Category Archives: Ngarai (Canyon)

Kebun Herbal Kobe

Selain Kobe Harborland, ada sebuah paket wisata komplit lainnya yang sangat menarik di Kobe, namanya Nunobiki Herb Gardens & Ropeway. Disini banyak sekali jenis tumbuhan herbal dari berbagai spesies.

Nunobiki Herb Gardens & Ropeway

Pastinya, ini bakal menjadi salah satu tempat liburan yang seru bagi para pelancong.

Tiket Masuk

Pembelian tiket masuk ada di lantai 4 gedung Herb Garden Bottom Station. Naik dari lantai 1 dengan menggunakan lift.

Harga tiket variatif tergantung pilihan pengunjung. Untuk round tickets bajetnya ¥1.500/orang. Dengan tiket ini, bisa naik ropeway pulang-pergi, masuk Rose Symphony Garden, Glass House, dan semua tempat wisata yang ada di dalam kawasan Nunobiki Herb Gardens.

Ropeway (Kereta Gantung)

Taman ataupun puncak diakses dengan ropeway yang memiliki 3 stasiun, yaitu: stasiun terbawah, stasiun tengah dan stasiun teratas.

Setelah membeli tiket, ikuti alur antri, perlihatkan tiket pada petugas untuk distempel, naik kereta gantung sesuai arahan petugas.

Hampir semua dinding ropeway terbuat dari kaca. Dan, saking panjang rutenya, bagi yang pertama kali naik kereta gantung mungkin akan sedikit gamang, tapi bakal berasa biasa saja kalau keretanya sudah jalan. Sebaiknya pilih tempat duduk yang searah dengan alur kereta.

Perjalanan hingga stasiun tengah menawarkan panorama kota kobe nan indah. Tempat duduk yang pas adalah berlawanan arah dengan alur kereta.

Melongok dari kaca sebelah kanan kereta terlihat dengan jelas Nunobiki Waterfall yang mempesona. Kabarnya air terjun ini salah satu dari 100 air terjun terbaik di jepang.

Begitu juga dengan sebelah kiri, ada bendungan air! Namanya Nunobiki Gohonmatsu Dam. Dari kejauhan bendungan tersebut lebih terlihat bak kaca. Bendungan dan air terjun ini digadang-gadang sebagai kualitas terbaik air Kobe.

Di stasiun tengah, jika tidak berhenti, kita tetap duduk di kereta. Hanya saja, petugas akan melakukan pengecekan. Kemudian, kereta melanjutkan rutenya hingga stasiun teratas.

Di stasiun teratas, tunggu aba-aba dari petugas baru keluar. Perlihatkan tiket ke petugas dan bisa memasuki kawasan paling puncak.

Papan Penunjuk Arah

Bagi yang bingung mau milih area mana yang mau dikunjungi, cukup dengan melihat papan penunjuk arah yang menunjukkan lokasi masing-masing wisata. Papan tersebut cukup mudah dipahami, karena selain bahasa jepang juga tertulis dalam bahasa inggris.

Panorama Alam & Kota Kobe dari Puncak

Pintu keluar kereta gantung terhubung dengan area restoran (View Plaza) dan panorama lepas kota kobe.

Sejauh mata memandang, luar biasa indah.. Apalagi saat cuaca cerah, bakal jelas terlihat padatnya pemukiman penduduk di kota kobe, gedung-gedung pencakar langit, hamparan laut luas, pelabuhan kobe, bukit barisan yang terlihat seperti garis pembatas antara laut dan langit biru.

Kereta gantung silih berganti berlalu-lalang diketinggian melewati kebun-kebun herbal 4 musim dibawahnya. Atap-atap rumah kacapun terlihat unik dan menarik untuk disinggahi. Sungguh sebuah karya & maha karya yang keren!

Panorama ini bisa dinikmati dengan teleskop berbayar ¥100. Bahkan, Kobe Port Tower pun yang lanmark-nya Kobe bisa terlihat dengan jelas!

Pict taken by Etikuchan
View dari puncak

View Plaza

Di puncak ropeway, ada View Plaza. Bangunan bergaya eropa ini terdiri dari restoran, cafe dan area pertokoan; menjadi tempat terluas disini dan memberi kesan romantis! Area ini didekorasi dengan berbagai jenis bunga dan meninggalkan wangi flora.

Pict taken by Etikuchan
View Plaza

Bagi yang mencari TOILET, ada di lantai dasar gedung yang ada jam dindingnya.

Rose Symphony Garden

Disini terdapat banyak sekali jenis bunga mawar. Di tengah kebun, ada patung anak kecil yang memegang ikan, mulut ikan tersebut menganga lebar mengeluarkan air mancur yang mengalir ke kolam mungil berbentuk gelas piala. Artistik!

Spot di Rose Symphony Garden

Di berbagai sisi taman banyak tempat duduk untuk bersantai-ria.

Mori no Hall

Bangunan ini berada di dalam kawasan Rose Symphony Garden. Di beranda depannya ada Garden Cafe yang menjual aneka minuman yang didominasi dari bahan herbal.

Masuk ke tempat ini gratis! Di sebelah kanan pintu terpajang dengan cantik miniatur rumah dan kehidupan bergaya eropa. Benar-benar kreatif!

Miniatur bergaya eropa

Di sisi seberangnya ada aneka aroma dan wewangian herbal. Aneka tanaman seperti salah satunya kayu manis ditaruh di dalam kotak kaca, kemudian disisinya ada botol kecil berisikan wewangian khas kayu manis.

Di sisi kiri ada ハーブガイドアロマと香り, yang mungkin bila dibahasaindonesiakan berarti panduan aroma dan wewangian herbal. Kita bisa melihat secara langsung alat-alat yang digunakan untuk mengekstrak herbal. Tempat yang lebih mirip area presentasi ini buka pukul 11:00-11:45.

Selanjutnya, ada ruangan yang sepertinya toko yang menjual aneka aroma & wewangian herbal.

Di lantai 2, ada Mori no Hall yang ditutup, mungkin khusus untuk acara-acara tertentu saja.

Pintu keluar lantai 2 terhubung ke bangunan coklat tertinggi yang ada jam dindingnya. Bangunan ini berada diantara View Plaza & Rose Symphony Garden. Menelusuri anak tangga bisa kembali turun ke lorong antara area restoran & kebun mawar.

