Tag Archives: Pariaman

Pulau Angso Duo

Pulau yang eksotik ini terletak di seberang Pantai Gandoriah, Kota Pariaman. Akses kesini menggunakan Boat dengan bajet Rp 30.000,- s/d Rp 35.000,-, tergantung kondisi.

Ombak yang tenang, suasana yang adem, pasir putih nan bersih, karang-karang dan Umang-umang yang unik, bebatuan kecil yang terdampar.. Serasa berada di destinasi kategori MAHhhAL!! ๐Ÿ˜€ Pulau inipun juga bisa dikelilingi dalam waktu sekitar 20 menit dengan berjalan santai.

Dibalik tulisan Pulau Angso Duo, berdiri kokoh Surau Katik Sangko. Tidak jauh disebelahnya, terdapat makam yang dihormati masyarakat sekitar.

Untuk kembali ke Pantai Gandoriah, sebaiknya sebelum pukul 3 sore, terutama buat yang mabuk laut. Karena, sekitar jam ini atau lewat biasanya gelombang sedang pasang dan kadang kapal sering berlayar dengan agak miring, apalagi disaat berbelok. Walaupun demikian, yang terjadi malah sebaliknya, pengunjung sering lupa waktu dan tetap kembali berlibur ke pulau ini sekalipun gamang menyeberangย ๐Ÿ˜€

Advertisements

Pantai Gandoriah (Gandoriah Beach)

Pantai ini terletak di dekat Stasiun Kereta Api Kota Pariaman. Akses kesini bisa menggunakan kendaraan umum seperti Kereta Api atau Bus. Kereta Api pagi berangkat sesuai jadwal yang telah ditetapkan, bisa dinaiki di Stasiun (seperti: Stasiun Tabing, Simpang Haru, dsb) atau Stasiun mini (seperti di Basko, Pasar Lubuk Buaya, dll). Sementara dengan Bus, bisa dibaiki kapan saja dan parkir di depan Stasiun Tabing.

Jika menggunakan Kereta Api, kita membutuhkan waktu perjalanan lebih lama, sekitar 1 jam 30 menit, karena akan berhenti di beberapa Stasiun selang 15 atau 20 menitnya. Kereta Api pagi berangkat pukul 06.00 WIB dan sore (terakhir) pukul 16.00 WIB. Ongkos jauh lebih ekonomis, Rp 2.500,-/orang, namun kita harus membeli tiket saat akan berangkat saja, tidak berlakuย by request. Catatannya, tiket akan sangat susah didapat pada hari libur, terutama libur sekolah atau hari raya keagamaan.

Jika menggunakan Bus, ongkos Rp 13.000,-/orang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam atau lebih. Biasanya, Bus akan cenderung berjalan sedikit lebih lambat hingga Batas Kota, karena masih menyaring penumpang, kecepatan akan bertambah dan konstan setelahnya. Nanti kita akan diturunkan di sebuah simpang dimana angkot carry berwarna putih (mirip angkot Labor/Tabing&Singgalang) telahย stand bye menunggu penumpang. Naik angkot hingga pasar memakan waktu sekitar 10 menit, ongkos Rp 4.000,-/orang; lalu berjalan hingga melewati Stasiun Kereta Api Pariaman, setelahnya bisa ditemukan gerbang Pantai Gandoriah ๐Ÿ™‚

Sepanjang pinggir pantai berjejer banyak pondokan lepas menghadap ke pantai. Nah, belum afdhal rasanya kalau sudah disini tapi tidak mencicipi Nasi Sek & Aneka Sala ๐Ÿ™‚ Ini hidangan khas Pariaman. Selain hidangan yang dijual oleh yang punya pondokan, juga ada ibu-ibu yang keliling menjual bentuk sala lainnya, seperti sala lauak, sala kepiting, dll. Sebelum pulang, jangan lupa membeli sala sebagai oleh-oleh ya.. ๐Ÿ˜‰

Disini juga ada yang menjual layang-layang, motifnya cantik-cantik.. ๐Ÿ™‚ Namun ukurannya cenderung sedang-besar.

Serunya lagi, kita bisa menyeberang ke Pulau Angso Duo dengan menyewa Boat Rp 30.000,- s/d Rp 35.000,-/orang PP alias pulang-pergi (Diantar pagi dan dijemput lagi sorenya). Harga ini relative, tergantung sikon (hari biasa atau libur) atau banyaknya peminat yang akan menyeberang (semakin sedikit semakin MAHAL).

