Category Archives: Air Terjun (Waterfall)

Air Terjun Mandeh

Air Terjun Mandeh terletak di kawasan Mandeh, Pesisir Selatan. Meskipun demikian, wisata alam yang satu ini tak sepopuler Puncak Mandeh yang terkenal sebagai Raja Ampat-nya Sumatra. Kebanyakan wisatawan baru mengetahui panorama rancak ini setelah diberitahu oleh warga setempat.
Akses ke lokasi bisa menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat, melewati Puncak Mandeh dengan menyusuri jalan baru sebelum pemukiman warga. Jalan tersebut bisa terlihat cukup jelas dari Puncak Mandeh, ikuti jalan itu sampai bertemu jalan yang kurang bagus. Kemudian, teruskan perjalanan hingga + 1 km dan kita akan menemukan jembatan. Bagi yang baru pertama kali melewati rute ini, tak usah bingung, jembatan ini mudah ditemukan dan satu-satunya mendekati lokasi air terjun.
Setelah memarkirkan kendaraan, cukup berjalan beberapa meter dari pinggir jalan dan bersiap-siap terpukau dengan keelokan alam yang masih asri. Air terjun yang tak terlalu tinggi itu menguraikan partikelnya dengan sangat indah, ademm… Batu alam nan kokoh turut menyemarakkan mahakarya dari sang pencipta, mengagumkan..

Selamat berpetualang!! Oya, seluruh informasi ini beserta dokumentasi dan sebagainya dishare oleh Firman pada 6 November 2015; dengan perubahan seperlunya 🙂

Advertisements

Air Terjun Lembah Anai

Air Terjun Lembah Anai dikenal masyarakat Minangkabau dengan nama Aia Tajun atau Aia Mancua Lambah Anai terletak di Lembah Anai, dipinggir jalan raya trans Sumatera yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Bukittinggi, tepat di bagian barat Cagar Alam Lembah Anai. Air terjun dengan ketinggian sekitar 35 m ini merupakan aliran dari Sungai Batang Lurah Dalam dari Gunung Singgalang yang menuju daerah patahan Anai.

Wisata ini telah dikelola dengan cukup baik. Kita bisa beristirahat di gazebo-gazebo terbuka yang dibangun menjelang lokasi air terjun.

Akses kesini bisa menggunakan kendaraan umum ataupun pribadi. Bus yang melintasi tempat ini diantaranya Bus Padang-Bukittinggi, Bus Padang-Payakumbuh, dan beberapa bus lainnya. Ongkos sekitar Rp 20.000,-/orang.

Disekitar tempat ini banyak yang berjualan, mulai dari oleh-oleh hingga hidangan nasi (Rumah Makan Padang). Salah satu yang terkenal adalah jajanan pinukuik (kue panekuk) dan paragede angek (pergedel yang masih hangat) yang dijajakan oleh penjual dari mobil ke mobil dan memiliki pangkalan sekitar 10 meter dari lokasi air terjun.

Selain Air Terjun Lembah Anai, masih terdapat 2 air terjun lainnya di Lembah Anai, namun belum banyak diketahui oleh masyarakat luas karena lokasinya yang tertutup hutan lebat. Wisatawan yang berminat bisa mendatangi objek wisata tersebut dengan menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari lokasi Air Terjun Lembah Anai.

Referensi

Lembah Anai, diakses dari Wikipedia “Ensiklopedia Bebas” pada 14 September 2015.

Lainnya

Gallery Air Terjun Lembah Anai

Air Terjun Lubuk Hitam (Aia Tajun Tigo Tingkek Lubuak Itam)

Air terjun dengan ketinggian > 600 m di atas permukaan laut ini terletak di kaki Bukit Barisan, Bungus, di jalan Padang menuju Pesisir Selatan. Tepatnya, dari Padang, sesudah Polsek Bungus, lalu belok kiri, ada jalan beton, menempuh perjalanan sekitar 5 menit dari jalan besar (dengan kendaraan bermotor). Disini tersedia tempat parkir dengan biaya Rp 5.000,-. Selanjutnya, kita perlu berjalan kaki sekitar 15 menit dari kaki bukit ke lokasi air terjun. Perkiraan waktu ini buat yang terbiasa hiking/mendaki, yang tidak terbiasa biasanya membutuhkan waktu lebih. Karena, kita mesti berjalan kaki dan mendaki (sedikit curam) dengan kemiringan 45 derjat. Namun, untuk viewnya, dilihat ke arah belakang, tampak pemandangan Bungus dan laut nan elok (Dayak & Trendnews, 2015).

