Category Archives: Travel Diary

Liwetan

Liwetan is one of traditions from East Java, Indonesia. All of menu are served on top of banana leaves. Then, to eat it every one use their hand (without spoon, fork, etc.). You usually can find Indonesian traditional culinary such as fried chicken (ayam goreng), tempe, tofu, sausage (sambal), salat (lalapan), etc. That is truly wonderful tradition.

Liwetan adalah salah satu tradisi dari Jawa Timur, Indonesia. Semua menu disajikan di atas daun. Lalu, setiap orang makan dengan tangan. Kuliner tradisional Indonesia yang sering ditemukan adalah ayam goreng, tempe, tahu, sambal, lalapan, dll. Benar-benar tradisi yang indah!

リウェタンはインドネシアの東ジャワの食べ方です。全部メニューはバナナの葉っぱの上に置きます。それから、皆さんは一緒に手で食べます。様々なインドネシアの料理を食べます。例えば、フライチッキんというアヤムゴレンやテンペやタフというとふやサンバルというチリソースやララパンというサラダです。本当に美味しし、いい文化です。

Related Link

Gallery

Restoran Bubu ‘Tongkrongan Internasional Di Tokushima’

Takoyaki & Okonomiyaki

Masakan tradisional jepang seperti takoyaki dan okonomiyaki bukanlah sesuatu yang baru bagi perantau asal Indonesia. Boleh dibilang, di seantero kota besar hingga kecil di Indonesia bisa ditemukan dengan mudah!

Beda cerita kalau sudah berkunjung ke Jepang. Sebut saja takoyaki yang menjadi makanan khas dari Osaka, tidak hanya tersedia di Osaka saja, tapi juga di berbagai wilayah di Jepang, termasuk salah satunya di Tokushima, Pulau Shikoku.

Begitu juga dengan okonomiyaki. Masakan yang bisa disebut “bakwan ala Jepang” ini berdasarkan tempatnya terbagi menjadi 3 style: Kansai style, Hiroshima style dan Tokyo style. Perbedaan dari masing-masing style ini bisa dilihat dari jenis teppan (tempat penggorengan yang berbentuk datar) yang digunakan, kombinasi adonan dan proses pembuatannya.

Restoran Bubu

Di Tokushima, ada beberapa tempat yang recommended banget buat menyantap kuliner khas jepang. Namun, salah satu yang paling populer adalah 広島風お好み焼きとたこ焼きおやつshop Bubu (Hiroshima-fu Okonomiyaki & Takoyaki Oyatsu-shop Bubu).

Restoran ini merupakan usaha keluarga yang dirintis oleh Bubu san sebagai owner dan dibantu oleh sang istri yang akrab dipanggil Mama. Pengolahan hingga penyajian masakanpun dihandel oleh duo master of japanese food ini.

Selain menu utama yang perfekto lezatto, okonomiyaki dan takoyaki, Bubu san juga menyediakan aneka menu pilihan lainnya seperti yakisoba (mie goreng), yakiudon, kushikatu, bahkan ada juga nasi goreng!! Masakan ini dibandrol dengan harga yang cukup ekonomis, mulai dari ¥450 alias 450 yen saja!

Buat pengunjung yang muslim, meskipun dengan keterbatasan tempat pembuatan (masih dengan teppan yang sama), Bubu san menyediakan adonan yang boleh dikonsumsi oleh para muslim. Dalam pengolahannya, dipisah dengan yang non-halal.

Ceritanya, dulu Bubu san pernah tinggal lama dengan orang Indonesia yang menetap di Tokushima, kemudian beliau mempelajari budaya Islam. Dan, terinspirasi untuk membuat masakan yang bisa dikonsumsi oleh para muslim. Tidak tanggung-tanggung, beliau juga menyediakan tempat ibadah beserta perangkat shalat buat para muslimin yang hendak beribadah. Bahkan, ada penunjuk arah KIBLAT-nya juga!!

Tak kalah menarik, khususnya untuk pengunjung dari Indonesia, saus sambal yang digunakan didatangkan langsung dari Indonesia! Bener-bener T.O.P daah.. Maknyus!!

Buat pecinta manga, restoran minimalis ini juga menyediakan pustaka mini yang menjejerkan aneka komik. Pengunjung bisa memilih edisi sesukanya dan pastinya free alias gretong!

Tongkrongan Internasional

Di warung Bubu, pengunjung asing tidak perlu pusing harus memikirkan bagaimana cara memesan dalam bahasa jepang dan sebagainya, karena Bubu sendiri bisa berbahasa Inggris dengan sangat lancar. Tidak hanya itu, beliau juga bisa berbahasa Indonesia lho, walaupun dengan kalimat yang cukup sederhana.

Saking banyaknya pengunjung asing yang didominasi oleh pelajar dari berbagai negara, Bubu san sampai mendapatkan piagam penghargaan dari Tokushima. Keren!

Akses & Lokasi

Lokasi kuliner yang delicious ini terletak di depan Sako Station (佐古駅), tepatnya di Sako 2 Bancho 18-5, Tokushima. Akses ke lokasi dari Tokushima Station (徳島駅) bisa menggunakan kereta api JR (Japan Rail) dengan tiket seharga ¥210. Atau, dengan Tokushima City Bus (徳島市バース) turun di Halte 佐古一番町 (Sako Ichiban-chou) dengan ongkos ¥210 dan berjalan sekitar 10-15 menit dari halte.

Gallery

Semarak Ramadhan 1438H Di Mesjid Tokushima

Buat para muslim, tak terasa tinggal 6 hari lagi menjelang Idul Fitri, bukan? Nah, selama bulan Ramadhan, bagi yang pertama kali akan mengunjungi Mesjid Tokushima, perlu tau nih hal-hal unik berikut ini.

Buka Bareng

Setiap hari minggu, selalu ada buka bareng (a.k.a bubar/bukbar/bukber/buber/open together) dengan menu tradisional mancanegara. Jadi, buat yang lagi ngirit, anak kontrakan, atau yang hobby hunting kuliner sekalian, tak perlu repot-repot merogoh kocek, cukup datang saja untuk berbuka puasa di Mesjid Tokushima.

Tak hanya lezatnya masakan yang dihidangkan, tapi ada yang lebih utama: nikmatnya kebersamaan. Disini kita akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara, beragam status dan budaya, luar biasa indah!!

Menu mancanegara yang dimaksud bukan berarti tiap minggu dihidangkan, bukan. Tapi, selalu ada negara yang menjadi penanggungjawabnya setiap minggu yang akan menyajikan masakan khas dari negara masing-masing.

Untuk minggu depan, karena sudah mendekati lebaran, buka bareng skala international ini akan diadakan pada hari Sabtu (24 Juni 2017). Don’t missed it! 

Tarwihan

Ada yang spesial di bulan nan juga spesial ini. Setiap malam, selalu ada shalat berjama’ah yang diimami oleh seorang yang hafidz al-qur’an. Urutannya, shalat Isya, shalat tarwih 2+2 rakat (2 raka’at lalu salam, dilanjutkan dengan 2 raka’at yang juga ditutup dengan salam), kultum/ceramah (dalam bahasa inggris), shalat tarwih 2+2 raka’at dan shalat withir (raka’atnya tergantung mashab yang diikuti oleh sang imam, ada yang 2 raka’at salam lanjut dengan 1 raka’at; begitu juga dengan pembacaan do’a qunut, ada yang sebelum/sesudah rukuk; dsb.).

Kelas Bahasa

Seperti hari biasanya, di mesjid tetap diadakan kelas bahasa jepang, bahasa arab, dll. Tidak hanya dewasa, untuk anak-anakpun juga ada. Bagi yang berminat, silahkan bergabung, free alias gretong!

Gallery

The Naruto German House

Buat pecinta sejarah, recommended banget buat berkunjung ke The Naruto German House yang jika diartikan dalam bahasa indonesia: Rumah Jerman di Naruto. Gedung megah dengan arsitektur bangunan ala jerman ini terletak di Naruto City (Kota Naruto), Perfektur Tokushima.

