Tag Archives: Bukittinggi

Serabi Betawi (KUE APE)

Serabi Betawi dan Serabi Solo bentuknya mirip, bukan?! Sama-sama terbuat dari bahan dasar tepung beras. Bedanya, Serabi Betawi lebih kering dan pinggirannya lebih cruncy.

Buat yang di Bukittinggi, Sumatera Barat; makanan tradisional Betawi ini bisa dibeli di depan Mesjid Raya Bukittinggi. Harganya cukup ekonomis Rp 2.000,-/kue, tersedia dalam rasa pandan.

Es Campur

Bagi penikmat jajanan es, kudu nyobain minuman yang satu ini. Namanya es campur, bisa dibeli diberbagai tempat di Sumatera Barat. Rasanya maknyus dengan kombinasi cendol, potongan agar-agar, potongan pokat dan pepaya, tape, es serut, gula, roti, dan bahan lainnya; fresh dan tentunya ekonomis!

Minuman ini biasa ditemukan di tempat jualan sate ataupun bakso. Salah satunya, di Pasar Bawah, Kota Bukittinggi.

Sekilas jika dilihat dari bentuk dan kombinasinya, jenis es ini hampir mirip dengan es tebak. Namun, ada sedikit perbedaan rasa yang lumayan unik. Tidak hanya itu, cara pembuatan ataupun penyajiannya juga cukup berbeda.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di Kota Bukittinggi, terletak di perbatasan Bukittinggi, di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lembah curam ini membentang dari selatan Nagari Koto Gadang hingga Nagari Sianok Anam Suku dan berakhir di Kecamatan Palupuh (BEM SI UNAND 2015).

Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau sanget, karena banyak kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini (BEM SI UNAND 2015).

Keindahan Ngarai Sianok juga dapat dilihat dari Taman Panorama & Lobang Jepang, dimana di depannya terdapat Great Wall-nya Bukittinggi yang dulunya merupang Janjang Saribu (jenjang seribu) atau Janjang Koto Gadang. Masakan yang terkenal di sekitar sini adalah Itiak Lado Ijau (bebek cabe hijau) yang 1 potongnya dijual sekitar Rp 20.000,- atau lebih. Bukan cuma itu, sesuatu yang tak kalah menarik yaitu di Koto Gadang yang merupakan lokasi pengrajin perak.

Referensi
  • BEM SI UNAND 2015.

Janjang 40

Janjang 40 (Janjang Ampek Puluah) ini terletak di seberang BTC (Banto Trade Centre) agak ke kiri, di sebelah kanan pangkalnya terdapat Pos Jaga Polisi. Jenjang ini bentuknya tidak sama, semakin ke atas semakin mengecil (baik panjang ataupun lebarnya) dan semakin mendaki, cocok banget buat membakar kalori. Biasanya, dikiri-kanan jalan, ramai dipajang lukisan-lukisan Rumah Adat, Jam Gadang dan keelokan lainnya dari sisi Minangkabau; indah… Namun, kali ini suasananya berbeda, tergantikan oleh batu akik 😀

Uniknya di Bukittinggi, semua tempat bisa diakses dari mana saja, termasuk Janjang 40. Untuk ke lokasi ini bisa sekedar marathon pagi atau sore, atau.. dengan transportasi. Angkot yang melewati simpang Janjang 40 ini banyak, diantaranya angkot merah no. 14 atau no.15 atau no. 19, dll.

Buat yang muslim, di pertengahan Janjang 40 ini ada Surau Baitul Jalil, tempatnya nyaman banget..

Aquarium

Aquarium berada di dalam kawasan Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan / Benteng Fort De Kock Bukittinggi. Karcis masuk Rp 2.000,-. Berikut beberapa koleksinya:

  • Arwana Super Red (Scleropages Formosus)
    • Asal                 : Kalimantan
    • Umur               : + 1 th (01-01-2013)
  • Discus (Symphisondon Discus)
    • Asal                 : Brazil
    • Umur               : + 1 th (01-01-2012)
  • Manfish (Pterophyllum Scalare)
    • Asal                 : Amerika Selatan
    • Umur               : + 1 th (01-01-2013)
  • Neon Tetra (Paracheirodon Innesi)
    • Asal                 : Sumatera
    • Umur               : + 1 th (01-01-2011)
  • Belalai Gajah / Elephant “Long” Nose (Gnathonemus Petersil)
  • Louhan Pahang (Amphilophus Irimaculatus)
    • Asal                 : Pahang, Malaysia
    • Umur               : + 3 th (01-01-2011)
  • Oscar Albino (Astronotus Ocellatus Albino)
    • Asal                 : Bangkok, Thailand
    • Umur               : + 3 th (01-01-2012)
  • Oscar Batik (Astronotus Ocellatus)
    • Asal                 : Bangkok, Thailand
    • Umur               : + 3 th (01-01-2012)
  • Synodontis ….

