Tag Archives: Pessel

Pulau Cingkuak (Cingkuak Island)

Pulau Cingkuak

Pulau Cingkuak terletak di seberang Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Akses kesini menggunakan Boat dengan ongkos Rp 10.000,-/orang. Nanti kita akan ditawari apakah ingin mengelilingi pulau atau langsung ke pulau. Jika kita memilih berkeliling, kita harus menambah ongkos kapal sebesar Rp 5.000,-/orang. Jika langsung, sekitar 5 menit sudah bisa menginjakkan kaki di Pulau Cingkuak. Uniknya, setelah turun dari kapal, kita tidak langsung menginjaki bibir pantai, tapi melewati tumpukan galon (seperti galon minyak) yang telah disusun rapi dan sangat aman.

Ombaknya tenang, kapalnya juga tenang, pemandangan sekitar luar biasa indah… Pasir putih nan elok menyambut dengan hangat 🙂 Selain itu, disini terdapat aneka permainan yang siap menguji adrenalin, seperti: Jetski (Rp 100.000,-/orang), Donat Boat (Rp 25.000,-/orang) dan Banana Boat (Rp 20.000,-/orang).

Eits, disini juga banyak umang-umang, lho… ikan pantai dan juga kepiting kecil-kecil. Serru….!!! Namun, buat yang hobby renang atau bersnorkling ria, hanya boleh berenang di sayap kanan pulaunya saja. Sayap kiri memang lebih indah kelihatannya, tapi disini lagi banyak terumbu karang yang dibudidayakan, jadi tidak boleh diusik 🙂

Selain tempat wisata, Pulau Cingkuak juga bernilai sejarah. Disini terdapat sisa-sisa Benteng Portugis. Penasaran?? Cus, kunjungi Pulau Cingkuak 😉

Nah, dari sisi kiri pulau ini bisa terlihat Pulau Batu Naga yang kabarnya terdapat batu kepala naga disana. Konon, menurut dongeng tetua setempat, dahulunya Naga yang berasal dari Negeri Cina itu pergi ke Indonesia; karena suatu hal, ia mati dan menjadi batu, namun yang tertinggal hanyalah kepalanya. Tempat itu juga dikenal sebagai Pulau Siput, karena mirip dengan siput yang sedang berjalan (Informasi dari Weni, 25/11/15).

Lainnya
Advertisements

Jembatan Akar (Aka Bridge)

Jembatan Akar

Seperti namanya, jembatan ini terbentuk dari pertautan 2 akar pohon yang saling berseberangan yang membentang di atas aliran Batang Bayang di Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Diperkirakan, umur jembatan ini sekitar 100 tahun (BEM SI UNAND 2015).

Jembatan ini memiliki panjang + 25 meter dan semakin kuat seiring bertambahnya usianya. Konon, jembatan ini dibangun oleh seorang ulama bernama Pakih Sokan (BEM SI UNAND 2015).

Referensi
  • BEM SI UNAND 2015
Lainnya

Puncak Mandeh (Mandeh Top)

Puncak Mandeh

Objek wisata ini pernah dijuluki sebagai Raja Ampat-nya Sumatra. Terletak di Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan. Lokasi ini dinamai Puncak Mandeh karena berdekatan dengan Desa Mandeh yang merupakan bagian tengah dari Teluk Carocok Tarusan. Dari puncak ini, tampak aneka pulau berpencar dihamparan laut nan biru. Langit yang cerah membiaskan warna yang cantik di permukaan laut. Udaranya sejuk.. Pepohonan disekitarnya melindungi kita dari silaunya cahaya matahari.

This is known by Raja Ampat of Sumatra, because they are alike. Mandeh Top located in Koto XI Tarusan Subdistrict, South Pesisir Regency, West Sumatra. The name is given because it is near Mandeh Village, the middle of Carocok Bay Tarusan. There is very beautiful place.

