Tag Archives: -Medan

Pemberian Nama di Berbagai Negara

Ada pepatah lama yang mengatakan “apalah arti sebuah nama”. Padahal, untuk memberi sebuah nama saja bukanlah sesuatu yang mudah, bukan? Berikut berbagai tata cara pemberian nama di berbagai negara. Check it out..

Indonesia

Dimulai dengan negara tercinta, Indonesia. Bangsa yang kaya akan budaya ini memiliki banyak tata cara pemberian nama, diantaranya:

  • Sumatera Barat (Padang)
    • Pemberian nama di Sumatera Barat sangat variatif, biasanya diakhiri dengan nama orang tua laki-laki. Contoh: Nola Asril. Format: (nama) (nama orang tua laki-laki).
    • Khusus untuk laki-laki, setelah mendapat gelar adat, namanya berubah sesuai dengan gelar yang diberikan oleh kaumnya, contoh: Datuak (Dt.), Sutan (St.), dll.
    • Pemberian nama untuk perempuan yang paling familiar adalah Puti (berarti putri), Siti, dll.
  • Ambon
    • Format: (nama) (nama keluarga). Contoh: Elisabeth Leatemia.
    • Setelah menikah, nama keluarga diganti dengan nama keluarga suami atau dipindahkan ke belakang setelah nama keluarga suami.
  • Medan
    • Pemberian nama biasanya diakhiri dengan marga atau nama keluarga (family/sure name) seperti: Ginting, Siregar, Tarigan, dll.

Filipina

Sedikit mengulas tentang Filipina, negara dengan ibu kota Manila ini memiliki 3 bahasa, yaitu: Tagalog (bahasa asli), Spanyol (bahasa harian/informal) dan Bahasa Inggris (bahasa sopan/formal). Karenanya, pemberian namapun ada yang diadopsi dari negara asal pemilik bahasa tersebut.

  • Secara umum
    • Formatnya: (nama) (singkatan nama ibu). (nama keluarga).
    • Contoh: Mary Grace E. Ducos.
  • Format formal atau bahasa tulisan.
    • (nama keluarga), (nama) (nama ibu).
    • Contoh: Ducos, Mary Grace Edica.
  • Setelah menikah, nama keluarga perempuan (istri) diganti dengan nama keluarga suami.
    • Format: (nama) (nama keluarga) (nama keluarga suami) (nama ibu, boleh dihilangkan).
    • Contoh: Mary Grace Ducos Antonio.
    • Nama ini berubah dalam bahasa formal menjadi Mary Grace E. Ducos-Antonio dengan format: (nama, singkatan nama ibu). (nama keluarga) (nama keluarga suami).
    • Nama panggilan di keluarga dan teman dekat berbeda dengan umum, contoh: untuk nama Grace (umum) dipanggil Kae atau Kaye (dibaca: Key).

Jepang

  • Secara umum, formatnya: (nama keluarga) (nama).
  • Setelah menikah, nama keluarga diambil dari nama keluarga istri atau suami, dipilih salah satunya.
  • Catatan: Saat ini, nama keluarga untuk orang jepang banyak yang sama, meskipun mereka tidak saling mengenal satu sama lain.

Vietnam

  • Secara umum, format pemberian nama di Vietnam adalah (nama)(nama keluarga).
  • Setelah menikah, nama tidak berubah.

Referensi

  • Dishare oleh Nola, Sano san, Grace, Lisa pada 19 Januari 2017. Tokushima.
  • Fatma dan Ien via sharing pada Januari 2017. Tokushima.

Catatan

  • Nama = First name atau name
  • Nama keluarga atau marga = Sure name atau family name atau last name.
  • Nama ibu (khusus Filipina) = Middle name.
  • Nama keluarga suami = Sure name of husband.

Lain-lain

Advertisements

“RAHMAT” INTERNATIONAL WILDLIFE MUSEUM & GALLERY

Disini terdapat 5.000 koleksi binatang, mulai dari binatang langka hingga yang kita temukan sehari-hari; ada harimau putih, kucing emas, hingga nyamuk! Tidak hanya itu, di tempat ini juga tersimpan aneka penghargaan, foto-foto, dan aneka koleksi lainnya dari seorang Rahmat Shah (pemilik museum & gallery ini, juga orang tua laki-laki dari artist cantik Raline Shah).
Insert masuk untuk dewasa Rp 32.000,-. Ini sudah termasuk Night Safari Pass, gambaran hutan di malam hari lengkap dengan efek suara; kita bakal masuk ke sebuah ruangan yang dibuat menyerupai goa, di awal masuk ada suara-suara binatang buas menggaung ke seluruh ruangan, di dalamnya terdapat banyak satwa. Museum & Gallery ini buka pada hari Selasa s/d Minggu, pukul 09.00-17.00 WIB.