Sejarah

Berawal dari masa Perang Dunia I, dimana Jepang berpartisipasi sebagai Entente Powers yang berhasil merebut beberapa wilayah Asia dan Pasifik yang menjadi bagian kolonial Jerman, seperti tawanan perang. Sekitar seribu tentara jerman ditahan di Bando POWs Camp. Namun, mereka diberi kebebasan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal hingga terjalin sebuah persahabatan yang erat. Ini berlangsung selama 3 tahun (1917-1920).

Selama berada ditahanan, para tawanan melakukan berbagai kegiatan secara aktif, seperti: orkestra, paduan suara, teater, olahraga, kuliah, dll. Dari semua ini, Bethoven Symphony ke-9 lah yang pertama kali terkenal di Asia. Selain itu, karena keterbatasan keuangan jepang untuk memenuhi kebutuhan pangan tawanan, jepang membeli lahan dan para tawanan bekerja untuk menggarapnya.

Meskipun Perang Dunia I telah usai, hubungan persahabatan tersebut masih tetap terjalin. Oleh karenanya, pada tahun 1972 dibangun 鳴門市ドイツ館. Sejak itu, Naruto dan Lueneburg (Jerman) menjadi sister city.

Museum

Di lantai 2 Deutsches Haus Naruto ini terdapat museum yang mendiskripsikan kehidupan para tawanan tentara jerman selama berada di Bando POWs Camp. Tidak hanya dalam bentuk gambar saja, tetapi juga dalam bentuk miniatur yang dikombinasikan dengan video, sangat menarik! Di setiap bagian disediakan selebaran informasi  dalam 2 bahasa (Jerman & Jepang) yang bisa diambil secara gratis.

Dan, tak kalah unik, ada panggung orkestra yang dimainkan oleh patung yang bisa bergerak (boleh dibilang robot), luar biasa! Penampilan ini bisa disaksikan pada waktu yang telah ditentukan.

Catatan: Di lantai 2 dilarang menggunakan kamera.

Tiket & Waktu

Insert untuk umum ¥400 anak-anak (SD-SMP) ¥100. Buka dari pukul 9.30-16.30 (waktu setempat). Tutup pada hari senin keempat dan 28-31 Desember di akhir tahun.

Akses

Akses ke lokasi dengan kendaraan pribadi, waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Tokushima. Akses via transportasi umumpun juga tersedia.

Event

Dalam rangka memperingati HUT ke-100 Pembukaan Bando POWs Camp, di hall lantai 1 museum ini diadakan konser musik klasik GRATIS! Event ini berlangsung pada hari minggu, 9 April 2017, pukul 13.00 (waktu lokal). Selain itu, juga gratis memasuki museum di lantai 2.

Pada event ini, tidak hanya orkestra, paduan suara ataupun seriosa saja, tapi juga ada presentasi menarik tentang sejarah The Naruto German House. Presentasi ini ditampilkan dalam bentuk gambar yang silih berganti diganti secara manual pada alat yang terbuat dari kayu dan sangat menarik!

Gallery

Kamus

  • 鳴門市ドイツ館 = The Naruto German House (Deutsches Haus Naruto)
  • Bando POWs Camp = Kamp tahanan Bando
  • POW = Prisoners of War (tawanan perang)
  • Sister city = Kota kembar
  • 開所100周年記念コンサート= Konser HUT ke-100 Pembukaan Bando POWs Camp
  • Entente Powers = Blok Sekutu

Uzo-no-Michi

Jalan-jalan ke Tokushima, tak lengkap jika belum mampir ke Jembatan Onaruto (landmark-nya Tokushima) yang unik dan serba guna. Jembatan ini tidak hanya menghubungkan Kota Naruto di Perfektur Tokushima dan Awaji di Perfektur Hyogo, tapi juga menjadi salah satu objek wisata dengan fenomena alam yang luar biasa, siapa lagi kalau bukan si uzu (pusaran) nan kece badai.

Jembatan ini juga fungsional, lho.. Bagian atasnya dipakai untuk lalu lintas, sementara sisi bawahnya yang menyerupai terowongan (dengan panjang jalan 450 meter) dijadikan objek wisata, namanya uzu no mici.

Disini, bagian dindingnya yang lepas menghadap laut didominasi oleh kaca. Jadi, tak heran para pengunjung begitu takjub dimanjakan oleh pesona full laut! Dan, yang tak kalah menarik, bagian lantainya terbuat dari kaca di titik-titik tertentu yang disebut dengan observation room, tentunya tepat di atas lokasi pusaran air. So, kita bisa melihat si uzu dari ketinggian 45 meter dari permukaan laut!

Fasilitas

Di uzu no michi ini disediakan fasilitas seperti teropong jarak jauh (seperti yang ada di Tugu Monas, Jakarta), GRATIS! Lalu juga ada papan bergambar anime lucu yang bagian kepalanya dilobangi, apalagi kalau bukan sarana buat bereksis-ria pastinya, GRATIS!

Akses

Akses dari Tokushima Station (徳島駅) dengan menggunakan bus no. 27 di 1番のりば (halte no.1), di loket A (halte pertama di seberang 7eleven yang berada di samping Daiwa Hotel). Lama perjalanan sekitar satu setengah jam dengan bajet ¥720. Kemudian, turun di halte Naruto Park (鳴門公園).

Dari halte Naruto Park, bisa diakses dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan mendaki anak tangga yang ada disebelah toko omiyage. Sementara, dari pelabuhan mini tempat menaiki fune (kapal) yang digunakan untuk berinteraksi dengan si uzu, bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit. Menurut informasi dari beberapa sumber, jika tidak memiliki kendaraan, bisa menggunakan jasa taxi dengan menempuh waktu sekitar 15 menit.

Tiket (Insert)

  • Perorangan:
    • Umum ¥510
    • Pelajar (usia 13-18 th) ¥410
    • Anak-anak (6-12 th) ¥250
  • Grup (20 orang atau lebih)
    • Umum ¥410
    • Pelajar (13-18 th) ¥320
    • Anak-anak (6-12 th) ¥200

Waktu

Uzu-no-Michi buka pukul 09.00-18.00 (waktu se tempat). Pada 1 oktober hingga akhir februari, di musim dinginnya jepang, buka pukul 09.00-17.00. Dengan catatan, masih bisa masuk 30 menit sebelum tutup. Tempat ini libur pada hari senin kedua di bulan maret, juni, september dan desember. Selain itu, di hari golden week (3-5 May) atau hari libur musim panas (natsu yasumi), buka dari pukul 08.00-19.00.

Kuliner & Omiyage

Sekitar 5 menit berjalan kaki dari lokasi, ada warung aneka kuliner dan oleh-oleh. Salah satunya udon dengan harga berkisar ¥500. Dibagian belakang sebelah luar warung ini, tampak pemandangan lepas Jembatan Onaruto. Disini juga tersedia teropong jarak jauh berbayar.

Selain ini, sekitar 2 meter dari halte Naruto Park (鳴門公園) juga ada sebuah toko omiyage  yang juga menyediakan udon dengan harga yang cukup variatif. Tidak hanya itu, disini juga menyediakan tiket kapal (船) seharga ¥1.550/orang.

Pusat omiyage terbesar berada di seberang tempat parkir, bisa diakses dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan menaiki anak tangga dari halte Naruto Park. Disini tersedia aneka makanan khas Tokushima yang didominasi oleh imo (ubi berkulit ungu dengan isi putih kuning, hasil pertanian utama di Tokushima), seperti manju (kue mirip dorayaki, kue-nya  kartun doraemon, tapi dalam versi mini), osato (gula dengan pengolahan tradisional), dll.

