Category Archives: Puncak

Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway)

Ibarat Padang dengan Tari Piring-nya, Tokushima identik dengan Awa Odori (Tarian Awa). Biasanya, setiap tahun, awa odori bisa dinikmati festivalnya di musim panas (natsu), pada bulan Agustus di Perfektur Tokushima. Tapi, buat yang penasaran, ingin melihat langsung di waktu yang berbeda, bisa mengunjungi lantai 2 Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway) dengan insert ¥600. Lokasinya dekat dengan Tokushima Station (satu halte bus sebelum stasiun).

Disini diperkenalkan evolusi tarian awa. Buat yang tidak mengerti bahasa jepang, disediakan teks dalam bahasa inggris. Pengunjung juga diajak ikut serta, lho.. Pada akhir acara, diberikan perhargaan (sertifikat) layaknya wisudawan/wisudawati, namun ini hanya diserahkan pada 2 orang pengunjung yang beruntung saja. Jika Anda salah satu diantaranya, pasti akan menjadi pengalaman yang luar biasa!

Nah, yuk kita ngotrelin alias ‘ngobrol travelling’ objek wisata unik yang satu ini, check it out..

Lokasi Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway)

Terletak sekitar 700 meter dari Tokushima Station (jika menggunakan bus, satu halte sebelum stasiun). Akses dari Tokushima Station bisa ditempuh dengan berjalan kaki (sekitar 15 menit) lurus hingga menyeberangi sekitar 2 perempatan besar dan jembatan Shinmachibashi berikut jejeran pertokoan di gedung bertuliskan kanji新町橋(Shinmachibashi).

Gedung Awa Odori Kaikan ini cukup unik, dari kejauhan bisa dilihat ropeway berlalu-lalang dari bagian tertinggi gedung hingga puncak gunung. Tak kalah unik, di halaman depannya terdapat tempat duduk berbahan dasar kayu dan atapnya menyerupai topi penari perempuan awa odori yang menjadi salah satu maskot Tokushima. Wisata ini juga bersebelahan dengan jinja. Jadi, terbilang sangat mudah ditemukan.

Insert

Untuk masuk Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway), pengunjung bisa memilih paket sesuai keinginan. Berikut pilihannya:

  • Umum
    • Awa Odori Museum: ¥300
      • Buka pukul 09:00-17:00 dengan entrance sampai 16:50.
      • 28 Desember hingga 1 Januari bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
    • Awa Odori Hall
      • Afternoon dance (tarian sore): ¥600
        • Ditampilkan oleh tim tari khusus: AWANOKAZE.
        • Di akhir pekan (weekdays), tampil pukul 14:00, 15:00 & 16:00.
        • Sabtu, minggu dan hari libur, tampil pukul 11:00, 14:00, 15:00 & 16:00.
        • Lama penampilan: 40 menit.
        • Layanan khusus antara 11-15 Agutus selama penampilan awa odori.
        • Penampilan khusus pada 12-15 Agustus.
        • 28 Desember hingga 3 Januari (2-3 Januari ada penampilan khusus) bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
      • Evening dance (tarian malam): ¥800
        • Ditampilkan oleh tim tari terkenal (1 tim setiap malam).
        • Penampilan selama 50 menit dari pukul 20.00 hingga selesai.
        • Layanan khusus antara 11-15 Agutus selama penampilan awa odori.
        • 21 Desember hingga 10 Januari bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
    • Ropeway
      • Insert:
        • One-way (6 menit):¥610
        • Return:¥1.020
      • Buka setiap tahun.
        • April-Oktober: 09.00-21.00
        • November-Maret: 09.00-17.30
        • *12-15 Agustus: 09.00-22.00
        • *Selama event khusus: 09.00-21.00
  • Paket (great-deal unit price)
    • Set 3 pilihan (set of three options)
      • Museum + afternoon dance ropeway (return) = ¥1.620
    • Set 2 pilihan A (set of two options A)
      • Museum + ropeway (return) = ¥1.120
    • Set 2 pilihan B (set of two options B)
      • Museum + afternoon dance = ¥800

*Diskon lainnya tidak bisa digunakan bersamaan dengan set tiket.

Tiket bisa dibeli di jidouhanbaiki (mesin penjual otomatis), sebelah kanan dari pintu masuk. Jika tidak mengerti, ada bagian informasi yang station-nya bersebelahan dengan jidouhanbaiki.

1F Arudeyo Tokushima (Lantai 2)

Memasuki gedung, pengunjung bisa membeli tiket di sebelah kanan melalui jidouhanbaiki. Jika segera lanjut ke lantai berikutnya, ada lift di sisi kiri. Namun, jika ingin cuci mata dengan aneka cenderamata dan omiyage (oleh-oleh) khas Tokushima, pengunjung bisa langsung ke sisi belakang. Makanan khas Tokushima seperti manju, osato, segala bentuk olahan imo (ubi berkulit ungu dengan isi kuning, hasil pertanian andalan di Tokushima). Cenderamata yang khas yaitu mainan HP (mobile phone) berbentuk sodachikun (boneka dengan dominasi warna hijau yang menjadi icon Tokushima) dan boneka penari awa odori.

