Tag Archives: Jakarta

Nongkrong Seru di Perpusnas

Hayo looo.. Siapa yang belum pernah mampir kesini? Nggak ada salahnya ngeluangin waktu dan nyobain mampir barang sekali-kali, dijamin nagih!! Gimana enggak, tempatnya nyaman bangett..

Biasanya, kalau udah ngedenger kosakata ‘pustaka’ pasti bakal ngebayangin tempat yang monoton dengan segudang buku yang bikin para non-kutu buku uring-uringan dan lebih memilih bersantai-ria ditemanin gadget. Tapi NO buat Perpusnas.

Apa bedanya??

Dari gedungnya aja udah unik, di pelataran perpusnas didesain santai, masuk ke lobi suasananya adem dan menarik pengunjung untuk melihat lantai demi lantai, ada loker penyimpanan barang, ada cafe, daaaan… banyak lagi yang pokoknya sangat menarik!

*

Jangan bilang masih ada yang belum tau apa itu Perpusnas. Tapi kalau belum taupun juga nggak masalah, bakal dikasih tau kok.

Perpusnas itu singkatan dari Perpustakaan Nasional. Pustaka yang dimaksud adalah Perpustakaan Nasional RI.

Untuk lokasi, mungkin banyak yang lebih familiar dengan Perpusnas yang lama di Salemba. Tapi, akhir tahun 2018 lalu sudah dibangun ulang gedung Perpusnas yang baru dan ada hingga saat ini di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11, RT.11/RW.2, Gambir, Senen, Jakarta.

Akses

Lokasi bisa diakses dengan Busway (Trans Jakarta). Ambil rute Monas dan turun di depan Balai Kota. Bajet sangat ekonomis Rp 3.500,- saja.

Dari halte sudah tampak gedungnya yang khas. Nyeberang. Bila lampu lalu lintas belum menunjukkan gambar pejalan kaki berwarna hijau, tekan tombol yang ada di tiang lampu merah, tunggu sampai icon pejalan kaki muncul.

Cara Masuk

Sampai di seberang, ada gedung bertuliskan PERPUSTAKAAN NASIONAL RI. Masuk ke gedung bergaya Belanda, ikuti pemeriksaan dari security di pintu masuk. Biasanya, petugas bakal minta pengunjung untuk membuka tas bawaan buat diperiksa, kemudian masuk dengan melewati mesin pendeteksi (mirip screening sewaktu check-in di bandara).

Di gedung ala tempoe doeloe ini, ada foto-foto Presiden Jokowi beserta berbagai koleksi foto kunjungan resmi, ada miniatur digital dan modern, dll. Ini menarik dan pastinya gratis!

Keluar dari gedung, jalan beberapa langkah memasuki pelataran gedung Perpusnas. Masuk ke lobi.

Loker Penyimpanan

Di lobi, titipkan bawaan di sebelah kanan pintu masuk. Penitipan terbagi 2, jadi kalau di depan penuh, jangan kuatir, masih ada satu lagi di sayap kanan sebelah belakang.

Terima kunci loker dari staf di meja penitipan. Khusus bagi pengunjung yang membawa laptop atau notebook, dipinjamkan tas transparan. Bawa barang-barang berharga dan seperlunya, kemudian sisanya masukin loker.

Masing-masing loker ada nomornya. Dan, pengunjung makin dipermudah dengan adanya informasi pengelompokan nomor loker yang ditempel di loker yang terdekat dengan pintu masuk. Misal, nomor kita 53, tinggal lihat di deretan 1-100.

Setelah selesai, ambil barang, kunci loker dan tas transparan laptop tinggal dikembalikan pada staf di meja penitipan.

Layanan

Gedung Perpusnas terdiri dari 24 lantai yang memiliki fungsi masing-masing di setiap lantainya. Berikut layanan yang dimaksud.

  • Lantai 1 Lobi Hall & Display
  • Lantai 2 Layanan Keanggotaan & Penelusuran Informasi
  • Lantai 3 Zona Promosi Budaya Gemar Membaca
  • Lantai 4 Area Pameran & Kantin
  • Lantai 5 Perkantoran
  • Lantai 6
    • Data Center
    • Mushalla
  • Lantai 7 Layanan Koleksi Anak, Lansia & Disabilitas
  • Lantai 8 Layanan Koleksi Audiovisual
  • Lantai 9 Layanan Koleksi Naskah Nusantara
  • Lantai 10 Penyimpanan Koleksi Deposit
  • Lantai 11 Penyimpanan Koleksi Monograf Tertutup
  • Lantai 12 Ruang Baca Koleksi Deposit.
  • Lantai 12A Ruang Baca Koleksi Monograf Tertutup.
  • Lantai 14 Layanan Koleksi Buku Langka
  • Lantai 15 Layanan Koleksi Referens
  • Lantai 16 Layanan Koleksi Foto, Peta & Lukisan
  • Lantai 17 AIPI
  • Lantai 18 AIPI
  • Lantai 19 Layanan Multimedia
  • Lantai 20
    • Layanan Koleksi Berkala Mutakhir
    • Layanan Koleksi Manca Negara dan Ilmu Perpustakaan
  • Lantai 21 Layanan Koleksi Monograf Terbuka [KLAS 000 – 499]
  • Lantai 22 Layanan Kokeksi Monograf Terbuka [KLAS 500 – 999]
  • Lantai 23 Layanan Koleksi Majalah Terjilid
  • Lantai 24 Layanan Koleksi Budaya Nusantara & Eksekutif Lounge

Pendaftaran & Kartu Keanggotaan

Pengunjung bisa mendaftar menjadi anggota Perpusnas di lantai 2. Disini tersedia beberapa komputer yang cukup banyak untuk pendaftaran mandiri dan gratis.