Dayak, teman saya, bilang mungkin sekarang sudah menggunakan tiket masuk dan penanda jalan, karena dia pernah kesini sekitar tahun 2012 dimana wisata ini masih belum familiar, hanya penduduk sekitar atau orang-orang tertentu yang hobby saja yang datang ke lokasi ini. Saat itu (2012), disana belum ada yang jualan ataupun fasilitas lainnya, masih sangat pure natural. Jadi, mesti bawa bekal, makan di dekat sana memberi nuansa alam. Menurutnya, waktu yang paling bagus untuk kesini adalah pagi hari (Dayak, 2015).

Tempat ini memang lebih dikenal dengan nama Air Terjun Lubuk Hitam, namun orang Bungus Teluk Kabung menamainya dengan Aia Tajun Tigo Tingkek Lubuak Itam, karena memiliki 3 tingkatan. Anda bisa melihat tingkatan ketiga saat melalukan perjalanan Padang – Pesisir Selatan, menoleh saja ke sebelah kiri, terlihat jelas dari jalan besar, sangat indah.. (Trendnews, 2015).

Referensi
  • Dayak. 2015. Wawancara pada 23 Juli 2015. Dayak ke lokasi sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu (2011/2012).
  • Trendnews. 2015. Objek wisata Air Terjun Lubuk Hitam, Bungus, Padang. Diakses pada 23 Juli 2015.

Air Terjun Nyarai

Foto ini diases dari www.jalanjalanyuk.com
Foto ini diakses dari http://www.jalanjalanyuk.com

Air Terjun dengan ketinggian 7 hingga 8 meter ini terletak di Hutan Gumaran, Jorong Gumaran, Korong Salibutan, Kec. Lubuk Alung, Kab. Padang Pariaman Sumatera Barat. Tepat di dasarnya, terdapat kolam besar yang tampak kehijauan menampung aliran air tersebut. Sementara disisi kiri dan kanannya terdapat batu-batu besar yang berdiri dengan kokoh membendung air agar tidak keluar dari jalurnya (BEM SI UNAND 2015).

Indah banget..!! Karenanya, saya mencoba mengajak beberapa teman backpacker buat kesana. Eh, komentarnya satu suara semua, mau cowok atau cewek, podo wae, jauuuuh… Hadeh, jadi batal deh niat buat kesana.. 😦

Teman saya bilang, dia udah pernah kesana setahun belakangan, Air Terjun tersebut terletak di daerah Sikabu, Lubuk Alung. Akses kesana lancar, namun kita wajib pergi bersama pemandu (guide) dengan membayar Rp 20.000,-/orang. Kalau dari Lubuk Alung ke Sikabu memakan waktu sekitar setengah jam dengan menggunakan kendaraan bermotor. Lalu, dari Posko menuju Nyarai menempuh waktu 3 jam jika berjalan dengan santai (Bang Andry). Teman lain mengatakan, dia pernah mau kesana tapi batal karena akses kesana jauh dan memerlukan waktu 2 jam jalan kaki, apalagi saat itu air terjunnya lagi kering (waduuu..), (Kak Rachmie).

