Category Archives: Museum

Hello Kobe!

Budget

  • Tokushima-Kobe (Tokushima Bus EDDY) Round Trip ¥5,940
  • Sannomiya Center Street (Shopping Center in Kobe) FREE
  • Nankinmachi (China Town) FREE
  • City Loop (Bus Tourist Guide in Kobe) ¥660
  • Kobe Harbor-Land FREE
  • Kobe Port Tower FREE (outside)
  • Meriken Park FREE (outside)
  • Kobe Maritime Museum FREE (outside)
  • Ali’s Halal Kitchen (Set B) ¥1,250
  • Kobe Muslim Mosque FREE
  • Kitano Ijinkan-dori Street (3 houses) ¥1,400
  • Kobe Nunobiki Herb Gardens & Ropeway ¥1,120
  • Manneken waffle ¥1,077 (1 box)
  • TOTAL Budget ¥11,447

Gallery

Advertisements

The Naruto German House

Buat pecinta sejarah, recommended banget buat berkunjung ke The Naruto German House yang jika diartikan dalam bahasa indonesia: Rumah Jerman di Naruto. Gedung megah dengan arsitektur bangunan ala jerman ini terletak di Naruto City (Kota Naruto), Perfektur Tokushima.

Sejarah

Berawal dari masa Perang Dunia I, dimana Jepang berpartisipasi sebagai Entente Powers yang berhasil merebut beberapa wilayah Asia dan Pasifik yang menjadi bagian kolonial Jerman, seperti tawanan perang. Sekitar seribu tentara jerman ditahan di Bando POWs Camp. Namun, mereka diberi kebebasan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal hingga terjalin sebuah persahabatan yang erat. Ini berlangsung selama 3 tahun (1917-1920).

Selama berada ditahanan, para tawanan melakukan berbagai kegiatan secara aktif, seperti: orkestra, paduan suara, teater, olahraga, kuliah, dll. Dari semua ini, Bethoven Symphony ke-9 lah yang pertama kali terkenal di Asia. Selain itu, karena keterbatasan keuangan jepang untuk memenuhi kebutuhan pangan tawanan, jepang membeli lahan dan para tawanan bekerja untuk menggarapnya.

Meskipun Perang Dunia I telah usai, hubungan persahabatan tersebut masih tetap terjalin. Oleh karenanya, pada tahun 1972 dibangun 鳴門市ドイツ館. Sejak itu, Naruto dan Lueneburg (Jerman) menjadi sister city.

Museum

Di lantai 2 Deutsches Haus Naruto ini terdapat museum yang mendiskripsikan kehidupan para tawanan tentara jerman selama berada di Bando POWs Camp. Tidak hanya dalam bentuk gambar saja, tetapi juga dalam bentuk miniatur yang dikombinasikan dengan video, sangat menarik! Di setiap bagian disediakan selebaran informasi dalam 2 bahasa (Jerman & Jepang) yang bisa diambil secara gratis.

Dan, tak kalah unik, ada panggung orkestra yang dimainkan oleh patung yang bisa bergerak (boleh dibilang robot), luar biasa! Penampilan ini bisa disaksikan pada waktu yang telah ditentukan.

Catatan: Di lantai 2 dilarang menggunakan kamera.

Tiket & Waktu

Insert untuk umum ¥400 dan anak-anak (SD-SMP) ¥100. Buka dari pukul 9.30-16.30 (waktu setempat). Tutup pada hari senin keempat dan 28-31 Desember di akhir tahun.

Akses

Akses ke lokasi dengan kendaraan pribadi, waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Tokushima-shi. Akses via transportasi umumpun juga tersedia, hanya saja tidak praktis; karena harus menggunakan bus dan berjalan kaki  dari halte terdekat yang kabarnya cukup jauh.

Event

Dalam rangka memperingati HUT ke-100 Pembukaan Bando POWs Camp, di hall lantai 1 museum ini diadakan konser musik klasik GRATIS! Event ini berlangsung pada hari minggu, 9 April 2017, pukul 13.00 (waktu lokal). Selain itu, juga gratis memasuki museum di lantai 2.

Pada event ini, tidak hanya orkestra, paduan suara ataupun seriosa saja, tapi juga ada presentasi menarik tentang sejarah The Naruto German House. Presentasi ini ditampilkan dalam bentuk gambar yang silih berganti diganti secara manual pada alat yang terbuat dari kayu dan sangat menarik!

Gallery

Kamus

  • 鳴門市ドイツ館 = The Naruto German House (Deutsches Haus Naruto)
  • Bando POWs Camp = Kamp tahanan Bando
  • POW = Prisoners of War (tawanan perang)
  • Sister city = Kota kembar
  • 開所100周年記念コンサート= Konser HUT ke-100 Pembukaan Bando POWs Camp
  • Entente Powers = Blok Sekutu
  • 徳島市 /tokushima-shi/ = Tokushima City (Kota Tokushima)

Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway)

Ibarat Padang dengan Tari Piring-nya, Tokushima identik dengan Awa Odori (Tarian Awa). Biasanya, setiap tahun, awa odori bisa dinikmati festivalnya di musim panas (natsu), pada bulan Agustus di Perfektur Tokushima. Tapi, buat yang penasaran, ingin melihat langsung di waktu yang berbeda, bisa mengunjungi lantai 2 Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway) dengan insert ¥600. Lokasinya dekat dengan Tokushima Station (satu halte bus sebelum stasiun).

Disini diperkenalkan evolusi tarian awa. Buat yang tidak mengerti bahasa jepang, disediakan teks dalam bahasa inggris. Pengunjung juga diajak ikut serta, lho.. Pada akhir acara, diberikan perhargaan (sertifikat) layaknya wisudawan/wisudawati, namun ini hanya diserahkan pada 2 orang pengunjung yang beruntung saja. Jika Anda salah satu diantaranya, pasti akan menjadi pengalaman yang luar biasa!

Nah, yuk kita ngotrelin alias ‘ngobrol travelling’ objek wisata unik yang satu ini, check it out..

Lokasi Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway)

Terletak sekitar 700 meter dari Tokushima Station (jika menggunakan bus, satu halte sebelum stasiun). Akses dari Tokushima Station bisa ditempuh dengan berjalan kaki (sekitar 15 menit) lurus hingga menyeberangi sekitar 2 perempatan besar dan jembatan Shinmachibashi berikut jejeran pertokoan di gedung bertuliskan kanji新町橋(Shinmachibashi).

Gedung Awa Odori Kaikan ini cukup unik, dari kejauhan bisa dilihat ropeway berlalu-lalang dari bagian tertinggi gedung hingga puncak gunung. Tak kalah unik, di halaman depannya terdapat tempat duduk berbahan dasar kayu dan atapnya menyerupai topi penari perempuan awa odori yang menjadi salah satu maskot Tokushima. Wisata ini juga bersebelahan dengan jinja. Jadi, terbilang sangat mudah ditemukan.

