Category Archives: Landmark

Uzo-no-Michi

Jalan-jalan ke Tokushima, tak lengkap jika belum mampir ke Jembatan Onaruto (landmark-nya Tokushima) yang unik dan serba guna. Jembatan ini tidak hanya menghubungkan Kota Naruto di Perfektur Tokushima dan Awaji di Perfektur Hyogo, tapi juga menjadi salah satu objek wisata dengan fenomena alam yang luar biasa, siapa lagi kalau bukan si uzu (pusaran) nan kece badai.

Jembatan ini juga fungsional, lho.. Bagian atasnya dipakai untuk lalu lintas, sementara sisi bawahnya yang menyerupai terowongan (dengan panjang jalan 450 meter) dijadikan objek wisata, namanya uzu no mici.

Disini, bagian dindingnya yang lepas menghadap laut didominasi oleh kaca. Jadi, tak heran para pengunjung begitu takjub dimanjakan oleh pesona full laut! Dan, yang tak kalah menarik, bagian lantainya terbuat dari kaca di titik-titik tertentu yang disebut dengan observation room, tentunya tepat di atas lokasi pusaran air. So, kita bisa melihat si uzu dari ketinggian 45 meter dari permukaan laut!

Fasilitas

Di uzu no michi ini disediakan fasilitas seperti teropong jarak jauh (seperti yang ada di Tugu Monas, Jakarta), GRATIS! Lalu juga ada papan bergambar anime lucu yang bagian kepalanya dilobangi, apalagi kalau bukan sarana buat bereksis-ria pastinya, GRATIS!

Akses

Akses dari Tokushima Station (徳島駅) dengan menggunakan bus no. 27 di 1番のりば (halte no.1), di loket A (halte pertama di seberang 7eleven yang berada di samping Daiwa Hotel). Lama perjalanan sekitar satu setengah jam dengan bajet ¥720. Kemudian, turun di halte Naruto Park (鳴門公園).

Dari halte Naruto Park, bisa diakses dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan mendaki anak tangga yang ada disebelah toko omiyage. Sementara, dari pelabuhan mini tempat menaiki fune (kapal) yang digunakan untuk berinteraksi dengan si uzu, bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit. Menurut informasi dari beberapa sumber, jika tidak memiliki kendaraan, bisa menggunakan jasa taxi dengan menempuh waktu sekitar 15 menit.

Tiket

Insert:

  • Perorangan:
    • Umum ¥510
    • Pelajar (usia 13-18 th) ¥410
    • Anak-anak (6-12 th) ¥250
  • Grup (20 orang atau lebih)
    • Umum ¥410
    • Pelajar (13-18 th) ¥320
    • Anak-anak (6-12 th) ¥200

Waktu

Uzu-no-Michi buka pukul 09.00-18.00 (waktu se tempat). Pada 1 oktober hingga akhir februari, di musim dinginnya jepang, buka pukul 09.00-17.00. Dengan catatan, masih bisa masuk 30 menit sebelum tutup. Tempat ini libur pada hari senin kedua di bulan maret, juni, september dan desember. Selain itu, di hari golden week (3-5 May) atau hari libur musim panas (natsu yasumi), buka dari pukul 08.00-19.00.

Kuliner & Omiyage

Sekitar 5 menit berjalan kaki dari lokasi, ada warung aneka kuliner dan oleh-oleh. Salah satunya udon dengan harga berkisar ¥500. Dibagian belakang sebelah luar warung ini, tampak pemandangan lepas Jembatan Onaruto. Disini juga tersedia teropong jarak jauh berbayar.

Selain ini, sekitar 2 meter dari halte Naruto Park (鳴門公園) juga ada sebuah toko omiyage  yang juga menyediakan udon dengan harga yang cukup variatif. Tidak hanya itu, disini juga menyediakan tiket kapal (船) seharga ¥1.550/orang.

Pusat omiyage terbesar berada di seberang tempat parkir, bisa diakses dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan menaiki anak tangga dari halte Naruto Park. Disini tersedia aneka makanan khas Tokushima yang didominasi oleh imo (ubi berkulit ungu dengan isi putih kuning, hasil pertanian utama di Tokushima), seperti manju (kue mirip dorayaki, kue-nya  kartun doraemon, tapi dalam versi mini), osato (gula dengan pengolahan tradisional), dll.

