Category Archives: Celebration

The Naruto German House

Buat pecinta sejarah, recommended banget buat berkunjung ke The Naruto German House yang jika diartikan dalam bahasa indonesia: Rumah Jerman di Naruto. Gedung megah dengan arsitektur bangunan ala jerman ini terletak di Naruto City (Kota Naruto), Perfektur Tokushima.

Sejarah

Berawal dari masa Perang Dunia I, dimana Jepang berpartisipasi sebagai Entente Powers yang berhasil merebut beberapa wilayah Asia dan Pasifik yang menjadi bagian kolonial Jerman, seperti tawanan perang. Sekitar seribu tentara jerman ditahan di Bando POWs Camp. Namun, mereka diberi kebebasan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal hingga terjalin sebuah persahabatan yang erat. Ini berlangsung selama 3 tahun (1917-1920).

Selama berada ditahanan, para tawanan melakukan berbagai kegiatan secara aktif, seperti: orkestra, paduan suara, teater, olahraga, kuliah, dll. Dari semua ini, Bethoven Symphony ke-9 lah yang pertama kali terkenal di Asia. Selain itu, karena keterbatasan keuangan jepang untuk memenuhi kebutuhan pangan tawanan, jepang membeli lahan dan para tawanan bekerja untuk menggarapnya.

Meskipun Perang Dunia I telah usai, hubungan persahabatan tersebut masih tetap terjalin. Oleh karenanya, pada tahun 1972 dibangun 鳴門市ドイツ館. Sejak itu, Naruto dan Lueneburg (Jerman) menjadi sister city.

Museum

Di lantai 2 Deutsches Haus Naruto ini terdapat museum yang mendiskripsikan kehidupan para tawanan tentara jerman selama berada di Bando POWs Camp. Tidak hanya dalam bentuk gambar saja, tetapi juga dalam bentuk miniatur yang dikombinasikan dengan video, sangat menarik! Di setiap bagian disediakan selebaran informasi  dalam 2 bahasa (Jerman & Jepang) yang bisa diambil secara gratis.

Dan, tak kalah unik, ada panggung orkestra yang dimainkan oleh patung yang bisa bergerak (boleh dibilang robot), luar biasa! Penampilan ini bisa disaksikan pada waktu yang telah ditentukan.

Catatan: Di lantai 2 dilarang menggunakan kamera.

Tiket & Waktu

Insert untuk umum ¥400 anak-anak (SD-SMP) ¥100. Buka dari pukul 9.30-16.30 (waktu setempat). Tutup pada hari senin keempat dan 28-31 Desember di akhir tahun.

Akses

Akses ke lokasi dengan kendaraan pribadi, waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Tokushima. Akses via transportasi umumpun juga tersedia.

Event

Dalam rangka memperingati HUT ke-100 Pembukaan Bando POWs Camp, di hall lantai 1 museum ini diadakan konser musik klasik GRATIS! Event ini berlangsung pada hari minggu, 9 April 2017, pukul 13.00 (waktu lokal). Selain itu, juga gratis memasuki museum di lantai 2.

Pada event ini, tidak hanya orkestra, paduan suara ataupun seriosa saja, tapi juga ada presentasi menarik tentang sejarah The Naruto German House. Presentasi ini ditampilkan dalam bentuk gambar yang silih berganti diganti secara manual pada alat yang terbuat dari kayu dan sangat menarik!

Gallery

Kamus

  • 鳴門市ドイツ館 = The Naruto German House (Deutsches Haus Naruto)
  • Bando POWs Camp = Kamp tahanan Bando
  • POW = Prisoners of War (tawanan perang)
  • Sister city = Kota kembar
  • 開所100周年記念コンサート= Konser HUT ke-100 Pembukaan Bando POWs Camp
  • Entente Powers = Blok Sekutu

17 Agustus 2015

Yesterday we celebrated our nationality freedom. That was Indonesian Independence Day.

