Category Archives: Bukit (Hill)

Hello Kobe!

Advertisements

Pantai Baron

Pantai Baron terletak di Gunung Kidul  menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kota Yogyakarta. Akses ke lokasi menggunakan kendaraan pribadi. Disini tersedia fasilitas seperti tempat parkir yang cukup luas, toilet dan tempat ganti pakaian.

Pantai Baron berada sekitar 15 menit dari Pantai Indrayanti. Bedanya, untuk ke Pantai Baron, pengunjung mesti berjalan kaki sekitar 15 meter dari tempat parkir.

Sepanjang jalan menuju pantai, banyak dijual aneka makanan, seafood, kuliner, hingga pernak-pernik unik. Seperti, kripik rumput laut dan kripik undur-undur (hewan mungil yang biasa ditemukan di pasir pantai), 3 bungkus besar hanya dijual Rp 10.000,-; ekonomis, bukan?! Rasanya juga gurih, cruncy!

Pantai Baron terkenal dengan air dan menaranya. Di pantai ini terdapat 2 jenis air, asin dan tawar. Air asin berada dihamparan laut luas seperti kebanyakan air laut. Sedangkan air tawar yang berasal dari sungai yang mengalir dari bawah bebatuan menuju laut, menggenang dan membentuk telaga di sisi kanan pantai.

Menurut beberapa sumber, dahulunya sebelum reklamasi, paduan 2 jenis air ini membentuk kombinasi alam nan elok seperti ada sungai sebelum laut. Namun, pasca reklamasi, tentunya menjadi sedikit berbeda.

Ombak di pantai ini cukup besar. Namun, pengunjung diperbolehkan mandi-mandi di pantai ataupun di telaga dengan pengawasan petugas pantai. Biasanya, sekitar pukul 4 sore, atau saat gelombang pasang, para pengunjung dihimbau untuk berhenti berenang. Begitupun di telaga, ada peringatan sejauh mana pengunjung boleh berenang, dikarenakan kedalaman airnya.

Pantai Baron berada diantara 2 bukit dengan bebatuan magnit nan unik dan indah. Selain itu, menara suar juga menjadi daya tarik tersendiri dalam menikmati Pantai Baron dan sekitarnya dengan pesona yang menakjubkan. 

Untuk menuju menara suar, merogoh kocek sebesar Rp 2.000,-/orang, dibayar pada saat menaiki bukit. Di atas bukit, ada beberapa fasilitas yang bisa digunakan, seperti sewa mobil golf. Insert menara Rp 5.000,-/orang.

Pengunjung cukup mempersiapkan tenaga ekstra demi mendaki menara setinggi 40 meter dengan 9 lantai ini. Namun, rasa capek akan terbayarkan ketika sampai di puncak menara. Hamparan laut luas, berikut perbukitan yang terbentang luas… Tak terlukiskan dengan kata-kata..

Gallery: Pantai Baron

Bukit Bintang

Bukit Bintang terletak di Gunung Kidul, sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Yogyakarta dengan menggunakan kendaraan pribadi. Tempat wisata yang satu ini serupa dengan Bukit Nobita di Kota Padang, Sumatera Barat.

Namun, bukit ini akan terlihat keindahannya pada malam hari. Pengunjung bisa menikmati gemerlap lampu Kota Djogja dari sisi jalan. Tidak hanya itu, berbagai cafe atau resto pun tersedia dengan tempat hanging out yang pastinya telah didesain sedemikian rupa, sehingga dari sini bisa dinikmati kemilau Kota Djogja dengan sangat apik.

Bukit Bintang terletak tidak jauh dari gerbang Gunung Kidul dan disini merupakan jalur utama bagi pengunjung yang hendak berwisata ke Pantai IndrayantiPantai Baron dan ratusan pantai lainnya. Selain itu, jalan ini juga memiliki banyak tikungan, sehingga jika ada hari libur panjang atau hari libur tertentu, lokasi ini akan sangat padat oleh kendaraan, sehingga banyak pengunjung tidak dapat menikmati secara langsung pemandangan indah tersebut.