Lantai dasar ini buka dari pukul 09.00-21.00 waktu setempat. Khusus tanggal 21 Desember sampai 10 Januari (termasuk hari libur), buka sampai pukul 18.00. Namun, pada 28 Desember hingga 1 Januari, tempat ini bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.

2F Awa Odori Hall (Lantai 2)

Nah, ini nih yang tadi sempat diulas di prolog.. Buat pengunjung yang ingin melihat langsung keelokan awa odori ataupun berminat untuk ikut merasakan bagaimana rasanya menarikan tarian awa, disinilah tempatnya. Disini diceritakan evolusi awa odori  berikut contoh gerakannya. Penyampaiannya mirip presentasi seminar dan buat pengunjung asing tersedia teks dalam bahasa inggris.

Kemudian, di akhir acara, buat yang beruntung bisa mendapatkan sertifikat, hanya untuk 2 orang pengunjung saja! Tidak hanya diserahkan layaknya wisudawan/ti, buat pengunjung yang ikut menari juga diberikan kain pengikat kepala unik dengan dominasi warna biru dan putih, khasnya tarian awa.

Dibagian luar, sebelum atau setelah teater, di sisi kanan lift, ada papan berdesain khusus yang bagian kepalanya dilobangi (salah satu media untuk bereksis-ria). Di bagian dindingnya tersusun dengan sangat apik lampion-lampion bertuliskan kanji. Selain itu, juga ada sofa, tempat ini ditata seperti lobi dalam bentuk minimalis tapi luas.

3F Awa Odori Museum (Lantai 3)

Di lantai ini, pengunjung disuguhkan penampilan tarian awa yang didesain menarik, kemudian dibawa menelusuri sejarah awa odori. Diantaranya, lukisan yang menceritakan kehidupan masa lalu masyarakat awa, miniatur-miniatur, alat musik dan pakaian awa odori, bioskop 3D /tridi/ bertemakan tarian awa, dll. Yang paling menarik, ada 2 robot yang menampilkan gerakan awa odori.

5F Bizan Bottom Ropeway Terminal (Lantai 5)

Lantai ini merupakan terminal awal ropeway yang nantinya akan mengantarkan pengunjung ke puncak gunung dengan view elok kota Tokushima. Di lantai ini juga terdapat sebuat restoran. Uniknya, tersedia makanan HALAL!! Ada tulisan حلال-nya! Kabar gembira nih buat yang muslim. Namun, restoran ini hanya buka hingga jam 5 sore saja.

Bizan Ropeway

Ropeway ini memiliki 2 jalur yang akan mengantarkan pengunjung menyisiri hamparan area pepohonan hingga puncak gunung. Semakin tinggi, semakin terlihat view lepas pemandangan kota Tokushima yang menyuguhkan indahnya kombinasi daratan dan lautan.

Di puncak gunung ini ada teropong khusus (seperti teropong yang ada di puncak Monas, Jakarta) yang bisa digunakan untuk menelisir pemandangan sekitar dalam jarak pandang yang cukup jauh hanya dengan memasukkan uang koin ¥100. Selain itu, disini juga terdapat jinja dan pagoda.

Pagoda

Khusus pagoda, ada acara tahunan (annual events):

  • Waktu:
    • 21 Maret
    • 15 Agustus
    • 26 September
  • Insert:
    • Dewasa: ¥200
    • Anak-anak: ¥100

Hanami (花見)

Tak ada yang tak kenal bunga sakura (cherry blossom), bukan?! Nah, alih-alih mau masuk bulan April, alias waktunya musim semi (springharu 春), di gunung ini bakal terlihat nuansa pinky-pinky-nya. Dan, ini menjadi waktu yang tepat buat para pengunjung yang tak ingin melewatkan kesempatan buat hanami-an.

*Hanami (花見) dalam bahasa jepang berarti melihat bunga, ini merupakan tradisi jepang dalam menikmati keindahan bunga, terutama sakura.

Gallery

Referensi

  • Semua informasi disadur dari Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway).

Recommended Link

Advertisements

Momiji ‘Autum-nya Jepang’

Momiji is one of favorite event in autumn in Japan

Musim gugur di Jepang disebut dengan 秋「あき」/aki/ (autumn). Jika di musim semi identik dengan sakura, di musim gugur populer dengan momiji sebagai icon-nya. Di musim ini, momiji menjadi event yang paling ditunggu.

Banyak yang beranggapan bahwa semua daun yang berubah warna menjadi kemerahan adalah momiji. Padahal, momiji itu sendiri adalah nama daun yang berbentuk seperti tangan dengan pinggiran bergerigi dan ujung daun yang lancip. Sedangkan, selain momiji, daun lain yang juga berubah warna, disebut dengan 紅葉「こうよう」/kooyoo/.

