Category Archives: Tradisional

ใ‚ใ„ใšใฟๆ–‡ๅŒ–็ฅญ (Aizumi Culture Festival)


Awa Odori

Awa Odori is a traditional dance from Awa land, Tokushima. When you see the dance, that is look like simple form. But, it’s truly difficult. Everyone need exercise regularly.

Di Jepang, setiap ใŠ็›†ไผ‘ใฟ (libur musim panas) selalu diadakan ็›†่ธŠใ‚Š(bon odori). Masing-masing daerah memiliki gerakan tarian masing-masing, termasuk Tokushima dengan awa odori-nya.

้˜ฟๆณข่ธŠใ‚Š(awa odori) jika dibahasaindonesiakan berarti tarian awa yang merupakan tarian tradisional dari Tokushima, salah satu perfektur di Pulau Shikoku, Jepang.

Tarian ini menjadi icon-nya Tokushima, ditarikan dengan mengenakan kimono yang khas dan dengan gerakan yang teratur, sebuah kombinasi seni dan tradisi nan indah!

้˜ฟๆณข่ธŠใ‚Š็ฅญใ‚Š (Awa Odori Event)

Buat yang berminat melihat langsung festival musim panas ala Tokushima ini bisa berkunjung ke Tokushima. Event tahunan ini diadakan setiap musim panas (natsu) pada hari libur obon, tanggal 12 s/d 15 Agustus.

Biasanya, lokasi yang digunakan adalah di sekitar kantor walikota (ๅธ‚็”บๆ‘|shichouson) dan sepanjang area tokushima station (ๅพณๅณถ้ง…|tokushima eki). Dan, ada 2 stage/panggung berbayar, dimana para pengunjung bisa duduk menyaksikan seluruh rangkaian acara dengan sedikit merogoh kocek sebesar ยฅ1.100.


Awa odori ditarikan dengan mengenakan kimono yang khas. Untuk perempuan, ada beragam tekhnik pemakaian obi (ikat pinggang) dan yang menjadi ciri khasnya adalah kasa (topi yang terbuat dari jerami dilipat dua menyerupai belahan semangka dan dipasang condong ke depan) dan genta (sandal sejenis tangkelek di Indonesia, namun bagian tapaknya dibuat 2 topangan dari kayu. Penari berjalan dengan bertopang ke bagian depan).

Untuk laki-laki, dibagian kepalanya ada 2 versi, ada yang diikat biasa dengan kain batik-nya Tokushima dan ada pula yang diikat menutupi hampir sebagian kepala, terbuka di bagian mata dan diikatkan dibawah hidung. Lalu, mengenakan celana pendek dan kaos kaki yang khas (tanpa genta).

Untuk anak-anak, biasanya lebih sering dijumpai mengenakan pakaian versi laki-laki.

Gerakan Awa Odori

Meskipun terlihat sederhana, dibalik keelokannya, awa odori butuh latihan yang luar biasa tekun.


Untuk tarian perempuan, gerakan berpusat pada kedua lengan dengan jari telunjuk yang selalu mengarah ke atas.

Caranya, berdiri dengan posisi tegak, posisi kaki bertumpu pada genta bagian depan, lutut sedikit ditekuk, badan bagian pinggang ke atas agak dicondongkan ke depan, lengan mengarah ke atas.

Saat menggerakkan lengan yang diputar adalah bagian bahu dengan rileks. Ketika kaki kanan digerakkan, maka lengan kananlah yang ditekuk. Dan, jari telunjuk selalu mengarah ke atas, sementara jari lainnya menguncup dan mengembang seperti bunga tulip.

Salah satu kaki diangkat setinggi betis dan diacungkan lembut dengan posisi mengarah ke depan.


Jika tarian untuk perempuan berfokus pada lengan, sebaliknya tarian untuk laki-laki malah bertumpu pada lutut.

Caranya, berdiri tegak, kemudian kaki ditekuk, berjalan seperti dorobo (pencuri), tangan dilambaikan (sering ditampilkan dengan menggunakan kipas khas-nya Jepang).

Jika jemari tangan pada tarian wanita menyerupai kuncup dan mekarnya bunga tulip, pada pria sebaliknya. Jari mengembang seperti letupan kembang api (menggumpal dan meletup).

Alat Musik

Alat musik yang digunakan adalah samisen, drum/gendang, seruling dan kane.

Makna Lirik Awa Odori

Lirik yang sering diteriakkan adalah “yattosa..” yang berarti ็š†ใ•ใ‚“ใ€ใŠๅ…ƒๆฐ—ใงใ™ใ‹ (hi, how are you? nice to meet you..).

Makna Awa Odori

Secara umum, dilihat dari gerakan, irama dan liriknya, tarian ini bermakna “ayo menari.. bergembira bersama-sama..”.

Namun, selain memiliki nilai seni yang tinggi, ternyata awa odori masih terhubung dengan kepercayaan orang jepang! Pada hari pertama festival, dilakukan upacara pemanggilan arwah para leluhur yang telah meninggal. Kemudian, tarian awa ditarikan sebagai penyambutan dan sebuah bentuk hiburan. Di hari terakhir perayaan, dilakukan pengantaran arwah para leluhur dengan menghanyutkan sesuatu semacam lampion di sepanjang aliran sungai.



  • ้˜ฟๆณข่ธŠใ‚Š| awa odori | awa dance | tarian awa
  • ้˜ฟๆณข่ธŠใ‚Š็ฅญใ‚Š| awa odori matsuri | awa dance event | perayaan tarian awa
  • ใŠ็›†ไผ‘ใฟ| obon yasumi | liburan musim panas
  • ็›†่ธŠใ‚Š | bon odori | summer dance | tarian musim panas
  • ๅพณๅณถ้ง…| tokushima eki | tokushima station | stasiun tokushima
  • ๅธฏ | obi | ikat pinggang
  • ็ฌ  | ใ‹ใ•| kasa | topi yang terbuat dari jerami
  • ใ’ใ‚“ใŸ | genta | sandal yang terbuat dari kayu sejenis sandal tangkelek di Indonesia


  • Beberapa informasi dishare oleh Tanaka Sensei, Atsumi Sensei dan Lisa san.
  • Featured image is taken by Fitri san.

