanda panah merah atau kuning, ikuti tanda tersebut hingga kasir mempersilahkan kita untuk maju. Jika tidak, tetap perhatikan barisan pembeli terakhir.

Saat menggunakan eskalator, salah satunya di stasiun kereta api, beda daerah memiliki cara antri yang berbeda. Contohnya, Osaka dan Tokyo.

Di Osaka, pengguna yang dalam perjalanan santai mengambil posisi di sebelah kanan. Sementara sebelah kiri khusus untuk pengguna yang diburu waktu. Ini bertolak belakang dengan Tokyo, dimana pengguna sibuk bisa segera mengambil jalur kanan.

Hangko

Jika di Indonesia segala pendokumentasian butuh tanda tangan, di Jepang malah butuh cap saja. Cap ini dalam bahasa jepang disebut hangko.

Buat para pendatang asing, hangko dibuat dalam huruf katakana. Tempat pembuatan bisa dimana saja, biasanya biaya yang dikeluarkan disesuaikan dengan model cap dan seberapa banyak huruf yang digunakan.

Bajet yang dibutuhkan berkisar antara ¥850-¥1500. Fasilitas tambahanpun bisa didapat, seperti sarung hangko yang unik (tergantung tempat pembelian).

Selain digunakan secara manual, juga tersedia alat khusus, sehingga penggunaan hangko bisa dilakukan secara praktis. Alat ini bisa dibeli di supermarket dan sejenisnya.

Ribet vs Praktis

Di Jepang, pada tahap awal pengurusan segala bentuk dokumen cukup rumit. Namun, jika sudah fix,  boleh dibilang akan sangat praktis.

Tadinya, pertama kali berbelanja, saya bingung.. Kasir sering menanyakan apakah saya punya kartu yang dimaksud. Bahkan, jika saya ingin membuat kartu tersebutpun harus mengisi beberapa formulir dengan sangat detil. Dan, you know guys, semua kanji!!

Meskipun, apalah artinya sebuah kartu, toh cuma buat masukin poin belanja, kadang-kadang dapat diskon; tapi yaa lumayan, bukan? Tapi, faktanya, ada beberapa supermarket yang sangat ketat menyaring pemberian kartu poin belanja ini pada orang asing (pendatang). Kalau kamu nemuin ini, jangan heran, mesti nongkrongin pusat informasi sambil dikonfirmasi berkali-kali (Jika ketemu, saya ucapin selamat yua..).

Musim

Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki 4 musim, musim panas (natsu), musim gugur (aki), musim dingin (fuyu) dan musim semi (haru).

Pertama kali saya menjejak di Jepang adalah bulan Juni. Bulan ini merupakan peralihan haru ke natsu. Dalam masa ini, sering dijumpai hujan. Meskipun musim hujan tidak termasuk dalam daftar 4 musim di jepang, namun dikenal juga dengan sebutan tsuyu.

Nah, disini, pemakaian bajupun disesuaikan dengan musim. Biasanya, bajet yang dibutuhkan akan cukup mahal jika pakaian tersebut dibeli pada musimnya. Dan, diskon besar-besaran akan banjir diakhir musim tersebut.

Misalnya, sekarang akhir haru, baju-baju dengan bahan tebal akan dijual dengan harga miring. Karenanya, jangan sampe salah kostum ya, mentang-mentang murah, diborong, lalu dipake di awal natsu, gerah bok.. (Haha, pengalaman..).

Taktiknya, diborong boleh, tapi dipake ntar pas masuk aki, atau pas peralihan aki ke fuyu, atau di fuyu sekalian, itung-itung nambah lapisan coat..

Memasuki natsu akan banyak eventevent seperti tenjin matsuri, bon odori, hanabi (melihat kembang api), dan sebagainya. Yang menarik adalah pengunjung sebagian besar mengenakan yukata (pakaian tradisional jepang yang lebih tipis dari kimono).

Namun, di musim ini, waspada keracunan makanan, ya.. Beli dan simpan makanan seperlunya saja.

Biasanya, puncak natsu ada di pertengahan Agustus. Kemudian, memasuki September mulai aki. Hati-hati ya, di peralihan musim ini terjadi pertukaran cuaca yang cukup ekstrim, sering terjadi  angin topan (taifuu).

Namun, aki merupakan salah satu musim yang paling ditunggu. Apalagi kalau bukan momiji dan koyo yang menjadi icon untuk autumn.

Menjelang akhir tahun, peralihan cuaca kembali ekstrim. Suhu mulai turun mendekati angka 0. Disini, kita sudah harus ready dengan  coat, sarung tangan, sepatu boot dan perlengkapan fuyu lainnya.

Meskipun musim dingin, kita perlu waspada dengan kebakaran. Biasanya, sebagai preventif, di jepang akan sangat sering diadakan simulasi penanganan bencana secara gratis di berbagai tempat, salah satunya penanggulangan kebakaran.

Tahun ini, ada kejadian alam yang cukup fenomenal tentang salju. Di Tokyo, untuk pertama kalinya setelah 54 tahun yang lalu, salju turun di bulan November (24/11/2016), tepatnya 3 bulan lebih awal dan itupun hanya sehari.

Nah, selanjutnya sakura, melati-nya Jepang, bisa dilihat sekitar bulan April, di musim semi (haru). Disini ada kebiasaan melihat bunga yang dikenal dengan hanami.

Tranportasi

Negara yang terkenal dengan kemajuan teknologinya ini pastinya juga memiliki berbagai transportasi canggih nan praktis. Salah satunya subway, jika bepergian ke banyak tempat bisa menggunakan one day pass. Di hari kerja, tiket ini bisa dibeli seharga ¥800 di mesin penjualan otomatis. Sementara untuk weekend dan libur hanya ¥600.

Untuk pembelian tiketpun ada 2 cara, beli langsung atau dengan kartu isi ulang. Untuk via kartu, biasanya bisa dibikin di loket JR (Japan Rail), isi saldo di mesin otomatis dan penggunaannya tinggal scaning saja (seperti penggunaan kartu comuter line di Jakarta).

Saat menaiki bus,  jika punya kartu, scaning dulu saat naik. Tapi jika cash, biasanya dibayar saat akan turun. Pastikan untuk menyediakan uang pas. Jika tidak, pengemudi akan membantu penukaran uang via mesin otomatis lalu di bayar di mesin yang sama dengan tempat yang berbeda.

Bus ini memiliki sistem yang sama dengan busway di Indonesia, juga menyediakan tempat duduk khusus untuk kriteria tertentu, seperti: lansia, bumil atau penyandang cacat. Bedanya, penataan di dalam bus. Selain itu, setiap tempat duduk atau bahkan pegangan tangan memiliki tombol berwarna merah yang bisa ditekan saat akan mendekati tempat tujuan.

Musafir Sehari

Prolog

Perjalanan panjang bukan hanya tentang kita dan berbagai destinasi indah yang ingin ditapaki. Adakalanya, setiap detilnya selalu terhubung pada Sang Khalik, sebuah perjalanan religi yang luar biasa berkah.