Glass House

Pernah maen game FarmVille nggak?! Kalo pernah, pasti bakal familiar sama bangunan yang satu ini, namanya glass house (rumah kaca). Mulai dari dinding sampai ke atapnya memang didominasi oleh kaca.

Glass House

Di dalam rumah ini, ada beberapa bagian yang masing-masingnya didekorasi dengan sangat unik. Ada taman, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang santai; semua punya konsep herbal!

Dibagian belakang, ada monumen ibu & anak yang dilatari dengan air. Sesekali muncul gelembung air. Kejernihan airnya bikin adem..

Di beranda belakang mungkin bakal jadi tempat yang paling disukai para pelancong (selain area puncak). Pemandangan lepas laut dan kota kobe kembali menakjubkan mata. Dan lagi, sofa empuknya bebas digunakan pengunjung untuk bersantai-ria, penat setelah melanglang-buana berasa menguap!

Diantara pengunjung ada yang memilih berendam kaki di Herbal Footbath, buka dari pukul 10:00-16:30. Disediain handuk juga lho, ¥100/lembar.

Herbal Footbath

Disini juga ada cafe yang menjual teh, kopi dan es krim herbal. Harganya variatif berkisar dari ¥600.

Pembelian Oleh-oleh

Aneka souvenir banyak dijual di lokasi pembelian tiket, lantai 4 gedung Herb Garden Bottom Station.

Selain lokasi shopping dan beli tiket, disini juga tempat pengambilan souvenir gratis buat pengunjung yang nge-share foto ke sosmed pake hashtag Nunobiki Herb Gardens & Ropeway dengan memperlihatkannya pada staf. Biasanya bakal dapetin sebungkus herbal camomile buat garam mandi di bathtub.

Akses

Akses ke lokasi bisa dengan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi.

Kobe Cityloop Bus

Dengan kendaraan umum, bisa memanfaatkan subway khusus wisata yang dikenal dengan nama Kobe City Loop Bus.

Jika destinasinya hanya kebun herbal ini saja, bisa langsung naik bus di halte berlogo city loop. Bajet ¥260 (¥130 untuk anak-anak dibawah 12 tahun), bayar di mesin otomatis yang ada disamping kiri sopir.

Selama di bus, dilarang makan, minum, merokok ataupun bicara pake suara gede, termasuk menggunakan ponsel yang mengganggu (seperti: menerima telepon).

Jika punya destinasi lebih dari satu, recommended banget pake 1-Day Pass. Memang sedikit merogoh kocek tapi tentunya hemat dan praktis. Tiket dewasa ¥660 dan anak-anak ¥330, bisa dibeli di City Loop buses, Kobe Information Center di Stasiun Sannomiya dan di Tourist Information Offices di Shin-Kobe. Saat naik bus, perlihatkan tiket ke sopir/pemandu.

Bus Pariwisata

Tempat parkir kendaraan pribadi berbeda dengan bus wisata. Bus pariwisata dan kursi roda bisa langsung parkir di halaman pelataran yang ada di depan gedung yang bertuliskan Herb Gardens Bottom Station. Dari belakang gedung ANA Plaza, ikuti plang parkir yang ada disebelah kanan.

Mobil Pribadi

Tempat parkir untuk kendaraan pribadi ada di dalam gedung ANA Plaza. Dari belakang gedung ANA Plaza, plang parkir ada di sebelah kiri, ikuti jalan memasuki gedung, tempat parkir ada di lantai 6-8. Pembayaran parkir dengan kartu atau cash.

Turun dari tempat parkir (6F-8F) dengan lift menuju lantai 1. Jalan keluar gedung, masuki gerbang bertuliskan 布引ハーブ園/ロープウェイ, ikuti jalan khusus pejalan kaki sampai ketemu lift. Disamping lift tersedia map yang bisa digunakan sebagai panduan manual.

Untuk menaiki lift, antri dengan teratur, dahulukan pengunjung yang ada di dalam lift keluar dulu baru masuk dengan tertib. Kadang sesekali bakalan ketemu guide/volunteer di lift. Bobot lift hanya 11 orang.

Atau, pengunjung juga bisa menaiki anak tangga.

Catatan

  • Area Nunobiki Herb Gardens tutup pukul 16:30
  • Ropeway tutup pukul 17:15

Gallery

* Sebagian foto diambil dari koleksi foto Etikuchan, termasuk foto yang digunakan untuk judul

Kamus

  • 布引ハーブ園/ロープウェイ /nunobiki haabu-en roopuwei/ = Nunobiki Herb Gardens & Ropeway (Kebun Herbal Nunobiki & Kereta Gantung)
  • ロープウェイ /roopuwei/ = Ropeway (kereta gatung, gondola, lori
  • グラスハウス /gurasu hausu/ = Glass hause (rumah kaca)
  • 1-Day Pass/One Day Pass /wan dei pas/ = Tiket subway yang bisa digunakan seharian kemana saja sesuai aturan yang berlaku
  • 1F, 6F, 8F = Singkatan dari 1st Floor (lantai 1)
  • ハーブ園山麓駅 /haabu-en sanroku-eki/ = Herb Garden Bottom Station (Stasiun terbawah taman herbal)
  • 布引の滝 /nunobiki no taki/ = Nunobiki Waterfall (Air Terjun Nunobiki)
  • 布引五本松ダム /nunobiki gohonmatsu damu/ = Nunobiki Gohonmatsu Dam (Bendungan Gohonmatsu Nunobiki)
  • Budget = Kata serapan yang dibahasaindonesiakan menjadi bajet (anggaran)
  • ガーデンカフェ /gaaden kafe/ = Garden Cafe
  • ハーブガイドアロマと香り /haabu gaido aroma to kaori/ = Herb Guide Aroma & Fragrance (Panduan Aroma & Wewangian Herbal)
  • Cash = Bayar kontan
  • Guide = Pemandu
  • Volunteer = Sukarelawan

Related Link

Referensi

Opini O

Karena dikelola dengan sangat baik, kebun herbal ini luar biasa indah.. Wort it memang dengan harga tiket segitu.

*

Padahal, bunga yang dilihat juga banyak ditemui di Indonesia. Bedanya di Indonesia, mungkin karena saking banyaknya, bunga-bunga itu tampak tak berharga, bahkan ada yang mencapnya bunga kampung, contohnya: bunga tahi ayam; atau lebih memilih bunga yang lebih mahal (apalagi dengan iming-iming impor dari negara bla bla bla).

