Category Archives: Specific

Nagari

Nagari di Minangkabau merupakan suatu kesatuan Territorial dan Genealogis yang terdiri dari beberapa Kampung (Koto). Sedangkan Kampung (Koto) itu kumpulan dari Dusun yang didiami oleh beberapa keluarga. Menurut Adat Minangkabau, suatu Nagari itu harus mempunyai syarat-syarat tertentu, antara lain:

  • Rumag Gadang, sebagai tempat tinggal
  • Balairung, sebagai tempat untuk Bermusyawarah
  • Rangkiang, sebagai tempat untuk Menyimpan Padi
  • Rangkiang ada 2 macam:
    • Rangkiang Sibayau-bayau, mempunyai tonggak 6, digunakan untuk menyimpan padi bagi anak kemenakan.
    • Rangkiang Sitinjau Lauik, mempunyai tonggak 4, digunakan untuk menyimpan persediaan makanan bagi anak dagang dan para tamu.
  • Surau, sebagai tempat kegiatan keagamaan (belajar mengaji)
  • Mesjid, sebagai tempat untuk kegiatan keagamaan
  • Rumah Tabuah, sebagai sarana informasi dan sebagainya.
Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Advertisements

Museum Rumah Adat Baanjuang

Museum Rumah Adat Baanjuang terletak di dalam kawasan Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan / Benteng Fort De Kock Bukittinggi.

Sejarah Singkat

Museum ini didirikan oleh seorang Belanda bernama Mr. Mondelar Countrolleur pada tanggal 1 Juli 1935. Berbentuk bangunan rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah gadang bagonjong gajah maharam dan memiliki 9 ruang dengan anjuang pada bagian kiri dan kanan. Rangkiang Padi dibangun kemudian pada tahun 1956.

Bangunan ini dikenal dengan ketradisionalannya, seperti atap bangunan terbuat dari ijuk, dinding terbuat dari kayu berukiran serta berlantai kayu. Dibangun di tengah-tengah Stompark (kebun bunga) yang kemudian kita kenal dengan Taman Marga Satwa-Budaya Kinantan / TMS-BK (Kebun Binatang Bukittinggi).

Museum etnografi ini bertujuan untuk menghimpun benda-benda sejarah dan budaya Ranah Minang. Dulunya, museum ini bernama Museum Bundo Kanduang, kemudian sesuai dengan Perda Kota Bukittinggi No. 5 Tahun 2005, maka nama itu diubah menjadi Museum Rumah Adat Baanjuang dengan luas bangunan 2.798 m2.

Koleksi Rumah Adat Baanjuang
  • Miniatur arsitektur tradisional Minang, seperti: surau, rumah gadang, balairung, lapau, dll.
  • Beragam pakaian adat dari berbagai daerah di Ranah Minang, pakaian pengantin, pelaminan, songket, peci, saluak, beragam perhiasan, buku-buku, kitab suci Al-Qur’an dan mata uang kuno.
  • Perlengkapan rumah tangga tradisional nagari Minangkabau, perlengkapan dapur, barang-barang antik dari kuningan, serta ukiran-ukiran (Ukiran Minangkabau), keramik.
  • Perlengkapan bertani, perlengkapan mencari ikan, perlengkapan berburu, dan perlengkapan pertukangan.
  • Peralatan kesenian, tari dan musik serta perlengkapan beladiri.
  • Beragam benda peninggaan sejarah dan budaya Minangkabau.
  • Pengunjung dapat berfoto di pelaminan ala pengantin Minang dengan menggunakan pakaian pengantin yang telah disediakan.
  • Hewan yang diawetkan
Tiket Masuk Rumah Adat Baanjuang 

Tiket sebagai retribusi tanda masuk Rumah Adat Baanjuang, sesuai dengan Perda No. 5 Tahun 2013 Tanggal 11 Maret 2013, pengunjung dewasa / anak-anak membelinya seharga Rp 2.000,- (dua ribu rupiah).

Fasilitas

Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 20.000,-; kita bisa mengenakan pakaian adat Minangkabau dan bebas berfoto sepuasnya di Rumah Gadang ini. Tidak hanya itu, disini juga disediakan pelaminan layaknya upacara adat seperti baralek dan tentunya kita boleh berfoto disana dengan mengenakan pakaian adat tersebut.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Lain-lain

Alat-alat Perhubungan Hasil Sitaan dari Tentara Sekutu dan Belanda

VITRIN 18. Alat-alat Perhubungan Hasil Sitaan dari Tentara Sekutu dan Belanda. Selanjutnya digunakan oleh pejuang-pejuang Indonesia dalam perang kemerdekaan.

Telepon Ericsson-27, buatan Jerman, digunakan tahun 1945. Penyerahan pemerintahan Belanda kepada pemerintahan Republik Indonesia.