Insert

Untuk masuk Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway), pengunjung bisa memilih paket sesuai keinginan. Berikut pilihannya:

  • Umum
    • Awa Odori Museum: ¥300
      • Buka pukul 09:00-17:00 dengan entrance sampai 16:50.
      • 28 Desember hingga 1 Januari bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
    • Awa Odori Hall
      • Afternoon dance (tarian sore): ¥600
        • Ditampilkan oleh tim tari khusus: AWANOKAZE.
        • Di akhir pekan (weekdays), tampil pukul 14:00, 15:00 & 16:00.
        • Sabtu, minggu dan hari libur, tampil pukul 11:00, 14:00, 15:00 & 16:00.
        • Lama penampilan: 40 menit.
        • Layanan khusus antara 11-15 Agutus selama penampilan awa odori.
        • Penampilan khusus pada 12-15 Agustus.
        • 28 Desember hingga 3 Januari (2-3 Januari ada penampilan khusus) bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
      • Evening dance (tarian malam): ¥800
        • Ditampilkan oleh tim tari terkenal (1 tim setiap malam).
        • Penampilan selama 50 menit dari pukul 20.00 hingga selesai.
        • Layanan khusus antara 11-15 Agutus selama penampilan awa odori.
        • 21 Desember hingga 10 Januari bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
    • Ropeway
      • Insert:
        • One-way (6 menit):¥610
        • Return:¥1.020
      • Buka setiap tahun.
        • April-Oktober: 09.00-21.00
        • November-Maret: 09.00-17.30
        • *12-15 Agustus: 09.00-22.00
        • *Selama event khusus: 09.00-21.00
  • Paket (great-deal unit price)
    • Set 3 pilihan (set of three options)
      • Museum + afternoon dance ropeway (return) = ¥1.620
    • Set 2 pilihan A (set of two options A)
      • Museum + ropeway (return) = ¥1.120
    • Set 2 pilihan B (set of two options B)
      • Museum + afternoon dance = ¥800

*Diskon lainnya tidak bisa digunakan bersamaan dengan set tiket.

Tiket bisa dibeli di jidouhanbaiki (mesin penjual otomatis), sebelah kanan dari pintu masuk. Jika tidak mengerti, ada bagian informasi yang station-nya bersebelahan dengan jidouhanbaiki.

1F Arudeyo Tokushima (Lantai 2)

Memasuki gedung, pengunjung bisa membeli tiket di sebelah kanan melalui jidouhanbaiki. Jika segera lanjut ke lantai berikutnya, ada lift di sisi kiri. Namun, jika ingin cuci mata dengan aneka cenderamata dan omiyage (oleh-oleh) khas Tokushima, pengunjung bisa langsung ke sisi belakang. Makanan khas Tokushima seperti manju, osato, segala bentuk olahan imo (ubi berkulit ungu dengan isi kuning, hasil pertanian andalan di Tokushima). Cenderamata yang khas yaitu mainan HP (mobile phone) berbentuk sodachikun (boneka dengan dominasi warna hijau yang menjadi icon Tokushima) dan boneka penari awa odori.

Lantai dasar ini buka dari pukul 09.00-21.00 waktu setempat. Khusus tanggal 21 Desember sampai 10 Januari (termasuk hari libur), buka sampai pukul 18.00. Namun, pada 28 Desember hingga 1 Januari, tempat ini bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.

2F Awa Odori Hall (Lantai 2)

Nah, ini nih yang tadi sempat diulas di prolog.. Buat pengunjung yang ingin melihat langsung keelokan awa odori ataupun berminat untuk ikut merasakan bagaimana rasanya menarikan tarian awa, disinilah tempatnya. Disini diceritakan evolusi awa odori  berikut contoh gerakannya. Penyampaiannya mirip presentasi seminar dan buat pengunjung asing tersedia teks dalam bahasa inggris.

Kemudian, di akhir acara, buat yang beruntung bisa mendapatkan sertifikat, hanya untuk 2 orang pengunjung saja! Tidak hanya diserahkan layaknya wisudawan/ti, buat pengunjung yang ikut menari juga diberikan kain pengikat kepala unik dengan dominasi warna biru dan putih, khasnya tarian awa.

Dibagian luar, sebelum atau setelah teater, di sisi kanan lift, ada papan berdesain khusus yang bagian kepalanya dilobangi (salah satu media untuk bereksis-ria). Di bagian dindingnya tersusun dengan sangat apik lampion-lampion bertuliskan kanji. Selain itu, juga ada sofa, tempat ini ditata seperti lobi dalam bentuk minimalis tapi luas.

3F Awa Odori Museum (Lantai 3)

Di lantai ini, pengunjung disuguhkan penampilan tarian awa yang didesain menarik, kemudian dibawa menelusuri sejarah awa odori. Diantaranya, lukisan yang menceritakan kehidupan masa lalu masyarakat awa, miniatur-miniatur, alat musik dan pakaian awa odori, bioskop 3D /tridi/ bertemakan tarian awa, dll. Yang paling menarik, ada 2 robot yang menampilkan gerakan awa odori.

5F Bizan Bottom Ropeway Terminal (Lantai 5)

Lantai ini merupakan terminal awal ropeway yang nantinya akan mengantarkan pengunjung ke puncak gunung dengan view elok kota Tokushima. Di lantai ini juga terdapat sebuat restoran. Uniknya, tersedia makanan HALAL!! Ada tulisan حلال-nya! Kabar gembira nih buat yang muslim. Namun, restoran ini hanya buka hingga jam 5 sore saja.

Bizan Ropeway

Ropeway ini memiliki 2 jalur yang akan mengantarkan pengunjung menyisiri hamparan area pepohonan hingga puncak gunung. Semakin tinggi, semakin terlihat view lepas pemandangan kota Tokushima yang menyuguhkan indahnya kombinasi daratan dan lautan.

Di puncak gunung ini ada teropong khusus (seperti teropong yang ada di puncak Monas, Jakarta) yang bisa digunakan untuk menelisir pemandangan sekitar dalam jarak pandang yang cukup jauh hanya dengan memasukkan uang koin ¥100. Selain itu, disini juga terdapat jinja dan pagoda.

Pagoda

Khusus pagoda, ada acara tahunan (annual events):

  • Waktu:
    • 21 Maret
    • 15 Agustus
    • 26 September
  • Insert:
    • Dewasa: ¥200
    • Anak-anak: ¥100

Hanami (花見)

Tak ada yang tak kenal bunga sakura (cherry blossom), bukan?! Nah, alih-alih mau masuk bulan April, alias waktunya musim semi (springharu 春), di gunung ini bakal terlihat nuansa pinky-pinky-nya. Dan, ini menjadi waktu yang tepat buat para pengunjung yang tak ingin melewatkan kesempatan buat hanami-an.

