Category Archives: Museum Rumah Adat Baanjuang

Ukiran Minangkabau

Ukiran merupakan salah satu bentuk karya seni yang banyak ditemui di Minangkabau terutama terlihat pada rumah gadang. Ukiran tersebut sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Motif ukiran Minangkabau pada umumnya bersumber kepadafalsafah Alam Takambang Jadi Guru. Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistik, tetapi telah digayakan sedemikian rupa sehingga menjadi motif yang dekoratif. Nama motif ukiran tersebut seperti: pucuak rabuang, kaluak paku, itiak pulang patang, bada mudiak, saik galamai, saluak laka, dsb.

Penerapan ukiran ini selain pada rumah gadang, juga menghiasi berbagai peralatan lainnya yang terbuat dari kayu, bambu dan logam. Berbagai benda yang dihiasi dengan ukiran dapat dilihat dalam vitrin ini.

Carving Of Minangkabau

Carving is a form of art that were found in Minangkabau, especially the shown in this big house. These carving is very closely related with the life of Minangkabau society. Motif Minangkabau usually originates in the philosophy oh “Natural Takambang So Master”. Natural forms are used as the motif in Minangkabau is not expressed in realistic but has been stylized in such a manner that it becomes a decorative motif. The name of the carving motifs such as “pucuak rabuang, kaluak paku, itiak pulang patang, bada mudiak, saluak laka”, etc.

Application of these carvings besides to big house are also decorate various other equipment is made of wood, bambo and metal. Various objects are decorated with the carvings can be seen in this vitrin.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Pakaian Adat

Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya, demikianlah ungnkapan tentang keragaman budaya yang kita miliki. Hal ini dapat dilihat dari ragam pakaian adat Minangkabau. Pakaian adat Minangkabau adalah pakaian yang dipakai pada saat atau untuk kepentingan upacara, baik upacara adat maupun upacara keagamaan. Bentuk pakaian yang dipakai seseorang menggambarkan daerah asal dan status pemakainya serta tingkat upacara adat yang dihadirinya.

Pakaian adat wanita Minangkabau pada umumnya terdiri dari baju kurung, kodek, tingkuluak/salendang, serta dilengkapi dengan asesoris lainnya. Sebagai tutup kepala wanita untuk daerah luhak disebut tingkuluak, ada yang terbuat dari kain songket, batik, salendang bersulam, dsb. Sedangkan daerah pesisir Sumatera Barat (rantau), serta beberapa daerah di luhak, memakai sunting sebagai hiasan kepalanya.

Pakaian penganten wanita Solok dengan ciri khas Bungo Sanggua, sejenis suntiang yang terbuat dari loyang berwarna keemasan. Pakaian penganten wanita Lintau Buo disebut Tingkuluak Balenggek Kompong yang terbuat dari kain tenun dengan bentuk tanduk kerbau yang ujungnya pepat (tidak runcing). Sedangkan penganten laki-laki, pakaiannya menyerupai pakaian penghulu, ada yang memakai jas dan roki.

Beragam bentuk pakaian adat Minangkabau, dapat dilihat dalam vitrin ini.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Mata Uang

Pengembangan mata uang tidak dapat dipisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Sebelum ada mata uang, untuk memenuhi kebutuhan hidup dilakukan better, yaitu menukarkan barang dengan barang. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan mata uang, pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara pernah dikeluarkan mata uang kerajaan yang terbuat dari logam seperti mata uang dari kerajaan Majapahit, Kerajaan Islam di Aceh, dsb. Kedatangan bangsa asing ke Nusantara juga memperkenalkan mata uangnya. Oleh sebab itu, kita mengenal mata uang VOC, EIC, Portugis, Arab, Jepang, dsb. Hingga akhir penjajahan, kita masih menggunakan mata uang Belanda dan Jepang. Setelah kemerdekaan RI, negara kita mulai menerbitkan mata uang Republik Indonesia (ORI), kemudian masa revolusi juga diterbitkan mata uang, baik uang logam maupun uang kertas.