Minggu lalu, saya bersama sahabat, Q chan, berencana untuk mengunjungi Mesjid Osaka dan Mesjid Kobe. Kami bertekad, sebelum hijrah, kami harus mengunjungi kedua mesjid tersebut.

Agenda perjalanan kali ini:

  • Berangkat dari shelter pukul 13.00 (waktu Osaka).
  • Shalat Ashar di Mesjid Osaka.
  • Shalat Maghrib dan Isya di Mesjid Kobe.
  • Kobe Tower, kabarnya lebih indah pada malam hari.
  • Kobe Luminarie.
  • Harus kembali ke shelter sebelum pukul 00.00.

Hari ini adalah H-10 kami sebelum meninggalkan shelter. Tadinya, banyak penjejak yang mau ikut trip ini, karena padatnya aktifitas, akhirnya yang berangkat hanya saya, Q chan, Imam dan Nisa.

Menuju Mesjid Osaka
  • 14.00 Kami mulai bergerak menuju Abiko Station dan segera menaiki chikatetsu menuju Umeda Station. Beli tiket one day pass ¥600.
  • 14.24 Umeda Station.

Nah, seperti biasa, saya selalu menyelipkan kekonyolan disetiap perjalanan, tidak terkecuali untuk hari ini. Ketika keluar dari jalur Midosuji Line Umeda, one day pass saya ditolak. Karenanya, saya bertanya pada eki-in. Parahnya, saya men-charge kartu yang salah, tanggalnya beda!! OMG.. Saking banyaknya koleksi kartu subway!

Beralih ke Umeda Station. Bagi saya, stasiun ini menjadi stasiun terbesar yang pernah saya lewati di Jepang. Selain menjadi lintas dari berbagai jenis transportasi, di stasiun ini juga terbagi menjadi banyak unit. Jadi, harus punya petunjuk yang cukup; jika tidak, segera bertanya ke bagian informasi atau eki-in.

Nah, setelah linglung ga jelas, kami yang hanya mengandalkan internet map dan berbekal notes, menyerah dan lebih memilih option mencari info ke bagian informasi, dan ini sangat sangat efektif.

  • 15.00 Naik hankyu, tiket ¥290.
  • 15.06 Berangkat.. Gila, pemandangannya keren bo’.. Barisan pohon sisa-sisa koyo yang penuh warna.. Andai kami melewati tempat ini saat pertengahan aki..
  • 15.50 Yamada Station. Beli tiket osaka monorail ¥270. Kami segera mencari informasi melalui bagian informasi. Kami diberi peta lengkap dengan petunjuknya.
  • 15.53  Bampaku-kinen-koen Station.
  • 15.58 Norikae (transit) menuju Toyokawa Station.
  • 16.04 Toyokawa Station.

Kami menanyakan akses ke Mesjid Osaka pada eki-in. Tapi, tetap saja, bingung.. Karena, tempat ini melewati komplek perumahan yang cukup sepi. Selain itu, udara yang semakin dingin membuat kami harus berusaha lebih gigih agar cepat sampai ditujuan.

Dibalik kesulitan selalu ada kemudahan, kami bertemu dengan seorang warga yang bisa ditanya, akhirnya perjuangan yang tidak seberapa tadi terbayarkan, tadaa.. Mesjid Osaka!! Bak menang dari sebuah challenge, kami bersorak gembira. “Subhanallah, kami sekarang disini.. Di Mesjid Osaka!!!”

  • 16.15 Mesjid Osaka..

Berbeda dengan banyak mesjid di Indonesia, bahkan mesjid ini lebih mirip rumah bertingkat 2. Masuknya dari pintu samping. Ada tempat parkir yang bisa memuat sekitar 3-6 mobil. Di sebelah kiri bagian belakang ada toilet dan tempat berwudlu laki-laki.

Kami sempat nyaris kecewa, karena pintu mesjid tidak bisa dibuka dan sangat sepi. Mengingat waktu Ashar pukul 15.15, “apa mesjidnya tutup ya?! Mungkin bukanya pas waktu shalat saja untuk berjama’ah??”. Seketika saya sempat beropini demikian meskipun sangat tidak mungkin.

Lalu, tiba-tiba datang seorang laki-laki bertubuh tegap dan berkulit hitam menuju pintu mesjid. Sapaan orang itu “Assalaamu’alaikum” layaknya seorang mukmin, membuyarkan wajah kami yang saya rasa sempat bengong ga jelas saat pertama kali melihat orang itu  turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah kami. Kami menjawabnya dengan sumringah.

Selain lega dan bangga bertemu dengan muslim lain, dalam pikiran saya mulai terlintas “Alhamdulillah.. Mungkin dia penjaga mesjidnya, akhirnya kami bisa masuk mesjid ini, senangnya..”.

Bak kaca yang tiba-tiba retak, spekulasi tersebut membawa kami pada kenyataan bahwa mesjid itu sama sekali tidak terkunci, hanya saja kami yang tidak tau cara membuka pintunya 😀

Melihat mukmin tadi masuk ke dalam, kamipun bergegas mengikuti. Bak pertama kali memasuki sebuah tempat baru yang wah, saya menelisik setiap sisi, “oh, begini ya Mesjid Osaka.. Waah, saya disini, sekarang saya disini!!” (lebaynya kumat).

Dekorasi mesjidnya memang menyerupai rumahnya orang Jepang. Salah satunya, gengkang.

Dan, alhamdulillah.. Ketemu orang Indonesia!! Senangnya bukan main, serasa berada di Indonesia..

Di mesjid ini, tempat shalat laki-laki berada di lantai 1 dan perempuan di lantai 2, masing-masing ada toilet dan tempat berwudlunya. Hanya saja, tempat berwudlu di lantai 2 terbilang kecil, jadi hanya bisa satu-satu orang saja. Selain itu, tempat wudlu-nya juga hanya berupa wastafel. Jadi harus punya cara seefektif mungkin agar tidak membasahi sekitarnya.

Entah kenapa, rasanya ada yang berbeda. Niat, ucapan dan gerakan yang sama terasa berbeda setelah disini. Tempat yang terbilang sederhana ini terasa begitu damai, seolah beban yang sangat berat sekalipun terangkat dalam sekejap, terasa sangat ringan..

Tadinya, kami berniat hanya Shalat Ashar saja disini dan segera melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kobe. Namun, tiba-tiba Q chan punya ide “bagaimana kalau kami melewati rute yang berbeda dari agenda awal?!”

Ide yang briliant! mumpung hari ini harinya, tak ada salahnya mencoba hal-hal baru, tapi.. Saat ini kami memiliki banyak keterbatasan, terutama akses internet yang mulai memprihatinkan.

Kamipun menilik ulang setiap rute yang telah kami buat. Disaat kami berpikir alternatif mana yang paling efektif, seorang ibu-ibu muslim memasuki ruangan. Dan, alangkah surprise-nya kami, ternyata si ibu juga orang Indonesia, Sunda. Jadilah itu sebuah reunian antara Q chan, Nisa dan tentunya si ibu.