Related Link

Teruterubozu (็…งใ‚‹็…งใ‚‹ๅŠไธป)

Bagi yang hobi nonton kartun/anime dan atau baca komik-komik jepang, pasti sangat familiar dengan boneka yang terbuat dari kertas/kain putih lalu digambari ekspresi wajah dan digantung di jendela, bukan? Tapi, sudah tau namanya, belum?!

Boneka ini namanya teruterubozu (็…งใ‚‹็…งใ‚‹ๅŠไธป), boneka tradisional penangkal hujan ala jepang. Boneka ini digunakan untuk kepentingan tertentu yang menjadi aktifitas di luar rumah, terutama di musim hujan yang sering terjadi pada peralihan 2 musim (misal: musim semi ke musim panas).

Jadi, ceritanya, orang jepang itu 2 kali dalam setahun, selalu melakukan perjalanan (้ ่ถณ) ke luar rumah, seperti jalan-jalan, melancong, piknik, dll. Biasanya di bulan May dan Oktober, atau Maret dan Oktober; tergantung keinginan masing-masing. Agar cuaca cerah, menurut kepercayaannnya, boneka ini dibuat dan digantung di jendela.



  • ็…งใ‚‹็…งใ‚‹ๅŠไธป/ใฆใ‚‹ใฆใ‚‹ๅŠไธป (ใฆใ‚‹ใฆใ‚‹ใผใ†ใš) /teruteruboozu/ = Boneka tradisional penangkal hujan ala Jepang
  • ้ ่ถณ(ใˆใ‚“ใใ) /engsoku/ = Perjalanan


  • Sebagian besar informasi dishare oleh Tanaka Sensei pada 17 Juni 2017 di Tokushima, Jepang.

Cara Membuat Bedak Beras

  • Bahan
    • Beras (Bareh) 1/2 cangkir kecil.
    • Air secangkir kecil.
    • Daun bunga sedap malam yang muda.
    • Daun bunga melati yang muda.
    • Daun kemiri (dama atau cegek, jenis dama kareh) yang kering/tua.
    • Daun nangka (cubadak) yang kering/tua.
    • Bunga ros.
    • Bunga melati.
    • Daun pandan.
  • Cara
    • Rendam beras di dalam air.
    • Air diganti sekali sehari, selama seminggu.
    • Tambahkan daun bunga sedap malam, daun bunga melati, daun kemiri dan daun nangka.
    • Tiriskan dengan kain (yang strukturnya lebih renggang, tapi bukan perban), lalu diperas.
    • Hasil tirisan diendapkan selama 2 malam.
    • Pisahkan air dengan tepung beras.
    • Bulatkan tepung, ukuran sesuai keinginan.
    • Letakkan/jemur dengan menambahkan bunga ros, bunga melati dan daun pandan; dicahaya hangat sampai kering (tidak langsung ke matahari terik).
  • Catatan
    • Air pisahan jangan dibuang, digunakan sebagai tambahan pada saat membulatkan jika tepung mengering.
    • Cara memakai bedak beras:
      • Ambil beberapa buah bedak beras, letakkan di telapak tangan atau wadah kecil.
      • Tambahkan sedikit air, aduk sampai mengental.
      • Oleskan ke wajah hingga leher, seperti menggunakan masker.
      • Diamkan beberapa saat hingga mengering.
      • Cuci muka dengan air bersih dan keringkan. Wajah akan terasa lebih segar dan lembut.
    • Menurut Nek Mariani, berdasarkan pengalaman beliau, pemakaian bedak beras bisa membuat wajah bersih, ย bebas dariย bacata (kulit menghitam, biasanya karena faktor usia atau mengonsumsi obat tertentu seperti pil KB).
Resep Nek Mariani | Piladang | Kosmetik Tradisional Palembayan | Minangkabau

Bedak Beras (Badak Bareh)

Sesuai namanya, masker tradisional ini terbuat dari bahan dasar beras yang kemudian diolah dengan rempah-rempah tertentu. Secangkir kecil Rp 3.000,-. Selain yang original, juga tersedia bedak beras (badak bareh) yang telah dicampur dengan sari bengkoang.
Buat yang belum pernah mencoba masker ini, begini caranya: Ambil beberapa buah bedak beras letakkan di telapak tangan atau di wadah kecil, tuang air secukupnya dan aduk. Oleskan ke wajah hingga merata dan diamkan beberapa saat sampai masker mengering. Setelah itu cuci muka dengan air bersih dan keringkan. Wajah akan terasa lembut dan lebih segar ๐Ÿ™‚
Nah, ada satu lagi yang tak kalah unik, lulur tradisional yang sekaligus juga bisa dijadikan masker untuk wajah. Sebungkus Rp 5.000,-. Bentuknya mirip tepung seperti bubuk merica kasar dengan aroma rempah.
Produk-produk tradisional ini dapat dibeli di tempat Nek Mani, yang berjualan bedak beras di gang bawah Pasar Loak, komplek Pasar Raya, Kota Padang.

Bacpacking To Payakumbuh

13 Desember 2014
Pai Baralek & Warung Sea Food "Pak Cik"

It’s time to going to wedding party… Yuhuuu….. ๐Ÿ˜€ Niat awalnya siy abis baralek (kenduri) ini, saya langsung balik ke Padang, eh teman saya malah nawarin buat nginap di tempatnya dulu dengan seabrek iming-iming travelling ples kuliner, saya jadi 50:50, berasa ogahan… Hm, yang namanya perjalanan jauh ga pernah bisa kita prediksi, walhasil saya nyerah, teman saya menang, saya nebeng dah tempat dia ๐Ÿ˜€ Untung aja udah prepare juga sedari humz, jadi ga repot deh mau nginap apa engga ๐Ÿ˜€ (Belajar dari pengalaman, sedia payung sebelum hujan, dari pada ntar merogoh kocek pula nak beli serba baru, mending dialokasikan buat keperluan lain, ya nggak?! ๐Ÿ˜€ ). Cus, kebetulan saya naik Bus Sarah nih yang katanya deket dari rumah teman saya itu. ๐Ÿ™‚ Ongkos Rp 25.000,- (dua puluh lima rebeng) sejak BBM naik ๐Ÿ˜€ .