  • Tempat pendaftaran ini ada di sebelah kiri keluar dari area lift. Langsung saja menuju komputer. Yang perlu disediakan adalah KTP.
  • Isi biodata, terutama yang dikasih bintang: *(Wajib diisi).
  • Setelah selesai, klik DAFTAR.
  • Ambil nomer antrian yang dicetak otomatis disamping komputer.
  • Antri dan tunggu dipanggil sesuai nomer antrian (mirip dengan antrean di Bank).
  • Apabila sudah dipanggil, duduk sesuai konter yang telah ditentukan (nomor antri dan posisi konter ada di layar TV ukuran sedang di bagian atas konter).
    • Catatan: tidak boleh memindahkan kursi dari tempat awal, walaupun hanya bergeser sedikit saja.
  • Di konter, bakal ditanya nama ibu kandung, dilakukan pengambilan foto dan cetak kartu.
  • Kartu bisa langsung jadi dan pengunjung sudah menjadi anggota Perpusnas.

Mudah, kan?! Akan lebih mudah lagi buat pengunjung yang sebelumnya sudah pernah menjadi anggota perpusnas (di gedung lama). Tinggal konfirmasi ke meja informasi, dengan ramah staf akan memandu menuju konter untuk cetak ulang kartu, tapi tetep kudu ngantri yaa..

Sementara, walaupun sudah memiliki kartu keanggotaan di Perpusnas ini, sayang sekali layanan peminjaman buku memang belum tersedia, pengunjung masih belum bisa meminjam buku untuk dibawa pulang.

“Apa gunanya dong punya kartu anggota?” Menurut salah satu staf, gunanya untuk penggunaan layanan multi media dan masuk ke beberapa layanan koleksi lainnya.

Ruang Baca Umum

Ruang baca umum ada di lantai 21 & 22. Disini koleksi buku-buku buanyaak..

Buat para non-kutu buku, silahkan dicoba. Tempat ini beda jauh dari pustaka yang selama ini sering kita datangi.

Udah gitu, suasananya nyamaaan bangett seolah membius pengunjung untuk berlama-lama nongkrong sampai lupa waktu.

Saking betahnya, kan biasanya di 30 menit sebelum jam kunjungan berakhir suka diumumkan kalau perpus akan tutup di jam bla bla bla, bahkan di detik-detik terakhirpun pengunjung masih saja nempel di posisinya dan mulai bergegas ngantri di lift setelah staf beres-beres.

Nonton Bareng

Bagi penikmat film, jangan sampai lewatin yang satu ini. Jadi ceritanya ke Perpusnas itu nggak melulu soal baca buku, tapi juga NOBAR alias Nonton Bareng.

Untuk jadwal film bisa dilihat di lobi, sebelah kiri sebelum masuk area lift. Kita bisa nonton film yang telah disediakan sesuai waktu yang telah ditentukan.

Fasilitas

Tak hanya aneka koleksinya yang luar biasa menarik, Perpusnas juga memanjakan pengunjungnya dengan akses free wi-fi yang cepat. Bagi yang belum tau pasword-nya bisa ditanyakan ke bagian informasi yang ada di lantai tersebut (biasanya ada di depan area lift).

Bagi yang muslim, bisa shalat di lantai 6. Mushallanya bersih dan nyaman… TOILETnya ada di luar, tapi untuk berwudlu ada tempat khusus disediakan di dalam mushalla. Mushalla dipisah dengan pembatas antara perempuan dan laki-laki. Di luar mushalla ada kursi yang dibagian bawahnya bisa menaruh sepatu. Ada beberapa sofa juga untuk duduk-duduk.

Masing banyak lagi fasilitas lainnya yang tak bisa disebutkan 1/1. Mungkin bisa teman-teman lihat sendiri saat berkunjung nanti.

Jadwal Operasional

Perpusnas buka setiap hari, kecuali hari libur nasional (termasuk hari besar) dan cuti bersama.