Referensi
  • BEM SI UNAND 2015.
  • Bang Andry via informasi verbal, 2015.
  • Kak Rachmie via informasi verbal, 2015.
  • Foto diakses dari http://www.jalanjalanyuk.com

Air Terjun 100 Tingkat

Saya udah lama nih denger cerita kalau di Lumin alias Lubuk Minturun, ada destinasi bagus, sayangnya akses kesana masih sangat sulit.. 😦 Kebetulan, teman saya, mimi dan choomee, kemaren udah sampe disana, itu foto mereka yang punya 😀 Cantik ya tempatnya.. 🙂

Mereka bilang, tempat ini belum dikelola, jalanan menuju kesanapun penuh tantangan dan harus menempuh jalan setapak hingga finish disini. Hm.. suatu saat saya pengen juga nyusul kesana 😉

Trip Berubah Haluan “Menuju Wisata Painan Nan Elok”

Setelah seminggu mengumpulkan voting trip ke pulau, akhirnya pada hari Jum’at (01/05/15), deal 7 dari 16 orang yang berencana ikut. Yah, cukup senang, akhirnya bisa juga ikut trip ekonomis ala backpacker dari teman saya, Dayak. Sebenarnya trip ini selalu diadakan setiap hari Minggu, kita cukup milih 2 dari pulau: Pulau Pagang, Pulau Pamutusan, Pulau Pasumpahan (trip bukit) atau Pulau Sekuai.

Untung aja harinya fix Minggu, padahal sempat jadiin Sabtu sebagai alternatif 😀 Karena pagi di hari Sabtu hujan lebat euy.. Ga berhenti sampe sore.. Kami sempat pesimis trip ini terancam batal 😦

Namun, sekitar jam 10, Mimi, salah satu personil (ciha, haha) yang akan ikut, sudah stay di rumah saya, kita udah sepakat buat masak bareng ntar malam 😀 Kita belanja di Pasar Lubuk Buaya, sebuah pasar tradisional yang cukup besar di ujung Kota Padang yang menyediakan berbagai bahan masakan, makanan dan keperluan rumah tangga dengan harga miring 😉 Kita udah beli ayam potong 12, cabe goreng giling tangan yang dibeli di tempat Mak Uwo langganan saya, minyak goreng 1/4 kg buat serap, cabe ijo, tahu sumedang, tempe, mentimun, dll; tambah parkir Rp 1.000,-; total biaya yang kita keluarkan adalah tadaaaaa… Rp 75.000,-!!! Ekonomis, bukan?! 😉 Sampe rumah, kita nungguin Cilot, dia lagi dalam perjalanan dari Bukittinggi ke Padang.

Akhirnya, Cilot sampai di rumah saya setelah sebelumnya sempat nyasar sampe ke Basko 😀 Cilot bawa oleh-oleh Bukittinggi, asik, kerupuk sanjai dan karakkaliang, yihi… 😀 Saya dan mimi langsung menyerbu dan mulai sibuk mengemil makanan renyah itu 😀

Malamnya, abis Maghrib, kita udah standbye di dapur nak masak. Kita mau bikin ayam goreng sambal dan oseng-oseng 🙂 Berhubung saya masih pake kompor minyak, masaknya jadi lamaaa… Baru kelar jam 22.30-an, capek nungguinnya, hoaaahm.. ngantuk lagi.. Mimi aja udah berlayar entah kemana-mana, alias udah tepar 😀 cuma Cilot yang standbye sambil nontonin Jupiter Ascending yang sempat saya promoin 😀 Akhirnya kelar juga.. Hm, yummy… Semua masakan kita simpan di dalam tudung saji. Besok Subuh tinggal masak nasi dan bungkus-bungkus 😉

Sebelum tidur, kita berharap besok (Minggu) hari cerah, bak kata Mimi “Puas-puasinlah hujan sekarang biar besok cerah” ucapnya santai, sementara antara Cilot dan saya tetap ada raut pesimis. Lalu, waaaa… kita dapat kabar buruk, 2 personil kita mengonfirmasi mundur karena suatu hal, mereka mendadak mengalami situasi sulit 😦

Alhamdulillah… bangun di pagi tanggal merah, cuaca memaklumi usaha kami, cerah berawan.. Oh, thanks God.. hanya Kau yang mampu mengerti segalanya 🙂 So, let’s go to the island, yehee…

Kita siap-siap.. Mimi udah siap membungkus nasi 1 magic com gede 😀 Makluuum… ntar kita kan bepergian jauh, jadi harus ready bekalnya.. 😉

Semua fix, Siscepun udah ikut bergabung. Kita tinggal parkir di pinggir jalan raya buat nungguin mobilnya Kak Ami, wuih.. stylenya udah pas banget buat ke pantai, santai dan energik 😀

Mobilpun melaju menuju Teluk Bayur, tempat Dayak menunggu sebagai guidenya kita-kita. Setelah ketemu, kita langsung ngikutin instruksinya Dayak buat membaca arah.