“17 Agustus tahun 45.. itulah hari kemerdekaan kita.. hari merdeka.. nusa & bangsa.. hari lahirnya negeri Indonesia.. MERDEKA.. Sekali MERDEKA tetap MERDEKA, selama hayat masih dikandung badan..”
Sepenggal lirik yang riuh berkumandang sejak kemaren, 17 Agustus 2015. Semua rakyat Indonesia merayakan Dirgahayu RI yang ke-70 dari Sabang hingga Merauke.
Seperti biasa, dihari “H”, biasanya diadakan upacara pengibaran sangsaka merah putih. Selanjutnya, ada yang memeriahkannya dengan aneka lomba, namun ada juga yang merayakannya hari ini.
Lomba yang biasa ada di acara 17-an adalah lomba panjat pinang, tarik tambang, lomba makan kerupuk, dll.
Nah, hari ini, serempak dibeberapa kota di Sumbar, mengadakan pawai! Masing-masing daerah punya cara sendiri-sendiri, contohnya: di Bukittinggi pawai dimeriahkan dengan Drumband. Selain Bukittinggi, pawai juga diadakan di Padang Panjang dan Padang. Euforia masyarakat sangat luar biasa!! Dampaknya, terdadak banyak titik yang berpotensi menyebabkan kemacetan di lalu lintas. Namun, ini tidak mengurangi kemeriahan HUT RI kali ini. AKU CINTA INDONESIA!! 😉

 Pawai di Kota Bukittinggi

31 Tahun Bukittinggi Kota Wisata

Kronologis Backpacking

Sepulang dari Rontgen kaki Ayah yang terkilir, rencananya Aku mau menunggu expertisenya sampai sore di Bukittinggi. Hm,  Aku yakin nggak bakal pusing nyariin tempat nongkrong, secara setiap sudut di Bukittinggi berpotensi untuk rehat 😀 Aku tinggal jalan doang mau kemanapun, naik angkot kalau udah capek banget 😀 Yah, Bukittinggi… Kota kecil yang selalu Aku kagumi 🙂 tidak ada yang berubah, masih saja ramah dan bersahaja, sekalipun pembangunannya meningkat dengan pesat. Wisata… Kuliner… Penduduknya.. Semuanya!! ngangenin banget.. 🙂 beruntung Aku pernah mengecap nyamannya jadi warga Bukittinggi 🙂 Wkwkwk, kok makin lebay ya?! Haha… Sorry, sorry… Cus, kita lanjutin ceritanya 😀 Tapi ciyus lho, Bukittinggi itu memang nyaman bangett, semua ada 😀

Akhirnya, meskipun expertisenya batal diambil hari ini; Aku memutuskan untuk melancong sekilas di kota sejuk ini (tapi sekarang lumayan terik, bok..). Aku belum tau mau kemana, tapi hatiku memandu untuk ke Panorama, Aku mau mampir sebentar, sekedar foto-foto.. Sayang rasanya cepat-cepat balik ke Padang, karena nanti belum tentu Aku masih punya waktu seluang ini untuk menyapa Bukittinggi.. 🙂