Referensi
  • BEM SI UNAND 2015.
Lainnya

Trip Berubah Haluan “Menuju Wisata Painan Nan Elok”

Setelah seminggu mengumpulkan voting trip ke pulau, akhirnya pada hari Jum’at (01/05/15), deal 7 dari 16 orang yang berencana ikut. Yah, cukup senang, akhirnya bisa juga ikut trip ekonomis ala backpacker dari teman saya, Dayak. Sebenarnya trip ini selalu diadakan setiap hari Minggu, kita cukup milih 2 dari pulau: Pulau Pagang, Pulau Pamutusan, Pulau Pasumpahan (trip bukit) atau Pulau Sekuai.

Untung aja harinya fix Minggu, padahal sempat jadiin Sabtu sebagai alternatif 😀 Karena pagi di hari Sabtu hujan lebat euy.. Ga berhenti sampe sore.. Kami sempat pesimis trip ini terancam batal 😦

Namun, sekitar jam 10, Mimi, salah satu personil (ciha, haha) yang akan ikut, sudah stay di rumah saya, kita udah sepakat buat masak bareng ntar malam 😀 Kita belanja di Pasar Lubuk Buaya, sebuah pasar tradisional yang cukup besar di ujung Kota Padang yang menyediakan berbagai bahan masakan, makanan dan keperluan rumah tangga dengan harga miring 😉 Kita udah beli ayam potong 12, cabe goreng giling tangan yang dibeli di tempat Mak Uwo langganan saya, minyak goreng 1/4 kg buat serap, cabe ijo, tahu sumedang, tempe, mentimun, dll; tambah parkir Rp 1.000,-; total biaya yang kita keluarkan adalah tadaaaaa… Rp 75.000,-!!! Ekonomis, bukan?! 😉 Sampe rumah, kita nungguin Cilot, dia lagi dalam perjalanan dari Bukittinggi ke Padang.

Akhirnya, Cilot sampai di rumah saya setelah sebelumnya sempat nyasar sampe ke Basko 😀 Cilot bawa oleh-oleh Bukittinggi, asik, kerupuk sanjai dan karakkaliang, yihi… 😀 Saya dan mimi langsung menyerbu dan mulai sibuk mengemil makanan renyah itu 😀

Malamnya, abis Maghrib, kita udah standbye di dapur nak masak. Kita mau bikin ayam goreng sambal dan oseng-oseng 🙂 Berhubung saya masih pake kompor minyak, masaknya jadi lamaaa… Baru kelar jam 22.30-an, capek nungguinnya, hoaaahm.. ngantuk lagi.. Mimi aja udah berlayar entah kemana-mana, alias udah tepar 😀 cuma Cilot yang standbye sambil nontonin Jupiter Ascending yang sempat saya promoin 😀 Akhirnya kelar juga.. Hm, yummy… Semua masakan kita simpan di dalam tudung saji. Besok Subuh tinggal masak nasi dan bungkus-bungkus 😉

Sebelum tidur, kita berharap besok (Minggu) hari cerah, bak kata Mimi “Puas-puasinlah hujan sekarang biar besok cerah” ucapnya santai, sementara antara Cilot dan saya tetap ada raut pesimis. Lalu, waaaa… kita dapat kabar buruk, 2 personil kita mengonfirmasi mundur karena suatu hal, mereka mendadak mengalami situasi sulit 😦

Alhamdulillah… bangun di pagi tanggal merah, cuaca memaklumi usaha kami, cerah berawan.. Oh, thanks God.. hanya Kau yang mampu mengerti segalanya 🙂 So, let’s go to the island, yehee…

Kita siap-siap.. Mimi udah siap membungkus nasi 1 magic com gede 😀 Makluuum… ntar kita kan bepergian jauh, jadi harus ready bekalnya.. 😉

Semua fix, Siscepun udah ikut bergabung. Kita tinggal parkir di pinggir jalan raya buat nungguin mobilnya Kak Ami, wuih.. stylenya udah pas banget buat ke pantai, santai dan energik 😀

Mobilpun melaju menuju Teluk Bayur, tempat Dayak menunggu sebagai guidenya kita-kita. Setelah ketemu, kita langsung ngikutin instruksinya Dayak buat membaca arah.

