Tag Archives: Sumbar

Green House ‘Lezatta’

Nuansa serba hijau ini terletak di Jl. Bukittinggi-Payakumbuh, km 9.5, Baso, Kab. Agam-Sumatera Barat.

Dari Kota Bukittinggi, Green House ini berada di sebelah kiri sebelum SPBU Baso. Akses ke lokasi terbilang mudah, hanya dengan menaiki transportasi umum, yaitu angkot biru muda dari Aur Kuning.

Perjalanan menuju Lezatta membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Insert untuk pengunjung dewasa Rp 10.000,- dan anak-anak Rp 5.000,-.

Referensi

  • Seluruh info berikut dokumentasi dishare oleh Geni pada 5 Desember 2016.

Gallery

Advertisements

Kerupuk Kuah

In West Sumatra (Indonesia), it’s called Karupuak Kuah. This is a very delicious culinary. You can found it in Taplau Purus, Padang, West Sumatra-Indonesia.¬†

Bagi pecinta makanan tradisional, pasti sudah tidak asing lagi dengan jajanan renyah yang satu ini, namanya kerupuk kuah (karupuak kuah). Terbuat dari kerupuk ubi yang digoreng dan kemudian dioleskan kuah sate atau gulai bukek.

Dahulunya, kerupuk ini hanya dinikmati bersama kuah begitu saja. Namun, semakin kesini, mulai  variatif, salah satunya dibubuhi dengan mie goreng.

Nah, di Sumatera Barat, jajanan favorit ini biasanya mudah ditemukan di berbagai tempat, terutama lokasi-lokasi objek wisata. Salah satunya, di Taplau (tapi lauik) Pantai Purus, Padang. Disini dijual Rp 5.000,-/porsi.

Jajanan tradisional ini memang terlihat tipis dan ringan, tapi bikin kenyang.

Referensi

  • Informasi ini dishare oleh Geni pada 30 November 2016.

Gallery

Lain-lain

Sungai Janiah

Sungai Janiah.. sebuah nama tempat yang cukup familiar dengan keelokan tempat wisatanya dan juga cerita rakyatnya. Terletak di Kec. Baso, melalui jalur Bukittinggi-Payakumbuh (belok ke kiri), sekitar setengah jam dari Terminal Aur Kuning dan 15 menit dari simpang plang Kolam Ikan Sakti (dengan kendaraan bermotor). Sementara untuk menuju ke kolam, kita melewati gerbang mesjid (masuk kawasan mesjid), tepat di belakang mesjid. Insert masuk untuk dewasa Rp 3.000,- dan anak-anak Rp 2.000,-. Parkir kendaraan (motor) Rp 2.000,-.
Disini terkenal dengan legenda ikan sakti dengan ukuran besar yang konon hanya muncul sekali dalam setahun (saat lebaran Idul Adha). Ini berdasarkan kisah turun-temurun tentang sepasang saudara “Buyung & Upik” yang tak mengindahkan nasihat ibunya yang pada akhirnya berbuah penyesalan.
Di kolam ini terdapat banyak jenis ikan dengan beragam ukuran. Pengunjung diperbolehkan memberikan ikan makanan berupa pensi mentah, atau lainnya.
Jajanan favorit disini adalah kerupuk kuah, kerupuk ubi yang dibubuhi kuah sate, kadang ada yang ditambahkan mie hun goreng. Selain itu juga ada pensi (yang telah ditumis), makanan ringan, dll.
Bagi petualang yang ingin memacu adrenalin, tentunya punya keberanian dan keahlian panjat tebing, bisa menikmatinya disini. Tak jauh dari kolam, berdiri kokoh tebing yang tidak terlalu curam dan biasa dimanfaatkan oleh para pemanjat tebing yang tak ingin melewatkan indahnya view Baso dari ketinggian.

Referensi

Geni via interview pada 10 Agustus 2015.