Gallery

Kamus (Dictionary)

  • 辞書 /jisho/ = Kamus (dictionary)
  • 渦の道 /Uzu-no-Michi/ = Onaruto Bridge Floating Prominade
  • 渦 /uzu/ = Pusaran air (Whirlpools)
  • Observation room = Ruang observasi
  • 船 /fune/ = Kapal (Ship)
  • 夏休み /natsu yasumi/ = Libur musim panas (Summer holidays)
  • 冬 /fuyu/ = Musim dingin (Winter)
  • 乗り場 /noriba/ = Halte, tempat pemberhentian/penantian bus
  • 鳴門公園 /naruto kouen/ = Taman Naruto (Naruto Park)
  • アニメ /anime/ = Cartoon /kartun/
  • うどん /udon/ = Udong, mie gepeng dan lebar khas jepang
  • お鳴門橋 /onarutohashi/ = Jembatan Onaruto (Onaruto Bridge)
  • Insert = Masuk (biasanya berhubungan dengan admission)
  • Golden week = Hari libur berturut-turut di Jepang pada tanggal 3-5 May setiap tahun
  • Admission = Pendaftaran (biasanya bergubungan dengan pembelian tiket)
  • おみやげ /omiyage/ = Oleh-oleh

Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway)

Ibarat Padang dengan Tari Piring-nya, Tokushima identik dengan Awa Odori (Tarian Awa). Biasanya, setiap tahun, awa odori bisa dinikmati festivalnya di musim panas (natsu), pada bulan Agustus di Perfektur Tokushima. Tapi, buat yang penasaran, ingin melihat langsung di waktu yang berbeda, bisa mengunjungi lantai 2 Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway) dengan insert ¥600. Lokasinya dekat dengan Tokushima Station (satu halte bus sebelum stasiun).

Disini diperkenalkan evolusi tarian awa. Buat yang tidak mengerti bahasa jepang, disediakan teks dalam bahasa inggris. Pengunjung juga diajak ikut serta, lho.. Pada akhir acara, diberikan perhargaan (sertifikat) layaknya wisudawan/wisudawati, namun ini hanya diserahkan pada 2 orang pengunjung yang beruntung saja. Jika Anda salah satu diantaranya, pasti akan menjadi pengalaman yang luar biasa!

Nah, yuk kita ngotrelin alias ‘ngobrol travelling’ objek wisata unik yang satu ini, check it out..

Lokasi Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway)

Terletak sekitar 700 meter dari Tokushima Station (jika menggunakan bus, satu halte sebelum stasiun). Akses dari Tokushima Station bisa ditempuh dengan berjalan kaki (sekitar 15 menit) lurus hingga menyeberangi sekitar 2 perempatan besar dan jembatan Shinmachibashi berikut jejeran pertokoan di gedung bertuliskan kanji新町橋(Shinmachibashi).

Gedung Awa Odori Kaikan ini cukup unik, dari kejauhan bisa dilihat ropeway berlalu-lalang dari bagian tertinggi gedung hingga puncak gunung. Tak kalah unik, di halaman depannya terdapat tempat duduk berbahan dasar kayu dan atapnya menyerupai topi penari perempuan awa odori yang menjadi salah satu maskot Tokushima. Wisata ini juga bersebelahan dengan jinja. Jadi, terbilang sangat mudah ditemukan.

Insert

Untuk masuk Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway), pengunjung bisa memilih paket sesuai keinginan. Berikut pilihannya:

  • Umum
    • Awa Odori Museum: ¥300
      • Buka pukul 09:00-17:00 dengan entrance sampai 16:50.
      • 28 Desember hingga 1 Januari bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
    • Awa Odori Hall
      • Afternoon dance (tarian sore): ¥600
        • Ditampilkan oleh tim tari khusus: AWANOKAZE.
        • Di akhir pekan (weekdays), tampil pukul 14:00, 15:00 & 16:00.
        • Sabtu, minggu dan hari libur, tampil pukul 11:00, 14:00, 15:00 & 16:00.
        • Lama penampilan: 40 menit.
        • Layanan khusus antara 11-15 Agutus selama penampilan awa odori.
        • Penampilan khusus pada 12-15 Agustus.
        • 28 Desember hingga 3 Januari (2-3 Januari ada penampilan khusus) bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
      • Evening dance (tarian malam): ¥800
        • Ditampilkan oleh tim tari terkenal (1 tim setiap malam).
        • Penampilan selama 50 menit dari pukul 20.00 hingga selesai.
        • Layanan khusus antara 11-15 Agutus selama penampilan awa odori.
        • 21 Desember hingga 10 Januari bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.
    • Ropeway
      • Insert:
        • One-way (6 menit):¥610
        • Return:¥1.020
      • Buka setiap tahun.
        • April-Oktober: 09.00-21.00
        • November-Maret: 09.00-17.30
        • *12-15 Agustus: 09.00-22.00
        • *Selama event khusus: 09.00-21.00
  • Paket (great-deal unit price)
    • Set 3 pilihan (set of three options)
      • Museum + afternoon dance ropeway (return) = ¥1.620
    • Set 2 pilihan A (set of two options A)
      • Museum + ropeway (return) = ¥1.120
    • Set 2 pilihan B (set of two options B)
      • Museum + afternoon dance = ¥800

*Diskon lainnya tidak bisa digunakan bersamaan dengan set tiket.

Tiket bisa dibeli di jidouhanbaiki (mesin penjual otomatis), sebelah kanan dari pintu masuk. Jika tidak mengerti, ada bagian informasi yang station-nya bersebelahan dengan jidouhanbaiki.

1F Arudeyo Tokushima (Lantai 2)

Memasuki gedung, pengunjung bisa membeli tiket di sebelah kanan melalui jidouhanbaiki. Jika segera lanjut ke lantai berikutnya, ada lift di sisi kiri. Namun, jika ingin cuci mata dengan aneka cenderamata dan omiyage (oleh-oleh) khas Tokushima, pengunjung bisa langsung ke sisi belakang. Makanan khas Tokushima seperti manju, osato, segala bentuk olahan imo (ubi berkulit ungu dengan isi kuning, hasil pertanian andalan di Tokushima). Cenderamata yang khas yaitu mainan HP (mobile phone) berbentuk sodachikun (boneka dengan dominasi warna hijau yang menjadi icon Tokushima) dan boneka penari awa odori.

Lantai dasar ini buka dari pukul 09.00-21.00 waktu setempat. Khusus tanggal 21 Desember sampai 10 Januari (termasuk hari libur), buka sampai pukul 18.00. Namun, pada 28 Desember hingga 1 Januari, tempat ini bisa saja tutup tanpa pemberitahuan.

2F Awa Odori Hall (Lantai 2)

Nah, ini nih yang tadi sempat diulas di prolog.. Buat pengunjung yang ingin melihat langsung keelokan awa odori ataupun berminat untuk ikut merasakan bagaimana rasanya menarikan tarian awa, disinilah tempatnya. Disini diceritakan evolusi awa odori  berikut contoh gerakannya. Penyampaiannya mirip presentasi seminar dan buat pengunjung asing tersedia teks dalam bahasa inggris.

Kemudian, di akhir acara, buat yang beruntung bisa mendapatkan sertifikat, hanya untuk 2 orang pengunjung saja! Tidak hanya diserahkan layaknya wisudawan/ti, buat pengunjung yang ikut menari juga diberikan kain pengikat kepala unik dengan dominasi warna biru dan putih, khasnya tarian awa.

Dibagian luar, sebelum atau setelah teater, di sisi kanan lift, ada papan berdesain khusus yang bagian kepalanya dilobangi (salah satu media untuk bereksis-ria). Di bagian dindingnya tersusun dengan sangat apik lampion-lampion bertuliskan kanji. Selain itu, juga ada sofa, tempat ini ditata seperti lobi dalam bentuk minimalis tapi luas.

3F Awa Odori Museum (Lantai 3)

Di lantai ini, pengunjung disuguhkan penampilan tarian awa yang didesain menarik, kemudian dibawa menelusuri sejarah awa odori. Diantaranya, lukisan yang menceritakan kehidupan masa lalu masyarakat awa, miniatur-miniatur, alat musik dan pakaian awa odori, bioskop 3D /tridi/ bertemakan tarian awa, dll. Yang paling menarik, ada 2 robot yang menampilkan gerakan awa odori.