Pada mata uang tersebut, tertera nilai nominal, tahun dikeluarkan, negara asal dan gambar lainnya seperti gambar pahlawan, orang-orang yang berjasa bagi bangsa ini, kekayaan alam dan budaya bangsa, fauna, flora, dll yang menghiasi permukaan mata uang Republik Indonesia.

Bagi bangsa asing yang mengunjungi daerah ini juga ada yang menyerahkan mata uangnya sebagai kenang-kenangan untuk disimpan di museum, sehingga dapat dilihat oleh masyarakat umum.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Keramik

Keramik adalah benda yang terbuat dari tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi di atas 1200 C. Keramik asing yang ada di Indonesia masuk melalui jalur perdagangan, karena d daerah ini banyak terdapat pelabuhan dagang tempat pedagang keramik tersebut berasal dari berbagai negara seperti Cina, Singapura, Eropa, Thailand, dsb. Keramik Cina yang tersebar di Indonesia berasal dari berbagai dinasti seperti Dinasti Zhou, Yuan, Tang, Song, Ming, Cing, dll.

Setiap dinasti membawa ciri khas pada keramiknya, baik bentuk, warna, maupun motifnya. Karena keramik bukanlah barang murah dari dulunya, maka keramik hanya bisa dimiliki oleh keluarga-keluarga bangsawan/kaya. Benda tersebut pada umumnya berbentuk peralatan rumah tangga, seperti piring, guci, kendi, pasu, buli-buli, dan berbagai hiasan/pajangan.

Ceramics

Ceramics are objects made of baked clay by high temteratures above 1200 C. Foreign ceramics in Indonesia entered via trade because in this area there are many trading ports transit spot foreign traders. Ceramics are from various countries such as China, Singapore, Europe, Thailand, etc. Chinese ceramics spread in Indonesia comes from various dynastic such as the Zhou Dynasty, Yuan, Tang, Song, Ming, Ching, etc.

Each dynasty carries characteristic of the their ceramics, both in shape, color, or motif. Because ceramic is not less than once the goods, the ceramic are not cheap goods, so the ceramic can only be owned by noble families/rich. That ceramics usually are housewares such as plates, jars, jugs, pots (pasu), buli-buli and various decorations/ornaments.

 

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Hewan yang Diawetkan

Bahwa Allah menciptakan beragam makhluk-Nya, diantaranya adalah hewan. Ada hewan yang hidup di darat, di air, ada yang berkaki 4, 2 dan ada yang tidak berkaki. Ada hewan yang tinggal di daerah-daerah tertentu yang menjadi fauna khas suatu daerah. Misalnya, harimaumerupakan hewan Sumatera, karena banyak terdapat di Sumatera dan termasuk hewan langka yang dilindungi. Demikian juga dengan burung kasuari, termasuk hewan yang dilindungi. Dalam vitrin ini dapat disaksikan kepala harimau, telur burung kasuari, telur buaya, hiu harimau yang telah diawetkan.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Nagari

Nagari di Minangkabau merupakan suatu kesatuan Territorial dan Genealogis yang terdiri dari beberapa Kampung (Koto). Sedangkan Kampung (Koto) itu kumpulan dari Dusun yang didiami oleh beberapa keluarga. Menurut Adat Minangkabau, suatu Nagari itu harus mempunyai syarat-syarat tertentu, antara lain:

  • Rumag Gadang, sebagai tempat tinggal
  • Balairung, sebagai tempat untuk Bermusyawarah
  • Rangkiang, sebagai tempat untuk Menyimpan Padi
  • Rangkiang ada 2 macam:
    • Rangkiang Sibayau-bayau, mempunyai tonggak 6, digunakan untuk menyimpan padi bagi anak kemenakan.
    • Rangkiang Sitinjau Lauik, mempunyai tonggak 4, digunakan untuk menyimpan persediaan makanan bagi anak dagang dan para tamu.
  • Surau, sebagai tempat kegiatan keagamaan (belajar mengaji)
  • Mesjid, sebagai tempat untuk kegiatan keagamaan
  • Rumah Tabuah, sebagai sarana informasi dan sebagainya.
Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.