*Hanami (花見) dalam bahasa jepang berarti melihat bunga, ini merupakan tradisi jepang dalam menikmati keindahan bunga, terutama sakura.

Gallery

Referensi

  • Semua informasi disadur dari Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway).

Recommended Link

7th Year Anniversary ‘Jejak Langkah O’

Alhamdulillah.. ‘Jejak Langkah O’ telah menapaki tahun ke-7. Terimakasih untuk dukungan dari semua pihak, terutama keluarga. Kedepannya semoga lebih inovatif dan bermanfaat.

Alhamdulillah, today is 7th anniversary of “Jejak Langkah O”. Thanks to everyone that supports, especially my family. Hopefully this literary written will helpfull.

神様で今日は ‘Jejak Langkah O’ というブログは7歳です。色々なサポートは本当にどうもありがとうございました。これからも頑張らなければならないと思います。

大家好,今天是我的博客的生日(Jejak Langkah O),今年已经七年了。非常感谢你们都,看着看着就喜欢。我希望我的博客很有意思,谁看也就有好处,也希望你们就常常看我的博客。

Osaka Museum Of Natural History

Museum ini terletak di dalam area Nagai Botanical Park. Biaya masuk ¥100, gratis hanya dengan menunjukkan karcis jika telah membayar sepaket dengan tiket Nagai Botanical Park.

Wisata yang satu ini kaya akan ilmu pengetahuan, seperti tumbuh kembang tanaman mulai dari kecambah hingga berdaun, macam-macam tanaman dari berbagai negara (bahkan jengkol-pun ada), aneka serangga (ada beberapa karung kerangka kosong serangga musim panas ditulis berdasarkan waktu), kerangka manusia hingga hewan, binatang yang diawetkan, dll. Semua disajikan lengkap dengan penjelasan yang sangat detail. Namun, hanya tersedia dalam bahasa jepang, inggris dan latin.

Gudang ilmu ini didesain dengan sangat unik. Mayoritas yang berkunjung adalah anak-anak usia sekolah. Berbagai fasilitas pendukungpun tersedia, seperti permainan yang dirancang dengan sangat menarik. Metode belajar yang diberikanpun cukup variatif, bisa melihat langsung, membaca, menonton video, atau melalui permainan.

Gallery

Osaka Museum Of Natural History

Nagai Park (長居公園)

Nagai Park (Taman Nagai) merupakan taman yang sangat luas yang berlokasi di wilayah Sumiyoshi bagian timur (Higashisumiyoshi-ku), Kota Osaka. Akses ke lokasi bisa menggunakan chikatetsu (Kereta Api bawah tanah) Midosuji Line dengan tujuan ke Stasiun Nagai (M26) deguchi (pintu keluar atau gate) 3.

Taman ini juga dijuluki sebagai “Taman 4 Musim”, karena didalamnya terdapat aneka tumbuhan yang bisa ditemukan dalam 4 musim di Jepang, yaitu musim panas (夏), musim gugur (秋), musim dingin (冬) dan musim semi (春). Selain itu, di dalam kawasan ini juga terdapat wisata lainnya, seperti:

Di area taman, dapat ditemukan cukup banyak bangku untuk bersantai. Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa berinteraksi langsung dengan burung-burung merpati jinak yang berkeliaran di setiap sudut taman.

Berbagai jidouhanbaiki (mesin penjualan minum otomatis) dapat ditemukan di beberapa titik lokasi tertentu. Taman bermain anak-anakpun juga tersedia. Siapapun bebas bermain di taman ini secara gratis.

Gallery: Nagai Park

Osaka City Central Public Hall

Salah satu bangunan yang paling terkenal di sekitar Taman Nakanoshima (Nakanoshima Park) adalah gedung bercat merah dengan gaya klasik, gedung ini bernama Osaka City Central Public (Pusat Bisnis Kota Osaka). Gedung megah ini didirikan sejak tahun 1918, biasanya digunakan warga untuk acara seni dan budaya.

Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa sumber, dahulunya tempat ini merupakan gedung pustaka lama sebelum dipindahkan ke gedung dibelakangnya, tepat satu gedung setelah Osaka City Central Public. Pengunjung boleh memasuki gedung ini secara gratis.

Uniknya, gedung 3 lantai ini terbuka untuk umum, namun pengunjung hanya boleh menapaki area berwarna hijau dari denah yang telah disediakan. Selain itu, menjelang lantai 3, di tengah luangan tangganya dipasang jejaring dari untaian tali yang cukup kuat; sepertinya ini salah satu cara untuk meningkatkan keamanan pengunjung. Jika tidak ingin menggunakan tangga, pengunjung bisa menggunakan lift.

Di lantai dasar (basement) terdapat sebuah toko kecil tempat pembelian oleh-oleh (omiyage). Berbagai cenderamata, kue kering dan aneka permen dijual disini. Harganyapun relatif, berkisar antara 500¥ hingga 1.000¥. Toko ini buka dari pukul 10.00-18.00 (waktu Jepang).

Tidak jauh dari toko, terdapat museum mini yang menggambarkan sejarah berdirinya Osaka City Central Public. Tempat ini bernama Exhibition Room yang buka dari 09.30-20.00 (waktu Jepang). Beberapa leaflet (informasi) tentang Museum Osaka dan lainnya bisa diambil secara gratis disini; hanya saja, tersedia dalam Bahasa Jepang yang didominasi oleh kanji dan  beberapa diantaranya disajikan dalam Bahasa Korea dan Bahasa Inggris.

Tepat di depan Exhibition Room, ada restoran bergaya barat. Menu yang disuguhkan cukup variatif, seperti paket kare dengan seafood, kare dengan daging, desert dan aneka minuman. Untuk paket lunch (makan siang atau hiru gohang), harga berkisar 1.250¥. Sementara desert dan minuman mulai dari 500¥. Fasilitas yang didapat diantaranya gratis air mineral dan Wi-Fi.

Gallery

Taman Wisata Istana Osaka

Istana Osaka merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Jepang dan menjadi landmark Kota Osaka. Peninggalan bersejarah ini terletak di dalam kawasan Taman Wisata Istana Osaka.

Akses ke lokasi sangat praktis, salah satunya dengan menggunakan chikatetsu (kereta api bawah tanah). Pada akhir pekan dan hari libur nasional Jepang, lebih irit dengan membeli one day pass seharga ¥600 (enam ratus yen, atau jika dirupiahkan sekitar Rp 60.000,-) via mesin otomatis.