Namun, di tengah perjalanan, Pak Sopir sempat mengajukan protes tentang tempat tujuan kami. Kemudian setelah hampir sampai di Sungai Pisang, Mama Kak Ami yang kebetulan ikut juga berpendapat kalau sebaiknya perjalanan dihentikan, kemudian diikuti oleh persetujuan dari teman-teman lainnya. Yah, apa boleh buat guys, akses kesana memang belum dikelola dengan cukup apik.. Untunglah Dayak mengerti keputusan ini, “thanks, Day!”

Mama dan Kak Ami menawarkan kami untuk mencari rute lain yang aksesnya lebih mudah. Disusul dengan ide Pak Sopir untuk menjemput Mela ke Tarusan setelah saya bilang Mela sempat mengajak ke pantai yang mirip tempat shooting film Laskar Pelangi. Seantero mobil mulai gembira kembali, terutama Mimi, karena dia sempat nonton My Trip My Adventure kemaren (Sabtu, 02/05/15) kala Duta Wisata Pessel mengundang artis cantik Nadine ke Pesisir Selatan, salah satunya Pantai Batu Kalang.

Saya menguhubungi Mela via mobile, mengonfirmasi alamatnya dimana, dan.. sekitar sejam melaju, dengan kecepatan Fast & Farious ala Pak Sopir, kami sampai di Tarusan. Waaah… rumah Mela adem euy, dikelilingi sawah… 🙂

Disini ada yang menarik, saat Mela bilang temannya juga ada yang punya trip ke pulau, naiknya di dekat sini, kami berlima kompakan nanya “Bara (berapa)??” lalu ketawa heboh setelahnya 😀 Selesai rehat, setelah mendapat ijin dari Papa Mela, kami membawa Mela, menggantikan Dayak sebagai guide, tentunya dengan trip yang sangat berbeda 😉

Pertama, kami dipandu ke Pantai Batu Kalang. Waaah, pantai yang eksotis!! Belum banyak lho yang datang kesini.. Saya juga ga bakalan tau kalau Mela enggak pernah cerita. Berulang kali Mimi bilang “Pasti banyak yang nyari tempat ini setelah tayang di TV”, ucapnya yakin 😀

Pantai lepas yang dipagari oleh bukit-bukit barisan.. Terhampar luas laut biru dengan tepian yang dangkal.. Banyak ikan-ikan cicak merayap dan sembunyi di sela-sela bebatuan karang. Ada ikan hitam yang cantik.. Tangan saya jadi gatal-gatal ga sabar ingin menangkapnya, tapi saya yakin ga bakal mampu 😀 Bebatuan besar tertata rapi di ujung pantai dan beberapa diantaranya terdampar dengan megah di bibir pantai. Ada beberapa batang Pohon Bakau tumbuh menyemarakkan indahnya pantai ini, dikelilingi oleh banyak pancang terjal yang seolah siap menusuk siapa saja yang berani mendekatinya. Indah..

Ketemu beberapa ubur-ubur yang terdampar!! Kok bisa ya?? Waaah, baru kali ini melihat ubur-ubur beneran 😀 Unik ya bentuknya..

Nggak mau kehilangan moment ini, kami berselfieria dimana-mana. Hasilnya keren-keren…!! 😉 Dan.. yuhuuuu… saya berhasil menangkap ikan yang lumayan besar 1 ekor, luar biasa senangnya 😀 Lalu, Mela juga berhasil nangkap ikan yang lebih kecil berwarna bening. Ikan khasnya pantai.. Saya pernah menemukan salah satu dari jenis yang seperti ini di Pulau Cingkuak 😉 Ntar masukin akuarium ah… 😀

Saya jadi penasaran, kok telapak kaki saya perih ya.. Tadinya dikira karena menapaki pecahan karang atau kerang yang berserakan di punggir pantai, eh taunya luka!!! Bah, lumayan ini.. Pantas aja.. Jadi senasib sama Sisce 😦 Nah, kudu hati-hati ye, atau pake sepatu sekalian biar aman 😉