Dari sini, saya kembali menemukan point dari perjalanan ini. Menyimak percakapan 3 muslimah dari rumpun yang sama itu telah mengajarkan kepada saya tentang ‘uniknya bahasa’. Saya tidak tau arti percakapan mereka, namun saya mengerti inti pembicaraannya.

Tanpa sadar, diskusi ini telah menyita setidaknya sepenggal kecil perjalanan kami menuju Kobe. Namun, itu bukanlah hal besar, kalah besar dari moment yang kami dapatkan. Selanjutnya, karena waktu Maghrib telah datang (16.46), kami memutuskan untuk shalat dulu sebelum berangkat.

Setelah pamit dengan si ibu dan anaknya yang lucu, Taku kun; kami melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kobe. Yang jadi masalah, kami lupa menanyakan arah halte bus yang dimaksud. Walhasil, suhu yang semakin dingin membuat kami nyaris kembali ke rute awal.

Tiba-tiba, untuk kesekiankalinya ini menjadi sebuah kebetulan. Seorang wanita paruh baya, orang Jepang, bersepeda dengan arah yang berlawanan dari kami dan dengan antusiasnya mengucapkan “Assalaamu’alaikum..”. Kemudian, beliau memperlambat sepedanya dan menyapa kami dalam bahasa inggris.

Nah, ini bakal jadi hal unik lainnya dihari ini. Bahasa itu ibarat ‘bisa karena terbiasa’. Kami yang mulai terbiasa dengan bahasa jepang, kadang menanggapi si ibu dengan bahasa inggris, tapi terkadang malah spontanitas berbicara dalam bahasa jepang, yah meskipun dengan bahasa yang sangat sederhana. Tapi, si ibu malah konsekuen dengan bahasa inggrisnya yang sesekali kental dengan hyougen jepangnya.

Awalnya, kami merasa mendapat sedikit pencerahan. Ibu-nya sangat komunikatif, tapi.. Semakin kesini kami merasa percakapan dengan si ibu sedikit agak.. Ditambah dengan sikap si ibu yang terburu-buru mengayuh sepedanya tapi tetap berbicara seolah topik itu ditujukan pada kami.

Kamipun mulai berpandang-pandangan, seolah merasa memiliki pemikiran yang sama. Namun, Q chan yang dengan antusiasnya untuk melewati rute baru, tetap kekeh mengikuti si ibu. Kami yang mulai khawatir mengikuti petunjuk yang salah tetap menunggu Q chan kembali.

Karena khawatir, akhirnya kamipun menyusul Q chan. Kami mulai mengira jangan-jangan si ibu berpikir kami tidak tau jalan ke Mesjid Osaka padahal kami baru saja dari sana.

Saya mendampingi Q chan yang tetap terlibat percakapan dengan si ibu. Saya menargetkan, jika si ibu malah mengantar kami ke Mesjid Osaka lagi, tidak ada jalan lain, harus kembali ke rute awal. Dan, terkadang Tuhan menunjukkan jalan melalui cara-cara yang unik, yang tak pernah bisa kita tebak.

Si ibu mengatakan, rute menuju halte bus itu searah dengan rute yang akan dia lewati. Kami harus berjalan berlawanan arah dari rute sebelumnya. Lalu, beliaupun berhenti sejenak di lokasi sebelum mesjid dan menjelaskan rute setelah ini. Sebelum berpisah, si ibu mengatakan bahwa dia seorang perawat yang sudah pensiun, dulunya beliau seorang PhD. “Subhanallah..”

Kejadian ini benar-benar menepuk saya dengan sangat keras. Selama ini, saya selalu berprinsip “don’t judge peoples by their look“, tapi kali ini, saya sendiri yang melangkahinya. Dari lubuk hati yang terdalam, saya minta maaf dan sangat berterima kasih pada si ibu, juga bersyukur untuk moment ini.

Kamipun akhirnya sepakat, mungkin si ibu terburu-buru karena mengejar waktu Maghrib, makanya tidak sempat menjelaskan dengan gamblang.

  • 17.00 Berangkat..
Menuju Mesjid Kobe
  • 17.25 Basu noriba (halte). Kami berlarian seperti anak-anak yang enggan ketinggalan bus sekolah. Naik Bus Ibaraki.

Kali ini kali kedua saya menaiki bus. Bus ini mirip dengan busway di Indonesia. Bedanya, desainnya, cara pembayarannya, dsb. Dari pintu masuk, bagian kanan pintu, tepatnya dari tengah ke belakang bus, tempatnya lebih tinggi. Setiap tempat duduk bahkan bagian pegangan tangan diberi tombol yang bisa dipencet jika sampai di halte tujuan.

Pembayarannya, bagi yang memiliki kartu, ketika naik bus langsung menempelkannya ke alat khusus. Tapi jika membayar chase, penumpang membayarnya saat akan turun sesuai harga yang telah ditetapkan. Jika memiliki uang dengan nominal besar, minta bantuan pada sopir, nanti akan ditukar nilainya, dibayar sesuai harga dan diberikan kembalian. Semuanya menggunakan mesin otomatis.

Selama perjalanan, kami mendiskusikan banyak hal. Seandainya masih ada waktu, beberapa hal sebelum kami benar-benar meninggalkan shelter:

  • Sekali lagi ke Mesjid Kobe, berpose di Kobe Tower.
  • Mushalla di Stasiun Namba. Menurut info yang Q chan dengar, mushalla ini ada di basement.

Selama perjalanan, saya dan Q chan juga merancang planing buat tahun depan. Sesekali kami dan penjejak lainnya akan pergi ke tempat dan event-event, seperti:

  • MotoGP yang akan diadakan di Tokyo.
  • Korea.
  • Cina.
  • Menikmati momiji di Kyoto dengan mengenakan fashion ala wanita Jepang di zaman Edo.
  • Mesjid Kobe setiap ada waktu.
  • Air Terjun Mino saat momiji, pastinya lebih indah pergi disiang hari.

Next..

  • 18.00 Izumiya.
  • 18.05 Naik JR (Japan Rail) dari Ibaraki Station ke Kobe-Sannomiya Station (JR-Kobe Line). Pilih line 2. Go.. Saking ramainya, kami baru dapat tempat duduk setelah hampir setengah perjalanan. Dan, langsung meneparkan diri.
  • 18.56 Kobe-Sannomiya Station.

Kami segera mencari informasi melalui bagian informasi. Kami diberi peta lengkap dengan petunjuknya.

Sepanjang jalan terlihat berbagai tempat penginapan dan aneka restoran dengan aroma yang yummy.. Dan, kami baru sadar, perut kami mulai lapar..

  • 19.30 Akhirnya, Mesjid Kobe.. Alhamdulillah..

Mesjid ini terletak dibalik gedung NHK, TVRI-nya Jepang, tidak jauh dari bangunan Jinja.

Seperti halnya Mesjid Osaka, kejadian yang samapun terulang kembali. Kami bersorak gembira seolah baru saja diumumkan lulus dari TA (Tugas Akhir). Tapi.. Lagi-lagi pintu mesjidnya tertutup!!

