Tag Archives: Kebun Raya Bogor

Makam Belanda (Dutch Graveyard)

Komplek pemakaman tua ini telah ada jauh sebelum Kebun Raya Bogor didirikan tahun 1817 oleh C.G.C Reinwardt. Bentuk nisan, ornamen dan tulisannya sangat menarik untuk Anda amati.

Disini terdapat 42 makam, 38 diantaranya mempunyai identitas, sedangkan sisanya tak dikenal. Kebanyakan yang dimakamkan disini adalah keluarga dekat gubernur jenderal yang menjabat tahun 1836-1840. Juga makam Mr. Ary Prins, seorang ahli hukum yang pernah dua kali menjadi pejabat sementara gubernur jenderal Hindia Belanda.

Ada pula dua orang ahli biologi yang meninggal tahun 1820-an dalam usia muda dan dikuburkan dalam satu makam. Mereka adalah Heinrich Kuhl dan J.V. Van Hasselt, anggota ‘The Betherlands Commission for Natural Sciences” yang dikirim ke Indonesia untuk bekerja di Kebun Raya Bogor.

Makam tertua di komplek pemakaman ini adalah makam seorang administrator toko obat berkebangsaan Belanda yang bernama Cornelis Potmans, wafat 2 Mei 1784. Sedangkan yang paling baru adalah makam Prof. Dr. A.J.G.H Kostermans yang meninggal tahun 1994. Ia adalah seorang ahli botani terkenal dari Belanda yang menjadi warga negara Indonesia sejak tahun 1958. Kostermans dimakamkan dekat lingkungan tumbuhan yang ia cintai sesuai keinginannya, selain sebagai penghargaan pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya untuk ilmu pengetahuan. Hingga akhir hayatnya, ia bekerja di kantor Herbarium Bogoriense yang terletak di seberang Kebun Raya Bogor.

Dutch Graveyard

This old cemetery was here long before the garden was established by C.G.C Reinwardt in 1817. The gravestones, their ornaments and scripts are quite artistic. There are 42 gravers, in the area; 38 of which supplied the identities of the dead persons. Most of them were relatives of the Dutch colonial governor generals at the time. Among these are the graves of D.J de Eerens a governor general during 1836-1840 and Mr. Apy Prins a lawyer who were twicw the acting governor general.

Here are where two young biologist were in one grave: HeinrichKuhl and J.C. Van Hasselt. They were members of the Netherlands Commission for Natural Sciences who worked t the garden and claimed as the first to climb and reach the peak of Mt. Pangrango in West Java.

The oldest grave in this area is the grave of a Dutch chemist administrator, Cornelis Potmans, …..

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Kebun Raya Bogor, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Advertisements

Kebun Raya Bogor (Bogor Botanic Gardens)

Fasilitas (Facilities)
  1. Gerbang Utama
  2. Pusat Informasi
  3. Museum Zoologi / Zoological Museum
  4. Gedung Konservasi / Conservation Building (Public Education & Exhibition)
  5. Perpustakaan / Library
  6. Wisma Tamu / Guest House
  7. Laboratorium Treeb / Treeb Laboratory
  8. Toko Souvenir / Garden Shop
  9. Pembibitan / Nursery
  10. Pintu II / Gate II
  11. Kantor Pengelola / Main Office
  12. Mesjid / Mosque
  13. Gedung Herbarium & Museum Biji / Herbarium & Seeds Museum
  14. Pintu III / Gate III
  15. Kafe / Cafe
  16. Pembibitan Anggrek / Orchid Nursery
  17. Laboratorium Kultur Jaringan / Tissue Culture Laboratory
  18. Pintu IV / Gate IV
  19. Musholla / Mosque
  20. Pembibitan Reintroduksi & Tumbuhan Langka / Reintroduction & Rare Plants Nursery
Tempat Bersejarah / Interesting Sites
  1. Monumen Lady Raffles / Lady Raffles Memorial
  2. Monumen J.J. Smith / J Smith Memorial
  3. Kolam Gunting / Scissor Pond
  4. Taman Teisjmann / Teisjmann Park
  5. Makam Belanda / Dutch Graveyard
  6. Istana Bogor / Bogor Palace
  7. Jalan Kenari I / Canary Avenue I
  8. Jalan Kenari II / Canary Avenue II
  9. Jembatan Gantung
  10. Jembatan Surya Lembayung / Surya Lembayung Bridge
  11. Jalan Astrid / Astrid Avenue
  12. Griya Anggrek / Orchid House
  13. Taman Lebak Sudjana Kanaan / Sudjana Kanaan Park
  14. Area Outbond / Outbond Area
Koleksi Tanaman / Plants Collection
  1. Koleksi Tumbuhan Obat / Meicinal Plant Collection
  2. Kayu Raja / King Tree
  3. Koleksi Tumbuhan Araceon / Araceon Plant Collection
  4. Bunga Bangkai / Amorphophallus titanum — Bunga Raksasa Dari Sumatera (A Giant Flower From Sumatra)
  5. Rotan / Rattan
  6. Koleksi Pandan / Pandanus Collection
  7. Koleksi Kaktus (Taman Meksiko) / Cactus Collection (Maxican Garden)
  8. Koleksi Palem (Palm Collection)
  9. Koleksi Tanaman Air / Water Plant Collection
  10. Koleksi Anggrek / Orchidarium — Anggrek Raksasa (Giant Orchid)
  11. Koleksi Tanaman Pemanjat / Climbing Plants Collection
  12. Koleksi Paku-pakuan / Fern Collection
  13. Hutan / Wild Corner
  14. Koleksi Kayu Manis / Cinnamomum Collection
  15. Teratai Raksasa / Victoria amaronica
  16. Koleksi Tanaman Kayu / Wood Plant Collection — Kenari Babi (Pig Canary), Pohon Rindang Berbau Mawar (Burmese rosewood), Pohon Saputangan Jambon (Pink Handkerchief Tree), Pohon Tarzan (Gogo Vine)
  17. Koleksi Bambu / Bamboo Collection
Karcis Kebun Raya Bogor
  • Domestik : Rp 15.000,-
  • Manca Negara : Rp 26.000,-
  • Sepeda Motor : Rp 5.000,-
  • Sepeda : Rp 5.000,-