Tabiang Takuruang

Buat teman-teman penggemar cartoon pasti tidak asing dengan serial Avatar. Nah, salah satu gambar(backround)nya mirip dengan bukit yang ada di panorama ini, berada di kawasan Ngarai Sianok, Kabupaten Agam. Oleh karenanya, bukit nan unik ini juga disebut sebagai Bukit Avatar oleh sebagian kecil orang yang pernah melihatnya, terutama penggemar cartoon Avatar.

Tempat ini dinamakan Tabiang Takuruang, satu-satunya tebing yang dikelilingi oleh banyak tebing yang agak jauh di sisi lainnya. Jalurnya melewati jalan kecil yang belum diaspal, masih berkerikil, namun bisa dilewati oleh kendaraan seperti mobil. Akses ke lokasi menggunakan angkot (angkutan kota) berwarna  merah jurusan Jambak (Koto Baru)-Bukittinggi.

Sekitar 400 meter dari simpang kecil akan ditemukan papan penanda “Taruko Cafe”. Cafe ini dikelola oleh anak-anak muda yang saangat kreatif. Nuansa natural khas alam pedesaan-pun siap memanjakan pengunjungnya. Duduk di cafe ini menawarkan ketenangan, sejuk, pemandangan nan elok (tebing yang unik, ngarai dan sungai dengan air jernih yang mengalir konstan, bangunan menyerupai rangkiang, ada kolam dan angsa). Perfect!! Sungguh mahakarya Sang Pencipta yang wajib dikagumi dan disyukuri.

Kita tidak perlu repot-repot membawa bekal, karena di cafe ini tersedia menu dengan harga relatif. Untuk makanan, kita bisa merogoh kocek mulai dari Rp 18.000,-an dan minuman mulai dari Rp 10.000,-an.

Info destinasi yang mulai menjadi primadona ini dishare oleh Geni, berikut dokumentasinya.

Puncak Gagoan

Wisata perbukitan nan landai dan indah ini terletak di Kabupaten Solok (belum masuk daerah kota). Dengan kendaraan beroda empat membutuhkan waktu sekitar setengah jam dari jalan raya. Dari tempat parkir, cukup berjalan sekitar setengah jam menuju lokasi. Biaya parkir Rp 5.000,- dan tiket masuk Rp 5.000,-.

Di Puncak Gagoan, banyak wisatawan mengabadikan moment panorama yang luar biasa ini. Tak hanya itu, Danau Singkarak yang menjadi landmarknya Solok (bahkan namanya berkibar di event olahraga internasional “Tour de Singkarak” atau yang lebih dikenal dengan TdS) juga tampak menawan dari sini.

Info kece ini berikut dokumentasinya dishare oleh Hilma via sosmed pada 23 November 2015.

Bukit Langkisau (Langkisau Hill)

Bukit Langkisau

Bukit Langkisau terletak di Pesisir Selatan, dekat dengan Pantai Carocok. Akses kesini sekitar 15 menit dari Bundaran (dengan mobil), belok kanan (dari arah Kota Padang), lurus dan belok kanan (pendakian) sebelum mentok di simpang Pantai Carocok. Pendakiannya cukup curam, namun jalannya bagus. Biaya parkir (mobil) Rp 5.000,-.

Disini ada outbondnya juga, lho.. Dari tempat parkir saja sudah terlihat ada tangga yang tinggi untuk flying fox. Sayangnya, tukang parkirnya bilang, permainan ini cuma diadakan saat lebaran saja 😀

Dari tempat parkir, kita mendaki jenjang (mirip Jenjang 40 di Bukittinggi, tapi lebih pendek). Sesampai di atas, berjalan sedikit dan belok ke kiri. Pemandangannya indah… rancak bana!! Dari atas ini pandangan kita lepas!! Langit biru luas nan cerah.. hamparan laut dengan beberapa gugusan pulau.. pemukiman penduduk.. pantai.. Waah, luar biasa!! Nah, jika belok ke kanan, di samping bangunan yang menyerupai rumah atau mungkin lebih tepatnya villa/resort itu, ada sepasang buaian mengarah ke tebing, mantaplah pokoknya! 😉

Yang menarik, disini sering diadakan festival tahunan, namanya Festival Langkisau. Dari yang saya dengar, euforia pengunjung sangatlah luar biasa, bahkan banyak yang berharap berkunjung kesini disaat festival berlangsung agar tidak melewatkan moment tersebut 🙂