Namun, di tengah perjalanan, Pak Sopir sempat mengajukan protes tentang tempat tujuan kami. Kemudian setelah hampir sampai di Sungai Pisang, Mama Kak Ami yang kebetulan ikut juga berpendapat kalau sebaiknya perjalanan dihentikan, kemudian diikuti oleh persetujuan dari teman-teman lainnya. Yah, apa boleh buat guys, akses kesana memang belum dikelola dengan cukup apik.. Untunglah Dayak mengerti keputusan ini, “thanks, Day!”

Mama dan Kak Ami menawarkan kami untuk mencari rute lain yang aksesnya lebih mudah. Disusul dengan ide Pak Sopir untuk menjemput Mela ke Tarusan setelah saya bilang Mela sempat mengajak ke pantai yang mirip tempat shooting film Laskar Pelangi. Seantero mobil mulai gembira kembali, terutama Mimi, karena dia sempat nonton My Trip My Adventure kemaren (Sabtu, 02/05/15) kala Duta Wisata Pessel mengundang artis cantik Nadine ke Pesisir Selatan, salah satunya Pantai Batu Kalang.

Saya menguhubungi Mela via mobile, mengonfirmasi alamatnya dimana, dan.. sekitar sejam melaju, dengan kecepatan Fast & Farious ala Pak Sopir, kami sampai di Tarusan. Waaah… rumah Mela adem euy, dikelilingi sawah… 🙂

Disini ada yang menarik, saat Mela bilang temannya juga ada yang punya trip ke pulau, naiknya di dekat sini, kami berlima kompakan nanya “Bara (berapa)??” lalu ketawa heboh setelahnya 😀 Selesai rehat, setelah mendapat ijin dari Papa Mela, kami membawa Mela, menggantikan Dayak sebagai guide, tentunya dengan trip yang sangat berbeda 😉

Pertama, kami dipandu ke Pantai Batu Kalang. Waaah, pantai yang eksotis!! Belum banyak lho yang datang kesini.. Saya juga ga bakalan tau kalau Mela enggak pernah cerita. Berulang kali Mimi bilang “Pasti banyak yang nyari tempat ini setelah tayang di TV”, ucapnya yakin 😀

Pantai lepas yang dipagari oleh bukit-bukit barisan.. Terhampar luas laut biru dengan tepian yang dangkal.. Banyak ikan-ikan cicak merayap dan sembunyi di sela-sela bebatuan karang. Ada ikan hitam yang cantik.. Tangan saya jadi gatal-gatal ga sabar ingin menangkapnya, tapi saya yakin ga bakal mampu 😀 Bebatuan besar tertata rapi di ujung pantai dan beberapa diantaranya terdampar dengan megah di bibir pantai. Ada beberapa batang Pohon Bakau tumbuh menyemarakkan indahnya pantai ini, dikelilingi oleh banyak pancang terjal yang seolah siap menusuk siapa saja yang berani mendekatinya. Indah..

Ketemu beberapa ubur-ubur yang terdampar!! Kok bisa ya?? Waaah, baru kali ini melihat ubur-ubur beneran 😀 Unik ya bentuknya..

