Tag Archives: Minangkabau

Penangkaran Penyu di Mangguang

Destinasi yang satu ini terletak di Mangguang, Pariaman (tidak jauh dari Pantai Gandoriah). Biaya masuk Rp 5.000,- sudah termasuk parkir (untuk 1 mobil, edisi liburan lebaran 2015).

Lokasi ini juga bisa diakses dengan angkot (angkutan kota), karena dekat dengan kota (Pasar Pariaman). Atau, Bus Pasaman dengan rute Sungai Limau (biasanya melewati lokasi ini).

View di tempat penangkaran penyu ini T.O.P! Disini terdapat banyak kolam, besar dan kecil. Yang menarik, didampingi petugasnya, kita boleh melepas penyu ke laut dengan insert Rp 10.000,- saja. Tertarik?? Cus, ke penangkaran penyu.. 🙂

Referensi

Semua informasi ini didapat dari hasil wawancara via sosmed dengan Honesty Putri pada 7 Agustus 2015. Berikut foto juga diambil dari koleksi album Putri.

Olha Chayo

Advertisements

Gunuang Padang

Untuk kesini, dari Pasar Raya Padang, kita bisa menaiki angkot berwarna biru tua (dongker) dengan kode 404 Palinggam di Terminal antara Gedung Balai Kota Padang dan Polresta Padang. Perjalanan dengan angkot memakan waktu sekitar 15-20 menit dengan rute Pasar Raya – belok kanan ke Imam Bonjol – belok kiri di Grand Zuri Hotel – belok kanan di simpang yang ada plang SMP PGRI 4 – Seberang Padang Selatan – Jl. Raya Seberang Palinggam (melewati SMPN 35 Padang, Masjid Darussalam Seberang Palinggam) – Jl. Kampung Batu (melewati Jembatan Siti Nurbaya, Masjid Nurul Huda – Objek Wisata Gunuang Padang.

Tiket masuk untuk Dewasa Rp 5.000,- dan Anak-anak Rp 3.000,-. Buat yang sudah terbiasa mendaki atau hiking, membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai dipuncak; buat pemula bisa memakan waktu lebih dari sejam. Disini dapat dilihat indahnya view laut menjelang sampai puncak, ada Benteng Jepang dan meriam peninggalannya, makam Siti Nurbaya, view Pantai Air Manis dan Kota Padang. Beberapa titik menyediakan tempat rehat yang dilindungi oleh pepohonan rindang, sejuk.. Jadi, tak perlu khawatir jika kelelahan atau mencari tempat yang nyaman untuk makan.

Berbeda dengan naik ke puncak, menuruni jenjang-jenjang itu terasa lebih mudah. Saya rasa, bagi pemula sekalipun, cukup membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai di gerbang kembali.

Sayangnya, angkot kesini gampang-gampang mudah menunggunya. Boleh dikatakan mudah diwaktu siang (jam anak sekolahan pulang).

Waktu yang bagus untuk ke Gunuang Padang adalah sore hari, biar cuaca tidak terlalu terik.

Museum Adityawarman & Taman Melati

Museum Adityawarman

Museum ini terletak satu kawasan dengan Taman Melati. Disini mempublikasikan berbagai hal tentang budaya Minangkabau, seperti: jenis-jenis rumah gadang macam-macam perhiasan Minangkabau, alat pertukangan, hewan yang diawetkan, dll.

Berbeda dengan museum lainnya, museum ini buka pada hari Selasa s/d Minggu, Senin TUTUP. Pada hari Selasa s/d Sabtu buka dari pukul 08.00-16.00 WIB. Khusus hari Minggu, buka dari jam 08.00-18.00 WIB. Tiket masuk untuk Dewasa Rp 2.000,- dan Anak-anak Rp 1.000,-.

Untuk ke lokasi ini bisa melalui beberapa pintu masuk. Ada 3 pintu masuk yaitu di seberang Taman Budaya, di seberang Bank Mandiri dan di seberang SMA Don Bosco Padang. Namun, untuk saat ini lokasi pintu yang terakhir sepertinya ditutup karena ada renovasi Monumen Gempa.

Taman Melati

Sementara, di Taman Melati, yang menjadi bagian halaman dari museum ini, terdapat arena bermain anak-anak dan tempat bersantai. Selain itu, disini juga terdapat Monumen Gempa 30 September 2009 dan pesawat terbang yang mirip dengan yang di Museum Perjuangan “Tri Daya Eka Dharma” Bukittinggi. Dari hasil wawancara, security menginfokan bahwa pesawat itu adalah pesawat yang sebelumnya berada di Solok yang dipindahkan ke Padang pada tahun 1977.

Tugu Proklamasi

Referensi

Informasi yang saya posting disini didapat dari Museum Adityawarman dan telah mendapat izin dari penjaga (ruang rumah gadang) pada 28 Juli 2015. Beberapa informasi lainnya didapat dari hasil wawancara dengan security yang dinas jaga pada 27 Juli 2015 dan hasil wawancara dengan seorang pekerja renovasi Monumen Gempa 30 September 2015. Informasi lebih lanjut, kunjungi Welcome To Museum Adityawarman (website resmi).