Nah, lho… Ini hanya sebagian kecil dari koleksi yang ada disini. Tidak hanya sekedar tempat rekreasi, menurut saya, disini juga ladang ilmu.. Ini semakin meyakinkan ketika Dewi (yang ngajakin saya kesini) mengatakan bahwa rata-rata pengunjung tempat ini adalah anak sekolahan 🙂

Timun Aceh

Sewaktu di Medan, saya sempat menemani Ni Upik ke Pajak (bahasa Medan untuk pasar) Simpang Limun. Disini Ni Upik sibuk memilah-milah sesuatu yang mirip timun, tapi dengan ukuran lebih besar?! Ternyata, ini namanya Timun Aceh. Ni Upik berencana bikin takjil dari ini ntar. Jadi penasaran?!..

Sayangnya, timun yang Ni Upik beli masih muda, jadi belum berlemak, masih keras.

Walhasil, beliau menunda bikin takjil ini untuk besoknya. 1 timun ini dibeli dengan harga Rp 10.000,-.

  •  Bahan:
    • Timun aceh yang sudah merekah (matang)
    • Santan
    • Gula aren
    • Garam secukupnya
    • Sirup aceh
  • Cara:
    • Masak santan bersama gula aren hingga matang.
    • Tambahkan garam secukupnya.
    • Tuangkan ke dalam mangkok.
    • Belah timun aceh, kerok dagingnya dan tambahkan ke dalam mangkok yg telah diisi dengan kuah santan.
    • Siap disajikan.
  • Catatan:
    • Untuk menambah manis, bisa ditambahkan sirup aceh.
    • Timun aceh yang muda masih keras, itu sebabnya pilih yang merekah. Ni Upik bilang, berlemak timunnya 🙂
    • Rasanya mirip kolak labu, tapi lebih khas.

Timun Aceh, Masakan Ni Upik, Makanan/Takjil Medan, Sumatera Utara

Medan (Part 1)

Kalau dulunya pergi ke Medan cuma gurauan, sekarang real.. 🙂 Jadi, di hari Jum’at, saya dan Unjut pergi inspeksi area loket ALS yang di Padang. Akhirnya ketemu di By Pass, alamat lengkapnya di Jl. By Pass No. 16 Lubuk Begalung Km 6, Telp. 0751-776229. Alamat loket ALS yg di Medan ini: Jl. S. M. Raja Km 6,5 telp. 061-7866685.

Ceritanya, saya mengambil Bus Executive, bajetnya Rp 220.000,- berangkat hari Minggu dan duduk di bangku no. 4, paling depan di belakang sopir 😀 Tapi, saya ga bayar lunas, kasih DP dulu Rp 120.000,-, ntar sisanya pas mau berangkat aja 😉