Di jepang, bunga-bunga yang biasa kita temui di negara kita jadi bernilai. Coba saja lihat di taman kota, taman bermain ataupun di beberapa tanaman hias; sebagian besar bunga-bunga itu cukup familiar. Tak heran bila di supermarketpun dijual dalam bentuk kemasan pot, benih atau bingkisan. Bahkan, menjadi salah satu spesies penghuni kebun herbal di kobe.

*

Tranpostasinya OK! Ada subway bus khusus wisata lengkap dengan buku panduan manual dalam bahasa jepang atau inggris. Tempat parkirpun terkoordinir dengan sangat baik. Pembayaran hanya sekali, jelas dan praktis; sesuai dengan waktu penggunaan. Sistemnya juga teratur, mobil pribadi tidak bisa parkir seenaknya di area bus sekalipun kosong. Bahkan, kursi rodapun memiliki area parkir khusus.

*

Sebagian besar orang Indonesia yang berkunjung kesini benar-benar memanfaatkan waktu untuk berlibur dan mengambil spot foto yang bagus. Pemandangan yang cukup kontras datang dari wisatawan barat, mereka tampak berlibur sekaligus belajar. Selain mengambil foto, mereka membaca penjelasan diberbagai spot yang mereka singgahi.

*

Mau ada atau tidak ada tong sampah, area ini selalu terjaga kebersihannya. Bahkan dengan banyaknya pepohonan dan tanam-tanaman dari segala jenis, sampah daun keringpun tak tampak menyemak di jalan setapak sekalipun.

*

Bagi teman-teman yang perutnya sensitif dengan minuman tertentu, mungkin sedikit memilah dalam pemilihan minuman ataupun kombinasinya. Jika terjadi mual, muntah, pusing dan/atau mencret, evaluasi dulu penyebabnya apa.

Salah satu kombinasi yang mungkin bisa bikin perut ga enak adalah krim cair berbungkus mungil transparan yang berasa asem, sepertinya. Bila ngalamin itu, segera minum banyak air putih atau susu cair, gejala lebih lanjut konsul ke pelayanan kesehatan terdekat.

Tabiang Takuruang

Buat teman-teman penggemar cartoon pasti tidak asing dengan serial Avatar. Nah, salah satu gambar(backround)nya mirip dengan bukit yang ada di panorama ini, berada di kawasan Ngarai Sianok, Kabupaten Agam. Oleh karenanya, bukit nan unik ini juga disebut sebagai Bukit Avatar oleh sebagian kecil orang yang pernah melihatnya, terutama penggemar cartoon Avatar.

Tempat ini dinamakan Tabiang Takuruang, satu-satunya tebing yang dikelilingi oleh banyak tebing yang agak jauh di sisi lainnya. Jalurnya melewati jalan kecil yang belum diaspal, masih berkerikil, namun bisa dilewati oleh kendaraan seperti mobil. Akses ke lokasi menggunakan angkot (angkutan kota) berwarna  merah jurusan Jambak (Koto Baru)-Bukittinggi.

Sekitar 400 meter dari simpang kecil akan ditemukan papan penanda “Taruko Cafe”. Cafe ini dikelola oleh anak-anak muda yang saangat kreatif. Nuansa natural khas alam pedesaan-pun siap memanjakan pengunjungnya. Duduk di cafe ini menawarkan ketenangan, sejuk, pemandangan nan elok (tebing yang unik, ngarai dan sungai dengan air jernih yang mengalir konstan, bangunan menyerupai rangkiang, ada kolam dan angsa). Perfect!! Sungguh mahakarya Sang Pencipta yang wajib dikagumi dan disyukuri.

Kita tidak perlu repot-repot membawa bekal, karena di cafe ini tersedia menu dengan harga relatif. Untuk makanan, kita bisa merogoh kocek mulai dari Rp 18.000,-an dan minuman mulai dari Rp 10.000,-an.

Info destinasi yang mulai menjadi primadona ini dishare oleh Geni, berikut dokumentasinya.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di Kota Bukittinggi, terletak di perbatasan Bukittinggi, di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lembah curam ini membentang dari selatan Nagari Koto Gadang hingga Nagari Sianok Anam Suku dan berakhir di Kecamatan Palupuh (BEM SI UNAND 2015).

Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau sanget, karena banyak kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini (BEM SI UNAND 2015).

Keindahan Ngarai Sianok juga dapat dilihat dari Taman Panorama & Lobang Jepang, dimana di depannya terdapat Great Wall-nya Bukittinggi yang dulunya merupang Janjang Saribu (jenjang seribu) atau Janjang Koto Gadang. Masakan yang terkenal di sekitar sini adalah Itiak Lado Ijau (bebek cabe hijau) yang 1 potongnya dijual sekitar Rp 20.000,- atau lebih. Bukan cuma itu, sesuatu yang tak kalah menarik yaitu di Koto Gadang yang merupakan lokasi pengrajin perak.

Referensi
  • BEM SI UNAND 2015.

31 Tahun Bukittinggi Kota Wisata

Kronologis Backpacking

Sepulang dari Rontgen kaki Ayah yang terkilir, rencananya Aku mau menunggu expertisenya sampai sore di Bukittinggi. Hm,  Aku yakin nggak bakal pusing nyariin tempat nongkrong, secara setiap sudut di Bukittinggi berpotensi untuk rehat 😀 Aku tinggal jalan doang mau kemanapun, naik angkot kalau udah capek banget 😀 Yah, Bukittinggi… Kota kecil yang selalu Aku kagumi 🙂 tidak ada yang berubah, masih saja ramah dan bersahaja, sekalipun pembangunannya meningkat dengan pesat. Wisata… Kuliner… Penduduknya.. Semuanya!! ngangenin banget.. 🙂 beruntung Aku pernah mengecap nyamannya jadi warga Bukittinggi 🙂 Wkwkwk, kok makin lebay ya?! Haha… Sorry, sorry… Cus, kita lanjutin ceritanya 😀 Tapi ciyus lho, Bukittinggi itu memang nyaman bangett, semua ada 😀

Akhirnya, meskipun expertisenya batal diambil hari ini; Aku memutuskan untuk melancong sekilas di kota sejuk ini (tapi sekarang lumayan terik, bok..). Aku belum tau mau kemana, tapi hatiku memandu untuk ke Panorama, Aku mau mampir sebentar, sekedar foto-foto.. Sayang rasanya cepat-cepat balik ke Padang, karena nanti belum tentu Aku masih punya waktu seluang ini untuk menyapa Bukittinggi.. 🙂