Gallery

Kamus (Dictionary)

  • 辞書 /jisho/ = Kamus (dictionary)
  • 渦の道 /Uzu-no-Michi/ = Onaruto Bridge Floating Prominade
  • 渦 /uzu/ = Pusaran air (Whirlpools)
  • Observation room = Ruang observasi
  • 船 /fune/ = Kapal (Ship)
  • 夏休み /natsu yasumi/ = Libur musim panas (Summer holidays)
  • 冬 /fuyu/ = Musim dingin (Winter)
  • 乗り場 /noriba/ = Halte, tempat pemberhentian/penantian bus
  • 鳴門公園 /naruto kouen/ = Taman Naruto (Naruto Park)
  • アニメ /anime/ = Cartoon /kartun/
  • うどん /udon/ = Udong, mie gepeng dan lebar khas jepang
  • お鳴門橋 /onarutohashi/ = Jembatan Onaruto (Onaruto Bridge)
  • Insert = Masuk (biasanya berhubungan dengan admission)
  • Golden week = Hari libur berturut-turut di Jepang pada tanggal 3-5 May setiap tahun
  • Admission = Pendaftaran (biasanya bergubungan dengan pembelian tiket)
  • おみやげ /omiyage/ = Oleh-oleh

Jembatan Onaruto

Belum lengkap rasanya ke Osaka jika belum mampir ke Namba melihat Patung Glico, begitu juga dengan Tokushima. Pastinya, destinasi yang paling dicari disini adalah Jembatan Onaruto (Onaruto Bridge) yang menjadi landmark-nya Tokushima.

Jembatan ini menghubungkan Kota Naruto di Perfektur Tokushima dan Awaji di Perfektur Hyogo. Uniknya, disini ada uzu alias pusaran air yang menjadi daya tarik tersendiri dari sebuah fenomena alam. Pusaran air ini terjadi 2x sehari sesuai dengan waktunya (bisa disearching di internet atau dibaca di leaflet terkait). Pasang-surut arus laut ini dipengaruhi oleh pergerakan bulan, semakin penuh penampakan bulan di bumi, semakin besar uzu terbentuk.

Akses dari Tokushima Station (徳島駅) dengan menggunakan bus no. 27 di 1番のりば (halte no.1), di loket A (halte pertama di seberang 7eleven yang berada di samping Daiwa Hotel). Lama perjalanan sekitar satu setengah jam dengan bajet ¥720. Kemudian, turun di halte Naruto Park (鳴門公園).

Sekitar 2 meter dari halte Naruto Park (鳴門公園) ini, ada sebuah toko omiyage (oleh-oleh) yang juga menyediakan udon (mie berukuran lebar dan tebal) dengan harga yang cukup variatif. Tidak hanya itu, disini juga menyediakan tiket kapal (船) seharga ¥1.550/orang.

Selanjutnya, dari toko ini, berjalan kaki sekitar 15 menit ke arah bawah, menuruni jalan besar beraspal dengan tikungan cukup tajam. Setelah sampai di pertigaan yang memiliki akses jalan sedang di sisi kanan jalan, menyeberang dan berjalan sekitar 5 menit. Disini ada pelabuhan mini dan loket pembelian tiket.

Di loket ini, tersedia banyak informasi wisata di sekitar naruto, aneka omiyage dan cenderamata khas Tokushima, juga tentunya tempat pembelian tiket (termasuk check-in bagi yang sudah memiliki tiket). Bahkan, jika ingin melanjutkan perjalanan ke uzo no michi-pun bisa menambah pembelian tiket seharga ¥250.

Setelah check-in, pengunjung mesti menunggu di loket sampai jadwal yang telah ditentukan. Selanjutnya, melalui proses antri, wisatawan menaiki kapal dan bebas memilih area dalam ruangan atau luar ruangan. Biasanya, mayoritas pengunjung lebih memilih di beranda kapal, karena bisa berinteraksi langsung dengan si uzu nan ‘jinak’ selama 20-30 menit.

Spot alam yang luar biasa menakjubkan itu bisa ditemukan di beberapa titik. Dan, buat pelancong yang siap uji nyali, pastinya juga siap menyapa si “uzu” nan kece badai, bukan?! Pusaran air yang cukup besar juga akan membuat gelombang besar dan dengan lincahnya mengayun-ayunkan sisi badan kapal hingga sesekali riaknya menyapa pengunjung bak hujan gerimis. Buat yang hobby berselfieria, kudu hati-hati nih disini, jangan sampai saking eksisnya malah lupa kalau kameranya sudah ikutan terbang dan berenang, ya..