Dari Stasiun Abiko (Subway, M27, Midosuji Line di stasiun nomor 27), naiki chikatetsu hingga Stasiun Shinsaibashi (M19) dengan alur: Stasiun Abiko (M27) – Nagai (M26) – Nishitanabe (M25) – Showacho (M24) – Tennoji (M23) – Dobutsuen-mae (M22) – Daikokucho (M21) – Namba (M20) – Shinsaibashi (M19) – Hommachi (M18). Lama perjalanan sekitar 20 menit.

Kemudian, transit ke Chuo Line (Subway) sekitar 15 menit, dengan alur: Stasiun Hommachi (C16) – Sakaisuji-Hommachi (C17) – Tanimachi 4-chome (C18) – Morinomiya (C19). Dengan berjalan kaki beberapa menit saja, keindahan taman yang menakjubkan dapat dinikmati.

Dari area taman hingga Menara Utama Istana Osaka membutuhkan waktu sekitar setengah jam dengan berjalan kaki (tergantung kemampuan pengunjung, waktu yang dibutuhkan akan sedikit lebih lama jika banyak berhenti).

Tiket masuk dibeli melalui mesin otomatis seharga ¥600. Tempat ini terbuka untuk umum dari pukul 09.00-17.00 (waktu Jepang, setara dengan Waktu Indonesia Tengah di Indonesia).

Hal yang perlu diperhatikan ketika memasuki istana adalah tidak boleh membawa makanan/minuman. Khusus di lantai 3 dan 4, dilarang mengambil foto.

Fasilitas yang didapat yaitu memasuki Istana Osaka hingga menaranya di lantai 8, tersedia lift hingga lantai 7. Banyak peristiwa bersejarah yang bisa diketahui dari sini, namun ditampilkan dalam Bahasa Jepang (didominasi oleh kanji), Inggris dan beberapa diantaranya  dengan Bahasa Korea.

Fasilitas yang cukup menarik minat pengunjung adalah sewa kostum dan berfoto dengan berlatarkan gambar Istana Osaka, lukisan samurai, atau latar lainnya di lantai 2. Harganya lumayan ekonomis, pengunjung cukup merogoh kocek seharga ¥300.

Selain ini, diluar area istana juga terdapat tempat sewa kostum dan berfoto dengan latar asli Istana Osaka. Pengunjung bisa membawa 1 lembar foto gratis dari hasil jepretan tersebut. Hanya saja, harganya lebih mahal ¥1200 (seribu dua ratus yen).

Di sungai  bagian bawah/belakang istana, disediakan penyewaan perahu khas Istana Osaka (Osaka Jyo Gozabune). Harga tiket untuk dewasa ¥1500, anak-anak ¥750. Harga spesial berlaku untuk pengunjung yang berusia lebih dari 65 tahun, yaitu ¥1000. Pelayanan buka dari pukul 10.00-16.30 (waktu Osaka), namun tutup selama musim dingin.

Catatan

  • One day pass adalah tiket yang berlaku kemana saja dengan chikatetsu, tetapi terbatas untuk subway saja, berlaku sampai pukul 12 malam, alias seharian.

Gallery

Rekomendasi: 

Museum Prambanan

Museum Prambanan berada di dalam komplek Candi Prambanan, Yogyakarta. Disini terdapat berbagai peninggalan sejarah seperti peninggalan masa megalithikum, arca-arca kuno, lukisan, bentuk-bentuk pemugaran candi dari tahun ke tahun, dan lain sebagainya. Masuk ke area museum ini GRATIS, alias tidak mengeluarkan biaya. Di alun-alunnya disuguhkan musik tradisional Yogyakarta yang menambah apik suasana khas keraton.

Taman Wisata Candi Prambanan

Candi Prambanan (Prambanan Temple) dikenal juga dengan nama Candi Rara Jonggrang. Candi yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan komplek Candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 Masehi.

Taman wisata Candi Prambanan diresmikan oleh Presiden kedua Republik Indonesia, Bapak Soeharto, pada 6 Juli 1989 di Prambanan. Disini terdapat 240 bangunan yang terdiri dari 3 bangunan candi utama, 3 candi wahana, 2 candi apit, 4 candi kelir, 4 candi patok dan 224 candi perwara.

Purna pugar Candi Wahana diresmikan pada 20 Februari 1993 oleh Presiden Soeharto di Prambanan. Sementara, purna pugar Candi Angsa dan Candi Apit diresmikan oleh Bapak Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 16 Desember 2011 di Prambanan.

Candi utama yaitu Candi Siwa, Candi Brahma dan Candi Wisnu. Purna pugar 3 bangunan ini diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republiik Indonesia, Ir. Jero Wacik, SE., pada 4 Januari 2010 di Yogyakarta. Candi Siwa merupakan bangunan candi tertinggi di Indonesia dengan tinggi 47 meter dan terletak di bagian paling tengah di komplek Candi Prambanan.

Pembelian tiket dapat dilakukan di Loket Prambanan yang buka dari pukul 06.00-17.15 WIB. Tiket bisa dibeli tergantung minat pengunjung, ada tiket yang hanya wisata ke area Candi Prambanan saja dan tersedia juga dalam bentuk Paket Prambanan – Ratu Boko. Berikut rincian harga tiket bagi wisatawan domestik:

  • Prambanan:
    • Umum: Rp 30.000,-/orang.
    • Anak (3-6 th): Rp 12.500,-/orang.
  • Paket Prambanan – Ratu Boko:
    • Umum: Rp 50.000,-/orang.
    • Anak (3-6 th): Rp 20.000,-/orang.
    • Gratis shuttle service (kendaraan seperti bus dan atau mobil yang antar-jemput gratis dalam rentang waktu tertentu dari Candi Prambanan ke Ratu Boko, atau sebaliknya).

Bagian dari komplek Taman Wisata Candi Prambanan:

  1. Pintu Utama Taman Wisata Candi Prambanan.
  2. Parkir Motor.
  3. Parkir Mobil dan Parkir Bus.
  4. Loket.
  5. Pusat Informasi.
  6. Stasiun Shuttle Prambanan – Ratu Boko.
  7. Candi Prambanan.
  8. Area Taman Bermain.
  9. Museum Prambanan.
  10. Candi Lumbung.
  11. Candi Bubrah.
  12. Candi Sewu.
  13. Studio Pemugaran Manjusrigrha dan Kantor Unit BPCB JATENG.
  14. Prambanan Resto.
  15. Kandang Rusa.
  16. Kios Makan.
  17. Kios Souvenir.
  18. Kantor Unit Prambanan.
  19. Kantor Unit BPCB DIY.
  20. Bumi Perkemahan.
  21. Panggung Terbuka Ramayana.
  22. Rama Shinta Garden Resto.
  23. Gedung Trimurti.
  24. Kantor Unit Teater dan Pentas.