Hari mulai terik, perutpun mulai lapar. Setelah minta ijin sama empunya kedai, warga asli, kami makan siang di pondokan yang mengarah ke laut, waaah… mantap…

Setelah ini, kita menunggu konfirmasi dari teman Mela, ada trip lain yang ga kalah keren, Pulau Cubadak!! Pulau yang sempat menjadi kontroversi di youtube  itu 😀 Namun, setelah dirembukkan, kami lebih memilih meneruskan perjalanan ke Puncak Mandeh. Saya udah pernah liat fotonya dari Unjut dan akhirnya sekarang punya kesempatan buat kesana, asik 😀

Hm, dibandingkan Pantai Batu Kalang, Puncak Mandeh sudah lebih familiar. Disini rame pas kita nyampe. Ada seru dan enggaknya nih. Serunya, ya rame.. Tapi, ga serunya, tiap foto, harus berebut ngambil posisi yang viewnya bagus, atau kadang udah kece badai masang gaya, eh nongol entah siapa-siapa lalu-lalang di belakang kita, bikin sebal aja :3

Dari puncak ini, tampak aneka pulau berpencar dihamparan laut nan biru.. Langit yang cerah membiaskan warna yang cantik di permukaan laut. Udaranya sejuk.. Pepohonan disana melindungi kita dari silaunya cahaya matahari.. Hoaahm.. jadi ngantuk.. 😀

Cus, trip ketiga, Air Terjun Bayang Sani. Mela bilang tempatnya OK punya. “Apa lagi ituh? Cak mana ya bentuknya? Paling mirip air terjun kebanyakanlah, cuma tingkat dan kedalamannya aja yang beda-beda”. Awalnya saya penasaran, tapi ga terlalu excited kesana. Tiba-tiba, di luar jendela, saya melihat tempat yang waaah… kereeen… Ternyata itu dia yang namanya Air Terjun Bayang Sani!!! Waaaah.. uniiik.. beda banget dari air terjun kebanyakan, baru kali ini saya liat yang beginian.. 😀

Sebelumnya udah niatan buat mandi-mandi, namun karena suatu hal, saya lebih memilih mundur setelah ngeliat langsung medannya gimana, huft.. Saya juga sempat was-was, karena saat mengambil foto, sempat melihat ada batang kayu gede membentang di puncak air terjun sebelah kanan, mulai paranoid duluan takut kena timpuk 😀

Pelan tapi pasti, akirnya kita sampe di kaki bukit, tepat di tempat jatuhnya air terjun.. Waaah… saking derasnya airnya, kita jadi kayak ngerasa berada di tengah rintik hujan, sejuk… Alirannya yang deras seolah menghanyutkan segala kepenatan, beban pikiran dan masalah yang sebelumnya terbawa sampe kesini (sok puitis) 😀 Pokoknya cius deh, kerreeeen…!!!

Dengan ogah-ogahan, akirnya saya menurunkan badan juga ke kolam di bawah air terjun. Itupun awalnya cuma buat menemani Mimi dan Cilot. Brrrr… sejuuuk… Saya sempat berkukuh buat cuma merendam kaki doang, tapi setelah melihat Mimi dan Cilot merayap aman di air bersama ban gede rentalan, saya akirnya ikut. Waaah, sejuk nian.. 😉 Jadi berasa rugi kalau ga jadi berenang 😀

Kami berjalan hingga ke tengah kolam, meraba-raba dengan kaki sambil berpegangan di sisi luar ban. Tiba-tiba, kami terpeleset, melesat ke dalam air, tidak ada bebatuan tempat menginjakkan kaki, kami gelagapan!!! Siapapun diantara kami berusaha berpegangan kuat pada ban, namun ban itu oleng karena berat sebelah dan sayapun terbenam ke dalam air, panik.. tanpa sadar meneguk air yang sama sekali tak ingin saya teguk, berharap ada seseorang yang mau menyelamatkan, saya cuma bisa pasrah, mungkinkah hidup saya akan berakhir disini?? (Bah) Saya berusaha sampai ke permukaan, mencoba mengompensasi keadaan, ternyata.. sia-sia.. terdengar suara Mela dan beberapa orang memanggil nama saya dengan khawatir..