Gallery

Kamus

  • 大鳴門橋 /oonaruto hashi/ = Jembatan Onaruto (Onaruto Bridge).
  • 徳島駅 /tokushima eki/ = Stasiun Tokushima (Tokushima Station).
  • 渦潮 /uzushio/ = Pusaran air (Whirpool).
  • のりば /noriba/ = Tempat menaiki bus (Halte).
  • おみやげ /omiyage/ = Oleh-oleh.
  • 船 /fune/ = Kapal.
  • 鳴門公園 /narutokouen/ = Taman Naruto (Naruto Park).

 

Changsha

Bagi traveller yang memiliki destinasi ke Cina, mungkin Changsha bisa menjadi salah satu pilihan. Disini ada sebuah pulau yang bernama Juzizhou Island, didalamnya terdapat Patung Mao Zedong, seorang tokoh filsuf dan pendiri Republik Rakyat Tiongkok yang berasal dari Xiangtan. Selain itu, juga ada arena bermain di Windows Of The World dan kuil (pagoda) di Yanhu Wetland Park.

Gallery

Referensi

  • Seluruh informasi berikut dokumentasi dishare oleh Iqbal.

Berlayar ala Sungai Tombori

Sungai Tombori mengalir di sepanjang daerah  Namba yang dihubungkan oleh beberapa jembatan, diantaranya yang paling terkenal adalah Jembatan Ebisubashi, atau dikenal juga dengan Jembatan Glico. Boleh dibilang, lokasi ini jantungnya Osaka. Karena, selain adanya Patung Glico yang menjadi landmark Osaka, tempat ini juga menjadi pusat kuliner khas Jepang, pusat perbelanjaan, aneka restoran/cafe bergaya barat, dan lainnya.

Ada yang menarik setiap memandang aliran sungai itu, selang beberapa saat berlalu-lalang kapal pesiar ala Sungai Tombori. Para menumpang melambaikan tangan kepada para pelancong. Seolah sedang mengikuti festival dan mereka sebagai pusat perhatiannya.

Mungkin, bagi sebagian besar wisatan asing, tidak ada yang menduga dibalik atraksi para penumpang tersebut. Dan, ini bisa Anda jawab sendiri setelah mencoba menaikinya.

Tiket kapal bisa dibeli di sebuah loket kecil di seberang Patung Glico, tepat di sayap kanan Jembatan Ebisubashi. Harga tiket (Tombori River Cruise Ticket) dewasa ¥900 dan anak-anak ¥300.

Dengan menunggu antrian sesuai dengan alurnya, penumpang bisa berlayar ala Sungai Tombori. Lama pelayaran selama 20 menit dengan melewati 9 jembatan. Kapal ini beroperasional sekitar pukul 1 siang hingga 9 malam.

Mulai dari kapal berangkat hingga kembali ke tempat semula, dipandu oleh seorang pramuwisata yang tak henti berbicara sepanjang waktu tentang seluk-beluk cerita dibalik aliran Sungai Tombori. Apresiasi banget buat sang pemandu, beliau tetap mengoceh bahkan ketika para penumpang kapal sibuk menikmati perjalanan tanpa memperhatikan apa yang disampaikannya.

Salah satu hal yang paling menarik yaitu, sejarah Jembatan Ebisubashi. Desain pinggiran jembatan utama menyerupai sendok okonomiyaki, pizza ala Jepang; yang disusun terbalik ke arah atas. Sementara, di bagian kiri-kanan jembatan  susunan sendok diselang-selingi, atas dan bawah, sisi sebelahnya memiliki bentuk yang saling berlawanan. Benar-benar unik!!

Jadi, sebagai bocoran, para penumpang telah diatur kapan harus bertepuk tangan dan kapan melambaikan tangan. Semuanya berjalan dengan sangat apik sesuai panduan sang pramuwisata. Benar-benar 20 menit yang menyenangkan!

Keseruan semakin menjadi ketika mencicipi makanan khas Osaka, namanya Takoyaki. Makanan dengan pola bulat ini rasanya weenak tenaaann….!! Yang paling terkenal, dibeli di toko yang ada icon gurita gede di atap bagian depannya. Secara, tako itu jika dibahasa Indonesia-kan berarti gurita, yang menjadi isi dari takoyaki itu sendiri. Harganya ¥500/box, isinya sekitar 12 buah. Bisa request saus juga, lho..