Kue Bungo Durian

Salah satu makanan tradisional Minangkabau yang satu ini disebut kue bungo durian karena bentuknya yang mirip bunga durian. Rasanya gurih, enak dan khas. Dicetak dengan batok kelapa/tempurung (sayak).

Pertama kali saya mengenal cemilan ini ketika Ibu saya membelinya di Pasar Lereng. Namun, sekarang sudah bisa ditemukan dibanyak tempat di Sumatera Barat.

Memancing di Koto Baru

Hari ini, saya melihat ada keramaian di sebuah kolam di sisi kiri perjalanan Bukittinggi-Padang. Ternyata, sang sopir bilang kalau disini sedang diadakan kegiatan memancing, entah itu lomba atau apa, kami tidak mendapat informasi yang tepat. Cuma, sopir bilang, kegiatan memancing itu biasanya dilaksanakan selama 10 hari dengan insert sekitar Rp 50.000,-. Ini dia gambarnya, tapi memang kurang bagus karena diambil saat mobil melaju.

Kerupuk Sanjai “Karupuak Tunjuak”

Saya tidak tahu persis nama kerupuk sanjai yang satu ini, ada yang bilang kalau namanya adalah karupuak tunjuak. Ini biasa saya beli di penghabisan Janjang Gantuang Pasar Bawah, tepat di dekat uni yang jual pensi. Hm, rasanya itu… gurih dan bikin nagih..!! Dicemil gitu aja enak, buat temannya makan nasi juga enak..

Dari informasi yang saya dengar dari Geni, orang Kamang kalau baralek wajib menyajikan kerupuk ini, sama seperti Palembayan yang tak lengkap acaranya tanpa gulai bukek. Jadi, boleh dibilang, kerupuk sanjai jenis ini merupakan makanan khasnya Kamang.

Nah, kerupuk ini juga ada 2 macam, lho.. Ada yang balado agak kemerahan karena warna cabe merah. Selain itu, ada yang pake kunyit sehingga warnanya agak kekuningan dan tampak lebih berbumbu. Dua-duanya enak!!

Gulai Tauco

  • Bahan:
    • Buncis diiris serong
    • Petai diiris serong
    • Cabe hijau diiris serong
    • Tempe & tahu dipotong dadu.
    • Rimbang.
    • Bumbu gulai tanpa kunyit [bawang merah + bawang putih + lengkuas + jahe (sipadeh)] + tomat ; semua diiris.
    • Daun-daun: Daun kunyit, daun salam dan serai.
    • Santan pekat & santan encer, dipisah dalam 2 wadah.
    • Terasi.
    • Tauco.
    • Garam secukupnya.
    • Kerupuk kulit (karupuak jangek).
  • Alat:
    • Kuali
    • Sendok gulai
  • Cara:
    • Goreng tempe dan tahu, setengah matang, angkat dan tiriskan.
    • Tumis bawang merah + bawang putih sampai menguning.
    • Tambahkan terasi + tomat + daun-daun + buncis + cabe hijau + petai + tahu + tempe + timbang + bumbu lainnya.
    • Tambahkan santan jalang sampai buncis matang.
    • Tambahkan santan pekat, aduk rata.
    • Tambahkan kerupuk kulit.
    • Angkat dan sajikan.
  • Catatan:
    • Selain buncis, juga bisa ditambahkan sayuran lainnya, seperti terong (taruang).
Resep Ni Mar Gagah | Pasar Palembayan | Masakan Tradisional Palembayan | Minangkabau

Gulai Putih

Gulai putih (samba putiah) ini merupakan salah satu masakan tradisional Palembayan yang sering di sajikan dalam acara seperti pesta (baralek/kenduri), mendo’a, dll.

  • Bahan:
    • Daging sapi.
    • Bumbu gulai tanpa kunyit [bawang merah + bawang putih + jahe (sipadeh) + lengkuas] + ketumbar + jintan + kemiri (dama/cegek); semua digiling.
    • Daun-daun: Daun salam + daun kunyit + serai.
    • Air asam jawa.
    • Bawang goreng.
  • Cara:
    • Tumis bumbu + daun-daun.
    • Tambahkan daging, masak hingga empuk.
    • Tambahkan santan.
    • Tambahkan garam secukupnya.
    • Menjelang matang (saat daging telah empuk), tambahkan air asam jawa (sedikit).
    • Sajikan dengan menambahkan bawang goreng diatasnya.
  • Catatan:
      • Selain daging sapi, biasanya gulai putih juga berisi babat sapi (babek, seperti: hati, paru, dll).