Biasanya, di musim peralihan ke musim dingin ini, banyak wisatawan mendatangi Kyoto, kota tua-nya Jepang, khusus untuk mengabadikan moment indahnya musim gugur. Menurut berbagai sumber, tanggal 26 bulan ini menjadi puncak あき yang berarti momiji terindah untuk tahun ini.

Hal unik lainnya, beberapa daerah seperti Air Terjun Mino (Mino Park), menjadikan tempura momiji sebagai kuliner andalan. Daun ini dijadikan gorengan seperti keripik bayam di Indonesia. Bedanya, tempura momiji memiliki rasa yang nyaris hambar. 

Gunung Kidul (Mount Kidul)

Gunung Kidul terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta dan memakan waktu sekitar 1 jam dari pusat kota dengan menggunakan kendaraan pribadi. Lokasi ini terkenal dengan wisata Bukit Bintang dan ratusan pantai indah yang saling menyambung, seperti: Pantai IndrayantiPantai Baron, Pantai Sepanjang, dan lainnya.

Sayangnya, lokasi yang syarat dengan keindahan ini belum dikelola dengan maksimal, sehingga akses ke lokasipun terbatas. Seperti halnya transportasi, untuk sampai ke destinasi yang satu ini hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi atau carteran. Selain itu, papan penanda atau plang nama pantai juga tidak semuanya tersedia.

Berikut beberapa tempat wisata ternama di Gunung Kidul.

cover1c
Foto dishare dari wwww.griyowono.com

Ambun Tanai

Ambun Tanai terletak di Nagari Lawang, Kec. Matur, Kab. Agam, Sumatera Barat. Untuk masuk ke lokasi ini, kita mesti membeli tiket seharga Rp 3.000,-. Biaya parkir motor Rp 2.000,- dan mobil Rp 3.000,-. Disini dapat dilihat pemandangan Danau Maninjau nan indah. Selain itu, disini juga tersedia arena bermain untuk anak-anak.

Referensi

Informasi verbal dan dokumentasi didapat dari Geni pada 12 September 2015 di Padang.

Puncak Mandeh (Mandeh Top)

Puncak Mandeh

Objek wisata ini pernah dijuluki sebagai Raja Ampat-nya Sumatra. Terletak di Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan. Lokasi ini dinamai Puncak Mandeh karena berdekatan dengan Desa Mandeh yang merupakan bagian tengah dari Teluk Carocok Tarusan. Dari puncak ini, tampak aneka pulau berpencar dihamparan laut nan biru. Langit yang cerah membiaskan warna yang cantik di permukaan laut. Udaranya sejuk.. Pepohonan disekitarnya melindungi kita dari silaunya cahaya matahari.

This is known by Raja Ampat of Sumatra, because they are alike. Mandeh Top located in Koto XI Tarusan Subdistrict, South Pesisir Regency, West Sumatra. The name is given because it is near Mandeh Village, the middle of Carocok Bay Tarusan. There is very beautiful place.

Referensi
  • BEM SI UNAND 2015.
Lainnya

Puncak Anai Resort

Puncak Anai Resort terletak di daerah Malibo Anai, Kab. Padang Pariaman. Insert masuk Rp 10.000,-/orang.

Lokasi ini bisa diakses dengan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Akan tetapi, kendaraan umum tidak ada yang langsung sampai ke lokasi, hanya melewati simpang Malibo Anai saja, seperti bus-bus atau travel yang melewati Jl. Raya Padang-Bukittinggi. Selain itu, untuk mencapai Puncak Anai Resort, tidak ada ojek, angkot atau sejenisnya ditemukan di simpang. Oleh karenanya, lebih baik kesini menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum yang telah dicater.

Dari simpang Malibo menuju puncak, menempuh jarak sekitar 1,5 km dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dengan motor, kemudian di simpang tiga pertama belok ke kanan (belok kiri menuju Tirta Alam). Disepanjang pinggiran jalan terdapat banyak resort/villa. Parkir motor Rp 2.000,-.

Sepanjang jalan menuju Puncak Anai Resort:

Disini terdapat 3 macam kolam, 1 kolam anak-anak dan 2 untuk dewasa. Airnya jernih dan sejuk, khas pegunungan. Tepat disisi kolam terdapat tempat-tempat duduk yang ditata dengan sangat apik. Pemandangan sekitar elok, nuansa alam yang masih asri..

Tiket masuk & parkir Puncak Anai:

Referensi
  • Geni, informasi verbal pada 28 Agustus 2015. Termasuk foto juga diambil dari album Geni.