Gallery

Catatan

  • Dokumentasi diambil dari Koleksi Photo Maria san.

Rekomendasi

Mengelana Ke Nara

Gayanya, kita para trio comal-camil pagi ini akan ke Abiko Kannon Temple pukul 7 pagi (waktu Jepang). Tapi, gegara libur, waktu rehatpun tak terelakkan. Walhasil, kita baru beringsut dari kediaman masing-masing sekitar pukul 9. Setelah itu lanjut ke receptionist demi mendapat sedikit pencerahan tentang destinasi yang akan kami tuju.

Berikut sepenggal agenda hari ini:

  • 10:56 Beli tiket Subway Chikatetsu Midosuji Line ¥280 di Stasiun Abiko dengan tujuan ke Stasiun Namba (stasiun ke-7 dari  Stasiun Abiko). Lama perjalanan sekitar 16 menit.
  • 11.17 Transit ke Kintetsu Railway, tiket JR ¥560.
  • 11.31 Lama perjalanan ke Nara sekitar 38 menit.
  • 12.11 Stasiun Kintetsu Nara.
  • 12.24 Go
  • 12.30 Taman Wisata NaraAmazing banget berinteraksi langsung dengan banyak rusa yang jinak, beli makanan khusus untuk rusa di  pinggiran jalan taman ¥150, seru!!!
  • 12.45 Mampir ke pusat oleh-oleh. Waaah, gilaaa… komplit banget!! Mulai dari yukata,  replika samurai, pungling (gantungan yang berbunyi saat ditiup angin), aneka kue, dll. Bikin lapar mata!
  • 13.15 Kuil Todaijhi.
  • 15.15 Stasiun Nara
  • 15.40 Go home..
  • 16.26 Stasiun Namba

Bagi saya pribadi, hal yang paling berkesan ketika berada di Kuil Todaiji, sahabat saya beropini “eh, setelah diperhatiin, kayaknya lu doang deh O yang pake jilbab”. Lalu kita spontan mengamati sekitar, and that is really true. Tapi ini sama sekali tidak merubah apapun, perjalanan kali ini sangat menyenangkan.

Padahal, jika dihubungkan dengan perjalanan awal, ada seorang bapak-bapak yang saat menaiki JR, matanya langsung tertuju pada saya yang kebetulan juga melihat kearah beliau. Bukan sorot pandang yang ramah, seperti seorang juri yang sedang menyortir peserta lomba, atau seseorang yang sedang berhipotesa di dalam pikirannya.

Karena respon yang demikian, yang tadinya saya harusnya bersikap welcome malah ikut berhipotesa, mencerna maksud dari biasan mata itu. “Karena saya berbedakah?! Kerudungkah yang jadi keyword-nya? So, why?? Toh, saya merasa tidak mengganggu siapapun”. 

Setelah diam mengamati saya sesaat, beliau langsung duduk sembari membuka lipatan koran dan membacanya. Beliau duduk di kursi nomor 2 dari kanan pintu JR (kursinya 2-2), sementara saya tepat di urutan kedua kursi sebelah jendala kiri JR.

Seandainya saya bisa mengutarakan, don’t judges people by the cover, please! Tapi yo wes, clue-nya “tidak semua orang berpikiran sama dengan apa yang kita pikirkan dan orang lain tidak bisa selalu sama dengan apa yang kita pikirkan”. Seperti alur mundur, saya teringat sahabat saya, MeatKalimat ini sering menjadi key topic setiap kali kami curcol alias cuhat colongan. 

Satu poin penting tentang perbedaan, “jadi beda itu tidaklah buruk selama kita bisa saling menghargai. I am proud be who I am, bisa menjadi diri sendiri itu luar biasa, karena tidak semua orang mampu mengapresiasi siapa dirinya.

Dan, persahabatan sangatlah indah, tak peduli seberapapun besarnya perbedaan selalu jadi warna tersendiri dalam keakraban. Beautiful moment with Risa chan & Ka Wi. Missed you, Meat..

Taman Wisata Istana Osaka

Istana Osaka merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Jepang dan menjadi landmark Kota Osaka. Peninggalan bersejarah ini terletak di dalam kawasan Taman Wisata Istana Osaka.

