Tag Archives: Palembayan

Semarak Tahun Baru 1437 Hijriah Di Palembayan

Sore ini, sekitar pukul 14.00 WIB (sehabis shalat Jum’at), perkarangan Kantor Camat Palembayan dibanjiri oleh masyarakat yang tak ingin kehilangan moment perayaan lanjutan dari Tahun Baru 1437 Hijriah. Acaranya bervariasi, mulai dari nyanyi solo, lomba rebana hingga lomba randai, gandang atau talempong. Kemeriahan semakin terasa saat penghujung acara, dimana masyarakat mulai larut bersama alunan talempong dan randai.

Acara yang lebih mirip pesta rakyat ini ditutup dengan perpisahan bersama Bapak Indra Catri yang akan mengakhiri periode jabatannya sebagai Bupati Agam di akhir bulan ini. Meskipun rintik hujan mulai menyapa dan cuaca semakin berkabut, masyarakat tetap loyal dan berpartisipasi dengan semangat yang luar biasa. Perhelatan ini usai menjelang Magrib waktu setempat.

Advertisements

Samba Uwok Simauang

  • Bahan:
    • Bawang merah yang telah diiris
    • Cabe merah giling seperlunya
    • Simauang
    • Garam secukupnya
    • Air nasi mendidih (aia tajin)
  • Alat:
    • Wadah dari besi (konduktor)
  • Cara:
    • Campurkan semua bahan (irisan bawang merah + cabe merah giling + simauang + air nasi + garam secukupnya) di dalam wadah besi.
    • Letakkan diatas nasi yang hampir matang, tunggu hingga nasi matang.
    • Angkat, aduk rata dan sajikan.
Masakan Tradisional Palembayan

Buah Tap “Kolang-Kaling”

Saat ini warga Piladang lagi antusias mengelola buah tap, atau lebih dikenal dengan kolang-kaling. Maklum.. bulan puasa kan udah deket, so.. buah ini langsung naik daun.. 😀

Buah ini diambil dari batang aren (batang anau). Bentuknya seperti putik buah kelapa, bertandan-tandan seperti buah pinang. Batang enaupun tumbuh dihutan, tanpa dibiakkan. Buah ini diambil dengan tandannya, kemudian dipetik dan dikarungkan.

Berdasarkan informasi dari Etek Pet (Etek panggilan pengganti tante di Minangkabau), dahulunya tidak banyak yang mengelola buah ini, jadi siapa yang mau itu yang memanen. Namun, sekarang sudah berbeda, semua warga mulai melirik buah ini sebagai penghasilan. Jadi, kebijakannya, dimana batang aren tumbuh, otomatis jadi hak milik yang punya tanah, tidak bisa asal petik seperti dulu, karena bisa menjadi cikal bakal pertengkaran 🙂

Etek Pet bilang, kita mesti merebusnya dahulu sebelum dibuka. Untuk mengirit tenaga, beliau sekeluarga atau bersama warga lainnya punya ide kreatif, lho.. Mereka memasukkan buah tersebut bersama air ke dalam dorom (teng besar bekas tempat minyak tanah), di lokasi dekat buah tap dipetik, lalu direbus. Sebaiknya direbus 2x, tapi jika sekalipun sebenarnya tidak apa-apa; karena jika panennya banyak, sulit mengerjakan 2x.

Suka-dukanya nih, pertama kali panen buah ini, getahnya itu bisa menimbulkan gatal hebat!! Meskipun sudah menggunakan sarung tangan 😦 Jadi, mesti didiamkan setidaknya selama 3 hari. Setelah agak layu, baru dikelola lagi 🙂 Nggak nyangka ya, panjang prosesnya ternyata 😮 Bukan cuma itu, Tek Petpun bilang kalau air bekas rebusannya sangat hitam, namun aromanya wangi seperti kue 🙂