Lalu, datang sebuah tangan menarik saya, dan tentunya juga Mimi dan Cilot, ketempat yang ada pijakannya. Alhamdulillah, Ibu-ibu itulah pahlawan kami.. Tanpa dia, mungkin, saya rasa.. entahlah..

Padahal, saya sempat negative thinking  nih sama siIbu awalnya, coz cuma dia yang berani mengenakan pakaian minim begitu disana, tengtop sama celana ketat, dan Allahualam.. untuk kesekiankalinya, Tuhan mengajarkan saya “Don’t judge peoples by their look, no bodies perfect, you too!!”, benar-benar salut dan kagum sama siIbu, dia berani tampil beda di tengah kultur yang kental dan ahli berenang 🙂

Kami berganti baju, beh… segar.. tapi juga capek.. Kak Ami sempat nanya, “mau kemana kita lagi?”. Semua no comment, kayaknya satu suara, meskipun hari masih menunjukkan pukul 3. Akirnya kami memilih untuk pulang setelah mengantar Mela ke rumahnya. Hoaaahm, capek.. ngantuk.. tapi menyenangkan!! 3 rute ini mengobati kekecewaan kami karena batal ke pulau, bukan cuma pantai yang kami sisiri, tapi ada bukit dan lembah.. lengkap sudah 3 elemen 😉

Pemandangan dalam perjalanan menuju Padang, ada sunset..

Liburan Ke Pessel :)

Planing awal itu, kalau Unjut bontot libur, kita pergi jalan-jalan ke Great Wall di Bukittinggi (secara taon dulu batal). Tapi… tiba-tiba Unjut ngasi ide buat ke Bukit Langkisau?? Hm… Ok juga tuh, akhirnya deal. Eh, aji mumpung juga siIbu lagi di Padang, skalian deh ngajakin piknik 😀 Sayangnya… untuk kesekiankalinya Ayah ga bisa ikut, biasa… kerja, kerja & kerja!!! (My best daddy, we always proud of you, dad.. Chayo!!! 😉 ) Yo wez… semoga ntar yang ke Great Wall jadi ngumpul sekeluarga, amiin.. (hee) Ups, kok jadi ngebahas Great Wall?! STOP! back to Pessel, OK 😉

  • 09.30an Berangkat dari Padang (Tabing)
  • 10.55 Gerbang Pessel alias Pesisir Selatan 😀
DSC_0058_2
Gerbang Pesisir Selatan, yuhuuuu….
  • 11.10 Barung-barung Belantai
  • ……… Tarusan
  • ……… Ada bundaran (patung orang, ga tau nama bundarannya apa) belok kanan, lurus… eh taunya sampe di Pantai Carocok.. Setelah ditanya sama tukang parkirnya, ternyata di simpang sebelum ini belok kanan (yang ngedaki itu), disanalah Bukit Langkisau. Akhirnya, kita sampai juga di Bukit Langkisau, yuhuuu…. 🙂 Oya, disini kayak ada outbond-outbond gitu, saya tanyain sama tukang parkirnya kenapa ada tangga yang tinggi itu, ternyata bener itu buat flying fox, taunya…itu permainan cuma ada pas lebaran doang, walaaah,… penonton kecewa, pas lebaran kesini lagi dah kalau mau main.. 😀

