Category Archives: Tugu (Monument)

Kebun Herbal Kobe

Selain Kobe Harborland, ada sebuah paket wisata komplit lainnya yang sangat menarik di Kobe, namanya Nunobiki Herb Gardens & Ropeway. Disini banyak sekali jenis tumbuhan herbal dari berbagai spesies.

Nunobiki Herb Gardens & Ropeway

Pastinya, ini bakal menjadi salah satu tempat liburan yang seru bagi para pelancong.

Tiket Masuk

Pembelian tiket masuk ada di lantai 4 gedung Herb Garden Bottom Station. Naik dari lantai 1 dengan menggunakan lift.

Harga tiket variatif tergantung pilihan pengunjung. Untuk round tickets bajetnya ¥1.500/orang. Dengan tiket ini, bisa naik ropeway pulang-pergi, masuk Rose Symphony Garden, Glass House, dan semua tempat wisata yang ada di dalam kawasan Nunobiki Herb Gardens.

Ropeway (Kereta Gantung)

Taman ataupun puncak diakses dengan ropeway yang memiliki 3 stasiun, yaitu: stasiun terbawah, stasiun tengah dan stasiun teratas.

Setelah membeli tiket, ikuti alur antri, perlihatkan tiket pada petugas untuk distempel, naik kereta gantung sesuai arahan petugas.

Hampir semua dinding ropeway terbuat dari kaca. Dan, saking panjang rutenya, bagi yang pertama kali naik kereta gantung mungkin akan sedikit gamang, tapi bakal berasa biasa saja kalau keretanya sudah jalan. Sebaiknya pilih tempat duduk yang searah dengan alur kereta.

Perjalanan hingga stasiun tengah menawarkan panorama kota kobe nan indah. Tempat duduk yang pas adalah berlawanan arah dengan alur kereta.

Melongok dari kaca sebelah kanan kereta terlihat dengan jelas Nunobiki Waterfall yang mempesona. Kabarnya air terjun ini salah satu dari 100 air terjun terbaik di jepang.

Begitu juga dengan sebelah kiri, ada bendungan air! Namanya Nunobiki Gohonmatsu Dam. Dari kejauhan bendungan tersebut lebih terlihat bak kaca. Bendungan dan air terjun ini digadang-gadang sebagai kualitas terbaik air Kobe.

Di stasiun tengah, jika tidak berhenti, kita tetap duduk di kereta. Hanya saja, petugas akan melakukan pengecekan. Kemudian, kereta melanjutkan rutenya hingga stasiun teratas.

Di stasiun teratas, tunggu aba-aba dari petugas baru keluar. Perlihatkan tiket ke petugas dan bisa memasuki kawasan paling puncak.

Papan Penunjuk Arah

Bagi yang bingung mau milih area mana yang mau dikunjungi, cukup dengan melihat papan penunjuk arah yang menunjukkan lokasi masing-masing wisata. Papan tersebut cukup mudah dipahami, karena selain bahasa jepang juga tertulis dalam bahasa inggris.

Panorama Alam & Kota Kobe dari Puncak

Pintu keluar kereta gantung terhubung dengan area restoran (View Plaza) dan panorama lepas kota kobe.

Sejauh mata memandang, luar biasa indah.. Apalagi saat cuaca cerah, bakal jelas terlihat padatnya pemukiman penduduk di kota kobe, gedung-gedung pencakar langit, hamparan laut luas, pelabuhan kobe, bukit barisan yang terlihat seperti garis pembatas antara laut dan langit biru.

Kereta gantung silih berganti berlalu-lalang diketinggian melewati kebun-kebun herbal 4 musim dibawahnya. Atap-atap rumah kacapun terlihat unik dan menarik untuk disinggahi. Sungguh sebuah karya & maha karya yang keren!

Panorama ini bisa dinikmati dengan teleskop berbayar ¥100. Bahkan, Kobe Port Tower pun yang lanmark-nya Kobe bisa terlihat dengan jelas!