Trip Ke Pulau Pasumpahan

Ceritanya nih, kemaren saya diajakin Dayak (teman saya yang sering ngetrip ke Pulau Pagang, Pulau Pamutusan, Pulau Pasumpahan untuk trip bukit dan Pulau Sekuai dengan bajet backpacker) ke Pulau Pasumpahan. Seneng bangeet.. secara dari dulu batal terus 😀

Nah, pagi ini kita udah standbye di Simpang Anduring, ngumpul dulu sebelum berangkat. Disini saya ketemu teman baru, kecuali Firman; ada bang Dido dan bang Ihsan. Ntar ada bang Yendi dan jagoan kecilnya Denov, menyusul gabung di jalan menuju kesana. Kita berangkat pake motor, jadi mirip touring gitu 🙂 Sayangnya, ada beberapa orang yang batal ikut karena suatu hal. So, it’s OK, let’s go to Pasumpahan Island, yuhu…. 😉

Kita melewati rute Sungai Sipisang, biar ga lama di laut, lebih cepat sampai ke pulau 🙂 Selain kesini, bisa juga melalui Pantai Carolin atau Pantai Carocok, dengan paket tertentu, sesuai guidenya. Namun Dayak menyarankan lebih cepat lewat ke Sungai Sipisang, meskipun akses kesana sedikit kurang bagus, ada sepenggal jalan yang masih berkerikil dan ada satu tikungan tajam, tapi seterusnya cukup bagus. Ga harus pake motor, pake mobilpun bisa 🙂 Ntar semua kendaraan dititip di rumah warga tertentu sebelum menyebrang ke pulau 😉

Kita mampir dulu di rumah makan sebelum masuk Sungai Sipisang, beli bekal, bajetnya sekitar Rp 16.000,-, udah termasuk air mineral kantongan 😀 Nasi dan sambal dibungkus terpisah biar enggak cepat basi 😉

Waaah… view disini masih asri banget.. hijau… bikin mata sejuk memandang 🙂 tenang.. damai.. everythinglah pokoknya, kontras dengan tempat tinggal kami 😀 Kita juga melewati Kampung Nias, sawah-sawah yang sedang dipanen, dll..

Ada tragedi juga nih dalam perjalanan, motornya bang Ihsan kehabisan minyak, walhasil dia mesti nyari-nyari tempat yang sedia BBM disekitar sini. Syukurlah aman wae sampe tiba di lokasi 😀

Kita stay di rumah bang Andi, abang yang punya kapal. Setelah rehat sejenak, baru deh kita caw menuju pantai, menunggu kapal menjemput. Disini pemandangannya OK punya lho.. Pantai ini seperti sengaja dipagari oleh pancangan tiang-tiang yang melingkar dibibir pantai dan diramaikan dengan pohon kelapa yang menjulang rapi disisi pinggirnya, apik… Di sayap kiri terparkir aneka kapal besar, yang kata bang Dido nih, rentalnya bisa sampai milyaran!!! WOW..! Sementara disisi terdepan, terbentang luas laut dengan riak kecil, tampak beberapa pulau di sayap kiri memagari pantai ini hingga ke Pulau Pasumpahan.

Hari ini semakin luar biasa, ga cuma ke pulaunya yang real, tapi cuaca kali ini juga sangat bersahabat, cerah.. Alhamdulillah.. Jadi ga sabar nih pengen cepat-cepat sampai di seberang 😀

Tak ingin melewatkan moment, kitapun sibuk mengabadikan potret alam nan elok ini 😉 Sementara Denov kecil sibuk bermain di riak air tanpa takut, padahal umurnya baru 3,5 tahun, lho.. saluut..

Wah, akhirnya, kapal kita datang.. Yuk, ke Pulau Pasumpahan.. 😉

Amazing.. Emang bener… pulaunya bagus banget.. masih bersih, lautnya seperti agar-agar berbatas 2 warna, bening (berkilau cahaya) dan biru.. 😀

Tanpa petatah-petitih, kita langsung sibuk nyebur sana-sini setelah cukup puas bernarsis ria 😀 Tapi… saya sempat panik ketika merasa memegang sesuatu yang lenyek (kenyal) di laut yang cukup dalam (area biru), kemudian mulai gelagapan saat melihat ada yang bercahaya (mirip cahaya lampu di bukit berkabut) hilang timbul terawang dari dalam air, entah kenapa saya yakin “jangan-jangan itu ubur-ubur!!!”, saya langsung berteriak minta dipapah ke pinggir. Bukannya membantu, yang lain malah ngeledek, pada sibuk ngusilin saya, hadeeh.. Dengan meyakinkan, bang Dido bilang kalau ubur-ubur itu ga ada di cuaca cerah begini, tapi saya tetap yakin itu ubur-ubur dan berusaha menepi 😀

Namun, akhirnya mereka mulai percaya setelah melihat ada ubur-ubur yang terbawa riak ombak. Semua langsung bereksperimen. Bang Dido menceritakan kalau dirinya pernah disengat ubur-ubur yang menyisakan luka bakar. Bang Yendi mengeluh kulitnya gatal-gatal kena lendir siubur-ubur. Ada juga yang bilang, ubur-ubur yang terdampar itu sudah mati. Saking penasarannya, kita berebut memastikan, Firmanlah yang pertama memegang ubur-ubur dari pangkal kepalanya yang terbalik, agar tidak menyentuh bagian tentakelnya yang bisa menyengat. Ternyata apa yang bang Yendi alami, saya alami juga. Kulit saya gatal-gatal kena lendir si ubur-ubur, begitu juga Firman. Tapi sejauh ini aman, belum pernah dilaporkan ada yang menjadi korban sengatan ubur-ubur disini 😀