Ini sudah termasuk Museum Zoologi, Retibusi Pemkot Bogor dan Asuransi

Pengumuman

Selama bulan Ramadhan, Pintu IV IPB, Pintu III Pangrango, Pintu II Kantor Pos, dan Pintu Konservasi DITUTUP untuk umum mulai tanggal 18 Juni 2015 dan akan dibuka kembali mulai tanggal 17 Juli 2015. Bagi pengunjung Kebun Raya Bogor dipersilahkan masuk melalui pintu I (depan Pasar Bogor).

Catatan
  • Saat itu saya dan teman-teman terlanjur sampai di Pintu IV. Kita sempat bingung “kok sepi?”, ternyata ada pengumumannya. Akhirnya kita berbelok arah menuju pintu utama dengan menaiki angkot (angkutan kota) berwarna hijau stabilo dengan kode 08. Selain angkot 08, juga bisa menaiki angkot 05.
Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Kebun Raya Bogor, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Kebun Raya Bogor

12.04 Dari Stasiun Bogor, kita naik angkot hijau ngejreng (hijau daun stabilo) 02 (Sukasari-Bubulak).

12.12 Karena suatu hal, kita sempat berhenti dijalan dan naik angkot sekali lagi. Akhirnya, kita sampai di pintu IV, tapi kok sepi?? Jangan-jangan tutup?! Ternyata, ada pengumumannya, cuma pintu I yang buka.

Kita bertanya pada mbak yang ada dikantoran dekat situ. Jadi kita mesti naik angkot 08 atau 05 menuju Pintu I.

Sampai di Pintu I, kita masuk dengan insert @ Rp 15.000,-. Tarif masuk berbeda-beda tergantung kriterianya. Ini dia:

Welcome to Kebun Raya Bogor 😉

Meican sempat meminta kita untuk tidak lanjut kesini, karena sepi.. Tapi, karena saya dan Weni memilih tetap lanjut, dia akhirnya ikut juga dengan enggan 😀

Kebetulan banget nih, kita liat plang Rafflesia Arnoldi.. Tapi sayang, Cuma plang doang, bunganya dicari-cari ga ketemu, huft..

Kita lanjutin perjalanan ke lorong unik yang terbentuk dari dahan pohon bambu yang menyatu, serasa berada di film-film seperti Narnia 😀