Olha Chayo

Gunuang Padang

Untuk kesini, dari Pasar Raya Padang, kita bisa menaiki angkot berwarna biru tua (dongker) dengan kode 404 Palinggam di Terminal antara Gedung Balai Kota Padang dan Polresta Padang. Perjalanan dengan angkot memakan waktu sekitar 15-20 menit dengan rute Pasar Raya Рbelok kanan ke Imam Bonjol Рbelok kiri di Grand Zuri Hotel Рbelok kanan di simpang yang ada plang SMP PGRI 4 РSeberang Padang Selatan РJl. Raya Seberang Palinggam (melewati SMPN 35 Padang, Masjid Darussalam Seberang Palinggam) РJl. Kampung Batu (melewati Jembatan Siti Nurbaya, Masjid Nurul Huda РObjek Wisata Gunuang Padang.

Tiket masuk untuk Dewasa Rp 5.000,- dan Anak-anak Rp 3.000,-. Buat yang sudah terbiasa mendaki atau hiking, membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai dipuncak; buat pemula bisa memakan waktu lebih dari sejam. Disini dapat dilihat indahnya view laut menjelang sampai puncak, ada Benteng Jepang dan meriam peninggalannya, makam Siti Nurbaya, view Pantai Air Manis dan Kota Padang. Beberapa titik menyediakan tempat rehat yang dilindungi oleh pepohonan rindang, sejuk.. Jadi, tak perlu khawatir jika kelelahan atau mencari tempat yang nyaman untuk makan.

Berbeda dengan naik ke puncak, menuruni jenjang-jenjang itu terasa lebih mudah. Saya rasa, bagi pemula sekalipun, cukup membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai di gerbang kembali.

Sayangnya, angkot kesini gampang-gampang mudah menunggunya. Boleh dikatakan mudah diwaktu siang (jam anak sekolahan pulang).

Waktu yang bagus untuk ke Gunuang Padang adalah sore hari, biar cuaca tidak terlalu terik.

Museum Gempa & Bencana (Earthquake & Disaster Museum) Kota Padang

Museum Gempa & Bencana Kota Padang

Museum ini terletak di Gedung LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) lantai 2, tepatnya di Jl. Diponegoro No. 4 (Gedung Abdullah Kamil). Berada diantara simpang Plaza Andalas (PA) menuju Pasar Raya dan Kantor Pengadilan yang di dekat Taman Melati.
Berbeda dengan museum lainnya, museum yang satu ini tampak sepi pengunjung, padahal masuknya GRATIS, lho.. Selain itu, pemandunya juga ramah dan loyal dengan berbagai informasi seputar museum tersebut. Jika Anda mau berkunjung kesini, museum ini buka dari hari Senin s/d Sabtu (hari Minggu TUTUP).
Nah, di dalam museum ini tertata apik foto-foto kejadian gempa (terutama Gempa besar pada 30 September 2009) dan bencana alam lainnya (seperti Banjir Bandang di Limau Manis) yang pernah terjadi di Kota Padang. Beberapa juga memuat foto lainnya seperti daerah Pariaman (Kuburan massal akibat Gempa 30 September 2009).
Setelah kita selesai mengitari museum yang lebih mirip gallery foto tersebut, kita diminta pemandu untuk mengisi buku tamu yang telah disediakan.

Monumen Gempa 30 September 2009

Monumen ini terletak di Taman Melati, tidak jauh dari Museum Gempa & Bencana Kota Padang, dekat jalan menuju SMA Don Bosco Padang.

Lainnya

Tadinya saya berpikir “Museum Gempa?! Apa ya yang bisa kita lihat disana?”. Ternyata foto-foto itulah jawabannya. Saya seolah berziarah ke masa lampau, karena pernah menjadi bagian cerita dari bencana-bencana tersebut, mungkin demikian juga dengan Anda (warga Padang).

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini didapat dari hasil wawancara dengan pemandu Museum Gempa & Bencana (Earthquake & Disaster Museum) Kota Padang. Begitu juga dengan hal-hal terkait lainnya, seperti mempublikasikan foto, telah mendapatkan izin dari pemandu.