(Kiri) Telepon Set “P” MK-11 TMK, digunakan tahun 1945, penyerahan dari pemerintahan Belanda kepada pemerintahan RI. (Kanan) Telephone LM Ericsson-24, buatan Jerman, digunakan tahun 1945, penyerahan dari pemerintahan Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia.

Alat Pengirim Berita YBJ-6, buatan Polandia, digunakan tahun 1945, penyerahan dari pemerintahan Belanda kepada pemerintahan Republik Indonesia.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Pemancar Radio YBJ-6 (Yenkie Bravo Juliet -6)

YBJ-6 (Yenkie Bravo Juliet -6) adalah pemancar yang digunakan Markas Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada masa Perang Kemerdekaan Kedua di Sumatera Barat. Pada waktu terputusnya hubungan dengan Yogyakarta dengan pemancar India (VWX-2) di New Delhi, maka YBJ-6 mengambil alih tugas tersebut.

YBJ-6 (Yenkie Bravo Juliet -6) Radio Transmitter wich was used in second war freedom in the West Sumatera. This Radio Transmitter also took over the communications Yogyaarta with India (Indonesia Representative).

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Senjata Buatan Sumatera dan Indonesia

VITRIN 03. Senjata Buatan Sumatera dan Indonesia. Senapan PSM dan dua jat jartir ini adalah buatan Indonesia dan satu buah mortir buatan Sungai Puar (Sumatera Barat) yang dipergunakan dalam perang kemerdekaan dan penumpasan pemberontakan. Jenis senjata:

  • Martir “2” buatan Sungai Puar (Sumatera Barat).
  • Martir “5” PSM buatan Indonesia.
  • Senapan PSM Kaliber 7,7 mm buatan Indonesia.

Weapons Made In Sumatera and Indonesia. A gun of PSM and two of jat this martyr is made in Indonesia and one mortar made in River of Puar (Utilized West Sumatera) in action independence and destroying of rebellion a gun type is.

Weapon type:

  1. Martyr “2” made in River of Puar (West Sumatera).
  2. Martyr “5” PSM made in Indonesia.
  3. Gun of PSM Calibre 7,7 mm made in Indonesia.
Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Senjata Pistol Buatan Sungai Puar

VITRIN 02. Senjata Pistol Buatan Sungai Puar (Sumatera Barat). Senjata pistol ini dibuat oleh pengrajin besi kita di Sungai Puar (Sumatera Barat) kemudian dipergunakan oleh pejuang kita dalam perang kemerdekaan pertama dan kedua. Jenis senjata: Pistol Revolver, buatan Sungai Puar (Sumbar).

Weapon Pistol Made In River Of Puar (West Sumatera). This weapon of guns is maked by worker of our iron in River of Puar (West Sumatera) is later then utilized by our combatant in war first independence and both. Weapons type: Revolver Gun, made in River of Sei Puar (West Sumatera).

Peristiwa Situjuh Batur

Pada hari Sabtu dini hari pukul 05.00 WIB, 15 Januari 1949 telah terjadi pengepungan di Lembah Situjuh oleh tentara Belanda. Di lokasi ini baru saja selesai rapat penting oleh TNI / pejuang kemerdekaan serta pejabat sipil yang meliputi daerah Sumatera Tengah. Hasil rapat:

  1. Merebut Kota Payakumbuh dari tangan Belanda.
  2. Mengatur logistik dan persenjataan di tiap daerah.
  3. Mengobarkan semangat gerilya.

Rapat rahasia tersebut ternyata sudah diketahui oleh Belanda, sehingga Belanda mengepung lokasi rapat dan terjadilah kontak senjata dengan TNI / pejuang. Pada peristiwa ini gugur 69 orang TNI/pejuang beserta rakyat. Beberapa pejuang yang gugur pada peristiwa tersebut adalah: Chatib Sulaiman, Arisun Bupati 50 Kota, Zainuddin Tembah, Sdr. Katik dan lain-lain. Peristiwa ini dikenal dengan Peristiwa Situjuh 15 Januari 1949.

Kobarkan terus semangat juang “MERDEKA”

Event Of Situjuh Batur. On Saturday early morning at 05.00 WIB, 15 Januari 1949 have happened siege in dale of Situjuh by army of Belanda. In this location just finish important meeting by TNI/combatant of independence and also functionary of civil covering area of Sumatera Middle. Result of meeting:

  1. Grab town of Payaumbuh of hand of Belanda.
  2. Arranging logistics and weapons (in) every area.
  3. Stimulating guerrilla.

Meeting secret of tersebut in the reality have been known by Belanda, so that elanda besiege location meeting and happened [by] contact ARM with TNI/combatant. At this event be killed 69 people of TNI/combatant along with people. Some combatant which be killed at the event is: Chatib Sulaeman, Arisun Regent 50 Kota, Zainuddin Tembah, Sdr. Katik and others. This event is recognized with event of Situjuh 15 Januari 1949.

Inciting to continue the spirit of juang “INDEPENDENCE”

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.