Aku naik angkot No. 15. Nah, kalau di Bukittinggi, angkot itu pake nomor, guys… Beda sama di Padang.. No. 15 Untuk rute ke Blaba, Simpang Kangkung – Panorama – RSAM- Pasar Bawah – Jenjang Gudang – Hotel Jogja – Bank BNI pusat – Niagara swalayan (Simpang Kangkung) – Simpang YARSI – RSI Ibnu Sina Bukittinggi – Belakang Balok (Blaba) – Simpang STIKes YARSI Sumbar Bukittinggi – Simpang Universitas Muhammadiyah (belakang) – Akbid Poltekes Kemenkes RI – kantor-kantor pemerintah kota Bukittinggi – UNP – Birugo – SMAN 2 Bukittinggi – RSSN – Kodim – Simpang Universitas Muhammadiyah (depan) – Simpang STIKes YARSI Sumbar Bukittinggi – RSI Ibnu Sina Bukittinggi – Simpang YARSI – Simpang Kangkung. Angkot. No. 14 rute Jambu Air, Simpang Kangkung – Panorama – RSAM- Pasar Bawah – Jenjang Gudang – Hotel Jogja – Bank BNI pusat – Niagara swalayan (Simpang Kangkung) – Lapangan Kantin – RSSN – SMAN 2 Bukittinggi – Jambu Air. Angkot No. 03, 06 & 09 itu bedanya dia lewat ke Kampung Cina (lupa ding, udah lama soalnya…). Angkot No. 19 rute Terminal Aur Kuning. Selain itu memang ada angkot berwarna kuning dan hijau. Angkot Kuning itu rute dari dan ke Padang Luar, trus ntar muternya di Jenjang Gudang/BNI pusat/Hotel Jogja. Angkot hijau jurusan Koto Tuo, lewat Terminal Aur Kuning dan ambil belokan di Stasiun. Wadoooow, nggak tau itu apa bener semua atau ada rute yang salah, hihhi… Maklum, memorynya cuma sejam-sejam, jadi kalau udah lama mesti diinstal terus 😀

Taman Panorama & Lobang Jepang

“Kiri, Pak…” ungkapku menyetop angkot yang kutumpangi. Aku serasa nggak percaya kalau Aku beneran udah disini, guys… Sudah lama sekali… 🙂 Dengan mantap Aku melangkah untuk membeli karcis, tapi kok… Jendela pembelian karcisnya tutup semua?? Aku sempat mikir, jangan-jangan udah ditutup lagi gegara over capacity?! Liat aja, wisatawannya rame nian euy… Iseng-iseng Aku bertanya pada bapak-bapak yang duduk-duduk di samping kanan depan gerbangnya, nanyain beli tiketnya gimana. Sayup-sayup nggak jelas Aku dengar GRATIS!!!! “Ah, masa sih???”. Mau nanya lagi mah Aku kagak sreg sama bapak-bapaknya, segan… ntar dibilang tuwir lagi?! Beeeh… Ya udah, Aku jalan-jalan aja pelan masuk ke dalam, coz ada salah satu bapaknya bilang selembar kertas, entah itu balesin omongan Aku atau malah komentar lain dari pembicaraannya sebelumnya; Aku jaga-jaga aja, ntar kalau disodorin kertas, Aku tinggal bayar, Aku rasa tiketnya nggak bakal lebih dari Rp 10.000,- 😀 Tapi… udah pasang tampang oonpun, udah mondar-mandir sana-sini kayak nyariin kenalan (padahal kagak ada yang kenal), eeh… Ya udah, rejekinya Aku nih, hihi… Senangnya… Tapi, serius ini GRATIS?! Jangan-jangan ntar pas Aku mau keluar, malah kena tegur?? Malu dong… Mending Aku bayar dari sekarang.. Tapi, ya sudahlah… Aku jalan-jalan aja, keliling-keliling, foto-foto; kalaupun bayar, Aku tinggal ngasi duitnya 😉

Hm, bingung juga nih, mau kemana ya?! Udah masuk, GRATIS, pake bingung lagi… ntar rejekinya malah ilang?! Aku nikmatiin aja foto-fotonya, secara pemandangan disini bagus banget, adem, tenang (padahal rame, lho..), sejuk mata memandang (padahal rada panas, lho..), T.O.P dah pokoknya…

Aku fotoin ngarai yang di depan ahh… Tapi ogah, itu orang lagi numpuk disana, jadi keder… 😀 Hm, kemana ya?? Ahaaa.. Lobang Jepang!!! Aku fotoin Lobang Jepang aja ahh… Hm, abis ini Aku minta tolong fotoin sama adek-adek ini, hihi.. Kebetulan banget, mereka lagi duduk-duduk nggak jelas disini.. 😀 Eh, belum jadi Aku minta tolong, mereka keburu bubar.. 😦 Emang nasibku kali ini apes dah, ya sudahlah.. yang penting Aku udah ambil sendiri foto asli objeknya 🙂