Lotek

  • Bahan:
    • Cabe rawit 3 buah
    • Bawang putih 1 siung kecil
    • Garam kasar secukupnya
    • Cakua¬†(mirip lengkuas tapi lebih lunak) beberapa iris kecil
    • Kacang tanah yang telah dirandang dan ditumbuk kasar 6 sdm
    • Air mineral / air matang
    • Gula aren (saka niro)
    • Air asam jawa
    • Mie kuning yang telah direbus
    • Sayur-sayuran:
      • Kol / lobak putih yang telah diiris (direbus atau mentah)
      • Toge yang telah direbus
      • Sayur lalidi (mirip daun ubi / pucuak ubi) yang telah direbus
  • Alat:
    • Batu giling
    • Spatula
  • Cara:
    • Giling cabe rawit + bawang putih +¬†cakua¬†+ garam sampai lumat.
    • Tambahkan kacang, giling.
    • Tambahkan air asam jawa, giling.
    • Tambahkan gula aren sesuai selera, giling.
    • Tambahkan air, giling hingga kacang mulai hancur dan kuah sudah tampak pekat.
    • Tambahkan mie + toge + sayur lalidi + lobak, aduk rata.
    • Sajikan, tambahkan kerupuk merah diatasnya.
  • Catatan:
    • Sayur-sayurnya bisa ditambah dengan sayuran lainnya sesuai selera, seperti: kacang panjang, daun ubi (pucuak ubi/pucuak parancih), daun salada, dll.
    • Ada juga yang menambahkan irisan kentang yang telah direbus.
    • sdm = sendok makan.
Referensi

Saya melihat langsung cara pembuatannya di Pasar Palembayan yang dijual oleh Uni Sita; dengan perubahan seperlunya berdasarkan beberapa resep yang pernah saya cicipi.

Pulau Cubadak (Cubadak Island)

Pulau ini terletak di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tepatnya di Kawasan Wisata Mandeh (Mande Resort), 40 km di sebelah selatan Padang dan 5 km dari pantai. Lokasi dengan luas 40 km2 ini dapat dicapai dengan kapal dari Pantai Carocok. Salah satu keunikannya adalah pulau dengan pantai yang indah namun memiliki air yang tenang (tanpa ombak).

Pulau Cubadak dikelola oleh orang asing (bule) dengan aneka fasilitas, cenderung memiliki kesan high class. Contohnya, eco-resort ‚ÄúCubadak Village Resort‚ÄĚ dengan tarif penginapan Rp 1.000.000,-/malam. Tarif yang sangat fantastis, khususnya buat para backpacker, bukan? (Dayak, 2015 & dewi magazine, 2013).

Akses kesini bisa menggunakan paket travelling atau fasilitas dari penginapan yang telah dipesan. Baru-baru ini, teman saya bernama Putri, liburan kesini dengan jasa travel dan merogoh kocek sebesar Rp 280.000,- untuk trip Pulau Cubadak, Puncak Mandeh, Pulau Sirandah dan Pulau Setan. Fasilitas yang didapat yaitu alat menyelam, snorkling, dll.

Referensi
  • Dayak. 2015. Wawancara via phone pada 23 Juli 2015.
  • dewi magazine. 2013. Jelajah Pulau Cubadak di Barat Sumatera. Diakses pada 23 Juli 2015.
  • Honesty Putri,¬†wawancara via medsos (BBM) pada 23 Juli 2015.
  • Wikipedia. n.d. Pulau Cubadak. Diakses pada 23 Juli 2015.