Aku naik angkot No. 15. Nah, kalau di Bukittinggi, angkot itu pake nomor, guys… Beda sama di Padang.. No. 15 Untuk rute ke Blaba, Simpang Kangkung – Panorama – RSAM- Pasar Bawah – Jenjang Gudang – Hotel Jogja – Bank BNI pusat – Niagara swalayan (Simpang Kangkung) – Simpang YARSI – RSI Ibnu Sina Bukittinggi – Belakang Balok (Blaba) – Simpang STIKes YARSI Sumbar Bukittinggi – Simpang Universitas Muhammadiyah (belakang) – Akbid Poltekes Kemenkes RI – kantor-kantor pemerintah kota Bukittinggi – UNP – Birugo – SMAN 2 Bukittinggi – RSSN – Kodim – Simpang Universitas Muhammadiyah (depan) – Simpang STIKes YARSI Sumbar Bukittinggi – RSI Ibnu Sina Bukittinggi – Simpang YARSI – Simpang Kangkung. Angkot. No. 14 rute Jambu Air, Simpang Kangkung – Panorama – RSAM- Pasar Bawah – Jenjang Gudang – Hotel Jogja – Bank BNI pusat – Niagara swalayan (Simpang Kangkung) – Lapangan Kantin – RSSN – SMAN 2 Bukittinggi – Jambu Air. Angkot No. 03, 06 & 09 itu bedanya dia lewat ke Kampung Cina (lupa ding, udah lama soalnya…). Angkot No. 19 rute Terminal Aur Kuning. Selain itu memang ada angkot berwarna kuning dan hijau. Angkot Kuning itu rute dari dan ke Padang Luar, trus ntar muternya di Jenjang Gudang/BNI pusat/Hotel Jogja. Angkot hijau jurusan Koto Tuo, lewat Terminal Aur Kuning dan ambil belokan di Stasiun. Wadoooow, nggak tau itu apa bener semua atau ada rute yang salah, hihhi… Maklum, memorynya cuma sejam-sejam, jadi kalau udah lama mesti diinstal terus 😀

Taman Panorama & Lobang Jepang

“Kiri, Pak…” ungkapku menyetop angkot yang kutumpangi. Aku serasa nggak percaya kalau Aku beneran udah disini, guys… Sudah lama sekali… 🙂 Dengan mantap Aku melangkah untuk membeli karcis, tapi kok… Jendela pembelian karcisnya tutup semua?? Aku sempat mikir, jangan-jangan udah ditutup lagi gegara over capacity?! Liat aja, wisatawannya rame nian euy… Iseng-iseng Aku bertanya pada bapak-bapak yang duduk-duduk di samping kanan depan gerbangnya, nanyain beli tiketnya gimana. Sayup-sayup nggak jelas Aku dengar GRATIS!!!! “Ah, masa sih???”. Mau nanya lagi mah Aku kagak sreg sama bapak-bapaknya, segan… ntar dibilang tuwir lagi?! Beeeh… Ya udah, Aku jalan-jalan aja pelan masuk ke dalam, coz ada salah satu bapaknya bilang selembar kertas, entah itu balesin omongan Aku atau malah komentar lain dari pembicaraannya sebelumnya; Aku jaga-jaga aja, ntar kalau disodorin kertas, Aku tinggal bayar, Aku rasa tiketnya nggak bakal lebih dari Rp 10.000,- 😀 Tapi… udah pasang tampang oonpun, udah mondar-mandir sana-sini kayak nyariin kenalan (padahal kagak ada yang kenal), eeh… Ya udah, rejekinya Aku nih, hihi… Senangnya… Tapi, serius ini GRATIS?! Jangan-jangan ntar pas Aku mau keluar, malah kena tegur?? Malu dong… Mending Aku bayar dari sekarang.. Tapi, ya sudahlah… Aku jalan-jalan aja, keliling-keliling, foto-foto; kalaupun bayar, Aku tinggal ngasi duitnya 😉

Hm, bingung juga nih, mau kemana ya?! Udah masuk, GRATIS, pake bingung lagi… ntar rejekinya malah ilang?! Aku nikmatiin aja foto-fotonya, secara pemandangan disini bagus banget, adem, tenang (padahal rame, lho..), sejuk mata memandang (padahal rada panas, lho..), T.O.P dah pokoknya…

Aku fotoin ngarai yang di depan ahh… Tapi ogah, itu orang lagi numpuk disana, jadi keder… 😀 Hm, kemana ya?? Ahaaa.. Lobang Jepang!!! Aku fotoin Lobang Jepang aja ahh… Hm, abis ini Aku minta tolong fotoin sama adek-adek ini, hihi.. Kebetulan banget, mereka lagi duduk-duduk nggak jelas disini.. 😀 Eh, belum jadi Aku minta tolong, mereka keburu bubar.. 😦 Emang nasibku kali ini apes dah, ya sudahlah.. yang penting Aku udah ambil sendiri foto asli objeknya 🙂

Tiba-tiba, datang seorang bapak-bapak nawarin diri buat membantu ngambilin fotoku berlatarkan Lobang Jepang. Aku sempat negative thinking, lho.. Jangan-jangan.. Jangan-jangan..?! Aku was-was, guys.. Tapi, “udah”, kata bapaknya. “Udah, pak” jawabku tanpa melihat hasilnya. “Lihatlah dulu, bagus nggak?!” kata bapaknya ramah. Aku jadi nggak enak gitu, Ku buka dah itu foto, ternyata cukup bagus, tanpa Aku sadari si bapak juga ikutan liat dan bertanya kembali untuk meyakinkanku “udah?”. Aku tersenyum yakin “udah, udah, makasi ya, pak..” Jawabku mengapresiasi si bapak. Kemudian beliau berlalu diikuti seseorang yang lebih muda darinya dan sepertinya masuk ke Lobang Jepang itu (Aku tidak memperhatikan). Ohh, betapa suuzonnya Aku tadi, bener-bener minta maaf sama si bapak, coz jarang-jarang ketemu orang yang memiliki inisitif tinggi seperti itu 🙂

