Tag Archives: Piladang

Tapai (Tape)

  • Bahan:
    • Ubi lambau (sejenis ubi kayu)
    • Ragi
    • Cabe merah sebiji
    • Garam
    • Daun cegek / dama (daun kemiri)
    • Kunyit sepotong kecil
  • Alat:
    • Wadah/kom
    • Daun pisang
    • Lidi/tusuk lidi
    • Kain bersih
  • Cara:
    • Ubi direbus hingga merekah, jangan terlalu matang.
    • Setelah suam-suam kuku, taburkan ragi. Jika ubi sebanyak 1 periuk kecil, berikan ragi 1 buah.
    • Ditelentangkan dan kemudian dibalikkan, taburkan merata hingga kena semua sisi.
    • Setelah dingin, masukkan ke dalam wadah yang telah dilapisi semacam tempat dari daun di dalamnya.
    • Tempat ini terbuat dari daun pisang yang dibentuk melingkar dan disatukan dengan tusukan lidi. Dibuat lebih tinggi dari wadah diluarnya dan menyatu hingga dasar (seperti tabung tanpa tutup)
    • Tutup daun arah ke tengah, rapikan.
    • Letakkan di paling atas sekitar daun yang ditutup tadi cabe merah sebiji + garam sebungkus atau sedikit saja + kunyit sepotong kecil + daun kemiri.
    • Bungkus dengan kain bersih.
    • Letakkan selama 3 malam di tempat yang hangat, seperti: dekat perapian.
Resep Nek Mariani, Desa Piladang, Masakan Tradisional Minangkabau (Palembayan)

Sehari Di Piladang

Welcome to Piladang.. kampung keduanya saya ๐Ÿ˜€ Kali ini, saya kesini buat bersilaturrahmiย  ke tempat enek (nenek), salah satu keharusan setiap kali pulang kampung ๐Ÿ˜‰
Saya berangkat sekitar jam 8 dari Pasar Palembayan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Jarak Pasar Palembayan dengan Piladang itu sendiri sekitar 2 km. Dahulu nih, masyarakat disini jalan kaki, tidak banyak yang berkendaraan, karena akses dari jalan besar cukup rumit; tapi sekarang tidak lagi, perkembangan pembangunan semakin mempermudah segalanya, termasuk sarana-prasarana yang ada ๐Ÿ™‚
Saat saya tiba, enek lagi mengukus Lapek Nagosari. Tadinya pakcik minta enek buatin “minum kopi” untuk goro, tapi.. enek merasa tidak sanggup membuat banyak, jadi beliau memutuskan untuk menitipkan sedikit uang melalui Etek Pet (etek ganti panggilan untuk tante di Minangkabau) untuk membeli minum kopi ๐Ÿ™‚
Hari ini, ceritanya itu warga yang laki-laki lagi ada kegiatan goro (gotong royong) membersihkan jalan utama Piladang menuju jalan besar (Simpang Piladang). Nah, yang perempuan nih, ikut berpartisipasi buat “minum kopi” alias snack untuk para pemuda dan bapak-bapak yang lagi goro.
Saat saya sampai di rumah Etek Pet, saya melihat beliau begitu asik mengerjakan pinang. Kebetulan banget, saya lagi tidak ada kegiatan, bantuin ahh… eh, ternyata bukan buah pinang, tapi buah tap!! Waaah, makin seru nih, tangan saya udah gatal duluan pengen ikutan ๐Ÿ˜€
Saya excited bangett… secara baru kali ini ngeliat buah tap atau yang lebih dikenal dengan buah kolang-kaling ๐Ÿ™‚ Pada tau kan?! Itu lho buah yang berwarna putih.. biasa dibikinin kolak, campuran es tebak, dll.. ๐Ÿ˜‰ Yang kita beli dipasaran bahkan berwarna-warni, jangan bilang ada diantara kamu yang nggak tau! Peace!! ๐Ÿ˜€ Ini dia nih, tadaaa…. (baca Buah Tap “Kolang-kaling”).
Sorenya, enek menggoreng pisang raja (pisang rajo). Hayyooo, siapa yang nggak bisa bikin goreng pisang?? Nah, enek selalu praktis nih bahannya, cuma tepung beras, air matang, garam secukupnya dan pisang, wez tinggal goreng di minyak panas ๐Ÿ˜€ Hmmm, pas banget sama cuaca yang hujan dan dingin.. ๐Ÿ˜€
Sebelum pulang, saya sempat minta Pakcik ngambilin buah inai, ntar mau saya biakkan di rumah yang di Padang, hihi.. Terus, ngambil beberapa gepok tanaman lidah buaya buat ditanam di rumah, jaga-jaga buat ngobatin bengkak (lebam) ๐Ÿ˜€
Pokoknya, sehari ini SUPERrrrr!!! ๐Ÿ˜‰

Buah Tap “Kolang-Kaling”

Saat ini warga Piladang lagi antusias mengelola buah tap, atau lebih dikenal dengan kolang-kaling. Maklum.. bulan puasa kan udah deket, so.. buah ini langsung naik daun.. ๐Ÿ˜€

Buah ini diambil dari batang aren (batang anau). Bentuknya seperti putik buah kelapa, bertandan-tandan seperti buah pinang. Batang enaupun tumbuh dihutan, tanpa dibiakkan. Buah ini diambil dengan tandannya, kemudian dipetik dan dikarungkan.