Setelah direbus, airnya dibuang baru dibelah. Pembelahan inipun tidak sembarangan, lho.. dibelah dari 3 sisi seperti membelah buah duren (durian), karena ada lobus-lobusnya (ruang). Baru kemudian dibuka dan diambil isinya yang berwarna putih mirip buah rambutan dengan tekstur lebih keras dan kaku. Kualitas paling bagus itu jika buahnya keras, bukan yang lebih sedikit lembut 🙂 Saat membuka kulitnya, kulit tangan kita bakal hitam kena getahnya, namun tidak seperti buah manggis, getah kolang-kaling ini lebih mudah dibersihkan hanya dengan mencuci tangan bersih menggunakan sabun dan air 🙂

Buah tap yang telah dikeluarkan dimasukkan ke dalam kom berisi air, agar buahnya tidak memerah. Jika memerah, buah ini boleh dikatakan gagal untuk dipasarkan, karena rusak atau berkualitas paling rendah. Nah, saya sempat beberapa kali protes sama Tek Pet buat nambahin komnya dengan air, karena buah tapnya udah membukit. Ternyata, kekhawatiran saya kali ini berlebihan, kalau cuma sejam atau setengah hari tidak masalah, buah itu akan memerah jika sama sekali tidak dikasih air sampai 3 harian 😀

Disela-sela aktifitas baru ini, saya terlalu bersemangat, sehingga baru memperhatikan kalau bunga kuku saya sebelah kanan sudah terkelupas!! Nah, kudu hati-hati ya guys, coz saking asiknya mengeluarkan isi buah tap, tanpa sadar bagian kulit pangkal kuku ikut terasah dengan tajamnya kulit ari buah tap meskipun selintas tampak seperti kulit ari buah nangka. Belum lagi saat memunguti kulitnya yang dikumpulkan untuk dibuang, bagian dalam kuku jari manis (kanan) saya tertusuk seupil kulit ari buah tersebut dan sakitnya mirip ditusuk duri atau kena ujung pisau, sakit dan berdenyut.. Jadi, jangan sepele ya, ini kegiatan yang mudah tapi perlu kehati-hatian 🙂

Beberapa kali saya ketemu langsung buah yang rusak seperti menghitam, atau terbungkus penuh oleh kulit ari. Keadaan buah seperti ini langsung dibuang saja, alasannya karena buahnya sudah mengeras. Ada lagi yang kemerahan, padahal masih berkulit, ternyata ini kesalahan saat merebus. Harusnya merebus 1-2 kali, ternyata buah ini tinggal 1 atau beberapa dan masuk ke perebusan selanjutnya, makanya kemerahan.. 🙂 atau, juga bisa karena selesai merebus, terlalu lama (sampai berhari-hari) baru diambil 😉

Gimana?! Sekilas kalau kamu liat cara mengeluarkan buah tap dari kulitnya memang gampang banget, tapi kalau udah tau prosesnya, waaa.. rempong cin…!! Nggak selesai disini aja, abis ini buah yang udah direndam dalam baskom itu didiamkan sehari atau langsung dipres dengan alat khusus. Baru deh jadi yang namanya kolang-kaling 😉

Dihari biasa, tidak banyak yang berminat mengelola buah ini, karena harganya yang rendah. Selain itu, sulit memasarkannya. Tapi, menjelang bulan ramadhan, harga kolang-kaling cukup tinggi, mulai dari Rp 4.500,- hingga Rp 4.900,-/kg, dan inipun tokenya langsung yang terjun ke Piladang.. makanya, banyak warga yang mulai beralih profesi menjadi pengelola buah tap; beberapa diantaranya, ada juga yang menjadikannya sebagai sampingan penambah uang belanja dapur 😉

Serru pokoknya 🙂 aroma buahnya wangi… Selain dijual dalam warna aslinya, buah ini juga ada yang dikemas dalam warna hijau, merah muda, atau warna lainnya.. 😉

Semua informasi ini didapat dari Etek Pet, Desa Piladang, Nagari IV Koto Palembayan

Martabak

This is Martabak, my mom bought it at Pasar Palembayan every Saturday, that is known by Hari Pakan. Based of ingredients are flavor, sugar and coconut. It is favorit meals from my dad, maybe among of the peoples in Palembayan, because it is always sould out if you didn’t fast to buy it 😀

