Tag Archives: Wisata Sumbar

Green House ‘Lezatta’

Nuansa serba hijau ini terletak di Jl. Bukittinggi-Payakumbuh, km 9.5, Baso, Kab. Agam-Sumatera Barat.

Dari Kota Bukittinggi, Green House ini berada di sebelah kiri sebelum SPBU Baso. Akses ke lokasi terbilang mudah, hanya dengan menaiki transportasi umum, yaitu angkot biru muda dari Aur Kuning.

Perjalanan menuju Lezatta membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Insert untuk pengunjung dewasa Rp 10.000,- dan anak-anak Rp 5.000,-.

Referensi

  • Seluruh info berikut dokumentasi dishare oleh Geni pada 5 Desember 2016.

Gallery

Advertisements

Tabiang Takuruang

Buat teman-teman penggemar cartoon pasti tidak asing dengan serial Avatar. Nah, salah satu gambar(backround)nya mirip dengan bukit yang ada di panorama ini, berada di kawasan Ngarai Sianok, Kabupaten Agam. Oleh karenanya, bukit nan unik ini juga disebut sebagai Bukit Avatar oleh sebagian kecil orang yang pernah melihatnya, terutama penggemar cartoon Avatar.

Tempat ini dinamakan Tabiang Takuruang, satu-satunya tebing yang dikelilingi oleh banyak tebing yang agak jauh di sisi lainnya. Jalurnya melewati jalan kecil yang belum diaspal, masih berkerikil, namun bisa dilewati oleh kendaraan seperti mobil. Akses ke lokasi menggunakan angkot (angkutan kota) berwarna  merah jurusan Jambak (Koto Baru)-Bukittinggi.

Sekitar 400 meter dari simpang kecil akan ditemukan papan penanda “Taruko Cafe”. Cafe ini dikelola oleh anak-anak muda yang saangat kreatif. Nuansa natural khas alam pedesaan-pun siap memanjakan pengunjungnya. Duduk di cafe ini menawarkan ketenangan, sejuk, pemandangan nan elok (tebing yang unik, ngarai dan sungai dengan air jernih yang mengalir konstan, bangunan menyerupai rangkiang, ada kolam dan angsa). Perfect!! Sungguh mahakarya Sang Pencipta yang wajib dikagumi dan disyukuri.

Kita tidak perlu repot-repot membawa bekal, karena di cafe ini tersedia menu dengan harga relatif. Untuk makanan, kita bisa merogoh kocek mulai dari Rp 18.000,-an dan minuman mulai dari Rp 10.000,-an.

Info destinasi yang mulai menjadi primadona ini dishare oleh Geni, berikut dokumentasinya.

Pacu Jawi (Cow Racing)

Pacu Jawi” is a traditional event from Minangkabau, West Sumatra. The location is Padang Magek, Batu Sangkar. You can see the racing cow in paddy fields empty. This event is still organized every Saturday (untill the end of this month, three times Saturday again).

Bagi para pecinta event tradisional, sayang banget nih ngelewatin “Pacu Jawi”; seperti pesta rakyat dengan menggunakan jawi (sapi) yang dipacu di area sawah yang kosong (belum ditanami padi).

Acara ini termasuk salah satu andalan budaya Minangkabau, Sumatera Barat (Sumbar). Berlokasi di Padang Magek, Batu Sangka. Diselenggarakan setiap hari Sabtu hingga akhir bulan ini (Januari 2016, masih ada 3 kali perayaan lagi).

Dokumentasi menyusul.

Dishare oleh Bang Dido pada 10 Januari 2016.