Pantai Gandoriah akan sangat ramai dikunjungi pada hari libur atau saat acara Tabuik (perayaan lokal yang diadakan sekali setahun pada 10 Muharam) ๐Ÿ™‚

Untuk pulang, jika menggunakan Bus, naik angkot putih hingga Simpang Alay. Disini banyak Bus Pariaman-Padang dengan merk KAWAN atau ALISMA menunggu penumpang.

Penangkaran Penyu di Mangguang

Destinasi yang satu ini terletak di Mangguang, Pariaman (tidak jauh dari Pantai Gandoriah). Biaya masuk Rp 5.000,- sudah termasuk parkir (untuk 1 mobil, edisi liburan lebaran 2015).

Lokasi ini juga bisa diakses dengan angkot (angkutan kota), karena dekat dengan kota (Pasar Pariaman). Atau, Bus Pasaman dengan rute Sungai Limau (biasanya melewati lokasi ini).

Viewย di tempat penangkaran penyu ini T.O.P! Disini terdapat banyak kolam, besar dan kecil. Yang menarik, didampingi petugasnya, kita boleh melepas penyu ke laut dengan insertย Rp 10.000,- saja. Tertarik?? Cus, ke penangkaran penyu.. ๐Ÿ™‚

Referensi

Semua informasi ini didapat dari hasil wawancara via sosmed dengan Honesty Putri pada 7 Agustus 2015. Berikut foto juga diambil dari koleksi album Putri.

Olha Chayo

Wisata Sumbar (Ranah Minang)

Selamat datang di Sumatera Barat, Ranah Minang. Welcome to West Sumatra (land of Minangkabau), Indonesia. Enjoy with our beautiful place, delicious culinary (Rendang is no. 1 in the world, isn’t it?), and unique cultures. ใ‚คใƒณใƒ‰ใƒใ‚ทใ‚ขใฎ่ฅฟใ‚นใƒžใƒˆใƒฉใฏใใ‚Œใ„ใชๆ‰€ใ‚„ๆง˜ใ€…ใช็พŽๅ‘ณใ—ใ„้ฃŸใน็‰ฉ๏ผˆ็‰นใซใƒฌใƒณใƒ€ใƒณ๏ผ‰ใ‚„ใƒฆใƒ‹ใƒƒใ‚ฏๆ–‡ๅŒ–ใŒใ‚ใ‚‹ใ€‚

Padang

  • Pulau Pasumpahan (Pasumpahan Island) ใ€Œใƒ‘ใ‚นใƒ ใƒ‘ใƒใƒณๅณถใ€
  • Pulau Pagang (Pagang Island)ใ€Œใƒ‘ใ‚ฌใƒณๅณถใ€
  • Pulau Pamutusan (Pamutusan Island)ใ€Œใƒ‘ใƒ ใƒˆใ‚ฅใ‚ตใƒณๅณถใ€
  • Pulau Sikuai (Sikuai Island)ใ€Œใ‚ทใ‚ฏใ‚ขใ‚คๅณถใ€
  • Air Terjun Lubuk Hitam/Air Terjun 3 Tingkat (Aia Tajun Tigo Tingkek Lubuak Itam)
  • Air Terjun 100 Tingkat (Aia Tajun Saratuih Tingkek)
  • Air Terjun Sarasah Banyak Gariang
  • Air Terjun Sikayan Balumuik
  • Kebun Raya Bung Hatta
  • Pantai Padang (Muaro / Taplau / Padang Beach)
  • Pantai Air Manis, Bungus
  • Gunuang Padang
  • Jembatan Siti Nurbaya (Sitinurbaya Bridge)
  • Bukit Nobita
  • Sitinjau Lauik
  • Pantai Purus (Purus Beach)
  • Pantai Pasia Jambak (Pasir Jambak Beach) ใ€Œใƒ‘ใ‚ทใƒซใ‚ธใƒฃใƒ ใƒใƒƒใ‚ฏใƒ“ใƒƒใƒใ€
  • Sungai Batu busuak
  • Museum Adityawarman & Taman Melati
  • Museum Gempa & Bencana Kota Padang
  • Taman Imam Bonjol
  • Teluk Bayur

Kepulauan Mentawai

  • Pulau Siberut
  • Pulau Sipora
  • Pulau Pagai Utara
  • Pulau Pagai Selatan
  • Air Terjun Kulu Kubuk

Padang Pariaman

Pariaman

Padang Panjang

  • Lubuk Mata Kucing (Lubuak Mato Kuciang)
  • Air Terjun Lembah Anai
  • Kolam Air Jernih (Tabek Aia Janiah)
  • Rumah Puisi Taufik Ismail, Panyalaian
  • Mifan