Kemudian, saya melihat sekumpulan tugu yang kesannya seperti.. patung-patung di kuburan tertentu! Hm, tidak mungkin.. Tapi memang sih suasana disini kental aura sunyi.. Saya sibuk jepret-jepret, sementara dua teman saya tampak berdiri cukup jauh dari saya dan terkesan mau cepat-cepat pergi dari sini, mereka bicara seperti berbisik dan tampak was-was memperhatikan sekitar. Hm, never mind, saya tetap mengambil beberapa foto dan mulai mendekati bagian informasi tertulisnya, ternyata.. ini.. Makam Belanda!! Tak ingin menyediakan ruang untuk panik, saya optimis tidak ada yang aneh dan tetap mengambil foto sejarah makam ini. Lalu lanjut bergabung bersama Meican dan Weni. Setelah cukup jauh kita berjalan, baru Meican buka suara kalau dia sempat searching dan dapat info bahwa Makam Belanda ini merupakan salah satu tempat yang terangker di Kebun Raya Bogor.. Tapi syukurlah, sejauh ini kita aman.. 🙂 Memang, sekarang saya baru sadar kalau foto-foto tugu yang saya ambil itu hasilnya blur semua, kecuali bagian infonya, hm.. mungkin saya kurang bagus tadi ngambilnya 😉

Ini arah selanjutnya:

Kita sempat mampir di pekarangan sebelah luar Istana Kepresidenan Bogor. Disini udah standby seorang bapak-bapak fotografer, jadi kalau kamu ga bawa kamera ataupun lagi lowbat, ga perlu pusing mendokumentasikannya 😉 Saya sempat bercanda sama si Bapak, nanyain, bisa nggak kita masuk kesana. Si Bapak bilang “Ga bisa atuh neng, kan bapak presiden lagi di kediaman ini sekarang”. 😀 Mungkin si Bapak malah mengira kalau kita-kita ini ngeyel kesini, haha..

Nah, ini dia Danau Gunting.. Kenapa diberi nama demikian? Karena dia berbentuk gunting jika dilihat dari udara. Konon, lokasi ini menjadi salah satu tempat terangker di Kebun Raya Bogor. Katanya nih, danau ini tidak bisa dibersihkan, karena dahulu ada eskavator yang patah, konon ada makhluk halus disana. Ini didukung oleh pengakuan satpam dan petugas kebersihan yang sering melihat penampakan noni Belanda di tengah danau. Namun, saya pribadi juga teman2, merasa adem banget nih disini, suasananya tenang, sejuk dan damai =)

Next..

Capek berjalan, kita menunggu bus keliling yang difasilitasi oleh Kebun Raya Bogor ini. Tapi ditunggu-tunggu, tidak pernah kelihatan. Padahal, awalnya kita pikir mereka tidak beroperasi karena pengunjung sepi, tapi kita sempat melihat ada yang melintas sekitar 2 mobil dengan rentang yang cukup jauh saat kita berkeliling. Sudah cukup lama berdiri disimpang ini, akhirnya muncul satu, tapi mereka tidak mau berhenti, padahal masih banyak tempat yang kosong. Dengan kecewa kita meneruskan perjalanan dengan lunglai. Saking capeknya, saya lebih suka jalan ngeker (tanpa sepatu) dan walhasil kena tusuk duri sawit, bah..

Di sepanjang jalan yang tak jelas ujungnya, kita hanya terus melangkah gontai dan baru merasa diberi angin sorga ketika melihat ada seorang penjada toilet di sisi kiri jalan. Namun, bukannya pencerah, kita malah dapat kabar buruk, bus keliling itu cuma bisa dinaiki di gerbang aja dan tidak akan pernah berhenti di jalan.. “What???” Sempat merasa tak adil, wong tadi kita di gerbang ga liat tuh ada bus itu 😥 Apa boleh buat, kapan lagi marathon seharian begini, lumayan juga nurunin kolesterol 😀

Kita beristirahat cukup lama di bangku depan Pohon Kenari. Setelah saya perhatikan, pohonnya unik, guys.. Buahnya bertebaran di sekitar pohon, bahkan sampai ke sisi jalan dekat tempat kami duduk. Cuma memang, rata-rata yang ditemkan udah membusuk. Mau niatan ambil 1 buat ditanam di rumah, hee.. tapi ga jadi.. Ini dia..

Pernah dengar Jembatan Merah Bogor yang terkenal itu? Nah, ini dia..

Lanjut..

Oya, di mushalla itu, kita liat hari masih sekitar pukul setengah tigaan, jagi kita rehat dulu di beranda depan mesjid. Ada suara gemericik air, dikelilingi oleh pepohonan aneka warna, tenang.. adem.. waaah.. nyaman… Kontan kita guling-gulingan di tembok pelatarannya, waaah.. capek… Mulai ga peduli tuh sama yang lewat, kita mulai mirip tuna wisma deh kayaknya, hee.. Tapi, sesekali kita gemerubuk juga kala ada yang datang, ga enak kalau terlihat tidak sopan 😀 Bahkan, penjaga mesjidnya beberapa kali mondar-mandir ngeliatin kita, mungkin dia heran, gelis-gelis tapi nongkrongnya cak orang gelandangan, hahaa.. Tapi wajarlah dia begitu 😀 Tiap bentar kita liatin jam nungguin waktu Ashar, lama rasanya..