Aquarium

Aquarium berada di dalam kawasan Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan / Benteng Fort De Kock Bukittinggi. Karcis masuk Rp 2.000,-. Berikut beberapa koleksinya:

  • Arwana Super Red (Scleropages Formosus)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Kalimantan
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th (01-01-2013)
  • Discus (Symphisondon Discus)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Brazil
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th (01-01-2012)
  • Manfish (Pterophyllum Scalare)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Amerika Selatan
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th (01-01-2013)
  • Neon Tetra (Paracheirodon Innesi)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Sumatera
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th (01-01-2011)
  • Belalai Gajah / Elephant ‚ÄúLong‚ÄĚ Nose (Gnathonemus Petersil)
  • Louhan Pahang (Amphilophus Irimaculatus)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Pahang, Malaysia
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 3 th (01-01-2011)
  • Oscar Albino (Astronotus Ocellatus Albino)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Bangkok, Thailand
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 3 th (01-01-2012)
  • Oscar Batik (Astronotus Ocellatus)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Bangkok, Thailand
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 3 th (01-01-2012)
  • Synodontis ….

    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Brazil
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 2 th (01-01-2012)
  • Belida Bangkok (Notopetrus Chitala H B)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Thailand
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 3 th (01-01-2012)
  • Koi Salju
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Blitar
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th
  • Frontosa
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Afrika
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 2 th
  • Parrot Love (Hoplarchus Psittacus)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : China
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 9 th (01-01-2012)
  • Loubster / Cherax Quadricarinatus (Red Claw)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Danau Maninjau (Sumatera Barat)
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th (01-01-2012)
  • Spatula (Polyodon Spathula)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Afrika
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th (01-01-2012)
  • Aba-aba Knive Fish
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Laut Hindia
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 19 th
  • Red Paku / Bawal
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Sumatera
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th (01-01-2012)
  • Patin Black (Pangasius Pangasius)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Riau, Sumatera
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th (01-01-2012)
  • Patin Albino (Pangasius Pangasius Albino)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Riau, Sumatera
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th (01-01-2012)
  • Red Piranha (Sarasalmus Nattereri)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Brazil (Amerika Selatan)
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 1 th (01-01-2012)
  • Black Ghost Fish (Afteronotus Albifrons)
    • Asal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Afrika
    • Umur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : + 3 th (01-01-2011)

Ukiran Minangkabau

Ukiran merupakan salah satu bentuk karya seni yang banyak ditemui di Minangkabau terutama terlihat pada rumah gadang. Ukiran tersebut sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Motif ukiran Minangkabau pada umumnya bersumber kepadafalsafah Alam Takambang Jadi Guru. Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistik, tetapi telah digayakan sedemikian rupa sehingga menjadi motif yang dekoratif. Nama motif ukiran tersebut seperti: pucuak rabuang, kaluak paku, itiak pulang patang, bada mudiak, saik galamai, saluak laka, dsb.

Penerapan ukiran ini selain pada rumah gadang, juga menghiasi berbagai peralatan lainnya yang terbuat dari kayu, bambu dan logam. Berbagai benda yang dihiasi dengan ukiran dapat dilihat dalam vitrin ini.

Carving Of Minangkabau

Carving is a form of art that were found in Minangkabau, especially the shown in this big house. These carving is very closely related with the life of Minangkabau society. Motif Minangkabau usually originates in the philosophy oh ‚ÄúNatural Takambang So Master‚ÄĚ. Natural forms are used as the motif in Minangkabau is not expressed in realistic but has been stylized in such a manner that it becomes a decorative motif. The name of the carving motifs such as ‚Äúpucuak rabuang, kaluak paku, itiak pulang patang, bada mudiak, saluak laka‚ÄĚ, etc.

Application of these carvings besides to big house are also decorate various other equipment is made of wood, bambo and metal. Various objects are decorated with the carvings can be seen in this vitrin.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Rumah Gadang

Sumatera Barat lebih dikenal dengan sebutan Minangkabau, memiliki banyak peninggalan sejarah dan budaya yang tersebar di berbagai daerah. Salah satu bentuk peninggalan tersebut adalah arsitektur tradisional berupa bangunan rumah gadang, balai adat dan surau atau masjid.