Tiba-tiba, datang seorang bapak-bapak nawarin diri buat membantu ngambilin fotoku berlatarkan Lobang Jepang. Aku sempat negative thinking, lho.. Jangan-jangan.. Jangan-jangan..?! Aku was-was, guys.. Tapi, “udah”, kata bapaknya. “Udah, pak” jawabku tanpa melihat hasilnya. “Lihatlah dulu, bagus nggak?!” kata bapaknya ramah. Aku jadi nggak enak gitu, Ku buka dah itu foto, ternyata cukup bagus, tanpa Aku sadari si bapak juga ikutan liat dan bertanya kembali untuk meyakinkanku “udah?”. Aku tersenyum yakin “udah, udah, makasi ya, pak..” Jawabku mengapresiasi si bapak. Kemudian beliau berlalu diikuti seseorang yang lebih muda darinya dan sepertinya masuk ke Lobang Jepang itu (Aku tidak memperhatikan). Ohh, betapa suuzonnya Aku tadi, bener-bener minta maaf sama si bapak, coz jarang-jarang ketemu orang yang memiliki inisitif tinggi seperti itu 🙂

OK deh, jadi… Aku keliling-keliling lagi ahh.. Tapi, Aku sedikit was-was dan menjaga jarak dari kera-kera yang berkeliaran dimana-mana. Aku yakin mereka nggak bakal gangguin Aku, toh kalau mereka udah gangguin wisatawan so pasti udah diusir sama petugas-petugasnya. Wong mereka enjoy aja tuh jalan kesana-kemari sesukanya. Syukurlah.. Beberapa kali aku lewati dan mereka melewatiku, sampe yang gede sekalipun, aman-aman aja… Aku mulai ga enak, sedari tadi bawaannya suuzon terus.. So, Aku beliin mereka makanan dah entar, kasian mondar-mandir doang, mungkin mereka ngarep juga tuh wisatawannya ngasi cemilan 😀 Tapi… boleh nggak ya?? Ntar malah bikin ribut lagi?! Parahnya, Akulah sang tersangka 😦 Aku ingat, di Jepang sebuah taman yang banyak monyetnya, pengunjung nggak boleh ngasi makanan, Aku nonton beberapa hari yang lalu di sebuah stasiun TV swasta.. Disini gimana ya?! Aku lupa ding, yang Aku ingat, di kebun binatang mah boleh.. Sewatu kecil, Ayah sama Ibu selalu beliin semilan (biasanya kacang goreng) buat ngasi binatangnya makanan 😀 Masa kecil yang terlalu bahagia untuk dikenang 😀 Tapi ntar Aku liat sikon aja deh, apesnya belum ada tuh yang keliatan ngasi sikeranya makanan?? Dengan berat hati, Aku memilih untuk sekedar lalu lalang dan ngambil foto mereka aja. Walhasil, Aku jadi bahan ledekan ABG-ABG yang usil karenanya 😀

Dingarai seberang sana, tampak Great Wall mengular singkat. Aku mau kesana, tapi… jauh… Unjut bilang, pake motor aja capek, apalagi jalan?! Huft, sayang banget.. Ah, Aku terusin aja langkahku hingga mentok di ujung, sekalian cuci mata liatin cendera mata yang bagus-bagus, hee.. Bener aja, Aku kecentol sama sebuah lukisan yang harganya ekonomis, mulai dari Rp 5.000,- lho… Cantik-cantik..!!! Liat deh kalau enggak percaya 😉