Abis shalat, sekitar jam 4-an, kita go buat beli oleh-oleh khas Bogor. Dari promo Weni nih, disini khasnya Roti Unyil dan Kue Lapis Bogor, abis itu baru deh nyari tempat berbuka, yang ada kuliner khas Bogor juga dong tentunya. Cus..

Beberapa foto memang agak gelap yah.. Ga cuma batrei nih yang low, memori juga full 😀 Kita lama disini rehat sekaligus narsisan juga..

Semangat 45 mau nyari oleh-oleh, rasa penat mulai tersingkir.. Eh, pas kita keluar, sekitar pukul 5-an, sampai di Gerbang I, udah tutup chuy… Pantes sepi banget.. Hallaaa… Kemungkinannya cuma 2, kita terkurung atau mesti lewat pintu lain?! Kalau terkurung mah enggak mungkin bangett.. Tapi kalau pintu keluarnya dialihkan mah bisa jadi.. Kita jalan kesana-kemari menduga-duga. Memang ada plang kluar, cuma disana dibilang untuk kendaraan?! Karena ga ada pilihan, kita ikutin aja jalur exit itu, dan.. kita sampai di Gerbang IV!!! Subhanallah.. perjuangan yang super!!

Menyapa Jakarta

Yang udah stay di Jakarta maklumin, ya.. Ntar bantu koreksi juga kalau ada info yang ga bener. Ini skaligus dishare buat yang perdana (yah, boleh dibilang pemula) di Jakarta 😉 Sayangnya nih, catatan yang udah sangat detail saya kemas, terdelete otomatis dari aplikasinya, fiuh.. apes.. Tapi ga papa, masih ada sedikit yang bisa dipublish 😉

Jum'at, 12 Juni 2015
- Mendadak ke Jakarta -

Pagi ini, libur panjang tanpa batas mulai diakhiri secara mendadak, yah, dini hari saya dapat SMS panggilan kerja ke Jakarta. Harusnya ini berkah, tapi karena jauh.. dalam waktu yang mepet begini, bajet yang mesti dikeluarkan… arrrgh… saya tidak punya pilihan, cut aja, semoga ini yang terbaik. Eh, paginya Meican malah menggoyahkan benteng itu, walhasil, kudu konfirm juga sama ortu, and yes.. I should go to Jakarta this afternoon.. Hoaaahm, bahkan untuk beli tiketpun mesti menempuh seabrek kerumitan pula.. pake acara hujan lebat.. ATM errorr semua, hadeeeh.. ternyata nomer rekeningnya yang kurang 1 digit, gubrak!! Untung Unjut always siaga membantu, thanks Unjut.. 😉

Antara mau dan nggak mau, saya mulai packing. Huft, hari semakin siang dan sayapun mulai panik, sikap masa bodo tadi menguap entah kemana, mengingat saya beneran ke Jakarta, lho.. “Lu kate pergi mejeng?? Ini ujian tau!! Buruan, packing yang apik!!” Gebrak-gebruk.. pusing.. apa aja nih yang dibawa?? Hadeuh, ga ada persiapan mau ujian lagi.. Rempong… 😥

Demi mendapatkan tiket paling ekonomis, kita, saya dan Meican, beli tiket keberangkatan pukul 21.20 WIB; dan kita udah kontak Weni, teman kita, sesama geng gaje, yang sekarang stay di Jakarta, tempat sodaranya, alhamdulillah kita bisa nginap disana 🙂 Ntar ujiannya bakal gabung juga sama Ojik, Cilot, Sisce, Rani dan Choomee.

Sayangnya, perjuangan saya ga cuma sampe rempong ngurusin tiket, tapi juga seterusnya dan seterusnya.. Kita berangkat cepat ke BIM (Bandara Internasional Minangkabau), demi mengejar waktu, sebenernya enggak juga sih, cuman.. takut telat aja, udah gitu akses ke BIM juga cukup jauh. Untung aja iparnya Meican mau nganterin kita, so kita ready aja di BIM sampe abis Isya, bis tu check in dan nongkrong semumetnya di ruang tunggu 😀

