Category Archives: Specific

“RAHMAT” INTERNATIONAL WILDLIFE MUSEUM & GALLERY

Disini terdapat 5.000 koleksi binatang, mulai dari binatang langka hingga yang kita temukan sehari-hari; ada harimau putih, kucing emas, hingga nyamuk! Tidak hanya itu, di tempat ini juga tersimpan aneka penghargaan, foto-foto, dan aneka koleksi lainnya dari seorang Rahmat Shah (pemilik museum & gallery ini, juga orang tua laki-laki dari artist cantik Raline Shah).
Insert masuk untuk dewasa Rp 32.000,-. Ini sudah termasuk Night Safari Pass, gambaran hutan di malam hari lengkap dengan efek suara; kita bakal masuk ke sebuah ruangan yang dibuat menyerupai goa, di awal masuk ada suara-suara binatang buas menggaung ke seluruh ruangan, di dalamnya terdapat banyak satwa. Museum & Gallery ini buka pada hari Selasa s/d Minggu, pukul 09.00-17.00 WIB.

Nah, lho… Ini hanya sebagian kecil dari koleksi yang ada disini. Tidak hanya sekedar tempat rekreasi, menurut saya, disini juga ladang ilmu.. Ini semakin meyakinkan ketika Dewi (yang ngajakin saya kesini) mengatakan bahwa rata-rata pengunjung tempat ini adalah anak sekolahan 🙂

Advertisements

Museum Adityawarman & Taman Melati

Museum Adityawarman

Museum ini terletak satu kawasan dengan Taman Melati. Disini mempublikasikan berbagai hal tentang budaya Minangkabau, seperti: jenis-jenis rumah gadang macam-macam perhiasan Minangkabau, alat pertukangan, hewan yang diawetkan, dll.

Berbeda dengan museum lainnya, museum ini buka pada hari Selasa s/d Minggu, Senin TUTUP. Pada hari Selasa s/d Sabtu buka dari pukul 08.00-16.00 WIB. Khusus hari Minggu, buka dari jam 08.00-18.00 WIB. Tiket masuk untuk Dewasa Rp 2.000,- dan Anak-anak Rp 1.000,-.

Untuk ke lokasi ini bisa melalui beberapa pintu masuk. Ada 3 pintu masuk yaitu di seberang Taman Budaya, di seberang Bank Mandiri dan di seberang SMA Don Bosco Padang. Namun, untuk saat ini lokasi pintu yang terakhir sepertinya ditutup karena ada renovasi Monumen Gempa.

Taman Melati

Sementara, di Taman Melati, yang menjadi bagian halaman dari museum ini, terdapat arena bermain anak-anak dan tempat bersantai. Selain itu, disini juga terdapat Monumen Gempa 30 September 2009 dan pesawat terbang yang mirip dengan yang di Museum Perjuangan “Tri Daya Eka Dharma” Bukittinggi. Dari hasil wawancara, security menginfokan bahwa pesawat itu adalah pesawat yang sebelumnya berada di Solok yang dipindahkan ke Padang pada tahun 1977.

Tugu Proklamasi

Referensi

Informasi yang saya posting disini didapat dari Museum Adityawarman dan telah mendapat izin dari penjaga (ruang rumah gadang) pada 28 Juli 2015. Beberapa informasi lainnya didapat dari hasil wawancara dengan security yang dinas jaga pada 27 Juli 2015 dan hasil wawancara dengan seorang pekerja renovasi Monumen Gempa 30 September 2015. Informasi lebih lanjut, kunjungi Welcome To Museum Adityawarman (website resmi).