Pict taken by Etikuchan
View dari puncak

View Plaza

Di puncak ropeway, ada View Plaza. Bangunan bergaya eropa ini terdiri dari restoran, cafe dan area pertokoan; menjadi tempat terluas disini dan memberi kesan romantis! Area ini didekorasi dengan berbagai jenis bunga dan meninggalkan wangi flora.

Pict taken by Etikuchan
View Plaza

Bagi yang mencari TOILET, ada di lantai dasar gedung yang ada jam dindingnya.

Rose Symphony Garden

Disini terdapat banyak sekali jenis bunga mawar. Di tengah kebun, ada patung anak kecil yang memegang ikan, mulut ikan tersebut menganga lebar mengeluarkan air mancur yang mengalir ke kolam mungil berbentuk gelas piala. Artistik!

Spot di Rose Symphony Garden

Di berbagai sisi taman banyak tempat duduk untuk bersantai-ria.

Mori no Hall

Bangunan ini berada di dalam kawasan Rose Symphony Garden. Di beranda depannya ada Garden Cafe yang menjual aneka minuman yang didominasi dari bahan herbal.

Masuk ke tempat ini gratis! Di sebelah kanan pintu terpajang dengan cantik miniatur rumah dan kehidupan bergaya eropa. Benar-benar kreatif!

Miniatur bergaya eropa

Di sisi seberangnya ada aneka aroma dan wewangian herbal. Aneka tanaman seperti salah satunya kayu manis ditaruh di dalam kotak kaca, kemudian disisinya ada botol kecil berisikan wewangian khas kayu manis.

Di sisi kiri ada ハーブガイドアロマと香り, yang mungkin bila dibahasaindonesiakan berarti panduan aroma dan wewangian herbal. Kita bisa melihat secara langsung alat-alat yang digunakan untuk mengekstrak herbal. Tempat yang lebih mirip area presentasi ini buka pukul 11:00-11:45.

Selanjutnya, ada ruangan yang sepertinya toko yang menjual aneka aroma & wewangian herbal.

Di lantai 2, ada Mori no Hall yang ditutup, mungkin khusus untuk acara-acara tertentu saja.

Pintu keluar lantai 2 terhubung ke bangunan coklat tertinggi yang ada jam dindingnya. Bangunan ini berada diantara View Plaza & Rose Symphony Garden. Menelusuri anak tangga bisa kembali turun ke lorong antara area restoran & kebun mawar.

Glass House

Pernah maen game FarmVille nggak?! Kalo pernah, pasti bakal familiar sama bangunan yang satu ini, namanya glass house (rumah kaca). Mulai dari dinding sampai ke atapnya memang didominasi oleh kaca.

Glass House

Di dalam rumah ini, ada beberapa bagian yang masing-masingnya didekorasi dengan sangat unik. Ada taman, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang santai; semua punya konsep herbal!

Dibagian belakang, ada monumen ibu & anak yang dilatari dengan air. Sesekali muncul gelembung air. Kejernihan airnya bikin adem..

Di beranda belakang mungkin bakal jadi tempat yang paling disukai para pelancong (selain area puncak). Pemandangan lepas laut dan kota kobe kembali menakjubkan mata. Dan lagi, sofa empuknya bebas digunakan pengunjung untuk bersantai-ria, penat setelah melanglang-buana berasa menguap!

Diantara pengunjung ada yang memilih berendam kaki di Herbal Footbath, buka dari pukul 10:00-16:30. Disediain handuk juga lho, ¥100/lembar.

Herbal Footbath

Disini juga ada cafe yang menjual teh, kopi dan es krim herbal. Harganya variatif berkisar dari ¥600.

Pembelian Oleh-oleh

Aneka souvenir banyak dijual di lokasi pembelian tiket, lantai 4 gedung Herb Garden Bottom Station.