OK deh, jadi… Aku keliling-keliling lagi ahh.. Tapi, Aku sedikit was-was dan menjaga jarak dari kera-kera yang berkeliaran dimana-mana. Aku yakin mereka nggak bakal gangguin Aku, toh kalau mereka udah gangguin wisatawan so pasti udah diusir sama petugas-petugasnya. Wong mereka enjoy aja tuh jalan kesana-kemari sesukanya. Syukurlah.. Beberapa kali aku lewati dan mereka melewatiku, sampe yang gede sekalipun, aman-aman aja… Aku mulai ga enak, sedari tadi bawaannya suuzon terus.. So, Aku beliin mereka makanan dah entar, kasian mondar-mandir doang, mungkin mereka ngarep juga tuh wisatawannya ngasi cemilan 😀 Tapi… boleh nggak ya?? Ntar malah bikin ribut lagi?! Parahnya, Akulah sang tersangka 😦 Aku ingat, di Jepang sebuah taman yang banyak monyetnya, pengunjung nggak boleh ngasi makanan, Aku nonton beberapa hari yang lalu di sebuah stasiun TV swasta.. Disini gimana ya?! Aku lupa ding, yang Aku ingat, di kebun binatang mah boleh.. Sewatu kecil, Ayah sama Ibu selalu beliin semilan (biasanya kacang goreng) buat ngasi binatangnya makanan 😀 Masa kecil yang terlalu bahagia untuk dikenang 😀 Tapi ntar Aku liat sikon aja deh, apesnya belum ada tuh yang keliatan ngasi sikeranya makanan?? Dengan berat hati, Aku memilih untuk sekedar lalu lalang dan ngambil foto mereka aja. Walhasil, Aku jadi bahan ledekan ABG-ABG yang usil karenanya 😀

Dingarai seberang sana, tampak Great Wall mengular singkat. Aku mau kesana, tapi… jauh… Unjut bilang, pake motor aja capek, apalagi jalan?! Huft, sayang banget.. Ah, Aku terusin aja langkahku hingga mentok di ujung, sekalian cuci mata liatin cendera mata yang bagus-bagus, hee.. Bener aja, Aku kecentol sama sebuah lukisan yang harganya ekonomis, mulai dari Rp 5.000,- lho… Cantik-cantik..!!! Liat deh kalau enggak percaya 😉

Sesampainya di penghabisan toko-toko yang menjual aneka cendera mata, Aku mengambil banyak foto; secara pemandangan disini lebih menarik dari sayap sebelumnya. Tapi, ada yang kurang rasanya.. Apa ya?? Hmm… Foto-foto yang kuambil pasti akan jauh lebih bagus jika kuambil dari ketinggian. Aku melihat sebuah menara 2 lantai tertancap kokoh disana dan Aku mengenalinya (Jangan-jangan, umurku kalah tua darinya?). Kutatap menara itu, berusaha nego dengan diriku sendiri, “berani nggak ya??” bisikku dalam hati. Apa boleh buat, Aku mulai terobsesi ke atas sana, penasaran apa rasanya berada disana, karena selama ini yang bisa kulakukan hanyalah melihat, sekarang waktunya “action” 😉 Hm, disekitar menara malah berkeliaran beberapa ekor kera yang seolah menyiratkan bahwa “kami menjaga menara ini, lho..”. Seketika nyaliku berangsur ciut, bisa mampus tuh Aku dikeroyokin sama mereka ntar?? Ah, ogah ah… Tapi… Aku ingin mencobanya.. 🙂

Kebetulan, di dekat menara itu ada sebuah toko, satu-satunya toko terakhir yang berdekatan dengan menara. Aku menyapa pemilik toko dan bertanya “Da, boleh nggak naik ke atas menara ini?”. Dia melirikku antara aneh dan heran, “Ngga apa-apa” jawabnya ringan. “Tapi… kera-kera itu…” tanyaku khawatir. “Ga masalah, mereka nggak ngganggu kok, bla bla bla….” tutur si Uda menjelaskan.

Kutarik napas dalam dan go…. Kuseret langkahku pelan tapi pasti, satu tangga… dua tangga… tap tap tap, akhirnya sampai di lantai 1
(Horrraaayy…. I got it!!!). Bagus banget pemandangan dari sini… Hm, Aku harus naik lagi nih ke lantai paling atas. Kali ini energiku mulai full kembali, nyalikupun demikian.. Memang benar kata si Uda, para kera sama sekali tidak menggangguku.. Mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing 😀 Dengan tetap berhati-hati, kulangkahkan kaki langkah demi langkah, dan… I’m the winner.. Aku sampai….!!!! Tiba-tiba, Aku mulai merasakan aura gamang.. Entah sejak kapan Aku mulai mabuk ketinggian, guys… Kurasakan tubuhku seolah-olah akan jatuh kala Aku berada di pinggiran pembatas menara, seperti ada magnet besar yang menarikku dan Aku tak kuasa melawannya. Aku menyadari kalau Aku mulai khawatir. Kusandarkan punggungku ke pinggiran tengah menara, namun tetap berhati-hati, jangan sampai Aku bersandar di mulut tangga, itu mah sama parahnya, hahaa..

Tanpa sengaja, kudengar percakapan 3 orang cowok yang bergerak ke arah menara ini. Topiknya tidak lain dan tidak bukan memang si Menara.. Aku tidak memperhatikan, entah mereka bapak-bapak, pemuda-pemuda, para ABG, atau beberapa diantaranya?! Hanya saja, Aku sempat ketawa geli saat salah satu dari mereka mengungkapkan ketakutannya untuk mendaki menara ini. Aku merasa lucu aja guys, masa sekelas cowok yang beginian aja takut?? Haha, ups, Aku ngga bermaksud ngejek, lho.. Tapi memang seharusnya mereka lebih berani, wong Aku aja cewek, sendiri, berani ke atas sini.. 🙂 Songooong.. 😀 Tapi akhirnya mereka bertiga nyusul Aku kok ke puncak menara. Segera setelah mereka sampai, Aku memutuskan untuk turun.