Setelah melihat seorang muslim keluar dari pintu samping, akhirnya Imam berinisiatif untuk inspeksi. Kamipun mengikuti Imam, dan, ternyata, pintu masuknya dari sayap kanan mesjid sebelah belakang. Yokatta..

Melihat wajah bingung kami, para akhi di dalam segera membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. “Subhanallah.. Sekarang kami sudah di Mesjid Kobe!!”. Rasanya seperti mimpi! Benar-benar luar biasa.. Betapa bangunan ala timur tengah ini punya magnet yang bagi saya ‘ajaib’!

Akhi tersebut menanyakan apakah kami orang Indonesia dan segera memperkenalkan akhi lain yang juga dari Indonesia.

Seperti Mesjid Osaka, disinipun juga ada gengkang dan tempat shalat laki-laki di lantai 1 sementara perempuan di lantai 2. Segera setelah melepas sepatu, kami bertiga melewati anak tangga menuju lantai 2. Benar-benar tempat ibadah yang megah..

Disini, kami bertemu 2 orang muslimah yang berasal dari Sri Lanka. Mereka tenaga pengajar; mengenakan baju bernuansa gelap, sangat sederhana, tanpa make-up, tapi.. Siapapun bisa melihat inner beauty-nya. Dalam hati saya bertanya “kapan ya saya bisa seperti mereka??”.

Pertanyaan itu seolah memberi kesan saya benar-benar berniat ingin istiqamah seperti mereka atau malah mengejek diri sendiri. Saat berwudlupun saya jadi termangu melihat ke kaca. OK, deal! Suatu saat, entah kapan,  mungkin saya bisa seperti mereka.

Oh ya,  di mesjid ini tempat wudlu dan toilet dipisah dan lebih luas. Di ruang toilet, terdapat beberapa toilet yang dilengkapi dengan wastafel. Di ruang wudlu, terdapat banyak kran yang bisa diatur suhu airnya. Berdampingan dengan kaca rias dan fasilitas mukena.

Selesai Isya, saya dan Nisa mengenakan jilbab di tempat rias. Tiba-tiba, seorang muslimah menghampiri kami dan mengajak makan malam bersama, sudah disediakan hidangan untuk kami, karena sulit mencari tempat makan halal disekitar sini.

MasyaAllah.. Saya dan Nisa kaget, antara surprise dan sungkan, juga happy.. Semua yang terjadi di hari ini benar-benar sebuah kebetulan yang juga seolah sudah dipersiapkan untuk kami.

Sungguh, nikmat-Mu mana lagi yang kan kami dustakan?? Seolah Tuhan sengaja menjamu kami sedemikian rupa karena bertamu ke rumah-Nya, benar-benar tak terungkapkan, sangat bahagia.. Ini jauh dari ekspektasi awal yang notabennya kami hanya ingin menapaki jejak di rumah-Nya sebelum hijrah ke dunia kerja masing-masing.

Dan, lihat.. Tanpa kami beritahu pada siapapun kalau kami sedang lapar dan berniat mencari tempat makan dengan menu-menu baru, Dia sudah menggerakkan bala-bantuannya. Betapa beruntungnya kami, sangat sangat beruntung..

Kejutan ini belum usai. Dalam perjalanan menuju ruang makan, saya memberikan titipan buku dari seorang hamba Allah untuk mesjid. Kemudian, muslimah tersebut mengantarkan kami pada seseorang, orang Jepang yang fasih berbahasa Indonesia, subhanallah..

Kami dijamu dengan hidangan Pakistan. Nasi campur yang dibumbui dengan bumbu (seperti bumbu sup), kare ayam (mirip gulai ayam di Padang) dan roti Pakistan (mirip roti cane di Indonesia) menjadi menu utamanya.

Sebelumnya, kami sempat mencemaskan Imam. Dengan sungkan, kami tetap menyampaikan bahwa kami disini ada berempat dengan seorang teman laki-laki. Mereka mengerti apa kami pikirkan dan menyampaikan bahwa laki-laki juga dijamu di lantai 1, karena yang masak masakan inipun juga laki-laki. Kami bertiga sepertinya sepakat ‘WOW!’

Dalam nasi campur itu ada bumbu yang bentuknya mirip bumbu sup di Padang, namanya gardambumbu. Tapi, ini jelas berbeda, yang ini teksturnya mirip kacang mente dengan rasa seperti kacang tanah. Hayooo.. Unik, benar-benar unik! Selain itu, tekstur dan rasa nasinya juga berbeda. Selain ini juga ditambahkan kismis dan potongan daging dengan ukuran sedang.

Saking sungkannya, saya sampai lupa sudah berapakali mengucapkan terima kasih. Dan, watak Indonesia saya yang satu ini, saya rasa agak sedikit berlebihan. Jadi, bagi siapapun, jangan sampai melakukan hal yang sama ya, sungkan itu memang perlu tapi tidak berlebihan.

Setelah makan, datang seorang anak kecil yang imut banget mengantarkan desert yang mereka sebut sweet. MasyaAllah.. Ini benar-benar.. Dalam Bahasa Minang, makan lamak. Rasanya, wenak banget, benar-benar sesweet rasanya!! Ini seperti terbuat dari santan pekat yang diolah dengan bumbu rempah (seperti ada potongan jahe yang cukup halus tapi tidak terlalu khas).

Dalam percakapan kali ini, kami bercerita banyak hal. Dari sini kami tau bahwa muslimah Jepang tersebut bisa berbahasa Indonesia sefasih itu hanya dengan mendengar. Luar biasa.. 

Selain itu, ternyata, dihari biasa, disini dibuka kelas, seperti kelas Qur’an dan hadist untuk umum.  Dihari kerja, pukul 1 s/d 3 dan sabtu mulai pukul 3. Tapi, tetap harus konfirmasi dulu sebelumnya.

Saya begitu antusias dengan budaya makan bersama tadi, mengingatkan saya pada kampung halaman. Jika ada tamu atau acara tertentu, sering dihidangkan seperti ini.

Spontan saya bertanya, apakah selalu begini? Atau dihari tertentu saja? Dan, jawabannya seolah membuat saya bungkam. Acara makan-makan tadi adalah perdana, alias pertama kali dilakukan disini, alias sebelumnya tidak pernah. Dan, merekapun juga tidak tau siapa yang mengadakan dan kenapa bisa ada acara makan-makan tadi. Ok, I’ve got the answer.

  • 20.45 Go..
Kobe Luminarie

Agenda awal, setelah Mesjid Kobe, harusnya kami ke Kobe Tower. Namun, karena jaraknya yang jauh sekitar 1 jam lebih, akhirnya kami menundanya. Kemudian bergerak menuju Kobe Luminarie.

Untuk kesekian kalinya, kami yang buta arah dipertemukan dengan orang Indonesia disebuah persimpangan. Mereka memberi petunjuk arah yang paling efisien. Setelahnya, kami tetap mengonfirmasi pada polisi yang menjaga keamanan acara. Mereka standbye diberbagai tempat dan tetap welcome meskipun sedang sibuk mengatur masa.