Oya, disini juga ada Simpai, hewan sejenis monyet/kera yang berekor panjang, berwarna abu-abu hingga gelap dengan warna bulu kecoklatan di tulang punggung hingga batok kepalanya. Mereka memang tidak mengganggu, namun ada yang menyarankan agar tetap waspada dengan yang lebih dewasa, tapi so far so goodlah.. 😉

Lainnya

Trip Ke Pulau Pasumpahan

Ceritanya nih, kemaren saya diajakin Dayak (teman saya yang sering ngetrip ke Pulau Pagang, Pulau Pamutusan, Pulau Pasumpahan untuk trip bukit dan Pulau Sekuai dengan bajet backpacker) ke Pulau Pasumpahan. Seneng bangeet.. secara dari dulu batal terus 😀

Nah, pagi ini kita udah standbye di Simpang Anduring, ngumpul dulu sebelum berangkat. Disini saya ketemu teman baru, kecuali Firman; ada bang Dido dan bang Ihsan. Ntar ada bang Yendi dan jagoan kecilnya Denov, menyusul gabung di jalan menuju kesana. Kita berangkat pake motor, jadi mirip touring gitu 🙂 Sayangnya, ada beberapa orang yang batal ikut karena suatu hal. So, it’s OK, let’s go to Pasumpahan Island, yuhu…. 😉

Kita melewati rute Sungai Sipisang, biar ga lama di laut, lebih cepat sampai ke pulau 🙂 Selain kesini, bisa juga melalui Pantai Carolin atau Pantai Carocok, dengan paket tertentu, sesuai guidenya. Namun Dayak menyarankan lebih cepat lewat ke Sungai Sipisang, meskipun akses kesana sedikit kurang bagus, ada sepenggal jalan yang masih berkerikil dan ada satu tikungan tajam, tapi seterusnya cukup bagus. Ga harus pake motor, pake mobilpun bisa 🙂 Ntar semua kendaraan dititip di rumah warga tertentu sebelum menyebrang ke pulau 😉

Kita mampir dulu di rumah makan sebelum masuk Sungai Sipisang, beli bekal, bajetnya sekitar Rp 16.000,-, udah termasuk air mineral kantongan 😀 Nasi dan sambal dibungkus terpisah biar enggak cepat basi 😉

Waaah… view disini masih asri banget.. hijau… bikin mata sejuk memandang 🙂 tenang.. damai.. everythinglah pokoknya, kontras dengan tempat tinggal kami 😀 Kita juga melewati Kampung Nias, sawah-sawah yang sedang dipanen, dll..

Ada tragedi juga nih dalam perjalanan, motornya bang Ihsan kehabisan minyak, walhasil dia mesti nyari-nyari tempat yang sedia BBM disekitar sini. Syukurlah aman wae sampe tiba di lokasi 😀

Kita stay di rumah bang Andi, abang yang punya kapal. Setelah rehat sejenak, baru deh kita caw menuju pantai, menunggu kapal menjemput. Disini pemandangannya OK punya lho.. Pantai ini seperti sengaja dipagari oleh pancangan tiang-tiang yang melingkar dibibir pantai dan diramaikan dengan pohon kelapa yang menjulang rapi disisi pinggirnya, apik… Di sayap kiri terparkir aneka kapal besar, yang kata bang Dido nih, rentalnya bisa sampai milyaran!!! WOW..! Sementara disisi terdepan, terbentang luas laut dengan riak kecil, tampak beberapa pulau di sayap kiri memagari pantai ini hingga ke Pulau Pasumpahan.

Hari ini semakin luar biasa, ga cuma ke pulaunya yang real, tapi cuaca kali ini juga sangat bersahabat, cerah.. Alhamdulillah.. Jadi ga sabar nih pengen cepat-cepat sampai di seberang 😀

Tak ingin melewatkan moment, kitapun sibuk mengabadikan potret alam nan elok ini 😉 Sementara Denov kecil sibuk bermain di riak air tanpa takut, padahal umurnya baru 3,5 tahun, lho.. saluut..