Selain lokasi shopping dan beli tiket, disini juga tempat pengambilan souvenir gratis buat pengunjung yang nge-share foto ke sosmed pake hashtag Nunobiki Herb Gardens & Ropeway dengan memperlihatkannya pada staf. Biasanya bakal dapetin sebungkus herbal camomile buat garam mandi di bathtub.

Akses

Akses ke lokasi bisa dengan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi.

Kobe Cityloop Bus

Dengan kendaraan umum, bisa memanfaatkan subway khusus wisata yang dikenal dengan nama Kobe City Loop Bus.

Jika destinasinya hanya kebun herbal ini saja, bisa langsung naik bus di halte berlogo city loop. Bajet ¥260 (¥130 untuk anak-anak dibawah 12 tahun), bayar di mesin otomatis yang ada disamping kiri sopir.

Selama di bus, dilarang makan, minum, merokok ataupun bicara pake suara gede, termasuk menggunakan ponsel yang mengganggu (seperti: menerima telepon).

Jika punya destinasi lebih dari satu, recommended banget pake 1-Day Pass. Memang sedikit merogoh kocek tapi tentunya hemat dan praktis. Tiket dewasa ¥660 dan anak-anak ¥330, bisa dibeli di City Loop buses, Kobe Information Center di Stasiun Sannomiya dan di Tourist Information Offices di Shin-Kobe. Saat naik bus, perlihatkan tiket ke sopir/pemandu.

Bus Pariwisata

Tempat parkir kendaraan pribadi berbeda dengan bus wisata. Bus pariwisata dan kursi roda bisa langsung parkir di halaman pelataran yang ada di depan gedung yang bertuliskan Herb Gardens Bottom Station. Dari belakang gedung ANA Plaza, ikuti plang parkir yang ada disebelah kanan.

Mobil Pribadi

Tempat parkir untuk kendaraan pribadi ada di dalam gedung ANA Plaza. Dari belakang gedung ANA Plaza, plang parkir ada di sebelah kiri, ikuti jalan memasuki gedung, tempat parkir ada di lantai 6-8. Pembayaran parkir dengan kartu atau cash.

Turun dari tempat parkir (6F-8F) dengan lift menuju lantai 1. Jalan keluar gedung, masuki gerbang bertuliskan 布引ハーブ園/ロープウェイ, ikuti jalan khusus pejalan kaki sampai ketemu lift. Disamping lift tersedia map yang bisa digunakan sebagai panduan manual.

Untuk menaiki lift, antri dengan teratur, dahulukan pengunjung yang ada di dalam lift keluar dulu baru masuk dengan tertib. Kadang sesekali bakalan ketemu guide/volunteer di lift. Bobot lift hanya 11 orang.

Atau, pengunjung juga bisa menaiki anak tangga.

Catatan

  • Area Nunobiki Herb Gardens tutup pukul 16:30
  • Ropeway tutup pukul 17:15

Gallery

* Sebagian foto diambil dari koleksi foto Etikuchan, termasuk foto yang digunakan untuk judul

Kamus

  • 布引ハーブ園/ロープウェイ /nunobiki haabu-en roopuwei/ = Nunobiki Herb Gardens & Ropeway (Kebun Herbal Nunobiki & Kereta Gantung)
  • ロープウェイ /roopuwei/ = Ropeway (kereta gatung, gondola, lori
  • グラスハウス /gurasu hausu/ = Glass hause (rumah kaca)
  • 1-Day Pass/One Day Pass /wan dei pas/ = Tiket subway yang bisa digunakan seharian kemana saja sesuai aturan yang berlaku
  • 1F, 6F, 8F = Singkatan dari 1st Floor (lantai 1)
  • ハーブ園山麓駅 /haabu-en sanroku-eki/ = Herb Garden Bottom Station (Stasiun terbawah taman herbal)
  • 布引の滝 /nunobiki no taki/ = Nunobiki Waterfall (Air Terjun Nunobiki)
  • 布引五本松ダム /nunobiki gohonmatsu damu/ = Nunobiki Gohonmatsu Dam (Bendungan Gohonmatsu Nunobiki)
  • Budget = Kata serapan yang dibahasaindonesiakan menjadi bajet (anggaran)
  • ガーデンカフェ /gaaden kafe/ = Garden Cafe
  • ハーブガイドアロマと香り /haabu gaido aroma to kaori/ = Herb Guide Aroma & Fragrance (Panduan Aroma & Wewangian Herbal)
  • Cash = Bayar kontan
  • Guide = Pemandu
  • Volunteer = Sukarelawan