    • Asal                 : Brazil
    • Umur               : + 2 th (01-01-2012)
  • Belida Bangkok (Notopetrus Chitala H B)
    • Asal                 : Thailand
    • Umur               : + 3 th (01-01-2012)
  • Koi Salju
    • Asal                 : Blitar
    • Umur               : + 1 th
  • Frontosa
    • Asal                 : Afrika
    • Umur               : + 2 th
  • Parrot Love (Hoplarchus Psittacus)
    • Asal                 : China
    • Umur               : + 9 th (01-01-2012)
  • Loubster / Cherax Quadricarinatus (Red Claw)
    • Asal                 : Danau Maninjau (Sumatera Barat)
    • Umur               : + 1 th (01-01-2012)
  • Spatula (Polyodon Spathula)
    • Asal                 : Afrika
    • Umur               : + 1 th (01-01-2012)
  • Aba-aba Knive Fish
    • Asal                 : Laut Hindia
    • Umur               : + 19 th
  • Red Paku / Bawal
    • Asal                 : Sumatera
    • Umur               : + 1 th (01-01-2012)
  • Patin Black (Pangasius Pangasius)
    • Asal                 : Riau, Sumatera
    • Umur               : + 1 th (01-01-2012)
  • Patin Albino (Pangasius Pangasius Albino)
    • Asal                 : Riau, Sumatera
    • Umur               : + 1 th (01-01-2012)
  • Red Piranha (Sarasalmus Nattereri)
    • Asal                 : Brazil (Amerika Selatan)
    • Umur               : + 1 th (01-01-2012)
  • Black Ghost Fish (Afteronotus Albifrons)
    • Asal                 : Afrika
    • Umur               : + 3 th (01-01-2011)

Ukiran Minangkabau

Ukiran merupakan salah satu bentuk karya seni yang banyak ditemui di Minangkabau terutama terlihat pada rumah gadang. Ukiran tersebut sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Motif ukiran Minangkabau pada umumnya bersumber kepadafalsafah Alam Takambang Jadi Guru. Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistik, tetapi telah digayakan sedemikian rupa sehingga menjadi motif yang dekoratif. Nama motif ukiran tersebut seperti: pucuak rabuang, kaluak paku, itiak pulang patang, bada mudiak, saik galamai, saluak laka, dsb.

Penerapan ukiran ini selain pada rumah gadang, juga menghiasi berbagai peralatan lainnya yang terbuat dari kayu, bambu dan logam. Berbagai benda yang dihiasi dengan ukiran dapat dilihat dalam vitrin ini.

Carving Of Minangkabau

Carving is a form of art that were found in Minangkabau, especially the shown in this big house. These carving is very closely related with the life of Minangkabau society. Motif Minangkabau usually originates in the philosophy oh “Natural Takambang So Master”. Natural forms are used as the motif in Minangkabau is not expressed in realistic but has been stylized in such a manner that it becomes a decorative motif. The name of the carving motifs such as “pucuak rabuang, kaluak paku, itiak pulang patang, bada mudiak, saluak laka”, etc.

Application of these carvings besides to big house are also decorate various other equipment is made of wood, bambo and metal. Various objects are decorated with the carvings can be seen in this vitrin.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Rumah Gadang

Sumatera Barat lebih dikenal dengan sebutan Minangkabau, memiliki banyak peninggalan sejarah dan budaya yang tersebar di berbagai daerah. Salah satu bentuk peninggalan tersebut adalah arsitektur tradisional berupa bangunan rumah gadang, balai adat dan surau atau masjid.

Arsitektur tradisional merupakan wujud kultur dari kebudayaan Minangkabau yang dilatarbelakangi oleh banyak faktor seperti sistim kekerabatan yang dianut dan faktor alam sekitar sesuai dengan falsafah Minangkabau “alam takambang jadi guru”. Bangunan tradisional ini terbuat dari kayu, bambu, atap ijuk, dengan sistim pasak.

Ciri khas paling menonjol pada rumah gadang dan balai adat terlihat pada bentuk atapnya bergonjong menjulang tinggi, menyerupai tanduk kerbau, kemudian dinding yang diberi hiasan ukiran. Rumah gadang punya beberapa tipe gajah maharam, rajo bagandiang, surambi papek dan surambi aceh. Beberapa rumah gadang dilengkapi rangkiang atau lumbung untuk menyimpan padi.

 

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Pakaian Adat

Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya, demikianlah ungnkapan tentang keragaman budaya yang kita miliki. Hal ini dapat dilihat dari ragam pakaian adat Minangkabau. Pakaian adat Minangkabau adalah pakaian yang dipakai pada saat atau untuk kepentingan upacara, baik upacara adat maupun upacara keagamaan. Bentuk pakaian yang dipakai seseorang menggambarkan daerah asal dan status pemakainya serta tingkat upacara adat yang dihadirinya.

Pakaian adat wanita Minangkabau pada umumnya terdiri dari baju kurung, kodek, tingkuluak/salendang, serta dilengkapi dengan asesoris lainnya. Sebagai tutup kepala wanita untuk daerah luhak disebut tingkuluak, ada yang terbuat dari kain songket, batik, salendang bersulam, dsb. Sedangkan daerah pesisir Sumatera Barat (rantau), serta beberapa daerah di luhak, memakai sunting sebagai hiasan kepalanya.

Pakaian penganten wanita Solok dengan ciri khas Bungo Sanggua, sejenis suntiang yang terbuat dari loyang berwarna keemasan. Pakaian penganten wanita Lintau Buo disebut Tingkuluak Balenggek Kompong yang terbuat dari kain tenun dengan bentuk tanduk kerbau yang ujungnya pepat (tidak runcing). Sedangkan penganten laki-laki, pakaiannya menyerupai pakaian penghulu, ada yang memakai jas dan roki.

Beragam bentuk pakaian adat Minangkabau, dapat dilihat dalam vitrin ini.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.