5F Bizan Bottom Ropeway Terminal (Lantai 5)

Lantai ini merupakan terminal awal ropeway yang nantinya akan mengantarkan pengunjung ke puncak gunung dengan view elok kota Tokushima. Di lantai ini juga terdapat sebuat restoran. Uniknya, tersedia makanan HALAL!! Ada tulisan حلال-nya! Kabar gembira nih buat yang muslim. Namun, restoran ini hanya buka hingga jam 5 sore saja.

Bizan Ropeway

Ropeway ini memiliki 2 jalur yang akan mengantarkan pengunjung menyisiri hamparan area pepohonan hingga puncak gunung. Semakin tinggi, semakin terlihat view lepas pemandangan kota Tokushima yang menyuguhkan indahnya kombinasi daratan dan lautan.

Di puncak gunung ini ada teropong khusus (seperti teropong yang ada di puncak Monas, Jakarta) yang bisa digunakan untuk menelisir pemandangan sekitar dalam jarak pandang yang cukup jauh hanya dengan memasukkan uang koin ¥100. Selain itu, disini juga terdapat jinja dan pagoda.

Pagoda

Khusus pagoda, ada acara tahunan (annual events):

  • Waktu:
    • 21 Maret
    • 15 Agustus
    • 26 September
  • Insert:
    • Dewasa: ¥200
    • Anak-anak: ¥100

Hanami (花見)

Tak ada yang tak kenal bunga sakura (cherry blossom), bukan?! Nah, alih-alih mau masuk bulan April, alias waktunya musim semi (springharu 春), di gunung ini bakal terlihat nuansa pinky-pinky-nya. Dan, ini menjadi waktu yang tepat buat para pengunjung yang tak ingin melewatkan kesempatan buat hanami-an.

*Hanami (花見) dalam bahasa jepang berarti melihat bunga, ini merupakan tradisi jepang dalam menikmati keindahan bunga, terutama sakura.

Gallery

Referensi

  • Semua informasi disadur dari Awa Odori Kaikan (Bizan Ropeway).

Recommended Link

Salju Pertama Di Tokushima

24 Januari 2017 menjadi hari yang bersejarah buat para penjejak setelah 2x gagal membuktikan kebenaran ramalan cuaca pada minggu lalu di Tokushima.

Salju… Yap, selain momiji dan sakura, sebagai pendatang yang berasal dari negara 2 musim, pastinya salju menjadi salah satu hal yang paling membuat excited untuk dilihat secara langsung. Ada kesan tersendiri yang sedikit berbeda.

Lucunya, pertama kali mendengar salju akan turun, kalimat “besok atau lusa katanya (info dari siini, siitu dan ramalan cuaca) salju akan turun”. Rata-rata mengatakan akan turun pada pukul 6 sore.

Setiap mendekati pukul 6 yang kebetulan jamnya kami mengakhiri rutinitas, mata kami mulai standbye menyidak segala penjuru menjelang sampai di shelter. Dan, hasilnya selalu zonk.

Nah, karenanya, kami tetap berharap melihat salju tapi sudah tidak terlalu seexcited seperti sebelumnya, hanya menunggu saja, toh itu salju kemungkinan besar juga pasti turun toh..

Nah, kemaren lusa, seorang tuthor kami mengatakan bahwa nanti malam salju akan turun. Kami kembali excited, tapi.. “Yah, malam.. Entah benar entah enggak..”

Kemaren pagi, ketika membuka jendela kamar shelter yang pemandangannya segera menyorot gunung kecil di seberang yang lebih mirip bukit barisan, putih.. Dan, hamparan sawah yang mulai mengering disisi shelterpun juga menunjukkan aura yang sama. Berwarna tapi cool..

Seperti kue-kuean yang dibubuhi tepung gula, saljunya tipis.. Tapi, itu salju!! Yah, akhirnya kami melihat salju. Jangan ditanya deh ekspresi lebay kami yang pastinya sedikit membuat orang ingin muntah saking berlenya, haha..

Tadi malam, para penjejak disini tidak mau kalah dengan penjejak lainnya yang tidak ketinggalan update untuk mengabadikan moment hujan salju. Yah, salju kembali turun dan kami melihatnya langsung. Senang.. Tapi, biasa saja.. (Mungkin karena sudah terlalu banyak lalu-lalang di beranda medsos cuplikan salju lengkap dengan kesan si pemilik foto ataupun video).

Salju.. Akhirnya, merasakan butirannya yang lebih mirip serutan es batu sebelum dibikin jadi es tebak. Padahal, ada yang bilang, salju itu selembut kapas, tapi mungkin di versi daerah yang berbeda ya, haha..

Menjejak Di Negeri Sakura (Part 2)

Sistem Antri

Negara yang tak hanya ternama dengan budaya disiplinnya ini, juga terkenal dengan kebiasaan antrinya.

Nah, lho… Ketika berbelanja di supermarket, departement store, atau sejenisnya; jangan coba-coba nyelonong ya.. Jadi, saat berbelanja,  bahkan ditoko kecil sekalipun, lihat tanda panah merah atau kuning, ikuti tanda tersebut hingga kasir mempersilahkan kita untuk maju. Jika tidak, tetap perhatikan barisan pembeli terakhir.

Saat menggunakan eskalator, salah satunya di stasiun kereta api, beda daerah memiliki cara antri yang berbeda. Contohnya, Osaka dan Tokyo.

Di Osaka, pengguna yang dalam perjalanan santai mengambil posisi di sebelah kanan. Sementara sebelah kiri khusus untuk pengguna yang diburu waktu. Ini bertolak belakang dengan Tokyo, dimana pengguna sibuk bisa segera mengambil jalur kanan.

Hangko

Jika di Indonesia segala pendokumentasian butuh tanda tangan, di Jepang malah butuh cap saja. Cap ini dalam bahasa jepang disebut hangko.

Buat para pendatang asing, hangko dibuat dalam huruf katakana. Tempat pembuatan bisa dimana saja, biasanya biaya yang dikeluarkan disesuaikan dengan model cap dan seberapa banyak huruf yang digunakan.

Bajet yang dibutuhkan berkisar antara ¥850-¥1500. Fasilitas tambahanpun bisa didapat, seperti sarung hangko yang unik (tergantung tempat pembelian).

Selain digunakan secara manual, juga tersedia alat khusus, sehingga penggunaan hangko bisa dilakukan secara praktis. Alat ini bisa dibeli di supermarket dan sejenisnya.

Ribet vs Praktis

Di Jepang, pada tahap awal pengurusan segala bentuk dokumen cukup rumit. Namun, jika sudah fix,  boleh dibilang akan sangat praktis.

Tadinya, pertama kali berbelanja, saya bingung.. Kasir sering menanyakan apakah saya punya kartu yang dimaksud. Bahkan, jika saya ingin membuat kartu tersebutpun harus mengisi beberapa formulir dengan sangat detil. Dan, you know guys, semua kanji!!

Meskipun, apalah artinya sebuah kartu, toh cuma buat masukin poin belanja, kadang-kadang dapat diskon; tapi yaa lumayan, bukan? Tapi, faktanya, ada beberapa supermarket yang sangat ketat menyaring pemberian kartu poin belanja ini pada orang asing (pendatang). Kalau kamu nemuin ini, jangan heran, mesti nongkrongin pusat informasi sambil dikonfirmasi berkali-kali (Jika ketemu, saya ucapin selamat yua..).

Musim

Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki 4 musim, musim panas (natsu), musim gugur (aki), musim dingin (fuyu) dan musim semi (haru).

Pertama kali saya menjejak di Jepang adalah bulan Juni. Bulan ini merupakan peralihan haru ke natsu. Dalam masa ini, sering dijumpai hujan. Meskipun musim hujan tidak termasuk dalam daftar 4 musim di jepang, namun dikenal juga dengan sebutan tsuyu.

Nah, disini, pemakaian bajupun disesuaikan dengan musim. Biasanya, bajet yang dibutuhkan akan cukup mahal jika pakaian tersebut dibeli pada musimnya. Dan, diskon besar-besaran akan banjir diakhir musim tersebut.