Related Link

Referensi

Opini O

Karena dikelola dengan sangat baik, kebun herbal ini luar biasa indah.. Wort it memang dengan harga tiket segitu.

*

Padahal, bunga yang dilihat juga banyak ditemui di Indonesia. Bedanya di Indonesia, mungkin karena saking banyaknya, bunga-bunga itu tampak tak berharga, bahkan ada yang mencapnya bunga kampung, contohnya: bunga tahi ayam; atau lebih memilih bunga yang lebih mahal (apalagi dengan iming-iming impor dari negara bla bla bla).

Di jepang, bunga-bunga yang biasa kita temui di negara kita jadi bernilai. Coba saja lihat di taman kota, taman bermain ataupun di beberapa tanaman hias; sebagian besar bunga-bunga itu cukup familiar. Tak heran bila di supermarketpun dijual dalam bentuk kemasan pot, benih atau bingkisan. Bahkan, menjadi salah satu spesies penghuni kebun herbal di kobe.

*

Tranpostasinya OK! Ada subway bus khusus wisata lengkap dengan buku panduan manual dalam bahasa jepang atau inggris. Tempat parkirpun terkoordinir dengan sangat baik. Pembayaran hanya sekali, jelas dan praktis; sesuai dengan waktu penggunaan. Sistemnya juga teratur, mobil pribadi tidak bisa parkir seenaknya di area bus sekalipun kosong. Bahkan, kursi rodapun memiliki area parkir khusus.

*

Sebagian besar orang Indonesia yang berkunjung kesini benar-benar memanfaatkan waktu untuk berlibur dan mengambil spot foto yang bagus. Pemandangan yang cukup kontras datang dari wisatawan barat, mereka tampak berlibur sekaligus belajar. Selain mengambil foto, mereka membaca penjelasan diberbagai spot yang mereka singgahi.

*

Mau ada atau tidak ada tong sampah, area ini selalu terjaga kebersihannya. Bahkan dengan banyaknya pepohonan dan tanam-tanaman dari segala jenis, sampah daun keringpun tak tampak menyemak di jalan setapak sekalipun.

*

Bagi teman-teman yang perutnya sensitif dengan minuman tertentu, mungkin sedikit memilah dalam pemilihan minuman ataupun kombinasinya. Jika terjadi mual, muntah, pusing dan/atau mencret, evaluasi dulu penyebabnya apa.

Salah satu kombinasi yang mungkin bisa bikin perut ga enak adalah krim cair berbungkus mungil transparan yang berasa asem, sepertinya. Bila ngalamin itu, segera minum banyak air putih atau susu cair, gejala lebih lanjut konsul ke pelayanan kesehatan terdekat.

The Naruto German House

Buat pecinta sejarah, recommended banget buat berkunjung ke The Naruto German House yang jika diartikan dalam bahasa indonesia: Rumah Jerman di Naruto. Gedung megah dengan arsitektur bangunan ala jerman ini terletak di Naruto City (Kota Naruto), Perfektur Tokushima.