  • 21.10 Menuju Kobe Luminarie.
  • 21.30 Kami bergerak cepat, mengingat info dari polisi tadi, acara ini hanya sampai pukul 10. Dan, Kobe Luminarie!! Wow,  festival lampu ini benar-benar kerreen!! Event ini diadakan dalam rangka HUT ke-150 Pelabuhan Kobe. Ada juga aneka jajanan kuliner jepang..

Lampu-lampu megah itu mengantarkan saya pada sebuah analogi. Mereka seperti mimpi dan harapan yang menjadi nyata dan menerangi ratusan masa yang membanjiri sekitarnya. Mereka hanyalah sebuah benda yang bisa dimodifikasi oleh manusia. Begitupun mimpi dan harapan, sebuah motivasi yang juga bisa dikendalikan oleh manusia.

  • 21.55 Setelah jauh mengelana, akhirnya kaki kamipun mulai terasa kram. Berarti, kami harus mengakhiri perjalanan luar biasa ini.

Lagi-lagi, untuk kesekiankalinya, tak terhitung lagi.. Disaat kami mulai mencari arah pulang, reflek perhatian tertuju pada Imam dan orang yang tidak kami kenal. Orang itu orang jepang yang fasih berbahasa Indonesia dan terlihat memberi petunjuk. Ternyata, dari Imam, orang itu tiba-tiba menyapa dan menanyakan tujuan kami lalu langsung menjelaskan rutenya. Alhamdulillah.. Ada saja bantuan tak terduga..

  • 10.14 Kobe-Sinnomiya Station ¥320 naik hankyu di jalur 4.
  • 10.18 Menuju Umeda Station.
  • 10.53 Umeda Station.
  • 11.00 Chikatetsu menuju Abiko Station. Tanpa komentar apapun, setelah mendapat tempat duduk, kamipun rehat sejenak meninggalkan keremaian kereta.
  • 11.27 Abiko Station.
  • 11.45 Shelter.
Sepenggal Cerita tentang Stasiun Umeda

Sebulan yang lalu, tepat ditanggal yang sama, saya punya agenda dadakan yang mengantarkan saya ke Umeda Station. Tanpa akses internet dan informasi yang minim, saya bergerak menuju lokasi. Maklum, selama ini saya tidak punya akses ke stasiun  besar ini.

Bahkan dengan bekal notes ples nanya ke bagian informasi-pun terkadang tidak menjamin lokasi tersebut mudah ditemukan. Untungnya, seorang teman yang kebetulan punya destinasi ke Yodoyabashi, berbaik hati mengantarkan saya. Jika tidak, entahlah.. Hanya ada 2 kemungkinan, bakal menghabiskan banyak waktu atau batal.

Hikmah

Perjalanan kali ini memberikan pelajaran luar biasa:

  • Perjalanan panjang bukan hanya tentang diri sendiri, interaksi dengan sesama, keindahan tanpa batas, dsb; tapi juga tentang seorang umat dan Sang Khalik.
  • Mau travelling, nge-trip, walking out, dll; yang namanya pergi bareng itu memang harus punya management kekompakan alias kerja tim.
  • Jika Tuhan meridhai apa yang kita tuju, dalam setiap kesulitannya Tuhan selalu menyelipkan kemudahan.
  • Terkadang Tuhan menunjukkan jalan melalui cara-cara yang unik, yang tak pernah bisa kita tebak.
  • Segala sesuatu tergantung pilihan dan usaha. Usaha yang lebih so pasti dapat hasil yang lebih.
  • Sesuatu yang terlihat buruk bisa jadi memiliki banyak manfaat dibaliknya. Sebaliknya, sesuatu yang diyakini baik juga belum tentu baik pada akhirnya.
  • Jangan mudah menilai sesuatu, meremehkan hal kecil bisa jadi membuat kita kehilangan kesempatan besar yang belum tergali didalamnya. “Don’t judge peoples by their look”
  • Sesama muslim adalah saudara. Dimanapun dan kapanpun, dengan latar budaya apapun, kita semua sama. Hanya dengan seutas senyum atau dengan mengucapkan “Assalaamu’alaikum”, sebuah silaturrahim-pun begitu mudah terjalin.
  • Sebagai insan yang memiliki budaya timur, rasa sungkan itu memang perlu tapi tidak berlebihan.
  • Mimpi dan harapan itu seperti cahaya yang menerangi kegelapan dan menyinari sekelilingnya.
  • Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan tepat pada waktunya, bukan yang kita inginkan.
Moment to Remember
  • Best moment with Q chan, Imam dan Nisa. Para musafir sehari dengan segala berkah-Nya yang melimpah.
  • Ibu asal Sunda yang giat mencarikan kami informasi. Bersama si cilik Taku kun yang lucu.
  • Salah men-charge kartu.
  • Mengejar bus setelah salah paham pada si ibu bersepeda.
  • Aroma masakan nan yummy  sempat terlintas untuk makan dulu sebelum sampai Mesjid Kobe. Tapi, setelah meluruskan niat, akhirnya dijamu dengan masakan Pakistan yang enak banget..
  • Bertemu muslimah-muslimah inspiratif, seperti Aisyah, Aminah,  Hana dan muslimah lainnya.
  • Kembali ke Umeda Station, tapi kali ini tidak sendiri, bersama para musafir sehari.
Catatan
  • Chikatetsu = Kereta api bawah tanah.
  • One day pass = tiket yang berlaku kemana saja dengan chikatetsu, tetapi terbatas untuk subway saja, berlaku sampai pukul 12 malam, alias seharian.
  • Notes = Buku catatan (agenda perjalanan).
  • Option = Pilihan.
  • Hankyu = Kereta api cepat.
  • Koyo = Daun-daun yang berubah warna menjadi merah pada aki.
  • Aki = Autumn, musim gugur (peralihan musim panas ke musim dingin).
  • Hyougen = Logat.
  • Monorail = Transportasi darat yang lebih menyerupai satu gerbong kereta yang dijalankan oleh masinis, rel-nyapun memiliki bentuk yang  berbeda.
  • Norikae = Transit,  pindah jalur.
  • Eki-in = Penjaga stasiun.
  • Gengkang = Sedikit space antara pintu dan bagian depan ruangan rumah khas Jepang, tempat meletakkan alas kaki (sepatu, sandal, dll).
  • Yokatta = Lega.
  • Akhi = Panggilan untuk laki-laki muslim.

Mesjid Osaka ‘Osaka Ibaraki Mosque’

Bagi para muslim dan muslimah yang merantau ke Jepang, mungkin untuk awalnya belum banyak yang mengenal Osaka Ibaraki Mosque (lebih familiar dengan nama Mesjid Osaka), karena memang belum sepopuler Mesjid Kobe.

Mesjid Osaka terletak di Toyokawa, Ibaraki City, Osaka, Jepang. Mesjid ini berada di dekat Osaka University dan the Expo Commemeration Park.

Berbeda dengan banyak mesjid di Indonesia, mesjid ini lebih mirip rumah bertingkat 2. Pintu masuk terletak di bagian samping kiri bangunan. Ada tempat parkir bagian depan yang bisa memuat sekitar 3 mobil dan bagian depan pintu masuk sekitar 6 mobil. Di sisi kiri bagian belakang ada toilet dan tempat berwudlu laki-laki.