Museum Gempa & Bencana (Earthquake & Disaster Museum) Kota Padang

Museum Gempa & Bencana Kota Padang

Museum ini terletak di Gedung LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) lantai 2, tepatnya di Jl. Diponegoro No. 4 (Gedung Abdullah Kamil). Berada diantara simpang Plaza Andalas (PA) menuju Pasar Raya dan Kantor Pengadilan yang di dekat Taman Melati.
Berbeda dengan museum lainnya, museum yang satu ini tampak sepi pengunjung, padahal masuknya GRATIS, lho.. Selain itu, pemandunya juga ramah dan loyal dengan berbagai informasi seputar museum tersebut. Jika Anda mau berkunjung kesini, museum ini buka dari hari Senin s/d Sabtu (hari Minggu TUTUP).
Nah, di dalam museum ini tertata apik foto-foto kejadian gempa (terutama Gempa besar pada 30 September 2009) dan bencana alam lainnya (seperti Banjir Bandang di Limau Manis) yang pernah terjadi di Kota Padang. Beberapa juga memuat foto lainnya seperti daerah Pariaman (Kuburan massal akibat Gempa 30 September 2009).
Setelah kita selesai mengitari museum yang lebih mirip gallery foto tersebut, kita diminta pemandu untuk mengisi buku tamu yang telah disediakan.

Monumen Gempa 30 September 2009

Monumen ini terletak di Taman Melati, tidak jauh dari Museum Gempa & Bencana Kota Padang, dekat jalan menuju SMA Don Bosco Padang.

Lainnya

Tadinya saya berpikir “Museum Gempa?! Apa ya yang bisa kita lihat disana?”. Ternyata foto-foto itulah jawabannya. Saya seolah berziarah ke masa lampau, karena pernah menjadi bagian cerita dari bencana-bencana tersebut, mungkin demikian juga dengan Anda (warga Padang).

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini didapat dari hasil wawancara dengan pemandu Museum Gempa & Bencana (Earthquake & Disaster Museum) Kota Padang. Begitu juga dengan hal-hal terkait lainnya, seperti mempublikasikan foto, telah mendapatkan izin dari pemandu.

Makam Belanda (Dutch Graveyard)

Komplek pemakaman tua ini telah ada jauh sebelum Kebun Raya Bogor didirikan tahun 1817 oleh C.G.C Reinwardt. Bentuk nisan, ornamen dan tulisannya sangat menarik untuk Anda amati.

Disini terdapat 42 makam, 38 diantaranya mempunyai identitas, sedangkan sisanya tak dikenal. Kebanyakan yang dimakamkan disini adalah keluarga dekat gubernur jenderal yang menjabat tahun 1836-1840. Juga makam Mr. Ary Prins, seorang ahli hukum yang pernah dua kali menjadi pejabat sementara gubernur jenderal Hindia Belanda.

Ada pula dua orang ahli biologi yang meninggal tahun 1820-an dalam usia muda dan dikuburkan dalam satu makam. Mereka adalah Heinrich Kuhl dan J.V. Van Hasselt, anggota ‘The Betherlands Commission for Natural Sciences” yang dikirim ke Indonesia untuk bekerja di Kebun Raya Bogor.

Makam tertua di komplek pemakaman ini adalah makam seorang administrator toko obat berkebangsaan Belanda yang bernama Cornelis Potmans, wafat 2 Mei 1784. Sedangkan yang paling baru adalah makam Prof. Dr. A.J.G.H Kostermans yang meninggal tahun 1994. Ia adalah seorang ahli botani terkenal dari Belanda yang menjadi warga negara Indonesia sejak tahun 1958. Kostermans dimakamkan dekat lingkungan tumbuhan yang ia cintai sesuai keinginannya, selain sebagai penghargaan pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya untuk ilmu pengetahuan. Hingga akhir hayatnya, ia bekerja di kantor Herbarium Bogoriense yang terletak di seberang Kebun Raya Bogor.

Dutch Graveyard

This old cemetery was here long before the garden was established by C.G.C Reinwardt in 1817. The gravestones, their ornaments and scripts are quite artistic. There are 42 gravers, in the area; 38 of which supplied the identities of the dead persons. Most of them were relatives of the Dutch colonial governor generals at the time. Among these are the graves of D.J de Eerens a governor general during 1836-1840 and Mr. Apy Prins a lawyer who were twicw the acting governor general.

Here are where two young biologist were in one grave: HeinrichKuhl and J.C. Van Hasselt. They were members of the Netherlands Commission for Natural Sciences who worked t the garden and claimed as the first to climb and reach the peak of Mt. Pangrango in West Java.