Sejarah

Berawal dari masa Perang Dunia I, dimana Jepang berpartisipasi sebagai Entente Powers yang berhasil merebut beberapa wilayah Asia dan Pasifik yang menjadi bagian kolonial Jerman, seperti tawanan perang. Sekitar seribu tentara jerman ditahan di Bando POWs Camp. Namun, mereka diberi kebebasan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal hingga terjalin sebuah persahabatan yang erat. Ini berlangsung selama 3 tahun (1917-1920).

Selama berada ditahanan, para tawanan melakukan berbagai kegiatan secara aktif, seperti: orkestra, paduan suara, teater, olahraga, kuliah, dll. Dari semua ini, Bethoven Symphony ke-9 lah yang pertama kali terkenal di Asia. Selain itu, karena keterbatasan keuangan jepang untuk memenuhi kebutuhan pangan tawanan, jepang membeli lahan dan para tawanan bekerja untuk menggarapnya.

Meskipun Perang Dunia I telah usai, hubungan persahabatan tersebut masih tetap terjalin. Oleh karenanya, pada tahun 1972 dibangun 鳴門市ドイツ館. Sejak itu, Naruto dan Lueneburg (Jerman) menjadi sister city.

Museum

Di lantai 2 Deutsches Haus Naruto ini terdapat museum yang mendiskripsikan kehidupan para tawanan tentara jerman selama berada di Bando POWs Camp. Tidak hanya dalam bentuk gambar saja, tetapi juga dalam bentuk miniatur yang dikombinasikan dengan video, sangat menarik! Di setiap bagian disediakan selebaran informasi dalam 2 bahasa (Jerman & Jepang) yang bisa diambil secara gratis.

Dan, tak kalah unik, ada panggung orkestra yang dimainkan oleh patung yang bisa bergerak (boleh dibilang robot), luar biasa! Penampilan ini bisa disaksikan pada waktu yang telah ditentukan.

Catatan: Di lantai 2 dilarang menggunakan kamera.

Tiket & Waktu

Insert untuk umum ¥400 dan anak-anak (SD-SMP) ¥100. Buka dari pukul 9.30-16.30 (waktu setempat). Tutup pada hari senin keempat dan 28-31 Desember di akhir tahun.

Akses

Akses ke lokasi dengan kendaraan pribadi, waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Tokushima-shi. Akses via transportasi umumpun juga tersedia, hanya saja tidak praktis; karena harus menggunakan bus dan berjalan kaki  dari halte terdekat yang kabarnya cukup jauh.

Event

Dalam rangka memperingati HUT ke-100 Pembukaan Bando POWs Camp, di hall lantai 1 museum ini diadakan konser musik klasik GRATIS! Event ini berlangsung pada hari minggu, 9 April 2017, pukul 13.00 (waktu lokal). Selain itu, juga gratis memasuki museum di lantai 2.

Pada event ini, tidak hanya orkestra, paduan suara ataupun seriosa saja, tapi juga ada presentasi menarik tentang sejarah The Naruto German House. Presentasi ini ditampilkan dalam bentuk gambar yang silih berganti diganti secara manual pada alat yang terbuat dari kayu dan sangat menarik!

Gallery

Kamus

  • 鳴門市ドイツ館 = The Naruto German House (Deutsches Haus Naruto)
  • Bando POWs Camp = Kamp tahanan Bando
  • POW = Prisoners of War (tawanan perang)
  • Sister city = Kota kembar
  • 開所100周年記念コンサート= Konser HUT ke-100 Pembukaan Bando POWs Camp
  • Entente Powers = Blok Sekutu
  • 徳島市 /tokushima-shi/ = Tokushima City (Kota Tokushima)

Monumen Merpati Perdamaian

Origami merupakan seni melipat kertas yang sangat terkenal dari negeri Sakura alias Jepang. Namun, kali ini, dengan makna yang sama tapi berbeda cara, layaknya burung merpati sebagai lambang perdamaian, sebuah origami berbentuk merpati diabadikan menjadi Monumen Perdamaian Merpati di Padang kota tercinta.