Jika dilihat sekilas, mesjid ini terkesan seperti rumah yang tidak berpenghuni. Bukan karena tidak ada kegiatan ibadah atau tutup dan sebagainya. Tapi memang begitu adanya. Jadi, buat para musafir yang pertama kali dan sama sekali tidak tau, silahkan mengetuk pintu atau langsung membukanya saja sambil mengucapkan “Assalaamu’alaikum”.

Dekorasi mesjid ini menyerupai rumahnya orang Jepang. Dari pintu masuk ada gengkang.

Di sisi kiri gengkang terdapat tempat shalat laki-laki. Sementara, dengan menaiki anak tangga, di lantai 2, ada tempat shalat wanita (1 ruangan) dan tempat mengaji dan kegiatan ibadah lainnya (sekitar 2 ruangan).

Di lantai 2 juga ada toilet dan tempat berwudlu. Hanya saja, ukurannya cukup kecil, terdiri dari toilet dan wastafel. Selain itu,  karena tempat berwudlu ini hanya berupa wastafel, harus punya cara seefektif mungkin agar tidak membasahi sekitarnya.

Akses

Akses dari Abiko Station (Midosuji Line

  • Abiko Station → Umeda Station dengan chikatetsu (Midosuji Line). Lama perjalanan sekitar 25 menit. Tiket subway (one day passweekend ¥600, hari kerja ¥800; atau, tiket reguler ¥320.
  • Norikae ke Senriyama LineUmeda Station  Yamada Station dengan hankyu, tiket ¥290.
  • 2x transit Yamada Station → Bampaku-kinen-koen Station (3 menit) → Saito LineToyokawa Station (8 menit) dengan Osaka Monorail, tiket ¥270.
  • Dari depan pintu keluar Toyokawa Station (sekitar 10 menit) berjalan lurus (melewati perumahan penduduk), pilih jalur kiri di pertigaan (simpang 3), berjalan lurus hingga menemui gang kedua di sisi kanan. Terlihat dengan bangunan bertuliskan Osaka Ibaraki Mosque dalam 3 bahasa (Arab, Inggris dan Jepang).

Akses dari JR/Hankyu Ibaraki

  • JR/Hankyu Ibaraki → Naik bus no. 93 → Turun di Toyokawa Shinryoojyomae.

Akses dari Bampaku-kinen-koen Monorail Station

  • Bampaku-kinen-koen Station (Monorail) → kereta menuju arah Saito Nishi → turun di Toyokawa Station (1 stasiun sebelum Saito Nishi).
Gallery
Catatan
  • Chikatetsu = Kereta api bawah tanah.
  • One day pass = tiket yang berlaku kemana saja dengan chikatetsu, tetapi terbatas untuk subway saja, berlaku sampai pukul 12 malam, alias seharian.
  • Hankyu = Kereta api cepat.
  • Monorail = Transportasi darat yang lebih menyerupai satu gerbong kereta yang dijalankan oleh masinis, rel-nyapun memiliki bentuk yang  berbeda.
  • Norikae = Transit,  pindah jalur.
  • Gengkang = Sedikit space antara pintu dan bagian depan ruangan rumah khas Jepang, tempat meletakkan alas kaki (sepatu, sandal, dll).
Referensi
Recommended Link

Udong Miyako Soba

Udong  Miyako Soba merupakan sebuah warung masakan tradisional jepang yang terletak di Abiko, warung keempat setelah plang bertuliskan あびこ dari alur sebelah kanan. Menu utamanya ada:

  • そば都スペシャル (Soba Miyako Spesial)
    • Berisi soba (mie biasa dengan warna agak keabu-abuan), tahu tipis yang lebar, tempura, telur, potongan daun bawang dan kuah yang bening.
    • ¥480 (480 yen)/porsi.
  • うどん都スタミナ (Udon Miyako Stamina)
    • Berisi udong (mie yang lebih besar), tempura, telur, potongan daun sup dan kuah yang bening.
    • ¥400 (400 yen)/porsi.

Boleh dibilang masakan ini halal, karena tidak terbuat dari buta (babi) ataupun shake (tuak). Selain ini, juga tersedia menu andalan lainnya, seperti: udon kare; namun, buat yang muslim ataupun advent, sebaiknya mengkonfirmasi dahulu sebelum memesannya.

Disini, untuk cara pemesanan, pilih menu, tunggu sampai masakan dihidangkan, ambil porsi dan langsung bayar sesuai harga. Tempat pemesanan dibuat terpisah dari tempat makan.

Sayangnya, buat penggemar makanan pedas, disini tidak tersedia menu pedas, bahkan jika direquest sekalipun. Tapi tersedia bubuk cabe yang telah dicampur dengan biji wijen.

Catatan
  • うどん都そば /Udong Miyako Soba/
  • あびこ /Abiko/.
  • 豚 /buta/ atau ポーク /poku/ = babi.
  • 酒 /sake/ = tuak.
Lain-lain
  • Recommended by Maria san.

Momiji ‘Autum-nya Jepang’

Momiji is one of favorite event in autumn in Japan

Musim gugur di Jepang disebut dengan 秋「あき」/aki/ (autumn). Jika di musim semi identik dengan sakura, di musim gugur populer dengan momiji sebagai icon-nya. Di musim ini, momiji menjadi event yang paling ditunggu.

Banyak yang beranggapan bahwa semua daun yang berubah warna menjadi kemerahan adalah momiji. Padahal, momiji itu sendiri adalah nama daun yang berbentuk seperti tangan dengan pinggiran bergerigi dan ujung daun yang lancip. Sedangkan, selain momiji, daun lain yang juga berubah warna, disebut dengan 紅葉「こうよう」/kooyoo/.

Biasanya, di musim peralihan ke musim dingin ini, banyak wisatawan mendatangi Kyoto, kota tua-nya Jepang, khusus untuk mengabadikan moment indahnya musim gugur. Menurut berbagai sumber, tanggal 26 bulan ini menjadi puncak あき yang berarti momiji terindah untuk tahun ini.

Hal unik lainnya, beberapa daerah seperti Air Terjun Mino (Mino Park), menjadikan tempura momiji sebagai kuliner andalan. Daun ini dijadikan gorengan seperti keripik bayam di Indonesia. Bedanya, tempura momiji memiliki rasa yang nyaris hambar. 

Restoran Bonanza 「レストランボナンザ」

Restoran Bonanza terletak di seberang NTT西日本大阪病院 (Osaka Hospital), Tennoji, Osaka-Jepang. Restoran dengan konsep rumahan ini menawarkan menu hamburger sebagai menu utama.