Ini salah satu cemilan favorit Ayah saya nih saat minum kopi alias rehat sejenak diwaktu kerja.. 🙂 Martabak yang kayak begini bisa dibeli tiap hari Sabtu di Pasar Palembayan, atau lebih familiar dengan Hari Pakan (hari pasar). Penjualnya udah lama banget lho jualan martabak ini disini.. Mungkin udah sekitar 25 tahunan dan tak pernah sepi pelanggan. Baru aja nyampe pasar, si Bapak udah bikin gebrakan seribu tangan, haha.. Kenapa saya bilang begitu?! Karena si Bapak dengan ligat mengaduk adonannya diember besar, lalu menuangnya ke kuali logam berbentuk bundar, mengatur api kompornya, menebar gula pasir dan kelapa di atas adonan yang mulai berbentuk, dll (susah dijelasin). Nah, bak semut yang menemukan gula, para pelanggan langsung menyerbu, dengan teratur antre menanti pesanannya 🙂 Bukan cuma Martabaknya yang bikin rame, Bapak yang jualan juga bisa bikin suasana jadi makin rame 😀 Ini tips nih buat yang jualan, sesibuk apapun, tetap ramah pada pelanggan 🙂 Selain Martabak ala si Bapak, ada juga Martabak Ketan (hitam) namanya, ini dijual oleh seorang nenek-nenek, beda lagi nih sensasinya.. Menu lain yang dijual nenek ini yaitu kue pukis, menurut saya, dari rasanya, bahan dasar kue pukis itu sama aja dengan martabak 😀 Tapi saya kurang tau juga ding, entah benar namanya kue pukis, saya aja yang inisiatif bilang gitu 😀

Palembayan Penuh Hikmah

18 Agustus 2015

Hoaaaahm….. musim hujan dadakan di kota Padang bikin males beranjak dari PW (Posisi Wenak) 😦 Seharian cuaca seperti ga rela ngasi kita kesempatan buat ninggalin tempat berteduh, walhasil… planing buat pulkam (pulang kampung) gagal total, kita hanya lalu lalang ga jelas nungguin hujan reda..

19 Agustus 2015

Pagi yang bersahabat, akhirnya kita go ke kampung halaman.. 😀 Ortu dikampung udah pesan nih buat berangkat pagi-pagi, jangan nunggu sampe sore, coz jalan menuju kampung sempat putus gegara longsor kemaren. Kita berangkat sekitar jam 09.30-an, biasalah di rumah sini mesti beres-beres dulu.. 😀 Saya & Unjut naikin Bus Ayah (Bus menuju Payakumbuh, tapi melewati Bukittinggi dari Padang). Apess, malah ketemu macet sebelum Padang Luar.. So, jalan dialihkan ke Kubang Putih, macetnya panjaaaang banget… ga tau tuh apa penyebabnya 😓 Huft, lebih cepat sampai lebih baik guys, coz perjalanan kali ini ga bakal seenjoy biasanya… Satu dan berbagai hal, ujian dan tantangan insyaAllah sesuatu yang harus siap kita sekeluarga (bahkan sekampung) hadapin 🙂

Kebetulan, Ayah dan Unjut bontot juga ke Bukittinggi pake motor.. Kita janjian ketemu di Terminal Aur Kuning, secara semalam udah pesan bangku sama agen busnya. Tapi, perut kita udah laper lagi nih… Cus, singgah dulu di warung Sate Haysah, hm… yummy… Perut jadi hangat & kenyang… Energipun jadi full kembali, hihi.. Ini dia satenya, mau..?!

  • 11.59 WIB
Sate Haysah, di simpang Terminal Aur Kuning, Bukittinggi
Sate Haysah, di simpang Terminal Aur Kuning, Bukittinggi

Disana juga ada kerupuk kulit (bahasa Minangnya “Karupuak Jangek”) yang gede gitu, lho.. Hm, sayang ga sempat difoto, uniklah pokoknya 🙂 Biasa berasa lengkap kalo dimakan sama kuah sate 😀 Kali ini kita ga sempat nyicipin itu kerupuk, coz Unjut bontot dan Ayah ternyata udah stay di terminal, dengan adegan kelaperan tingkat kronik kita abisin dah itu sate sampe kuah-kuahnya, haha.. (Ah, ga gitu juga keleis…)