The oldest grave in this area is the grave of a Dutch chemist administrator, Cornelis Potmans, …..

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Kebun Raya Bogor, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Ukiran Minangkabau

Ukiran merupakan salah satu bentuk karya seni yang banyak ditemui di Minangkabau terutama terlihat pada rumah gadang. Ukiran tersebut sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Motif ukiran Minangkabau pada umumnya bersumber kepadafalsafah Alam Takambang Jadi Guru. Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistik, tetapi telah digayakan sedemikian rupa sehingga menjadi motif yang dekoratif. Nama motif ukiran tersebut seperti: pucuak rabuang, kaluak paku, itiak pulang patang, bada mudiak, saik galamai, saluak laka, dsb.

Penerapan ukiran ini selain pada rumah gadang, juga menghiasi berbagai peralatan lainnya yang terbuat dari kayu, bambu dan logam. Berbagai benda yang dihiasi dengan ukiran dapat dilihat dalam vitrin ini.

Carving Of Minangkabau

Carving is a form of art that were found in Minangkabau, especially the shown in this big house. These carving is very closely related with the life of Minangkabau society. Motif Minangkabau usually originates in the philosophy oh “Natural Takambang So Master”. Natural forms are used as the motif in Minangkabau is not expressed in realistic but has been stylized in such a manner that it becomes a decorative motif. The name of the carving motifs such as “pucuak rabuang, kaluak paku, itiak pulang patang, bada mudiak, saluak laka”, etc.

Application of these carvings besides to big house are also decorate various other equipment is made of wood, bambo and metal. Various objects are decorated with the carvings can be seen in this vitrin.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Rumah Gadang

Sumatera Barat lebih dikenal dengan sebutan Minangkabau, memiliki banyak peninggalan sejarah dan budaya yang tersebar di berbagai daerah. Salah satu bentuk peninggalan tersebut adalah arsitektur tradisional berupa bangunan rumah gadang, balai adat dan surau atau masjid.

Arsitektur tradisional merupakan wujud kultur dari kebudayaan Minangkabau yang dilatarbelakangi oleh banyak faktor seperti sistim kekerabatan yang dianut dan faktor alam sekitar sesuai dengan falsafah Minangkabau “alam takambang jadi guru”. Bangunan tradisional ini terbuat dari kayu, bambu, atap ijuk, dengan sistim pasak.

Ciri khas paling menonjol pada rumah gadang dan balai adat terlihat pada bentuk atapnya bergonjong menjulang tinggi, menyerupai tanduk kerbau, kemudian dinding yang diberi hiasan ukiran. Rumah gadang punya beberapa tipe gajah maharam, rajo bagandiang, surambi papek dan surambi aceh. Beberapa rumah gadang dilengkapi rangkiang atau lumbung untuk menyimpan padi.

 

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Pakaian Adat

Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya, demikianlah ungnkapan tentang keragaman budaya yang kita miliki. Hal ini dapat dilihat dari ragam pakaian adat Minangkabau. Pakaian adat Minangkabau adalah pakaian yang dipakai pada saat atau untuk kepentingan upacara, baik upacara adat maupun upacara keagamaan. Bentuk pakaian yang dipakai seseorang menggambarkan daerah asal dan status pemakainya serta tingkat upacara adat yang dihadirinya.

Pakaian adat wanita Minangkabau pada umumnya terdiri dari baju kurung, kodek, tingkuluak/salendang, serta dilengkapi dengan asesoris lainnya. Sebagai tutup kepala wanita untuk daerah luhak disebut tingkuluak, ada yang terbuat dari kain songket, batik, salendang bersulam, dsb. Sedangkan daerah pesisir Sumatera Barat (rantau), serta beberapa daerah di luhak, memakai sunting sebagai hiasan kepalanya.

Pakaian penganten wanita Solok dengan ciri khas Bungo Sanggua, sejenis suntiang yang terbuat dari loyang berwarna keemasan. Pakaian penganten wanita Lintau Buo disebut Tingkuluak Balenggek Kompong yang terbuat dari kain tenun dengan bentuk tanduk kerbau yang ujungnya pepat (tidak runcing). Sedangkan penganten laki-laki, pakaiannya menyerupai pakaian penghulu, ada yang memakai jas dan roki.