Berdasarkan informasi dari Etek Pet (Etek panggilan pengganti tante di Minangkabau), dahulunya tidak banyak yang mengelola buah ini, jadi siapa yang mau itu yang memanen. Namun, sekarang sudah berbeda, semua warga mulai melirik buah ini sebagai penghasilan. Jadi, kebijakannya, dimana batang aren tumbuh, otomatis jadi hak milik yang punya tanah, tidak bisa asal petik seperti dulu, karena bisa menjadi cikal bakal pertengkaran ๐Ÿ™‚

Etek Pet bilang, kita mesti merebusnya dahulu sebelum dibuka. Untuk mengirit tenaga, beliau sekeluarga atau bersama warga lainnya punya ide kreatif, lho.. Mereka memasukkan buah tersebut bersama air ke dalam dorom (teng besar bekas tempat minyak tanah), di lokasi dekat buah tap dipetik, lalu direbus. Sebaiknya direbus 2x, tapi jika sekalipun sebenarnya tidak apa-apa; karena jika panennya banyak, sulit mengerjakan 2x.

Suka-dukanya nih, pertama kali panen buah ini, getahnya itu bisa menimbulkan gatal hebat!! Meskipun sudah menggunakan sarung tangan ๐Ÿ˜ฆ Jadi, mesti didiamkan setidaknya selama 3 hari. Setelah agak layu, baru dikelola lagi ๐Ÿ™‚ Nggak nyangka ya, panjang prosesnya ternyata ๐Ÿ˜ฎ Bukan cuma itu, Tek Petpun bilang kalau air bekas rebusannya sangat hitam, namun aromanya wangi seperti kue ๐Ÿ™‚

Setelah direbus, airnya dibuang baru dibelah. Pembelahan inipun tidak sembarangan, lho.. dibelah dari 3 sisi seperti membelah buah duren (durian), karena ada lobus-lobusnya (ruang). Baru kemudian dibuka dan diambil isinya yang berwarna putih mirip buah rambutan dengan tekstur lebih keras dan kaku. Kualitas paling bagus itu jika buahnya keras, bukan yang lebih sedikit lembut ๐Ÿ™‚ Saat membuka kulitnya, kulit tangan kita bakal hitam kena getahnya, namun tidak seperti buah manggis, getah kolang-kaling ini lebih mudah dibersihkan hanya dengan mencuci tangan bersih menggunakan sabun dan air ๐Ÿ™‚

Buah tap yang telah dikeluarkan dimasukkan ke dalam kom berisi air, agar buahnya tidak memerah. Jika memerah, buah ini boleh dikatakan gagal untuk dipasarkan, karena rusak atau berkualitas paling rendah. Nah, saya sempat beberapa kali protes sama Tek Pet buat nambahin komnya dengan air, karena buah tapnya udah membukit. Ternyata, kekhawatiran saya kali ini berlebihan, kalau cuma sejam atau setengah hari tidak masalah, buah itu akan memerah jika sama sekali tidak dikasih air sampai 3 harian ๐Ÿ˜€

Disela-sela aktifitas baru ini, saya terlalu bersemangat, sehingga baru memperhatikan kalau bunga kuku saya sebelah kanan sudah terkelupas!! Nah, kudu hati-hati ya guys, coz saking asiknya mengeluarkan isi buah tap, tanpa sadar bagian kulit pangkal kuku ikut terasah dengan tajamnya kulit ari buah tap meskipun selintas tampak seperti kulit ari buah nangka. Belum lagi saat memunguti kulitnya yang dikumpulkan untuk dibuang, bagian dalam kuku jari manis (kanan) saya tertusuk seupil kulit ari buah tersebut dan sakitnya mirip ditusuk duri atau kena ujung pisau, sakit dan berdenyut.. Jadi, jangan sepele ya, ini kegiatan yang mudah tapi perlu kehati-hatian ๐Ÿ™‚

Beberapa kali saya ketemu langsung buah yang rusak seperti menghitam, atau terbungkus penuh oleh kulit ari. Keadaan buah seperti ini langsung dibuang saja, alasannya karena buahnya sudah mengeras. Ada lagi yang kemerahan, padahal masih berkulit, ternyata ini kesalahan saat merebus. Harusnya merebus 1-2 kali, ternyata buah ini tinggal 1 atau beberapa dan masuk ke perebusan selanjutnya, makanya kemerahan.. ๐Ÿ™‚ atau, juga bisa karena selesai merebus, terlalu lama (sampai berhari-hari) baru diambil ๐Ÿ˜‰

Gimana?! Sekilas kalau kamu liat cara mengeluarkan buah tap dari kulitnya memang gampang banget, tapi kalau udah tau prosesnya, waaa.. rempong cin…!! Nggak selesai disini aja, abis ini buah yang udah direndam dalam baskom itu didiamkan sehari atau langsung dipres dengan alat khusus. Baru deh jadi yang namanya kolang-kaling ๐Ÿ˜‰

Dihari biasa, tidak banyak yang berminat mengelola buah ini, karena harganya yang rendah. Selain itu, sulit memasarkannya. Tapi, menjelang bulan ramadhan, harga kolang-kaling cukup tinggi, mulai dari Rp 4.500,- hingga Rp 4.900,-/kg, dan inipun tokenya langsung yang terjun ke Piladang.. makanya, banyak warga yang mulai beralih profesi menjadi pengelola buah tap; beberapa diantaranya, ada juga yang menjadikannya sebagai sampingan penambah uang belanja dapur ๐Ÿ˜‰

Serru pokoknya ๐Ÿ™‚ aroma buahnya wangi… Selain dijual dalam warna aslinya, buah ini juga ada yang dikemas dalam warna hijau, merah muda, atau warna lainnya.. ๐Ÿ˜‰

Semua informasi ini didapat dari Etek Pet, Desa Piladang, Nagari IV Koto Palembayan