Sampe di terminal, saya dan Unjut bengong; “Lah, kok sepi??”. Bus ke Palembayan kok belum keliatan?? Nah, akirnya… itu dia….!!! Dengan semangat 45 saya berjalan dengan PD-nya, tapi eittts…. tiba-tiba Ayah bilang kalau kita naik travel jadinya, ga jadi naik bus. Kita kaget, “lah..?!” Sebelum melontarkan kalimat tanya, Ayah langsung ngejelasin, bus itu baru berangkat ntar jam 5-an, kelamaan, mending naik travel (bajet Rp 25.000,-/orang) aja lewat ke Simpang Patai (Rute alternatif ketika rute normal terganggu). Cus, yuuuuk naik traveeeel….. Hm, cukup lama kita nungguin travelnya penuh, sempat Dzuhuran sejenak di mesjid seberang (lupa liat nama mesjidnya).

  • 13.30 Abis shalat, eh…. tinggal kita doang yang belum naik, hihi… Gooo…. 😉 Ga tau nih kalau abis ini bakal macet panjang gegara longsor di Palupuah. Kabarnya, longsor disini berbarengan sama longsor yang di Tanah Taban (18/02/2015, 12.00WIB); bedanya, disini tanah dari tebingnya yang longsor, jatuh nimbukin jalan; Kalau di Tanah Taban, gegara volume air yang banyak di bawah jalan, jadi membuat kesan tanah itu jadi liat dan dimusim hujan jadi turun trus bikin longsor (Ngerti ga maksudnya?? Parno juga nih ngejelasinnya, ga tau kalimat pasnya gimana, pokoknya intinya “longsor” :D).
  • 14.30 Hoaaaahm… jadi ngantuk nungguin lolos dari macet panjang ini….

Pak sopir bilang, tadi beliau lewat disini (sekitar jam 09.30) juga kena macet panjang, ga nyangka kalau sampe sekarang masih macet. Ada bus yang barusan lewat, kata si Bapak tadi barengan disini sama mobilnya, eh baru bisa lolos sekarang… Padahal si Bapak udah jemput penumpang pula ke Bukittinggi. Trus beliau bilang, ntar pas lewat di tempat longsor, kita bakal dimintain sumbangan Rp 20.000,-/ mobil yang lewat. Nah, ini nih bikin heboh seantero penumpang ketika ada seorang penumpang nyeletuk “acok-acok se longsor, bia banyak dapek pitih” (sering-sering aja longsor, biar banyak dapat uang), haha… Walhasil, yang tadinya magut-magut gegara ngantuk dan capek, jadi ikut berkomentar, ada-adaaa aja… 😀 Si Bapak nyiapin duit Rp 20.000,- menunggu sebuah kotak dari kardus disodorin ke jendela mobil. Disini saya iseng nih, ikutan celetuk, ingat tempat parkiran, “kalau Bapak tadi udah bayar, sekarang ga usah bayar lagi bilang aja kalau tadi udah lewat sini…”, para penumpangpun ikut mengamini 😀 Sampai waktunya tiba, si Bapak tetap mengangkat duit Rp 20.000,- ditangannya menuju jendela mobil; tapi pas orang-orangnya nongol, beliau bilang seperti yang saya sarankan tadi, dan…. alhamdulillah… ga diapa-apain kok.. Yang penting kan udah kita komunikasikan dan kita juga ga bohong toh, lega juga ngeliat respon para pemuda di luar itu tertawa ramah menyilakan mobil kami lanjut..