Saya sempat aneh, pesawat sebelum kita harusnya berangkat jam 8-an, tapi udah jam 21.00 kok penumpangnya masi berdiri di depan pintu yang belum dibukakan?? Hm, mungkin delay, moga aja ntar kita aman.. Sambil nunggu, kita cerita-cerita sama penumpang lainnya dan ketemu sama bule bernama Juliah yang sempat tampak bingung dengan nomer tiketnya. Nah, lho.. tuh kan… udah ada broadcast yang nyebutin penerbangan kita, seantero ruang tunggu langsung berdiri, sibuk mengemas bawaannya, dan…. sayang berakhir tertegun, ternyata broadcast itu menyiarkan pesawat kita delay sampe pukul 22.00 WIB, chuy… hadeuuh… Kita langsung ngubungi Weni, aduh, beneran ga enak banget sama Weni, dia udah nongkrongin Bandara Soekarno-Hatta sedari menjelang Maghrib cuma buat nungguin kita.. Onde mande, udahlah numpang, ngerepotin pula.. Oh, God…

Tak lama, datanglah snack, sepertinya secara tidak langsung sebagai permintaan maaf maskapai ini karena delay.. Yah, OK-lah.. Tapi, snack ini langsung bikin semua ketawa heboh kala si Bapak-bapak membanyol sambil menelan ludes snack itu dalam sekejap, hahaa.. Ada juga hikmahnya.. Sementara ini, saya nyari-nyari teman di Jakarta yang bisa fasilitasi kita, tapi no one (kecuali Weni).

Pesawat datang dan kita cus, terbang ke Jakarta dan saya mau bilang “Jakarta… I’m comiiiing….”. Baru sadar setelah Uda (panggilan laki-laki di Minangkabau) yang duduk di sebelah saya bilang kalau kita berangkat pukul 23.00 WIB, “onde maaaak.. Weni…..!!! maafkan kami… 😥 “. Demi prinsip ekonomis akhirnya bikin susah nih.. Nasib kita kali ini tak secantik pemandangan cahaya di luar sana, mulai gaduh menjelang tiba di Jakarta.. Tapi ya sudahlah, udah terjadi, pelajaran nih, selanjutnya kalau mau berangkat maunya siang aja, tapi.. namanya juga dadakan.. inilah tantangannya 😀

Sabtu, 13 Juni 2015
- Survey Tempat -

Kita sampai di Jakarta sekitar pukul 01.00 WIB. Tampak Weni masih hangat menyambut kedatangan kami, padahal udah setengah hari lebih dia nongkrong disini… Masih ada lagi nih untungnya, kita ga pake bagasi, jadi bisa langsung go.

Weni bilang DAMRI udah ga ada, karena jam operasionalnya cuma sampe pukul 00.00 WIB. Jadi, mau ga mau, kita harus nyari Taxi, dan inipun pake insiden-insidenan pula. Ibu yang kita kenal di ruang tunggu, beda arah sama kita, mau dibantuin nyari Taxi dia ga mau, tapi mau ditinggal sendiri juga dia ga ada yang bakal jemput. Abis kita deal naik Taxi, si Ibu malah pergi gitu aja, padahal kita khawatir juga, tapi kita juga ga bisa stay disini buat bantuin dia. Yah, apa boleh buat..

Kita lewat tol dan bayar Rp 14.000,-. Terus, sekitar jam 2-an, kita sampe di Citayam (Weni bilang, bacanya Citayem), markas Weni. Bajet Taxi kesini Rp 250.000,-. Harga yang cukup fantastis jika saat ini saya masih di Padang 😀

Tak butuh waktu lama untuk kita meneparkan diri, capeeeek… Ga berasa ya, kita udah di Jakarta.. 🙂 Saking capeknya, kita baru bangun sekitar pukul 8 pagi. Shalat Subuh….!!! Hadeh, ini Subuh apa Dhuha?! :3

Hmm, sekarang masih Sabtu.. sementara ujiannya besok, apaan nih agenda kita buat hari ini?? Hayok kita tanya Weni 😉 Dan, agendanya inspeksi lokasi tes. Sekitar jam 10-an, kita pergi ke Stasiun Citayam diantar keluarga Weni, bener-bener sesuatu banget, Weni sekeluarga emang baik bangett.. Ntar kita bakal naik yang namanya Commuterline, first edition buat kita 🙂 Weni bilang, jalur 1 itu menuju Jakarta dan jalur 2 menuju Bogor. Kita cuma bisa ngangguk-ngangguk doang secara masih ambigu ketemu suasana baru, sang kota metropolitan..