Bukit Langkisau, Pesisir Selatan

Ini tempat parkirnya nih, bayar Rp 5.000,-
Ini tempat parkirnya nih, bayar Rp 5.000,-
  • ………. Abis menikmati indahnya Bukit Langkisau, sekaligus ngambil beberapa foto, sampe keranyapun ikutan narsis 😀
  • ……… Kita cus to Pantai Carocok… Waaah, yg ini ga kalah indahnya… cantik… 🙂 Tapi eits… makan dulu, percuma dong udah belai-belain pagi-pagi bangun dan goro masak kalau nggak di santuang (bahasa Minangnya dimakan 😀 ). Kita makan di mobil aja, coz diluaran ga ada tempat yang bisa dikondisikan 😀 Hmmmm, yummy…. kenyaaaang…
  • ……….. Saatnya ke Pulau Cingkuak.
  • Oya, di Bukit Langkisau tadi kita kena parkir Rp 5.000,-. Di Pantai Carocok ini juga Rp 5.000,-; trus pas mau lanjut ke dalam juga bayar lagi Rp 5.000,-/orang, so kena Rp 25.000,- dah (Saya, Ibu, Unjut bontot, Unjut n partner). Cus ke Pulau Cingkuak dengan naik Boat seharga Rp 10.000,-/orang. Ntar empunya Boat bakal nawarin, kita maunya keliling itu pulau atau langsung aja; kalau keliling, kita nambah lagi bajet Rp 5.000,-/orang. Kebetulan kita setuju buat langsung aja, jadi sekitar 5 menitan kita udah nyampe. Ombaknya tenang, kapalnya juga tenang, pemandangan sekitar luar biasa indah… Pasir putih nan elok menyambut kami dengan hangat 🙂 Udah gitu, ada aneka permainan yang siap menguji adrenalin lagi, seperti: Jetski (Rp 100.000,-/orang), Donat Boat (Rp 25.000,-/orang) dan Banana Boat (Rp 20.000,-/orang). Eits, entar dulu… Kita muter-muter pulau ini dulu yuk.. 😉 Sambil jalan kita sortir Umang-umang, ikan pantai dan kepiting, hihi.. Serru….!!! Tapi bener juga apa kata Ibu dan Unjut, pulau ini ga seperti Pulau Angso Duo yang bisa dikelilingi gitu, walhasil kita ga terlalu jauh muternya dari tempat berhenti Boat tadi.. 🙂 Sempat juga melengok ke sayap kirinya. Unjut bontot sempat kecewa, karena udah semangat 45 ngeganti baju buat renang, eh… dilarang sama bapak-bapak disana, katanya sebelah sini ga boleh renang, sayap kanan yang boleh, beeh… Padahal, dulu pas adek saya kesana sebelumnya, bebas aja berenang dimana kita suka. Ternyata, ya iyalah… disini banyak terumbu karangnya…. OK, kita apresiasi sikap bapak-bapak tadi 🙂 Eh, taunya… ga berasa udah jam 3, kita mesti balik ke Pantai Carocok, coz mau go lagi ke Jembatan Aka 🙂 Come on, guys…
  • 15.45 Next, go to Jembatan Aka (Aka itu bahasa Minang dari akar, jadi Jembatan akar).
  • ……… Pasar Baru
  • ……… Jembatan Aka, terletak di daerah Bayang. Suasananya adem banget… Akar pohonnya melilit hingga membentuk jembatan, unik…. Dihiasi sungai nan cantik, indahnya… Udah gitu bikin ademm… Abis foto-foto, kita pulang. Oya, buat masuk ke Jembatan Aka ini, kita bayar Rp 5.000,-/orang dan Rp 5.000,- untuk parkir 🙂 Sebelum pulang, kita sempetin beli gorengan disana dulu, hm… enaknya…. perut jadi hangat dan kenyang… 😀
  • 17.42 Simpang Pasar Baru
  • 17.58 Masjid Taqwa Tarusan
  • 18.09 Padang 48 km
  • 18.21SMA Negeri 2 Tarusan
  • 18.47 Gerbang akhir Pessel
  • 19.07 Teluk Bungus
  • 19.12 Waaaa, ga berasa kita udah nyampe lagi di Padang, sekilas saya merasa melihat gerbangnya, ternyata bener… 😀 Capeeek… ngantuk juga, hoaaaahm…

 

NB:

Foto-foto itu ga cuma saya yang ngambil ya, tapi juga Unjut bontot, Unjut ‘n partner 😀 Ntar kena hak paten lagi, hahaha…