  • 09.46 SGO Lubuk Buaya
  • 12.10 Terminal Aur Bukittinggi
  • 12.25 Biaro
  • 12.41 Gerbang Kabupaten Lima Puluh Kota
  • 12.48 Kota Payakumbuh
  • 12.51 Ngalau Indah
  • 13.10 Simpang Labuah Silang
  • 13.20 Akirnya sampai di rumah mertua teman saya. Ini nih mak dan anak yang kompak ๐Ÿ˜€
  • 14.15 SMK 2 Payakumbuh


  • Rumah Adat Bakewi
  • …. Payakumbuh dapet penghargaan Piagam Adipura lho, guys..
14 Desember 2014
Harau Resort & Otw Padang
  • …. Sekitar jam 9-an, kita cus ke Harau Resort, aseek…Nah, sebelum berangkat nih, saya dibekali dulu sarapan nasi goreng sama teman, kemasannya itu lho…ekonomis, mungil dan lucu…tapi jangan salah…enak lho, kenyang lagi ๐Ÿ˜€ Jadi iri nih sama si Ojik (panggilan keren ini teman), semua serba ekonomis, enak dan bikin kenyang… Pantes aja ya teman-teman yang ngampung di Payakumbuh pada rajin pulkam, wong surganya makanan dimana-mana.. ๐Ÿ˜€
  • ….Yuk, let’s go… Seberapa jauh sih ini?! Muter kemana-mana, saya pasrah mau dibawa kemana nih sama si Ojik sekeluarga.. Tapi serius dah, pemandangannya OK punya tau… Gila, kenapa baru sekarang bisa mampir jalan-jalan ke Payakumbuh ya??! Selama ini kemana aja?! Rugi nih yang di Payakumbuh kalau belum pernah ke Harau, belum lagi Warung Sea Food Pak Cik, waduuuu…. jadi keingat terruuuss….yummy…
  • 09.34 Tau nih si Ojik sekeluarga malah mampir di rumah makan??? Bukannya udah kenyang abis makan nasgor tuh tadi sebelum pergi???! Hm…??? Ternyata, itu buat bekal ntar abis mandi pasti pada kelaperan, haaa..tau aja… ๐Ÿ˜€ Lupa juga nih nanya nama rumah makannya apa, kayaknya Mis Munin itu deh.. Mana pemandangan diseberangnya keren lagi, ckck…
  • 09. 38 Yuhuuu…. Welcome to Harau Resort ๐Ÿ˜‰

Kirain udah sampe, eeeh…ternyata masih panjang perjalanan pemirsah… :3 Tapi terbayarlah sama pemandangan sekitar yang beneran T.O.P, guys.. Maap ya, ga bisa upload semua ini foto, ntar bikin semak saking banyaknya malah banyak pula yang kecantol ntar kesana, hahaa…ember..

  • Kalau ga salah (thrue), ini dinas perikanan deh…Lupa ding.. ๐Ÿ˜€
  • 09.44 Kirain…udah beneran nyampe, ternyata…ga tau inih dimana ini sebetulnya yang Harau, dari tadi udah 2x nih “Selamat Datang”nya???
  • 09.46 Subhanallah…cantiknya… ๐Ÿ™‚ Megah…Sayang banget ya wisata sebagus ini belum familiar (atau saya keles yang ga update?? xixi…ssst…)
  • 09.47 Horraaaay….gerbang ketiga…!!!! ๐Ÿ˜€

Akirnya, ini nih Harau yang sebenarnya… Waaaah…amazing… Grand Canyon_nya Payakumbuh, nih.. Luarrr biasa…. cantik bangeeeet… Suasananya juga masih asri, lho… Subhanallah….

  • Air Terjun 1 (Satu)
  • Air Terjun 2 (Dua)
  • Air Terjun 3 (Tiga)

Out Bond yg dikelola Pak Bustami ini siap menguji nyali, hayyooo..siapa yg mau ikut?! Seru abisss…cucunya Pak Bustami ini aja yg bernama Neva, 3 tahun, bolak-balik tanpa takut lho…Bener2 luar biasa. Insert Rp 50.000,-

  • Tanaman Khas Harau Resort
  • 15.39 Go to Padang naik Bus Sarah (lagi) langsung nih ke loketnya, sempat ketinggalan Bus juga, untung aja ini Bus selalu ada ๐Ÿ˜€
  • 15.49 Bye… Payakumbuh… (Gerbang akhir)
  • 15.51 Bye… Tanah Datar… (Gerbang akhir)
  • 17.30 Bakso Rudal Panyalaian, maceeeeeeeeeeet…………Tapi Alhamdulillah, akhirnya bebas juga dari macet panjang, gara2 toronton mati mendadak & penyelesaian kecelakaan kemarin (Padang Panjang: fuso rem blom, kecelakaan 4 mobil + 9 motor, 3 orang meninggal).
  • 17.48 Gooo….
  • 20.38 Padang, alhamdulillah, misi selesai… hari yang indah… ๐Ÿ™‚

Bacpacking to Curup (Part 2)

Alhamdulillah.. Akhirnya saya diberi kesempatan kedua untuk pergi ke Curup. Niat awalnya siyh, mau ngambil nomor tes CPNSD, tapi niat sampingnya yaaa travelling, hihi… Disesi sibuk ngurusin syarat wisuda, Senin (20/10/14), saya harus kejar-kejaran sama waktu, seefektif mungkin ngurusin urusan yang super penting dalam waktu 2 jam full dan setelah itu baru deh caw ke Curup, hee.. Saya harap, nanti kalau perjalanan tidak sesuai rencana, bisa mengompensasi syarat2 yang terbengkalai, syarat wisuda OK, ke Curup juga OK ๐Ÿ˜Œ.