Cukup lama Aku berkeliling, tiba waktunya untuk pulang.. Ku lumat-lumat langkahku memperhatikan sekitar, sepertinya ini memang rejekiku, alias GRATIS!! Mimpi apa Aku semalam, jalan-jalan iseng, eh malah GRATIS?! 😀

Aku keluar dari gerbang Taman Panorama & Lobang Jepang, kemudian berdiri ditrotoar menunggu angkot. Tak jelas angkot yang aku tunggu itu apakah yang no. 15 atau no. 14, silih berganti mereka lalu-lalang di depanku, atau… angkot no.19 aja biar langsung ke Terminal Aur Kuning?! Entah kenapa, Aku merasa waktuku masih panjang, masih cukup untuk kesana-kemari.. Tapi, mengingat belum makan siang, Aku memutuskan untuk langsung pulang aja. Tapi eits, tunggu… pesawat itu..!! diseberang..!! Kala kecil Ayah dan Ibuku sering menunjukinya padaku dan Unjut.. Aku ingin memfotonya, ditunda dulu dah sortir angkotnya… Hmm, ternyata itu Museum???? Halllooooowwww, kemana aja Aku selama ini??? Memang bener-bener nih Aku, kebangetan..!!!!

DSC_9339
Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma

Nah, kebetulan nih, itu kan Museum.. Aku ingat sewaktu di Curup dulu, rumah adatnya yang terkesan dijaga ketat ternyata terbuka untuk umum.. Aku coba tanya ahh… Tapi bapak yang menjaganya tentara??! Apa ini khusus untuk angkatan aja ya?? Hm, coba ditanya dulu dah..

Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma

Aku udah kayak orang bengong nyari alamat aja.. 😀 Untung aja bapak-bapaknya ramah, jadi nggak keliatan banget oonnya 😀 Trus bapaknya malah nanya, “berapa orang?” Waduuuu… tuh, kan…?! Aku bilang sendiri.. Hm, responnya diluar periraanku, aman-aman aja.. Yah, begitulah ramahnya Bukittinggi… 🙂

Aku masuk ke dalam, tanpa karcis lho, guys… Nggak ngerti juga nih, entah biasanya bayar atau memang kali ini Aku beruntung (bangett)?! Hm, entahlah… yang jelas, kali ini beda pesonanya.. Aku berasa terlempar jauh ke jaman kemerdekaan, aroma sejarahnya sangat kental….

 

Awalnya cuma Aku doang pengunjungnya, lama-lama datang sekelompok anak sekolahan dan para guru. Aku salut sama mereka, masih sempat menyisakan waktu untuk mengunjungi museum.. Suatu hal yang boleh dikatakan tidak pernah Aku lakukan, karena tidak terpapar dengannya. Aku sempat tertawa geli kala anak-anak itu mengomentari berbagai jenis mata uang dari beberapa negara yang terpajang disana dan mereka berkomentar “wah, mata uang Indonesia yang paling banyak jenisnya ya?!” seru mereka kompak antara kagum dan heran 😀 Aku ikutan berebut melihat apa yang mereka lihat, takut ngga cukup waktu… 😀 (Alasan doang, seru aja nimbrung sama anak-anak cerdas seperti mereka, haha..).

Selesai berkeliling, saatnya Aku pulang, kali ini beneran… 😉 Tapi… masa jauh-jauh, ups udah sejauh ini, cuma liat-liat doang?? Aku mau foto di pesawat itu…!!! Sebenernyaa sih segan, tapi apa boleh buat, Aku minta tolong sama bapak yang jaga. Mereka ada berdua, yang satu mengenakan seragam dan satu lagi baju bebas. Bapak yang berseragam terlihat keberatan, mungkin karena tuntutan peraturannya atau gimana, Aku memaklumi itu. Untunglah bapak yang baju bebas maju dengan suka rela, hee… Setelah beberapa kali klik, si Bapak menawarkan untuk berfoto di relief, dinding sebelah kanan museum. Karena keberat segan, Aku menolaknya. Namun si Bapak meyakinkan apa Aku tidak ingin berfoto di relief itu, padahal pengunjung biasanya banyak yang berfoto disitu.. Akhirnya Aku dengan senang hati membuang basa basi basiku, xixi.. Aku berdiri disamping relief 🙂

Tau nggak, guys? Aku baru sadar kalau disini ada relief..?? Baah…. Kayaknya Aku lewat tadi, Aku pake kacamata pembias dari kanan deh, sehingga Aku nggak liat reliefnya terpahat dengan indah dan sangat jelas disitu 😀 Lain kali harus lebih perhatian nih 😀

Bendi

Aku menyeberang untuk menyetop angkot no. 19. Tapi, di seberang… Ada yang menarik diriku untuk kembali menyeberang.. Bendi!!!! Aku mau naik bendi!!!! Tapi, setauku maHHHal, lho… Hm, kita mana tau sebelum ditanya.. Aku menyeberang dengan ragu-ragu, kuyakinkan diri untuk paling enggak mengambil foto aja. Ketika inilah Aku baru melihat jelas plang Museum Perjuangan yang kupotret-potret doang tanpa memperhatikan objeknya. Beeeeh, disana terpahat rapi “Museum Perjuangan, Tri Daya Eka Dharma, terbuka untuk umum”. Gubrakkk….!!! Layaknya orang yang kena timbuk batu gede, itulah malunya Aku saat ini. Betapa tidak, udah ada tulisannya terbuka untuk umum, tapi aku malah menanyakan pertanyaan yang udah ada jawabannya itu dengan tampang oon, walaaaah… Udah bangun belum sih Aku ini?? Jangan sampai nanti kejadian lagi nih yang kayak begini… 😀

Sebelum naik tanpa aba-aba, Aku mastiin dulu coast bendinya berapa… Pas bapaknya nanya “mau kemana, nak?” Aku malah asal jawab, “kalau ke pasar bawah berapa, pak?”. “Kasih aja Rp 20.000,-“ kata bapaknya ringan. Aku menelan ludah, “mahalnya pak? Nggak bisa kurang, pak?” responku sedikit memelas.. tapi si bapak bilang “memang segitu”. Aku pasrah… “kalau ke RSAM, pak?” tanyaku lagi.. “Kasih aja Rp 15.000,- atau Rp 10.000,-anlah..” jawab bapaknya. Aku jadi lesu, “5 ribulah ya, pak…” tanyaku lagi mencoba untuk nego. Akhirnya si bapak nyerah & mengiyakan 😀

Sebelum berngkat, nggak lupa Aku minta tolong bapaknya fotoin dulu Aku sama bendinya (kesempatan langka!! hee..). Tapi bapaknya menolak, beliau mau saja, tapi kudanya bisa lari ntar.. Hm, bener juga.. sudah seharusnya aku memaklumi itu.