Bagi yang muslim ataupun advent, bisa mengonfirmasi terlebih dahulu makanan tanpa 豚肉/ポーク (babi) ataupun 酒 (tuak). Biasanya, akan direkomendasikan menu seperti:

  • Hamburger daging sapi 「牛ハンバーガ」/gyuu hambaaga/.
  • Ayam saus「チッキンかつ」/cikken katsu/
  • Kroket Kepiting「かにクリームクロッケト」/kani kuriimu krokketo/ ¥700
  • Goreng udang「フライえび」/furay ebi/ ¥900

Menu ini disajikam dalam bentuk 1 set bento (bekal), yang terdiri dari: menu pilihan, nasi, miso sup dan air mineral. Rasanya cukup pas dengan lidah Indonesia, tidak terlalu berbumbu/pedas/manis (recommended buat pecinta selera nusantara).

Dekorasi restoran inipun terbilang unik. Ada lukisan Lutfi One Peace (anime Jepang yang sangat populer di Indonesia); juga lampu hias yang simple tapi manarik.

Gallery

マーブルビーチ (Marble Beach)

Jepang terkenal dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologinya, bukan?! Nah, buat para traveller, mungkin sudah tidak asing lagi dengan Kansai International Airport. Tapi.. mungkin juga masih ada yang belum tahu bahwa Bandara Internasional Kansai ini dibangun di atas laut, keren bukan?!

Yap, cerita bandaranya memang keren, tapi tak kalah keren dengan pemandangan pantai diseberangnya yang bernama Marble Beach. Pantai dengan pesona elok ini menyuguhkan keindahan tersendiri saat memandangnya. Onggokan bebatuan putih unik yang tertata apik.. Panorama laut biru.. Nuansa hijau aneka tanaman tamannya.. dan potret kemegahan gedung juga jembatan di beberapa penjurunya. Kombinasi alam dan kemajuan IPTEK yang OK punya!

Marble Beach terletak di Izumisano City, Osaka-Jepang. Namun, masih termasuk dalam kawasan Rinku Park, sekitar setengah jam (berjalan kaki) dari Rinku Town Stasiun dengan melewati Rinkai, area bussiness dengan merkmerk ternama.

Biasanya, di musim panas, destinasi ini menjadi salah satu pilihan favorit untuk mengadakan perayaan musim panas, baik bagi para pelancong lokal maupun wisatawan asing. Kegiatan yang paling digemari adalah BBQ party (pesta Barbecue, baca: berbekyu). Selain itu, juga ada yang bermain volley pantai.

Menurut Sensei Sawada, dulunya pengunjung sering bermain air (mandi-mandi) di pantai ini. Namun, seiring berkembangnya dunia industri, semakin banyak pabrik dan sejenisnya, sehingga terjadi polusi laut. Karenanya, jarang terlihat aktifitas seperti di pantai pada umumnya, kecuali jet ski.

Gallery

たこ焼き (Takoyaki)

Takoyaki merupakan makanan tradisional dari Osaka, Jepang. Cemilan berbentuk bola ini tergolong unik, terutama cara pembuatannya.

Bahan utama yang diperlukan untuk membuat takoyaki adalah tako alias gurita. Kemudian, tepung (ada yang dijual dalam kemasan khusus), telur kira-kira 3 butir (sesuaikan dengan petunjuk dibungkus tepung khusus takoyaki, atau sesuai selera), air matang, abon ikan (halus), bawang putih crispy, negi (daun bawang khas Jepang), asinan jahe dan minyak goreng.

Sementara, panci yang digunakan, khusus untuk pembuatan takoyaki yang memiliki bentuk setengah bulat. Jumlah diameter bulatan dalam setiap cetakan relatif, tergantung desain dari produk yang digunakan. Selain ini, ada pengait khusus yang nantinya dipakai untuk membolak-balikkan takoyaki yang setengah kering.

Awalnya, tuang tepung khusus takoyaki ke dalam wadah. Tambahkan telur dan air, aduk rata. Potong tako dengan dengan ukuran sedang. Berikut, potong negi, jangan terlalu halus.

Agar adonan tidak lengket dan mudah diangkat, taburkan minyak goreng seadanya ke dalam cetakan. Settingan api sedang. Lalu, tambahkan bawang goreng crispy, adonan tepung, tako, abon ikan, asinan jahe dan negi.

Ketika masakan setengah matang, gunakan pengait khusus untuk membolak-balikkan takoyaki hingga kering. Dalam hal ini, juga perlu keahlian khusus.

Setelah takoyaki sudah berbentuk bola dan warnanya berubah kecoklatan, angkat dan sajikan. Biasanya, makanan yang enak dikonsumsi selagi hangat ini, ditaburi dengan mayonaise (mayones) dan saus khusus takoyaki yang berwarna coklat. Tapi, di toko tertentu, atau orang tertentu, terkadang mengombinasikannya dengan saus tertentu sesuai keinginan.

Selain penyajian, sebagian besar cara pembuatanpun berbeda-beda. Umumnya, yang dijual di berbagai tempat, terbuat dari adonan tepung yang sudah dicampur dengan bahan-bahan tertentu (seperti: telur) dan tako. Setelah matang, ditambahkan saus khusus dan mayonaise, baru ditaburi negi dan abon ikan (kasar). Sementara asinan jahe, kadang dipisahkan dalam penyajiannya.

Di Indonesia, takoyakipun menjadi salah satu makanan yang cukup favorit, tentunya dengan versi yang beragam pula. Ada yang menambahkan sayur seperti potongan kol ke dalam adonannya. Tapi, soal rasa, tidak terlalu jauh berbeda, karena dibuat dengan bahan utama yang sama, yaitu tako.

Referensi
  • Resep ini diadopsi dari Resep Takoyaki ala ももよ先生。

Ayam Goreng Enak di Abiko

Di seberang Stasiun Abiko pintu 1, tepatnya di lantai 2 Plaza Abiko, ada restoran yang namanya Saizeriya. Disini ada menu ayam goreng murah, hanya ¥299 dapat 5 potong sayap dengan rasa yang cukup sesuai dengan lidah Indonesia. Recommended banget buat pendatang dari Indonesia yang lagi nyari menu murah tapi rasa Indonesia. Sayangnya, buat yang suka pedas, disini memang disediakan cabe bubuk yang sama sekali tidak pedas.

Selain itu, juga ada pizza, tentunya masih dengan harga ekonomis! Ternyata, restoran ini juga ada di Namba, lho..

Gallery
Lain-lain
  • Recommended by Fatma, a.k.a Lidi.

Berlayar ala Sungai Tombori

Sungai Tombori mengalir di sepanjang daerah Namba yang dihubungkan oleh beberapa jembatan, diantaranya yang paling terkenal adalah Jembatan Ebisubashi, atau dikenal juga dengan Jembatan Glico. Boleh dibilang, lokasi ini jantungnya Osaka. Karena, selain adanya Patung Glico yang menjadi landmark Osaka, tempat ini juga menjadi pusat kuliner khas Jepang, pusat perbelanjaan, aneka restoran/cafe bergaya barat, dan lainnya.

Ada yang menarik setiap memandang aliran sungai itu, selang beberapa saat berlalu-lalang kapal pesiar ala Sungai Tombori. Para menumpang melambaikan tangan kepada para pelancong. Seolah sedang mengikuti festival dan mereka sebagai pusat perhatiannya.