Setelah ini, kita lanjut ke trip bukit. Di kaki bukit, ada akar pohon yang mirip gantungan di film-film Tarzan. Dayak eksis berayun-ayun disana, waaah.. saya juga mau nyoba ahh… malangnya, bukannya berayun diangin, saya malah meluncur di tanah, hadeeeh… Ga okeh banget nih.. 😦 Terus, ada lagi buaian sederhana yang dibikin menghadap laut, dipayungi oleh rimbunnya pepohonan besar dan diterpa sejuknya angin pantai, ademm…

Kita meneruskan perjalanan menuju Puncak Pulau Pasumpahan. Hey, tunggu, lihat!! Ada kelumang!! Cantik… unik… Kelumang ini sejenis umang-umang yang besar 😉

Untuk tahap bawah ini, jalannya tidak terlalu curam, namun memang sedikit licin, tanahnya lembab, jadi kudu hati-hati.. Tapi jangan khawatir, disini, dipinggiran jalan setapak ini, difasilitasi tali yang cukup kuat, mempermudah kita untuk sampai ke atas. Pertengahan hingga puncak bukit mulai cukup curam, tanahnya kering dengan pendakian yang lebih miring. Saya sampai ngos-ngosan mencapai puncak bukit 😀

Sesampai di atas, kita mulai haus.. Sayang banget, ga ada satupun yang ingat buat ngebawa air mineral!! Waaa.. padahal tadi udah sering diomongin, lho.. Panas di atas ini lebih terik.. Tapi, rasa haus dan capek mulai hilang dengan sendirinya melihat pemandangan sekitar sini, indahnya…

Oya, yang pergi ke puncak cuma kita berlima ceritanya nih, bang Yendi ga ikut karena Denov masih ingin bermain air, secara Denov kan jagoan air kita 😉 Lagian sulit juga ngebawa anak kecil dengan akses seperti itu 🙂

Nah, turunnya beda lagi nih tantangannya.. Kalau saya boleh memilih, saya pilih menggelinding aja deh biar cepat sampai di bawah, hahaa (ngeyel). Akhirnya, kita sampai di bawah, tidak seberat perjuangan ke puncak tadi 😀 Then, yuk makan siang..

Gilaaa… nasinya bentuknya aja yang porsi minimalis, isinya padat bok.. Saya muai tekewer-kewwer ngabisinnya, padahal udah dibantuin 😀 Enaknya basalanjuang (makan bersama) nih tadi, hihi..

Udah berenang, udah ke puncak bukit, udah kenyang.. apa lagi nih agendanya? Folley beach!! Yeah, olahraga yang paling tidak saya suka, tapi sayang banget dilewatin.. Yuk, come on… Itung-itung buat happy-happyan, hee.. Disini kita kenalan sama “Haw”, cewe asal Vietnam yang lagi kuliah disini. Ga lama, permainan makin rame dan saatnya sianak bawang mengundurkan diri, haha..

Sekarang udah pukul 13.30 WIB, kayaknya udah waktunya ganti baju. Oya, disini juga ada mushalla dan kamar mandinya, lho.. Jadi ga usah khawatir mau ganti baju dimana.. Mushallanya juga menyediakan mukena dan tempatnya bersih 😉

Sehabis ganti baju, saya kembali ke markas (ciile, maksudnya ke tempat bentangan tikar roundnya kami). Ternyata mereka sempat snorkling tadi.. Waaa, saya ketinggalan nih.. Walhasil, saya bela-belain ganti baju lagi demi nyobain snorkling 😀 Tapi.. alatnya bang Dido udah ada yang minjem, so mereka nyari pinjem sama yang lain.. Hm, itulah enaknya punya teman yang supel ya, kemana aja ga perlu ribet, tinggal ngomong sana, ngomong sini, semua aman, salut.. Eh, untungnya kita ketemu sama teman SMA, King; terus Dayak nyoba minjem sama King. Jadi deh kita snorkling.. 😉

Waaah, cantiknya.. terumbu karang dan ikan-ikannya cantik… Sayang, kita ga ada yang punya kamera anti air, kalaupun bang Dido punya berbagai properti itu, kantongnya sobek pula, hadeeuh.. Tapi ga papa, it’s OK, ini udah lebih dari cukup 😉 Lalu, saya duluan ke markas ninggalin Firman yang masih sibuk bersnorkling ria sendirian 😀

Abis ini, saya ganti baju lagi dan standbye di markas. Yang lain masih ada yang ngajakin berenang, tapi saya rasa sudah cukup. Hari ini bener-bener serruuu…!!! 😉

Pas kita pulang, cuaca tampak mulai mendung.. Untungnya masih aman hingga ke seberang. Namun, untuk seterusnya, kita perlu berhenti beberapa kali untuk berteduh atau sekedar mengamankan tas dari hujan. Sampai di Padang, kita langsung diguyur hujan lebat, fiuh..