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika memasuki komplek Candi Prambanan:

  • Pengunjung dilarang membawa tas masuk ke area Taman Wisata Candi Prambanan.
  • Pengunjung agar menitipkan tas di tempat penitipan barang.
  • Menjaga kebersihan.
  • Dilarang corat-coret.
  • Dilarang merokok.
  • Dilarang memindahkan susunan batu.
  • Dilarang memanjat.
  • Dilarang membawa makanan.

Fasilitas lainnya yang bisa ditemukan di Taman Wisata Candi Prambanan:

    • Rental Mobil Golf, berada di tempat yang sama dengan Tempat Pengembalian Sarung.
      • Senin-Jum’at:
        • Reguler: Rp 20.000,-.
        • VIP: Rp 200.000,-/Jam.
      • Sabtu, Minggu, Libur:
        • Reguler: Rp 20.000,-.
        • VIP: Rp 250.000,-.
    • Sewa Sepeda:
      • Kereta Mini: Rp 7.500,-.
      • Kereta Listrik: Rp 5.000,-.
      • ATV: Rp 15.000,-.
      • Skelter: Rp 5.000,-.
      • Sepeda Tunggal: Rp 10.000,-.
      • Sepeda Tandem: Rp 20.000,-.
    • Ruang Ibu Menyusui.
    • Merapi Farma Herbal: Jamu Godhog khas Jogjakarta untuk kolesterol, asam urat, kencing manis, pegel linu, masuk angin, dan lain-lain; bisa diminum di lokasi.
    • Ruang Audio Visual.

Seluruh informasi didapat dari kawasan Taman Wisata Candi Prambanan. Rekomendasi: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta: Cagar Budaya: Candi Prambanan & Dinas Pariwisata DIY

Sepatu Butut Nan Cantik

Sepatu butut nan cantik ini adalah sahabat setia dalam perjalanan menuju Jepang. Banyak hal, suka & duka, telah kami lalui bersama. Sayangnya, karena kesibukan, mulai lupa nasib si cantik, dan.. lupa bahwa dia terbuat dari bahan baku kulit nan halus, tanpa sadar sang parasitpun mulai merenggutnya. 

Sepatu butut, maafkan.. dan, terima kasih untuk waktu yang pernah ada.. Tak mungkin membawamu kemana-mana, namun jasamu selalu terpatri dihati. Sepatu butut, salah satu sepatu terbaik yang pernah menjadi sahabat di momentmoment terbaik. 

Museum Rumah Kelahiran BUNG HATTA “Proklamator RI”

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Bapak Muhammad Hatta, atau yang lebih dikenal dengan Bung Hatta. Beliau merupakan seorang tokoh proklamator RI (Republik Indonesia) dan mendapat julukan the founding father (Abbas, 2010). Tidak hanya itu, Beliau juga menjadi Wakil Presiden pertama Bangsa Indonesia.

Bung Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat). Beliau wafat diusia 77 tahun pada 14 Maret 1980 di Jakarta. (Wikipedia).

Menelusuri tempat kelahiran Sang Proklamator, tapak tilasnya bisa ditemukan di Jl. Sukarno-Hatta No. 37 Bukittinggi, tepat di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta. Tempat bersejarah ini terbuka untuk umum pada Hari Senin s/d Minggu, pukul 08.00 WIB.

Catatan

Informasi Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta dan seluruh dokumentasi dishare oleh Geni pada 30 April 2016.

Referensi

31 Tahun Bukittinggi Kota Wisata

Kronologis Backpacking

Sepulang dari Rontgen kaki Ayah yang terkilir, rencananya Aku mau menunggu expertisenya sampai sore di Bukittinggi. Hm,  Aku yakin nggak bakal pusing nyariin tempat nongkrong, secara setiap sudut di Bukittinggi berpotensi untuk rehat 😀 Aku tinggal jalan doang mau kemanapun, naik angkot kalau udah capek banget 😀 Yah, Bukittinggi… Kota kecil yang selalu Aku kagumi 🙂 tidak ada yang berubah, masih saja ramah dan bersahaja, sekalipun pembangunannya meningkat dengan pesat. Wisata… Kuliner… Penduduknya.. Semuanya!! ngangenin banget.. 🙂 beruntung Aku pernah mengecap nyamannya jadi warga Bukittinggi 🙂 Wkwkwk, kok makin lebay ya?! Haha… Sorry, sorry… Cus, kita lanjutin ceritanya 😀 Tapi ciyus lho, Bukittinggi itu memang nyaman bangett, semua ada 😀

Akhirnya, meskipun expertisenya batal diambil hari ini; Aku memutuskan untuk melancong sekilas di kota sejuk ini (tapi sekarang lumayan terik, bok..). Aku belum tau mau kemana, tapi hatiku memandu untuk ke Panorama, Aku mau mampir sebentar, sekedar foto-foto.. Sayang rasanya cepat-cepat balik ke Padang, karena nanti belum tentu Aku masih punya waktu seluang ini untuk menyapa Bukittinggi.. 🙂

Aku naik angkot No. 15. Nah, kalau di Bukittinggi, angkot itu pake nomor, guys… Beda sama di Padang.. No. 15 Untuk rute ke Blaba, Simpang Kangkung – Panorama – RSAM- Pasar Bawah – Jenjang Gudang – Hotel Jogja – Bank BNI pusat – Niagara swalayan (Simpang Kangkung) – Simpang YARSI – RSI Ibnu Sina Bukittinggi – Belakang Balok (Blaba) – Simpang STIKes YARSI Sumbar Bukittinggi – Simpang Universitas Muhammadiyah (belakang) – Akbid Poltekes Kemenkes RI – kantor-kantor pemerintah kota Bukittinggi – UNP – Birugo – SMAN 2 Bukittinggi – RSSN – Kodim – Simpang Universitas Muhammadiyah (depan) – Simpang STIKes YARSI Sumbar Bukittinggi – RSI Ibnu Sina Bukittinggi – Simpang YARSI – Simpang Kangkung. Angkot. No. 14 rute Jambu Air, Simpang Kangkung – Panorama – RSAM- Pasar Bawah – Jenjang Gudang – Hotel Jogja – Bank BNI pusat – Niagara swalayan (Simpang Kangkung) – Lapangan Kantin – RSSN – SMAN 2 Bukittinggi – Jambu Air. Angkot No. 03, 06 & 09 itu bedanya dia lewat ke Kampung Cina (lupa ding, udah lama soalnya…). Angkot No. 19 rute Terminal Aur Kuning. Selain itu memang ada angkot berwarna kuning dan hijau. Angkot Kuning itu rute dari dan ke Padang Luar, trus ntar muternya di Jenjang Gudang/BNI pusat/Hotel Jogja. Angkot hijau jurusan Koto Tuo, lewat Terminal Aur Kuning dan ambil belokan di Stasiun. Wadoooow, nggak tau itu apa bener semua atau ada rute yang salah, hihhi… Maklum, memorynya cuma sejam-sejam, jadi kalau udah lama mesti diinstal terus 😀