Tiba-tiba ketika Aku menaiki bendi, si bapak keceplosan.. “Semua wisata di Bukittinggi gratis karena HUT kota wisata”. Aku terperangah, dalam waktu bersamaan dengan bendi berkelok, aku melihat spanduk besar tergantung tepat dipintu masuk Taman Panorama dan Lobang Jepang “31 th pencanangan Bukittinggi sebagai Kota Wisata”.

Dari sekian waktu yang kuhabiskan tadi, ternyata banyak hal penting yang Aku abaikan, masyaAllah… Merasa tidak mendapatkan promosinya, Aku langsung berkomentar pada si bapak, “Lah, kok nggak diumumkan ya, pak?? Kan jadi banyak yang nggak tau??”. Ternyata si bapak urang tau juga, tapi sepertinya kata beliau mungkin ada disiarkan lewat radio-radio..

Dalam perjalanan, Aku bercerita kalau naik bendi ini karena kangen aja, dulu sekali semasa kecil Aku pernah menumpanginya. Eh, ternyata si bapak juga bercerita tentang anaknya yang sedang kuliah. Aku salut sama sibapak, jadi ingat ayahku.. 🙂

Plang megah RSAM sudah mengintip dari sayap kiri, Aku bersiap-siap turun dari bendi. Ada sedikit rasa bersalah terselip mau bayar bendinya Rp 5.000,-. Tapi, apa boleh buat, untuk saat ini keuanganku benar-benar dalam kondisi memprihatinkan, jadi mau tak mau Aku betul-betul harus mempertimbangkan apa saja yang penting untuk dibayar. Udah gitu, Aku rasa, Aku belum terlalu ketegaan menawar dengan harga segitu, masih masuk akal..

Kuperhatikan sibapak sampai berbelok dengan sempurna hingga seberang, tak henti mataku memandang hingga kejauhan, sampai-sampai Aku lupa memperhatikan angkot-angkot yang silih berganti berhenti menanyakan ruteku. Hup, tunggu dulu… Alhamdulillah… Ada seorang bapak-bapak yang menyetop bendi si bapak, syukurlah… Angkot no. 19-pun menghampiri dan Aku langsung naik setelah memastikannya benar-benar ke Terminal Aur Kuning.

Simpang Raya

Sesampai di Terminal, Aku singgah dulu di Simpang Raya, rumah makan langgananku sekeluarga 😀 Aku belum sempat makan siang, sekalipun ntar ada lauk, ternyata Unjut nggak masak nasi?! hm.. Sekali-sekali beli nasi bungkuslah, kangen sama dendeng lamboknya.. Dendeng lambok apa ayam pop medan, ya?? Hm…??? Atau… cancang?? ini beberapa menu unggulanku sih disana.. Hm.. dendeng aja deh.. Lagian ntar di Padang udah ada pensi balado yang dibikin Ibu dan dibawa Unjut dari kampung. Perutku udah menari kegirangan, tapi kudu sabbar… 😀

Back to Padang

Kali ini Aku naik Bus Tranex, ongkos Rp 20.000,-. Dalam perjalanan, Ibuku menghubungiku. Beliau heran, kenapa Aku masih belum sampai di Padang?? Aku menceritakan alasannya, termasuk betapa oonnya Aku bengong-bengong nyariin tukang karcis, haha… Bah, begonya lagi, Ibu dan Ayahku tau kok kalau hari ini tuh semua wisata di Bukittinggi GRATIS seharian.. Waduuuu…. Berarti memang Aku nih yang kudet (kurang update) 😀

Taman Panorama & Lobang Jepang

Tempat wisata yang satu ini terletak di Panorama, Kota Bukittinggi. Sebelum masuk, kita beli tiket dulu di loket pintu masuk. Nah, didalamnya, kita bisa melihat panorama Ngarai nan elok, masuk ke Lobang Jepang yang merupakan tempat bersejarah dan ke great wall-nya Bukittinggi. Buat kamu para backpacker, untuk kesini bisa menaiki angkot (angkutan umum) berwarna merah dengan kode 14 (rute Jambu Air), 15 (rute Belakang Balok) atau 19 (rute Aur Kuning); atau juga bisa dengan Bendi.

Lobang Jepang (bahasa Minangnya Lubang Japang)

Disini banyak kera yang berkeliaran dimana-mana. Tapi jangan kuatir, mereka tidak pernah mengganggu pengunjung.

Di Ngarai seberang sana, tampak Great Wall mengular singkat. Karena jaraknya yang cukup jauh, lebih baik menggunakan kendaraan seperti motor. Mentok di ujung Panorama ini, terdapat sebuah menara 3 lantai dengan tangga berliku dibagian tengahnya. Diatas menara ini, dapat dilihat view Ngarai yang terhampar luas dan luar biasa indah… Aneka cendera mata banyak dijual di sepanjang jalan menuju menara, bahkan ada lukisan dengan harga mulai dari  Rp 5.000,-!

Panorama.

Bacpacking To Payakumbuh

13 Desember 2014
Pai Baralek & Warung Sea Food "Pak Cik"

It’s time to going to wedding party… Yuhuuu….. 😀 Niat awalnya siy abis baralek (kenduri) ini, saya langsung balik ke Padang, eh teman saya malah nawarin buat nginap di tempatnya dulu dengan seabrek iming-iming travelling ples kuliner, saya jadi 50:50, berasa ogahan… Hm, yang namanya perjalanan jauh ga pernah bisa kita prediksi, walhasil saya nyerah, teman saya menang, saya nebeng dah tempat dia 😀 Untung aja udah prepare juga sedari humz, jadi ga repot deh mau nginap apa engga 😀 (Belajar dari pengalaman, sedia payung sebelum hujan, dari pada ntar merogoh kocek pula nak beli serba baru, mending dialokasikan buat keperluan lain, ya nggak?! 😀 ). Cus, kebetulan saya naik Bus Sarah nih yang katanya deket dari rumah teman saya itu. 🙂 Ongkos Rp 25.000,- (dua puluh lima rebeng) sejak BBM naik 😀 .