Misalnya, sekarang akhir haru, baju-baju dengan bahan tebal akan dijual dengan harga miring. Karenanya, jangan sampe salah kostum ya, mentang-mentang murah, diborong, lalu dipake di awal natsu, gerah bok.. (Haha, pengalaman..).

Taktiknya, diborong boleh, tapi dipake ntar pas masuk aki, atau pas peralihan aki ke fuyu, atau di fuyu sekalian, itung-itung nambah lapisan coat..

Memasuki natsu akan banyak eventevent seperti tenjin matsuri, bon odori, hanabi (melihat kembang api), dan sebagainya. Yang menarik adalah pengunjung sebagian besar mengenakan yukata (pakaian tradisional jepang yang lebih tipis dari kimono).

Namun, di musim ini, waspada keracunan makanan, ya.. Beli dan simpan makanan seperlunya saja.

Biasanya, puncak natsu ada di pertengahan Agustus. Kemudian, memasuki September mulai aki. Hati-hati ya, di peralihan musim ini terjadi pertukaran cuaca yang cukup ekstrim, sering terjadi  angin topan (taifuu).

Namun, aki merupakan salah satu musim yang paling ditunggu. Apalagi kalau bukan momiji dan koyo yang menjadi icon untuk autumn.

Menjelang akhir tahun, peralihan cuaca kembali ekstrim. Suhu mulai turun mendekati angka 0. Disini, kita sudah harus ready dengan  coat, sarung tangan, sepatu boot dan perlengkapan fuyu lainnya.

Meskipun musim dingin, kita perlu waspada dengan kebakaran. Biasanya, sebagai preventif, di jepang akan sangat sering diadakan simulasi penanganan bencana secara gratis di berbagai tempat, salah satunya penanggulangan kebakaran.

Tahun ini, ada kejadian alam yang cukup fenomenal tentang salju. Di Tokyo, untuk pertama kalinya setelah 54 tahun yang lalu, salju turun di bulan November (24/11/2016), tepatnya 3 bulan lebih awal dan itupun hanya sehari.

Nah, selanjutnya sakura, melati-nya Jepang, bisa dilihat sekitar bulan April, di musim semi (haru). Disini ada kebiasaan melihat bunga yang dikenal dengan hanami.

Tranportasi

Negara yang terkenal dengan kemajuan teknologinya ini pastinya juga memiliki berbagai transportasi canggih nan praktis. Salah satunya subway, jika bepergian ke banyak tempat bisa menggunakan one day pass. Di hari kerja, tiket ini bisa dibeli seharga ¥800 di mesin penjualan otomatis. Sementara untuk weekend dan libur hanya ¥600.

Untuk pembelian tiketpun ada 2 cara, beli langsung atau dengan kartu isi ulang. Untuk via kartu, biasanya bisa dibikin di loket JR (Japan Rail), isi saldo di mesin otomatis dan penggunaannya tinggal scaning saja (seperti penggunaan kartu comuter line di Jakarta).

Saat menaiki bus,  jika punya kartu, scaning dulu saat naik. Tapi jika cash, biasanya dibayar saat akan turun. Pastikan untuk menyediakan uang pas. Jika tidak, pengemudi akan membantu penukaran uang via mesin otomatis lalu di bayar di mesin yang sama dengan tempat yang berbeda.

Bus ini memiliki sistem yang sama dengan busway di Indonesia, juga menyediakan tempat duduk khusus untuk kriteria tertentu, seperti: lansia, bumil atau penyandang cacat. Bedanya, penataan di dalam bus. Selain itu, setiap tempat duduk atau bahkan pegangan tangan memiliki tombol berwarna merah yang bisa ditekan saat akan mendekati tempat tujuan.

7th Year Anniversary ‘Jejak Langkah O’

Alhamdulillah.. ‘Jejak Langkah O’ telah menapaki tahun ke-7. Terimakasih untuk dukungan dari semua pihak, terutama keluarga. Kedepannya semoga lebih inovatif dan bermanfaat.

Alhamdulillah, today is 7th anniversary of “Jejak Langkah O”. Thanks to everyone that supports, especially my family. Hopefully this literary written will helpfull.

神様で今日は ‘Jejak Langkah O’ というブログは7歳です。色々なサポートは本当にどうもありがとうございました。これからも頑張らなければならないと思います。

大家好,今天是我的博客的生日(Jejak Langkah O),今年已经七年了。非常感谢你们都,看着看着就喜欢。我希望我的博客很有意思,谁看也就有好处,也希望你们就常常看我的博客。

Musafir Sehari

Prolog

Perjalanan panjang bukan hanya tentang kita dan berbagai destinasi indah yang ingin ditapaki. Adakalanya, setiap detilnya selalu terhubung pada Sang Khalik, sebuah perjalanan religi yang luar biasa berkah.

Minggu lalu, saya bersama sahabat, Q chan, berencana untuk mengunjungi Mesjid Osaka dan Mesjid Kobe. Kami bertekad, sebelum hijrah, kami harus mengunjungi kedua mesjid tersebut.

Agenda perjalanan kali ini:

  • Berangkat dari shelter pukul 13.00 (waktu Osaka).
  • Shalat Ashar di Mesjid Osaka.
  • Shalat Maghrib dan Isya di Mesjid Kobe.
  • Kobe Tower, kabarnya lebih indah pada malam hari.
  • Kobe Luminarie.
  • Harus kembali ke shelter sebelum pukul 00.00.

Hari ini adalah H-10 kami sebelum meninggalkan shelter. Tadinya, banyak penjejak yang mau ikut trip ini, karena padatnya aktifitas, akhirnya yang berangkat hanya saya, Q chan, Imam dan Nisa.

Menuju Mesjid Osaka
  • 14.00 Kami mulai bergerak menuju Abiko Station dan segera menaiki chikatetsu menuju Umeda Station. Beli tiket one day pass ¥600.
  • 14.24 Umeda Station.

Nah, seperti biasa, saya selalu menyelipkan kekonyolan disetiap perjalanan, tidak terkecuali untuk hari ini. Ketika keluar dari jalur Midosuji Line Umeda, one day pass saya ditolak. Karenanya, saya bertanya pada eki-in. Parahnya, saya men-charge kartu yang salah, tanggalnya beda!! OMG.. Saking banyaknya koleksi kartu subway!

Beralih ke Umeda Station. Bagi saya, stasiun ini menjadi stasiun terbesar yang pernah saya lewati di Jepang. Selain menjadi lintas dari berbagai jenis transportasi, di stasiun ini juga terbagi menjadi banyak unit. Jadi, harus punya petunjuk yang cukup; jika tidak, segera bertanya ke bagian informasi atau eki-in.

Nah, setelah linglung ga jelas, kami yang hanya mengandalkan internet map dan berbekal notes, menyerah dan lebih memilih option mencari info ke bagian informasi, dan ini sangat sangat efektif.

  • 15.00 Naik hankyu, tiket ¥290.
  • 15.06 Berangkat.. Gila, pemandangannya keren bo’.. Barisan pohon sisa-sisa koyo yang penuh warna.. Andai kami melewati tempat ini saat pertengahan aki..
  • 15.50 Yamada Station. Beli tiket osaka monorail ¥270. Kami segera mencari informasi melalui bagian informasi. Kami diberi peta lengkap dengan petunjuknya.
  • 15.53  Bampaku-kinen-koen Station.
  • 15.58 Norikae (transit) menuju Toyokawa Station.
  • 16.04 Toyokawa Station.

Kami menanyakan akses ke Mesjid Osaka pada eki-in. Tapi, tetap saja, bingung.. Karena, tempat ini melewati komplek perumahan yang cukup sepi. Selain itu, udara yang semakin dingin membuat kami harus berusaha lebih gigih agar cepat sampai ditujuan.

Dibalik kesulitan selalu ada kemudahan, kami bertemu dengan seorang warga yang bisa ditanya, akhirnya perjuangan yang tidak seberapa tadi terbayarkan, tadaa.. Mesjid Osaka!! Bak menang dari sebuah challenge, kami bersorak gembira. “Subhanallah, kami sekarang disini.. Di Mesjid Osaka!!!”