Akses ke lokasi sangat praktis, salah satunya dengan menggunakan chikatetsu (kereta api bawah tanah). Pada akhir pekan dan hari libur nasional Jepang, lebih irit dengan membeli one day pass seharga ¥600 (enam ratus yen, atau jika dirupiahkan sekitar Rp 60.000,-) via mesin otomatis.

Dari Stasiun Abiko (Subway, M27, Midosuji Line di stasiun nomor 27), naiki chikatetsu hingga Stasiun Shinsaibashi (M19) dengan alur: Stasiun Abiko (M27) – Nagai (M26) – Nishitanabe (M25) – Showacho (M24) – Tennoji (M23) – Dobutsuen-mae (M22) – Daikokucho (M21) – Namba (M20) – Shinsaibashi (M19) – Hommachi (M18). Lama perjalanan sekitar 20 menit.

Kemudian, transit ke Chuo Line (Subway) sekitar 15 menit, dengan alur: Stasiun Hommachi (C16) – Sakaisuji-Hommachi (C17) – Tanimachi 4-chome (C18) – Morinomiya (C19). Dengan berjalan kaki beberapa menit saja, keindahan taman yang menakjubkan dapat dinikmati.

Dari area taman hingga Menara Utama Istana Osaka membutuhkan waktu sekitar setengah jam dengan berjalan kaki (tergantung kemampuan pengunjung, waktu yang dibutuhkan akan sedikit lebih lama jika banyak berhenti).

Tiket masuk dibeli melalui mesin otomatis seharga ¥600. Tempat ini terbuka untuk umum dari pukul 09.00-17.00 (waktu Jepang, setara dengan Waktu Indonesia Tengah di Indonesia).

Hal yang perlu diperhatikan ketika memasuki istana adalah tidak boleh membawa makanan/minuman. Khusus di lantai 3 dan 4, dilarang mengambil foto.

Fasilitas yang didapat yaitu memasuki Istana Osaka hingga menaranya di lantai 8, tersedia lift hingga lantai 7. Banyak peristiwa bersejarah yang bisa diketahui dari sini, namun ditampilkan dalam Bahasa Jepang (didominasi oleh kanji), Inggris dan beberapa diantaranya  dengan Bahasa Korea.

Fasilitas yang cukup menarik minat pengunjung adalah sewa kostum dan berfoto dengan berlatarkan gambar Istana Osaka, lukisan samurai, atau latar lainnya di lantai 2. Harganya lumayan ekonomis, pengunjung cukup merogoh kocek seharga ¥300.

Selain ini, diluar area istana juga terdapat tempat sewa kostum dan berfoto dengan latar asli Istana Osaka. Pengunjung bisa membawa 1 lembar foto gratis dari hasil jepretan tersebut. Hanya saja, harganya lebih mahal ¥1200 (seribu dua ratus yen).

Di sungai  bagian bawah/belakang istana, disediakan penyewaan perahu khas Istana Osaka (Osaka Jyo Gozabune). Harga tiket untuk dewasa ¥1500, anak-anak ¥750. Harga spesial berlaku untuk pengunjung yang berusia lebih dari 65 tahun, yaitu ¥1000. Pelayanan buka dari pukul 10.00-16.30 (waktu Osaka), namun tutup selama musim dingin.

Catatan

  • One day pass adalah tiket yang berlaku kemana saja dengan chikatetsu, tetapi terbatas untuk subway saja, berlaku sampai pukul 12 malam, alias seharian.

Gallery

Rekomendasi: 

Taman Wisata Candi Prambanan

Candi Prambanan (Prambanan Temple) dikenal juga dengan nama Candi Rara Jonggrang. Candi yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan komplek Candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 Masehi.

Taman wisata Candi Prambanan diresmikan oleh Presiden kedua Republik Indonesia, Bapak Soeharto, pada 6 Juli 1989 di Prambanan. Disini terdapat 240 bangunan yang terdiri dari 3 bangunan candi utama, 3 candi wahana, 2 candi apit, 4 candi kelir, 4 candi patok dan 224 candi perwara.

Purna pugar Candi Wahana diresmikan pada 20 Februari 1993 oleh Presiden Soeharto di Prambanan. Sementara, purna pugar Candi Angsa dan Candi Apit diresmikan oleh Bapak Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 16 Desember 2011 di Prambanan.