Ini dia perjalanan saya, yuk ikut… ๐Ÿ˜

Senin (20 Oktober 2014) =Padang-Curup=

  • 08.00-11.40 WIB, Simpang Lalang – Unand Limau Manis – Simpang Lalang
  • 11.40-12.35 Sesampainya di Khatib Sulaiman, saya jadi paranoid takut ditinggal Bus SAN, coz udah ga kelihatan (OMG… janjinya jam 12 udah stay di Khatib, 1 jam sebelum berangkat sudah ditempat; pesan si agen ๐Ÿ˜ฌ). Untungnya saya dikasi nomor yang bisa dihubungi, so…?! Ternyata, tempatnya bukan di depan Mesjid Raya Sumbar, tapi diantara STIKESi dan Rumah Makan Ajo Paris. Syukurlah.. Belum berangkat! Usut punya usut, saya ragu nih, “ntar mampir nggak sih buat makan siang diperjalanan??? Habiiis, udah ga sempat gegara dikejar waktu…” Saya tanya deh sama agen yang disana, dia bilang makan aja dulu, tapi saya takut ditinggal Bus, belum lagi yang nongkrong disitu tinggal bapak-bapak semua.. ๐Ÿ˜ฌ Waduuuuwh, saya jadi ga sreg juga.. (Kemaren sempat dipelototin makan sendirian di rumah makan samping Po. Bus SAN yang di Lolong, hee.. Katanya, mereka heran aja kok saya makan sendirian trus nanya saya mau kemana, padahal cuma pesan tiket doang & makan disana karena ga sempat sarapan, he.. Aneh bin ajaibnya, saya malah dikira orang Bengkulu?! WeOwWee!!). Walhasil, saya bungkus itu nasi ramas ๐Ÿ˜ OK deh, perut aman sampe malam… ๐Ÿ˜Œ
  • 13.00 Let’s gooooo……!!!
  • …. (Alhamdulillah.. Saya satu bangku sama yang namanya Nike, dia orang Pagar Alam yang tes di Padang. Trus sembari menikmati udara yang brrrrrr sejuk nian, saya tidak bisa menahan keinginan untuk… makaaaan…!!!! ๐Ÿคฃ Si Nike udah ditawari, tapi menolak coz udah makan siang katanya. Yo wez, tapi ga habis tuh itu porsi.. Wong ga hidup AC aja, cuaca udah dingin, itu nasi yang tadinya hangat juga ikutan mendingin.. Sepanjang Sitinjau Lauik saya makan, kenyang, foto-foto, cerita-cerita sama Nike. Eh, tiba-tiba ada si Bule yang ikutan nimbrung ngomentarin foto-foto kami ๐Ÿ˜†). Dia dengan bangganya pamerin koleksi fotonya, dia bilang itu foto anaknya, lucu!!Pasti si Bule sayang banget sama anaknya.. ๐Ÿ˜Œ
  • 17.15 Sawahlunto
  • 18.00 Dharmasraya (Rumah Makan Umega Gunung Medan)
  • 18.45 Berangkat….
  • 20.25 Kota Lintas, Muaro Bungo
  • 20.33 Pasar Muaro Bungo
  • ……….

Selasa (21 Oktober 2014) =Perubahan Rencana=

  • 01.00 Linggau.. Kota yg cantik… Sepanjang malam, sepanjang jalan, berkilauan lampu warna-warni, indahnya… ๐Ÿคฉ ๐Ÿ‘‰Lihat sendiri deh kalau ngga percaya! ๐Ÿ˜
  • 01.30 Rumah Makan di Linggau, istirahat.. [saya & Nike pesan teh panas 2 bungkus, eh beneran panas….!!! Tapi dapat kortingan seribu, jadi tinggal bayar 5 ribu rupiah deh, hihi (watak anak kos). Disini juga kesempatan saya nanya sama sopirnya, apa nanti bakal berhenti di Pull Bus SAN yang di Curupkah?! Coz dari cerita Nike, kemarin dianya cuma singgah lalu gitu aja di Curup. What happened aye naon lah nasib saya ntar (mulai kasak-kusuk.. Abiiis… Boro-boro saudara, kenalan aja ga punya atuh disana, nekad aja mau ngotot diturunin di tepi jalan yang ada penginapannya). Sang sopir & seorang bapak-bapak menyarankan untuk lanjut ke Bengkulu, setiba di Bengkulu baru naik Bus atau travel lagi ke Curup; atau alternatif lainnya dititipin di Pos Polisi Curup yang buka 24 jam. Hm, keputusan yg sulit.. Akhirnya saya ikut masukan terbanyak, yeah “Bengkulu… I’m coming….“].
  • 02.30 SDN 5 Selupu Rejang
  • 02.00 Curup (Ciyus… emang sepi bangeettt…. sumpah… ๐Ÿ˜ง Tiba-tiba salah seorang karyawan Bus SAN menghampiri saya, memastikan keputusan saya, tetap turun di Curup ntar dibantuin nyari penginapan yang murah atau lanjut ke Bengkulu jam 10-an ada Bus yang rute ke Curup; OK deal, saya fix “Bengkulu is my choice”. Saya rasa itu keputusan yang aman, karena di Bengkulu Nike punya mama angkat).
  • 02.53 Pasar Bang Mego Curup (Saya bernostalgila, pernah kesini sekali ๐Ÿ™ƒ)
  • 02.55 Mesjid Darussalam Curup
  • ……. Nyampe rumah Dien (anak dari mama angkat Nike) pas udah mau Subuh. Saya bersyukur, tak pernah menduga bakal ketemu orang-orang baru seperti mereka, Nike, Dien, Ayah, Mama, adik-adiknya Dien; baiiik banget, entahlah semua sudah Engkau atur sedemikian rupa ya Allah“, Alhamdulillah.. ๐Ÿ˜‡).
  • 11.00 Abis istirahat & sarapan, berangkat dari shelter dianter Nike pake motor yang dipinjam dari Loket Merlin (Po. tempat mobil ke Pagar Alam, Nike bilang sudah kenal baik sama yang punya loket tersebut ๐Ÿ™‚ Naik Bus SAN lagi, yuhuuu…. Mudah-mudahan terkejar sampe Curup sebelum jam 3 sore, biar bisa istirahat dan jalan-jalan menikmati kota Curup, coz mau balik ke Padang ga bakal sempat, keburu ditinggal Bus (Bus dari Curup ke Padang itu berangkat sekitar pukul 3 sore dari Terminal Simpang Nangko).