Nggak mau kehilangan moment ini, kami berselfieria dimana-mana. Hasilnya keren-keren…!! 😉 Dan.. yuhuuuu… saya berhasil menangkap ikan yang lumayan besar 1 ekor, luar biasa senangnya 😀 Lalu, Mela juga berhasil nangkap ikan yang lebih kecil berwarna bening. Ikan khasnya pantai.. Saya pernah menemukan salah satu dari jenis yang seperti ini di Pulau Cingkuak 😉 Ntar masukin akuarium ah… 😀

Saya jadi penasaran, kok telapak kaki saya perih ya.. Tadinya dikira karena menapaki pecahan karang atau kerang yang berserakan di punggir pantai, eh taunya luka!!! Bah, lumayan ini.. Pantas aja.. Jadi senasib sama Sisce 😦 Nah, kudu hati-hati ye, atau pake sepatu sekalian biar aman 😉

Hari mulai terik, perutpun mulai lapar. Setelah minta ijin sama empunya kedai, warga asli, kami makan siang di pondokan yang mengarah ke laut, waaah… mantap…

Setelah ini, kita menunggu konfirmasi dari teman Mela, ada trip lain yang ga kalah keren, Pulau Cubadak!! Pulau yang sempat menjadi kontroversi di youtube  itu 😀 Namun, setelah dirembukkan, kami lebih memilih meneruskan perjalanan ke Puncak Mandeh. Saya udah pernah liat fotonya dari Unjut dan akhirnya sekarang punya kesempatan buat kesana, asik 😀

Hm, dibandingkan Pantai Batu Kalang, Puncak Mandeh sudah lebih familiar. Disini rame pas kita nyampe. Ada seru dan enggaknya nih. Serunya, ya rame.. Tapi, ga serunya, tiap foto, harus berebut ngambil posisi yang viewnya bagus, atau kadang udah kece badai masang gaya, eh nongol entah siapa-siapa lalu-lalang di belakang kita, bikin sebal aja :3

Dari puncak ini, tampak aneka pulau berpencar dihamparan laut nan biru.. Langit yang cerah membiaskan warna yang cantik di permukaan laut. Udaranya sejuk.. Pepohonan disana melindungi kita dari silaunya cahaya matahari.. Hoaahm.. jadi ngantuk.. 😀

Cus, trip ketiga, Air Terjun Bayang Sani. Mela bilang tempatnya OK punya. “Apa lagi ituh? Cak mana ya bentuknya? Paling mirip air terjun kebanyakanlah, cuma tingkat dan kedalamannya aja yang beda-beda”. Awalnya saya penasaran, tapi ga terlalu excited kesana. Tiba-tiba, di luar jendela, saya melihat tempat yang waaah… kereeen… Ternyata itu dia yang namanya Air Terjun Bayang Sani!!! Waaaah.. uniiik.. beda banget dari air terjun kebanyakan, baru kali ini saya liat yang beginian.. 😀

Sebelumnya udah niatan buat mandi-mandi, namun karena suatu hal, saya lebih memilih mundur setelah ngeliat langsung medannya gimana, huft.. Saya juga sempat was-was, karena saat mengambil foto, sempat melihat ada batang kayu gede membentang di puncak air terjun sebelah kanan, mulai paranoid duluan takut kena timpuk 😀

Pelan tapi pasti, akirnya kita sampe di kaki bukit, tepat di tempat jatuhnya air terjun.. Waaah… saking derasnya airnya, kita jadi kayak ngerasa berada di tengah rintik hujan, sejuk… Alirannya yang deras seolah menghanyutkan segala kepenatan, beban pikiran dan masalah yang sebelumnya terbawa sampe kesini (sok puitis) 😀 Pokoknya cius deh, kerreeeen…!!!

Dengan ogah-ogahan, akirnya saya menurunkan badan juga ke kolam di bawah air terjun. Itupun awalnya cuma buat menemani Mimi dan Cilot. Brrrr… sejuuuk… Saya sempat berkukuh buat cuma merendam kaki doang, tapi setelah melihat Mimi dan Cilot merayap aman di air bersama ban gede rentalan, saya akirnya ikut. Waaah, sejuk nian.. 😉 Jadi berasa rugi kalau ga jadi berenang 😀