Bukittinggi

Agam

Payakumbuh

  • Lembah Harau (Harau Resort)
    • Air Terjun 1
    • Air Terjun 2
    • Air Terjun 3
  • Air Terjun Lubuk Batu Bulan
  • Air Terjun Lubuk Bulan
  • Air Terjun Sarasah Tanggo
  • Air Terjun Tanjung Jaro
  • Batang Tabik
  • Kelok 9
  • Rumah Adat Bakewi
  • Palo Banda
  • Padang Mangateh
  • Ngalau Indah

Pesisir Selatan

Pasaman

  • Pasaman Barat
    • Ikan Larangan Lubuak Landua, + 10 km kota Simpang Ampek
    • Goa Jepang, Kec. Talamau
    • Pemandian Air Panas, Kec. Talamau
    • Air Terjun Simpang Panco, Kec. Kinali
    • Bendungan Batang Tongar, + 10 km sebelah timur Simpang Ampek
    • Bendungan Batang Kenaikan, Kec. Gunung Tuleh
    • Gunung Batu, Kec. Lembah Malintang
    • Danau Indah, Koto Balingka
    • Goa Kepang, Kec. Sungai Beremas
    • Gunung Talamau
    • Pantai Sasak, Nagari Sasak, Kec. Sasak
  • Pasaman Timur
    • CagarAlamRimboPanti,Kec.Panti
      • Aia Angek Rimbo Panti

Sawahlunto

  • Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto
  • Museum Kereta Api Sawahlunto
  • Taman Satwa Kandi (Kebun Binatang Sawahlunto)
  • Air Terjun Rantih
  • Lobang Tambang Mbah Suro
  • Gudang Ransum
  • Danau Biru
  • Lokasi Paralayang

Sijunjung

  • Air Terjun Pelukahan

Dharmasraya

  • Bendungan Batanghari

Batusangkar

  • Istana Basa Pagaruyuang
  • Talago Gunuang

Solok

  • Danau Kembar: Danau Diatas & Danau Dibawah
  • Kebun Teh Alahan Panjang
  • PuncakPulau / โ€œPuncak Thailandโ€
    • Danau Singkarak
  • Danau Talang, Alahan Panjang
  • Gunung Talang
  • Pemandian Air Panas (Pamandian Aia Angek)

Solok Selatan

  • Air Terjun Timbulun Koto Birah
  • Air Terjun Timbulun Sangir
  • Air Terjun Ulu Suliti
  • Kawasan Seribu Rumah Gadang

Other

  • Air Terjun Lubuk Tampuruang
  • Air Terjun Lubuk Bonta
  • Air Terjun Lubuk Paraku
  • Air Terjun Timbulun Batang Liki
  • Air Terjun Talang Sepintir
  • Air Terjun Tangsi Empat
  • Air Terjun Batang Daun
  • Air Terjun Lambe
  • Air Terjun Nango
  • Air Terjun Buluh Kasok
  • Air Terjun Koto Salo
  • Air Terjun Timbulun Indah Pulau Punjung
  • Air Terjun Padukoan
  • Air Terjun Tanjung Bonai
  • Air Terjun Mayang Taurai
  • Bukit Takuruang
  • Benteng Van Der Capellen
  • Danau Kandi
  • Gedung Indo Jalito
  • Lubang Suro
  • Museum Adityawarman
  • Museum Gempa 30 September
  • Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
  • Panorama Tabek Patah
  • Pantai Sago
  • Pulau Keong
  • Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM)
  • Rumah Budaya Fadli Zon
  • Rumah Gadang 20
  • Rumah Gadang Kampai Nan Panjang
  • Taman Nasional Kerinci Seblat
  • Taman Siti Nurbaya
  • Lubuak Paraku
  • Pantai Karang Tirta
  • Patung Tigo Tungku Sajarangan, Lintau Buo Utara
  • Puncak Pato, Lintau Buo Utara
  • Pulau Setan
  • Panorama Tabek Patah
  • Gunung Singgalang

Referensi

  • BKPM “Indonesia Investment Coordinating Board”. 2013. Potensi wisata alam di kabupaten Pasaman Barat. Diakses pada tanggal 22 Juli 2015.
  • #infosumbar via Instagram. Diakses pada tanggal 21 Juli 2015.
  • Padang Indah Kemilau Tour & Travel. 2010. 24 lokasi wisata yg terkenal di Sumbar. Diakses pada tanggal 21 Juli 2015.
  • BEM KM UNAND. 2015.
  • Aminuddin, A. W. n. d. Daftar nama tempat wisata di Sumatera Barat. Diakses pada tanggal 20 Juli 2015.
  • Pemerintah Kota Bukittinggi Propinsi Sumatera Barat (website resmi) diakses pada 12 September 2015.
  • Beberapa info dishare oleh Geni.
  • Info wisata Sawahlunto dishareย oleh Hendro pada 23 Maret 2017.