  • Kali ini saya excited bangettt, weew.. kalau biasanya susah minta ampun nyater tempat di depan, eh ini tanpa saya minta malah dapet bangku paling depan?! WOW, amazing dah pokoknya… Tak henti saya ucap syukur (ah lebay ah, hee ๐Ÿคฃ).
  • 12.00 Berhenti dalam perjalanan (saya ga tau nama daerahnya), penyebabnya mesin bus panas, jadi berhenti dulu.
  • 13.43 Bus ganti sampai, ada tekhnisinya juga. Kita semua pindah ke bus yang satu lagi.
  • 14.00 OK, let’s gooo...
  • 14.15 Desa Karang Putih
  • 14.18 SMPN 17, MTsN Taba Penanjung
  • 15.00 Kantor Camat Merigi, Kab. Kepahiang
  • 15.13 SMPN 4 Kepahiang
  • 15.38 SDN 06 Ujan Mas
  • …….. Waduh, saya lupa jam berapa nyampe Curup. Saya diturunin di simpang (saya lupa namanya) oleh Bapak Sopir, sebelum turun si Bapak sempat teriakin saya buat bayar angkot ke BKD Curup itu 3 ribu rupiah, hahaa.. Asli deh, perjalanan panjang yang menyenangkan… Yang saya temui orang-orang baik semua!!
  • ……. Sebenarnya, sebelum ke Curup, saya sudah antisipasi, searching-searching penginapan di Curup, cuma 2 nama yang nempel di kepala saya, Hotel Bukit Kaba di Jl. Sukowati (Nah, ini nih dekat sama BKD Rejang Lebong) & Vila Hijau (gatau tempatnya dimana, tapi katanya disana pemandangannya OK punya), setelah mewawancarai beberapa orang, mereka bilang Hotel Bukit Kaba memang dekat dengan BKD, tapi kalau Villa Hijau jauh banget.. Hm, yo wez, Hotel Bukit Kaba jawabannya.