Menjelang Maghrib, tersisa Dayak, Firman, bang Dido dan saya. Kita ngumpul di tempat bang Dido, menunggu hujan reda. Selesai Maghrib, kita ada history konyol lagi nih, beberapa kali mobil sedan yang dipake Fiman dan Dayak buat nganterin saya, mati mendadak di jalan, sekali pas lampu hijau baru nyala 😀 Nah, dirumah nih, Unjut ketawa terbahak menceritakan kalau dia ketemu mobil sedan putih yang lagi mogok disimpang abis lampu merah, dianya ngeledek gitu dan makin heboh setelah tau itu mobil yang kita pake 😦

Pokoknya, hari ini luar biasa 😉 Ups, saya lupa promoin nih, ada slogan Firman nih yang fenomenal “Luccu.. Lenyai..” Kita excited pada ngikutin 😀

Semua foto hasil potret dari kita-kita

Trip Berubah Haluan “Menuju Wisata Painan Nan Elok”

Setelah seminggu mengumpulkan voting trip ke pulau, akhirnya pada hari Jum’at (01/05/15), deal 7 dari 16 orang yang berencana ikut. Yah, cukup senang, akhirnya bisa juga ikut trip ekonomis ala backpacker dari teman saya, Dayak. Sebenarnya trip ini selalu diadakan setiap hari Minggu, kita cukup milih 2 dari pulau: Pulau Pagang, Pulau Pamutusan, Pulau Pasumpahan (trip bukit) atau Pulau Sekuai.

Untung aja harinya fix Minggu, padahal sempat jadiin Sabtu sebagai alternatif 😀 Karena pagi di hari Sabtu hujan lebat euy.. Ga berhenti sampe sore.. Kami sempat pesimis trip ini terancam batal 😦

Namun, sekitar jam 10, Mimi, salah satu personil (ciha, haha) yang akan ikut, sudah stay di rumah saya, kita udah sepakat buat masak bareng ntar malam 😀 Kita belanja di Pasar Lubuk Buaya, sebuah pasar tradisional yang cukup besar di ujung Kota Padang yang menyediakan berbagai bahan masakan, makanan dan keperluan rumah tangga dengan harga miring 😉 Kita udah beli ayam potong 12, cabe goreng giling tangan yang dibeli di tempat Mak Uwo langganan saya, minyak goreng 1/4 kg buat serap, cabe ijo, tahu sumedang, tempe, mentimun, dll; tambah parkir Rp 1.000,-; total biaya yang kita keluarkan adalah tadaaaaa… Rp 75.000,-!!! Ekonomis, bukan?! 😉 Sampe rumah, kita nungguin Cilot, dia lagi dalam perjalanan dari Bukittinggi ke Padang.

Akhirnya, Cilot sampai di rumah saya setelah sebelumnya sempat nyasar sampe ke Basko 😀 Cilot bawa oleh-oleh Bukittinggi, asik, kerupuk sanjai dan karakkaliang, yihi… 😀 Saya dan mimi langsung menyerbu dan mulai sibuk mengemil makanan renyah itu 😀

Malamnya, abis Maghrib, kita udah standbye di dapur nak masak. Kita mau bikin ayam goreng sambal dan oseng-oseng 🙂 Berhubung saya masih pake kompor minyak, masaknya jadi lamaaa… Baru kelar jam 22.30-an, capek nungguinnya, hoaaahm.. ngantuk lagi.. Mimi aja udah berlayar entah kemana-mana, alias udah tepar 😀 cuma Cilot yang standbye sambil nontonin Jupiter Ascending yang sempat saya promoin 😀 Akhirnya kelar juga.. Hm, yummy… Semua masakan kita simpan di dalam tudung saji. Besok Subuh tinggal masak nasi dan bungkus-bungkus 😉

Sebelum tidur, kita berharap besok (Minggu) hari cerah, bak kata Mimi “Puas-puasinlah hujan sekarang biar besok cerah” ucapnya santai, sementara antara Cilot dan saya tetap ada raut pesimis. Lalu, waaaa… kita dapat kabar buruk, 2 personil kita mengonfirmasi mundur karena suatu hal, mereka mendadak mengalami situasi sulit 😦

Alhamdulillah… bangun di pagi tanggal merah, cuaca memaklumi usaha kami, cerah berawan.. Oh, thanks God.. hanya Kau yang mampu mengerti segalanya 🙂 So, let’s go to the island, yehee…

Kita siap-siap.. Mimi udah siap membungkus nasi 1 magic com gede 😀 Makluuum… ntar kita kan bepergian jauh, jadi harus ready bekalnya.. 😉

Semua fix, Siscepun udah ikut bergabung. Kita tinggal parkir di pinggir jalan raya buat nungguin mobilnya Kak Ami, wuih.. stylenya udah pas banget buat ke pantai, santai dan energik 😀

Mobilpun melaju menuju Teluk Bayur, tempat Dayak menunggu sebagai guidenya kita-kita. Setelah ketemu, kita langsung ngikutin instruksinya Dayak buat membaca arah.