Beragam bentuk pakaian adat Minangkabau, dapat dilihat dalam vitrin ini.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Mata Uang

Pengembangan mata uang tidak dapat dipisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Sebelum ada mata uang, untuk memenuhi kebutuhan hidup dilakukan better, yaitu menukarkan barang dengan barang. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan mata uang, pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara pernah dikeluarkan mata uang kerajaan yang terbuat dari logam seperti mata uang dari kerajaan Majapahit, Kerajaan Islam di Aceh, dsb. Kedatangan bangsa asing ke Nusantara juga memperkenalkan mata uangnya. Oleh sebab itu, kita mengenal mata uang VOC, EIC, Portugis, Arab, Jepang, dsb. Hingga akhir penjajahan, kita masih menggunakan mata uang Belanda dan Jepang. Setelah kemerdekaan RI, negara kita mulai menerbitkan mata uang Republik Indonesia (ORI), kemudian masa revolusi juga diterbitkan mata uang, baik uang logam maupun uang kertas.

Pada mata uang tersebut, tertera nilai nominal, tahun dikeluarkan, negara asal dan gambar lainnya seperti gambar pahlawan, orang-orang yang berjasa bagi bangsa ini, kekayaan alam dan budaya bangsa, fauna, flora, dll yang menghiasi permukaan mata uang Republik Indonesia.

Bagi bangsa asing yang mengunjungi daerah ini juga ada yang menyerahkan mata uangnya sebagai kenang-kenangan untuk disimpan di museum, sehingga dapat dilihat oleh masyarakat umum.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Keramik

Keramik adalah benda yang terbuat dari tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi di atas 1200 C. Keramik asing yang ada di Indonesia masuk melalui jalur perdagangan, karena d daerah ini banyak terdapat pelabuhan dagang tempat pedagang keramik tersebut berasal dari berbagai negara seperti Cina, Singapura, Eropa, Thailand, dsb. Keramik Cina yang tersebar di Indonesia berasal dari berbagai dinasti seperti Dinasti Zhou, Yuan, Tang, Song, Ming, Cing, dll.

Setiap dinasti membawa ciri khas pada keramiknya, baik bentuk, warna, maupun motifnya. Karena keramik bukanlah barang murah dari dulunya, maka keramik hanya bisa dimiliki oleh keluarga-keluarga bangsawan/kaya. Benda tersebut pada umumnya berbentuk peralatan rumah tangga, seperti piring, guci, kendi, pasu, buli-buli, dan berbagai hiasan/pajangan.

Ceramics

Ceramics are objects made of baked clay by high temteratures above 1200 C. Foreign ceramics in Indonesia entered via trade because in this area there are many trading ports transit spot foreign traders. Ceramics are from various countries such as China, Singapore, Europe, Thailand, etc. Chinese ceramics spread in Indonesia comes from various dynastic such as the Zhou Dynasty, Yuan, Tang, Song, Ming, Ching, etc.

Each dynasty carries characteristic of the their ceramics, both in shape, color, or motif. Because ceramic is not less than once the goods, the ceramic are not cheap goods, so the ceramic can only be owned by noble families/rich. That ceramics usually are housewares such as plates, jars, jugs, pots (pasu), buli-buli and various decorations/ornaments.

 

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Hewan yang Diawetkan

Bahwa Allah menciptakan beragam makhluk-Nya, diantaranya adalah hewan. Ada hewan yang hidup di darat, di air, ada yang berkaki 4, 2 dan ada yang tidak berkaki. Ada hewan yang tinggal di daerah-daerah tertentu yang menjadi fauna khas suatu daerah. Misalnya, harimaumerupakan hewan Sumatera, karena banyak terdapat di Sumatera dan termasuk hewan langka yang dilindungi. Demikian juga dengan burung kasuari, termasuk hewan yang dilindungi. Dalam vitrin ini dapat disaksikan kepala harimau, telur burung kasuari, telur buaya, hiu harimau yang telah diawetkan.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.