Masing-masing kita dikasih kartu sama Weni. Kartu ini berlaku selama seminggu dengan uang jaminan @ Rp 10.000,-, kita juga bisa menukarkan kartu ini kembali dengan uang. Kalau ditanya ongkos, cukup ekonomis, @ Rp 3.000,-. Jadi, total duit yang kita keluarkan di stasiun ini @ Rp 13.000,- 😉 Sebelumnya kita mesti check in dulu, kartu tadi ditempel di bagian tempat kartu (berwarna kuning, sistemnya mirip scaning), kalau lampunya hijau (yang ada checklistnya), udah bisa lanjut; tapi kalau lampunya merah (ada tanda silang), berarti gagal, tapi kamu ga usah panik, ntar dibantuin kok sama petugas yang standby disekitar sana. Rute kita ini nih “Stasiun Citayam – Stasiun Depok – Stasiun Depok Baru – Stasiun Pondok Cina – Stasiun UI – Stasiun Univ. Pancasila – Stasiun Lenteng Agung – Stasiun Tanjung Barat – Stasiun Pasar Minggu – Stasiun Pasar Minggu Baru – Stasiun Duren Kalibata – Stasiun Cawang – Stasiun Tebet – Stasiun Manggarai – Stasiun Cikini”. Lama perjalanan sekitar 20 menit.

Sampai di Stasiun Cikini, kita check out baru lanjut nyari transportasi ke Salemba. Akhirnya kita naik Bajaj, yuhu… Kita kena Rp 15.000,-.

Waaaah, ini dia nih… Ga nyangka, selama ini dengar nama doang, ga taunya nyampe juga disini, panggilan kerja lagi.. 😀 Alhamdulillah.. Saking gede lahannya, kita jadi pusing nyariin lokasi pastinya. Baru deh nyampe, setelah nanya kesana-kemari 🙂

Mulai laper nih, waktunya makan.. Tapi dimana ya bagusnya?! Hm, pokoknya, apapun, kita ngomong sama Weni, coz berasa bego rasanya, pinjem quotenya Meican “Asing di negeri asing” 😀 So, keputusannya ntar kita makan di Depok 😉 Sekarang kita naik Bajaj lagi ke Stasiun Cikini dengan ongkos yang lebih mahal, Rp 20.000,-.

Udah kenyang, muter kemana-mana, walhasil cedera nih kaki.. Saking ga nyamannya, Meican beli sandal jepit dan langsung mengenakannya. Sementara Weni belum ketemu sandal yang dia cari. Dalam sikon begini, memang tidak bisa menggunakan sepatu yang formal ataupun semi formal, pegal berat kaki jadinya..

Setelah ini kita pulang, ga kuat lagi mondar-mandir 😀 di Stasiun Depok, kita beli tiket @ Rp 3.000,- menuju Stasiun Citayam. Sampai di Citayam, kita naik ojek ke markas Weni, @ Rp 10.000,-.

Minggu, 14 Juni 2015 
- Ujian & Mejeng ke Ancol-

Pagi sekali kita udah ready nak berangkat ke lokasi ujian. Kali ini kita naik angkot menuju Pasar Citayam, berjalan sedikit untuk sampai di Stasiun Citayam. Beli tiket @ Rp 3.000,-; check in, naik Commuterline, turun di Stasiun Cikini, naik Bajaj. Lucunya, kali ini kita cuma bayar Bajaj Rp 10.000,-?! Variatif juga ya ongkosnya… 🙂

Oya, sewaktu di Commuterline tadi, suasana berangkat kerja kan bikin transportasi always rame, tapi kita masa bodoh aja, tetap sibuk membahas soal apa yang kira-kira bakal keluar. Eh, tiba-tiba ada Bapak-bapak yang mempersilakan kita duduk dan beliau langsung berdiri tanpa menunggu respon kita. Setelah beberapa Stasiun, akhirnya kita bertiga bisa sama-sama duduk. Ada yang menarik disini, seorang penumpang, perempuan yang masih muda, yang duduk tepat disamping kanan Meican, tampak bercakap-cakap dengan Meican, saya dan Weni kaget, tak menyangka ternyata Meican bertemu temannya disini, padahal udah sedari tadi diam-diaman aja. Eh, ternyata bukan… dia seseorang yang sangat mengapresiasi tinggi profesi kami, Subhanallah.. 🙂 Dia mengonfirmasi beberapa informasi pada Meican dan dengan lugas Meican menjelaskan. Saya dan Wenipun akhirnya turut berdiskusi dengannya. Menyenangkan rasanya, waktu-waktu yang spesial 🙂

Waktunya ujian, semakin lama semakin ramai orang datang dari berbagai penjuru. Yang tadinya kami pikir kami kepagian, ternyata sebaliknya.. Kita gabung sama 5 teman lainnya ditambah dengan Lila. Tingkat stres semakin meningkat kala waktu ujian molor dan khalayak makin rame 😀

Lewat jam 9 (waktu di jadwal jam 8), kita akhirnya mulai ujian. Kebetulan yang ga enak, 8 teman saya duduk berdekatan, sementara saya terpencil sendiri di depan, hadeeh.. Tapi it’s OK lah.. Soalnya mudah tapi menjebak, huft.. Abis ujian kelar, kita masih saja sibuk berdebat, sampai akhirnya rasa lapar yang maju menengahi. Bukan cuma itu, kita lagi nyari tempat tinggal untuk teman lainnya, sementara fasilitas benar-benar minim, sulit mencari seseorang yang bisa memberikan bantuan tepat pada waktunya. Sembari berpikir, kita pergi ke Ancol merilexkan pikiran.