Taman Panorama & Lobang Jepang

“Kiri, Pak…” ungkapku menyetop angkot yang kutumpangi. Aku serasa nggak percaya kalau Aku beneran udah disini, guys… Sudah lama sekali… 🙂 Dengan mantap Aku melangkah untuk membeli karcis, tapi kok… Jendela pembelian karcisnya tutup semua?? Aku sempat mikir, jangan-jangan udah ditutup lagi gegara over capacity?! Liat aja, wisatawannya rame nian euy… Iseng-iseng Aku bertanya pada bapak-bapak yang duduk-duduk di samping kanan depan gerbangnya, nanyain beli tiketnya gimana. Sayup-sayup nggak jelas Aku dengar GRATIS!!!! “Ah, masa sih???”. Mau nanya lagi mah Aku kagak sreg sama bapak-bapaknya, segan… ntar dibilang tuwir lagi?! Beeeh… Ya udah, Aku jalan-jalan aja pelan masuk ke dalam, coz ada salah satu bapaknya bilang selembar kertas, entah itu balesin omongan Aku atau malah komentar lain dari pembicaraannya sebelumnya; Aku jaga-jaga aja, ntar kalau disodorin kertas, Aku tinggal bayar, Aku rasa tiketnya nggak bakal lebih dari Rp 10.000,- 😀 Tapi… udah pasang tampang oonpun, udah mondar-mandir sana-sini kayak nyariin kenalan (padahal kagak ada yang kenal), eeh… Ya udah, rejekinya Aku nih, hihi… Senangnya… Tapi, serius ini GRATIS?! Jangan-jangan ntar pas Aku mau keluar, malah kena tegur?? Malu dong… Mending Aku bayar dari sekarang.. Tapi, ya sudahlah… Aku jalan-jalan aja, keliling-keliling, foto-foto; kalaupun bayar, Aku tinggal ngasi duitnya 😉

Hm, bingung juga nih, mau kemana ya?! Udah masuk, GRATIS, pake bingung lagi… ntar rejekinya malah ilang?! Aku nikmatiin aja foto-fotonya, secara pemandangan disini bagus banget, adem, tenang (padahal rame, lho..), sejuk mata memandang (padahal rada panas, lho..), T.O.P dah pokoknya…

Aku fotoin ngarai yang di depan ahh… Tapi ogah, itu orang lagi numpuk disana, jadi keder… 😀 Hm, kemana ya?? Ahaaa.. Lobang Jepang!!! Aku fotoin Lobang Jepang aja ahh… Hm, abis ini Aku minta tolong fotoin sama adek-adek ini, hihi.. Kebetulan banget, mereka lagi duduk-duduk nggak jelas disini.. 😀 Eh, belum jadi Aku minta tolong, mereka keburu bubar.. 😦 Emang nasibku kali ini apes dah, ya sudahlah.. yang penting Aku udah ambil sendiri foto asli objeknya 🙂

Tiba-tiba, datang seorang bapak-bapak nawarin diri buat membantu ngambilin fotoku berlatarkan Lobang Jepang. Aku sempat negative thinking, lho.. Jangan-jangan.. Jangan-jangan..?! Aku was-was, guys.. Tapi, “udah”, kata bapaknya. “Udah, pak” jawabku tanpa melihat hasilnya. “Lihatlah dulu, bagus nggak?!” kata bapaknya ramah. Aku jadi nggak enak gitu, Ku buka dah itu foto, ternyata cukup bagus, tanpa Aku sadari si bapak juga ikutan liat dan bertanya kembali untuk meyakinkanku “udah?”. Aku tersenyum yakin “udah, udah, makasi ya, pak..” Jawabku mengapresiasi si bapak. Kemudian beliau berlalu diikuti seseorang yang lebih muda darinya dan sepertinya masuk ke Lobang Jepang itu (Aku tidak memperhatikan). Ohh, betapa suuzonnya Aku tadi, bener-bener minta maaf sama si bapak, coz jarang-jarang ketemu orang yang memiliki inisitif tinggi seperti itu 🙂

OK deh, jadi… Aku keliling-keliling lagi ahh.. Tapi, Aku sedikit was-was dan menjaga jarak dari kera-kera yang berkeliaran dimana-mana. Aku yakin mereka nggak bakal gangguin Aku, toh kalau mereka udah gangguin wisatawan so pasti udah diusir sama petugas-petugasnya. Wong mereka enjoy aja tuh jalan kesana-kemari sesukanya. Syukurlah.. Beberapa kali aku lewati dan mereka melewatiku, sampe yang gede sekalipun, aman-aman aja… Aku mulai ga enak, sedari tadi bawaannya suuzon terus.. So, Aku beliin mereka makanan dah entar, kasian mondar-mandir doang, mungkin mereka ngarep juga tuh wisatawannya ngasi cemilan 😀 Tapi… boleh nggak ya?? Ntar malah bikin ribut lagi?! Parahnya, Akulah sang tersangka 😦 Aku ingat, di Jepang sebuah taman yang banyak monyetnya, pengunjung nggak boleh ngasi makanan, Aku nonton beberapa hari yang lalu di sebuah stasiun TV swasta.. Disini gimana ya?! Aku lupa ding, yang Aku ingat, di kebun binatang mah boleh.. Sewatu kecil, Ayah sama Ibu selalu beliin semilan (biasanya kacang goreng) buat ngasi binatangnya makanan 😀 Masa kecil yang terlalu bahagia untuk dikenang 😀 Tapi ntar Aku liat sikon aja deh, apesnya belum ada tuh yang keliatan ngasi sikeranya makanan?? Dengan berat hati, Aku memilih untuk sekedar lalu lalang dan ngambil foto mereka aja. Walhasil, Aku jadi bahan ledekan ABG-ABG yang usil karenanya 😀

Dingarai seberang sana, tampak Great Wall mengular singkat. Aku mau kesana, tapi… jauh… Unjut bilang, pake motor aja capek, apalagi jalan?! Huft, sayang banget.. Ah, Aku terusin aja langkahku hingga mentok di ujung, sekalian cuci mata liatin cendera mata yang bagus-bagus, hee.. Bener aja, Aku kecentol sama sebuah lukisan yang harganya ekonomis, mulai dari Rp 5.000,- lho… Cantik-cantik..!!! Liat deh kalau enggak percaya 😉