Kuliner Khas Pariaman “Nasi Sek & Aneka Sala”

Nasi Sek is culinary (Indonesian food) from Pariaman, specially in Gandoriah Beach. The cook rice is setting in banana leaf that making like pyramid. We eat it on the cottage without wall near beach, hm.. there is give you a natural atmosphere. You must eat with all varian sea food that are favorit there, like Sala Cumi-cumi (squid), Sala Lauak (fish), Sala Kepiting (crab), Sala Udang (shrimp), etc. You never know before try it. Hm, yummy.. It’s really tasty food ๐Ÿ˜‰

Nasi Sek ini bisa kita nikmati di Pantai Gandoriah, Pariaman, Sumatera Barat. Cerita punya cerita nih, Nasi Sek itu diset dalam bentuk kecil nan unik, dibungkus dengan daun pisang. Udah gitu, yang lebih khas lagi, yang saya cari-cari kalau kesana, Sala Cumi-cumi, sedap bener deh kalau dimakan bareng nasi sek.

Kami survey tempat yang bikin PW /pewe/, disana kita makan dipondokan yang sengaja dibuat dekat bibir pantai, kesannya alami banget. Dapet deh, eh giliran menu datang, ayam goreng/gulai/bumbu, gulai ikan, samba lado, gulai jengki (bahasa keren kita buat jengkol), udang (walaaah…dirumah sambalnya juga udang, pie toh??), telur bulat goreng cabe merah. Sontak kita protes sama si Uniang (panggilan khas Pariaman buat perempuan, kalau yang laki-laki dipanggil Ajo). Ternyata, menunya tergantung cuaca. Jika ada badai, hasil tangkapan yang didapat ga banyak, jadi variasi lauknya memang sedikit, berasa makan di rumah deh jadinya… Eits, gulai jengkol merubah suasana, enak ternyata, sampai kuah-kuahnya ludes!!! ๐Ÿ˜€

Trus kita beli Sala Lauak (Rp 500,-) yang dijojoin ibu-ibu sekitar sana. Ga lupa saya ambil Sala Kepiting (Rp 5.000,-). Sebelum pulang, kami membeli Sala Lauak dan Sala Udang buat oleh-oleh. Sebenernya semua sama, bahan dasarnya masih sea food, tapi digumuli sama tepung yang udah dikasih bumbu sebelum digoreng, kecuali Sala Lauak.

Sala Lauak punya 2 versi. Versi pertama, setelah dipotong sesuai ukuran yang diperkirakan si penjual, ikan yang masih berbentuk digumuli sama tepung yang udah dikasih bumbu, lalu digoreng. Biasanya, jenis ini sering dijadiin lauk buat nemanin nasi. Kalaupun dicemil, kebanyakan orang sering mencocolnya dengan sambal kemasan atau sambal lado. Yummy deh pokoknya.. Beda banget sama versi yang satunya lagi. Daging ikan yang udah dihancurin diaduk bersama tepung yang udah dikasih bumbu, lalu dibikin bulat-bulat kayak bakso, abis itu baru deh digoreng. Ini biasa dimakan gitu aja buat cemilan ๐Ÿ˜€

Go To Pariaman (Part 2)

12 Januari 2015

Kalau kemarin saya dan Unjut jalan-jalan ke Pariaman karena nemenin Lia, sekarang Ibu ๐Ÿ™‚ . Renovasi rumah membuat gerak kami terbatas tuk bepergian. Jadi, ketika Ibu ke Padang, meskipun tujuan utamanya pergi baralek adik iparnya sepupu ke Anak Air (daerah Lubuk Buaya), tetap ga afdhal rasanya kalau kami ga bawa Ibu jalan-jalan, paling enggak sekali ๐Ÿ˜€ Nah, awalnya Ibu mau pulkam di hari Senen, kami kompakan tuh ngebujuk Ibu buat pulang esoknya aja. Akhirnya, alhamdulillah… Wong Ayah udah kasih ijin kok ๐Ÿ˜€