Kami berjalan hingga ke tengah kolam, meraba-raba dengan kaki sambil berpegangan di sisi luar ban. Tiba-tiba, kami terpeleset, melesat ke dalam air, tidak ada bebatuan tempat menginjakkan kaki, kami gelagapan!!! Siapapun diantara kami berusaha berpegangan kuat pada ban, namun ban itu oleng karena berat sebelah dan sayapun terbenam ke dalam air, panik.. tanpa sadar meneguk air yang sama sekali tak ingin saya teguk, berharap ada seseorang yang mau menyelamatkan, saya cuma bisa pasrah, mungkinkah hidup saya akan berakhir disini?? (Bah) Saya berusaha sampai ke permukaan, mencoba mengompensasi keadaan, ternyata.. sia-sia.. terdengar suara Mela dan beberapa orang memanggil nama saya dengan khawatir..

Lalu, datang sebuah tangan menarik saya, dan tentunya juga Mimi dan Cilot, ketempat yang ada pijakannya. Alhamdulillah, Ibu-ibu itulah pahlawan kami.. Tanpa dia, mungkin, saya rasa.. entahlah..

Padahal, saya sempat negative thinking  nih sama siIbu awalnya, coz cuma dia yang berani mengenakan pakaian minim begitu disana, tengtop sama celana ketat, dan Allahualam.. untuk kesekiankalinya, Tuhan mengajarkan saya “Don’t judge peoples by their look, no bodies perfect, you too!!”, benar-benar salut dan kagum sama siIbu, dia berani tampil beda di tengah kultur yang kental dan ahli berenang 🙂

Kami berganti baju, beh… segar.. tapi juga capek.. Kak Ami sempat nanya, “mau kemana kita lagi?”. Semua no comment, kayaknya satu suara, meskipun hari masih menunjukkan pukul 3. Akirnya kami memilih untuk pulang setelah mengantar Mela ke rumahnya. Hoaaahm, capek.. ngantuk.. tapi menyenangkan!! 3 rute ini mengobati kekecewaan kami karena batal ke pulau, bukan cuma pantai yang kami sisiri, tapi ada bukit dan lembah.. lengkap sudah 3 elemen 😉

Pemandangan dalam perjalanan menuju Padang, ada sunset..

Bacpacking To Payakumbuh

13 Desember 2014
Pai Baralek & Warung Sea Food "Pak Cik"

It’s time to going to wedding party… Yuhuuu….. 😀 Niat awalnya siy abis baralek (kenduri) ini, saya langsung balik ke Padang, eh teman saya malah nawarin buat nginap di tempatnya dulu dengan seabrek iming-iming travelling ples kuliner, saya jadi 50:50, berasa ogahan… Hm, yang namanya perjalanan jauh ga pernah bisa kita prediksi, walhasil saya nyerah, teman saya menang, saya nebeng dah tempat dia 😀 Untung aja udah prepare juga sedari humz, jadi ga repot deh mau nginap apa engga 😀 (Belajar dari pengalaman, sedia payung sebelum hujan, dari pada ntar merogoh kocek pula nak beli serba baru, mending dialokasikan buat keperluan lain, ya nggak?! 😀 ). Cus, kebetulan saya naik Bus Sarah nih yang katanya deket dari rumah teman saya itu. 🙂 Ongkos Rp 25.000,- (dua puluh lima rebeng) sejak BBM naik 😀 .

  • 09.46 SGO Lubuk Buaya
  • 12.10 Terminal Aur Bukittinggi
  • 12.25 Biaro
  • 12.41 Gerbang Kabupaten Lima Puluh Kota
  • 12.48 Kota Payakumbuh
  • 12.51 Ngalau Indah
  • 13.10 Simpang Labuah Silang
  • 13.20 Akirnya sampai di rumah mertua teman saya. Ini nih mak dan anak yang kompak 😀
  • 14.15 SMK 2 Payakumbuh

     