  • Senin-Kamis 08.30-18.00 WIB
  • Jum’at 09.00-18.00 WIB
    • Kuota antrian layanan keanggotaan 500
  • Sabtu-Minggu 09.00-16.00 WIB
    • Kuota antrian layanan keanggotaan 400

Gallery

Catatan

Di Bulan Ramadhan 1440H/2019, Perpusnas memiliki jadwal berbeda. Terhitung dari tanggal 26 April 2019:

  • Senin-Kamis 07.30-14.30 WIB
    • Jam istirahat 12.00-12.30 WIB
  • Jum’at 07.30-15.00 WIB
    • Jam istirahat 11.30-12.30 WIB
  • Sabtu-Minggu 08.30-14.00 WIB
    • Jam istirahat 12.00-12.30 WIB

Adanya cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1440H/2019 ini, Perpusnas tutup dari tanggal 1-9 Juni dan buka kembali pada tanggal 10 Juni.

Related Link

Advertisements

Kereta Api Bandara Stasiun Sudirman Baru – Bandara Soetta

Pertama kali naik kereta bandara ☺️ Ternyata praktis dan nyaman banget! 😉👍👍

Harga Tiket

Tiket bisa dibeli seharga IDR 70.000 via vending machine atau online.

Cara Beli Tiket di Vending Machine

Masuk Stasiun Bandara Sudirman Baru. Beli tiket via Vending Machine. Buat yang perdana tak perlu kuatir, bakal dipandu oleh beberapa orang petugas yang standbye dan siap membantu dengan ramah.

  • Sentuh logo kereta api yang bertuliskan TICKETS pada layar vending machine
  • Di layar selanjutnya sentuh logo kereta api yang bertuliskan BUY TICKETS
  • Lalu pilih logo tiket yang bertuliskan REGULAR TICKET
  • Pilih rute yang ada logo pesawat bertuliskan Soekarno Hatta Airport (BST)
  • Jika penumpang lebih dari 1, bisa mengurangi/menambah dengan menyentuh icon (menambahkan) atau – (mengurangi) di pojok kiri atas layar yang bertuliskan Number of Passenger(s).
  • Selanjutnya, pilih waktu keberangkatan. Disini tercantum dengan rinci jenis & nama kereta, waktu keberangkatan dan kedatangan, serta harga (IDR 70.000).
  • Setelah itu, sentuh layar yang ada kolom bertuliskan BOOKING
  • Masukkan No. HP dan pilih NEXT
  • Lakukan pembayaran dengan memilih metode yang tersedia di bagian bawah layar bertuliskan Choose Payment MethodDEBIT/CREDIT CARDPREPAID CARD atau VOUCHER. Misalnya dengan cara DEBIT/CREDIT CARD, masukkan kartu ke mesin, tekan tombol angka untuk memasukkan PIN, tekan tombol hijau di sudut kanan terbawah.
  • Ambil tiket kereta dan struk pembayaran.
  • Selesai

Cara Beli Tiket Online

  • Download aplikasi Railink.
  • Sentuh Kolom Register dan lengkapi data.
  • Login sesuai email & password yang telah didaftarkan.
  • Sentuh Regular atau Reserve Seat.
  • Pilih stasiun keberangkatan di sebelah kiri, misal SUDIRMAN BARU (BNI CITY) (SDB). Pilih stasiun tujuan di kolom kanan, misal SHI BST untuk Bandara Internasional Sorkarno-Hatta.
  • Sentuh One Way untuk 1x perjalanan, pergi saja atau pulang saja. Pilih Round Trip untuk pulang-pergi.
  • Pilih tanggal keberangkatan di Depart Date
  • Sentuh icon (menambahkan) atau – (mengurangi) di sebelah kanan layar yang bertuliskan Passenger(s) jika lebih dari 1 atau untuk mengurangi.
  • Sentuh Search.
  • Pilih jadwal keberangkatan sesuai keperluan.
  • Di layar selanjutnya muncul rincian: kode boking, skedul kereta, info penumpang (nama, no. HP dan email), total harga, kode pembayaran dan hitungan mundur waktu boking.
  • Sentuh kolom Continue.
  • Muncul kode boking, hitung mundur waktu boking dan total harga. Pilih Use Voucher atau Payment.
  • Untuk payment, pilih Online PaymentIndirect PaymentVirtual Account atau Cancel untuk pembatalan.
  • Untuk online payment, tinggal pilih kartu debit atau kartu kredit yang digunakan. Dan, akan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 5.000,-.
  • Klik Confirm.
  • Lengkapi data kartu debit/kredit.
  • Sentuh kolom Finish Payment setelah selesai.
  • Jika berhasil, informasi pembayaran bisa dilihat di email.
  • Sampai di stasiun, tunjukkan kode pemesanan tiket yang diterima via email ke petugas. Tiket diprint di stasiun dan langsung bisa digunakan.

Fasilitas di Stasiun Kereta Api Bandara

Ada nursery room buat ibu menyusui, food center, toilet, ruang tunggu, vending machine, mesin check-in mandiri, gallery ATM, lapangan parkir, free wi-fi, dll.

Naik Kereta Api Bandara

Scan tiket di gerbang menuju kereta, turun eskalator dan naik kereta api. Letakkan suite case atau travel back atau koper di tempat yang telah disediakan. Duduk sesuai nomer (yang ada di atas harga yang tertera di tiket).