Hotel Bukit Kaba

  • …….. Nyampe hotel, saya malah terperangah ngelihat sewanya, katanya di blog yang saya searching itu, terpaksa menginap di hotel sebelah Villa Hijau di awal tahun dengan Rp 150.000,- dan harga ini lebih mahal 30 ribu dari Villa Hijau. Saya pikir di hari biasa harganya jauh beda dengan awal tahun, ternyata?! (Huaa….. kocekku… ๐Ÿ˜“). Tapi ga seberle itu keles, yang ekonomi sewanya Rp 100.000,- tapi kamar mandinya di luar; yang Kelas Utama Rp 155.000,- kamar mandi di dalam, tempat tidur 2, ada lemari pakaian, perlengkapan mandi, meja hias, meja kecil dan minuman kemasan gelas; Yang VIP, lebihnya ada TV. Di belakang kamar VIP itu tamannya bagus, saya udah niatan tuh buat exis-exisan disana, hihih.. Menimbang & mengingat, saya pilih Kelas Utama. Yah, seharian diperjalanan emang beneran capek.
  • ……. Sepertinya receptionist-nya repot deh ngeladenin badai pertanyaan dari saya, mulai dari fasilitas yang saya dapat, disediain atau enggaknya makan malam, tempat makan, tempat shalat, pasar dan oleh-oleh khas sini.
  • …… Sebelum keluar, di ruangan tamu tampak 2 orang berpakaian tentara lagi ngobrol-ngobrol, mungkin mereka yang ngejaga ini hotel (pikir saya, karena penginapan tersebut milik pemerintahan, lho.. So, saya merasa aman banget, hee..). Ga lupa saya sapa mereka sebelum mampir pamit ke receptionist.
  • 18… Saya dapat kesempatan shalat Magrib di Masjid Agung Baitul Makmur Curup Kab. Rejang Lebong. Karena sebelumnya saya ga shalat, saya ga bawa mukena, jadi pake mukena yang ada disana aja. Hm, ademm… suasananya damai… Seakan rasa penat saya ludes seketika (lebay).
  • ……. Berhubung hotel ga nyediain makan malam, saya diminta jalan terus ke Bundaran, kata receptionist-nya banyak makanan tuh disana, tapi saya ga percaya, kayaknya sepi-sepi aja?! Tapi bodo amatlah, dari pada kelaperan ntar malam, hayyooo… Abis shalat, saya melewatkan Hotel Bukit Kaba dan terus jalan hingga bundaran, sepanjang jalan banyak ojek yang menawarkan jasa. Tapi saya menolak, pingin tau dimana, sejauh apa & apa aja yang ada disana. Bener aja, sampai di bundaran, saya lihat kiri-kanan, sepiii.. Seperti orang ga punya arah, saya hajar aja belok kiri, eh.. ramee… Saking rame yang jualan, saya malah bingung mau makan apa & dimana…??? Saya cari rumah makan padang aja deh, takutnya ntar belum terbiasa. Tanpa pikir panjang, saya mampir di sebuah rumah makan padang. Udah manis-manis duduk nunggu tawaran, eh ternyata disuruh ngambil sendiri?! Beuuuh… ๐Ÿ˜‚ Cerita punya cerita, siempunya juga “urang awak” (istilah untuk orang Padang yg ada di Curup) dari Pariaman yang udah belasan tahun menetap disana. Terus, saya juga ketemu bapak kiai yang lagi beli lauk disana; saya balik kaget ketika ngelihat ekspresi excited mereka tentang kedatangan saya ke Curup, hm… bagi mereka perjalanan saya kesana sesuatu yang luar biasa, kemudian bapak kiai mengatakan bahwa Aula Islamic Centre tempat saya ngambil nomor itu letaknya di samping Masjid Agung (waduuuuh, saya ga perhatiin ih, ternyata dekat ya?!), trus kalau ada apa-apa, saya bisa mampir ke tempat beliau di belakang Masjid tersebut.
  • ……. Dekat rumah makan itu ada yang jualan pisang karamel & oleh-oleh lainnya. Ketika ditanya oleh-oleh khas Curup, siibu bilang cuma itu yang ada (Waaaa…. semua itu bisa ditemukan di Padang..). Tapi, ngomong-ngomong pisang sale, ada kemasan basahnya, tapi mahal bok, Rp 25.000,-/bungkus, bisa kere ini kalau saya beli banyak… Lagian ntar saya beli yang aneh-aneh, pada ga diabisin lagi?!, huft… (hee.. ga ikhlas banget nih). Oh ya, pisang karamelnya enak, lho!!
  • …… Nyampe Hotel, abang yang pake baju tentara tadi udah ganti kostum. Trus receptionist-nya udah ada 2 orang, mungkin yang satu lagi temannya atau yang ganti jaga malam. SKSD aja deh saya nimbrung nonton disana. Cerita punya cerita, ternyata siabang yang saya kira penjaga penginapan itu, kelahiran tahun 79!!! beliau dinas keluar kota dari Palembang dan yang tadi ngobrol sama beliau itu bawahannya..??! Gubrak dah!!!! Malu banget nih.. walhasil saya minta maaf dan memanggil beliau Bapak.
  • …… Adzan Isya berkumandang, saya permisi shalat. Ga mau ambil resiko keluar malam-malam gitu (sekalipun Masjidnya dekat, tapi jalanannya sepi), saya memutuskan untuk shalat di mushalla hotel aja (masih di dalam ruangan hotel, dekat ruang tamu). Hm, mushallanya bersih… ada perlengkapan shalat lengkap dengan Al-Qur’annya.
  • ……. Abis itu saya langsung istirahat, capeek…. fiuh..
Rabu (22 Oktober 2014)
Hari Penuh Rintangan
  • 04.50 Saya terbangun dengan sangat kaget, saya lihat jam & perhatiin sekitar (paranoidnya kambuh ๐Ÿ˜ฑ), terdengar suara mengaji (mungkin dari Masjid Agung), saya pikir tunggu adzan aja.
  • 05.00 Saya beneran kaget, tiba-tiba ada yang menggedor pintu kamar saya. Saya lihat jam, masih Subuh, ga mungkin orang hotel udah nganterin sarapan jam segini, mulai kepikiran macam-macam, tapi saya mencoba tenang “mungkin itu cara mereka ngebangunin shalat”, hm.. baiknya.. Abis wudlu saya keluar kamar menuju mushalla, tiba-tiba muncul suara “shalat… shalat…”, saya kaget 1/2 mati, ternyata si Bapak.. Beliaulah yang menggedor-gedor kamar saya tadi buat ngingatin waktu shalat, waduuu… nyaris aja jantung saya copot ๐Ÿคฃ Selesai shalat, saya kembali ke kamar dan siap-siap balik lelap sejenak.
  • 07.00 Saya mulai siap-siap, tiba-tiba dikagetkan oleh sesuatu. Kalau saya keluar jam segini, takutnya ntar ga sempat sarapan?! tapi apa boleh buat, urgent.. Yah, ternyata.. Tau aja si receptionist, tiba-tiba menggedor pintu kamar saya dan…. hm, yummy…. lontong dan secangkir teh manis hangat sampai. Dengan sigap saya makan dan langsung pergi.
  • ……. Lagi ngisi pulsa di foto copy samping Aula Islamic Centre, weeEeee.. urang awak lagi!! Iseng-iseng ngeluh ga bisa foto di rumah adat diseberang, eeeh… kata si uda siapa bilang ga boleh, minta ijin aja sama yang jaga.. Dengan ekspresi tak percaya (mempersiapkan diri untuk ditolak), iseng-iseng berhadiah, saya minta ijin ke pos jaga. Eh, beneran boleh!!๐Ÿคฉ gamblang aja kok penjaganya bilang “silahkan”, waaah… Udah dapet ijin, rugi aja rasanya foto doang, tapi ga ada orangnya di dalam. Minta tolong abang yang lagi bersih-bersih disana ahh.. tapi dia malah menolak, karena sedang bekerja (profesional, I like it), trus dia bilang minta tolong aja sama abang (pamong) yang jaga itu, kebetulan lagi jalan disekitar sana, saya mah ga enakan atuuuh.. tapi abang yang bersih-bersih bilang ga papa, ya sudah.. saya minta tolong, suwer deh ramah bener. Dengan cuek, EGePe, saya mulai pasang gaya sok imut di tepi kolam, depan rumah adat, depan rumah bupati rejang lebong (saya lupa ih, entah rumah.. entah kantor…pokoknya ada tulisan Pat Petulai-nya). Kata si abang, Pat = Empat, Petulai = Guru, jadi Pat Petulai itu artinya 4 Guru.. (Hayyooo… pasti ga ada yang tau kan?!). Makasih banget buat si abang, fotonya bagus-bagus, padahal ternyata abang itu habis dinas malam, lho.. (huft, bikin repot aje ๐Ÿ˜ฌ).