Namun, di tengah perjalanan, Pak Sopir sempat mengajukan protes tentang tempat tujuan kami. Kemudian setelah hampir sampai di Sungai Pisang, Mama Kak Ami yang kebetulan ikut juga berpendapat kalau sebaiknya perjalanan dihentikan, kemudian diikuti oleh persetujuan dari teman-teman lainnya. Yah, apa boleh buat guys, akses kesana memang belum dikelola dengan cukup apik.. Untunglah Dayak mengerti keputusan ini, “thanks, Day!”

Mama dan Kak Ami menawarkan kami untuk mencari rute lain yang aksesnya lebih mudah. Disusul dengan ide Pak Sopir untuk menjemput Mela ke Tarusan setelah saya bilang Mela sempat mengajak ke pantai yang mirip tempat shooting film Laskar Pelangi. Seantero mobil mulai gembira kembali, terutama Mimi, karena dia sempat nonton My Trip My Adventure kemaren (Sabtu, 02/05/15) kala Duta Wisata Pessel mengundang artis cantik Nadine ke Pesisir Selatan, salah satunya Pantai Batu Kalang.

Saya menguhubungi Mela via mobile, mengonfirmasi alamatnya dimana, dan.. sekitar sejam melaju, dengan kecepatan Fast & Farious ala Pak Sopir, kami sampai di Tarusan. Waaah… rumah Mela adem euy, dikelilingi sawah… 🙂

Disini ada yang menarik, saat Mela bilang temannya juga ada yang punya trip ke pulau, naiknya di dekat sini, kami berlima kompakan nanya “Bara (berapa)??” lalu ketawa heboh setelahnya 😀 Selesai rehat, setelah mendapat ijin dari Papa Mela, kami membawa Mela, menggantikan Dayak sebagai guide, tentunya dengan trip yang sangat berbeda 😉

Pertama, kami dipandu ke Pantai Batu Kalang. Waaah, pantai yang eksotis!! Belum banyak lho yang datang kesini.. Saya juga ga bakalan tau kalau Mela enggak pernah cerita. Berulang kali Mimi bilang “Pasti banyak yang nyari tempat ini setelah tayang di TV”, ucapnya yakin 😀

Pantai lepas yang dipagari oleh bukit-bukit barisan.. Terhampar luas laut biru dengan tepian yang dangkal.. Banyak ikan-ikan cicak merayap dan sembunyi di sela-sela bebatuan karang. Ada ikan hitam yang cantik.. Tangan saya jadi gatal-gatal ga sabar ingin menangkapnya, tapi saya yakin ga bakal mampu 😀 Bebatuan besar tertata rapi di ujung pantai dan beberapa diantaranya terdampar dengan megah di bibir pantai. Ada beberapa batang Pohon Bakau tumbuh menyemarakkan indahnya pantai ini, dikelilingi oleh banyak pancang terjal yang seolah siap menusuk siapa saja yang berani mendekatinya. Indah..

Ketemu beberapa ubur-ubur yang terdampar!! Kok bisa ya?? Waaah, baru kali ini melihat ubur-ubur beneran 😀 Unik ya bentuknya..

Nggak mau kehilangan moment ini, kami berselfieria dimana-mana. Hasilnya keren-keren…!! 😉 Dan.. yuhuuuu… saya berhasil menangkap ikan yang lumayan besar 1 ekor, luar biasa senangnya 😀 Lalu, Mela juga berhasil nangkap ikan yang lebih kecil berwarna bening. Ikan khasnya pantai.. Saya pernah menemukan salah satu dari jenis yang seperti ini di Pulau Cingkuak 😉 Ntar masukin akuarium ah… 😀

Saya jadi penasaran, kok telapak kaki saya perih ya.. Tadinya dikira karena menapaki pecahan karang atau kerang yang berserakan di punggir pantai, eh taunya luka!!! Bah, lumayan ini.. Pantas aja.. Jadi senasib sama Sisce 😦 Nah, kudu hati-hati ye, atau pake sepatu sekalian biar aman 😉

Hari mulai terik, perutpun mulai lapar. Setelah minta ijin sama empunya kedai, warga asli, kami makan siang di pondokan yang mengarah ke laut, waaah… mantap…

Setelah ini, kita menunggu konfirmasi dari teman Mela, ada trip lain yang ga kalah keren, Pulau Cubadak!! Pulau yang sempat menjadi kontroversi di youtube  itu 😀 Namun, setelah dirembukkan, kami lebih memilih meneruskan perjalanan ke Puncak Mandeh. Saya udah pernah liat fotonya dari Unjut dan akhirnya sekarang punya kesempatan buat kesana, asik 😀