  • 16.15 Mesjid Osaka..

Berbeda dengan banyak mesjid di Indonesia, bahkan mesjid ini lebih mirip rumah bertingkat 2. Masuknya dari pintu samping. Ada tempat parkir yang bisa memuat sekitar 3-6 mobil. Di sebelah kiri bagian belakang ada toilet dan tempat berwudlu laki-laki.

Kami sempat nyaris kecewa, karena pintu mesjid tidak bisa dibuka dan sangat sepi. Mengingat waktu Ashar pukul 15.15, “apa mesjidnya tutup ya?! Mungkin bukanya pas waktu shalat saja untuk berjama’ah??”. Seketika saya sempat beropini demikian meskipun sangat tidak mungkin.

Lalu, tiba-tiba datang seorang laki-laki bertubuh tegap dan berkulit hitam menuju pintu mesjid. Sapaan orang itu “Assalaamu’alaikum” layaknya seorang mukmin, membuyarkan wajah kami yang saya rasa sempat bengong ga jelas saat pertama kali melihat orang itu  turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah kami. Kami menjawabnya dengan sumringah.

Selain lega dan bangga bertemu dengan muslim lain, dalam pikiran saya mulai terlintas “Alhamdulillah.. Mungkin dia penjaga mesjidnya, akhirnya kami bisa masuk mesjid ini, senangnya..”.

Bak kaca yang tiba-tiba retak, spekulasi tersebut membawa kami pada kenyataan bahwa mesjid itu sama sekali tidak terkunci, hanya saja kami yang tidak tau cara membuka pintunya 😀

Melihat mukmin tadi masuk ke dalam, kamipun bergegas mengikuti. Bak pertama kali memasuki sebuah tempat baru yang wah, saya menelisik setiap sisi, “oh, begini ya Mesjid Osaka.. Waah, saya disini, sekarang saya disini!!” (lebaynya kumat).

Dekorasi mesjidnya memang menyerupai rumahnya orang Jepang. Salah satunya, gengkang.

Dan, alhamdulillah.. Ketemu orang Indonesia!! Senangnya bukan main, serasa berada di Indonesia..

Di mesjid ini, tempat shalat laki-laki berada di lantai 1 dan perempuan di lantai 2, masing-masing ada toilet dan tempat berwudlunya. Hanya saja, tempat berwudlu di lantai 2 terbilang kecil, jadi hanya bisa satu-satu orang saja. Selain itu, tempat wudlu-nya juga hanya berupa wastafel. Jadi harus punya cara seefektif mungkin agar tidak membasahi sekitarnya.

Entah kenapa, rasanya ada yang berbeda. Niat, ucapan dan gerakan yang sama terasa berbeda setelah disini. Tempat yang terbilang sederhana ini terasa begitu damai, seolah beban yang sangat berat sekalipun terangkat dalam sekejap, terasa sangat ringan..

Tadinya, kami berniat hanya Shalat Ashar saja disini dan segera melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kobe. Namun, tiba-tiba Q chan punya ide “bagaimana kalau kami melewati rute yang berbeda dari agenda awal?!”

Ide yang briliant! mumpung hari ini harinya, tak ada salahnya mencoba hal-hal baru, tapi.. Saat ini kami memiliki banyak keterbatasan, terutama akses internet yang mulai memprihatinkan.

Kamipun menilik ulang setiap rute yang telah kami buat. Disaat kami berpikir alternatif mana yang paling efektif, seorang ibu-ibu muslim memasuki ruangan. Dan, alangkah surprise-nya kami, ternyata si ibu juga orang Indonesia, Sunda. Jadilah itu sebuah reunian antara Q chan, Nisa dan tentunya si ibu.

Dari sini, saya kembali menemukan point dari perjalanan ini. Menyimak percakapan 3 muslimah dari rumpun yang sama itu telah mengajarkan kepada saya tentang ‘uniknya bahasa’. Saya tidak tau arti percakapan mereka, namun saya mengerti inti pembicaraannya.

Tanpa sadar, diskusi ini telah menyita setidaknya sepenggal kecil perjalanan kami menuju Kobe. Namun, itu bukanlah hal besar, kalah besar dari moment yang kami dapatkan. Selanjutnya, karena waktu Maghrib telah datang (16.46), kami memutuskan untuk shalat dulu sebelum berangkat.

Setelah pamit dengan si ibu dan anaknya yang lucu, Taku kun; kami melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kobe. Yang jadi masalah, kami lupa menanyakan arah halte bus yang dimaksud. Walhasil, suhu yang semakin dingin membuat kami nyaris kembali ke rute awal.

Tiba-tiba, untuk kesekiankalinya ini menjadi sebuah kebetulan. Seorang wanita paruh baya, orang Jepang, bersepeda dengan arah yang berlawanan dari kami dan dengan antusiasnya mengucapkan “Assalaamu’alaikum..”. Kemudian, beliau memperlambat sepedanya dan menyapa kami dalam bahasa inggris.

Nah, ini bakal jadi hal unik lainnya dihari ini. Bahasa itu ibarat ‘bisa karena terbiasa’. Kami yang mulai terbiasa dengan bahasa jepang, kadang menanggapi si ibu dengan bahasa inggris, tapi terkadang malah spontanitas berbicara dalam bahasa jepang, yah meskipun dengan bahasa yang sangat sederhana. Tapi, si ibu malah konsekuen dengan bahasa inggrisnya yang sesekali kental dengan hyougen jepangnya.

Awalnya, kami merasa mendapat sedikit pencerahan. Ibu-nya sangat komunikatif, tapi.. Semakin kesini kami merasa percakapan dengan si ibu sedikit agak.. Ditambah dengan sikap si ibu yang terburu-buru mengayuh sepedanya tapi tetap berbicara seolah topik itu ditujukan pada kami.

Kamipun mulai berpandang-pandangan, seolah merasa memiliki pemikiran yang sama. Namun, Q chan yang dengan antusiasnya untuk melewati rute baru, tetap kekeh mengikuti si ibu. Kami yang mulai khawatir mengikuti petunjuk yang salah tetap menunggu Q chan kembali.

Karena khawatir, akhirnya kamipun menyusul Q chan. Kami mulai mengira jangan-jangan si ibu berpikir kami tidak tau jalan ke Mesjid Osaka padahal kami baru saja dari sana.

Saya mendampingi Q chan yang tetap terlibat percakapan dengan si ibu. Saya menargetkan, jika si ibu malah mengantar kami ke Mesjid Osaka lagi, tidak ada jalan lain, harus kembali ke rute awal. Dan, terkadang Tuhan menunjukkan jalan melalui cara-cara yang unik, yang tak pernah bisa kita tebak.

Si ibu mengatakan, rute menuju halte bus itu searah dengan rute yang akan dia lewati. Kami harus berjalan berlawanan arah dari rute sebelumnya. Lalu, beliaupun berhenti sejenak di lokasi sebelum mesjid dan menjelaskan rute setelah ini. Sebelum berpisah, si ibu mengatakan bahwa dia seorang perawat yang sudah pensiun, dulunya beliau seorang PhD. “Subhanallah..”

Kejadian ini benar-benar menepuk saya dengan sangat keras. Selama ini, saya selalu berprinsip “don’t judge peoples by their look“, tapi kali ini, saya sendiri yang melangkahinya. Dari lubuk hati yang terdalam, saya minta maaf dan sangat berterima kasih pada si ibu, juga bersyukur untuk moment ini.

Kamipun akhirnya sepakat, mungkin si ibu terburu-buru karena mengejar waktu Maghrib, makanya tidak sempat menjelaskan dengan gamblang.

  • 17.00 Berangkat..
Menuju Mesjid Kobe
  • 17.25 Basu noriba (halte). Kami berlarian seperti anak-anak yang enggan ketinggalan bus sekolah. Naik Bus Ibaraki.