Bencana tidak serta merta membawa duka, tetapi juga hikmah.. Dia juga didatangkan sebagai perekat kebersamaan dan pengikat tali silaturrahim. Hikmah dibalik hikmah 🙂

  • 14.33 Akhirnya kami lolos dari longsor, alhamdulillah… 🙂
  • 16.00 Simpang Bamban. Jalan disini boleh dibilang ga bagus, guys… Di salah satu foto yang saya post ke medsos ketika mengabari kondisi terkini Palembayan, ada yang comment kalau jalan ini cocok buat memacu adrenalin, bener… 😀 Selain banyaknya bagian jalan yang rusak, jalannya juga sempit; walhasil kadang mobil/bus/truk yang lewat terkesan berebut ngambil tempat strategis buat menepi pas lagi berselisihan jalan 😀 Terakhir saya lewat sini beberapa tahun yang lalu, gegara rute biasa terputus, kondisi jalannya masih seperti ini, lho.. Ternyata belum ada perubahan, mungkin dikarenakan ga banyak transportasi yang lewat disini kecuali lagi urgent dan bukan truk pembawa pasir.

This slideshow requires JavaScript.

  • 16.15 Masi berkutat dengan jalan, sesekali sering kami dikagetkan oleh bunyi benturan bagian bawah mobil dengan jalan..
  • 16.19 Ketemu monyet liar untuk keduakalinya!!! Kalau yang pertama tadi, di semak-semak ngawasin kita yang lagi lewat; sekarang mah nantangin kita… Dia berjalan menuju kita persis di tengah jalan. Tapi mungkin setelah dia survey kalo kita manusia baik-baik (hee..), syukurlah dia malah belok kanan dengan teratur tanpa perlawanan… 🙂
  • 16.22 Lega… Akirnya nemu jalan mulus.. 😀
  • 16.55 Alhamdulillah, sampai di humz sweet humz 😉 Capek bangett….
  • ……… Ini event ngumpul-ngumpul full kita sekeluarga, rasanya pengen setiap hari begini; tapi kita punya aktifitas masing-masing yang menuntut tuk tinggal di tempat yang terpisah.. Ayah dan Ibu.. Unjut… Unjut bontot.. Bahkan saya dan Unjut bontot sempat mampir ke tempat nenek, kira-kira 1 km dari humz, kebetulan Pakcik (saudara Ayah yang paling kecil) juga lagi di rumah nenek 🙂 Oh, betapa mereka masih menjadi orang yang sama.. 🙂
  • ………. Malamnya, Ayah bilang besok kita lewat rute biasa aja, naik mobil dari sini sampe Tanah Taban (lokasi longsor), bis tu kita nyebrang dan naik mobil sekali lagi sampai Bukittinggi. OK fix, besok mesti pagi sekali berangkat, jadi wajib berkemas malam ini.
20 Februari 2015
  • 08.00 Haha, seperti biasa… Kalau udah dirumah itu susah banget bangun paginya, maklum… cuaca yang dingin kadang cukup ekstrim memang buat seukuran kami yang mulai terbiasa tinggal di Padang 😀 Walhasil, bangun telat… Udah gitu, mobilnya datang lagi?! Beeeh, siap-siap aja diomelin sama Ayah dan Ibu, tapi syukurlah, kali ini beruntung, ga ada omelan, guys… 😀 Mungkin karena Pak Sopir bilang bakal jemput kami lagi di trip kedua, makanya no comment 😀
  • 09.07 Tanah Taban (lokasi longsor). Gila, parah chuy… Ga nyangka separah ini ya… Tapi jika diliat dari foto yang beredar di medsos, ini udah mendingan.. Jadi ingat cerita Pak Sopir tadi, beliau bilang udah ditutup sama 8 mobil (mungkin tanah/pasir), tapi ga ngaruh… Karena yang runtuh itu bagian bawahnya, makanya yang diatas ikutan amblas.. Pak Sopir tidak membenarkan isu yang beredar menyebutkan penyebab jalannya longsor gegara air, no… no… no.. Di medsos saya juga baca, katanya ga salah tetua kita ngasi nama daerah itu “Tanah Taban” (tanah yang ambruk), secara dulu yang bikin transportasi ke Palembayan sempat putus, juga disekitar sini, lho… Jalannya membentuk patahan gitu… Jadi ada tikai diantara badan jalannya. Yah, untuk longsor kita memang tidak bisa kompromi. Selain itu memang salah satu dari bencana alam, itu juga resiko buat kita yang tinggal di daerah perbukitan. Kita turun dan membayar ongkos Rp 10.000,-. Kemudian transit (ciilee..) ke mobil selanjutnya, kali ini naik Bus SETIA Lawang.