  • 09.46 SGO Lubuk Buaya
  • 12.10 Terminal Aur Bukittinggi
  • 12.25 Biaro
  • 12.41 Gerbang Kabupaten Lima Puluh Kota
  • 12.48 Kota Payakumbuh
  • 12.51 Ngalau Indah
  • 13.10 Simpang Labuah Silang
  • 13.20 Akirnya sampai di rumah mertua teman saya. Ini nih mak dan anak yang kompak 😀
  • 14.15 SMK 2 Payakumbuh

     

  • Rumah Adat Bakewi
  • …. Payakumbuh dapet penghargaan Piagam Adipura lho, guys..
14 Desember 2014
Harau Resort & Otw Padang
  • …. Sekitar jam 9-an, kita cus ke Harau Resort, aseek…Nah, sebelum berangkat nih, saya dibekali dulu sarapan nasi goreng sama teman, kemasannya itu lho…ekonomis, mungil dan lucu…tapi jangan salah…enak lho, kenyang lagi 😀 Jadi iri nih sama si Ojik (panggilan keren ini teman), semua serba ekonomis, enak dan bikin kenyang… Pantes aja ya teman-teman yang ngampung di Payakumbuh pada rajin pulkam, wong surganya makanan dimana-mana.. 😀
  • ….Yuk, let’s go… Seberapa jauh sih ini?! Muter kemana-mana, saya pasrah mau dibawa kemana nih sama si Ojik sekeluarga.. Tapi serius dah, pemandangannya OK punya tau… Gila, kenapa baru sekarang bisa mampir jalan-jalan ke Payakumbuh ya??! Selama ini kemana aja?! Rugi nih yang di Payakumbuh kalau belum pernah ke Harau, belum lagi Warung Sea Food Pak Cik, waduuuu…. jadi keingat terruuuss….yummy…
  • 09.34 Tau nih si Ojik sekeluarga malah mampir di rumah makan??? Bukannya udah kenyang abis makan nasgor tuh tadi sebelum pergi???! Hm…??? Ternyata, itu buat bekal ntar abis mandi pasti pada kelaperan, haaa..tau aja… 😀 Lupa juga nih nanya nama rumah makannya apa, kayaknya Mis Munin itu deh.. Mana pemandangan diseberangnya keren lagi, ckck…
  • 09. 38 Yuhuuu…. Welcome to Harau Resort 😉

Kirain udah sampe, eeeh…ternyata masih panjang perjalanan pemirsah… :3 Tapi terbayarlah sama pemandangan sekitar yang beneran T.O.P, guys.. Maap ya, ga bisa upload semua ini foto, ntar bikin semak saking banyaknya malah banyak pula yang kecantol ntar kesana, hahaa…ember..

  • Kalau ga salah (thrue), ini dinas perikanan deh…Lupa ding.. 😀
  • 09.44 Kirain…udah beneran nyampe, ternyata…ga tau inih dimana ini sebetulnya yang Harau, dari tadi udah 2x nih “Selamat Datang”nya???
  • 09.46 Subhanallah…cantiknya… 🙂 Megah…Sayang banget ya wisata sebagus ini belum familiar (atau saya keles yang ga update?? xixi…ssst…)
  • 09.47 Horraaaay….gerbang ketiga…!!!! 😀

Akirnya, ini nih Harau yang sebenarnya… Waaaah…amazing… Grand Canyon_nya Payakumbuh, nih.. Luarrr biasa…. cantik bangeeeet… Suasananya juga masih asri, lho… Subhanallah….

  • Air Terjun 1 (Satu)
  • Air Terjun 2 (Dua)
  • Air Terjun 3 (Tiga)

Out Bond yg dikelola Pak Bustami ini siap menguji nyali, hayyooo..siapa yg mau ikut?! Seru abisss…cucunya Pak Bustami ini aja yg bernama Neva, 3 tahun, bolak-balik tanpa takut lho…Bener2 luar biasa. Insert Rp 50.000,-

  • Tanaman Khas Harau Resort
  • 15.39 Go to Padang naik Bus Sarah (lagi) langsung nih ke loketnya, sempat ketinggalan Bus juga, untung aja ini Bus selalu ada 😀
  • 15.49 Bye… Payakumbuh… (Gerbang akhir)
  • 15.51 Bye… Tanah Datar… (Gerbang akhir)
  • 17.30 Bakso Rudal Panyalaian, maceeeeeeeeeeet…………Tapi Alhamdulillah, akhirnya bebas juga dari macet panjang, gara2 toronton mati mendadak & penyelesaian kecelakaan kemarin (Padang Panjang: fuso rem blom, kecelakaan 4 mobil + 9 motor, 3 orang meninggal).
  • 17.48 Gooo….
  • 20.38 Padang, alhamdulillah, misi selesai… hari yang indah… 🙂

Harau Resort Payakumbuh

Harau Resort (Lembah Harau)

Harau Resort atau lebih dikenal dengan Lembah Harau terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Tempat ini dikelilingi oleh bebatuan granit dengan ketinggian 100-500 m dan memiliki 3 macam air terjun dengan ketinggian sekitar 100 m (BEM SI UNAN 2015).

Berdasarkan penelitian, di Lembah Harau ini terdapat jenis batu yang hanya bisa ditemukan di dasar laut. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, mereka percaya bahwa dulunya lembah ini adalah laut (BEM SI UNAN 2015).

Lembah Harau dijuluki Lembah Yosemite di Indonesia karena memiliki keindahan seperti Taman Nasional Yosemite yang terletak di Sierra Nevada California dan telah terkenal ke seluruh dunia (BEM SI UNAN 2015).

Sebelum sampai di Harau Resort, kita akan melewati 3 gerbang:

Pemandangan alam menuju Harau Resort:

Harau Resort

Air Terjun 1 (Satu)
Air Terjun 2 (Dua)
Air Terjun 3 (Tiga) & Outbond

Disini ada Out Bond yang dikelola oleh Pak Bustami, siap menguji nyali anda. Seru.. cucunya Pak Bustami ini aja yg bernama Neva, 3 tahun, bolak-balik tanpa takut. Benar-benar luar biasa. Insert Rp 50.000,-

Tanaman Khas Harau Resort

Tanaman sejenis Pakis (lupa namanya) ini dijual sekitar Rp 60.000,-. Uniknya, pada bagian akarnya menyerupai tumpukan/gumulan bulu Siamang.

Bunga Anggrek Kantong ini dijual sekitar Rp 75.000,-. Pada bagian bawah bunganya menyerupai kantong dengan warna yang indah..

Referensi
  • BEM SI UNAND 2015.
Lainnya