Air Terjun Mandeh

Air Terjun Mandeh terletak di kawasan Mandeh, Pesisir Selatan. Meskipun demikian, wisata alam yang satu ini tak sepopuler Puncak Mandeh yang terkenal sebagai Raja Ampat-nya Sumatra. Kebanyakan wisatawan baru mengetahui panorama rancak ini setelah diberitahu oleh warga setempat.
Akses ke lokasi bisa menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat, melewati Puncak Mandeh dengan menyusuri jalan baru sebelum pemukiman warga. Jalan tersebut bisa terlihat cukup jelas dari Puncak Mandeh, ikuti jalan itu sampai bertemu jalan yang kurang bagus. Kemudian, teruskan perjalanan hingga + 1 km dan kita akan menemukan jembatan. Bagi yang baru pertama kali melewati rute ini, tak usah bingung, jembatan ini mudah ditemukan dan satu-satunya mendekati lokasi air terjun.
Setelah memarkirkan kendaraan, cukup berjalan beberapa meter dari pinggir jalan dan bersiap-siap terpukau dengan keelokan alam yang masih asri. Air terjun yang tak terlalu tinggi itu menguraikan partikelnya dengan sangat indah, ademm… Batu alam nan kokoh turut menyemarakkan mahakarya dari sang pencipta, mengagumkan..

Selamat berpetualang!! Oya, seluruh informasi ini beserta dokumentasi dan sebagainya dishare oleh Firman pada 6 November 2015; dengan perubahan seperlunya 🙂

Janjang Gadang Koto Gadang (The Great Wall Of Koto Gadang)

Janjang Gadang Koto Gadang yang lebih dulu terkenal sebagai Janjang Saribu (Jenjang Seribu) ini didirikan pada tahun 2013 dan menghubungkan daerah Koto Gadang (Kabupaten Agam) dengan Kota Bukittinggi. Karenanya, akses ke lokasi ini bisa melalui 2 gerbang, dari Koto Gadang atau Bukittinggi. Antara gerbang yang satu ke gerbang yang satunya lagi memiliki jarak + 2 km.

Buat yang ingin mengunjungi objek wisata yang satu ini, sebaiknya mengambil akses dari jalur Koto Gadang, karena alurnya menurun. Jadi masih bisa irit tenaga saat menyusuri jenjang yang panjangnya sekitar 1 km ini. Jika tidak memiliki kendaraan, bisa menaiki angkot (angkutan kota) berwarna hijau toska dengan kode 06 (Baca Transportasi Di Bukittinggi) untuk ke lokasi. Jika menggunakan mobil atau kedaraan lainnya, memakan waktu sekitar 5 menit menuju gerbang dari simpang empat (yang ada mesjid dan rumah adatnya). Kendaraan tersebut bisa diparkir di tempat yang telah disediakan, tepat di sebelah kanan gerbang.

Namun, buat yang ingin memilih akses dari Bukittinggi, gerbangnya berada sekitar 15 meter dari Pintu III Lobang Jepang. Buat yang tidak memiliki kendaraan, disini ada angkot berwarna merah melintas. Nah, jika ingin langsung sampai ke jembatan gantung, bisa menggunakan jasa ojek dengan tarif relatif. Selanjutnya, tinggal menyeberang jembatan gantung dan melewati alur yang mendaki.

Masuk ke Janjang Gadang Koto Gadang, tidak dipungut bayaran, alias GRATIS!! Hanya saja, nanti ada 2 kotak sumbangan yang diletakkan di gerbang (Koto Gadang) dan hampir di pertengahan lokasi, kotak tersebut bisa diisi seikhlas pengunjung.

Pemandangan disini akan sangat luar biasa indah jika cuaca cerah, berbeda dengan sekarang (berkabut). Waktu yang efektif menyusuri tempat ini adalah pagi menjelang siang. Dari sini bisa dinikmati nuansa alam nan elok dari Ngarai Sianok, gunung dan sawah.

Kita bisa menggunakan jembatan gantung untuk menyeberangi Ngarai tersebut. Tapi, ada warning-nya, kapasitas maksimal jembatan ini hanya 10 orang dan sebaiknya dilewati satu per satu. Selain itu, jembatan ini juga mudah goyang, jadi perlu mental yang cukup ekstra nih buat yang suka phobia ketinggian 😀

Disekitarnya terdapat beberapa titik penjualan makanan (seperti: kerupuk kuah), minuman dan cendera mata. Buat yang membawa bekal, jangan kuatir, disini juga disediakan tempat untuk bersantai. Namun, jangan lupa sampahnya dibuang ke tempat sampah yang telah disediakan. Sayangnya, masih ada yang membuang sampah sembarangan di sekitar lokasi; padahal selain GRATIS, banyak hal lain yang telah difasilitasi dengan sangat baik, seperti: ada beberapa tempat sampah dipinggir jalan lengkap dengan petugas kebersihan yang selalu standbye.