Kita ke Ancol naik Busway, tadinya saya udah punya kopek-an nih rutenya apa aja sampe transit dimana, tapi.. sudah terhapus guys.. 😥

Kita makan dulu, saya pesan nasi goreng. Yah, nasi pulen.. Serasa nyangkut ditenggorokan.. Bukannya masakannya yang ga enak, tapi saya memang sedikit sulit beradaptasi dengan nasi pulen, sekalipun suka dengan nasi lembek 😀

Ternyata masalah penginapan menjadi tranding topic kita saat ini dan sulit mencari kata sepakat. Ujung-ujungnya, kita terbagi 2. Saya, Weni, Meican, Lila dan Rani melancong ke Pantai Ancol; sementara yang lain sibuk memfixkan tempat berteduh.

Merasa cukup sekedar menyapa Pantai Ancol, kita berencana pulang. Sempat bikin tingkah banyol sama mesin minuman, hahaa.. Ada-ada aja.. Terus, kita selalu ketinggalan bus, giliran busnya ada, malah penuh.. Beda banget pas pertama kali mau kesini tadi, kita malah ga tau kalau nunggu busnya di sayap kanan sana, hahaa..

Ini rute Busway kita yang sempat nyasar, karena Weni lupa jalurnya 😀 Halte Ancol – Halte Pademangan – Halte Mangga Dua – Transit – Halte Jembatan Merah – Halte Gonden Truely – Halte Budi Utomo – Halte Pal Putih – Halte Kramat Sentiong NU – Halte UI (Universitas Indonesia) – Halte Slamet Riadi – Halte Salemba Park UI – Halte RS Premier – Halte BNI – Halte Bidara Cina – Halte Gelanggang Remaja – Halte Cawang Otista – Halte BNN – Halte Cawang UKI (Universitas Kristen Indonesia) – Halte BKN –Halte PGC

Kita mampir dulu ke PGC. Weni pamer burger kesukaannya dan ternyata kita juga malah ikutan setelahnya 😀 Lalu naik KOPAJA 57 menuju Stasiun, @ Rp 3.000,-. Lanjut pulang pake Commuterline, @ Rp 3.000,-.

Senin, 15 Juni 2015 
- Melancong ke Tanah Abang -

Agendanya:

  • Naik angkot ke Pasar Citayam, @ Rp 3.000,-
  • Naik Commuterline dari Stasiun Citayam ke Stasiun Tanah Abang, @ Rp 3.000,-.
  • Rutenya: Stasiun Citayam – Stasiun Depok – Stasiun Depok Baru – Stasiun Pondok Cina – Stasiun UI – Stasiun Univ. Pancasila – Stasiun Lenteng Agung – Stasiun Tanjung Barat – Stasiun Pasar Minggu – Stasiun Pasar Minggu Baru – Stasiun Duren Kalibata – Stasiun Cawang – Stasiun Tebet – Stasiun Manggarai – Stasiun Cikini – Stasiun Manggarai -Stasiun Cililitan – Stasiun …… – Stasiun Tanah Abang
  • Makan dan cuci mata 😀 Ga berasa udah seharian!!! Rame banget… gilaa… kita aja sampe berdesak-desakkan cak nak ngantri sembako 😀
Selasa, 16 Juni 2015 
- TMII "Snow Bay" -

Kita ceritanya mau ke Dufan awalnya, tapi gegara kemaren, kayaknya.. cari yang lebih ekonomis.. Untunglah Ayu, adeknya Weni, punya solusi. Kita ke Snow Bay ntar mumpung lagi diskon 😀 Seharian kita seru-seruan disana. Saya dan Ayu nekad berseluncur dari tempat yang paling tinggi dan gelagapan nyampe dasar 😀 Terus, saya sama Weni sempat terbalik dari balon dan saling berbenturan. Apesnya, duit saya ilang nih Rp 50.000,- saking paranoidnya kehilangan kunci loker 😀 Pokoknya banyak deh, Superrr buat hari ini 😉

Disini kita nyobain kerak telor, edisi perdana 😀 Ayu bilang, ini makanan chas Betawi.. 🙂