Sesampainya di penghabisan toko-toko yang menjual aneka cendera mata, Aku mengambil banyak foto; secara pemandangan disini lebih menarik dari sayap sebelumnya. Tapi, ada yang kurang rasanya.. Apa ya?? Hmm… Foto-foto yang kuambil pasti akan jauh lebih bagus jika kuambil dari ketinggian. Aku melihat sebuah menara 2 lantai tertancap kokoh disana dan Aku mengenalinya (Jangan-jangan, umurku kalah tua darinya?). Kutatap menara itu, berusaha nego dengan diriku sendiri, “berani nggak ya??” bisikku dalam hati. Apa boleh buat, Aku mulai terobsesi ke atas sana, penasaran apa rasanya berada disana, karena selama ini yang bisa kulakukan hanyalah melihat, sekarang waktunya “action” 😉 Hm, disekitar menara malah berkeliaran beberapa ekor kera yang seolah menyiratkan bahwa “kami menjaga menara ini, lho..”. Seketika nyaliku berangsur ciut, bisa mampus tuh Aku dikeroyokin sama mereka ntar?? Ah, ogah ah… Tapi… Aku ingin mencobanya.. 🙂

Kebetulan, di dekat menara itu ada sebuah toko, satu-satunya toko terakhir yang berdekatan dengan menara. Aku menyapa pemilik toko dan bertanya “Da, boleh nggak naik ke atas menara ini?”. Dia melirikku antara aneh dan heran, “Ngga apa-apa” jawabnya ringan. “Tapi… kera-kera itu…” tanyaku khawatir. “Ga masalah, mereka nggak ngganggu kok, bla bla bla….” tutur si Uda menjelaskan.

Kutarik napas dalam dan go…. Kuseret langkahku pelan tapi pasti, satu tangga… dua tangga… tap tap tap, akhirnya sampai di lantai 1
(Horrraaayy…. I got it!!!). Bagus banget pemandangan dari sini… Hm, Aku harus naik lagi nih ke lantai paling atas. Kali ini energiku mulai full kembali, nyalikupun demikian.. Memang benar kata si Uda, para kera sama sekali tidak menggangguku.. Mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing 😀 Dengan tetap berhati-hati, kulangkahkan kaki langkah demi langkah, dan… I’m the winner.. Aku sampai….!!!! Tiba-tiba, Aku mulai merasakan aura gamang.. Entah sejak kapan Aku mulai mabuk ketinggian, guys… Kurasakan tubuhku seolah-olah akan jatuh kala Aku berada di pinggiran pembatas menara, seperti ada magnet besar yang menarikku dan Aku tak kuasa melawannya. Aku menyadari kalau Aku mulai khawatir. Kusandarkan punggungku ke pinggiran tengah menara, namun tetap berhati-hati, jangan sampai Aku bersandar di mulut tangga, itu mah sama parahnya, hahaa..

Tanpa sengaja, kudengar percakapan 3 orang cowok yang bergerak ke arah menara ini. Topiknya tidak lain dan tidak bukan memang si Menara.. Aku tidak memperhatikan, entah mereka bapak-bapak, pemuda-pemuda, para ABG, atau beberapa diantaranya?! Hanya saja, Aku sempat ketawa geli saat salah satu dari mereka mengungkapkan ketakutannya untuk mendaki menara ini. Aku merasa lucu aja guys, masa sekelas cowok yang beginian aja takut?? Haha, ups, Aku ngga bermaksud ngejek, lho.. Tapi memang seharusnya mereka lebih berani, wong Aku aja cewek, sendiri, berani ke atas sini.. 🙂 Songooong.. 😀 Tapi akhirnya mereka bertiga nyusul Aku kok ke puncak menara. Segera setelah mereka sampai, Aku memutuskan untuk turun.