Wah, akhirnya, kapal kita datang.. Yuk, ke Pulau Pasumpahan.. 😉

Amazing.. Emang bener… pulaunya bagus banget.. masih bersih, lautnya seperti agar-agar berbatas 2 warna, bening (berkilau cahaya) dan biru.. 😀

Tanpa petatah-petitih, kita langsung sibuk nyebur sana-sini setelah cukup puas bernarsis ria 😀 Tapi… saya sempat panik ketika merasa memegang sesuatu yang lenyek (kenyal) di laut yang cukup dalam (area biru), kemudian mulai gelagapan saat melihat ada yang bercahaya (mirip cahaya lampu di bukit berkabut) hilang timbul terawang dari dalam air, entah kenapa saya yakin “jangan-jangan itu ubur-ubur!!!”, saya langsung berteriak minta dipapah ke pinggir. Bukannya membantu, yang lain malah ngeledek, pada sibuk ngusilin saya, hadeeh.. Dengan meyakinkan, bang Dido bilang kalau ubur-ubur itu ga ada di cuaca cerah begini, tapi saya tetap yakin itu ubur-ubur dan berusaha menepi 😀

Namun, akhirnya mereka mulai percaya setelah melihat ada ubur-ubur yang terbawa riak ombak. Semua langsung bereksperimen. Bang Dido menceritakan kalau dirinya pernah disengat ubur-ubur yang menyisakan luka bakar. Bang Yendi mengeluh kulitnya gatal-gatal kena lendir siubur-ubur. Ada juga yang bilang, ubur-ubur yang terdampar itu sudah mati. Saking penasarannya, kita berebut memastikan, Firmanlah yang pertama memegang ubur-ubur dari pangkal kepalanya yang terbalik, agar tidak menyentuh bagian tentakelnya yang bisa menyengat. Ternyata apa yang bang Yendi alami, saya alami juga. Kulit saya gatal-gatal kena lendir si ubur-ubur, begitu juga Firman. Tapi sejauh ini aman, belum pernah dilaporkan ada yang menjadi korban sengatan ubur-ubur disini 😀

Setelah ini, kita lanjut ke trip bukit. Di kaki bukit, ada akar pohon yang mirip gantungan di film-film Tarzan. Dayak eksis berayun-ayun disana, waaah.. saya juga mau nyoba ahh… malangnya, bukannya berayun diangin, saya malah meluncur di tanah, hadeeeh… Ga okeh banget nih.. 😦 Terus, ada lagi buaian sederhana yang dibikin menghadap laut, dipayungi oleh rimbunnya pepohonan besar dan diterpa sejuknya angin pantai, ademm…

Kita meneruskan perjalanan menuju Puncak Pulau Pasumpahan. Hey, tunggu, lihat!! Ada kelumang!! Cantik… unik… Kelumang ini sejenis umang-umang yang besar 😉

Untuk tahap bawah ini, jalannya tidak terlalu curam, namun memang sedikit licin, tanahnya lembab, jadi kudu hati-hati.. Tapi jangan khawatir, disini, dipinggiran jalan setapak ini, difasilitasi tali yang cukup kuat, mempermudah kita untuk sampai ke atas. Pertengahan hingga puncak bukit mulai cukup curam, tanahnya kering dengan pendakian yang lebih miring. Saya sampai ngos-ngosan mencapai puncak bukit 😀

Sesampai di atas, kita mulai haus.. Sayang banget, ga ada satupun yang ingat buat ngebawa air mineral!! Waaa.. padahal tadi udah sering diomongin, lho.. Panas di atas ini lebih terik.. Tapi, rasa haus dan capek mulai hilang dengan sendirinya melihat pemandangan sekitar sini, indahnya…

Oya, yang pergi ke puncak cuma kita berlima ceritanya nih, bang Yendi ga ikut karena Denov masih ingin bermain air, secara Denov kan jagoan air kita 😉 Lagian sulit juga ngebawa anak kecil dengan akses seperti itu 🙂

Nah, turunnya beda lagi nih tantangannya.. Kalau saya boleh memilih, saya pilih menggelinding aja deh biar cepat sampai di bawah, hahaa (ngeyel). Akhirnya, kita sampai di bawah, tidak seberat perjuangan ke puncak tadi 😀 Then, yuk makan siang..

Gilaaa… nasinya bentuknya aja yang porsi minimalis, isinya padat bok.. Saya muai tekewer-kewwer ngabisinnya, padahal udah dibantuin 😀 Enaknya basalanjuang (makan bersama) nih tadi, hihi..