This slideshow requires JavaScript.

  • 09.25 Lawang. Selain saya dan Unjut, ada seorang ibu-ibu yang barengan berangkat dengan tujuan Bukittinggi. Sebelumnya saya sempat denger-denger juga kalau ini bus cuma sampe Pasar Lawang, tapi karena ibu itu bilang dengan yakin kalau kita ga bakal turun di Lawang, kita mah happy-happy aja; terlepas dari insiden mak-mak yang heboh, ketakutan nyasar ke Bukittinggi. Eeeeh, taunya.. kitalah tersangka, ya iyalah busnya ga bakal belok ke Pasar Lawang, Pak sopir itu berhenti cukup lama, selain naikin penumpang juga nungguin kita turun, hahaa… Lengkap sudah, antara malu-maluin dan ngakak dah sikonnya 😀 Ujung-ujungnya kita turun, jadi merasa bersalah sama siemak-mak yang sempat diomelin Pak Sopir gegara kepanikannya, walaaah… Trus kita turun dan naik bus mini, nungguin penumpang penuh cukup lama dan cus otw ke Bukittinggi… Seumur-umur, baru kali ini nih saya naik bus mini ini ke Bukittinggi 😀 Oya, ongkosnya Rp 8.000,- guys..
  • 10-an kita sampe di Bukittinggi, kita turun di Sanjai NITTA, Unjut bontot mau beli oleh-oleh katanya.. Saya ga ketinggalan dong, sesekali ke NITTA mesti beli cemilan lah… Saya beli kerupuk sanjai yang tawar 1/4 Rp 20.000,-.
  • 10.30 Kita naik bus Yudha Transport ke Padang, sempat macet di Lubuk Alung dan Pak Sopir lewat ke jalan pintas yang mengantar kami ke BIM, kita jadi celengak-celunguk “siapa yang ke BIM??” Jangan-jangan, gegara Unjut bontot bawa travel bag malah dikira mau terbang?! Ah, ogahan bener.. Mungkin ibuk-bapak yang paling depan.. Eh, ternyata.. abang-abang yang duduk di belakang Pak Sopir?! Haha, pelajaran nih untuk kesekiankalinya jangan liat orang dari penampilan!!
  • 13.30 Kita sampe humz, huft… capeeeek…. Unjut bontot jadi ketinggalan Jum’atan tuh…
21 Februari 2015

Ada kejadian aneh nih, guys… Tragedi hilangnya 3 pasang sandal jepit dan sebuah piring makan kucing!!! Waduuuu… Pagi-pagi sekali ketika Unjut dan Unjut bontot mau ke pasar, kita dibikin heboh sama kejadian misterius ini… Gimana enggak guys, dihari biasa saat pintu pagar ga dikunci, aman-aman wae, lah kok giliran udah digembok kudu ilang sandal jepit?! Awalnya kami mikir, mungkin orang-orang yang suka ngambil barang rongsokan yang ngambil tempat makan kucing, coz terbuat dari logam, tutupnya ember cat… Pantes, semalam mau ngasi makan kucing saya bingung nyariin, sempat ngomelin si Unjut lagi yang dikira mindahin tempatnya 😀 Tapi…. berani bener, orang pintu pagar dikunci??? Hm, ga mungkin mereka seperti itu… Anehnya lagi nih, sandal yang bagus ga diambil kok, kenapa harus sandal jepit harian itu?? Trus yang paling jelek juga ditinggalin tuh sepasang?! Kita bertiga, yang ilang juga 3 pasang?! Hm… sempat suuzon nih.. Tapi apa ceritalah, sebutuh apapun itu orang, tetep aja ga ada benernya dan ga sopan lagi, huft… apess… Walhasil, Unjut bontot balik ke Jogja tanpa sandal jepit kesayangannya, hahaa… Misteri yang aneh..