Cukup lama Aku berkeliling, tiba waktunya untuk pulang.. Ku lumat-lumat langkahku memperhatikan sekitar, sepertinya ini memang rejekiku, alias GRATIS!! Mimpi apa Aku semalam, jalan-jalan iseng, eh malah GRATIS?! 😀

Aku keluar dari gerbang Taman Panorama & Lobang Jepang, kemudian berdiri ditrotoar menunggu angkot. Tak jelas angkot yang aku tunggu itu apakah yang no. 15 atau no. 14, silih berganti mereka lalu-lalang di depanku, atau… angkot no.19 aja biar langsung ke Terminal Aur Kuning?! Entah kenapa, Aku merasa waktuku masih panjang, masih cukup untuk kesana-kemari.. Tapi, mengingat belum makan siang, Aku memutuskan untuk langsung pulang aja. Tapi eits, tunggu… pesawat itu..!! diseberang..!! Kala kecil Ayah dan Ibuku sering menunjukinya padaku dan Unjut.. Aku ingin memfotonya, ditunda dulu dah sortir angkotnya… Hmm, ternyata itu Museum???? Halllooooowwww, kemana aja Aku selama ini??? Memang bener-bener nih Aku, kebangetan..!!!!

DSC_9339
Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma

Nah, kebetulan nih, itu kan Museum.. Aku ingat sewaktu di Curup dulu, rumah adatnya yang terkesan dijaga ketat ternyata terbuka untuk umum.. Aku coba tanya ahh… Tapi bapak yang menjaganya tentara??! Apa ini khusus untuk angkatan aja ya?? Hm, coba ditanya dulu dah..

Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma

Aku udah kayak orang bengong nyari alamat aja.. 😀 Untung aja bapak-bapaknya ramah, jadi nggak keliatan banget oonnya 😀 Trus bapaknya malah nanya, “berapa orang?” Waduuuu… tuh, kan…?! Aku bilang sendiri.. Hm, responnya diluar periraanku, aman-aman aja.. Yah, begitulah ramahnya Bukittinggi… 🙂

Aku masuk ke dalam, tanpa karcis lho, guys… Nggak ngerti juga nih, entah biasanya bayar atau memang kali ini Aku beruntung (bangett)?! Hm, entahlah… yang jelas, kali ini beda pesonanya.. Aku berasa terlempar jauh ke jaman kemerdekaan, aroma sejarahnya sangat kental….

 

Awalnya cuma Aku doang pengunjungnya, lama-lama datang sekelompok anak sekolahan dan para guru. Aku salut sama mereka, masih sempat menyisakan waktu untuk mengunjungi museum.. Suatu hal yang boleh dikatakan tidak pernah Aku lakukan, karena tidak terpapar dengannya. Aku sempat tertawa geli kala anak-anak itu mengomentari berbagai jenis mata uang dari beberapa negara yang terpajang disana dan mereka berkomentar “wah, mata uang Indonesia yang paling banyak jenisnya ya?!” seru mereka kompak antara kagum dan heran 😀 Aku ikutan berebut melihat apa yang mereka lihat, takut ngga cukup waktu… 😀 (Alasan doang, seru aja nimbrung sama anak-anak cerdas seperti mereka, haha..).

Selesai berkeliling, saatnya Aku pulang, kali ini beneran… 😉 Tapi… masa jauh-jauh, ups udah sejauh ini, cuma liat-liat doang?? Aku mau foto di pesawat itu…!!! Sebenernyaa sih segan, tapi apa boleh buat, Aku minta tolong sama bapak yang jaga. Mereka ada berdua, yang satu mengenakan seragam dan satu lagi baju bebas. Bapak yang berseragam terlihat keberatan, mungkin karena tuntutan peraturannya atau gimana, Aku memaklumi itu. Untunglah bapak yang baju bebas maju dengan suka rela, hee… Setelah beberapa kali klik, si Bapak menawarkan untuk berfoto di relief, dinding sebelah kanan museum. Karena keberat segan, Aku menolaknya. Namun si Bapak meyakinkan apa Aku tidak ingin berfoto di relief itu, padahal pengunjung biasanya banyak yang berfoto disitu.. Akhirnya Aku dengan senang hati membuang basa basi basiku, xixi.. Aku berdiri disamping relief 🙂