Gallery

  • Instagram: #jejaklangkaho @olha_chayo 👉 KA Bandara
  • Youtube: Olha Chayo 👉 (soon)

Catatan

  • Lebih praktis beli tiket langsung di stasiun. Selain ada petugas yang standbye membantu, jadwal keberangkatan lebih lengkap dan tentunya tanpa biaya tambahan.
  • Di kereta tidak boleh makan-minum.
  • Hati-hati salah stasiun, Stasiun KA Bandara adalah Stasiun Sudirman Baru, bukan Stasiun Sudirman (Stasiun KRL Commuterline).
  • Stasiun KA Bandara Sudirman Baru sering juga disebut Stasiun KA Bandara BNI City. Jadi, jangan kaget ketika pemesanan transportasi online muncul nama salah satunya atau dikonfirmasi driver (pengemudi) untuk salah satu dari dua nama tersebut. Syukur-syukur bila langsung menemukan Stasiun KA Bandara Sudirman Baru (BNI City) di map.

Rekomendasi Link

Opini O

Sarana transportasi umum yang jempol dah..

Mesjid Di Mall Blok M Square Jakarta

Buat yang muslim, tidak perlu khawatir saat harus melaksanakan ibadah ketika shoping ataupun hanging out di Mall Blok M Square, Jakarta; karena di lantai 7 bisa ditemukan mesjid nan megah ini. Tempatnya bersih dan sangat nyaman. Uniknya, di perkarangan mesjid dibangun replika bangunan Ka’bah lengkap dengan hajar aswad-nya.

Catatan

  • Ka’bah merupakan bait suci umat muslim yang terletak di Masjidil Haram, Mekah.
  • Hajar aswad diyakini umat Islam sebagai batu yang berasal dari surga. Batu ini ditemukan oleh Nabi Ismail dan diletakkan oleh Nabi Ibrahim. Awalnya, batu ini bercahaya menerangi jazirah Arab. Seiring berjalannya waktu, cahayanya meredup dan bati tersebut berubah warna menjadi hitam, namun wanginya masih tetap alami (Hajar Aswad, diakses dari Wikipedia pada 18 September 2016).

Gallery

Kerak Telor

Cara:

  • Tuangkan beras pulut dengan sedikit air sampai terendam hingga 1 cm ke dalam kuali ukuran kecil yang telah diberi tangkai, api sedang.
  • Tambahkan serundeng manis, bawang goreng, lada dan serundeng (asin) secukupnya.
  • Ceplokkan telur itik atau ayam 1 butir.
  • Aduk semua bahan dan ratakan hingga berbentuk seperti telur dadar.
  • Setelah permukaannya kekuningan, angkat kerak telor dengan sendok goreng, kikis hingga terangkat seluruhnya.
  • Sajikan di atas piring yang datar dan bubuhi serundeng manis, bawang goreng dan serundeng, secukupnya.

Kemaren, ketika saya membeli hidangan khas Betawi ini, abang yang jual nanyain apa mau dibawa seperti itu ja atau mau digulung, saya request digulung 😀 Berhubung belinya di Snow Bay TMII, adanya kerak telur ini dikemas dengan kertas berwarna coklat yang biasa digunakan untuk membungkus nasi. Saya kan mau kemasan yang digulung, ya udah tinggal digulung gitu aja sama abangnya, kemasan ini jadi mirip kebab 😀 Harganya Rp 20.000,- dan rasanya unik 😉 manis-manis asin.. Rasa asin ini datangnya dari ebi (udang kecil kering) terdapat di dalam serundeng, bukan karena ditambahin garam (Info dari Bobby, 18/06/15).

Sumber:

Menyapa Jakarta

Yang udah stay di Jakarta maklumin, ya.. Ntar bantu koreksi juga kalau ada info yang ga bener. Ini skaligus dishare buat yang perdana (yah, boleh dibilang pemula) di Jakarta 😉 Sayangnya nih, catatan yang udah sangat detail saya kemas, terdelete otomatis dari aplikasinya, fiuh.. apes.. Tapi ga papa, masih ada sedikit yang bisa dipublish 😉

Jum'at, 12 Juni 2015
- Mendadak ke Jakarta -

Pagi ini, libur panjang tanpa batas mulai diakhiri secara mendadak, yah, dini hari saya dapat SMS panggilan kerja ke Jakarta. Harusnya ini berkah, tapi karena jauh.. dalam waktu yang mepet begini, bajet yang mesti dikeluarkan… arrrgh… saya tidak punya pilihan, cut aja, semoga ini yang terbaik. Eh, paginya Meican malah menggoyahkan benteng itu, walhasil, kudu konfirm juga sama ortu, and yes.. I should go to Jakarta this afternoon.. Hoaaahm, bahkan untuk beli tiketpun mesti menempuh seabrek kerumitan pula.. pake acara hujan lebat.. ATM errorr semua, hadeeeh.. ternyata nomer rekeningnya yang kurang 1 digit, gubrak!! Untung Unjut always siaga membantu, thanks Unjut.. 😉