  • 08.50 Naik Bus ke Pariaman di Simpang Tabing
  • 09.15 Berangkat….
  • 09.17 Berhenti di Simpang Muaro (naikin penumpang)
  • 09.31 Simpang Bypass
  • 09.53 Simpang Pariaman
  • 10.23 Naik angkot carry berwarna putih
  • 10.35 Pasar Pariaman
  • ……….Kira2 15-20 menitan (lupa nih nyatet jamnya ๐Ÿ˜€ ), akhirnya sampai… Alhamdulillah… Seperti biasa, kayak udah kewajiban, pas nyampe Pantai Gandoriah mesti makan Nasi Sek ๐Ÿ˜€ Lagi-lagi… Sala Cumi ga ada ๐Ÿ˜ฆ Syukurlah.. Ada Sala Lauak gantinya. Awalnya saya kira Sala Lauak yang bulat-bulat itu, eh taunya…. beda… saya makin ogahan, soalnya ga terlalu suka sama makanan dari olahan ikan yang tok dagingnya tebel, serasa nyangkut ditenggorokan, tapi… kalau ga dicoba mana tau tuh cak mano rasonyo ๐Ÿ˜€ Saya ambil yang ukuran lebih kecil dan yang paling tipis. Ternyata, enak… Hm… Tuh kan, udah suuzon aja ๐Ÿ˜€ Yak kelar, Sala Lauak udah habis 1 porsi. Menu lain? Ga lah… kecuali gulai jengki (ga berasa makan jengkol, lho..), tetep jadi andalan, makin enak dimakan bareng Sala Lauak ๐Ÿ™‚

Setelah dipikir-pikir…”kok sepi ya??” Padahal kemaren rame bener?! Yah, setelah ngobrol-ngobrol barulah kami ngeh, ya iyalah… Kemaren itu kan bertepatan sama Hari Raya Natal dan Tahun Baru Masehi, makanya…. rame nian cam pasar ๐Ÿ˜€ Sepi?? Ga terlalu sih.. Cuma, karena kemaren rame, jadi berasa ada yang kurang sekarang.. ๐Ÿ˜€ OK deh, udah jauh-jauh bawa Ibu kesini, masa ga ke seberang?! Kita pengen liatin nih sama Ibu, “kesini (Pulau Angso Duo) lho kami kemaren, Bu..”, pasti Ibupun berdecak kagum seperti kami. Yuk, go….

Udah semangat-semangatnya, eeeh… yang punya Boat kagak ade?! Mau berenang ke seberang?? ๐Ÿ˜€ Untung aja ada Ibu-ibu yang jualan disana dengan sangat ramah meminta kami menunggu, beliau coba menghubungi empunya Boat. Ngomong-ngomong nih, Ibuk itu punya kedai Nasi Sek juga lho… Sementara kami tadi makannya ga jauh dari sini… Saking ramahnya siIbu, kami akirnya pesan minuman juga, padahal minuman yang dibungkus sebelumnya belum diminum, segan berat.. Udah bantuin nyariin empunya Boat, menyilakan kami duduk dipondokannya, wajahnya tulus banget lagi… Ga nampak sedikitpun raut dongkol, padahal kami baru aja makan di sebelah. Udah gitu, beliau malah tampak sungkan karena empunya Boat masih belum datang. Saluuut… Itu contoh tuh buat yang jualan, karena kita ramah, orang yang ga niat beli jadi pengen beli.. ๐Ÿ™‚ Jempol deh buat siIbuk.

Cus, yang punya Boat dah datang… Tapi… Si Bapak nyariin penumpang lagi… Syukurlah, sekelompok pendatang (katanya jauh-jauh dari Bandung ke Padang buat menghadiri baralek temannya) kompakan memilih ikut. Kali ini ga semenakutkan seperti kemaren, guys… Akhirnya, kami sampai juga di Pulang Angso Duo yang udah selesai direnovasi, makin cantik.. Apesnya, panasnya terik banget… Sebenernya udah sedari sampe pantai tadi sih.. Lebih panas dari waktu kami pergi sebelumnya, bikin silau…

Rugi rasanya kalau sampai ditepi pantai pulau secantik ini mesti make sandal.. Saya lepas itu sandal, wadoooow….. serasa terapi rematik!!! Itu lho… nginjak batu-batu kerikil… Ada enaknya juga, lho… Tapi sesekali saya nginjak air lautnya, mereka berlari kecil menyisir pantai, hm… ademmm… Kali ini kami banyak dapet Kucing-kucing (kamu tau apa itu? Saya juga ga bisa jelasin bahasa universalnya apa :D), gitu juga Umang-umang (banyak yang kecil, lebih beraneka ragam lagi..). 2x lho kami kelilingin itu pulau.. Udah promoin Surau Katik Sangko juga sama Ibu ๐Ÿ™‚

Fiuh, capek… Kami rehat tak berdaya dibibir pantai sambil ngabisin Pop Corn yang sempat dibawa dari rumah ๐Ÿ˜€ Lamanya Boatnya datang… Cukup lama kami duduk ga jelas disana, jadi ngantuk… Cuacanya memang panas terik, tapi… anginnya itu lho, hoaaaahm…. Boatnya datang, kami balik…. Bye Pulau Angso Duo… Kapan-kapan mampir lagi.. ๐Ÿ˜‰