Maknanya, perdamaian itu didapat dari proses bertahap, dibentuk dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Namun, sepertihalnya origami, perdamaian mudah dirusak, jadi agar tetap merasakan keindahannya, harus tetap dijaga.

Tugu ini menjadi dedikasi dari Angkatan Laut, diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 12 April 2016 di Kota Padang. Berlokasi di pinggiran Pantai Purus, tidak hanya memberi pengunjung keuntungan untuk mengabadikan moment di tugu ini saja, tetapi juga menikmati keindahan pantai nan elok.

Akses ke lokasi sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi, seperti: motor. Karena, tidak ada transportasi umum yang melewati kawasan ini.

Kalaupun ada, transportasi yang tersedia hanya sampai di daerah Purus saja, yaitu angkot (angkutan kota); seperti: angkot berwarna orange jurusan Lubuk Buaya (Lubay) ke Pasar Raya, atau angkot berwarna putih dari Tabing/Singgalang/Labor. Ongkos relatif berkisar Rp 4.000,-; tergantung harga BBM. Selanjutnya, untuk ke lokasi, bisa menaiki ojek (jika ada) atau dengan memesan taxi.

Gallery

Referensi

  • Informasi berikut dokumentasi di share oleh Geni pada 6 Oktober 2016.

Lokomotif Uap

Saat berkunjung ke Padang, adakalanya menggunakan jasa kereta api, bukan? Paling tidak untuk sekedar menikmati perjalanan wisata.

Nah, di Kota Padang sendiri bisa ditemukan beberapa stasiun kereta api, namun salah satu yang terunik adalah Stasiun Padang, atau lebih dikenal dengan Stasiun Simpang Haru. Selain menjadi tempat naik-turun transportasi yang mulai difungsionalkan kembali di Kota Padang ini; ada hal lain yang lebih menarik, yaitu icon-nya.

Tepat di sebelah kanan gerbang PT. Kereta Api Divisi Regional II Sumatera Barat; berdiri kokoh lokomotif uap lengkap dengan sepenggal rel kereta api-nya. Monumen ini diresmikan sejak tahun 2001 di Padang. Jika dilihat sekilas memang tidak ada yang spesial, namun jika diperhatikan, lokomotif ini memiliki daya tarik tersendiri sebagai sebuah icon, sedikit terkesan antik.

Gallery: Lokomotif Uap

Monumen Nasional (Monas)

Belum lengkap rasanya ke Jakarta jika belum pernah melihat Monas, setidaknya itulah selorohan kecil yang sering dilontarkan ketika seseorang pergi ke Jakarta, bukan?!

Tugu yang satu ini sangat terkenal dan lebih familiar, keberadaannya dikenal sebagai landmark-nya Indonesia yang terletak di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Tugu dengan ketinggian 132 meter ini tidak hanya sebagai objek wisata sejarah, namun juga menjadi salah satu tempat favorit untuk berolahraga seperti marathon atau joging atau jalan santai.

Monas merupakan tugu peninggalan bersejarah yang dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961 dibawah kepemimpinan Presiden Sukarno, mulai dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Monumen dengan ketinggian 433 kaki ini didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Mahkota lidah api berlapis emas yang terdapat di puncak Monas melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala (Wikipedia.org, diakses pada 25 Maret 2015).

Akses ke Monas bisa menggunakan transportasi umum, seperti: kereta api (KRL Commuterline) turun di Stasiun Gambir, Bus Trans Jakarta turun di Halte Monas atau Halte Harmoni, ojek, taksi, dll. Namun, bagi yang memiliki kendaraan pribadi bisa memarkirkan kendaraannya di tempat yang telah disediakan (masih dalam kawasan Monas).

Di seberang Monas, terdapat tulisan TUGU MONUMEN NASIONAL, dimana di sisi kanannya merupakan pintu masuk menuju lorong Monas. Nanti di lantai bawah ini (sebelum masuk lorong), ada loket pembelian karcis dan kita cukup antri dengan tertib.