Bukit Kaba dan sekitarnya

  • ……. 2 jam yang cukup rumit, teman saya sesama dari Padang masih belum bisa dihubungi. Rencana minta bantuan pos jaga itu aja ntar, atau… sama si bapak atau receptionist, ga taulah, binguuung… Ternyata, alhamdulillah ga lama setelah saya selesai mengambil nomor, akhirnya dia sampai.
  • …….. Saya kembali ke hotel dan rehat sejenak menjelang jam 11 ntar.
  • 11.00 Saya pergi ke STAIN Curup dengan ojek Rp 5.000,-, inspeksi tempat ujian. Eh, diseberangnya ada bakso bakar!! Mau nyobain ahhh… Tapi.. baru aja nongol disana, semua mata langsung tertuju pada saya, waduuuuh.. jadi keki.. Tapi… mau nyobain bakso itu.. Ah, bodolah, dengan gaya sok cuek saya langsung duduk di tempat kuliner yang bikin saya penasaran ini. Saya asal pesan, dan.. hasilnya.. Makan 4 tusuk, kennyaaaang nianโ€ฆ tapi….. pedas buangeeeeetโ€ฆ!!! Saya sampai hampir nangis bombay nahan ini tenggorokan udah kayak dibakar aja ๐Ÿ˜ฐ Saya beraniin nanya, “kok pedas ya pak?”. Ternyata, harusnya, saya by request dulu tadi saat mesen, mau sedang atau pedas, oalaaaah…. Tapi walaupun dan bagaimanapun, saya tetap jaim alias jaga image dooong… Udah deh, saya telen aja itu tenggorokan yang rasa terbakar ๐Ÿคข Sebenernya baksonya wenak dan harganya juga ekonomis, lhoโ€ฆ ๐Ÿ˜‹ Tapi ingat, buat yang ga biasa pedes, by request dulu gih sama bapaknya ๐Ÿ˜‚
  • 12.00 Saya naik ojek dari pasar & langsung ke Masjid Agung. Lalu balik ke hotel buat check out. Herannya, ternyata saya penghuni terakhir, lho.. Yang lain udah balik duluan sewaktu saya siap-siap tadi pagi; si Bapak dan juga keluarga yang nyewa di sebelah kamar saya. Waduuu, ga tau aja ya, ternyata memang seperti itu kata receptionist-nya, orang yang nginap disana memang sebentar-sebentar, berarti saya dong yang paling lama, weew…๐Ÿ˜…
  • 13.00 Saya mau cari makanlah… Kebetulan, yang ngojek orang Pariaman, urang awak juo, dianterlah saya ke sebuah rumah makan padang nasi kapau, WOW, lalu saya dikenakan ongkos Rp 4.000,- (Seribu lebih murah, hee..”makasih, da..”). Makan disana saya kena Rp 20.000,- dengan porsi super buat saya ๐Ÿ˜‹. Setelah makan, saya nongkrong lama disana, abiiis.. ga ada tempat yang mau dituju… Kalaupun ada, garing nih.. Ntar malah mutar-mutar ga jelas ditinggal Bus lagi, hm… setelah saya pikir-pikir, muter-muter di pasar aja deh bentar. Wong kata si ayuk empunya rumah makan, pasar deket dari situ. Saya jalan aja, sekalian nyari apotek yang jual plester, udah melepuh tuh kaki belakang kena sepatu (Jangan ngiri ya, saya pake sepatu baru, lho.. hahaa, sengaja beli yang plastik biar aman selama perjalanan, tapi ini nih efeknya.. ๐Ÿ˜ฌ)
  • …….. Ternyata, tempat saya makan itu ga jauh dari Pasar Bang Mego, halllaa….. ternyata sama dengan Bukittinggi, muter-muter disitu aja kok, ga lama saya juga sampe lagi di Bundaran ๐Ÿ˜Œ. Langsung deh ngojek ke Terminal Simpang Nangko, kebetulan teman saya udah disana duluan.
  • ……… Ngobrol-ngobrol di Po. Bus SAN, beeeh… urang awak galo… ๐Ÿ˜ Agennya urang awak, penumpang juga sebagian besar urang awak.. Memang MERANTAU itu khasnya Padang, mungkin daerah lain juga.. ๐Ÿ™‚ Topik utama obrolan waktu itu adalah makanan khas Curup. Dari beberapa orang yang saya wawancarai, semua sepakat bilang kalau di Curup tidak memiliki makanan khas apalagi untuk oleh-oleh, biasanya yang dijadiin oleh-oleh itu seperti pempek (salah satunya). Salah seorang penumpang, kak Nur, urang awak yang tinggal di Curup dan bekerja sebagai perawat di Payakumbuh, mengatakan ada khas Curup yaitu Lema, sejenis sayuran rebung yang dicincang-cincang dan didiamkan selama 4 hari, kemudian baru dimasak, seperti digulai.
  • ………. Satu hal yang saya kagumi, perbedaan itu indah.. Beda suku, beda budaya, tapi kita tertawa bersama..Selanjutnya, perjalanan saya setelah inipun penuh tantangan, rintangan dan tentunya hikmah.. ๐Ÿ˜‡
  • 16.30 Naik Bus SAN, saya & teman saya duduk di bangku nomor 21 & 22. Kali ini mobilnya sama dengan yang saya naiki kemaren, pintunya depan dan belakang (mobil besar), beda dengan mobil yang pertama kali kami naiki sewaktu dari Curup ke Padang sebelumnya (pintunya tengah dan depan, mobil kecil). Banyak lagi deh jenis mobilnya, yang ke Padang itu ekslusif, pakai AC; ada lagi yang ke Bukittinggi itu ekonomi, Bang Budi (agen yang di Curup) bilang, ada AJ /aje/ alias AC Jendela, hahaa… ada-ada aja..