Minggu, 28 Juni 2015
Medan..
  • Jam 11-an dari Tabing naik angkot putih ke Pasar Raya, naik angkot merah Indarung turun di By Pass, naik angkot ungu turun di loket ALS cabang Padang.
  • 12.30 sampai di loket ALS, saya melunasi panjar dulu.. Baru perhatiin kalau di loket ini juga ada cafetaria, ruang istirahat dan kamar mandi.
  • Jam 15-an baru berangkat.. Hadeuh, ngaret nih.. 😦
  • 15.56 Simpang By Pass. Onde… mobilnya meliuk-liuk cak ular euy.. Saya tanyain Rosa, yang duduk di sebelah saya, “Sa, kemaren seperti ini juga busnya sewaktu menuju Padang?”, ceritanya Rosa baru kali ini ke Padang mau kuliah dan ini kali kedua dia naik bus ini. Dia juga heran, kemaren busnya jalannya biasa aja, ga seperti sekarang.
  • 17.30 Padang Luar, Bukittinggi.
  • 17.58 loket ALS Bukittinggi.
  • 18.08 Rumah Makan Madina-Sanjai. Kali ini saya pesan nasi pake sambal ayam goreng sambal, bajetnya Rp 20.000,-. Terus, disini juga sedia cas hp lho.. Rp 2.000,-/hp. Ada mushalla dan toilet juga.
  • 19.15 berangkat..
  • 20.20 Gerbang Pasaman..
  • 02.42 Sebuah pasar di Panti, Kec. Panti
  • 22.07 Sebuah pasar di Rao. Rosa mulai mabuk perjalanan, sesekali saya juga dengar gejala yang sama dari belakang.
Senin, 29 Juni 2015
on the way..
  • 01.30 Rumah Makan Sidempuan. Saya pesan nasgor (nasi goreng) + teh manis hangat 2 bungkus, kena Rp 20.000,-. Terus, ada yang nawar-nawarin salak, katanya ini khas Sidempuan, saya beli 1 renjeng yang harga awalnya Rp 32.500,- menjadi Rp 24.000,-. Disini busnya ganti sopir dan navigator, mulai deh low-normal motion.. 😀
  • 05.30 Mesjid Al-Jihad, Tarutung. Karena mau menuju pintu depan ramai, saya mencoba lewat di pintu belakang, dan… berserahakan material-material mabuk perjalanan dari sayap tengah, ditutupi dengan koran. Komentar dari penumpang lainnya sama, bus semalam terlalu meliuk-liuk.. =D Tapi lama-lama, saya mulai terbiasa dan menyukainya. Dia memang meliuk-liuk tapi tetap konstan, serasa sedang main boom-boom car, haha..
  • 06.32 Siborang-borang, dingin berkabut..
  • 08.00 Rumah Makan di  Prapat. Disini ada toiletnya juga,  bayar Rp 2.000,-.
  • …. Danau Toba.
  • …. Tebing Tinggi, Sei Bamban, dodol khas Pasar Bengkel.
  • 10.00 Timbangan Siantar
  • 10.17 Loket ALS di Siantar
  • 12.41 Jl. Serdang, Perbaungan
  • 12.47 Kab. Deli Serdang
  • 13.18 Gerbang Kota Medan
  • Sekitar pukul 13.30 sampe di loket ALS Medan dan dijemput Da Un.
  • 14.00 Welcome Medan.. welcome Da Un humz, ketemu sama Ni Upik dan Dewi, istri dan anak Da Un.
Selasa, 30 Juni 2015
Pesawat Hercules jatuh di Jl. Jamin Ginting

Sekitar jam 12.15 WIB, Dewi histeris menyerukan Pesawat Hercules jatuh di Jl. Jamin Ginting.

Rabu, 01 Juli 2015 
Tukam, survey lokasi ujian..
  • 08.31 go tukam (Bahasa Medan untuk melayat). Sambu belok kanan dari Jl. Meteorologi, Manju tempat belanja murah, arah ke kota, Sentral. Nano Rambe ke kiri, kampung-kampung. Beli jilbab murah di pajak (pasar) ikan.
  • 9.20 mesjid raya, ramadhan fair, lurus kolam renang, belok kanan uki (pusat belanja, market)
  • 09.26 Jl. Jeparis, naik bajaj dengan bajet Rp 5.000-
  • 10.52 Naik angkot kuning 53, ongkos @ Rp 2.000,-
  • 10.56 Pasar Sukarame, beli timun aceh Rp 10.000,- (1 batang) untuk takjil
  • 11.04 Angkot merah 131 Simbolon
  • 11.12 Telaga Sari, tempat main bola
  • 11.37 Simpang lampu merah
    • angkot kuning merah 97 ke Lubuk Pakam
  • 11.40 naik angkot kuning 17, @ Rp 2.000,-
Kamis, 02 Juli 2015
Ujian..
  • Ujian berangkat sekitar pukul 06.30 bareng Dewi, lewat lokasi jatuhnya Pesawat Hercules, ketemu Malvin, Rio dan Vina. Ujian sampe sore, soalnya bejibun. Pulang dijemput dewi. Pulang sore, sekitar 30 menit menjelang berbuka. Ketemu da Ikal.
Jum'at, 3 Juli 2015
Oleh-oleh "Kerupuk Mie" & Tiket
  • 09.57 angkot kuning  25, @ Rp 5.000,-
  • 10.28 Beli tiket ALS Medan-Padang, ongkos naik 20% terhitung hari Minggu dan saya termasuk deretan nama-nama perdana yang menikmati kenaikan tarif tersebut, jadi kali ini mesti merogoh kocek Rp 260.000,-
  • 10.35 angkot kuning 64 ke Pajak Simpang Limun, @ Rp 3.000,-
  • 10.45 Pajak Simpang Limun
  • 11.13 angkot biru 36
  • 11.32 Jl. Meterologi
  • 11.34 Sampai di rumah Uni.
Sabtu, 4 Juli 2015
Bukbar & Reuni Keluarga "Kolega Di Rantau Medan"

Pagi bikin kue bawang bareng uni. Sore ke Carefour bareng dewi, bukbar di PH. Lanjut reuni keluarga.