Antara mau dan nggak mau, saya mulai packing. Huft, hari semakin siang dan sayapun mulai panik, sikap masa bodo tadi menguap entah kemana, mengingat saya beneran ke Jakarta, lho.. “Lu kate pergi mejeng?? Ini ujian tau!! Buruan, packing yang apik!!” Gebrak-gebruk.. pusing.. apa aja nih yang dibawa?? Hadeuh, ga ada persiapan mau ujian lagi.. Rempong… 😥

Demi mendapatkan tiket paling ekonomis, kita, saya dan Meican, beli tiket keberangkatan pukul 21.20 WIB; dan kita udah kontak Weni, teman kita, sesama geng gaje, yang sekarang stay di Jakarta, tempat sodaranya, alhamdulillah kita bisa nginap disana 🙂 Ntar ujiannya bakal gabung juga sama Ojik, Cilot, Sisce, Rani dan Choomee.

Sayangnya, perjuangan saya ga cuma sampe rempong ngurusin tiket, tapi juga seterusnya dan seterusnya.. Kita berangkat cepat ke BIM (Bandara Internasional Minangkabau), demi mengejar waktu, sebenernya enggak juga sih, cuman.. takut telat aja, udah gitu akses ke BIM juga cukup jauh. Untung aja iparnya Meican mau nganterin kita, so kita ready aja di BIM sampe abis Isya, bis tu check in dan nongkrong semumetnya di ruang tunggu 😀

Saya sempat aneh, pesawat sebelum kita harusnya berangkat jam 8-an, tapi udah jam 21.00 kok penumpangnya masi berdiri di depan pintu yang belum dibukakan?? Hm, mungkin delay, moga aja ntar kita aman.. Sambil nunggu, kita cerita-cerita sama penumpang lainnya dan ketemu sama bule bernama Juliah yang sempat tampak bingung dengan nomer tiketnya. Nah, lho.. tuh kan… udah ada broadcast yang nyebutin penerbangan kita, seantero ruang tunggu langsung berdiri, sibuk mengemas bawaannya, dan…. sayang berakhir tertegun, ternyata broadcast itu menyiarkan pesawat kita delay sampe pukul 22.00 WIB, chuy… hadeuuh… Kita langsung ngubungi Weni, aduh, beneran ga enak banget sama Weni, dia udah nongkrongin Bandara Soekarno-Hatta sedari menjelang Maghrib cuma buat nungguin kita.. Onde mande, udahlah numpang, ngerepotin pula.. Oh, God…

Tak lama, datanglah snack, sepertinya secara tidak langsung sebagai permintaan maaf maskapai ini karena delay.. Yah, OK-lah.. Tapi, snack ini langsung bikin semua ketawa heboh kala si Bapak-bapak membanyol sambil menelan ludes snack itu dalam sekejap, hahaa.. Ada juga hikmahnya.. Sementara ini, saya nyari-nyari teman di Jakarta yang bisa fasilitasi kita, tapi no one (kecuali Weni).

Pesawat datang dan kita cus, terbang ke Jakarta dan saya mau bilang “Jakarta… I’m comiiiing….”. Baru sadar setelah Uda (panggilan laki-laki di Minangkabau) yang duduk di sebelah saya bilang kalau kita berangkat pukul 23.00 WIB, “onde maaaak.. Weni…..!!! maafkan kami… 😥 “. Demi prinsip ekonomis akhirnya bikin susah nih.. Nasib kita kali ini tak secantik pemandangan cahaya di luar sana, mulai gaduh menjelang tiba di Jakarta.. Tapi ya sudahlah, udah terjadi, pelajaran nih, selanjutnya kalau mau berangkat maunya siang aja, tapi.. namanya juga dadakan.. inilah tantangannya 😀

Sabtu, 13 Juni 2015
- Survey Tempat -

Kita sampai di Jakarta sekitar pukul 01.00 WIB. Tampak Weni masih hangat menyambut kedatangan kami, padahal udah setengah hari lebih dia nongkrong disini… Masih ada lagi nih untungnya, kita ga pake bagasi, jadi bisa langsung go.

Weni bilang DAMRI udah ga ada, karena jam operasionalnya cuma sampe pukul 00.00 WIB. Jadi, mau ga mau, kita harus nyari Taxi, dan inipun pake insiden-insidenan pula. Ibu yang kita kenal di ruang tunggu, beda arah sama kita, mau dibantuin nyari Taxi dia ga mau, tapi mau ditinggal sendiri juga dia ga ada yang bakal jemput. Abis kita deal naik Taxi, si Ibu malah pergi gitu aja, padahal kita khawatir juga, tapi kita juga ga bisa stay disini buat bantuin dia. Yah, apa boleh buat..