Mungkin, bagi sebagian besar wisatan asing, tidak ada yang menduga dibalik atraksi para penumpang tersebut. Dan, ini bisa Anda jawab sendiri setelah mencoba menaikinya.

Tiket kapal bisa dibeli di sebuah loket kecil di seberang Patung Glico, tepat di sayap kanan Jembatan Ebisubashi. Harga tiket (Tombori River Cruise Ticket) dewasa ¥900 dan anak-anak ¥300.

Dengan menunggu antrian sesuai dengan alurnya, penumpang bisa berlayar ala Sungai Tombori. Lama pelayaran selama 20 menit dengan melewati 9 jembatan. Kapal ini beroperasional sekitar pukul 1 siang hingga 9 malam.

Mulai dari kapal berangkat hingga kembali ke tempat semula, dipandu oleh seorang pramuwisata yang tak henti berbicara sepanjang waktu tentang seluk-beluk cerita dibalik aliran Sungai Tombori. Apresiasi banget buat sang pemandu, beliau tetap mengoceh bahkan ketika para penumpang kapal sibuk menikmati perjalanan tanpa memperhatikan apa yang disampaikannya.

Salah satu hal yang paling menarik yaitu, sejarah Jembatan Ebisubashi. Desain pinggiran jembatan utama menyerupai sendok okonomiyaki, pizza ala Jepang; yang disusun terbalik ke arah atas. Sementara, di bagian kiri-kanan jembatan  susunan sendok diselang-selingi, atas dan bawah, sisi sebelahnya memiliki bentuk yang saling berlawanan. Benar-benar unik!!

Jadi, sebagai bocoran, para penumpang telah diatur kapan harus bertepuk tangan dan kapan melambaikan tangan. Semuanya berjalan dengan sangat apik sesuai panduan sang pramuwisata. Benar-benar 20 menit yang menyenangkan!

Keseruan semakin menjadi ketika mencicipi makanan khas Osaka, namanya Takoyaki. Makanan dengan pola bulat ini rasanya weenak tenaaann….!! Yang paling terkenal, dibeli di toko yang ada icon gurita gede di atap bagian depannya. Secara, tako itu jika dibahasa Indonesia-kan berarti gurita, yang menjadi isi dari takoyaki itu sendiri. Harganya ¥500/box, isinya sekitar 12 buah. Bisa request saus juga, lho..

Gallery

Catatan

  • Dokumentasi diambil dari Koleksi Photo Maria san.

Rekomendasi

Art Aquarium (アートアクアリウム)

Event ini diadakan dalam rangka HUT (Hari Ulang Tahun) Art Aquarium yang ke-10. Sebuah maha karya yang luar biasa ini diprakarsai oleh seorang seniman Jepang bernama Hidetomo Kimura. Beliau orang pertama yang mampu mengombinasikan seni, design dan interior ke dalam dunia kerjanya (akuarium) melalui pengalaman yang kaya dan pengetahuan tekhnologi tinggi.

Memasuki ruangan pertama, dalam nuansa nan eksotis, aneka ikan ditempatkan di dalam akuarium dengan aneka desain. Tidak hanya itu, selain keindahan berbagai ikan hias juga disuguhkan ornamen-ornamen unik yang sangat tepat. Salah satu akuarium yang paling menarik disini adalah akuarium berbentuk globe (ada peta Indonesia juga) yang setengah bagiannya dibuat buram (blur).

Lanjut ke ruang selanjutnya, berjalan menelusuri lorong dengan lebar sekitar 1 meteran. Disini tidak kalah menakjubkan! Di tengah-tengah jalan dibuat akuarium mini dengan ikan-ikan hias unik dan juga ornamen yang sangat menarik. Kemudian, di lorong berikutnya, disisi dinding kanan dan kiri dirancang dengan sangat apik akuarium dinding.

Diruang kedua, akuarium yang paling menarik ada 2, bentuk piramid dan beberapa segi. Dalam akuarium piramid, terdapat beberapa bulatan kaca yang menonjol. Jika dilihat sekilas akan tampak buram, tapi jika dilihat melalui bulatan kaca, akan terlihat sangat jelas dan ikan yang paling disorot adalah nemo.

Beranjak ke ruang utama, mata pengunjung dimanjakan dengan segala kombinasi nan megah. Ada beberapa akuarium disusun beberapa tingkat dan diatasnya bergelantung tirai lampu nan indah. Sementara di sisi yang berbeda, terdapat jenjang dengan berbagai jenis akuarium. Pada bagian puncaknya berdiri akuarium raksasa yang paling menakjubkan diantara akuarium lainnya. Sementara di bagian atas dindingnya, disusun dengan sangat rapi lampion-lampion bergambarkan lukisan ikan. Musik yang disuguhkan juga sangat pas dengan tata lampu.

Di bagian pintu keluar, berbagai cenderamata bisa dibeli sebagai omiyage (oleh-oleh). Harga mulai dari ¥200-an. Jenisnya variatif, seperti: boneka, mainan hp, kipas, dll.

Art Aquarium diselenggarakan sejak tanggal 6 Juli hingga 5 September nanti di lantai dasar Dojima River Forum, Fukushima, Fukushima-ku, Osaka. Biaya tiket pelajar SMP hingga dewasa ¥1.000, anak-anak umur 4 tahun hingga SD ¥600, dan gratis untuk anak-anak berusia 3 tahun ke bawah.

Art Aquarium buka dari Minggu-Jum’at, pukul 11.00-21.00 dengan jam masuk terakhir pukul 20.30 (waktu Osaka). Pada hari tertentu, seperti: 17 Juli (Minggu), 11-14 Agustus (Kamis-Sabtu), buka dari pukul 11.00-23.00 dengan jam masuk terakhir pukul 22.30 (waktu Osaka).

Antrian pembelian tiket ataupun masuk akan sangat ramai pada akhir pekan. Namun, strategi dari penyelenggara sudah sangat terkoordinir. Jadi, bila pengunjung mengalami overload, tetap bisa masuk dengan pembagian jam masuk selang 15 menit per sekian kapasitas.

Akses ke lokasi sangat praktis dengan menggunakan chikatetsu (kereta api bawah tanah). Pada akhir pekan dan hari libur nasional Jepang, lebih irit dengan membeli one day pass seharga ¥600 (enam ratus yen, atau jika dirupiahkan sekitar Rp 60.000,-) via mesin otomatis.

Dengan Subway Midosuji Line turun di Stasiun Daikokucho (M21). Kemudian, transit ke Yotsubashi Line, Stasiun Daidokucho (Y16). Turun di Stasiun keempat, yaitu Stasiun Higobashi (Y12). Dari stasiun berjalan ke arah kanan melewati 2 jembatan, belok ke kiri menyusuri sungai Dojimagawa. Jarak yang ditempuh sekitar 1.1 km, gedung dengan tulisan Dojima River Forum dibagian atas atapnya terletak di sisi kanan jalan.

Gallery

Recommended

Referensi

  • Pamflet Art Aquarium dari KKC, 27 Agustus 2016.
  • Berbagai media dari event Art Aquarium.

Lain-lain

  • Dokumentasi diambil dari koleksi foto Maria san.