Kali ini kali kedua saya menaiki bus. Bus ini mirip dengan busway di Indonesia. Bedanya, desainnya, cara pembayarannya, dsb. Dari pintu masuk, bagian kanan pintu, tepatnya dari tengah ke belakang bus, tempatnya lebih tinggi. Setiap tempat duduk bahkan bagian pegangan tangan diberi tombol yang bisa dipencet jika sampai di halte tujuan.

Pembayarannya, bagi yang memiliki kartu, ketika naik bus langsung menempelkannya ke alat khusus. Tapi jika membayar chase, penumpang membayarnya saat akan turun sesuai harga yang telah ditetapkan. Jika memiliki uang dengan nominal besar, minta bantuan pada sopir, nanti akan ditukar nilainya, dibayar sesuai harga dan diberikan kembalian. Semuanya menggunakan mesin otomatis.

Selama perjalanan, kami mendiskusikan banyak hal. Seandainya masih ada waktu, beberapa hal sebelum kami benar-benar meninggalkan shelter:

  • Sekali lagi ke Mesjid Kobe, berpose di Kobe Tower.
  • Mushalla di Stasiun Namba. Menurut info yang Q chan dengar, mushalla ini ada di basement.

Selama perjalanan, saya dan Q chan juga merancang planing buat tahun depan. Sesekali kami dan penjejak lainnya akan pergi ke tempat dan event-event, seperti:

  • MotoGP yang akan diadakan di Tokyo.
  • Korea.
  • Cina.
  • Menikmati momiji di Kyoto dengan mengenakan fashion ala wanita Jepang di zaman Edo.
  • Mesjid Kobe setiap ada waktu.
  • Air Terjun Mino saat momiji, pastinya lebih indah pergi disiang hari.

Next..

  • 18.00 Izumiya.
  • 18.05 Naik JR (Japan Rail) dari Ibaraki Station ke Kobe-Sannomiya Station (JR-Kobe Line). Pilih line 2. Go.. Saking ramainya, kami baru dapat tempat duduk setelah hampir setengah perjalanan. Dan, langsung meneparkan diri.
  • 18.56 Kobe-Sannomiya Station.

Kami segera mencari informasi melalui bagian informasi. Kami diberi peta lengkap dengan petunjuknya.

Sepanjang jalan terlihat berbagai tempat penginapan dan aneka restoran dengan aroma yang yummy.. Dan, kami baru sadar, perut kami mulai lapar..

  • 19.30 Akhirnya, Mesjid Kobe.. Alhamdulillah..

Mesjid ini terletak dibalik gedung NHK, TVRI-nya Jepang, tidak jauh dari bangunan Jinja.

Seperti halnya Mesjid Osaka, kejadian yang samapun terulang kembali. Kami bersorak gembira seolah baru saja diumumkan lulus dari TA (Tugas Akhir). Tapi.. Lagi-lagi pintu mesjidnya tertutup!!

Setelah melihat seorang muslim keluar dari pintu samping, akhirnya Imam berinisiatif untuk inspeksi. Kamipun mengikuti Imam, dan, ternyata, pintu masuknya dari sayap kanan mesjid sebelah belakang. Yokatta..

Melihat wajah bingung kami, para akhi di dalam segera membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. “Subhanallah.. Sekarang kami sudah di Mesjid Kobe!!”. Rasanya seperti mimpi! Benar-benar luar biasa.. Betapa bangunan ala timur tengah ini punya magnet yang bagi saya ‘ajaib’!

Akhi tersebut menanyakan apakah kami orang Indonesia dan segera memperkenalkan akhi lain yang juga dari Indonesia.

Seperti Mesjid Osaka, disinipun juga ada gengkang dan tempat shalat laki-laki di lantai 1 sementara perempuan di lantai 2. Segera setelah melepas sepatu, kami bertiga melewati anak tangga menuju lantai 2. Benar-benar tempat ibadah yang megah..

Disini, kami bertemu 2 orang muslimah yang berasal dari Sri Lanka. Mereka tenaga pengajar; mengenakan baju bernuansa gelap, sangat sederhana, tanpa make-up, tapi.. Siapapun bisa melihat inner beauty-nya. Dalam hati saya bertanya “kapan ya saya bisa seperti mereka??”.

Pertanyaan itu seolah memberi kesan saya benar-benar berniat ingin istiqamah seperti mereka atau malah mengejek diri sendiri. Saat berwudlupun saya jadi termangu melihat ke kaca. OK, deal! Suatu saat, entah kapan,  mungkin saya bisa seperti mereka.

Oh ya,  di mesjid ini tempat wudlu dan toilet dipisah dan lebih luas. Di ruang toilet, terdapat beberapa toilet yang dilengkapi dengan wastafel. Di ruang wudlu, terdapat banyak kran yang bisa diatur suhu airnya. Berdampingan dengan kaca rias dan fasilitas mukena.

Selesai Isya, saya dan Nisa mengenakan jilbab di tempat rias. Tiba-tiba, seorang muslimah menghampiri kami dan mengajak makan malam bersama, sudah disediakan hidangan untuk kami, karena sulit mencari tempat makan halal disekitar sini.

MasyaAllah.. Saya dan Nisa kaget, antara surprise dan sungkan, juga happy.. Semua yang terjadi di hari ini benar-benar sebuah kebetulan yang juga seolah sudah dipersiapkan untuk kami.

Sungguh, nikmat-Mu mana lagi yang kan kami dustakan?? Seolah Tuhan sengaja menjamu kami sedemikian rupa karena bertamu ke rumah-Nya, benar-benar tak terungkapkan, sangat bahagia.. Ini jauh dari ekspektasi awal yang notabennya kami hanya ingin menapaki jejak di rumah-Nya sebelum hijrah ke dunia kerja masing-masing.

Dan, lihat.. Tanpa kami beritahu pada siapapun kalau kami sedang lapar dan berniat mencari tempat makan dengan menu-menu baru, Dia sudah menggerakkan bala-bantuannya. Betapa beruntungnya kami, sangat sangat beruntung..

Kejutan ini belum usai. Dalam perjalanan menuju ruang makan, saya memberikan titipan buku dari seorang hamba Allah untuk mesjid. Kemudian, muslimah tersebut mengantarkan kami pada seseorang, orang Jepang yang fasih berbahasa Indonesia, subhanallah..

Kami dijamu dengan hidangan Pakistan. Nasi campur yang dibumbui dengan bumbu (seperti bumbu sup), kare ayam (mirip gulai ayam di Padang) dan roti Pakistan (mirip roti cane di Indonesia) menjadi menu utamanya.

Sebelumnya, kami sempat mencemaskan Imam. Dengan sungkan, kami tetap menyampaikan bahwa kami disini ada berempat dengan seorang teman laki-laki. Mereka mengerti apa kami pikirkan dan menyampaikan bahwa laki-laki juga dijamu di lantai 1, karena yang masak masakan inipun juga laki-laki. Kami bertiga sepertinya sepakat ‘WOW!’

Dalam nasi campur itu ada bumbu yang bentuknya mirip bumbu sup di Padang, namanya gardambumbu. Tapi, ini jelas berbeda, yang ini teksturnya mirip kacang mente dengan rasa seperti kacang tanah. Hayooo.. Unik, benar-benar unik! Selain itu, tekstur dan rasa nasinya juga berbeda. Selain ini juga ditambahkan kismis dan potongan daging dengan ukuran sedang.

Saking sungkannya, saya sampai lupa sudah berapakali mengucapkan terima kasih. Dan, watak Indonesia saya yang satu ini, saya rasa agak sedikit berlebihan. Jadi, bagi siapapun, jangan sampai melakukan hal yang sama ya, sungkan itu memang perlu tapi tidak berlebihan.

Setelah makan, datang seorang anak kecil yang imut banget mengantarkan desert yang mereka sebut sweet. MasyaAllah.. Ini benar-benar.. Dalam Bahasa Minang, makan lamak. Rasanya, wenak banget, benar-benar sesweet rasanya!! Ini seperti terbuat dari santan pekat yang diolah dengan bumbu rempah (seperti ada potongan jahe yang cukup halus tapi tidak terlalu khas).