Kita lewat tol dan bayar Rp 14.000,-. Terus, sekitar jam 2-an, kita sampe di Citayam (Weni bilang, bacanya Citayem), markas Weni. Bajet Taxi kesini Rp 250.000,-. Harga yang cukup fantastis jika saat ini saya masih di Padang 😀

Tak butuh waktu lama untuk kita meneparkan diri, capeeeek… Ga berasa ya, kita udah di Jakarta.. 🙂 Saking capeknya, kita baru bangun sekitar pukul 8 pagi. Shalat Subuh….!!! Hadeh, ini Subuh apa Dhuha?! :3

Hmm, sekarang masih Sabtu.. sementara ujiannya besok, apaan nih agenda kita buat hari ini?? Hayok kita tanya Weni 😉 Dan, agendanya inspeksi lokasi tes. Sekitar jam 10-an, kita pergi ke Stasiun Citayam diantar keluarga Weni, bener-bener sesuatu banget, Weni sekeluarga emang baik bangett.. Ntar kita bakal naik yang namanya Commuterline, first edition buat kita 🙂 Weni bilang, jalur 1 itu menuju Jakarta dan jalur 2 menuju Bogor. Kita cuma bisa ngangguk-ngangguk doang secara masih ambigu ketemu suasana baru, sang kota metropolitan..

Masing-masing kita dikasih kartu sama Weni. Kartu ini berlaku selama seminggu dengan uang jaminan @ Rp 10.000,-, kita juga bisa menukarkan kartu ini kembali dengan uang. Kalau ditanya ongkos, cukup ekonomis, @ Rp 3.000,-. Jadi, total duit yang kita keluarkan di stasiun ini @ Rp 13.000,- 😉 Sebelumnya kita mesti check in dulu, kartu tadi ditempel di bagian tempat kartu (berwarna kuning, sistemnya mirip scaning), kalau lampunya hijau (yang ada checklistnya), udah bisa lanjut; tapi kalau lampunya merah (ada tanda silang), berarti gagal, tapi kamu ga usah panik, ntar dibantuin kok sama petugas yang standby disekitar sana. Rute kita ini nih “Stasiun Citayam – Stasiun Depok – Stasiun Depok Baru – Stasiun Pondok Cina – Stasiun UI – Stasiun Univ. Pancasila – Stasiun Lenteng Agung – Stasiun Tanjung Barat – Stasiun Pasar Minggu – Stasiun Pasar Minggu Baru – Stasiun Duren Kalibata – Stasiun Cawang – Stasiun Tebet – Stasiun Manggarai – Stasiun Cikini”. Lama perjalanan sekitar 20 menit.

Sampai di Stasiun Cikini, kita check out baru lanjut nyari transportasi ke Salemba. Akhirnya kita naik Bajaj, yuhu… Kita kena Rp 15.000,-.

Waaaah, ini dia nih… Ga nyangka, selama ini dengar nama doang, ga taunya nyampe juga disini, panggilan kerja lagi.. 😀 Alhamdulillah.. Saking gede lahannya, kita jadi pusing nyariin lokasi pastinya. Baru deh nyampe, setelah nanya kesana-kemari 🙂

Mulai laper nih, waktunya makan.. Tapi dimana ya bagusnya?! Hm, pokoknya, apapun, kita ngomong sama Weni, coz berasa bego rasanya, pinjem quotenya Meican “Asing di negeri asing” 😀 So, keputusannya ntar kita makan di Depok 😉 Sekarang kita naik Bajaj lagi ke Stasiun Cikini dengan ongkos yang lebih mahal, Rp 20.000,-.

Udah kenyang, muter kemana-mana, walhasil cedera nih kaki.. Saking ga nyamannya, Meican beli sandal jepit dan langsung mengenakannya. Sementara Weni belum ketemu sandal yang dia cari. Dalam sikon begini, memang tidak bisa menggunakan sepatu yang formal ataupun semi formal, pegal berat kaki jadinya..

Setelah ini kita pulang, ga kuat lagi mondar-mandir 😀 di Stasiun Depok, kita beli tiket @ Rp 3.000,- menuju Stasiun Citayam. Sampai di Citayam, kita naik ojek ke markas Weni, @ Rp 10.000,-.

Minggu, 14 Juni 2015 
- Ujian & Mejeng ke Ancol-

Pagi sekali kita udah ready nak berangkat ke lokasi ujian. Kali ini kita naik angkot menuju Pasar Citayam, berjalan sedikit untuk sampai di Stasiun Citayam. Beli tiket @ Rp 3.000,-; check in, naik Commuterline, turun di Stasiun Cikini, naik Bajaj. Lucunya, kali ini kita cuma bayar Bajaj Rp 10.000,-?! Variatif juga ya ongkosnya… 🙂

Oya, sewaktu di Commuterline tadi, suasana berangkat kerja kan bikin transportasi always rame, tapi kita masa bodoh aja, tetap sibuk membahas soal apa yang kira-kira bakal keluar. Eh, tiba-tiba ada Bapak-bapak yang mempersilakan kita duduk dan beliau langsung berdiri tanpa menunggu respon kita. Setelah beberapa Stasiun, akhirnya kita bertiga bisa sama-sama duduk. Ada yang menarik disini, seorang penumpang, perempuan yang masih muda, yang duduk tepat disamping kanan Meican, tampak bercakap-cakap dengan Meican, saya dan Weni kaget, tak menyangka ternyata Meican bertemu temannya disini, padahal udah sedari tadi diam-diaman aja. Eh, ternyata bukan… dia seseorang yang sangat mengapresiasi tinggi profesi kami, Subhanallah.. 🙂 Dia mengonfirmasi beberapa informasi pada Meican dan dengan lugas Meican menjelaskan. Saya dan Wenipun akhirnya turut berdiskusi dengannya. Menyenangkan rasanya, waktu-waktu yang spesial 🙂