Sesekali, dipinggir jalan akan ada beberapa kera yang mendekat. Tapi, tak perlu cemas, mereka tidak pernah mengganggu pengunjung.

Berwisata ke Janjang Gadang Koto Gadang, tak hanya membuat kita merasa berada di Tembok Cina, tetapi sekaligus berolahraga sambil menikmati keelokan alam. Eits, jangan lupa sedia air mineral ya, karena berjalan cukup jauh lumayan memeras keringat.. Setelah itu, sekalian wisata kuliner juga, itiak lado ijau (sambal itik cabe hijau) di kawasan Ngarai Sianok ini terkenal maknyus! Terus, mampir ke Koto Gadang dulu buat membeli cendera mata, karena daerah ini terkenal sebagai nagari pengrajin perak; selain itu, ini juga tanah kelahiran sang pejuang kemerdekaan RI, H. Agoes Salim 🙂

Mata Air Limundak

Mata air nan jernih ini dinamakan Mata Air Limundak (Mato Aia Limundak) karena terletak di daerah Limundak, Jorong Piladang, Nagari IV Koto Palembayan. Lokasi ini berjarak sekitar 1,5 km dari Pasar Palembayan. Akses ke Limundak bisa menggunakan kendaraan ataupun dengan berjalan kaki saja. Dari jalan raya memakan waktu sekitar 5 menit ke lokasi dengan melewati jalan setapak yang sedikit mendaki diawalnya. Pemandangan sekitar penuh dengan hamparan sawah yang indah.

Menurut cerita Nek Marini, tetua di kampung Piladang, kemungkinan mata air ini sudah ada sejak dahulu kala, bahkan sebelum masa penjajahan Belanda. Awal kemunculannya, mata air ini cukup kecil. Namun, setelah pancarannya membesar, ibaratnya jika ada orang yang masuk kesana takkan kembali,  akhirnya ditutup dengan kancah (kuali) besar oleh masyarakat sekitar pada masa penjajahan Belanda atas panduan dari para Kiai (karena dahulu banyak masyarakat yang alim ulama). Selain itu, untuk mencegah limpahan air terlalu banyak, dibuatkanlah kolam dengan pintu air yang terbuat dari papan besar, sehingga air tersebut menggenang dan bisa mengalir dengan konstan, seperti yang terlihat sekarang ini. Selang waktu yang cukup lama, karena mata air ini terletak di dalam hutan, konon warga pernah menemukan ular bidai (ular yang sangat besar seukuran bidai, tikar tempat menjemur padi) yang melingkar disekitar kancah.

Dahulunya, tidak banyak yang berani mendatangi lokasi ini sebagai tempat pemandian alam, sebab akses yang cukup rumit dan pertimbangan keamanan (seperti: takut disengat lebah yang bersarang di puncak pohon besar di dekat kolam, atau tatameh: ditegur oleh alam gaib). Namun, sekarang tidak lagi, Mata Air Limundak mulai berpotensi sebagai objek wisata; destinasi yang masih asri ini mulai ramai, terutama di sore hari. Banyak warga berdatangan untuk sekedar berenang atau sekaligus mandi sore. Karenanya, kolam ini menjadi lebih jernih, banyaknya pengunjung yang berenang membuat lumut-lumut tinggi yang tumbuh di dasar kolam menjadi berkurang. Bahkan, ada juga yang menjadikannya sebagai ajang piknik, membawa bekal dan makan di pinggir kolam.

Layaknya mata air pegunungan, air ini tak hanya jernih dilihat tetapi juga segar untuk dikonsumsi. Air ini dikelola dan dialirkan ke berbagai daerah disekitarnya demi mencukupi kebutuhan air masyarakat di Jorong Piladang.