Palembayan & Perjalanan Menuju Bukittinggi

Masih adakah yang belum tau Palembayan dimana? Nah, Palembayan itu terletak di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Buat yang bilang Palembayan itu pelosok, silahkan searching di peta, ada nama PALEMBAYAN, lho.. So, berminat ke Palembayan? By the way, yang belum kenal, yuk kenalan dulu. 🙂

Asal Muasal Nama PALEMBAYAN 

Menurut Dra. Asmaniar, Palembayan itu berasal dari kata Palambaian. Dahulu kala ketika daerah ini masih berupa lautan, ada air yang melambai-lambai. Karenanya tersebutlah Palambaian, artinya air yang melambai-lambai. Lama kelamaan dikenal menjadi Palembayan.

Versi yang berbeda diceritakan oleh Geni. Dimana yang melambai bukanlah air, tapi nyiur pohon kelapa yang diterpa angin. Ini didukung oleh bentuk khas pohon kelapa di Palembayan, tinggi menjulang.

Versi lainnya dari Ibu Mardiati. Palembayan berasal dari kata Palimbek-an, karena daerah ini merupakan daerah penghasil limbeksejenis ikan lele yang hidup di rawa dan dikeringkan (dikenal juga sebagai ikan salai).

Penasaran?! Yuk, travelling ke Palembayan..

Objek Wisata 

Di Palembayan memang tidak banyak wisata yang terkenal. Meskipun demikian, keindahan alam agraris ini menawarkan keelokan tersendiri. Diantaranya, hamparan persawahan nan luas dan jejeran bukit barisan yang memagari lingkung Nagari Palembayan.

Selain nuansa alamnya nan asri, udara Palembayan juga luar biasa sejuk. Air khas pegunungannyapun jernih dan sangat menyegarkan.

Mata Air Limundak

Mata air ini terletak di daerah Limundak, sehingga dinamakan Mata Air Limundak.

Alkisah dari Nek Mariani, tetua di kampung Piladang, disini terdapat kancah yang dibuat sejak masa penjajahan Belanda. Kancah ini digunakan untuk menutupi Mata Air Limundak yang dipercaya terhubung dengan Danau Maninjau. Konon dikancah ini warga pernah menemukan ular bidai melingkar disana.

Bukit Sakura

Bukit ini terletak dibalik SMA Negeri 1 Pasar Palembayan. Lokasi ini sering dijadikan tempat hiking untuk kegiatan Pramuka.

Koto Alam

Palembayan juga dikenal sebagai daerah penghasil beras yang berpusat di nagari Koto Alam (arah hilir dari Pasar Palembayan). Jadi, buat yang ingin melihat hamparan persawahan terluas bak bentangan permadani, disinilah tempatnya.

Jorong Piladang (24/11/2014)

Terlepas dari keamatiran saya sebagai fotografer, dibalik semak ini bisa dilihat hamparan sawah hijau di lereng perbukitan yang dihias oleh aliran sungai nan jernih. Barisan pohon-pohon kelapa nan langsing ini menambah semarak keasrian alam Jorong Piladang, Nagari Ampek Koto Palembayan.

Palembayan Menuju Bukittinggi
(25 November 2014)

Sei Puar (Sungai Pua)

Ini salah satu bentuk desain rumah klasik di Palembayan:

Palembayan merupakan daerah perbukitan, karenanya setiap musim hujan sering terjadi longsor. Kadang-kadang akses jalan menuju Bukittinggi menjadi terputus, sehingga warga Palembayan bisa saja membatalkan perjalanannya atau berbelok arah ke daerah hilir (ilia) yang juga bisa tembus ke Bukittinggi melalui perjalanan yang cukup jauh.

Kampung Tabu (Kampuang Tabu)

Di daerah ini sedang dilakukan pelebaran jalan. Gerbang Kampung Tabu memang di tepi jalan, tapi pemukiman warga nun jauh di bawahnya. Lokasi ini sering dijadikan area camping pramuka.

Sungai Taleh 

Seperti Kampung Tabu, pemukiman penduduk di Sungai Taleh pada umumnya juga berada di kaki bukit.

This slideshow requires JavaScript.

Jalan ini dahulunya lebih kecil dan memiliki tikungan tajam. Akibat longsor, dibuat jalan baru seperti gambar berikut.