Sesampainya di penghabisan toko-toko yang menjual aneka cendera mata, Aku mengambil banyak foto; secara pemandangan disini lebih menarik dari sayap sebelumnya. Tapi, ada yang kurang rasanya.. Apa ya?? Hmm… Foto-foto yang kuambil pasti akan jauh lebih bagus jika kuambil dari ketinggian. Aku melihat sebuah menara 2 lantai tertancap kokoh disana dan Aku mengenalinya (Jangan-jangan, umurku kalah tua darinya?). Kutatap menara itu, berusaha nego dengan diriku sendiri, “berani nggak ya??” bisikku dalam hati. Apa boleh buat, Aku mulai terobsesi ke atas sana, penasaran apa rasanya berada disana, karena selama ini yang bisa kulakukan hanyalah melihat, sekarang waktunya “action” 😉 Hm, disekitar menara malah berkeliaran beberapa ekor kera yang seolah menyiratkan bahwa “kami menjaga menara ini, lho..”. Seketika nyaliku berangsur ciut, bisa mampus tuh Aku dikeroyokin sama mereka ntar?? Ah, ogah ah… Tapi… Aku ingin mencobanya.. 🙂

Kebetulan, di dekat menara itu ada sebuah toko, satu-satunya toko terakhir yang berdekatan dengan menara. Aku menyapa pemilik toko dan bertanya “Da, boleh nggak naik ke atas menara ini?”. Dia melirikku antara aneh dan heran, “Ngga apa-apa” jawabnya ringan. “Tapi… kera-kera itu…” tanyaku khawatir. “Ga masalah, mereka nggak ngganggu kok, bla bla bla….” tutur si Uda menjelaskan.

Kutarik napas dalam dan go…. Kuseret langkahku pelan tapi pasti, satu tangga… dua tangga… tap tap tap, akhirnya sampai di lantai 1
(Horrraaayy…. I got it!!!). Bagus banget pemandangan dari sini… Hm, Aku harus naik lagi nih ke lantai paling atas. Kali ini energiku mulai full kembali, nyalikupun demikian.. Memang benar kata si Uda, para kera sama sekali tidak menggangguku.. Mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing 😀 Dengan tetap berhati-hati, kulangkahkan kaki langkah demi langkah, dan… I’m the winner.. Aku sampai….!!!! Tiba-tiba, Aku mulai merasakan aura gamang.. Entah sejak kapan Aku mulai mabuk ketinggian, guys… Kurasakan tubuhku seolah-olah akan jatuh kala Aku berada di pinggiran pembatas menara, seperti ada magnet besar yang menarikku dan Aku tak kuasa melawannya. Aku menyadari kalau Aku mulai khawatir. Kusandarkan punggungku ke pinggiran tengah menara, namun tetap berhati-hati, jangan sampai Aku bersandar di mulut tangga, itu mah sama parahnya, hahaa..

Tanpa sengaja, kudengar percakapan 3 orang cowok yang bergerak ke arah menara ini. Topiknya tidak lain dan tidak bukan memang si Menara.. Aku tidak memperhatikan, entah mereka bapak-bapak, pemuda-pemuda, para ABG, atau beberapa diantaranya?! Hanya saja, Aku sempat ketawa geli saat salah satu dari mereka mengungkapkan ketakutannya untuk mendaki menara ini. Aku merasa lucu aja guys, masa sekelas cowok yang beginian aja takut?? Haha, ups, Aku ngga bermaksud ngejek, lho.. Tapi memang seharusnya mereka lebih berani, wong Aku aja cewek, sendiri, berani ke atas sini.. 🙂 Songooong.. 😀 Tapi akhirnya mereka bertiga nyusul Aku kok ke puncak menara. Segera setelah mereka sampai, Aku memutuskan untuk turun.

Cukup lama Aku berkeliling, tiba waktunya untuk pulang.. Ku lumat-lumat langkahku memperhatikan sekitar, sepertinya ini memang rejekiku, alias GRATIS!! Mimpi apa Aku semalam, jalan-jalan iseng, eh malah GRATIS?! 😀

Aku keluar dari gerbang Taman Panorama & Lobang Jepang, kemudian berdiri ditrotoar menunggu angkot. Tak jelas angkot yang aku tunggu itu apakah yang no. 15 atau no. 14, silih berganti mereka lalu-lalang di depanku, atau… angkot no.19 aja biar langsung ke Terminal Aur Kuning?! Entah kenapa, Aku merasa waktuku masih panjang, masih cukup untuk kesana-kemari.. Tapi, mengingat belum makan siang, Aku memutuskan untuk langsung pulang aja. Tapi eits, tunggu… pesawat itu..!! diseberang..!! Kala kecil Ayah dan Ibuku sering menunjukinya padaku dan Unjut.. Aku ingin memfotonya, ditunda dulu dah sortir angkotnya… Hmm, ternyata itu Museum???? Halllooooowwww, kemana aja Aku selama ini??? Memang bener-bener nih Aku, kebangetan..!!!!

DSC_9339
Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma

Nah, kebetulan nih, itu kan Museum.. Aku ingat sewaktu di Curup dulu, rumah adatnya yang terkesan dijaga ketat ternyata terbuka untuk umum.. Aku coba tanya ahh… Tapi bapak yang menjaganya tentara??! Apa ini khusus untuk angkatan aja ya?? Hm, coba ditanya dulu dah..

Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma

Aku udah kayak orang bengong nyari alamat aja.. 😀 Untung aja bapak-bapaknya ramah, jadi nggak keliatan banget oonnya 😀 Trus bapaknya malah nanya, “berapa orang?” Waduuuu… tuh, kan…?! Aku bilang sendiri.. Hm, responnya diluar periraanku, aman-aman aja.. Yah, begitulah ramahnya Bukittinggi… 🙂

Aku masuk ke dalam, tanpa karcis lho, guys… Nggak ngerti juga nih, entah biasanya bayar atau memang kali ini Aku beruntung (bangett)?! Hm, entahlah… yang jelas, kali ini beda pesonanya.. Aku berasa terlempar jauh ke jaman kemerdekaan, aroma sejarahnya sangat kental….

 

Awalnya cuma Aku doang pengunjungnya, lama-lama datang sekelompok anak sekolahan dan para guru. Aku salut sama mereka, masih sempat menyisakan waktu untuk mengunjungi museum.. Suatu hal yang boleh dikatakan tidak pernah Aku lakukan, karena tidak terpapar dengannya. Aku sempat tertawa geli kala anak-anak itu mengomentari berbagai jenis mata uang dari beberapa negara yang terpajang disana dan mereka berkomentar “wah, mata uang Indonesia yang paling banyak jenisnya ya?!” seru mereka kompak antara kagum dan heran 😀 Aku ikutan berebut melihat apa yang mereka lihat, takut ngga cukup waktu… 😀 (Alasan doang, seru aja nimbrung sama anak-anak cerdas seperti mereka, haha..).