  • Rumah Adat Bakewi
  • …. Payakumbuh dapet penghargaan Piagam Adipura lho, guys..
14 Desember 2014
Harau Resort & Otw Padang
  • …. Sekitar jam 9-an, kita cus ke Harau Resort, aseek…Nah, sebelum berangkat nih, saya dibekali dulu sarapan nasi goreng sama teman, kemasannya itu lho…ekonomis, mungil dan lucu…tapi jangan salah…enak lho, kenyang lagi 😀 Jadi iri nih sama si Ojik (panggilan keren ini teman), semua serba ekonomis, enak dan bikin kenyang… Pantes aja ya teman-teman yang ngampung di Payakumbuh pada rajin pulkam, wong surganya makanan dimana-mana.. 😀
  • ….Yuk, let’s go… Seberapa jauh sih ini?! Muter kemana-mana, saya pasrah mau dibawa kemana nih sama si Ojik sekeluarga.. Tapi serius dah, pemandangannya OK punya tau… Gila, kenapa baru sekarang bisa mampir jalan-jalan ke Payakumbuh ya??! Selama ini kemana aja?! Rugi nih yang di Payakumbuh kalau belum pernah ke Harau, belum lagi Warung Sea Food Pak Cik, waduuuu…. jadi keingat terruuuss….yummy…
  • 09.34 Tau nih si Ojik sekeluarga malah mampir di rumah makan??? Bukannya udah kenyang abis makan nasgor tuh tadi sebelum pergi???! Hm…??? Ternyata, itu buat bekal ntar abis mandi pasti pada kelaperan, haaa..tau aja… 😀 Lupa juga nih nanya nama rumah makannya apa, kayaknya Mis Munin itu deh.. Mana pemandangan diseberangnya keren lagi, ckck…
  • 09. 38 Yuhuuu…. Welcome to Harau Resort 😉

Kirain udah sampe, eeeh…ternyata masih panjang perjalanan pemirsah… :3 Tapi terbayarlah sama pemandangan sekitar yang beneran T.O.P, guys.. Maap ya, ga bisa upload semua ini foto, ntar bikin semak saking banyaknya malah banyak pula yang kecantol ntar kesana, hahaa…ember..

  • Kalau ga salah (thrue), ini dinas perikanan deh…Lupa ding.. 😀
  • 09.44 Kirain…udah beneran nyampe, ternyata…ga tau inih dimana ini sebetulnya yang Harau, dari tadi udah 2x nih “Selamat Datang”nya???
  • 09.46 Subhanallah…cantiknya… 🙂 Megah…Sayang banget ya wisata sebagus ini belum familiar (atau saya keles yang ga update?? xixi…ssst…)
  • 09.47 Horraaaay….gerbang ketiga…!!!! 😀

Akirnya, ini nih Harau yang sebenarnya… Waaaah…amazing… Grand Canyon_nya Payakumbuh, nih.. Luarrr biasa…. cantik bangeeeet… Suasananya juga masih asri, lho… Subhanallah….

  • Air Terjun 1 (Satu)
  • Air Terjun 2 (Dua)
  • Air Terjun 3 (Tiga)

Out Bond yg dikelola Pak Bustami ini siap menguji nyali, hayyooo..siapa yg mau ikut?! Seru abisss…cucunya Pak Bustami ini aja yg bernama Neva, 3 tahun, bolak-balik tanpa takut lho…Bener2 luar biasa. Insert Rp 50.000,-

  • Tanaman Khas Harau Resort
  • 15.39 Go to Padang naik Bus Sarah (lagi) langsung nih ke loketnya, sempat ketinggalan Bus juga, untung aja ini Bus selalu ada 😀
  • 15.49 Bye… Payakumbuh… (Gerbang akhir)
  • 15.51 Bye… Tanah Datar… (Gerbang akhir)
  • 17.30 Bakso Rudal Panyalaian, maceeeeeeeeeeet…………Tapi Alhamdulillah, akhirnya bebas juga dari macet panjang, gara2 toronton mati mendadak & penyelesaian kecelakaan kemarin (Padang Panjang: fuso rem blom, kecelakaan 4 mobil + 9 motor, 3 orang meninggal).
  • 17.48 Gooo….
  • 20.38 Padang, alhamdulillah, misi selesai… hari yang indah… 🙂