Setelah pendakian tikungan jalan baru ini ada mushalla mini bernama Mushala Nyiak Tinun.

Pemandangan disekitar sini luar biasa indah. Beberapa diantaranya bisa dilihat di gallery

Lawang Kec. Matur

This slideshow requires JavaScript.

Pasar Ternak (Pasa Taranak)

Daerah ini dinamakan Pasa Taranak karena disini orang sering jual beli kerbau (kabau) dan jawi (bantiang).

Matur (Matua)

Berikut lokasi longsor yang terjadi pada hari Jum’at kemarin.

Lanjuut…………

Ini lokasi banjir bandang dulu…

………..

This slideshow requires JavaScript.

Pasar Koto Tuo

………….

Kuliner Palembayan

Gulai Bukek

Pada acara-acara adat, seperti: baralek (pesta atau kenduri), selalu ada masakan khas Palembayan yang nggak bakal ditemukan di daerah lain, namanya Gulai Bukek. Bentuknya mirip kuah sate dengan danging sate tanpa tusuk, (kebayang ga sih?!). Buat yang penasaran, segera berkunjung ke Palembayan, siapatau ada kenalan yang punya acara adat disana.

Cara membuat gulai bukek, daging ditumis bersama bumbu gulai, tambahkan air. Sewaktu mendidih, masukkan tepung beras secukupnya. Tapi, ini versi masakan rumahan, biasanya isinya terdiri dari daging, isi perut alias babek, atau lemak-lemak hewan (gomok). Berbeda dengan acara adat, biasanya diisi pisang batu muda. Rasanya jangan ditanya, enak banget! Apalagi jika dimakan bareng remah rendang (rabuak randang), maknyus!

Aneka Masakan Lainnya

Selain gulai bukek, masih ada masakan khas Palembayan lainnya yang sering ditemukan pada acara adat, syukuran ataupun masakan harian, seperti:

Makanan tradisional yang ini pastinya lamak bana dan patut dicoba, seperti:

Berikut beberapa kuliner favorit di hari pakan:

  • Sate
  • Sate Lawang
  • Pensi
  • Lotek
  • Martabak
  • Kacang Goreng Lawang
  • Pical
  • Kipang Bareh
  • Piyek Kacang
  • Godok Batinta
  • Aneka cendol (cindua)
  • Aneka kerupuk
Budaya Di Palembayan

Budaya Marantam & Makan Basamo

Lain halnya dengan hari raya kurban (Idul Adha); setelah marantam (gotong royong pembagian hasil kurban), tepatnya di Mesjid Jami’ Pasar Palembayan dan Mushalla/Mesjid sekitarnya, ada acara masak plus makan bareng gulai bukek ini. Syaratnya, warga membawa peralatan makan masing-masing dan menjaga kebersihan.

Selain itu,  gulai bukek ini juga boleh dibawa pulang, dibagikan ke seluruh warga. Benar-benar kental kebersamaannya.

Menurut beberapa sumber, makan gulai bukek bersama ini ada sejarahnya. Kabarnya, dahulu daging merupakan makanan yang langka alias sulit didapatkan; mungkin karena harganya yang mahal atau faktor lainnya. Karenanya, moment marantam inilah menjadi tempat saling berbagi, bersama-sama menikmati daging kurban dan berkumpul merayakan Idul Adha di mesjid.

Tidak hanya marantam dan makan basamo, kebiasaan lainnya yang membudaya di Palembayan, yaitu:

Khas Palembayan
Tokoh

Menurut informasi dari salah seorang pengunjung blog ini, a.n Bayu, salah satu pahlawan negeri bernama Adnan Kapau Gani terlahir di Palembayan.

Akses

Buat yang mau berkunjung ke Palembayan, bisa naik Bus SETIA atau Bus BINTROS alias Bintang Rosa di Loket Aur, sekarang ongkos naik menjadi Rp 15.000,- dari Rp 12. 000,- (akibat BBM naik). Atau, juga bisa menghubungi travel khusus Palembayan dengan ongkos Rp 20.000,-. Sampai jumpa di Palembayan..

Gallery
Rekomendasi Link