Minggu, 5 Juli 2015
Medan-Padang
  • 06.00 Saya dan Dewi pergi ke Toko Zulaikha, beli oleh-oleh bika ambon
  • 10.30 Berangkat ke loket ALS di Amplas
  • 12.20 Berangkat..
  • 12.24 Amplas, lewat jembatan layang
  • 12.33 Tanjung Merawa
  • 12.50 Bundaran, Lubuk Pakam
    • Belok ke kiri jalan menuju Bandara Kuala Namu
  • 13.00 Perbaungan
  • 13.12 Perbaungan Bengkel, disini pusat oleh-oleh dodol. Sebut Bengkel saja, orang sekitar sudah tau kalau itu Perbaungan Bengkel.
  • 13.34 Serdang Begalai, Sei Rampah
  • 14.00 Loket ALS di Tebing Tinggi
  • 15.07 Pematang Siantar
  • 15.15 Loket ALS di Pematang Siantar
  • 16.10 plang Danau Toba
  • 17.30 Terminal Sosor Saba Prapat
  • 18.00 Sebuah Rumah Makan di Prapat, buka puasa dan makan malam disini.
  • 19.08 Go..
  • 19.48 Jl. Sisingamangaraja, Porsea, Tobasa
  • 20.11 Jl. Sisingamangaraja,  Laguboti, Kel. Toba Samosir
  • 20.22 Jl. Sisingamangaraja, Balige
  • 20.25 Loket ALS di Jl. Patuan Nagari, Balige
  • 20.37 Go..
  • 21.20 Loket ALS di Siborang-borang
  • 21.58 Terminal Tarutung
Senin, 6 Juli 2015 Apes & Hikmah
  • 01.12 Kota Padang Sidempuan
  • 03.40 Loket ALS di Kotanopan, sahur di Rumah Makan di sebelahnya. Saya pesan Soto Medan pake nasi, bajet Rp 15.000,-.
  • ………. Nunggu perbaikan Bus, pernya patah. Nunggu tukang las. Ngecas HP di konter sebelahnya, @ Rp 3.000,-.
  • Menurut banyak sumber, diperkirakan bus ini akan beroperasi kembali paling cepat jam 10 dan menempuh waktu sekitar 6 jam lagi menuju Padang.
  • 08.30 Lewat Bus ALS Super Executive dan yang mau transit menambah duit @ Rp 100.000,-. Hampir separo dari kami yang pindah, terutama yang diburu waktu, termasuk Ibuk yang sebelumnya duduk disamping saya, beliau besok mau berangkat ke Pulau Mentawai. Beliau melambaikan tangan dari kaca bus itu, seolah kami adalah teman lama yang harus berpisah. Yah, begitulah travelling, kita bakal ketemu banyak orang baru dan tentunya cikal bakal keluarga baru 🙂
  • 10.30 Giliran bus ALS Jakarta-Medan yang rusak, parkir di depan Rumah Makan Duta Selera Kotanopan.
  • 12.23 Bus ALS Jakarta-Medan siap berangkat, sementara kami masih mondar-mandir tak tentu menunggu perbaikan bus, sesekali kami nongkrong lama di konter HP dan rehat di mushalla, lalu pindah lagi mandorin crew ALS yang sibuk mengutak-atik bagian bawah bus.
  • 13.30 Ban terpasang, sopir dan navigator berbenah.
  • 13.50 Menunggu
  • 14.22 Berangkat…
  • 15.08 Rao
  • 16.25 Berhenti di daerah Pasaman,  lewat sedikit dari Panti, ban belakang bocor! 😦 Tak ingin jenuh, kita manfaatin waktu buat narsis-narsisan, kebetulan kita berada di tempat dengan latar pepohonan kayu tua, mirip di Kebun Raya Bogor (saya rasa).
  • 16.40 Naik mobil
  • 17.21 Terminal Benteng Lubuk Sikaping
  • 17.57 Menjelang perbatasan Pasaman. Disini ada insiden lagi nih.. Bus kita nyaris menabrak gadis belia yang nekad menyeberang dengan sepeda motornya padahal jaraknya dekat banget.. Pak sopir ngerem mendadak, kita para penumpang kontan terseret ke arah depan dan banyak barang-barang berjatuhan. MasyaAllah.. sungguh hari yang luarr biasa..
  • 18.10 Villa Buluah Sabatang, Palupuah
  • 19.28 Rumah Makan Madina Group, Bukittinggi
  • 20.10 Naik bus
  • 20.15 Berangkat..
  • 20.19 Loket ALS Bukittinggi
  • 20.30 Berangkat..
  • 22.22 Simpang By Pass, simpang BIM. Nunggu jemputan, cukup lama..
  • 22.50 Sampe di humz sweet humz, teparr….