Udah berenang, udah ke puncak bukit, udah kenyang.. apa lagi nih agendanya? Folley beach!! Yeah, olahraga yang paling tidak saya suka, tapi sayang banget dilewatin.. Yuk, come on… Itung-itung buat happy-happyan, hee.. Disini kita kenalan sama “Haw”, cewe asal Vietnam yang lagi kuliah disini. Ga lama, permainan makin rame dan saatnya sianak bawang mengundurkan diri, haha..

Sekarang udah pukul 13.30 WIB, kayaknya udah waktunya ganti baju. Oya, disini juga ada mushalla dan kamar mandinya, lho.. Jadi ga usah khawatir mau ganti baju dimana.. Mushallanya juga menyediakan mukena dan tempatnya bersih 😉

Sehabis ganti baju, saya kembali ke markas (ciile, maksudnya ke tempat bentangan tikar roundnya kami). Ternyata mereka sempat snorkling tadi.. Waaa, saya ketinggalan nih.. Walhasil, saya bela-belain ganti baju lagi demi nyobain snorkling 😀 Tapi.. alatnya bang Dido udah ada yang minjem, so mereka nyari pinjem sama yang lain.. Hm, itulah enaknya punya teman yang supel ya, kemana aja ga perlu ribet, tinggal ngomong sana, ngomong sini, semua aman, salut.. Eh, untungnya kita ketemu sama teman SMA, King; terus Dayak nyoba minjem sama King. Jadi deh kita snorkling.. 😉

Waaah, cantiknya.. terumbu karang dan ikan-ikannya cantik… Sayang, kita ga ada yang punya kamera anti air, kalaupun bang Dido punya berbagai properti itu, kantongnya sobek pula, hadeeuh.. Tapi ga papa, it’s OK, ini udah lebih dari cukup 😉 Lalu, saya duluan ke markas ninggalin Firman yang masih sibuk bersnorkling ria sendirian 😀

Abis ini, saya ganti baju lagi dan standbye di markas. Yang lain masih ada yang ngajakin berenang, tapi saya rasa sudah cukup. Hari ini bener-bener serruuu…!!! 😉

Pas kita pulang, cuaca tampak mulai mendung.. Untungnya masih aman hingga ke seberang. Namun, untuk seterusnya, kita perlu berhenti beberapa kali untuk berteduh atau sekedar mengamankan tas dari hujan. Sampai di Padang, kita langsung diguyur hujan lebat, fiuh..

Menjelang Maghrib, tersisa Dayak, Firman, bang Dido dan saya. Kita ngumpul di tempat bang Dido, menunggu hujan reda. Selesai Maghrib, kita ada history konyol lagi nih, beberapa kali mobil sedan yang dipake Fiman dan Dayak buat nganterin saya, mati mendadak di jalan, sekali pas lampu hijau baru nyala 😀 Nah, dirumah nih, Unjut ketawa terbahak menceritakan kalau dia ketemu mobil sedan putih yang lagi mogok disimpang abis lampu merah, dianya ngeledek gitu dan makin heboh setelah tau itu mobil yang kita pake 😦

Pokoknya, hari ini luar biasa 😉 Ups, saya lupa promoin nih, ada slogan Firman nih yang fenomenal “Luccu.. Lenyai..” Kita excited pada ngikutin 😀

Semua foto hasil potret dari kita-kita

Trip Berubah Haluan “Menuju Wisata Painan Nan Elok”

Setelah seminggu mengumpulkan voting trip ke pulau, akhirnya pada hari Jum’at (01/05/15), deal 7 dari 16 orang yang berencana ikut. Yah, cukup senang, akhirnya bisa juga ikut trip ekonomis ala backpacker dari teman saya, Dayak. Sebenarnya trip ini selalu diadakan setiap hari Minggu, kita cukup milih 2 dari pulau: Pulau Pagang, Pulau Pamutusan, Pulau Pasumpahan (trip bukit) atau Pulau Sekuai.