Candi utama yaitu Candi Siwa, Candi Brahma dan Candi Wisnu. Purna pugar 3 bangunan ini diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republiik Indonesia, Ir. Jero Wacik, SE., pada 4 Januari 2010 di Yogyakarta. Candi Siwa merupakan bangunan candi tertinggi di Indonesia dengan tinggi 47 meter dan terletak di bagian paling tengah di komplek Candi Prambanan.

Pembelian tiket dapat dilakukan di Loket Prambanan yang buka dari pukul 06.00-17.15 WIB. Tiket bisa dibeli tergantung minat pengunjung, ada tiket yang hanya wisata ke area Candi Prambanan saja dan tersedia juga dalam bentuk Paket Prambanan – Ratu Boko. Berikut rincian harga tiket bagi wisatawan domestik:

  • Prambanan:
    • Umum: Rp 30.000,-/orang.
    • Anak (3-6 th): Rp 12.500,-/orang.
  • Paket Prambanan – Ratu Boko:
    • Umum: Rp 50.000,-/orang.
    • Anak (3-6 th): Rp 20.000,-/orang.
    • Gratis shuttle service (kendaraan seperti bus dan atau mobil yang antar-jemput gratis dalam rentang waktu tertentu dari Candi Prambanan ke Ratu Boko, atau sebaliknya).

Bagian dari komplek Taman Wisata Candi Prambanan:

  1. Pintu Utama Taman Wisata Candi Prambanan.
  2. Parkir Motor.
  3. Parkir Mobil dan Parkir Bus.
  4. Loket.
  5. Pusat Informasi.
  6. Stasiun Shuttle Prambanan – Ratu Boko.
  7. Candi Prambanan.
  8. Area Taman Bermain.
  9. Museum Prambanan.
  10. Candi Lumbung.
  11. Candi Bubrah.
  12. Candi Sewu.
  13. Studio Pemugaran Manjusrigrha dan Kantor Unit BPCB JATENG.
  14. Prambanan Resto.
  15. Kandang Rusa.
  16. Kios Makan.
  17. Kios Souvenir.
  18. Kantor Unit Prambanan.
  19. Kantor Unit BPCB DIY.
  20. Bumi Perkemahan.
  21. Panggung Terbuka Ramayana.
  22. Rama Shinta Garden Resto.
  23. Gedung Trimurti.
  24. Kantor Unit Teater dan Pentas.

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika memasuki komplek Candi Prambanan:

  • Pengunjung dilarang membawa tas masuk ke area Taman Wisata Candi Prambanan.
  • Pengunjung agar menitipkan tas di tempat penitipan barang.
  • Menjaga kebersihan.
  • Dilarang corat-coret.
  • Dilarang merokok.
  • Dilarang memindahkan susunan batu.
  • Dilarang memanjat.
  • Dilarang membawa makanan.

Fasilitas lainnya yang bisa ditemukan di Taman Wisata Candi Prambanan:

    • Rental Mobil Golf, berada di tempat yang sama dengan Tempat Pengembalian Sarung.
      • Senin-Jum’at:
        • Reguler: Rp 20.000,-.
        • VIP: Rp 200.000,-/Jam.
      • Sabtu, Minggu, Libur:
        • Reguler: Rp 20.000,-.
        • VIP: Rp 250.000,-.
    • Sewa Sepeda:
      • Kereta Mini: Rp 7.500,-.
      • Kereta Listrik: Rp 5.000,-.
      • ATV: Rp 15.000,-.
      • Skelter: Rp 5.000,-.
      • Sepeda Tunggal: Rp 10.000,-.
      • Sepeda Tandem: Rp 20.000,-.
    • Ruang Ibu Menyusui.
    • Merapi Farma Herbal: Jamu Godhog khas Jogjakarta untuk kolesterol, asam urat, kencing manis, pegel linu, masuk angin, dan lain-lain; bisa diminum di lokasi.
    • Ruang Audio Visual.

Seluruh informasi didapat dari kawasan Taman Wisata Candi Prambanan. Rekomendasi: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta: Cagar Budaya: Candi Prambanan & Dinas Pariwisata DIY

Monumen Nasional (Monas)

Belum lengkap rasanya ke Jakarta jika belum pernah melihat Monas, setidaknya itulah selorohan kecil yang sering dilontarkan ketika seseorang pergi ke Jakarta, bukan?!