Dalam percakapan kali ini, kami bercerita banyak hal. Dari sini kami tau bahwa muslimah Jepang tersebut bisa berbahasa Indonesia sefasih itu hanya dengan mendengar. Luar biasa.. 

Selain itu, ternyata, dihari biasa, disini dibuka kelas, seperti kelas Qur’an dan hadist untuk umum.  Dihari kerja, pukul 1 s/d 3 dan sabtu mulai pukul 3. Tapi, tetap harus konfirmasi dulu sebelumnya.

Saya begitu antusias dengan budaya makan bersama tadi, mengingatkan saya pada kampung halaman. Jika ada tamu atau acara tertentu, sering dihidangkan seperti ini.

Spontan saya bertanya, apakah selalu begini? Atau dihari tertentu saja? Dan, jawabannya seolah membuat saya bungkam. Acara makan-makan tadi adalah perdana, alias pertama kali dilakukan disini, alias sebelumnya tidak pernah. Dan, merekapun juga tidak tau siapa yang mengadakan dan kenapa bisa ada acara makan-makan tadi. Ok, I’ve got the answer.

  • 20.45 Go..
Kobe Luminarie

Agenda awal, setelah Mesjid Kobe, harusnya kami ke Kobe Tower. Namun, karena jaraknya yang jauh sekitar 1 jam lebih, akhirnya kami menundanya. Kemudian bergerak menuju Kobe Luminarie.

Untuk kesekian kalinya, kami yang buta arah dipertemukan dengan orang Indonesia disebuah persimpangan. Mereka memberi petunjuk arah yang paling efisien. Setelahnya, kami tetap mengonfirmasi pada polisi yang menjaga keamanan acara. Mereka standbye diberbagai tempat dan tetap welcome meskipun sedang sibuk mengatur masa.

  • 21.10 Menuju Kobe Luminarie.
  • 21.30 Kami bergerak cepat, mengingat info dari polisi tadi, acara ini hanya sampai pukul 10. Dan, Kobe Luminarie!! Wow,  festival lampu ini benar-benar kerreen!! Event ini diadakan dalam rangka HUT ke-150 Pelabuhan Kobe. Ada juga aneka jajanan kuliner jepang..

Lampu-lampu megah itu mengantarkan saya pada sebuah analogi. Mereka seperti mimpi dan harapan yang menjadi nyata dan menerangi ratusan masa yang membanjiri sekitarnya. Mereka hanyalah sebuah benda yang bisa dimodifikasi oleh manusia. Begitupun mimpi dan harapan, sebuah motivasi yang juga bisa dikendalikan oleh manusia.

  • 21.55 Setelah jauh mengelana, akhirnya kaki kamipun mulai terasa kram. Berarti, kami harus mengakhiri perjalanan luar biasa ini.

Lagi-lagi, untuk kesekiankalinya, tak terhitung lagi.. Disaat kami mulai mencari arah pulang, reflek perhatian tertuju pada Imam dan orang yang tidak kami kenal. Orang itu orang jepang yang fasih berbahasa Indonesia dan terlihat memberi petunjuk. Ternyata, dari Imam, orang itu tiba-tiba menyapa dan menanyakan tujuan kami lalu langsung menjelaskan rutenya. Alhamdulillah.. Ada saja bantuan tak terduga..

  • 10.14 Kobe-Sinnomiya Station ¥320 naik hankyu di jalur 4.
  • 10.18 Menuju Umeda Station.
  • 10.53 Umeda Station.
  • 11.00 Chikatetsu menuju Abiko Station. Tanpa komentar apapun, setelah mendapat tempat duduk, kamipun rehat sejenak meninggalkan keremaian kereta.
  • 11.27 Abiko Station.
  • 11.45 Shelter.
Sepenggal Cerita tentang Stasiun Umeda

Sebulan yang lalu, tepat ditanggal yang sama, saya punya agenda dadakan yang mengantarkan saya ke Umeda Station. Tanpa akses internet dan informasi yang minim, saya bergerak menuju lokasi. Maklum, selama ini saya tidak punya akses ke stasiun  besar ini.

Bahkan dengan bekal notes ples nanya ke bagian informasi-pun terkadang tidak menjamin lokasi tersebut mudah ditemukan. Untungnya, seorang teman yang kebetulan punya destinasi ke Yodoyabashi, berbaik hati mengantarkan saya. Jika tidak, entahlah.. Hanya ada 2 kemungkinan, bakal menghabiskan banyak waktu atau batal.

Hikmah

Perjalanan kali ini memberikan pelajaran luar biasa:

  • Perjalanan panjang bukan hanya tentang diri sendiri, interaksi dengan sesama, keindahan tanpa batas, dsb; tapi juga tentang seorang umat dan Sang Khalik.
  • Mau travelling, nge-trip, walking out, dll; yang namanya pergi bareng itu memang harus punya management kekompakan alias kerja tim.
  • Jika Tuhan meridhai apa yang kita tuju, dalam setiap kesulitannya Tuhan selalu menyelipkan kemudahan.
  • Terkadang Tuhan menunjukkan jalan melalui cara-cara yang unik, yang tak pernah bisa kita tebak.
  • Segala sesuatu tergantung pilihan dan usaha. Usaha yang lebih so pasti dapat hasil yang lebih.
  • Sesuatu yang terlihat buruk bisa jadi memiliki banyak manfaat dibaliknya. Sebaliknya, sesuatu yang diyakini baik juga belum tentu baik pada akhirnya.
  • Jangan mudah menilai sesuatu, meremehkan hal kecil bisa jadi membuat kita kehilangan kesempatan besar yang belum tergali didalamnya. “Don’t judge peoples by their look”
  • Sesama muslim adalah saudara. Dimanapun dan kapanpun, dengan latar budaya apapun, kita semua sama. Hanya dengan seutas senyum atau dengan mengucapkan “Assalaamu’alaikum”, sebuah silaturrahim-pun begitu mudah terjalin.
  • Sebagai insan yang memiliki budaya timur, rasa sungkan itu memang perlu tapi tidak berlebihan.
  • Mimpi dan harapan itu seperti cahaya yang menerangi kegelapan dan menyinari sekelilingnya.
  • Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan tepat pada waktunya, bukan yang kita inginkan.
Moment to Remember
  • Best moment with Q chan, Imam dan Nisa. Para musafir sehari dengan segala berkah-Nya yang melimpah.
  • Ibu asal Sunda yang giat mencarikan kami informasi. Bersama si cilik Taku kun yang lucu.
  • Salah men-charge kartu.
  • Mengejar bus setelah salah paham pada si ibu bersepeda.
  • Aroma masakan nan yummy  sempat terlintas untuk makan dulu sebelum sampai Mesjid Kobe. Tapi, setelah meluruskan niat, akhirnya dijamu dengan masakan Pakistan yang enak banget..
  • Bertemu muslimah-muslimah inspiratif, seperti Aisyah, Aminah,  Hana dan muslimah lainnya.
  • Kembali ke Umeda Station, tapi kali ini tidak sendiri, bersama para musafir sehari.
Catatan
  • Chikatetsu = Kereta api bawah tanah.
  • One day pass = tiket yang berlaku kemana saja dengan chikatetsu, tetapi terbatas untuk subway saja, berlaku sampai pukul 12 malam, alias seharian.
  • Notes = Buku catatan (agenda perjalanan).
  • Option = Pilihan.
  • Hankyu = Kereta api cepat.
  • Koyo = Daun-daun yang berubah warna menjadi merah pada aki.
  • Aki = Autumn, musim gugur (peralihan musim panas ke musim dingin).
  • Hyougen = Logat.
  • Monorail = Transportasi darat yang lebih menyerupai satu gerbong kereta yang dijalankan oleh masinis, rel-nyapun memiliki bentuk yang  berbeda.
  • Norikae = Transit,  pindah jalur.
  • Eki-in = Penjaga stasiun.
  • Gengkang = Sedikit space antara pintu dan bagian depan ruangan rumah khas Jepang, tempat meletakkan alas kaki (sepatu, sandal, dll).
  • Yokatta = Lega.
  • Akhi = Panggilan untuk laki-laki muslim.