Nah, kami satu Boat dengan sekelompok orang yang berbeda, ternyata yang bareng kami tadi udah naik Boat sebelumnya yang mungkin tiba saat kami lagi dalam misi keduakalinya mengelilingi pulau itu. Rame juga kok disini.. Ada yang pasang tenda lagi ๐Ÿ™‚

Sepertinya laut lagi pasang, terasa banget gimana terombang-ambingnya di dalam Boat, untungnya Boat yang kami naikin sekarang ataupun tadi adalah bentuk Boat yang terbuka tanpa kaca. Kalau ada apa-apa, masih ada kemungkinan untuk keluar kalaupun ga bisa renang ๐Ÿ˜€ Bikin saya kepo aja.. Tapi swear!! Saya mulai takut… Dulu pernah nyaris tenggelam gegara Laut Cina mengganas dan kapal kelebihan muatan, waktu itu saya sedang dalam perjalanan ke Tanjung Pinang menggunakan kapal ferry tahun 2009, padahal udah dipindah ke kapal yang lebih besar (isinya kebanyakan orang Cina yang sepertinya mau ke Singapore dan kami, saya dan 2 teman saya) masih saja dimasukin ombak yang spontan memandikan barang-barang penumpang di dek paling depan, ga tau deh, ga bisa diungkapin paniknya kami kala itu. Nyali saya semakin ciut ketika Boat malah bergerak menjauh dari tempat awal kami naik.. Saya lihat Unjut terdiam tanpa kata dan Ibu masih bisa tampak tenang walaupun sesekali terlihat ekspresi kaget saat kapal mulai miring dengan tajam. Dalam hati saya berdoa, pasrah… Saya merasa tidak mampu menyelamatkan diri sendiri ataupun mereka.. Penumpang lain yang rata-rata seumuran (sepertinya anak SMA), ikutan panik dengan berbagai ekspresi, yang lucunya masih ada yang tampak seolah-olah cuek :3 Untunglah, alhamdulillah, sampai… Ternyata ga sampai sekilo berjalan, kami tiba di tempat awal. Empunya Boat membawa kami ke tempat itu mungkin karena mereka membawa berkarung-karung pasir yang sulit diturunkan ditempat kami awal naik.

Ga jauh di depan, masih tampak kereta api, benarkah??? Kereta apinya belum berangkat???? Waaah, amazing… Akhirnya, untuk pertama kalinya saya bakal naik kereta api, luar biasa, senang banget… Ternyata benar dan tiketpun masih ada (sempat dibuli juga sama securitynya sebelumnya). Dengan membayar tiket Rp 7.500,-/3 orang, kami jadi naik kereta… Yuhu… What, Rp 2.500,-/orang?? Waah, serasa ga percaya, bener-bener ekonomis!! ๐Ÿ™‚

  • 16.37 Kereta Api, setelah sekitar 20 menit berhenti 3x
  • 17.08 Berhenti di Stasiun Lubuk Alung
  • 17.10 Jalan…
  • 17.28 Stasiun Duku
  • Sekitar 17.40 WIB kita sampe Stasiun Tabing, abis itu langsung melahap semangkok pempek enak yang dijual di samping jagung rebus, hm….kenyang…

Hari yang indah.. ๐Ÿ™‚

Ngomong-ngomong itu cerita takut tenggelam didramatisir doang kok, toh paling ntar kalau diajak ke Pulau Angso Duo lagi, ga ditawarin juga nawarin diri sendiri ๐Ÿ˜€

Go To Pariaman (Part 1)

28 Desember 2014

Tadinya, saya dan adik saya “Unjut” mau ngajakin temannya bernama Lia dari Tebo buat liburan ke Great Wall Bukittinggi. Namun, gegara renovasi rumah, kita mesti ke pasar dan masak-masak dulu sedari pagi.. Yaaah, kelarnya udah menjelang siang. Jadi, daripada nggak jadi, kebetulan saya sudah sejak lama pengen naik Kereta Api ke Pariaman (belum pernah soalnya), iseng-iseng unjuk opini. Eh, disambut semangat 45 walaupun sedikit galau. Kita-kita pada nggak tau jadwal kereta api itu kapan?? Tapi, masih ada cara toh, mending tanya dulu.. Kalau ga rejeki, naik Bus Pariaman yang always parkir di Simpang Tabing aja.. Yup, semua sepakat, berangkaaat… ๐Ÿ™‚