Untung aja harinya fix Minggu, padahal sempat jadiin Sabtu sebagai alternatif 😀 Karena pagi di hari Sabtu hujan lebat euy.. Ga berhenti sampe sore.. Kami sempat pesimis trip ini terancam batal 😦

Namun, sekitar jam 10, Mimi, salah satu personil (ciha, haha) yang akan ikut, sudah stay di rumah saya, kita udah sepakat buat masak bareng ntar malam 😀 Kita belanja di Pasar Lubuk Buaya, sebuah pasar tradisional yang cukup besar di ujung Kota Padang yang menyediakan berbagai bahan masakan, makanan dan keperluan rumah tangga dengan harga miring 😉 Kita udah beli ayam potong 12, cabe goreng giling tangan yang dibeli di tempat Mak Uwo langganan saya, minyak goreng 1/4 kg buat serap, cabe ijo, tahu sumedang, tempe, mentimun, dll; tambah parkir Rp 1.000,-; total biaya yang kita keluarkan adalah tadaaaaa… Rp 75.000,-!!! Ekonomis, bukan?! 😉 Sampe rumah, kita nungguin Cilot, dia lagi dalam perjalanan dari Bukittinggi ke Padang.

Akhirnya, Cilot sampai di rumah saya setelah sebelumnya sempat nyasar sampe ke Basko 😀 Cilot bawa oleh-oleh Bukittinggi, asik, kerupuk sanjai dan karakkaliang, yihi… 😀 Saya dan mimi langsung menyerbu dan mulai sibuk mengemil makanan renyah itu 😀

Malamnya, abis Maghrib, kita udah standbye di dapur nak masak. Kita mau bikin ayam goreng sambal dan oseng-oseng 🙂 Berhubung saya masih pake kompor minyak, masaknya jadi lamaaa… Baru kelar jam 22.30-an, capek nungguinnya, hoaaahm.. ngantuk lagi.. Mimi aja udah berlayar entah kemana-mana, alias udah tepar 😀 cuma Cilot yang standbye sambil nontonin Jupiter Ascending yang sempat saya promoin 😀 Akhirnya kelar juga.. Hm, yummy… Semua masakan kita simpan di dalam tudung saji. Besok Subuh tinggal masak nasi dan bungkus-bungkus 😉

Sebelum tidur, kita berharap besok (Minggu) hari cerah, bak kata Mimi “Puas-puasinlah hujan sekarang biar besok cerah” ucapnya santai, sementara antara Cilot dan saya tetap ada raut pesimis. Lalu, waaaa… kita dapat kabar buruk, 2 personil kita mengonfirmasi mundur karena suatu hal, mereka mendadak mengalami situasi sulit 😦

Alhamdulillah… bangun di pagi tanggal merah, cuaca memaklumi usaha kami, cerah berawan.. Oh, thanks God.. hanya Kau yang mampu mengerti segalanya 🙂 So, let’s go to the island, yehee…

Kita siap-siap.. Mimi udah siap membungkus nasi 1 magic com gede 😀 Makluuum… ntar kita kan bepergian jauh, jadi harus ready bekalnya.. 😉

Semua fix, Siscepun udah ikut bergabung. Kita tinggal parkir di pinggir jalan raya buat nungguin mobilnya Kak Ami, wuih.. stylenya udah pas banget buat ke pantai, santai dan energik 😀

Mobilpun melaju menuju Teluk Bayur, tempat Dayak menunggu sebagai guidenya kita-kita. Setelah ketemu, kita langsung ngikutin instruksinya Dayak buat membaca arah.

Namun, di tengah perjalanan, Pak Sopir sempat mengajukan protes tentang tempat tujuan kami. Kemudian setelah hampir sampai di Sungai Pisang, Mama Kak Ami yang kebetulan ikut juga berpendapat kalau sebaiknya perjalanan dihentikan, kemudian diikuti oleh persetujuan dari teman-teman lainnya. Yah, apa boleh buat guys, akses kesana memang belum dikelola dengan cukup apik.. Untunglah Dayak mengerti keputusan ini, “thanks, Day!”

Mama dan Kak Ami menawarkan kami untuk mencari rute lain yang aksesnya lebih mudah. Disusul dengan ide Pak Sopir untuk menjemput Mela ke Tarusan setelah saya bilang Mela sempat mengajak ke pantai yang mirip tempat shooting film Laskar Pelangi. Seantero mobil mulai gembira kembali, terutama Mimi, karena dia sempat nonton My Trip My Adventure kemaren (Sabtu, 02/05/15) kala Duta Wisata Pessel mengundang artis cantik Nadine ke Pesisir Selatan, salah satunya Pantai Batu Kalang.