Arsitektur tradisional merupakan wujud kultur dari kebudayaan Minangkabau yang dilatarbelakangi oleh banyak faktor seperti sistim kekerabatan yang dianut dan faktor alam sekitar sesuai dengan falsafah Minangkabau ‚Äúalam takambang jadi guru‚ÄĚ. Bangunan tradisional ini terbuat dari kayu, bambu, atap ijuk, dengan sistim pasak.

Ciri khas paling menonjol pada rumah gadang dan balai adat terlihat pada bentuk atapnya bergonjong menjulang tinggi, menyerupai tanduk kerbau, kemudian dinding yang diberi hiasan ukiran. Rumah gadang punya beberapa tipe gajah maharam, rajo bagandiang, surambi papek dan surambi aceh. Beberapa rumah gadang dilengkapi rangkiang atau lumbung untuk menyimpan padi.

 

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Pakaian Adat

Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya, demikianlah ungnkapan tentang keragaman budaya yang kita miliki. Hal ini dapat dilihat dari ragam pakaian adat Minangkabau. Pakaian adat Minangkabau adalah pakaian yang dipakai pada saat atau untuk kepentingan upacara, baik upacara adat maupun upacara keagamaan. Bentuk pakaian yang dipakai seseorang menggambarkan daerah asal dan status pemakainya serta tingkat upacara adat yang dihadirinya.

Pakaian adat wanita Minangkabau pada umumnya terdiri dari baju kurung, kodek, tingkuluak/salendang, serta dilengkapi dengan asesoris lainnya. Sebagai tutup kepala wanita untuk daerah luhak disebut tingkuluak, ada yang terbuat dari kain songket, batik, salendang bersulam, dsb. Sedangkan daerah pesisir Sumatera Barat (rantau), serta beberapa daerah di luhak, memakai sunting sebagai hiasan kepalanya.

Pakaian penganten wanita Solok dengan ciri khas Bungo Sanggua, sejenis suntiang yang terbuat dari loyang berwarna keemasan. Pakaian penganten wanita Lintau Buo disebut Tingkuluak Balenggek Kompong yang terbuat dari kain tenun dengan bentuk tanduk kerbau yang ujungnya pepat (tidak runcing). Sedangkan penganten laki-laki, pakaiannya menyerupai pakaian penghulu, ada yang memakai jas dan roki.

Beragam bentuk pakaian adat Minangkabau, dapat dilihat dalam vitrin ini.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.

Mata Uang

Pengembangan mata uang tidak dapat dipisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Sebelum ada mata uang, untuk memenuhi kebutuhan hidup dilakukan better, yaitu menukarkan barang dengan barang. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan mata uang, pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara pernah dikeluarkan mata uang kerajaan yang terbuat dari logam seperti mata uang dari kerajaan Majapahit, Kerajaan Islam di Aceh, dsb. Kedatangan bangsa asing ke Nusantara juga memperkenalkan mata uangnya. Oleh sebab itu, kita mengenal mata uang VOC, EIC, Portugis, Arab, Jepang, dsb. Hingga akhir penjajahan, kita masih menggunakan mata uang Belanda dan Jepang. Setelah kemerdekaan RI, negara kita mulai menerbitkan mata uang Republik Indonesia (ORI), kemudian masa revolusi juga diterbitkan mata uang, baik uang logam maupun uang kertas.

Pada mata uang tersebut, tertera nilai nominal, tahun dikeluarkan, negara asal dan gambar lainnya seperti gambar pahlawan, orang-orang yang berjasa bagi bangsa ini, kekayaan alam dan budaya bangsa, fauna, flora, dll yang menghiasi permukaan mata uang Republik Indonesia.

Bagi bangsa asing yang mengunjungi daerah ini juga ada yang menyerahkan mata uangnya sebagai kenang-kenangan untuk disimpan di museum, sehingga dapat dilihat oleh masyarakat umum.

Referensi

Semua informasi yang saya posting disini disalin dari berbagai media yang terdapat di Museum Rumah Adat Baanjuang, seperti: informasi tertulis yang disediakan tepat di dekat objek; dengan perubahan seperlunya.