Ternyata bener, boro-boro nanyain ke petugasnya, stasiunnya aje kagak buka??! ๐Ÿ˜ฅ Sempat ragu juga ngiyain kenek yang udah nawarin buat naikin Busnya (Bus Alisma). Tapi…balik lagi, “jadi nggak nih ke Pariaman???” “YA!!” OK deal, kita naik Bus….!!! Lumayan lama juga nungguin penumpangnya sampe cukup penuh, akhirnya…gooooo…. ๐Ÿ˜‰

  • 11.30 Stasiun Tabing Padang
  • 12.05 Simpang Bypass
  • 13.26 Tugu ikan pedang (kata siUnjut siyh, itu namanya ikan sala, ga tau mana yang bener, saya kasi nama dewek_an deh, hahaa).
  • 13.30 Simpang Masjid Tawakal Balibi Nagari Punggung Kasiak, berhenti untuk menurunkan penumpang, keneknya mintain ongkos ke kita-kita (Rp 13.000,-)
  • 13.33 Goooo…
  • ………Ga ketemu nih catatan selanjutnya; yang jelas, kita diturunin di suatu tempat (entah dimana, entah apa nama daerahnya, yang jelas kita percaya sama Pak Sopir setelah menghujani si Bapak dengan cukup banyak pertanyaan, hihi). Kita awalnya udah wanti-wanti, “turunkan kami di Pantai Gandoriah ya, Pak…”; Syukurlah si Bapak ngerti kalau kita-kita buta arah ๐Ÿ˜€ Trus kita diminta turun setelah beliau mengkode sebuah angkot putih (mirip angkot Tabing/Labor). Kita nurut aja, sampai akhirnya siabang sopir angkot nyeruin kalau yang mau ke Pantai Gandoriah turunnya disini. Kami plangak-plongok, “mana nih pantainya???!”, nyaris suuzon. Saya tanya deh, walaaaah…ember bener, manusia emang mudah berprasangka nih, xixi.. Kita emang diturunkan dekat Pasar, lalu jalan sampai stasiun, dibalik stasiun… tadaaaaa….Pantai Gandoriah, yuhuuuuuuu……..Akhirnya kita sampai……!!!!!!!
  • ………Udah ke Pariaman, ga afdhal rasanya kalau nggak nyicipin Nasi Sek (cerita punya cerita nih, sebenernya itu Nasi Set, yang udah diset dalam bentuk kecil nan unik, dibungkus sama daun pisang). Udah gitu, yang lebih khas lagi, yang saya cari-cari kalau kesana, Sala Cumi-cumi. Kami survey tempat yang bikin PW /pewe/. Dapet deh, eh giliran menu datang, ayam goreng/gulai/bumbu, gulai ikan, samba lado, gulai jengki (bahasa keren kita buat jengkol), udang (walaaah…dirumah sambalnya juga udang, pie toh??), telur bulat goreng cabe merah. Sontak kita protes sama si Uniang (panggilan khas Pariaman buat perempuan, kalau yang laki-laki dipanggil Ajo). Malang tidak bisa ditolak, ternyata beberapa hari belakangan ini badai, baru kali ini cerah, jadi tangkapan yang dapat itu ga banyak… Huft, jadi berasa makan di rumah deh jadinya… Eits, gulai jengki merubah suasana, enak ternyata, sampai kuah-kuahnya ludes!!! ๐Ÿ˜€ Trus kita beli Sala Lauak (Rp 500,-) yang dijojoin ibu-ibu sekitar sana. Ga lupa saya ambil Sala Kepiting (Rp 5.000,-), meskipun saya jaga-jaga makanan, ketemu mereka saya tutup mata deh, ntar pulang biar tau rasa gegara asam urat naik ๐Ÿ˜€
  • …..Kenyaaaang….Unjut dan Lia udah sibuk sama rutinitas baru, nyari dan ngumpulin kerang dan karang.. Sementara, sebelumnya kami sempat ngobrol-ngobrol tentang Pulau Angso Duo yang tampak memikat di seberang sana. Ga tau deh, pengen nekat aja mau kesana, tapi… “kok sepi ya???” Basinglah, namanya juga penasaran. Saya berani ngambil resiko soal omongan adik saya yang bilang kalau ga ada yang pergi, Boatnya kita bayar Rp 200.000,-/ 3 orang (Unjut dapet kabar burung gitu katanya), beeeeh… Antara ragu dan pengen, berat pengennya ๐Ÿ˜€ , kita tanyain sama yang punya Boat, ternyata sewanya Rp 35.000,- PP alias pulang-pergi (Dianter, ntar dijemput lagi sorenya). Dari sanalah saya sempat bikin kehebohan kecil sama Unjut yang bilang insert boatnya sampe 200 rebeng ๐Ÿ˜€ OK fix, kita menyebraaaaang…..Pulau Angso Duoooo, kami dataaaang…