Saya menguhubungi Mela via mobile, mengonfirmasi alamatnya dimana, dan.. sekitar sejam melaju, dengan kecepatan Fast & Farious ala Pak Sopir, kami sampai di Tarusan. Waaah… rumah Mela adem euy, dikelilingi sawah… 🙂

Disini ada yang menarik, saat Mela bilang temannya juga ada yang punya trip ke pulau, naiknya di dekat sini, kami berlima kompakan nanya “Bara (berapa)??” lalu ketawa heboh setelahnya 😀 Selesai rehat, setelah mendapat ijin dari Papa Mela, kami membawa Mela, menggantikan Dayak sebagai guide, tentunya dengan trip yang sangat berbeda 😉

Pertama, kami dipandu ke Pantai Batu Kalang. Waaah, pantai yang eksotis!! Belum banyak lho yang datang kesini.. Saya juga ga bakalan tau kalau Mela enggak pernah cerita. Berulang kali Mimi bilang “Pasti banyak yang nyari tempat ini setelah tayang di TV”, ucapnya yakin 😀

Pantai lepas yang dipagari oleh bukit-bukit barisan.. Terhampar luas laut biru dengan tepian yang dangkal.. Banyak ikan-ikan cicak merayap dan sembunyi di sela-sela bebatuan karang. Ada ikan hitam yang cantik.. Tangan saya jadi gatal-gatal ga sabar ingin menangkapnya, tapi saya yakin ga bakal mampu 😀 Bebatuan besar tertata rapi di ujung pantai dan beberapa diantaranya terdampar dengan megah di bibir pantai. Ada beberapa batang Pohon Bakau tumbuh menyemarakkan indahnya pantai ini, dikelilingi oleh banyak pancang terjal yang seolah siap menusuk siapa saja yang berani mendekatinya. Indah..

Ketemu beberapa ubur-ubur yang terdampar!! Kok bisa ya?? Waaah, baru kali ini melihat ubur-ubur beneran 😀 Unik ya bentuknya..

Nggak mau kehilangan moment ini, kami berselfieria dimana-mana. Hasilnya keren-keren…!! 😉 Dan.. yuhuuuu… saya berhasil menangkap ikan yang lumayan besar 1 ekor, luar biasa senangnya 😀 Lalu, Mela juga berhasil nangkap ikan yang lebih kecil berwarna bening. Ikan khasnya pantai.. Saya pernah menemukan salah satu dari jenis yang seperti ini di Pulau Cingkuak 😉 Ntar masukin akuarium ah… 😀

Saya jadi penasaran, kok telapak kaki saya perih ya.. Tadinya dikira karena menapaki pecahan karang atau kerang yang berserakan di punggir pantai, eh taunya luka!!! Bah, lumayan ini.. Pantas aja.. Jadi senasib sama Sisce 😦 Nah, kudu hati-hati ye, atau pake sepatu sekalian biar aman 😉

Hari mulai terik, perutpun mulai lapar. Setelah minta ijin sama empunya kedai, warga asli, kami makan siang di pondokan yang mengarah ke laut, waaah… mantap…

Setelah ini, kita menunggu konfirmasi dari teman Mela, ada trip lain yang ga kalah keren, Pulau Cubadak!! Pulau yang sempat menjadi kontroversi di youtube  itu 😀 Namun, setelah dirembukkan, kami lebih memilih meneruskan perjalanan ke Puncak Mandeh. Saya udah pernah liat fotonya dari Unjut dan akhirnya sekarang punya kesempatan buat kesana, asik 😀

Hm, dibandingkan Pantai Batu Kalang, Puncak Mandeh sudah lebih familiar. Disini rame pas kita nyampe. Ada seru dan enggaknya nih. Serunya, ya rame.. Tapi, ga serunya, tiap foto, harus berebut ngambil posisi yang viewnya bagus, atau kadang udah kece badai masang gaya, eh nongol entah siapa-siapa lalu-lalang di belakang kita, bikin sebal aja :3

Dari puncak ini, tampak aneka pulau berpencar dihamparan laut nan biru.. Langit yang cerah membiaskan warna yang cantik di permukaan laut. Udaranya sejuk.. Pepohonan disana melindungi kita dari silaunya cahaya matahari.. Hoaahm.. jadi ngantuk.. 😀