Selesai berkeliling, saatnya Aku pulang, kali ini beneran… 😉 Tapi… masa jauh-jauh, ups udah sejauh ini, cuma liat-liat doang?? Aku mau foto di pesawat itu…!!! Sebenernyaa sih segan, tapi apa boleh buat, Aku minta tolong sama bapak yang jaga. Mereka ada berdua, yang satu mengenakan seragam dan satu lagi baju bebas. Bapak yang berseragam terlihat keberatan, mungkin karena tuntutan peraturannya atau gimana, Aku memaklumi itu. Untunglah bapak yang baju bebas maju dengan suka rela, hee… Setelah beberapa kali klik, si Bapak menawarkan untuk berfoto di relief, dinding sebelah kanan museum. Karena keberat segan, Aku menolaknya. Namun si Bapak meyakinkan apa Aku tidak ingin berfoto di relief itu, padahal pengunjung biasanya banyak yang berfoto disitu.. Akhirnya Aku dengan senang hati membuang basa basi basiku, xixi.. Aku berdiri disamping relief 🙂

Tau nggak, guys? Aku baru sadar kalau disini ada relief..?? Baah…. Kayaknya Aku lewat tadi, Aku pake kacamata pembias dari kanan deh, sehingga Aku nggak liat reliefnya terpahat dengan indah dan sangat jelas disitu 😀 Lain kali harus lebih perhatian nih 😀

Bendi

Aku menyeberang untuk menyetop angkot no. 19. Tapi, di seberang… Ada yang menarik diriku untuk kembali menyeberang.. Bendi!!!! Aku mau naik bendi!!!! Tapi, setauku maHHHal, lho… Hm, kita mana tau sebelum ditanya.. Aku menyeberang dengan ragu-ragu, kuyakinkan diri untuk paling enggak mengambil foto aja. Ketika inilah Aku baru melihat jelas plang Museum Perjuangan yang kupotret-potret doang tanpa memperhatikan objeknya. Beeeeh, disana terpahat rapi “Museum Perjuangan, Tri Daya Eka Dharma, terbuka untuk umum”. Gubrakkk….!!! Layaknya orang yang kena timbuk batu gede, itulah malunya Aku saat ini. Betapa tidak, udah ada tulisannya terbuka untuk umum, tapi aku malah menanyakan pertanyaan yang udah ada jawabannya itu dengan tampang oon, walaaaah… Udah bangun belum sih Aku ini?? Jangan sampai nanti kejadian lagi nih yang kayak begini… 😀

Sebelum naik tanpa aba-aba, Aku mastiin dulu coast bendinya berapa… Pas bapaknya nanya “mau kemana, nak?” Aku malah asal jawab, “kalau ke pasar bawah berapa, pak?”. “Kasih aja Rp 20.000,-“ kata bapaknya ringan. Aku menelan ludah, “mahalnya pak? Nggak bisa kurang, pak?” responku sedikit memelas.. tapi si bapak bilang “memang segitu”. Aku pasrah… “kalau ke RSAM, pak?” tanyaku lagi.. “Kasih aja Rp 15.000,- atau Rp 10.000,-anlah..” jawab bapaknya. Aku jadi lesu, “5 ribulah ya, pak…” tanyaku lagi mencoba untuk nego. Akhirnya si bapak nyerah & mengiyakan 😀

Sebelum berngkat, nggak lupa Aku minta tolong bapaknya fotoin dulu Aku sama bendinya (kesempatan langka!! hee..). Tapi bapaknya menolak, beliau mau saja, tapi kudanya bisa lari ntar.. Hm, bener juga.. sudah seharusnya aku memaklumi itu.

Tiba-tiba ketika Aku menaiki bendi, si bapak keceplosan.. “Semua wisata di Bukittinggi gratis karena HUT kota wisata”. Aku terperangah, dalam waktu bersamaan dengan bendi berkelok, aku melihat spanduk besar tergantung tepat dipintu masuk Taman Panorama dan Lobang Jepang “31 th pencanangan Bukittinggi sebagai Kota Wisata”.

Dari sekian waktu yang kuhabiskan tadi, ternyata banyak hal penting yang Aku abaikan, masyaAllah… Merasa tidak mendapatkan promosinya, Aku langsung berkomentar pada si bapak, “Lah, kok nggak diumumkan ya, pak?? Kan jadi banyak yang nggak tau??”. Ternyata si bapak urang tau juga, tapi sepertinya kata beliau mungkin ada disiarkan lewat radio-radio..

Dalam perjalanan, Aku bercerita kalau naik bendi ini karena kangen aja, dulu sekali semasa kecil Aku pernah menumpanginya. Eh, ternyata si bapak juga bercerita tentang anaknya yang sedang kuliah. Aku salut sama sibapak, jadi ingat ayahku.. 🙂

Plang megah RSAM sudah mengintip dari sayap kiri, Aku bersiap-siap turun dari bendi. Ada sedikit rasa bersalah terselip mau bayar bendinya Rp 5.000,-. Tapi, apa boleh buat, untuk saat ini keuanganku benar-benar dalam kondisi memprihatinkan, jadi mau tak mau Aku betul-betul harus mempertimbangkan apa saja yang penting untuk dibayar. Udah gitu, Aku rasa, Aku belum terlalu ketegaan menawar dengan harga segitu, masih masuk akal..

Kuperhatikan sibapak sampai berbelok dengan sempurna hingga seberang, tak henti mataku memandang hingga kejauhan, sampai-sampai Aku lupa memperhatikan angkot-angkot yang silih berganti berhenti menanyakan ruteku. Hup, tunggu dulu… Alhamdulillah… Ada seorang bapak-bapak yang menyetop bendi si bapak, syukurlah… Angkot no. 19-pun menghampiri dan Aku langsung naik setelah memastikannya benar-benar ke Terminal Aur Kuning.

Simpang Raya

Sesampai di Terminal, Aku singgah dulu di Simpang Raya, rumah makan langgananku sekeluarga 😀 Aku belum sempat makan siang, sekalipun ntar ada lauk, ternyata Unjut nggak masak nasi?! hm.. Sekali-sekali beli nasi bungkuslah, kangen sama dendeng lamboknya.. Dendeng lambok apa ayam pop medan, ya?? Hm…??? Atau… cancang?? ini beberapa menu unggulanku sih disana.. Hm.. dendeng aja deh.. Lagian ntar di Padang udah ada pensi balado yang dibikin Ibu dan dibawa Unjut dari kampung. Perutku udah menari kegirangan, tapi kudu sabbar… 😀

Back to Padang

Kali ini Aku naik Bus Tranex, ongkos Rp 20.000,-. Dalam perjalanan, Ibuku menghubungiku. Beliau heran, kenapa Aku masih belum sampai di Padang?? Aku menceritakan alasannya, termasuk betapa oonnya Aku bengong-bengong nyariin tukang karcis, haha… Bah, begonya lagi, Ibu dan Ayahku tau kok kalau hari ini tuh semua wisata di Bukittinggi GRATIS seharian.. Waduuuu…. Berarti memang Aku nih yang kudet (kurang update) 😀