  • ……. Ga bisa diungkapkan lewat kata-kata deh ngerinya kami ketika Boatnya oleng-oleng terus, serasa itu laut siap melahap 8 penumpang Boat yang udah kehilangan nyali.. ๐Ÿ˜ฅ Fiuuuuuh…. alangkah luarrrr biasa leganya kami sewaktu Boat akhirnya menepi, beda jauh dari pantai seberang yang ombaknya menari dengan arogan, di pulau nan exotic ini, ombaknya tenang…suasananya ademmm…. Nyali kami direfresh ke tahap awal ๐Ÿ˜€ Habiiis, mau naik Boat aja perjuangannya minta ampuuun, udah dinaikin celana sampe lutut, eh malah basah sampe paha atas; udah gitu, pasirnya seperti mencengkram dan memaksa kami tuk mengikutinya… Fiuh, lagi-lagi lega….
  • ……. Kami terpana… Waaah, Pulau yang cantiiiik…. Pasir putih… Batu-batu karang yang unik-unik… Umang-umang… Bebatuan kecil yang terdampar… Serasa berada di tujuan travelling kategori MAHhhAL ๐Ÿ˜€ (Ah, lebay ah…). Disana tampak pekerja lagi merenovasi tulisan Pulau Angso Duo yang beberapa hurufnya udah hilang, hihi.. Tiba-tiba si Lia bilang kalau misi kita kali ini “keliling Pulau Angso Duo”, saya hanya bisa tertawa dan sedikit berpikir “mana mungkin”
  • ……..Ternyata Lia benar, saya salah duga, tanpa sadar misi mengelilingi pulau itu sukses lho… ๐Ÿ™‚ dengan tertatih-tatih kami membawa karang-karang, kerang-kerang dan umang-umang yang kami masukkan ke dalam kantong asoi dan botol air mineral (berat nih perjuangan nyari kantongnya, nyari sana-sini, ujung-ujungnya dikasih sama bapak-bapak pekerja disana yang ditemukan dekat sebuah kedai satu-satunya yang jualan disana, kebetulan kami beruntung nemuin botol air mineral tanpa usaha lebih ๐Ÿ˜€ ). Eits, kita juga bawa pasirnya lho…. Yang halus mirip tepung dan yang kasar mirip butiran gula, bersiiiih…. Wonderfull dah pokoke.. ๐Ÿ˜€
  • Dibalik tulisan Pulau Angso Duo, berdiri kokoh Surau Katik Sangko. Ga jauh disebelahnya ada makam yang dihormati masyarakat sekitar, saya ga sempat nanya-nanya juga sejarah pulau itu ke penghuni sekitar, soale udah kecapek_an happy fun seharian ๐Ÿ˜€
  • Sekitar jam 3-an, kami dijemput boat. Sebelumnya ada cerita lucu juga nih, ibu-ibu yang satu boat dengan kami tadi sempat khawatir takut ketinggalan boat, jadi kami bertukar nomer HP buat saling kontak ๐Ÿ˜€ Eh, boatnya datang pas emang kami lagi PW mulihin energi ๐Ÿ˜€ Kali ini ga semenakutkan seperti awal berangkat, tapi….tiba-tiba jantung kami nyaris copot ketika boatnya berbelok dengan sangaaaat miring, antara pasrah dan ga rela buat berakhir disana ๐Ÿ˜€ Syukurlah, aman sampai kembali ke tujuan. Expresi lebay bukan cuma gegara karakter, tapi karena perdana berhadapan dengan tantangan ini ๐Ÿ˜€
  • ……Kita keliling, foto-foto di Tabuik, beli Sala Lauak dan Sala Udang buat oleh-oleh.
  • Jam 4-an kami naik angkot lagi (setelah tanya sana-sini, dijelasin kalau kami ntar turun angkot di Simpang Alay, disana banyak bus ke Padang parkir nyari penumpang).
  • 18.08 Naik bus.
  • 19.15 Gerbang Padang, akhirnya… kami sampai humz sweet humz dengan kucel ๐Ÿ˜€
  • Cerita punya cerita, kami ga juga dapet tiket kereta api yang ternyata udah habis sejak 3 hari yang lalu.. Maklum, kan liburan Natal dan Tahun Baru, makanya rame.. Dan, Pulau Angso Duo tak seperti yang terlihat dari seberang (Pantai Gandoriah) yang tampak sepi, rame kok disana, pulaunya cantik lagi ๐Ÿ™‚