Harga tiket terbilang variatif, tergantung status akademis dan lokasi tujuan (Cawan atau Puncak). Berikut rinciannya:

  • Anak-anak/Pelajar
    • Cawan Rp 2.000,-
    • Puncak Rp 2.000,-
  • Mahasiswa
    • Cawan Rp 3.000,-
    • Puncak Rp 5.000,
  • Dewasa/Umum
    • Cawan Rp 5.000,-
    • Puncak Rp 10.000,-

Monas terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga Minggu (Senin TUTUP), pukul 08.00-15.00 WIB.

Setelah membeli tiket, kita berjalan melewati lorong hingga ada petugas yang mengecek tiket. Setelah itu, kita bisa meneruskan perjalanan hingga Museum Sejarah Nasional. Disini tersedia aneka galeri, mulai dari miniatur Monas, galeri manusia purba, zaman kerajaan (salah satunya pembangunan Borobudur, perdagangan masa dahulu), perjuangan, dll. Galeri ini dibuat unik seperti aslinya, lengkap dengan informasi detail-nya.

Biasanya, pengunjung lebih sering memilih ke Puncak terlebih dulu kemudian terakhir berkeliling di Museum Sejarah Nasional sekaligus beristirahat (melepas penat). Untuk meneruskan perjalanan hingga Puncak, kita menaiki tangga hingga pelataran Monas. Disini terdapat ukiran relief perjuangan dengan cat perak yang sangat indah.

Kita kembali antri untuk menaiki lift yang berkapasitas maksimal 11 orang (sudah termasuk seorang petugas yang standbye didalamnya). Saat lift menunjukkan angka 3, kita sudah sampai di Puncak Monas. Pemandangan Kota Jakarta terlihat sangat menakjubkan dari sini, apalagi dengan menggunakan teropong unik yang tersedia disetiap pojoknya, bisa terlihat jelas bangunan seperti Mahkamah Agung.

Selanjutnya, kita kembali menaiki lift atau menuruni tangga menuju Cawan. Disini terdapat pelataran yang cukup luas dan tentunya sejuk. Di Cawan ini, kawasan sekitar terlihat indah dengan tatanan yang apik.

Turun ke lantai 1 (lantai dasar), terdapat Museum Kemerdekaan. Kita cukup menaiki tangga di bagian sebelah kanan lift.

Setelah ini, kita kembali melewati Museum Sejarah Nasional, pelataran Monas yang ada reliefnya dan terowongan Monas. Sejenak kita kembali berada di seberang Tugu Monas.

Di sekitar tugu bersejarah ini tak ada satupun pedagang yang berjualan. Jadi, sebaiknya Anda menyediakan air mineral (paling tidak), agar tidak kehausan. Namun, untuk makan, jangan kuatir.. Nanti ada tempat khusus yang disediakan berdekatan dengan tempat parkir.

Jika Anda kelelahan untuk berjalan menuju pintu gerbang, cukup menunggu bus keliling yang telah difasilitasi GRATIS, kemudian turun di wahana kuliner. Disini tersedia aneka makanan dan jajanan yang variatif, seperti: toge goreng, laksa, bakso, goreng-gorengan, kelapa muda, aneka minuman, dll. Tidak hanya itu, ada juga pakaian berlogo Monas yang ekonomis, rata-rata tertera tulisan “7 baju Rp 100.000,- semua ukuran”; dan cenderamata lainnya. 🙂

Tidak jauh dari tempat kuliner ini, terdapat aneka costume player, mulai dari costume perjuangan yang berdandan seperti pejuang sungguhan dan mematung hingga hantu-hantuan. Mereka menuliskan sumbangsi yang mau berfoto seharga Rp 5.000,-.