Hm, dibandingkan Pantai Batu Kalang, Puncak Mandeh sudah lebih familiar. Disini rame pas kita nyampe. Ada seru dan enggaknya nih. Serunya, ya rame.. Tapi, ga serunya, tiap foto, harus berebut ngambil posisi yang viewnya bagus, atau kadang udah kece badai masang gaya, eh nongol entah siapa-siapa lalu-lalang di belakang kita, bikin sebal aja :3

Dari puncak ini, tampak aneka pulau berpencar dihamparan laut nan biru.. Langit yang cerah membiaskan warna yang cantik di permukaan laut. Udaranya sejuk.. Pepohonan disana melindungi kita dari silaunya cahaya matahari.. Hoaahm.. jadi ngantuk.. 😀

Cus, trip ketiga, Air Terjun Bayang Sani. Mela bilang tempatnya OK punya. “Apa lagi ituh? Cak mana ya bentuknya? Paling mirip air terjun kebanyakanlah, cuma tingkat dan kedalamannya aja yang beda-beda”. Awalnya saya penasaran, tapi ga terlalu excited kesana. Tiba-tiba, di luar jendela, saya melihat tempat yang waaah… kereeen… Ternyata itu dia yang namanya Air Terjun Bayang Sani!!! Waaaah.. uniiik.. beda banget dari air terjun kebanyakan, baru kali ini saya liat yang beginian.. 😀

Sebelumnya udah niatan buat mandi-mandi, namun karena suatu hal, saya lebih memilih mundur setelah ngeliat langsung medannya gimana, huft.. Saya juga sempat was-was, karena saat mengambil foto, sempat melihat ada batang kayu gede membentang di puncak air terjun sebelah kanan, mulai paranoid duluan takut kena timpuk 😀

Pelan tapi pasti, akirnya kita sampe di kaki bukit, tepat di tempat jatuhnya air terjun.. Waaah… saking derasnya airnya, kita jadi kayak ngerasa berada di tengah rintik hujan, sejuk… Alirannya yang deras seolah menghanyutkan segala kepenatan, beban pikiran dan masalah yang sebelumnya terbawa sampe kesini (sok puitis) 😀 Pokoknya cius deh, kerreeeen…!!!

Dengan ogah-ogahan, akirnya saya menurunkan badan juga ke kolam di bawah air terjun. Itupun awalnya cuma buat menemani Mimi dan Cilot. Brrrr… sejuuuk… Saya sempat berkukuh buat cuma merendam kaki doang, tapi setelah melihat Mimi dan Cilot merayap aman di air bersama ban gede rentalan, saya akirnya ikut. Waaah, sejuk nian.. 😉 Jadi berasa rugi kalau ga jadi berenang 😀

Kami berjalan hingga ke tengah kolam, meraba-raba dengan kaki sambil berpegangan di sisi luar ban. Tiba-tiba, kami terpeleset, melesat ke dalam air, tidak ada bebatuan tempat menginjakkan kaki, kami gelagapan!!! Siapapun diantara kami berusaha berpegangan kuat pada ban, namun ban itu oleng karena berat sebelah dan sayapun terbenam ke dalam air, panik.. tanpa sadar meneguk air yang sama sekali tak ingin saya teguk, berharap ada seseorang yang mau menyelamatkan, saya cuma bisa pasrah, mungkinkah hidup saya akan berakhir disini?? (Bah) Saya berusaha sampai ke permukaan, mencoba mengompensasi keadaan, ternyata.. sia-sia.. terdengar suara Mela dan beberapa orang memanggil nama saya dengan khawatir..

Lalu, datang sebuah tangan menarik saya, dan tentunya juga Mimi dan Cilot, ketempat yang ada pijakannya. Alhamdulillah, Ibu-ibu itulah pahlawan kami.. Tanpa dia, mungkin, saya rasa.. entahlah..

Padahal, saya sempat negative thinking  nih sama siIbu awalnya, coz cuma dia yang berani mengenakan pakaian minim begitu disana, tengtop sama celana ketat, dan Allahualam.. untuk kesekiankalinya, Tuhan mengajarkan saya “Don’t judge peoples by their look, no bodies perfect, you too!!”, benar-benar salut dan kagum sama siIbu, dia berani tampil beda di tengah kultur yang kental dan ahli berenang 🙂

Kami berganti baju, beh… segar.. tapi juga capek.. Kak Ami sempat nanya, “mau kemana kita lagi?”. Semua no comment, kayaknya satu suara, meskipun hari masih menunjukkan pukul 3. Akirnya kami memilih untuk pulang setelah mengantar Mela ke rumahnya. Hoaaahm, capek.. ngantuk.. tapi menyenangkan!! 3 rute ini mengobati kekecewaan kami karena batal ke pulau, bukan cuma pantai yang kami sisiri, tapi ada bukit dan lembah.. lengkap sudah 3 elemen 😉

Pemandangan dalam perjalanan menuju Padang, ada sunset..