Tau nggak, guys? Aku baru sadar kalau disini ada relief..?? Baah…. Kayaknya Aku lewat tadi, Aku pake kacamata pembias dari kanan deh, sehingga Aku nggak liat reliefnya terpahat dengan indah dan sangat jelas disitu 😀 Lain kali harus lebih perhatian nih 😀

Bendi

Aku menyeberang untuk menyetop angkot no. 19. Tapi, di seberang… Ada yang menarik diriku untuk kembali menyeberang.. Bendi!!!! Aku mau naik bendi!!!! Tapi, setauku maHHHal, lho… Hm, kita mana tau sebelum ditanya.. Aku menyeberang dengan ragu-ragu, kuyakinkan diri untuk paling enggak mengambil foto aja. Ketika inilah Aku baru melihat jelas plang Museum Perjuangan yang kupotret-potret doang tanpa memperhatikan objeknya. Beeeeh, disana terpahat rapi “Museum Perjuangan, Tri Daya Eka Dharma, terbuka untuk umum”. Gubrakkk….!!! Layaknya orang yang kena timbuk batu gede, itulah malunya Aku saat ini. Betapa tidak, udah ada tulisannya terbuka untuk umum, tapi aku malah menanyakan pertanyaan yang udah ada jawabannya itu dengan tampang oon, walaaaah… Udah bangun belum sih Aku ini?? Jangan sampai nanti kejadian lagi nih yang kayak begini… 😀

Sebelum naik tanpa aba-aba, Aku mastiin dulu coast bendinya berapa… Pas bapaknya nanya “mau kemana, nak?” Aku malah asal jawab, “kalau ke pasar bawah berapa, pak?”. “Kasih aja Rp 20.000,-“ kata bapaknya ringan. Aku menelan ludah, “mahalnya pak? Nggak bisa kurang, pak?” responku sedikit memelas.. tapi si bapak bilang “memang segitu”. Aku pasrah… “kalau ke RSAM, pak?” tanyaku lagi.. “Kasih aja Rp 15.000,- atau Rp 10.000,-anlah..” jawab bapaknya. Aku jadi lesu, “5 ribulah ya, pak…” tanyaku lagi mencoba untuk nego. Akhirnya si bapak nyerah & mengiyakan 😀

Sebelum berngkat, nggak lupa Aku minta tolong bapaknya fotoin dulu Aku sama bendinya (kesempatan langka!! hee..). Tapi bapaknya menolak, beliau mau saja, tapi kudanya bisa lari ntar.. Hm, bener juga.. sudah seharusnya aku memaklumi itu.

Tiba-tiba ketika Aku menaiki bendi, si bapak keceplosan.. “Semua wisata di Bukittinggi gratis karena HUT kota wisata”. Aku terperangah, dalam waktu bersamaan dengan bendi berkelok, aku melihat spanduk besar tergantung tepat dipintu masuk Taman Panorama dan Lobang Jepang “31 th pencanangan Bukittinggi sebagai Kota Wisata”.

Dari sekian waktu yang kuhabiskan tadi, ternyata banyak hal penting yang Aku abaikan, masyaAllah… Merasa tidak mendapatkan promosinya, Aku langsung berkomentar pada si bapak, “Lah, kok nggak diumumkan ya, pak?? Kan jadi banyak yang nggak tau??”. Ternyata si bapak urang tau juga, tapi sepertinya kata beliau mungkin ada disiarkan lewat radio-radio..