Waktunya ujian, semakin lama semakin ramai orang datang dari berbagai penjuru. Yang tadinya kami pikir kami kepagian, ternyata sebaliknya.. Kita gabung sama 5 teman lainnya ditambah dengan Lila. Tingkat stres semakin meningkat kala waktu ujian molor dan khalayak makin rame 😀

Lewat jam 9 (waktu di jadwal jam 8), kita akhirnya mulai ujian. Kebetulan yang ga enak, 8 teman saya duduk berdekatan, sementara saya terpencil sendiri di depan, hadeeh.. Tapi it’s OK lah.. Soalnya mudah tapi menjebak, huft.. Abis ujian kelar, kita masih saja sibuk berdebat, sampai akhirnya rasa lapar yang maju menengahi. Bukan cuma itu, kita lagi nyari tempat tinggal untuk teman lainnya, sementara fasilitas benar-benar minim, sulit mencari seseorang yang bisa memberikan bantuan tepat pada waktunya. Sembari berpikir, kita pergi ke Ancol merilexkan pikiran.

Kita ke Ancol naik Busway, tadinya saya udah punya kopek-an nih rutenya apa aja sampe transit dimana, tapi.. sudah terhapus guys.. 😥

Kita makan dulu, saya pesan nasi goreng. Yah, nasi pulen.. Serasa nyangkut ditenggorokan.. Bukannya masakannya yang ga enak, tapi saya memang sedikit sulit beradaptasi dengan nasi pulen, sekalipun suka dengan nasi lembek 😀

Ternyata masalah penginapan menjadi tranding topic kita saat ini dan sulit mencari kata sepakat. Ujung-ujungnya, kita terbagi 2. Saya, Weni, Meican, Lila dan Rani melancong ke Pantai Ancol; sementara yang lain sibuk memfixkan tempat berteduh.

Merasa cukup sekedar menyapa Pantai Ancol, kita berencana pulang. Sempat bikin tingkah banyol sama mesin minuman, hahaa.. Ada-ada aja.. Terus, kita selalu ketinggalan bus, giliran busnya ada, malah penuh.. Beda banget pas pertama kali mau kesini tadi, kita malah ga tau kalau nunggu busnya di sayap kanan sana, hahaa..

Ini rute Busway kita yang sempat nyasar, karena Weni lupa jalurnya 😀 Halte Ancol – Halte Pademangan – Halte Mangga Dua – Transit – Halte Jembatan Merah – Halte Gonden Truely – Halte Budi Utomo – Halte Pal Putih – Halte Kramat Sentiong NU – Halte UI (Universitas Indonesia) – Halte Slamet Riadi – Halte Salemba Park UI – Halte RS Premier – Halte BNI – Halte Bidara Cina – Halte Gelanggang Remaja – Halte Cawang Otista – Halte BNN – Halte Cawang UKI (Universitas Kristen Indonesia) – Halte BKN –Halte PGC

Kita mampir dulu ke PGC. Weni pamer burger kesukaannya dan ternyata kita juga malah ikutan setelahnya 😀 Lalu naik KOPAJA 57 menuju Stasiun, @ Rp 3.000,-. Lanjut pulang pake Commuterline, @ Rp 3.000,-.

Senin, 15 Juni 2015 
- Melancong ke Tanah Abang -

Agendanya:

  • Naik angkot ke Pasar Citayam, @ Rp 3.000,-
  • Naik Commuterline dari Stasiun Citayam ke Stasiun Tanah Abang, @ Rp 3.000,-.
  • Rutenya: Stasiun Citayam – Stasiun Depok – Stasiun Depok Baru – Stasiun Pondok Cina – Stasiun UI – Stasiun Univ. Pancasila – Stasiun Lenteng Agung – Stasiun Tanjung Barat – Stasiun Pasar Minggu – Stasiun Pasar Minggu Baru – Stasiun Duren Kalibata – Stasiun Cawang – Stasiun Tebet – Stasiun Manggarai – Stasiun Cikini – Stasiun Manggarai -Stasiun Cililitan – Stasiun …… – Stasiun Tanah Abang

  • Makan dan cuci mata 😀 Ga berasa udah seharian!!! Rame banget… gilaa… kita aja sampe berdesak-desakkan cak nak ngantri sembako 😀

Selasa, 16 Juni 2015 
- TMII "Snow Bay" -

Kita ceritanya mau ke Dufan awalnya, tapi gegara kemaren, kayaknya.. cari yang lebih ekonomis.. Untunglah Ayu, adeknya Weni, punya solusi. Kita ke Snow Bay ntar mumpung lagi diskon 😀 Seharian kita seru-seruan disana. Saya dan Ayu nekad berseluncur dari tempat yang paling tinggi dan gelagapan nyampe dasar 😀 Terus, saya sama Weni sempat terbalik dari balon dan saling berbenturan. Apesnya, duit saya ilang nih Rp 50.000,- saking paranoidnya kehilangan kunci loker 😀 Pokoknya banyak deh, Superrr buat hari ini 😉