Tugu yang satu ini sangat terkenal dan lebih familiar, keberadaannya dikenal sebagai landmark-nya Indonesia yang terletak di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Tugu dengan ketinggian 132 meter ini tidak hanya sebagai objek wisata sejarah, namun juga menjadi salah satu tempat favorit untuk berolahraga seperti marathon atau joging atau jalan santai.

Monas merupakan tugu peninggalan bersejarah yang dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961 dibawah kepemimpinan Presiden Sukarno, mulai dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Monumen dengan ketinggian 433 kaki ini didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Mahkota lidah api berlapis emas yang terdapat di puncak Monas melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala (Wikipedia.org, diakses pada 25 Maret 2015).

Akses ke Monas bisa menggunakan transportasi umum, seperti: kereta api (KRL Commuterline) turun di Stasiun Gambir, Bus Trans Jakarta turun di Halte Monas atau Halte Harmoni, ojek, taksi, dll. Namun, bagi yang memiliki kendaraan pribadi bisa memarkirkan kendaraannya di tempat yang telah disediakan (masih dalam kawasan Monas).

Di seberang Monas, terdapat tulisan TUGU MONUMEN NASIONAL, dimana di sisi kanannya merupakan pintu masuk menuju lorong Monas. Nanti di lantai bawah ini (sebelum masuk lorong), ada loket pembelian karcis dan kita cukup antri dengan tertib.

Harga tiket terbilang variatif, tergantung status akademis dan lokasi tujuan (Cawan atau Puncak). Berikut rinciannya:

  • Anak-anak/Pelajar
    • Cawan Rp 2.000,-
    • Puncak Rp 2.000,-
  • Mahasiswa
    • Cawan Rp 3.000,-
    • Puncak Rp 5.000,
  • Dewasa/Umum
    • Cawan Rp 5.000,-
    • Puncak Rp 10.000,-

Monas terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga Minggu (Senin TUTUP), pukul 08.00-15.00 WIB.

Setelah membeli tiket, kita berjalan melewati lorong hingga ada petugas yang mengecek tiket. Setelah itu, kita bisa meneruskan perjalanan hingga Museum Sejarah Nasional. Disini tersedia aneka galeri, mulai dari miniatur Monas, galeri manusia purba, zaman kerajaan (salah satunya pembangunan Borobudur, perdagangan masa dahulu), perjuangan, dll. Galeri ini dibuat unik seperti aslinya, lengkap dengan informasi detail-nya.

Biasanya, pengunjung lebih sering memilih ke Puncak terlebih dulu kemudian terakhir berkeliling di Museum Sejarah Nasional sekaligus beristirahat (melepas penat). Untuk meneruskan perjalanan hingga Puncak, kita menaiki tangga hingga pelataran Monas. Disini terdapat ukiran relief perjuangan dengan cat perak yang sangat indah.

Kita kembali antri untuk menaiki lift yang berkapasitas maksimal 11 orang (sudah termasuk seorang petugas yang standbye didalamnya). Saat lift menunjukkan angka 3, kita sudah sampai di Puncak Monas. Pemandangan Kota Jakarta terlihat sangat menakjubkan dari sini, apalagi dengan menggunakan teropong unik yang tersedia disetiap pojoknya, bisa terlihat jelas bangunan seperti Mahkamah Agung.

Selanjutnya, kita kembali menaiki lift atau menuruni tangga menuju Cawan. Disini terdapat pelataran yang cukup luas dan tentunya sejuk. Di Cawan ini, kawasan sekitar terlihat indah dengan tatanan yang apik.

Turun ke lantai 1 (lantai dasar), terdapat Museum Kemerdekaan. Kita cukup menaiki tangga di bagian sebelah kanan lift.

Setelah ini, kita kembali melewati Museum Sejarah Nasional, pelataran Monas yang ada reliefnya dan terowongan Monas. Sejenak kita kembali berada di seberang Tugu Monas.

Di sekitar tugu bersejarah ini tak ada satupun pedagang yang berjualan. Jadi, sebaiknya Anda menyediakan air mineral (paling tidak), agar tidak kehausan. Namun, untuk makan, jangan kuatir.. Nanti ada tempat khusus yang disediakan berdekatan dengan tempat parkir.