Resep Ni Mar Gagah | Pasar Palembayan | Masakan Tradisional Palembayan | Minangkabau

Lotek

  • Bahan:
    • Cabe rawit 3 buah
    • Bawang putih 1 siung kecil
    • Garam kasar secukupnya
    • Cakua (mirip lengkuas tapi lebih lunak) beberapa iris kecil
    • Kacang tanah yang telah dirandang dan ditumbuk kasar 6 sdm
    • Air mineral / air matang
    • Gula aren (saka niro)
    • Air asam jawa
    • Mie kuning yang telah direbus
    • Sayur-sayuran:
      • Kol / lobak putih yang telah diiris (direbus atau mentah)
      • Toge yang telah direbus
      • Sayur lalidi (mirip daun ubi / pucuak ubi) yang telah direbus
  • Alat:
    • Batu giling
    • Spatula
  • Cara:
    • Giling cabe rawit + bawang putih + cakua + garam sampai lumat.
    • Tambahkan kacang, giling.
    • Tambahkan air asam jawa, giling.
    • Tambahkan gula aren sesuai selera, giling.
    • Tambahkan air, giling hingga kacang mulai hancur dan kuah sudah tampak pekat.
    • Tambahkan mie + toge + sayur lalidi + lobak, aduk rata.
    • Sajikan, tambahkan kerupuk merah diatasnya.
  • Catatan:
    • Sayur-sayurnya bisa ditambah dengan sayuran lainnya sesuai selera, seperti: kacang panjang, daun ubi (pucuak ubi/pucuak parancih), daun salada, dll.
    • Ada juga yang menambahkan irisan kentang yang telah direbus.
    • sdm = sendok makan.
Referensi

Saya melihat langsung cara pembuatannya di Pasar Palembayan yang dijual oleh Uni Sita; dengan perubahan seperlunya berdasarkan beberapa resep yang pernah saya cicipi.

Asam Pedas Daging (Sampadeh Dagiang)

  • Bahan:
    • Daging sapi, sebagusnya bagian betis (dagiang batih sapi)
    • Cabe merah giling
    • Bumbu gulai: Bawang merah + bawang putih + lengkuas + jahe (sipadeh) + sedikit kunyit + sedikit kemiri (dama/cegek); semua digiling
    • Bawang merah & bawang putih yang telah diiris/dirajang
    • Daun salam + serai + daun kunyit + daun limau purut + asam kandis
    • Air putih
  • Alat:
    • Sendok gulai
    • Kuali/periuk
    • Kompor
  • Cara:
    • Daging + cabe + bumbu (sedikit kunyit) + irisan bawang merah & bawang putih + daun-daun + asam kandis masukkan ke dalam kuali/periuk
    • Tambahkan air putih
    • Aduk dan masak dengan api sedang
    • Kemudian diunyai (dengan api kecil) dan aduk secara kontinu sampai matang (daging empuk).
    • Siap disajikan.
  • Catatan:
    • Bisa ditambahkah juga dengan kentang (kupas kulitnya dan potong 2) setelah matang, unyai sampai sedikit berminyak dan kentang matang.
Resep Ni Mar Gagah | Pasar Palembayan | Masakan Tradisional Palembayan | Minangkabau

Pakan Di Pasar Palembayan

Di Pasar Palembayan, pasar tradisional dikenal dengan sebutan pakan yang biasa diadakan setiap hari Sabtu. Oleh karenanya, hari sabtu dikenal juga dengan sebutan hari pakan. Seperti pasar tradisional lainnya, disini dijual segala macam bentuk bahan pangan, aneka kuliner, pakaian, keperluan sehari-hari dll. Ini beberapa viewnya.

Samba Uwok TT

  • Bahan:
    • Bawang merah yang telah diiris
    • Cabe merah giling seperlunya
    • Ikan TT /tete/ (sejenis ikan asin)
    • Garam secukupnya
    • Air nasi mendidih
  • Alat:
    • Wadah dari besi (konduktor)
  • Cara:
    • Angai (panaskan) ikan TT ke api sampai terasa panas
    • Bersihkan kulit, tulang dan kepalanya; ambil dagingnya saja
    • Campurkan semua bahan (irisan bawang merah + cabe merah giling + daging ikan TT + air nasi + garam secukupnya) di dalam wadah besi.
    • Letakkan diatas nasi yang hampir matang, tunggu hingga nasi matang.
    • Angkat, aduk rata dan sajikan.
Resep Nek Mariani. Desa Piladang. Masakan Tradisional resep nekPalembayan.

Samba Uwok Asam

  • Bahan:
    • Asam durian
    • Air nasi yang telah mendidih
    • Maco/bada (sejenis ikan kecil kering) atau udang sayi / ebi (udang kering) atau limbek
    • Cabe merah giling (sebagusnya giling tangan)
    • Garam secukupnya
    • Sedikit potongan daun kunyit
    • Nasi yang ditanak hampir matang
  • Alat:
    • Wadah dari besi (konduktor)
    • Sendok makan
  • Cara:
    • Masukkan asam durian + cabe merah giling + ikan + potongan daun kunyit ke dalam wadah dari besi.
    • Tambahkan air nasi, aduk rata.
    • Letakkan wadah diatas nasi yang hampir matang.
    • Biarkan dan tunggu hingga nasi matang.
    • Angkat dan sajikan.
  • Catatan:
    • Samba uwok yang satu ini memang tidak menggunakan bawang agar aroma asam duriannya tidak hilang.
Resep Ni Mar Gagah | Pasar Palembayan | Masakan Tradisional Palembayan | Minangkabau