Disini kita nyobain kerak telor, edisi perdana 😀 Ayu bilang, ini makanan chas Betawi.. 🙂

Rabu, 17 Juni 2015 
- Cikarang & Belum Rejeki -

Deg-degan nunguin hasil, dan.. enggak lulus… Ga rejeki 🙂 Keputusan pulang hari Jum’at siang, mau ke Bogor dan Mobas dulu.. 😉

  • Perdana nyobain Cilok, 1 porsi Rp 5.000,-. Rasanya unik, mirip bakso dikasih kuah kacang, tapi agak manis.
  • Beli minuman dan snack di Indomaret, pencegahan biar ga dehidrasi lagi 😀
  • Ke Mc. D naik angkot merah, ongkos Rp 7.000,-
  • Mc. D menuju Jababeka dengan angkot merah 17, @ Rp 2.500,- tidak sampat 5 menit.
  • Naik angkot merah JBII 17 ke Terminal Cikarang, @ Rp 8.000,-
  • Naik Bus C (Pasar Rebo – Veteran) ber-AC ke Terminal Rambutan, @ Rp 9.000,-
  • Yang mau info Tarif Tol, ini dia I = Rp 8.500,-; II = Rp 10.500,-; III = Rp 12.000,-; IV = Rp 15.000,- dan V = Rp 18.000,-.
  • 17.02 Naik KOPAJA 57 (Kamp. Rambutan – Blok M), ongkos @ Rp 4.000,-
  • 17.05-17.39 Makan makan sore di PGC, saya pesan nasgor + teh es dengan bajet ekonomis Rp 20.000,-.
  • Cuci mata
  • Beli roti unyil
  • 19.49 Naik angkot biru 06 di simpang lampu merah, @ Rp 3.000,-
  • 19.54 Naik angkot biru 16 (Kampung Melayu – Pasar Minggu), @ Rp 3.000,-
  • 19.59 Stasiun Duren Kalibata, beli tiket @ Rp 2.000,-
  • 20.40
Kamis, 18 Juni 2015 
- Menuju Bogor -
  • Kebun Raya Bogor
  • 16.19 Kiri ke Baranangsiang, Pajajaran, Tol Jagorawi. Kanan ke Sukasari, Tajur/Ciawi. Naik angkot hijau stabilo ke Venus
  • 16.56 Naik angkot hijau 09 ke Taman Kencana atau Botani atau Air Mancur, cari tempat kuliner lokal. Akhirnya kita turun di Botani. Seorang ibu-ibu, penumpang angkot yang kita tanya, bilang kuliner khas Bogor adalah Soto Kuning (ada juga yang bilang Soto Bening) dan Sate Pak Haji (terkenal di Air Mancur). Cuma, si Ibu ragu, karena biasanya 3 hari pertama puasa, tempat-tempat kuliner itu tidak buka.
  • 17.07 Botani
  • Soto Ayam, Rp 35.000,-
  • Naik angkot 03 di Botani menuju Stasiun Bogor.
  • Ternyata lagi ada Bogor Umbrella Festival
  • 18.30 Naik angkot menuju Stasiun Bogor, @ Rp 4.000,-
  • 18.46 Stasiun Bogor, Maghrib dulu di mushalla sayap kiri stasiun.
  • 19.20 Commuterline ke Stasiun Citayam, tiket @ Rp 2.000,-
Jum'at, 19 Juni 2015 
- Selamat tinggal Jakarta.. -

Tadinya, kita mau berangkat pukul 9-an ke Bandara Soekarno-Hatta, takut kena macet. Naik angkot sampe Terminal Depok, ntar naik DAMRI-nya disana. Pagi sekali kita udah prepare sekaligus checking pernak-pernik, biar ga ada yang tinggal. Kita udah ready sedari pagi. Eh, ternyata, kita bakalan dianter!! Asiik.. Alhamdulillah.. 🙂

  • 09.00 Beli tiket bus ke Bandara di loket HIBA UTAMA, Terminal Depok, @ Rp 50.000,-. Abis cipika-cipiki, kita langsung naik bus.
  • 09.33 Berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta, bye-bye Jakarta…
  • 11-an Sampai di Termial 2F Bandara Soekarno-Hatta. Ga dimana-mana, kita tetap ngebanyol dan kali ini bukan banyol lagi namanya, tapi wajarlah, namanya juga lagi belajar 😀
  • 12.57 Ruang tunggu, penerbangan kali ini ontime 🙂
  • 15.45 Sampai di BIM, alhamdulillah..
  • 16.55 Sampai di markas, alhamdulillah.. 😉

 

Pending… ntar ceritanya saya perbaiki lagi.. Foto-foto juga menyusul y.. 😉