Cus, trip ketiga, Air Terjun Bayang Sani. Mela bilang tempatnya OK punya. “Apa lagi ituh? Cak mana ya bentuknya? Paling mirip air terjun kebanyakanlah, cuma tingkat dan kedalamannya aja yang beda-beda”. Awalnya saya penasaran, tapi ga terlalu excited kesana. Tiba-tiba, di luar jendela, saya melihat tempat yang waaah… kereeen… Ternyata itu dia yang namanya Air Terjun Bayang Sani!!! Waaaah.. uniiik.. beda banget dari air terjun kebanyakan, baru kali ini saya liat yang beginian.. 😀

Sebelumnya udah niatan buat mandi-mandi, namun karena suatu hal, saya lebih memilih mundur setelah ngeliat langsung medannya gimana, huft.. Saya juga sempat was-was, karena saat mengambil foto, sempat melihat ada batang kayu gede membentang di puncak air terjun sebelah kanan, mulai paranoid duluan takut kena timpuk 😀

Pelan tapi pasti, akirnya kita sampe di kaki bukit, tepat di tempat jatuhnya air terjun.. Waaah… saking derasnya airnya, kita jadi kayak ngerasa berada di tengah rintik hujan, sejuk… Alirannya yang deras seolah menghanyutkan segala kepenatan, beban pikiran dan masalah yang sebelumnya terbawa sampe kesini (sok puitis) 😀 Pokoknya cius deh, kerreeeen…!!!

Dengan ogah-ogahan, akirnya saya menurunkan badan juga ke kolam di bawah air terjun. Itupun awalnya cuma buat menemani Mimi dan Cilot. Brrrr… sejuuuk… Saya sempat berkukuh buat cuma merendam kaki doang, tapi setelah melihat Mimi dan Cilot merayap aman di air bersama ban gede rentalan, saya akirnya ikut. Waaah, sejuk nian.. 😉 Jadi berasa rugi kalau ga jadi berenang 😀

Kami berjalan hingga ke tengah kolam, meraba-raba dengan kaki sambil berpegangan di sisi luar ban. Tiba-tiba, kami terpeleset, melesat ke dalam air, tidak ada bebatuan tempat menginjakkan kaki, kami gelagapan!!! Siapapun diantara kami berusaha berpegangan kuat pada ban, namun ban itu oleng karena berat sebelah dan sayapun terbenam ke dalam air, panik.. tanpa sadar meneguk air yang sama sekali tak ingin saya teguk, berharap ada seseorang yang mau menyelamatkan, saya cuma bisa pasrah, mungkinkah hidup saya akan berakhir disini?? (Bah) Saya berusaha sampai ke permukaan, mencoba mengompensasi keadaan, ternyata.. sia-sia.. terdengar suara Mela dan beberapa orang memanggil nama saya dengan khawatir..

Lalu, datang sebuah tangan menarik saya, dan tentunya juga Mimi dan Cilot, ketempat yang ada pijakannya. Alhamdulillah, Ibu-ibu itulah pahlawan kami.. Tanpa dia, mungkin, saya rasa.. entahlah..

Padahal, saya sempat negative thinking  nih sama siIbu awalnya, coz cuma dia yang berani mengenakan pakaian minim begitu disana, tengtop sama celana ketat, dan Allahualam.. untuk kesekiankalinya, Tuhan mengajarkan saya “Don’t judge peoples by their look, no bodies perfect, you too!!”, benar-benar salut dan kagum sama siIbu, dia berani tampil beda di tengah kultur yang kental dan ahli berenang 🙂

Kami berganti baju, beh… segar.. tapi juga capek.. Kak Ami sempat nanya, “mau kemana kita lagi?”. Semua no comment, kayaknya satu suara, meskipun hari masih menunjukkan pukul 3. Akirnya kami memilih untuk pulang setelah mengantar Mela ke rumahnya. Hoaaahm, capek.. ngantuk.. tapi menyenangkan!! 3 rute ini mengobati kekecewaan kami karena batal ke pulau, bukan cuma pantai yang kami sisiri, tapi ada bukit dan lembah.. lengkap sudah 3 elemen 😉

Pemandangan dalam perjalanan menuju Padang, ada sunset..