Jika Anda kelelahan untuk berjalan menuju pintu gerbang, cukup menunggu bus keliling yang telah difasilitasi GRATIS, kemudian turun di wahana kuliner. Disini tersedia aneka makanan dan jajanan yang variatif, seperti: toge goreng, laksa, bakso, goreng-gorengan, kelapa muda, aneka minuman, dll. Tidak hanya itu, ada juga pakaian berlogo Monas yang ekonomis, rata-rata tertera tulisan “7 baju Rp 100.000,- semua ukuran”; dan cenderamata lainnya. 🙂

Tidak jauh dari tempat kuliner ini, terdapat aneka costume player, mulai dari costume perjuangan yang berdandan seperti pejuang sungguhan dan mematung hingga hantu-hantuan. Mereka menuliskan sumbangsi yang mau berfoto seharga Rp 5.000,-.

Tidak terlalu jauh dari tempat parkir, ditemukan pintu keluar. Bagi Anda yang menggunakan Bus Trans, jalan beberapa langkah ke arah kiri dari gerbang akan menemukan halte terdekat.

Beberapa informasi ini didapat dari hasil wawancara dengan petugas tiket dan Wikipedia.org.

Kota Tua

Kota Tua, dahulunya bernama Batavia Lama, merupakan wisata bersejarah dengan arsitektur bangunan-bangunan tempoe doeloe, terletak sekitar 15 meter dari Stasiun Jakarta Kota. Bangunan-bangunan tersebut diantaranya Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum POS Indonesia, Museum Seni Rupa & Keramik, dll. Kumpulan bangunan bergaya lama ini membentuk persegi dengan lapangan yang cukup luas ditengahnya.

Lokasi ini akan sangat ramai saat weekend atau tanggal merah. Rata-rata pengunjungnya bervariasi mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Banyak hal menarik bisa dijumpai disini, tidak hanya segudang pengetahuan dari aneka museum tersebut, tetapi juga pertunjukan-pertunjukan seperti: pantomim dan akrobat. Bahkan, ada juga yang menggunakan lokasi ini untuk shooting. Selain itu, ada beragam coplay alias costum player juga, seperti: transformer, anime naruto, kostum karnaval, dsb. Kita bebas berselfieria dan bisa mengapresiasi kreatifitas tersebut dengan menaruh uang seikhlasnya ke kotak yang telah disediakan disekitar mereka.

Masuk ke lokasi ini gratis, kecuali memasuki museum. Akses kesini bisa menggunakan KRL Commuterline, angkot, ojek, dll. Nah, di malam hari biasanya dijual aneka jajanan tradisional nan yummy..

Sungai Kapuas

Sungai Kapuas terletak di Kalimantan Barat (Kalbar) dan menjadi sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang sekitar 1.400 m dan lebar >100 m. Sungai ini membentang dari Kapas Hilir hingga Pontianak (ibukota Kalbar).

Sungai Kapuas menjadi urat nadi masyarakat setempat, baik dari segi perekonomian, transpotasi dan bahkan berpotensi besar menjadi objek pariwisata karena mirip dengan Sungai Liong yang ada di Perancis. Oleh karenanya, beberapa waktu yang lalu, dalam pertemuan Khatulistiwa, Presiden Joko Widodo mencanangkan Sungai Kapuas sebagai icon Kalimantan Barat. Sehingga muncul opini bahwa belum lengkap rasanya ke Pontianak jika belum meminum air Sungai Kapuas.

Sungai ini selalu hidup selama 24 jam, dimanfaatkan masyarakat untuk transportasi dengan menggunakan boat, kapal ferry dan kendaraan lainnya, baik melalui Sungai Kapuas itu sendiri ataupun Jembatan Kapuas. Perhatian terhadap sungai ini sangat besar, salah satunya dengan dilarangnya kendaraan beroda 6 melintasi Sungai Kapuas.

Sepanjang sungai ini berdiri kokoh rumah-rumah milik warga yang terbuat dari kayu belia dengan rumah panggung yang khas. Begitu juga dengan kulinernya.

Sayangnya, yang menjadi kendala adalah perilaku warga yang masih sering membuang sampah rumah tangga ke area sungai dan letaknya yang di dataran rendah berisiko untuk meluapnya sungai. Namun aliran yang cukup besar mampu menghalau sampah-sampah tersebut sehingga sungai selalu tampak bersih.

Referensi

Informasi ini didapat dari media TVRI LIVE KALBAR, tepat di HUT TVRI Stasiun Kalimantan Barat yang ke-17. Kamis, 16 September 2015, sekitar pukul 07.00 WIB.