Dalam perjalanan, Aku bercerita kalau naik bendi ini karena kangen aja, dulu sekali semasa kecil Aku pernah menumpanginya. Eh, ternyata si bapak juga bercerita tentang anaknya yang sedang kuliah. Aku salut sama sibapak, jadi ingat ayahku.. 🙂

Plang megah RSAM sudah mengintip dari sayap kiri, Aku bersiap-siap turun dari bendi. Ada sedikit rasa bersalah terselip mau bayar bendinya Rp 5.000,-. Tapi, apa boleh buat, untuk saat ini keuanganku benar-benar dalam kondisi memprihatinkan, jadi mau tak mau Aku betul-betul harus mempertimbangkan apa saja yang penting untuk dibayar. Udah gitu, Aku rasa, Aku belum terlalu ketegaan menawar dengan harga segitu, masih masuk akal..

Kuperhatikan sibapak sampai berbelok dengan sempurna hingga seberang, tak henti mataku memandang hingga kejauhan, sampai-sampai Aku lupa memperhatikan angkot-angkot yang silih berganti berhenti menanyakan ruteku. Hup, tunggu dulu… Alhamdulillah… Ada seorang bapak-bapak yang menyetop bendi si bapak, syukurlah… Angkot no. 19-pun menghampiri dan Aku langsung naik setelah memastikannya benar-benar ke Terminal Aur Kuning.

Simpang Raya

Sesampai di Terminal, Aku singgah dulu di Simpang Raya, rumah makan langgananku sekeluarga 😀 Aku belum sempat makan siang, sekalipun ntar ada lauk, ternyata Unjut nggak masak nasi?! hm.. Sekali-sekali beli nasi bungkuslah, kangen sama dendeng lamboknya.. Dendeng lambok apa ayam pop medan, ya?? Hm…??? Atau… cancang?? ini beberapa menu unggulanku sih disana.. Hm.. dendeng aja deh.. Lagian ntar di Padang udah ada pensi balado yang dibikin Ibu dan dibawa Unjut dari kampung. Perutku udah menari kegirangan, tapi kudu sabbar… 😀

Back to Padang

Kali ini Aku naik Bus Tranex, ongkos Rp 20.000,-. Dalam perjalanan, Ibuku menghubungiku. Beliau heran, kenapa Aku masih belum sampai di Padang?? Aku menceritakan alasannya, termasuk betapa oonnya Aku bengong-bengong nyariin tukang karcis, haha… Bah, begonya lagi, Ibu dan Ayahku tau kok kalau hari ini tuh semua wisata di Bukittinggi GRATIS seharian.. Waduuuu…. Berarti memang Aku nih yang kudet (kurang update) 😀

Gong Xi Fa Cai 2566 di Klenteng

Suatu hari, saya lagi iseng liat-liat koleksi foto seorang teman, terus… “nah, lho… ini dimana nih?? Cantik banget tempatnya…” Ternyata itu di Padang juga kok, di Klenteng namanya, terletak di kawasan Pondok yang sebagian besar orang Padang menyebutnya Kampung Cina. Saya pengen banget kesana.. Secara saya termasuk pengagum budaya Cina, apalagi setelah Unjut bontot (adik saya paling kecil) melalang buana ke negara Panda itu, saya jadi excited berat… 😀

Kebetulan, Unjut bontot lagi liburan dan Ibu juga lagi disini, sekalian dah ngajakin jalan-jalan. Kita berempat sama Unjut pergi kesana sekitar jam 5-an. Gegara kendaraan cuma 1, motor, kita jadi bagi-bagi transport, Unjut bareng Unjut bontot pake motor sementara saya dan Ibu naik Bus Trans 🙂 Sampe di Imam Bonjol, kita gantian dijemput sama Unjut yang seketika beralih profesi sebagai jekri 😀 (Ssttt… Ntar saya diomelin sama suara 7 oktaf!) 😀

Akirnya, kita sampe di Kelenteng.. Saya jadi terpukau (kepo deh, haha)… Aneka lampion merah khas Cina mengular rapi di langit-langit kuil, indahnya… 🙂 Akhirnya, saya di Kelenteng…!!! Kebetulan banget nih ada nuansa Gong Xi Fa Cai 2566 🙂

Ini dia potret Klenteng di tengah perayaan Gong Xi Fa Cai 2566, cus..