Good bye Curup... sampai jumpa lagi.. ๐Ÿ™‚

  • 17.10 Ban belakang sebelah kiri bocor dua-duanya di Kapalo Curup. Memang sih, saya sempat mendengar dan kami semua dikagetkan dengan bunyi letupan yang berasal dari belakang bawah Bus sebelum pemukiman penduduk, tapi Bus-nya tetap saja jalan hingga pemukiman. Malangnya, ban serap ga ada!!! Saya sempat waspada juga, karenaย nguping dari penumpang lain, daerah tersebut “daerah rawan”..
  • 18.15 Masang ban kedua, kabarnya dapat dari Bus SAN yang baru saja lewat
  • 18.30 Karyawan pergi menambal ban yang 1 lagi
  • 19.39 Still waiting, OMG..
  • 20.25 Ban depan dibuka, kabarnya dichange ke belakang
  • 22.23 Ban datang dan langsung dipasang…
  • 22.45 Goooo…..!!!
  • 23.00 Breaking news, ada mobil pribadi (sepertinya travel) rebah di sebelah kanan jalan, dekat tempat ban kami meletus tadi, di Kapalo Curup. Anehnya, Bus cuma berhenti sebentar melihat keadaan dan segera berlalu?! Tidak ada satupun penumpang yang berinisiatif turun untuk membantu.. Hm, setelah mendengar berbagai opini dari para penumpang, barulah saya paham, ternyata yang rawan tadi itu kemungkinan besar alasannya. Kebetulan, saya memiliki kontak person yang berhubungan dengan media lokal setempat yang saya dapatkan ketika mencari informasi tentang BKD Rejang Lebong diinternet; saya coba mengabari via SMS (takutnya tidak sopan menelpon malam-malam begini, apalagi konteks-nya saya termasuk orang asing), berharap beliau segera mengirimkan bala bantuan, takutnya memang murni kecelakaan dan butuh pertolongan segera. Fiuh, ga dibalas… Saya pasrah, dalam hati saya berharap apapun yang terjadi, semua pasti akan baik-baik saja ๐Ÿ˜” Amiin.. Tapi setelah saya perhatikan, kelihatannya tadi penumpang mobil itu cukup aman, tidak mengalami luka-luka yang serius, karena beberapa penumpang yang udah keluar tampak membantu mereka yang masih di dalam, tidak terlihat raut panik ataupun kesan emergensi, syukurlah..
  • 23.15 Good bye Rejang Lebong… ๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ญ๐Ÿคง
  • 23.25 Po. Bus SAN di Lubuk Linggau
  • 23.35 Rumah Makan Pagi-Sore, yuhuuuu… lapeeeer….. eits, shalat dulu, ada mushalla kecil di lantai 2.. makan kali ini Rp 20.000,-. Coba aja nyampenya magrib, waaah.. pemandangan di belakangnya itu lho… amazing.. ada sungai jernih mengalir, ada outbond-nya juga… belum lagi design rumah makannya yang luxury..
Kamis (23 Oktober 2014)
= Rintangan & Hikmah =
  • 00.18 Selesai istirahat di Rumah Makan Pagi-Sore, buru-buru nih..
  • 00.40 Pecah ban lagi sehabis di Lubuk Linggau.
  • Sekitar jam 5-an.. SMS saya dibalas!!! beliau menanyakan saya siapa dan saya menjelaskan dengan ringkas sikon yang terjadi di TKP semalam. Hm, saya merasa lega.. Paling engga jika terjadi apa-apa, akan lebih cepat ditindaklanjuti ๐Ÿค“
  • 05.30 Numpang shalat di rumah warga, di depan pengelolaan karet, daerah Rawas
  • 07.50 Makan miegor alias mie goreng (sarapan satu-satunya yang jadi vavorit penumpang kali ini, xixi..), ada juga yang campur pake nasi putih makannya, ada yang pesan pop mie, teh hangat, de el el.. pokoke yang instan-instan deh.. Lumayan ngeganjal perut ๐Ÿ˜ฌ
  • 08.05 Naik mobil, menunggu pasang ban yang terakhir.
  • 08.13 Bismillah.. OK, let’s gooo.
  • 10.07 Terminal Sorolangun
  • 10.33 Berhenti lagi…. ada razia.. ๐Ÿ˜ž Huft, perut udah laper lagi nih… ๐Ÿ˜ซ
  • 10.46 Gooo….!!!
  • 10.49 Gerbang Bangko
  • 11.15 LLAJ Merangin
  • 11.30 Pasar Baru Bangko
  • 11.40 Dusun Lubuk Bungu Desa Se Ulak
  • 12.12 Rumah Makan Rantau Batuah
  • 12.36 Pertamina Bangko
  • 12.39 Asrama Perwira Polres Bungo “Sei Mengkuang”. Jalan dialihkan ke simpang sebelah kanan karena ada perbaikan jalan. Semua pada 50:50 karena ga ada yang beneran paham jalan yang mau dialihkan. Tapi tujuan tetap Padang… ๐Ÿ˜…
  • 12.55 Muaro Bungo
  • 13.01 Terminal Kota Lintas Muaro Bungo
  • 14.04 Gerbang Sumatera Barat (akhirnya… ๐Ÿ˜‡)
  • 14.07 Sungai Rumbai
  • 17.20 Dinas Kehutanan Sijunjung
  • 18.35 Terminal Bareh Solok
  • 18.40 Rumah Makan Simpang Rumbio
  • 21.55 Alhamdulillah.. Sampai juga di Po. Bus SAN Lolong.
  • 22.30 Simpang Lalang… Tepar tanpa kompromi, tapi bener-bener luar biasa… ๐Ÿ˜‡
Thanks berat buat Bang Rusman (orang asli Curup yang bekerja di Padang) yang udah bersedia jadi guide saya via mobile, hee.. Informasi yang diberikan sangat membantu saya selama menelusuri Curup secara instan ๐Ÿ˜‡๐Ÿ™
Special thanks juga buat Nike, Dien sekeluarga, abang pamong (yang ternyata bernama Febry; kita ketemu lagi di medsos alias media sosial) dan juga Po. Bus SAN tentunya ๐Ÿ˜‡๐Ÿ™
Semoga perjalanan selanjutnya ga kalah luar biasa dari ini dan semoga masih ada kesempatan lagi buat ke Curup, amiin.. ๐Ÿ˜‡๐Ÿ™