Rabu, 17 Juni 2015 
- Cikarang & Belum Rejeki -

Deg-degan nunguin hasil, dan.. enggak lulus… Ga rejeki 🙂 Keputusan pulang hari Jum’at siang, mau ke Bogor dan Mobas dulu.. 😉

  • Perdana nyobain Cilok, 1 porsi Rp 5.000,-. Rasanya unik, mirip bakso dikasih kuah kacang, tapi agak manis.
  • Beli minuman dan snack di Indomaret, pencegahan biar ga dehidrasi lagi 😀
  • Ke Mc. D naik angkot merah, ongkos Rp 7.000,-
  • Mc. D menuju Jababeka dengan angkot merah 17, @ Rp 2.500,- tidak sampat 5 menit.
  • Naik angkot merah JBII 17 ke Terminal Cikarang, @ Rp 8.000,-
  • Naik Bus C (Pasar Rebo – Veteran) ber-AC ke Terminal Rambutan, @ Rp 9.000,-
  • Yang mau info Tarif Tol, ini dia I = Rp 8.500,-; II = Rp 10.500,-; III = Rp 12.000,-; IV = Rp 15.000,- dan V = Rp 18.000,-.
  • 17.02 Naik KOPAJA 57 (Kamp. Rambutan – Blok M), ongkos @ Rp 4.000,-
  • 17.05-17.39 Makan makan sore di PGC, saya pesan nasgor + teh es dengan bajet ekonomis Rp 20.000,-.
  • Cuci mata
  • Beli roti unyil
  • 19.49 Naik angkot biru 06 di simpang lampu merah, @ Rp 3.000,-
  • 19.54 Naik angkot biru 16 (Kampung Melayu – Pasar Minggu), @ Rp 3.000,-
  • 19.59 Stasiun Duren Kalibata, beli tiket @ Rp 2.000,-
  • 20.40
Kamis, 18 Juni 2015 
- Menuju Bogor -
  • Kebun Raya Bogor
  • 16.19 Kiri ke Baranangsiang, Pajajaran, Tol Jagorawi. Kanan ke Sukasari, Tajur/Ciawi. Naik angkot hijau stabilo ke Venus
  • 16.56 Naik angkot hijau 09 ke Taman Kencana atau Botani atau Air Mancur, cari tempat kuliner lokal. Akhirnya kita turun di Botani. Seorang ibu-ibu, penumpang angkot yang kita tanya, bilang kuliner khas Bogor adalah Soto Kuning (ada juga yang bilang Soto Bening) dan Sate Pak Haji (terkenal di Air Mancur). Cuma, si Ibu ragu, karena biasanya 3 hari pertama puasa, tempat-tempat kuliner itu tidak buka.
  • 17.07 Botani
  • Soto Ayam, Rp 35.000,-
  • Naik angkot 03 di Botani menuju Stasiun Bogor.
  • Ternyata lagi ada Bogor Umbrella Festival
  • 18.30 Naik angkot menuju Stasiun Bogor, @ Rp 4.000,-
  • 18.46 Stasiun Bogor, Maghrib dulu di mushalla sayap kiri stasiun.
  • 19.20 Commuterline ke Stasiun Citayam, tiket @ Rp 2.000,-
Jum'at, 19 Juni 2015 
- Selamat tinggal Jakarta.. -

Tadinya, kita mau berangkat pukul 9-an ke Bandara Soekarno-Hatta, takut kena macet. Naik angkot sampe Terminal Depok, ntar naik DAMRI-nya disana. Pagi sekali kita udah prepare sekaligus checking pernak-pernik, biar ga ada yang tinggal. Kita udah ready sedari pagi. Eh, ternyata, kita bakalan dianter!! Asiik.. Alhamdulillah.. 🙂

  • 09.00 Beli tiket bus ke Bandara di loket HIBA UTAMA, Terminal Depok, @ Rp 50.000,-. Abis cipika-cipiki, kita langsung naik bus.
  • 09.33 Berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta, bye-bye Jakarta…
  • 11-an Sampai di Termial 2F Bandara Soekarno-Hatta. Ga dimana-mana, kita tetap ngebanyol dan kali ini bukan banyol lagi namanya, tapi wajarlah, namanya juga lagi belajar 😀
  • 12.57 Ruang tunggu, penerbangan kali ini ontime 🙂
  • 15.45 Sampai di BIM, alhamdulillah..
  • 16.55 Sampai di markas, alhamdulillah.. 😉

 

Pending… ntar ceritanya saya perbaiki lagi.. Foto-foto juga menyusul y.. 😉