Tidak terlalu jauh dari tempat parkir, ditemukan pintu keluar. Bagi Anda yang menggunakan Bus Trans, jalan beberapa langkah ke arah kiri dari gerbang akan menemukan halte terdekat.

Beberapa informasi ini didapat dari hasil wawancara dengan petugas tiket dan Wikipedia.org.

Taman Tugu Jong Soematra

Ada yang baru nih di Kota Padang.. Taman Tugu Jong Soematra, terletak di persimpangan tiga sebelum Taman Melati, tepatnya di seberang Monumen Gempa. Tatanannya sangat apik, dihiasi oleh tanaman berbatang sedang, bunga-bunga dan lampu taman. Udah gitu, ada bangku-bangkunya juga! Cocok banget buat tempat refreshing atau sekedar bersantai ria 😀
Kota tercinta memang T.O.P dah.. Padahal sebelumnya persimpangan ini tidak terlalu menarik, tapi dengan pembangunan yang kian pesat ini disulaplah menjadi taman nan cantik 🙂 Tidak hanya di lokasi ini, beberapa tempat lain juga sedang galak-galaknya direnovasi, keren! Nah, tak harus ke pantai, gunung atau sungai aja kan?!; piknik di taman-taman tengah kota juga asik, ekonomis lagi dan minimal resiko tentunya 😉

Makam Belanda (Dutch Graveyard)

Komplek pemakaman tua ini telah ada jauh sebelum Kebun Raya Bogor didirikan tahun 1817 oleh C.G.C Reinwardt. Bentuk nisan, ornamen dan tulisannya sangat menarik untuk Anda amati.

Disini terdapat 42 makam, 38 diantaranya mempunyai identitas, sedangkan sisanya tak dikenal. Kebanyakan yang dimakamkan disini adalah keluarga dekat gubernur jenderal yang menjabat tahun 1836-1840. Juga makam Mr. Ary Prins, seorang ahli hukum yang pernah dua kali menjadi pejabat sementara gubernur jenderal Hindia Belanda.

Ada pula dua orang ahli biologi yang meninggal tahun 1820-an dalam usia muda dan dikuburkan dalam satu makam. Mereka adalah Heinrich Kuhl dan J.V. Van Hasselt, anggota ‘The Betherlands Commission for Natural Sciences” yang dikirim ke Indonesia untuk bekerja di Kebun Raya Bogor.

Makam tertua di komplek pemakaman ini adalah makam seorang administrator toko obat berkebangsaan Belanda yang bernama Cornelis Potmans, wafat 2 Mei 1784. Sedangkan yang paling baru adalah makam Prof. Dr. A.J.G.H Kostermans yang meninggal tahun 1994. Ia adalah seorang ahli botani terkenal dari Belanda yang menjadi warga negara Indonesia sejak tahun 1958. Kostermans dimakamkan dekat lingkungan tumbuhan yang ia cintai sesuai keinginannya, selain sebagai penghargaan pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya untuk ilmu pengetahuan. Hingga akhir hayatnya, ia bekerja di kantor Herbarium Bogoriense yang terletak di seberang Kebun Raya Bogor.

Dutch Graveyard

This old cemetery was here long before the garden was established by C.G.C Reinwardt in 1817. The gravestones, their ornaments and scripts are quite artistic. There are 42 gravers, in the area; 38 of which supplied the identities of the dead persons. Most of them were relatives of the Dutch colonial governor generals at the time. Among these are the graves of D.J de Eerens a governor general during 1836-1840 and Mr. Apy Prins a lawyer who were twicw the acting governor general.

Here are where two young biologist were in one grave: HeinrichKuhl and J.C. Van Hasselt. They were members of the Netherlands Commission for Natural Sciences who worked t the garden and claimed as the first to climb and reach the peak of Mt. Pangrango in West Java.

The oldest grave in this area is the grave of a Dutch chemist administrator, Cornelis Potmans, …..

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Kebun Raya Bogor, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.